Tampilkan postingan dengan label Upi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Upi. Tampilkan semua postingan
HIT & RUN (2019)
Rasyidharry
Kunci keberhasilan aksi-komedi
tentu terletak pada bagaimana dua elemen dipadukan. Bukan cuma seru, sekuen
aksi turut jadi materi pengocok perut penonton. Orang-orang di balik Hit & Run paham betul aturan di atas
dan berusaha menjalankannya, biarpun akhirnya, talenta melucu jajaran pemain
jauh lebih bersinar ketimbang pertandingan ulang antara Sersan Jaka melawan Mad
Dog.
Joe Taslim sekali lagi memerankan
sosok jagoan ahli bela diri, meski kali ini, bukannya mantan anggota sindikat
kriminal yang sibuk membantai lawan menggunakan daging atau bola biliar, ia
adalah polisi berprestasi sekaligus bintang reality
show berjudul Hit & Run, di
mana aksinya memberantas kejahatan ditangkap oleh kamera televisi. Tegar
namanya.
Salah satu target operasi Tegar
adalah Lio (Chandra Liow), penjual narkoba palsu yang ditengarai punya hubungan
dengan Coki (Yayan Ruhian), bos gembong narkoba yang baru kabur dari penjara
dan berniat melanjutkan produksi narkoba jenis baru. Didorong alasan personal,
Tegar begitu bersemangat mengejar Coki. Tentu hal tersebut takkan berlangsung
mulus. Dia memerlukan bantuan sebanyak mungkin, bahkan meski itu datang dari
orang-orang tak terduga.
Selain Lio, ada Meisa Sandriana (Tatjana
Saphira) si penyanyi fenomenal yang dikenal lewat lagu berjudul Taman Safari serta kepribadian nyentrik
yang jelas memarodikan Syahrini, juga Jefri (Jefri Nichol) si remaja galau,
penakut, dan cengeng, yang air matanya semurah gorengan pinggir jalan.
Berbeda dengan Meisa, keterlibatan
Lio dan Jefri urung disokong alasan kuat (khususnya sampai sebelum babak
ketiga), tapi saya tidak keberatan mengikuti kebersamaan tokoh-tokoh yang
diperankan jajaran aktor dengan kegilaan komikal menyenangkan itu. Baik Tatjana
melalui tingkah berlebihan yang bisa jatuh ke ranah impersonasi cringey andai diperankan pelakon yang
tak mumpuni, maupun Jefri yang berusaha meruntuhkan typecast sebagai bad boy keren,
mampu memancing tawa hampir di segala situasi komedik.
Hit & Run pun bergerak layaknya tabrak lari, alias enggan
menginjak rem, berusaha melaju sekencang mungkin termasuk di luar sekuen aksi.
Sayang, acap kali gerakan momen-ke-momen miliknya kasar, baik disebabkan banyaknya
lompatan mendadak dalam naskah buatan Upi (Sweet
20, Teman tapi Menikah, My Stupid Boss) dan Fajar Putra S., ketiadaan shot transisi, atau kombinasi keduanya.
Sedangkan gelaran aksinya, walau
secara mengejutkan berani menumpahkan (sedikit) darah dan (sekelumit) kekerasan
eksplisit, tak pernah terasa spesial. Penyutradaraan Ody C Harahap (Skakmat, Kapan Kawin?, Orang Kaya Baru)
berusaha memancarkan energi melalui permainan kamera, namun kurang berhasil
akibat hanya fokus pada mempercepat gerak kamera alih-alih berusaha menangkap
koreografi secara maksimal. Beruntung, Joe Taslim selalu jadi jagoan laga yang
bisa diandalkan. Bersenjatakan kepercayaan diri tiada tanding ditambah
kemampuan bela diri kelas satu, Joe adalah protagonis sempurna bagi tontonan semacam
ini.
Memandang statusnya selaku
aksi-komedi, pula keterlibatan nama-nama besar dunia laga tanah air, Hit & Run berpotensi tampil kaya
warna. Perpaduan dua genre bekerja cukup baik dalam adegan “truk” yang diisi
kekacauan dan kekonyolan memadahi, tapi klimaks yang amat dinanti sedikit
meninggalkan kekecewaan. Terdiri atas beberapa aksi beruntun bergaya terlalu
serupa, klimaksnya kehilangan daya cengkeram begitu tiba di baku hantam antara
Joe Taslim melawan Yayan Ruhian, walau sejatinya partai puncak tersebut dibalut
koreografi terbaik. Rasa lelah terlanjur menumpuk, namun keseluruhan, tidak sampai
mengalahkan perasaan terhibur yang ditimbulkan.
Juni 05, 2019
Action
,
Chandra Liow
,
Comedy
,
Fajar Putra S.
,
Indonesian Film
,
Jefri Nichol
,
Joe Taslim
,
Lumayan
,
Ody C. Harahap
,
REVIEW
,
Tatjana Saphira
,
Upi
,
Yayan Ruhian
MY STUPID BOSS 2 (2019)
Rasyidharry
Walau kelucuannya fluktuatif, My Stupid Boss (2016)—adaptasi novel
berjudul sama karya Chaos@work yang sukses mengumpulkan lebih dari tiga juta
penonton—menghembuskan angin segar bagi genre komedi tanah air. Ketika banyak
komedi kita kurang memperhatikan tampilan sinematik, saya terkejut mendapati Upi
(30 Hari Mencari Cinta, Belenggu, My Generation)
dan tim artistiknya amat memperhatikan detail pemilihan warna maupun properti. Belum
lagi membahas transformasi ikonik Reza Rahadian.
Memasuki film kedua,
kelebihan-kelebihan tadi mampu dipertahankan. Di salah satu kesempatan kita
bisa melihat pulpen, kalkulator, sampai kertas diberi warna merah muda yang
senada, sementara pencahayaan di set kamar hotel Vietnam tak kalah memanjakan
mata. Demikian pula Reza yang mampu mengangkat humor terlemah sekalipun lewat
talenta komikal kreatifnya, entah dari gestur maupun percampuran Bahasa
Indonesia, Malaysia, Jawa, dan Inggris (semaunya).
Biar begitu, secara natural daya
kejut milik keunggulan-keunggulan tersebut jelas memudar. Selaku penulis, Upi
memahami risiko itu, lalu memutuskan mengikuti formula sekuel kebanyakan dengan
membuat filmnya lebih besar, baik soal kegilaan komedi atau skala cerita. Bukan
cuma berlatar di kantor dan Malaysia, karakternya mengajak kita berjalan-jalan
menuju Vietnam.
Dipicu kepelitan Bossman (Reza
Rahadian) yang menolak membelikan mesin pemotong kayu baru, sebagian besar
karyawan pabriknya memutuskan keluar. Sebagai solusi, Bossman membawa Kerani (Bunga
Citra Lestari), Mr. Kho (Chew Kinwah), dan Adrian (Iedil Putra) ke Vietnam guna
mencari karyawan baru dengan harga murah dengan bantuan warga lokal bernama
Nguyen (Morgan Oey). Secara bersamaan, Bossman pun menghadiri pertemuan
pebisnis furnitur se-Asia selaku pembicara. Makhluk macam apa yang mengundang
pebisnis gagal seperti dia?
Tentu anda tak perlu repot-repot
memikirkan logika semacam itu, karena di sini, Upi menambah absurditas yang
sesungguhnya sudah cukup tinggi di film pertama. Seperti pendahulunya, sederet
lelucon gagal mendarat tepat sasaran, entah akibat penulisan atau
penyutradaraan Upi yang kerap lalai memperhatikan timing melempar kelucuan. Fluktuasinya memang cukup ekstrim. My Stupid Boss 2 bisa begitu datar di
satu waktu, lalu luar biasa lucu di kesempatan lain.
Beruntung para pemain tampil total,
sehingga kehadiran lelucon hambar pun tak sampai taraf mengganggu. Bukan cuma
Reza, Morgan sebagai pria Vietnam berdarah panas, juga kelima anak buah Bossman
dengan variasi kepribadian yang makin kuat. Saya suka adegan saat Kerani
dikelilingi oleh teman-teman sekantornya. Menangkapnya dengan close up, Upi menjadikan situasi
tersebut sebuah pameran akan kepiawaian para pemain memerankan tokoh-tokoh kaya
warna. Tapi absurditas terlucu justru ditampilkan dua nama lain, yakni Shahil
Shah dan Verdi Solaiman sebagai dua kubu gangster berlawanan yang datang untuk
menagih hutang Bossman. Keduanya habis-habisan mengerahkan bakat komedik
masing-masing dalam sebuah “pertempuran epic”
yang takkan anda duga kemunculannya.
My Stupid Boss 2 bergulir cukup pendek, hannya 96 menit (film
pertamanya 108 menit), membuatnya lebih padat dan dinamis, khususnya saat Upi
menggulirkan kisahnya dalam kecepatan penuh. Namun, dari segi narasi, My Stupid Boss 2 mempunyai kelemahan
serupa pendahulunya, yaitu third act.
Jika film pertama memaksakan diri beralih ke drama demi menunjukkan kebaikan
terpendam Bossman, kali ini (dengan motif nyaris sama), third act-nya melompat menuju penceritaan berbeda. Walau telah disiratkan
sebelumnya, kisah yang mengisi klimaksnya jelas beranjak dari rute yang filmnya
tempuh di mayoritas durasi. Beruntung, idenya cukup gila untuk menghadirkan
tawa.
Maret 27, 2019
Bunga Citra Lestari
,
Chew Kin Wah
,
Comedy
,
Iedil Putra
,
Indonesian Film
,
Lumayan
,
Morgan Oey
,
REVIEW
,
Reza Rahadian
,
Sahil Shah
,
Upi
,
Verdi Solaiman
LAUNDRY SHOW (2019)
Rasyidharry
Laundry Show mungkin bukan tontonan yang sangat ampuh menyetir emosi,
tapi naskah buatan Upi (My Stupid Boss,
Sweet 20, Asal Kau Bahagia) bersama Uki Lukas yang juga bertindak selaku
penulis novel berjudul sama yang dijadikan sumber adaptasi, terbukti cukup baik
dalam upaya membuat penonton memahami seluruh problematika karakternya, sambil
secara rapi mengeksplorasi sekaligus menyatukan sejumlah elemen cerita yang tak
bisa dibilang sedikit.
Pada dasarnya, Laundry Show adalah cerita tentang Uki (Boy William), seorang pemuda
yang lelah menjadi bawahan, kemudian memilih keluar dari pekerjaannya demi membuka
usaha laundry. Tapi ini pun sebuah drama keluarga. Uki memilih laundry sebagai
bisnis karena kenangan masa kecil ketika ia hidup miskin bersama sang ibu yang
setiap hari mencuci seragam sekolahnya. Sosok ibu memang bisa menghilangkan
semua jenis noda, baik yang mengotori baju maupun batin.
Berkat memori itu pula, Uki begitu
ahli mencuci segala jenis kotoran. Tapi rupanya membersihkan hidup supaya
tampak cemerlang tidak segampang pakaian. Itu terjadi meski Uki telah menyiapkan
rencana detail bagi bisnisnya, yang dirangkum lewat satu sekuen berisi
penjabaran mekanisme cara kerja laundry Halilintar miliknya. Sekuen tersebut membuktikan kesungguhan
naskahnya untuk bertutur secara sistematis ketimbang menempuh jalur instan. Dan
bukankah kesuksesan wirausaha pun urung didapat secara instan?
Pernah dibuat kesal oleh bos
sewaktu bekerja kantoran, Uki mulai menyadari bahwa bos bukanlah posisi ringan.
Mengontrol dan memerintah karyawan dengan semua tingkah polah mereka, lebih
sulit ketimbang dikontrol dan diperintah. Laundry
Show tak ubahnya proses Uki mempelajari kalau apa pun pekerjaan dan
posisinya, masalah akan setia mengikuti. Tidak ada rute semudah kata-kata
mutiara dari motivator Aryo Keukueh (Hifdzi Khoir) yang selama ini Uki jadikan
panutan.
Jalan terjal Uki digambarkan melalui
pendekatan komedik tanpa perlu melemahkan inti pesan, bahwa seringkali, pangkal
permasalahan memang terletak di bawahan. Laundry
Show juga sempat menyindir pencari kerja “bermental tempe”, yang
mengingatkan kita, jika salah satu penyebab utama mengapa pengangguran masih
banyak bertebaran adalah diri mereka sendiri, bukan perusahaan maupun
pemerintah.
Humornya mungkin belum mencapai
titik yang sanggup membuat sakit perut karena tawa lepas bertubi-tubi, tapi
jajaran pemainnya piawai menciptakan atmosfer menyenangkan melalui barisan
tokoh multikultural. Khususnya Tissa Biani sebagai resepsionis judes dengan
cara bicara jenaka, yang keunikannya mengingatkan pada perannya di sinetron Tukang Ojek Pengkolan. Semoga Tissa mendapat
banyak peran komedik lagi di proyek layar lebarnya. This girl has talent. Sementara itu, persepsi saya kepada Boy
William akhirnya berubah, tatkala sang aktor berkenan menjauh dari tipikal
karakter peranannya, yakni sosok pria tampan kharismatik yang seringkali (sok)
asyik. Uki merupakan orang biasa dengan masalah serta perasaan yang terasa begitu
dekat, dan penampilan Boy membuat kedekatan itu semakin nyata.
Masalah paling kompleks bagi Uki
tiba ketika Agustina (Gisella Anastasia) membuka laundry tepat di seberang,
yang bersenjatakan mesin cuci canggih dari luar negeri, karyawan yang jauh
lebih cantik dan tampan, pula atmosfer ceria yang membuat pengunjung bahagia. Bahkan
sempat muncul adegan musikal sebagai penggambaran pelayanan kelas satu yang
diberikan laundry milik Agustina. Sewaktu banyak momen musikal film Indonesia
berujung canggung, tidak demikian di sini berkat pengarahan tepat sutradara Rizki
Balki (Ananta, A: Aku, Benci, dan Cinta).
Konflik Uki-Agustina (ingat, bukan
Okie Agustina) menghasilkan battle of
sexes, yang sekali lagi menunjukkan kapasitas naskahnya membangun pondasi
solid. Kedua belah pihak menyimpan alasan kuat untuk memenangkan “perlombaan”.
Uki sudah mengorbankan semua hartanya, sedangkan Agustina berusaha membuktikan
diri pada sang ayah (Willy Dozan) yang menentang keputusannya berbisnis
laundry. Alhasil, walau isu gendernya tak terlalu menyengat dan elemen
romansanya kurang piawai mencuri hati, tensi di antara mereka mudah dipahami
sehingga konfliknya berjalan mulus.
Keluhan terbesar saya bagi Laundry Show adalah presentasi yang
kurang seimbang, di mana profesi bawahan seolah digambarkan sebagai suatu
pilihan hidup yang amat rendah. Tapi selain itu, Laundry Show merupakan sajian menyenangkan bersenjatakan penulisan
solid yang memperbesar keyakinan saya terhadap para penulis naskah baru negeri
ini.
Februari 09, 2019
Boy William
,
Comedy
,
Drama
,
Gisella Anastasia
,
Hifdzi Khoir
,
Lumayan
,
REVIEW
,
Rizki Balki
,
Tissa Biani Azzahra
,
Uki Lukas
,
Upi
,
Willy Dozan
ASAL KAU BAHAGIA (2018)
Rasyidharry
Asal Kau Bahagia dibuat berdasarkan lagu berjudul sama milik Armada, nomor
pop catchy bernuansa mellow yang mengajak pendengarnya
meratapi cinta. Filmnya pun dikemas dalam bentuk serupa. Melodrama ringan yang
mengajak penontonnya meratapi cinta, meski sayangnya, tak punya cukup daya
untuk menyetir rasa biarpun tetap jadi suguhan nikmat di ranah kisah cinta remaja.
Alurnya langsung merangsek menuju
persoalan utama, ketika Aliando alias Ali (Aliando Syarief) terlibat kecelakaan
lalu lintas di tengah perjalanannya menemui sang kekasih, Aurora (Aurora
Ribero). Ali koma, namun jiwanya masih berkeliaran layaknya manusia biasa,
walau tak ada yang mampu melihatnya. Dia pun tak mampu menyentuh orang lain.
Tanpa disangka, menjadi sosok tak terlihat justru membuka jalan baginya
memahami isi hati Aurora, yang diam-diam telah enam bulan berselingkuh dengan
Rassya (Teuku Rassya).
Ali hanya bisa memandang tak
berdaya. Hatinya remuk, sementara saya bertanya-tanya, “Kalau ia bisa menyentuh
barang, kenapa ia tidak menulis pesan guna memberitahukan kondisinya kepada
Aurora?” Hal itu bakal menghemat waktu, tapi kita film ini takkan eksis.
Beruntung, sahabatnya, Dewa (Dewa Dayana), bisa melihat Ali, lalu bersedia
membantunya menguntit Aurora guna menyelidiki kebenaran hubungannya dengan
Rassya.
Mengacu pada trailer, kita tahu bahwa nantinya, Dewa menjadi perantara
komunikasi dua tokoh utama. Momen itu urung terjadi hingga jelang paruh akhir. Kembali,
hal tersebut niscaya menghemat waktu, namun meniadakan kesempatan kita
menikmati interaksi menghibur Ali-Dewa. Dewa adalah sosok “kawan-konyol-tapi-setia”
yang kerap kita temui di film-film serupa. Ketepatan timing komedik Dewa Dayana, pula chemistry solid bersama Aliando, menghasilkan buddy comedy yang efektif memancing tawa.
Aurora adalah gadis populer, dan
itu kerap memancing Ali mempertanyakan alasannya bersedia memacari pria
introvert sepertinya. Tapi tak sekalipun terlihat introversi Ali maupun bagaimana
ketertutupan itu mengganggu Aurora. Mungkin, naskah karya Aline Djayasukmana (Gila Lu Ndro) bersama sang mentor, Upi (Teman Tapi Menikah, Sweet 20), hendak
menempatkan penonton di posisi Ali, yang tak menyadari ketidakbahagiaan sang
kekasih. Namun ada perbedaan antara “menyamakan perspektif” dengan keluputan
eksplorasi. Asal Kau Bahagia termasuk
jenis kedua.
Alhasil, saat Rassya menyulut api
asmara di hati Aurora, sulit memahami alasannya. Anda bisa berargumen bahwa
cinta tidak butuh alasan. Cinta terjadi begitu saja, datang dan pergi seperti mendung.
Masalahnya, film ini sendiri coba menjabarkan alasan itu, yang gagal
dipresentasikan secara meyakinkan. Aurora menyebut Rassya lebih liar, seru,
sosok pria ceria yang menghembuskan angin segar di hidupnya. Tapi, serupa Ali
dengan introversinya, sisi tersebut tak tampak dari Rassya yang justru terkesan
halus, bahkan kalah “membara” dibanding Ali.
Bukan berarti segala sisi naskah
menemui kegagalan. Keengganan menabur “pemanis” berlebih patut diapresiasi. Bahasa
(sok) puitis dihindari, berhati-hati pula dramatisasi, termasuk di momen paling
menyedihkan, diolah. Selaras dengan itu adalah penyutradaraan Rako Prijanto (Teman Tapi Menikah, Bangkit!, 3 Nafas Likas)
yang mengedepankan tuturan manis ketimbang drama bergelora. Didukung
sinematografi Hani Pradigya (Teman Tapi Menikah,
Terjebak Nostalgia, Wage) Rako menangkap beberapa gambar indah, menerapkan
gerak lambat, juga memilih sudut kamera yang membuat kedua pemainnya (yang aslinya
sudah rupawan) terlihat makin cantik di layar.
Bukan berarti dua pemain utama kita
sekadar bermodalkan tampang. Sebaliknya, bisa jadi Asal Kau Bahagia telah memberi “It
couple” berikutnya bagi perfilman Indonesia, yang kelak berpotensi
melengserkan kedigdayaan Jefri Nichol-Amanda Rawles. Dibarengi deretan lagu
yang mengalun syahdu di telinga, kebersamaan merekamemberi sokongan tambahan
bagi film ini, di luar pondasi rapuh yang naskahnya sediakan.
Pasca debut meyakinkan di Susah Sinyal (2017), Aurora menunjukkan
kemampuan memanggul beban sebagai pemeran utama. Kapasitasnya bermain drama menghadirkan
kompleksitas bagi tokoh peranannya, yang mana gagal diberikan oleh naskahnya. Sedangkan
untuk Aliando, semestinya inilah pembuka gerbang kesuksesan berkarir di layar
lebar. Aliando menunjukkan jangkauan akting cukup luas, dari kebolehan
menangani humor, pesona dalam interaksi kasual, sampai momen emosional.
Sayang, rute aman dipilih sebagai konklusi
romantsime keduanya, yang turut melucuti peluang film ini menyuguhkan resolusi lebih
dewasa—tanpa harus kehilangan sisi bittersweet—mengenai
“the art of letting go” demi
kebahagiaan sosok tercinta. Tapi sulit dipungkiri, banyak penonton akan terwakili
oleh konfliknya, dan itu sudah menjadi cukup alasan guna memberi kesempatan
pada Asal Kau Bahagia. Mungkin saja
film ini merefleksikan seluk beluk kehidupan cinta anda.
Desember 28, 2018
Aliando Syarief
,
Aline Djayakusuma
,
Aurora Ribero
,
Cukup
,
Dewa Dayana
,
Fantasy
,
Hani Pradigya
,
Indonesian Film
,
Rako Prijanto
,
REVIEW
,
Romance
,
Teuku Rassya
,
Upi
GILA LU NDRO! (2018)
Rasyidharry
Sebagaimana mestinya komedi satir, Gila Lu Ndro! menyindir realita dengan
humor. Diharapkan, penonton tertawa sembari merenungkan peristiwa yang tengah
disaksikan. Namun film keempat sutradara Herwin Novianto (Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara, Tanah Surga...Katanya, Jagad X Code)
ini di satu titik lupa akan niatnya menyampaikan sesuatu karena terlampau sibuk
berusaha sekonyol mungkin, sebaliknya, di titik lain getol berceramah sehingga
lalai melucu. Mau yang mana pun, bobot pesannya berujung terlemahkan.
Guna memahami poin utama film ini,
kita perlu mengikuti cerita yang dituturkan Indro (Tora Sudiro) kepada sang
istri, Nita—nama istri Indro Warkop di dunia nyata—yang diperankan Mieke
Amalia, yang cukup beruntung mendapat jatah kalimat-kalimat terlucu dalam
naskah garapan Upi (Tusuk Jelangkung, My
Stupid Boss, Sweet 20) bersama “anak didiknya”, Aline Djayakusuma. Deretan
kalimat tersebut kebanyakan berfungsi mengutarakan keheranan sekaligus
kekesalannya terhadap cerita absurd sang suami yang mengaku bertemu Al (Indro
Warkop) alias Alien, Raja dari planet Alienus.
Sebagai Raja, Al merasa perlu menemukan
jalan menyelesaikan konflik tak berkesudahan antara warga Alienus. Untuk itulah
ia mencari “Sumber Damai”, yang konon dimiliki Bumi. Dibantu Indro, Al pun
melakukan perjalanan mengitari Bumi (baca: Jakarta), menemui ragam peristiwa
yang filmnya pakai sebagai alat menyindir isu-isu sosial di sekitar. Mulai dari
yang mereka lihat langsung seperti penyebaran hoax, penerimaan suap oleh polisi, pembeli yang menawar harga
semaunya, obrolan singkat soal kegemaran wakil rakyat tidur pulas tatkala
sidang, sampai baliho berupa ajakan berdoa (alih-alih mengusahakan jalan
keluar) apabila terkena banjir.
Jadi apa yang Gila Lu Ndro! tawarkan demi menyelesaikan segala masalah di atas?
Al sebagai Raja merupakan metafora pemimpin bangsa ini, dan filmnya secara
gamblang nan lantang menyebut bahwa turun ke jalan menemui rakyat langsung
alias blusukan merupakan jalan
keluar. Kata “blusukan” bahkan Indro
ucapkan, meniadakan ruang bagi kesubtilan. Daripada “merasakan”, rasanya
seperti disuapi oleh Indro, yang penokohannya bisa dirangkum dalam 2 kata, “penengah
konflik”. Tidak lebih, tetapi bisa kurang. Sebab di beberapa situasi, ia bahkan
tak menengahi permasalahan, sebatas berdiri, mengamati, atau malah kabur.
Bagaimana dengan kita? Para manusia
biasa, bukan pemimpin bangsa atau alien dengan sumber daya tanpa batas.
Sejujurnya sulit dipahami akibat masing-masing problematika tak mempunyai
korelasi pasti, seolah tanpa gambaran besar untuk disampaikan. Terkesan, tiap
masalah dipilih bukan atas dasar kebutuhan narasi, melainkan dari pertimbangan,
“mana yang paling konyol”. Bahkan ada subplot saat Al mendapatkan peran di
sebuah film buatan Alex Abbad setelah seluruh pemain menolak hadir di lokasi.
Apa kaitannya dengan pencarian kedamaian?
Untunglah, walau membayangi
pesannya, komedi film ini mampu memproduksi tawa. Masih terjadi inkonsistensi,
meleset di sana-sini khususnya ketika Herwin Novianto tampak kurang cakap
mengatur timing, namun berhasil juga tepat
sasaran di banyak sisi berkat sederet ide kreatif Aline dan Upi, yang tetap
mengedepankan kelucuan ketimbang berusaha seaneh mungkin (like you-know-who). Saya suka setiap kali Nita memotong cerita
Indro, yang dibungkus lewat berbagai cara unik.
Berlawanan dengan sang istri, Tora
kurang lepas membanyol karena di saat bersamaan dibebani peran selaku penyampai
pesan moral. Sebaliknya, Indro melakoni peran layar lebar terlucunya pasca era
Warkop DKI, dengan humor cross-dressing
di akhir merupakan momen terbaik. Keseluruhan Gila Lu Ndro! memang lucu. Penonton yang mengisi penuh studio
tempat saya menonton jelas terpuaskan. Apabila cuma bertujuan memancin tawa,
maka film ini sukses. Tapi Gila Lu Ndro!
ingin menjadi lebih.....dan gagal. Coba tanyakan pada penonton yang tergelak
sepanjang film mengenai intisari filmnya, besar kemungkinan mereka tidak mampu
mengutarakan jawaban pasti.
September 14, 2018
Alex Abbad
,
Aline Djayakusuma
,
Comedy
,
Herwin Novianto
,
Indonesian Film
,
Indro Warkop
,
Kurang
,
Mieke Amalia
,
REVIEW
,
Science-Fiction
,
Tora Sudiro
,
Upi
KAFIR: BERSEKUTU DENGAN SETAN (2018)
Rasyidharry
Kalau anda mencari horor yang tidak semata bergantung pada jump scare berisik dan mengandung kisah
untuk dituturkan, maka Kafir: Bersekutu
dengan Setan menawarkan alternatif tersebut. Tanpa kaitan dengan Kafir (2002) kecuali pada kemiripan
judul dan penampilan Sujiwo Tejo sebagai dukun santet, film yang naskahnya
digarap oleh Upi (#TemanTapiMenikah,
Sweet 20, My Stupid Boss) dan Rafki Hidayat ini akan diingat selaku film
yang berani mencoba pendekatan berbeda di tengah badai horor yang minim
variasi, baik perihal gaya maupun kualitas. Perlu diapresiasi, meski menyimpan
setumpuk kelemahan sehingga memperpanjang penantian atas “horor bagus” pasca Pengabdi Setan.
Kafir: Bersekutu dengan
Setan dibuka oleh
atmosfer menjanjikan. Terasa tidak nyaman, berbekal nuansa lawas hasil
pewarnaan, tata artistik, serta musik, yang
tak pelak memunculkan komparasi dengan Pengabdi Setan. Sri (Putri Ayudya), bersama sang suami, Herman
(Teddy Syach) dan puterinya, Dina (Nadya Arina) sedang makan malam bersama, sembari
menanti kepulangan si anak laki-laki, Andi (Rangga Azof). Mendadak Herman
muntah darah. Dia tewas dengan beling keluar dari mulutnya. Tidak salah lagi,
Herman merupakan korban santet. Siapa pun pelakunya ia benar-benar ingin
menghancurkan keluarga ini sampai ke akarnya. Itulah mengapa meja makan dipilih
jadi panggung pembunuhan.
Mengapa meja makan? Karena di situ, beserta aktivitas makan
bersama, seringkali jadi ajang bertukar rasa antar anggota keluarga. Mematikannya,
berarti mematikan suatu keluarga. Benar saja, sepeninggal Herman, kehangatan memudar.
Kafir: Bersekutu dengan Setan memakai
bentuk horor psikologis guna membungkus paruh awalnya. Trauma yang dialami Sri
jadi sorotan. Lagu kesukaan Herman dilarang diputar, pun enggan ia memasak opor
ayam kesukaan mendiang suaminya itu. Sewaktu Andi—yang membawa pacar barunya,
Hanum (Indah Permatasari)—tersedak kala makan, wajah Sri langsung dipenuhi
teror. Memori kematian tragis Herman muncul, dan Putri Ayudya tampil meyakinkan
memerankan wanita yang terluka luar-dalam.
Sri melihat panci yang terjatuh sendiri, “kembaran” Andi,
sampai noda hitam yang tak kunjung hilang di langit-langit. Apakah itu semua
nyata atau sebatas produk trauma mendalam? Naskahnya tak pernah menyelami
pertanyaan itu lebih jauh, meninggalkan banyak kekosongan berwujud observasi
tanpa eksplorasi dalam alur bertempo lambat. Jangan harapkan jump scare bombastis. Beberapa usaha
mengageti penonton tetap dilakukan, tapi tak dieksploitasi. “Atmosferik” adalah
kesan yang ingin diciptakan, walau ketidakmampuan sutradara Azhar Kinoy Lubis (Jokowi, Surat Cinta untuk Kartini)
mengkreasi tensi, khususnya kala tiada peristiwa besar terjadi, menghalangi
tercapainya tujuan tersebut.
Penonton hampir tidak pernah ditempatkan di posisi
karakterya. Sri ketakutan, saya tidak. Sebabnya sederhana: keanehan-keanehan di
sekitar Sri tak nampak mengerikan di layar. Benda-benda bergerak, alat musik
berbunyi sendiri, semua itu menyeramkan apabila terjadi di realita. Namun di
film, anda tidak bisa sekedar menangkap peristiwa itu di kamera lalu berharap
ketakutan otomatis timbul di hati penonton. Butuh ketrampilan juga sensitivitas
guna melukis gambar-gambar menyeramkan, supaya ketakutan karakternya
tersalurkan ke penonton. Azhar tidak (atau belum) mempunyai itu.
Dinamika meningkat saat Jarwo (Sujiwo Tejo) masuk,
menampilkan gaya creepy nan eksentrik
miliknya. Di sini terjadi “hal besar” ketimbang sekedar peristiwa poltergeist, sehingga Azhar memperoleh
amunisi berlebih. Adegan yang melibatkan api di kediaman Jarwo tersaji
mendebarkan pula mencengangkan. Selain itu, filmnya mulai memasuki babak
penelusuran misteri. Berkutat pada pertanyaan “Siapa pelaku santet?”, pengenalan
misterinya menarik. Jika berhenti di perihal “siapa”, jawabannya mudah ditebak
bahkan sejak setengah jam pertama, tapi dalam jenis cerita whodunit, proes pun penting.
Penelusuran fakta yang tersibak satu demi satu merupakan
pondasi yang wajib dibangun lebih dulu. Namun Kafir: Bersekutu dengan Setan lalai melibatkan penonton dalam
penyelidikan. Terlihat saat beberapa kali karakternya menemukan petunjuk yang
urung diungkap kepada penonton. Dengan demikian, durasi bergulir dan alur terus
bergerak maju, tapi bak tanpa progres. Seluruhnya ditimbun, disimpan bagi third act yang terasa tidak sinkron dengan
keseluruhan film, khususnya terkait pembawaan over the top Indah Permatasari dan Nova Eliza. Penampilan keduanya
di klimaks bak berasal dari horor yang mengedepankan unsur “fun” atau bahkan b-movie. Tidak buruk, hanya bukan di sini tempatnya. Their performance don’t belong here.
Paling tidak klimaksnya menyimpan momen lumayan menegangkan
yang melibatkan darah dan kekerasan. Sayang, kelebihan itu lagi-lagi tidak
berlangsung lama, tepatnya sampai film ini melakukan simplifikasi terkait cara
mengakhiri konflik. Perkelahian yang ditangani begitu canggung oleh Azhar
adalah cara yang dimaksud. “Beat ‘em up”
is the easiest (read: the laziest) way to ends a conflict in any movie. Ingin
sekali rasanya berkata “Saya mengagumi film ini”, dan jelas saya mengapresiasi
usahanya ampil beda. Tapi setelah horor buruk gentayangan silih berganti di
bioskop, saya, dan rasanya mayoritas penonton, ingin segera menyaksikan hasil lebih
tinggi.
Agustus 04, 2018
Azhar Kinoy Lubis
,
Cukup
,
horror
,
Indah Permatasari
,
Indonesian Film
,
Nadya Arina
,
Nova Eliza
,
Putri Ayudya
,
Rafki Hidayat
,
Rangga Azof
,
REVIEW
,
Sujiwo Tejo
,
Teddy Syach
,
Upi
#TEMANTAPIMENIKAH (2018)
Rasyidharry
Kita menyukai keajaiban. #TemanTapiMenikah
adalah film tentang keajaiban. Tidak perlu kehadiran makhluk-makhluk mitologi
atau ilmu sihir. Menyebut “cinta sendiri adalah keajaiban”, rasanya tidak
berlebihan, sebab, karenanya banyak hal-hal di luar nalar terjadi. Termasuk
persahabatan yang akhirnya berlanjut ke jenjang pernikahan, sebagaimana
perjalanan pasangan Ditto Percussion dan Ayudia Bing Slamet yang berawal dari
pertemanan selama 12 tahun. Keduanya merangkum kisah itu ke dalam buku berjudul
sama yang jadi materi adaptasi filmnya.
Bukunya sendiri kerap disebut “Buku Kuning”, yang merujuk
pada sampulnya. Berniat menyesuaikan, sisi visual filmnya dikemas lewat nuansa kekuningan.
Cerah, menyenangkan. Sama seperti momen pembuka saat Ditto (Adipati Dolken)
duduk menanti Ayu (Vanesha Prescilla) di sebuah kafe. Suara-suara di
sekitarnya; gelas, sendok, kucuran air, dan lain-lain, mulai menciptakan ritme
harmonis. Setidaknya di kepala Ditto. Kepekaan terhadap ketukan ritmis dia
miliki, karena passion-nya di bidang
musik, khususnya perkusi. Ini asal muasal kata “Percussion” hadir selaku nama belakangnya.
Biar begitu, kalau bukan didorong Ayu, Ditto mungkin takkan
menekuni perkusi. Gadis ini cinta pertamanya, sejak mengidolakan Ayu dari layar
kaca ketika masih kecil, kemudian bertemu di bangku SMP, lalu bersahabat sampai
masa kuliah. Ditto memilih memendam perasaan demi melindungi kedekatan mereka.
Walau artinya dia mesti tabah mendapati sang pujaan hati menjalin hubungan
dengan pria lain. Sungguh mengasyikkan persahabatan Dito-Ayu. Selalu
menghabiskan waktu berdua, saling tolong sembari saling ejek, termasuk soal
pacar masing-masing. Mereka selalu tertawa, begitu pula saya.
Bermula sejak dinamisnya adegan pembuka, interaksi dua tokoh
utama tak pernah luput memancing senyum. Beberapa berkat kecerdikan naskah buatan
Johanna Wattimena dan Upi merangkai interaksi tanpa mengumbar kalimat puitis,
beberapa berkat penyutradaraan Rako Prijanto (3 Nafas Likas, Sang Kiai, Bangkit!) yang mengutamakan kesan natural
ketimbang memaksakan kekonyolan atau dramatisasi, tapi mayoritas berkat chemistry luar biasa Adipati dan
Vanesha. Pria tampan dan wanita cantik dengan busana tak berlebihan namun memikat
mata yang rutin memancing tawa bahagia satu sama lain. Sulit untuk tidak
terbuai oleh keduanya.
Tanpa terbebani keharusan merespon gombalan-gombalan aneh,
Vanesha tampil lepas. Kemudian ada Adipati dalam salah satu penampilan paling menghiburnya.
Pun kapasitasnya melakoni drama tetap kentara. Pada sebuah momen, Ayu menangis
membelakangi Ditto yang hanya bisa memandang, memasang wajah iba. Bagi saya, mise en scene seperti itu, kala seorang
tokoh menyuarakan isi hati pada orang lain secara non-verbal tanpa orang lain
itu sadari (contohnya “belaian” Celine untuk Jesse di Before Sunset), punya emosi lebih kuat. Penonton bagai diajak memasuki
ruang personal si tokoh yang hanya diketahui dia dan kita. Bagi aktor, adegan
macam ini butuh ketepatan timing serta
kenaturalan merespon situasi.
Nyaris selalu tertawa oleh kelucuan atau tersenyum karena rasa
manisnya, #TemanTapiMenikah juga berhasil
mengalirkan air mata sewaktu menyaksikan resolusi romantika Ditto-Ayu di lokasi
konser yang telah kosong. Nihil puisi, tiada pula ucapan “I love you”. Cuma dua sahabat yang masih melontarkan ejekan demi
ejekan, bedanya kali ini mereka telah menyimpan perasaan serupa. Bukan tangis kesedihan, bahkan mungkin juga bukan haru. Entahlah. Mendadak terasa sesuatu
yang manis dan indah. Sulit menjelaskannya menggunakan nalar, karena seperti
telah disinggung, eksistensi cinta memang di luar nalar, atau dengan kata lain,
keajaiban.
Maret 30, 2018
Adipati Dolken
,
Comedy
,
Indonesian Film
,
Johanna Wattimena
,
REVIEW
,
Rko Prijanto
,
Romance
,
Sangat Bagus
,
Upi
,
Vanesha Prescilla
MY GENERATION (2017)
Rasyidharry
Pada 1965, lewat lagu My Generation, The Who mewakili perlawanan kaum muda. Meneriakkan "People try to put us down. Just because we get around" sebagai protes saat pemegang otoritas pun generasi terdahulu menganggap semangat Baby Boomers yang menyulut perubahan kultural adalah kebejatan mengganggu. 52 tahun berselang, Upi merilis film terbarunya, juga berjudul My Generation. Mengusung tagline "No one can stop us", giliran milenial bersuara. Seni cenderung mencerminkan zaman. Membandingkan dua contoh di atas, dapat diasumsikan benturan antar-generasi merupakan lingkaran yang selalu berulang. Generasi tua merasa yang muda keblinger, sebaliknya pemuda jengah akan kekakuan sikap tetua. Pun bukan mustahil bila muda-mudi macam empat protagonis film ini Zeke (Bryan Warow), Konji (Arya Vasco), Suki (Lutesha), dan Orly (Alexandra Kosasie) kelak bakal dipandang kolot oleh anak-anaknya. Menarik disimak cara Upi menangani kompleksitas tersebut.
Zeke, Konji, Suki, dan Orly terpaksa mengubur keinginan berlibur ke Bali akibat dihukum para orang tua pasca video yang menampilkan keempatnya mengkritik sistem pendidikan sekolah serta orang tua berujung viral. Merasa terlalu keren untuk patuh dan diam di rumah, mereka memilih beraktivitas sesuka hati, entah mendatangi roller disco atau menerobos atap gedung hingga dikejar satpam. Serahkan pada Upi untuk merangkai parade letupan semangat masa muda yang mudah membuat penonton tersenyum, tenggelam dalam keasyikan. Tidak ketinggalan memeriahkan suasana adalah keramaian warna sinematografi Muhammad Firdaus serta barisan musik hip-hop dengan lirik yang mewakili kebebasan pikir pula tutur tokohnya.
Walau sama-sama debutan, empat pemeran utama nyatanya sanggup memberi cukup energi guna menggerakkan filmnya. Dinamika dua pria, Bryan Warrow si biang onar dan Arya Vasco yang lebih berhati-hati, Alexandra Kosasie yang senantiasa mencengkeram atensi ketika melontarkan komentar sinis, hingga Lutesha yang mampu mewakili sisi kelam remaja dengan depresi. Sementara di jajaran pendukung, Tyo Pakusadewo dan Karina Suwandi sebagai orang tua Zeke memberi penampilan terbaik, menghadirkan dua sisi duka kontradiktif: kediaman meresahkan dan luapan pilu menusuk. Ceramah bertubi-tubi Joko Anwar (ayah Konji), juga eksentriknya Indah Kalalo (ibu Orly) pun tak kalah mencuri perhatian.
Tentu My Generation bukan mengenai senang-senang semata. Sejak menit awal, tanpa basa-basi kuartet protagonisnya langsung menyuarakan isi hati yang niscaya segera diamini golongan penonton masa kini. Curahan tersebut memanaskan konflik mereka dengan orang tua masing-masing. Zeke merasa keberadaannya tak diharapkan, Konji selalu diceramahi tentang norma, Suki lelah dianggap memalukan nama keluarga, sementara Orly risi mendapati sang ibu yang terlampau eksis di media sosial dan memacari pria berusia jauh lebih muda. Pertanyaannya, seberapa cerdik Upi mengolah bentrokan generasi ini?
Di satu titik karakternya mengutarakan perspektif jika sikap protektif orang tua dikarenakan sewaktu muda dahulu berbuat hal serupa anak-anaknya. Ada kesadaran seputar siklus berulang perilaku tiap generasi. Sayangnya Upi urung menggali soal itu. Padahal bisa muncul titik temu, solusi berupa pemahaman kedua belah pihak bahwa orang tua pernah muda dan sama liarnya, sedangkan milenial suatu hari (mungkin) akan mengalami perubahan pola pikir seiring pendewasaan. Akhirnya My Generation berhenti di tataran "kado bagi milenial". Tidak salah, tapi berpotensi membahas perihal generasi secara lebih luas.
Kelemahan My Generation memang bertumpuk di resolusi. Seiring konflik memanas, berkurangnya keceriaan adalah proses natural. Memasuki paruh kedua, nuansa kelam menyeruak, namun alih-alih menguatkan bobot emosi, justru melucuti daya tarik akibat kurang cakapnya Upi menjalin dinamika dramatik. Bertambah kelam tanpa bertambah dalam. Satu-satunya momen solid adalah ketika orang tua Suki menemukan "petunjuk" terkait kondisi mentalnya. Suatu tamparan keras, sebab selama ini mereka kerap memasuki kamar Suki tapi tak sekalipun menyadari meski semua terpampang jelas. Film mencapai titik nadir begitu menyentuh akhir, sewaktu "konklusi ajaib" jadi pilihan. Selesainya satu perselisihan tiba-tiba turut menyelesaikan masalah lain walau tak saling bersinggungan. Langkah penggampangan yang mestinya tidak dipakai untuk menutup deretan problematika rumit.
November 05, 2017
Alexandra Kosasie
,
Arya Vasco
,
Bryan Warow
,
Cukup
,
Drama
,
Indah Kalalo
,
Indonesian Film
,
Joko Anwar
,
Karina Suwandi
,
Lutesha
,
Muhammad Firdaus
,
REVIEW
,
Tyo Pakusadewo
,
Upi
SURAT KECIL UNTUK TUHAN (2017)
Rasyidharry
Berbeda dengan Surat Kecil untuk Tuhan (2011), karya Fajar Bustomi (From London to Bali, Jagoan Instan, Modus) ini tak mengadaptasi cerita novel Agnes Davonar kecuali saat Angel kecil (Izzati Khanza) menulis surat untuk Tuhan. Persamaan lain tentu terkait tujuan mengucurkan air mata penonton sederas plus sesering mungkin. Begitu keras usahanya, sampai paruh pertama tak ubahnya penyatuan keping-keping momen penderitaan ketimbang alur kohesif. Naskah tulisan Upi selalu mencari cara menyusupkan kesedihan dalam hidup Angel dan kakaknya, Anton (Bima Azriel), yang setelah kabur dari siksaan paman mereka, terpaksa mengemis di jalan di bawah komando Oom Rudi (Lukman Sardi).
Oom Rudi yang mengumpulkan anak-anak sebagai pengemis dengan kedok penampungan tak ragu bertindak keras memukul dengan kayu, membenamkan kepala dalam air, menempelkan setrika panas pada mereka bila gagal mengumpulkan uang sesuai target. Tapi di tangan Fajar Bustomi, kegiatan macam dua anak bermain ayunan bersama pun jadi situasi dramatis, lengkap dengan gerak lambat, juga lagu anak-anak versi megah buatan Andhika Triyadi. Hanya ada satu emosi berusaha dicuatkan: sedih. Hanya ada satu kondisi: penderitaan. Menjadikannya sekedar tearjerker, bukan observasi mendalam terhadap kehidupan anak jalanan.
Kemudian terjadi peristiwa yang memisahkan Angel dan Anton. Beberapa tahun berselang, Angel (Bunga Citra Lestari) hidup mapan di Australia bersama orang tua asuh, bekerja sebagai pengacara pembela korban kekerasan dan kejahatan kemanusiaan. Menjelang pernikahan dengan seorang dokter bernama Martin (Joe Taslim), timbul keinginan pada Angel kembali ke Indonesia guna mencari Anton. Mulai titik ini alur mulai menyusup masuk. Setidaknya ada proses investigasi pemancing rasa ingin tahu mengenai keberadaan Anton dan rahasia milik Oom Rudi, meski kelemahan narasi tetap bertebaran, seperti pengundang tanya tentang keabsahan fakta hukum kala polisi membebaskan buronan akibat kurang bukti. Pun adanya kemiripan dengan Lion berupa kisah anak jalanan yang terpisah dengan keluarga diikuti proses mencari, lokasi di Australia, sampai kemiripan fisik Bima Azriel dan Sunny Pawar.
Sinematografi Yud Datau membungkus Lokasi outdoor kala malam dengan warna-warni lampu jalanan dan gemerlap neon yang memanjakan mata, namun beberapa coloring memancing nuansa tidak natural ditambah lens flare yang sesekali menyinari. Hendak memudahkan penonton menangkap emosi cast-nya, close-up acap diterapkan, bahkan di sebuah kesempatan, Angel bicara ke arah kamera seolah tengah menatap penonton tajam. Kepiawaian Bunga Citra Lestari menuangkan rasa termasuk "bicara" melalui sorot mata mendukung pilihan teknis di atas. Tapi Joe Taslim tidak, di mana ketidaktepatan ekspresi kerap melemahkan momentum. Sementara rambut gondrong dan jenggot tebal memudahkan Lukman Sardi menghidupkan seorang pria keji.
Surat Kecil untuk Tuhan bisa lebih dari tearjerker biasa. Walau bukan observasi solid seputar human trafficking, film ini dapat menjadi luapan amarah terhadap para pelaku, menghukum mereka melalui cerita fiksi. Semua diawali shocking revelation pengguncang rasa sekaligus pemberi dosa departemen marketing yang mengarah pangsa pasar anak kala terdapat momen disturbing traumatik. Tapi ini cerita lain. Momen itu mengarah ke courtroom drama yang patut disayangkan, bukan jadi puncak emosi atau resolusi. Setelah rentetan dramatisasi, merupakan kerugian ketika Fajar mengeksekusi sidang dengan intensitas tanggung. Naskahnya justru memilih konklusi berbentuk twist yang memaksa kaitan beberapa peristiwa. Keputusan tidak perlu yang menghalangi filmnya naik kelas, tertahan di status penguras air mata ketimbang curahan hati serta harapan positif atas suatu isu.
Juni 29, 2017
Andhika Triyadi
,
Bima Azriel
,
Bunga Citra Lestari
,
Drama
,
Fajar Bustomi
,
Indonesian Film
,
Izzati Khanza
,
Joe Taslim
,
Kurang
,
Lukman Sardi
,
REVIEW
,
Upi
,
Yudi Datau
SWEET 20 (2017)
Rasyidharry
Lebaran bukan melulu soal agama, juga momen
berharga di mana bagi sebagian orang jadi kesempatan langka bertemu keluarga
besar. Mereka bercengkerama, bertukar cerita, tertawa bahagia. Lebaran adalah
liburan. Liburan yang (semestinya) hangat dan menyenangkan. Sehingga "film
lebaran" menjadi sempurna apabila mampu menimbulkan rasa-rasa tersebut
sekaligus bisa ditonton bersama orang-orang tercinta. Sambutlah Sweet 20, satu dari lima remake (ada tiga lagi sedang dipersiapkan) drama-komedi asal
Korea Selatan, Miss Granny, yang niscaya
bakal melambungkan Tatjana Saphira ke jajaran lead actress papan atas.
Adaptasi naskah oleh Upi tak sekedar melakukan
alih bahasa, juga budaya termasuk menempatkan adat sungkeman keluarga kala lebaran yang dilakukan tokoh Fatmawati
(Niniek L. Karim) beserta anak tunggal kesayangannya yang kini sukses menjadi
dosen, Aditya (Lukman Sardi), Salma (Cut Mini) si menantu yang gemar ia kritisi,
juga kedua cucunya, Juna (Kevin Julio) dan Luna (Alexa Key). Kecerewetan
Fatmawati rupanya acap menghadirkan kesulitan, yang akhirnya menyulut wacana
memasukkan sang nenek ke panti jompo.
First act mengenai ujian terhadap
ikatan kasih keluarga kemudian berpindah menyinggung ranah fantasi (genre yang sulit dieksekusi baik dalam
perfilman kita) pada second act
ketika Fatmawati yang terpukul mendengar niat anak-cucunya tadi menemukan
studio foto milik seorang pria tua (Henky Solaiman). Harapan mendapat foto cantik
untuk pemakaman malah memberi keajaiban. Fatmawati kembali bak gadis berusia 20
tahun (diperankan Tatjana Saphira). Mengadopsi nama aktris favoritnya (Mieke
Wijaya), Fatmawati berharap menggapai mimpi masa mudanya yang dahulu urung
tercapai akibat jerat kemiskinan.
Jujur saja, sebelum ini saya cenderung
meragukan kapasitas Tatjana akibat ekspresi maupun luapan emosi tanggung dalam
berakting. Peran sebagai Fatmawati/Mieke membawanya naik kelas, dari aktris
muda berparas ayu menuju pemeran utama kompeten. Aksinya penuh semangat, jago
menangani momen komedik entah melalui raut wajah menggelitik sampai gaya bicara
bagai wanita tua sembari tetap solid melakoni porsi dramatik. Tatjana tidak
terjebak untuk berlebihan tampil konyol supaya nampak lucu. Sebaliknya, kelincahan
berenergi miliknya menguatkan penokohan selaku tingkah wajar Fatmawati kala
mendapat lagi gelora dan tenaga yang telah lama hilang. Fatmawati is excited to chase her old dream and we can easily feel that
excitement.
Bukan sang aktris saja, sutradara Ody C.
Harahap (Me vs. Mami, Kapan Kawin?,
Skakmat) dan Upi sebagai penulis naskah pun saling melengkapi, berujung
pencapaian terbaik sepanjang karir masing-masing. Ramuan komedi Upi sempurna divisualisasikan
oleh Ody melalui pendekatan “makin kacau makin baik” semisal saat Hamzah (Slamet
Rahardjo), si kakek yang terpikat pada Fatmawati berteriak ketakutan setengah
mati menaiki wahana Dunia Fantasi, hingga gemasnya Hamzah bersama Mieke
menonton sinetron di televisi. Demikian pula paparan drama. Upi konsisten memberi
latar (kenangan, kasih sayang keluarga, persahabatan tak terucapkan) dalam tiap
kesedihan atau haru, bukan dramatisasi asal guna memaksa mengucurkan air mata penonton.
Di sinilah Ody melakukan hal yang sutradara
kelas satu pun belum tentu sanggup: memuluskan perpindahan tone. Lompatannya tak tergesa-gesa berkat keberadaan transisi
memadahi, pandai juga ia mengatur dinamika melalui kecermatan menaikturunkan
intensitas rasa. Sang sutradara paham kapan pembangunan emosi dilakukan, kapan hook dilemparkan, kapan mesti menetap di
satu momen, kapan waktunya berpindah ke momen lain. Alhasil baik tawa atau
tangis tersaji total, urung terkikis kekuatannya.
Kembali ke naskah, Upi berhasil
memaksimalkan karakter pendukung yang tidak sedikit. Secara natural
semua diberi porsi mencuri perhatian berkat penempatan tepat di mana seorang
tokoh mendapat fokus karena memang sudah tiba waktunya hadir mengisi sentral. Kelebihan ini mendukung fakta Sweet 20 diisi ensemble cast
yang bermain apik. Slamet Rahardjo terlihat bersenang-senang menjadi kakek centil sambil mempertahankan bobot
akting, Widyawati Sophiaan yang “menggila” dan tidak kalah centil, Lukman Sardi
yang menyentuh hati dalam klimaks emosi film, sampai sejumlah memorable cameo sebutlah Joe P Project
dan Karina Nadila. Bakal terlampau panjang membahas kualitas para penampil sebab nama-nama seperti Cut Mini, Morgan Oey, Kevin Julio, hingga Tika
Panggabean tak kalah memikat.
Sisi artistik Sweet 20 juga ikut melengkapi, memuaskan mata dan telinga melalui nuansa retro yang
cakap ditunjukkan lewat kostum serta tata rias yang dikenakan Tatjana, pemilihan
warna-warni indoor setting, juga
penggunaan lagu-lagu klasik macam Payung
Fantasi dan Bing. Memikat luar-dalam di segala aspek, Sweet 20 akan mengobrak-abrik tembok perasaan anda, jadi apabila sepanjang liburan lebaran hanya satu film sempat ditonton, pastikan pilihan jatuh pada film ini. The best Indonesian movie of the year by far.
Juni 28, 2017
Alexa Key
,
Comedy
,
Cut Mini
,
Drama
,
Indonesian Film
,
Kevin Julio
,
Lukman Sardi
,
Morgan Oey
,
Niniek L. Karim
,
Ody C. Harahap
,
REVIEW
,
Sangat Bagus
,
Slamet Rahardjo
,
Tatjana Saphira
,
Upi
,
Widyawati Sophiaan
Langganan:
Postingan
(
Atom
)




























