Tampilkan postingan dengan label Andhika Triyadi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Andhika Triyadi. Tampilkan semua postingan
JERITAN MALAM (2019)
Rasyidharry
Megah dan
dramatis. Sepertinya Soraya Intercine Films ingin kesan tersebut lekat dengan
mereka, sekalipun di film horror, yang biasanya identik dengan kesederhanaan
(baca: murah). Contohnya adalah Suzzanna:
Bernapas dalam Kubur tahun lalu. Mengadaptasi cerita karya meta.morfosis
yang sempat ramai dibicarakan warganet dan konon berasal dari kisah nyata, Jeritan Malam mengambil jalur serupa.
Berambisi tampil dramatis, menit-menit awalnya bahkan bak tersusun atas
cuplikan opera sabun yang berlangsung terlalu panjang.
Ketimbang
langsung menghadapi teror, kita lebih dulu disuguhi perjuangan karakter
utamanya, Reza (Herjunot Ali), yang setia menarasikan kisahnya bahkan di
titik-titik yang tak perlu lagi dijelaskan (naskahnya terlalu literal dalam
menerapkan cara bertutur materi aslinya), dalam perjuangannya mencari kerja. Setelah
ditolak belasan kali, akhirnya ia diterima bekerja di Jawa Timur. Masalahnya,
itu berarti Reza mesti meninggalkan Bogor beserta kedua orang tua, juga
kekasihnya, Wulan (Cinta Laura Kiehl). Jelang keberangkatan Reza, filmnya
didominasi perpisahan mengharu biru, yang entah berapa kali memperdengarkan
kalimat cringey, “Aku bakal kangen
luar biasa”.
Kalau anda
penasaran mengapa durasi Jeritan Malam bisa
mendekati dua jam (119 menit), di situlah jawabannya. Naskah buatan Ferry
Lesmana (Danur, Suzzanna: Bernapas dalam
Kubur) dan Donny Dhirgantoro (Tenggelamnya
Kapal Van Der Wijck, Antologi Rasa) gemar menyelipkan drama berlarut-larut
yang hanya membengkakkan film ketimbang mencuri hati, akibat paparan dangkal
yang hanya bersenjatakan kalimat (sok) romantic, yang di realita, mungkin cuma
bakal jadi status Facebook remaja pengidap cinta monyet.
Sebelum
berangkat, oleh sang ayah (Roy Marten), Reza dibawakan sebuah kujang sebagai
alat pelindung. Berkebalikan dengan ayahnya, Reza bersikap skeptis terhadap hal
gaib. Ditambah peristiwa tragis masa kecilnya, ketidakpercayaan Reza berkembang
jadi kebencian. Bahkan ketika dua teman kantornya, Indra (Winky Wiryawan) dan
Minto (Indra Brasco) menceritakan fakta horor terkait mess yang ketiganya
tempati, Reza menolak percaya. Bukan saja enggan percaya, Reza cenderung
meremehkan, menendang sesajen, lalu menantang para “penghuni mess”.
Jeritan Malam memang didesain supaya penonton
berharap si protagonis tertimpa hukuman atas kesombongannya. Alhasil, bila mengandalkan
Reza semata, alurnya takkan
menyenangkan diikuti. Karena itulah filmnya mengambil bentuk crowd pleasure, di mana serupa Suzzanna: Bernapas dalam Kubur, humor
turut diterapkan lewat kekonyolan dua teman Reza, khususnya Minto, dalam
menghadapi kengerian di mess. Jelas bukan komedi cerdas, namun memadai sebagai
penambah daya hibur.
Begitu
teror dimulai, gerak alur Jeritan Malam sebenarnya
sempat repetitif, kala berkali-kali kita disajikan adegan Reza terbangun di
tengah malam, minum, sebelum akhirnya diganggu sosok tak kasat mata. Beruntung
pengulangan itu tak berlangsung seterusnya, sebab semakin
kisahnya bergulir, varian peristiwanya cukup kaya, dari “perjalanan sukma” Reza
hingga ritual misterius yang jadi penyebab rentetan tragedi pada babak ketiga.
Jump scare tidak
dikesploitasi, biarpun efektivitas kemunculan hantunya tergolong inkonsisten.
Misalnya, setelah penampakan sesosok nenek di atas pohon yang punya tata rias
lumayan baik, intensitas langsung dirusak oleh serbuan pasukan tuyul dengan kualitas
CGI menyedihkan. Tapi satu hal yang cukup menarik adalah bagaimana Rocky,
dibantu sinematografi garapan Muhammad Firdaus (My Stupid Boss, Ikut Aku ke Neraka), di beberapa kesempatan, sukses
membangun atmosfer bersenjatakan sudut pandang orang pertama. Saya pernah
terlibat menggarap acara penelusuran mistis, dan menonton Jeritan Malam rasanya seperti dibawa kembali ke suasana itu, kala menyusuri
lokasi-lokasi gelap nan menyesakkan, yang memancing kecemasan karena dari balik
kegelapan itu, seolah ada figur menyeramkan tengah mengintai.
Seperti telah
disebut sebelumnya, horor satu ini ingin betul terlihat (lebih) mahal, dan itu
nampak dari penataan set dan properti, color
grading khas Soraya yang memakai kontras rendah, juga musik garapan Andhika
Triyadi (Suzzanna: Bernapas dalam Kubur,
Dua Garis Biru) yang mengandalkan suara biola menyayat ala horor/thriller klasik. Di antara semua itu,
justru akting Herjunot Ali yang nampak paling murah, sebab lagi-lagi ia masih
bermasalah dalam mengekspresikan emosi melalui mimik wajah “besar” yang selalu
berlawanan dengan definisi “natural”.
Kecintaan
Rocky terhadap gore, yang secara
mengejutkan kuantitasnya tidak seberapa, menguatkan kesan tragis dari salah
satu kematian karakternya. Andai filmnya ditutup tak lama setelah itu.
Sayangnya tidak. Jeritan Malam justru
menambahkan epilog dramatik cenderung menggurui yang merusak bangunan
intensitasnya. Sesungguhnya epilog ini bisa menambah kengerian (menegaskan
bahwa iblis yang karakternya hadapi teramat licik dan kejam) sekaligus
memantapkan status filmnya sebagai tragedi (sejalan dengan image dramatis Soraya yang saya singgung), jika narasi terkait sebuah
ritualnya dikemas lebih rapi dan jelas.
Desember 14, 2019
Andhika Triyadi
,
Cinta Laura Kiehl
,
Cukup
,
Donny Dhirgantoro
,
Ferry Lesmana
,
Herjunot Ali
,
horror
,
Indonesian Film
,
Indra Brasco
,
Muhammad Firdaus
,
REVIEW
,
Rocky Soraya
,
Roy Marten
,
Winky Wiryawan
BUMI MANUSIA (2019)
Rasyidharry
Timbul kontroversi kala Hanung
Bramantyo (Ayat-Ayat Cinta, Sang
Pencerah, Kartini) menyatakan bakal memfokuskan Bumi Manusia pada elemen percintaan remaja. Banyak orang murka,
tapi mungkin mereka lupa, kurang (atau menolak) memahami, bahwa novelnya
sendiri mengetengahkan romantika. Tepatnya, Pramoedya Ananta Toer tahu jika cinta
sepasang kekasih merupakan perihal universal
yang mudah menyerap di hati.
Tujuan novelnya adalah membuat
pembaca jatuh cinta bersama Minke dan Annelies, memedulikan mereka, sehingga
tergerak mengutuk kolonialisme, rasisme, atau tindak ketidakadilan secara umum,
selaku kebiadaban yang berpotensi merenggut keindahan rasa bernama “cinta”. Dan
Hanung bersama Salman Aristo (Garuda di
Dadaku, Athirah, Mencari Hilal) sebagai penulis naskah, menangkap esensi
itu dengan baik.
Minke (Iqbaal Ramadhan) adalah
pribumi beruntung yang berkesempatan menuntut ilmu di Hogere Burgerschool
(HBS), sehingga bisa terpapar ilmu pengetahuan serta pola pikir modern, hal-hal
yang jauh dari jangkauan mayoritas pribumi. Minke merasa “tahu”, sampai tiba
kunjungannya ke kediaman keluarga Mellema di Wonokromo, Surabaya.
Bertemulah ia dengan Nyai Ontosoroh
(Sha Ine Febriyanti). “Nyai” merupakan panggilan bagi wanita pribumi simpanan
orang Belanda. Masyarakat memanang rendah para nyai, menganggap mereka sebatas
gundik kelas rendah tak berpendidikan. Tapi anggapan itu—yang turut menancap di
otak Minke—dipatahkan Nyai Ontosoroh. Dia pintar, penuh harga diri, kaya akan
pengetahuan, pula bertindak sebagai ketua pelaksana seluruh bisnis Keluarga
Mellema, menggantikan sang suami, Herman Mellema (Peter Sterk) yang sibuk
mabuk-mabukkan. Bahkan Nyai Ontosoroh berani berdiri melawan Herman.
Tapi sambaran lebih kuat ke hati
Minke ia rasakan kala berjumpa dengan puteri Nyai Ontosoroh, Annelies (Mawar de
Jongh), gadis indo (berdarah campuran) yang berkebalikan dengan sang kakak,
Robert (Giorgino Abraham), ingin menjadi pribumi. Minke jatuh cinta pada
pandangan pertama. Annelies pun demikian. Namun cinta mereka takkan mudah,
sebab ketidakadilan hukum, budaya, juga persepsi sosial yang menggelayuti bumi
manusia senantiasa siap menghancurkan hubungan ini.
Apabila pernah membaca novelnya,
tentu anda tahu sudut pandang ceritanya selalu berganti, dari Minke, Annelies,
Nyai Ontosoroh, sampai PSK asal Jepang bernama Maiko (Kelly Tandiono).
Naskahnya sanggup merangkum semua, menyederhanakannya tanpa kehilangan
substansi.
Pun pemakaian durasi mencapai tiga
jam tidak sia-sia, kala Bumi Manusia menghasilkan
sebuah adaptasi yang setia. Tentu beberapa aspek perlu diringkas, dihapus, atau
dipindah penempatannya, namun Salman Aristo jeli memilih, mana yang wajib dipertahankan,
mana yang bisa diubah. Saya masih menemukan pergerakan kasar, misalnya saat di
suatu subuh Minke dijemput paksa oleh polisi, tapi keseluruhan, filmnya
mengalir mulus berbekal konsistensi pacing
juga tensi.
Itulah mengapa penunjukkan Hanung tepat.
Tidak banyak sutradara yang siap menangani drama kolosal berdurasi tiga jam
supaya gampang dinikmati, bahkan oleh penonton muda yang mungkin datang hanya
demi melihat Iqbaal. Dibutuhkan fokus, energi, sekaligus jam terbang tinggi.
Dan Bumi Manusia merupakan karya
penyutradaraan terbaik Hanung selama beberapa tahun terakhir, di mana ia sukses
meraih apa yang ia kejar sepanjang karir: melahirkan drama emosional yang bisa
menjangkau penonton umum, namun tetap elegan agar tak berakhir murahan.
Pendekatan tersebut menjadikan Bumi Manusia sebuah romansa epik,
dibantu musik Andhika Triyadi (Dear
Nathan, Dilan 1990, Dua Garis Biru) yang sempurna mewakili kemegahan kisah
berskala besar. Satu departemen sayangnya melemahkan kesan epik itu: tata
dekorasi. Ya, rumah Keluarga Mellema dan lokasi-lokasi lain sekilas tampak
bagus, terlalu bagus dan terpoles sehingga mengurangi kesan realistis. Bangunan-bangunannya
artificial layaknya panggung yang
(baru) dibangun ketimbang lingkungan nyata.
Apalah arti suguhan drama tanpa
performa apik jajaran pemain. Banyak orang menyuarakan keraguan terkait
pemilihan Iqbaal. “Kenapa Minke diperankan Dilan?!”, begitu ujar mereka. Tapi
pengalaman Iqbaal menghantarkan gombalan Dilan membantunya menghadapi
kalimat-kalimat romantis di film ini. Mampu pula ia seimbangkan sisi rapuh dan
kokoh Minke, meski saat tiba waktunya melakoni adegan yang menuntut luapan rasa
(orasi berapi-api, tangisan, dan lain-lain), ekspresinya kerap kurang natural.
Sedangkan bagi Mawar, Annelies
merupakan peran yang bakal melambungkan status kebintangannya. Mawar bisa menyeimbangkan dua sisi
karakternya. Dibuatnya kita gemas pada kemanjaan Annelies, sementara di lain
kesempatan, kekaguman terhadap ketangguhannya tak tertahankan.
Tapi tiada satu pun sanggup
menandingi Sha Ine Febriyanti, yang tampil bagai kekuatan alam yang menyedot
seluruh gravitasi di ruangan di tiap kemunculan, bahkan tanpa harus mengucap
sepatah kata pun. Sosoknya mantap, intimidatif, namun berhiaskan kehangatan
juga, tergantung situasi atau dengan siapa sang Nyai berinteraksi. Kemudian
sewaktu Ine mulai meningkatkan kadar emosi, hati ini pun ikut bergetar hebat.
Di tangan Ine, Nyai
Ontosoroh bagaikan figur pemimpin perjuangan tokoh-tokoh wanita film ini, yang
seluruhnya kuat, sanggup “berdiri dengan kaki sendiri” juga menaklukkan semua
pria, baik menggunakan cara keras (diwakili Nyai Ontosoroh) atau kelembutan (diwakili Ibunda Minke yang diperankan penuh kehangatan oleh Ayu Laksmi).
Inilah alasan, walau novelnya
terbit hampir 40 tahun lalu dan mengusung latar 121 tahun lalu, Bumi Manusia masih relevan. Perjuangan
menegakkan keadilan (ras, gender, agama) berlandaskan asas kemanusiaan masih
berlangsung sampai sekarang. Sebuah perjuangan yang dipersenjatai hati dan
cinta ketimbang (sekadar) amarah. Perjuangan tersebut bergema kuat, mungkin
sekitar separuh durasi, saya kesulitan menahan haru.
Agustus 16, 2019
Andhika Triyadi
,
Ayu Laksmi
,
Bagus
,
Drama
,
Giorgino Abraham
,
Hanung Bramantyo
,
Indonesian Film
,
Iqbaal Ramadhan
,
Kelly Tandiono
,
Mawar de Jongh
,
REVIEW
,
Romance
,
Salman Aristo
,
Sha Ine Febriyanti
TARGET (2018)
Rasyidharry
Target lebih bagus daripada Hangout (2016). Sesama komedi meta di mana para aktor memerankan diri
sendiri bercampur misteri whodunit, proses
Raditya Dika mempermainkan image
jajaran pemainnya di Target jauh
lebih berhasil. Dia memberi Cinta Laura kesempatan jadi sosok paling tangguh. Dia memberi penokohan tak terduga kepada Willy
Dozan dan Samuel Rizal yang tak pernah
kita kira ingin kita lihat. Tapi kita ingin melihat Ria Ricis kena batunya
akibat lawakan-lawakan tak lucu ciri khasnya, dan Radit pun memberikan itu. Walau
Hangout juga bermain-main dengan image dunia nyata itu, dalam Target peran mereka signifikan dan punya
momen puncak masing-masing. Radit menepi, membiarkan sorotan terbagi rata,
membuka kesempatan bagi humor yang lebih variatif. Alhasil, jadilah film soal ensemble cast, bukan “Radit dan
kawan-kawan”.
Kredit pembukanya langsung menggigit lewat desain grafis yang
mengingatkan akan karya-karya Saul Bass yang jadi langganan Alfred Hitchcock.
Pun ditambah musik suspense garapan
Andhika Triyadi (Dear Nathan, Dilan 1990,
Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss) aroma Hitichcockian
seketika merebak, mengawali pertemuan sembilan selebritis yang bermain bersama
dalam film berjudul Target: Raditya
Dika, Cinta Laura Kiehl, Samuel Rizal, Willy Dozan, Abdur Arsyad, Hifdzi Khoir,
Ria Ricis, Romy Rafael, Anggika Bolsterli. Mengharapkan proses cepat nan mudah
selama sehari, para pesohor ini justru mendapati diri mereka tengah dikurung sosok
misterius bertopeng bernama Game Master di sebuah gedung kosong. Bukan itu
saja, mereka dipaksa melakukan berbagai permainan maut sembari direkam
gerak-geriknya melalui kamera yang tersebar di tiap sudut gedung. Game Master
ingin menciptakan film yang nyata, dengan konflik nyata, serta kematian nyata.
Penjahat bertopeng, perangkap dengan perintah dilematis yang
memaksa para korban mengorbankan diri sendiri atau orang lain, praktis Target adalah modifikasi dari Saw. Hanya saja tiada peralatan canggih
dengan cara kerja rumit, karena perangkapnya monoton, cuma “lubang lantai” dan
pistol. Hanya ada hidup atau mati, tanpa ada kehilangan bersifat parsial. Dampaknya,
saat seseorang meregang nyawa, momen itu cuma numpang lewat. Apalagi
karakternya menganggap kematian-kematian itu bak angin lalu. Terdapat beberapa
adegan perkelahian dengan eksekusi kurang meyakinkan, canggung, meski salah
satunya membuat Cinta Laura terlihat badass
sementara satu momen lain bakal membuat penonton bersorak, khususnya bagi yang
menghabiskan masa kecil bermain peran sebagai tokoh-tokoh dalam sinetron laga Deru Debu (1994-1996) seperti saya.
Perangkapnya memang bersifat sekunder. Bagaimana para korban
menyikapi perangkap itulah yang diutamakan. Karena bukan slasher yang bergerak secara “kill-and-run”,
Target mampu menjalin dinamika
tersebut. Willy Dozan si legenda laga diubah jadi pria genit yang membenci
kekerasan dan berjualan obat anti-wasir. Samuel Rizal yang rasanya seumur hidup
terjebak oleh typecast Adit si pria
keren dalam dua film Eiffel...I’m In Love
tampil memparodikan image itu,
sebagai pria yang bangga atas status selebritisnya dan acap kali bertingkah
bodoh karenanya. Dari situ komedinya bisa bekerja. Kita suka melihat seseorang
memerankan sosok yang berlawanan dengan tipenya. Ada satu potensi lain, yakni Anggika
Bolsterli sebagai aktris yang mengkhawatirkan tampang selaku asetnya,
sayang opsi itu urung dimanfaatkan. Menyenangkan melihat nama-nama di atas
memperoleh fokus besar, sebab “dick jokes”
murahan jelas terdengar lebih lucu saat dilontarkan Samuel Rizal ketimbang
Raditya Dika dengan gaya yang kita sudah hafal betul.
Apakah Target film
pintar? Tentu tidak. Beberapa permainan mautnya tidak diberi aturan pasti, yang
mengakibatkan intensitas minimalis, dan saat permainan itu dikaitkan dengan
motif pelaku yang diungkap di paruh akhir, modus operandinya menyisakan setumpuk
pertanyaan di ranah logika pula menghadirkan kesan penggampangan. Radit enggan
repot-repot memikirkan segenap detail tadi, terpenting ada permainan misterius
plus twist soal pelaku. Mungkin kesederhanaan
pikir itu yang ada di kepalanya. Tapi berkat kesederhanaan itu, Radit lebih
mudah menjalin konstruksi yang rapi. Dia menyempatkan diri menebar petunjuk, sehingga
walau ditempatkan bukan dengan cara yang memancing keterlibatan penonton memecahkan
teka-teki, tatkala jawaban diungkap, poin-poinnya saling terhubung,
meninggalkan saya dengan rasa puas ketimbang kesan tiba-tiba nan dipaksakan.
Mengapa lagi-lagi Raditya Dika membuat meta whodunit? Entahlah.
Mungkin ia tidak puas dengan eksperimen perdananya dua tahun lalu, mungkin dia
memang mencintai konsep itu, atau mungkin sekedar “cari gampang” karena dia
tidak perlu menciptakan karakter (plus lelucon) yang sepenuhnya baru, melainkan
cukup sedikit menggali lalu memparodikan image
jajaran nama-nama tenar. Namun berapa banyak sineas kita berani menjamah ranah
itu? Tidak banyak. Berapa banyak film liburan secara umum, atau lebaran secara
khusus, yang bersedia melangkah ke sana alih-alih mengangkat konsep familiar
macam horor dan sajian religius? Jauh lebih sedikit. Saya akan menyambut
gembira jika Raditya Dika terus kembali lewat eksperimennya.
Juni 11, 2018
Abdur Arsyad
,
Andhika Triyadi
,
Anggika Bolsterli
,
Cinta Laura Kiehl
,
Comedy
,
Hifdzi Khoir
,
Indonesian Film
,
Lumayan
,
Raditya Dika
,
REVIEW
,
Ria Ricis
,
Romy Rafael
,
Samuel Rizal
,
Thriller
,
Willy Dozan
SURAT KECIL UNTUK TUHAN (2017)
Rasyidharry
Berbeda dengan Surat Kecil untuk Tuhan (2011), karya Fajar Bustomi (From London to Bali, Jagoan Instan, Modus) ini tak mengadaptasi cerita novel Agnes Davonar kecuali saat Angel kecil (Izzati Khanza) menulis surat untuk Tuhan. Persamaan lain tentu terkait tujuan mengucurkan air mata penonton sederas plus sesering mungkin. Begitu keras usahanya, sampai paruh pertama tak ubahnya penyatuan keping-keping momen penderitaan ketimbang alur kohesif. Naskah tulisan Upi selalu mencari cara menyusupkan kesedihan dalam hidup Angel dan kakaknya, Anton (Bima Azriel), yang setelah kabur dari siksaan paman mereka, terpaksa mengemis di jalan di bawah komando Oom Rudi (Lukman Sardi).
Oom Rudi yang mengumpulkan anak-anak sebagai pengemis dengan kedok penampungan tak ragu bertindak keras memukul dengan kayu, membenamkan kepala dalam air, menempelkan setrika panas pada mereka bila gagal mengumpulkan uang sesuai target. Tapi di tangan Fajar Bustomi, kegiatan macam dua anak bermain ayunan bersama pun jadi situasi dramatis, lengkap dengan gerak lambat, juga lagu anak-anak versi megah buatan Andhika Triyadi. Hanya ada satu emosi berusaha dicuatkan: sedih. Hanya ada satu kondisi: penderitaan. Menjadikannya sekedar tearjerker, bukan observasi mendalam terhadap kehidupan anak jalanan.
Kemudian terjadi peristiwa yang memisahkan Angel dan Anton. Beberapa tahun berselang, Angel (Bunga Citra Lestari) hidup mapan di Australia bersama orang tua asuh, bekerja sebagai pengacara pembela korban kekerasan dan kejahatan kemanusiaan. Menjelang pernikahan dengan seorang dokter bernama Martin (Joe Taslim), timbul keinginan pada Angel kembali ke Indonesia guna mencari Anton. Mulai titik ini alur mulai menyusup masuk. Setidaknya ada proses investigasi pemancing rasa ingin tahu mengenai keberadaan Anton dan rahasia milik Oom Rudi, meski kelemahan narasi tetap bertebaran, seperti pengundang tanya tentang keabsahan fakta hukum kala polisi membebaskan buronan akibat kurang bukti. Pun adanya kemiripan dengan Lion berupa kisah anak jalanan yang terpisah dengan keluarga diikuti proses mencari, lokasi di Australia, sampai kemiripan fisik Bima Azriel dan Sunny Pawar.
Sinematografi Yud Datau membungkus Lokasi outdoor kala malam dengan warna-warni lampu jalanan dan gemerlap neon yang memanjakan mata, namun beberapa coloring memancing nuansa tidak natural ditambah lens flare yang sesekali menyinari. Hendak memudahkan penonton menangkap emosi cast-nya, close-up acap diterapkan, bahkan di sebuah kesempatan, Angel bicara ke arah kamera seolah tengah menatap penonton tajam. Kepiawaian Bunga Citra Lestari menuangkan rasa termasuk "bicara" melalui sorot mata mendukung pilihan teknis di atas. Tapi Joe Taslim tidak, di mana ketidaktepatan ekspresi kerap melemahkan momentum. Sementara rambut gondrong dan jenggot tebal memudahkan Lukman Sardi menghidupkan seorang pria keji.
Surat Kecil untuk Tuhan bisa lebih dari tearjerker biasa. Walau bukan observasi solid seputar human trafficking, film ini dapat menjadi luapan amarah terhadap para pelaku, menghukum mereka melalui cerita fiksi. Semua diawali shocking revelation pengguncang rasa sekaligus pemberi dosa departemen marketing yang mengarah pangsa pasar anak kala terdapat momen disturbing traumatik. Tapi ini cerita lain. Momen itu mengarah ke courtroom drama yang patut disayangkan, bukan jadi puncak emosi atau resolusi. Setelah rentetan dramatisasi, merupakan kerugian ketika Fajar mengeksekusi sidang dengan intensitas tanggung. Naskahnya justru memilih konklusi berbentuk twist yang memaksa kaitan beberapa peristiwa. Keputusan tidak perlu yang menghalangi filmnya naik kelas, tertahan di status penguras air mata ketimbang curahan hati serta harapan positif atas suatu isu.
Juni 29, 2017
Andhika Triyadi
,
Bima Azriel
,
Bunga Citra Lestari
,
Drama
,
Fajar Bustomi
,
Indonesian Film
,
Izzati Khanza
,
Joe Taslim
,
Kurang
,
Lukman Sardi
,
REVIEW
,
Upi
,
Yudi Datau
Langganan:
Postingan
(
Atom
)









