AFTER THE STORM (2016)

14 komentar
Sambil menyiapkan makan malam, Yoshiko (Kirin Kiki menggelitik nan simpatik, senantiasa menghembuskan nyawa bagi filmnya) bercengkerama dengan puterinya, Chinatsu (Satomi Kobayashi). Bukan kegiatan yang jarang mereka lakukan, tampak dari bagaimana tiada keengganan untuk saling melempar ejekan. "I've always had bad handwriting. I took after you", demikian ungkap Chinatsu yang seketika dijawab oleh sang ibu, "I'm not as bad as you". Pemandangan natural soal kehangatan keluarga tanpa sisi manis yang dibuat-buat. Dalam pembicaraannya, Yoshiko dan Chinatsu sering beda pendapat, namun sepakat akan satu hal, mengenai salah satu anggota keluarga yang menurut mereka cocok dengan istilah "Great talents bloom late".

Seketika adegan berpindah menuju sebuah kereta. Diiringi musik karya Hanaregumi berupa petikan gitar plus siulan yang terdengar bagai melankoli ironis, protagonis kita hadir. Dia adalah Ryota (Hiroshi Abe), seorang penulis novel sekaligus pemenang penghargaan literatur. Ibu dan kakaknya, serta seorang teman masa SMA yang ia temui di jalan menyatakan hal serupa, bahwa Ryota berprestasi di bangku sekolah. Namun semua itu masa lalu. Sejak debutnya, ia tak lagi menulis, terjebak kegemaran berjudi, berujung tumpukan hutang. Ryota telah menjadi sosok yang tidak dia sukai: mendiang ayahnya.
Sebagai modal riset buku terbaru  yang tak kunjung mulai ditulis  Ryota bekerja di kantor detektif swasta. Tapi pekerjaan ini pun urung ia jalankan dengan baik, di mana bersama sang partner, Ryota kerap menghilangkan bukti hingga menyuap klien demi memperoleh uang lebih. Lagi-lagi uang kotor itu juga dihabiskan untuk berjudi. Ryota selalu berkelakar tentang kejayaan masa lalu maupun mimpi besar masa depan, tetapi lupa akan sekarang. Secara mulus, Hirokazu Koreeda (Like Father, Like Son, Our Little Sister) selaku sutradara dan penulis naskah, menautkan gagasan seputar "right here, right now" dengan tema kesukaannya, yakni keluarga.

Di suatu kesempataan, pernah Koreeda berkata, "Families are priceless but troublesome", dan permasalahan pelik juga begitu berharganya keluarga terasa betul dalam After the Storm. Kebiasaan berjudi membuat Ryota kesulitan membayar tunjangan anak pada mantan istrinya, Kyoko (Yoko Maki) yang sudah mulai berkencan dengan pria lain, menyulut kecemburuan Ryota. Padahal pembayaran itu adalah syarat agar ia bisa bertemu puteranya, Shingo (Taiyo Yoshizawa), tiap bulan. Terbuai angan tak pasti berwujud menang judi turut merenggut kesempatan membelikan sarung tangan bisbol bagi Shingo, satu hal yang sejatinya dapat Ryota lakukan seketika itu juga, begitu menerima uang.
Bukan saja terkait penulisan naskah, kelembutan pun aliran mulus ikut hadir pada penyutradaraan Koreeda, yang mementingkan keaslian situasi sekaligus emosi. Rangkaian obrolan sederhana mendominasi, tetapi sensitivitas Koreeda membuat kesan apa adanya jadi penuh rasa ketimbang menjemukan. Tengok momen jalan-jalan Ryota dan Shingo yang mengawali paruh kedua durasi, ketika filmnya mulai membawa penonton menyusuri lebih dalam ruang privasi para tokoh setelah sebelumnya mengobservasi dari luar. Ryota bukan pria jujur. Setiap orang, bahkan sang ibu pernah ia tipu. Berbeda kala bersama anaknya, membelikan sepatu dengan sisa tabungan, mengajak makan enak meski membuatnya tak sanggup ikut makan, kasih sayang jujur seorang ayah terpancar jelas. Kepiawaian Hiroshi Abe bermain emosi kuat secara subtil amat berperan merangkum kelembutan menyengat tersebut.

Pendekatan naturalistik dipertahankan Koreeda sampai konklusi. Ryota (dibantu Yoshiko) mencari rekonsiliasi, berusaha menyatukan lagi perpecahan keluarga mereka, tapi sang sutradara enggan memaksakan peristiwa manis dadakan selaku usaha penyelesaian masalah. Proses mengalir semestinya, sebagaimana seharusnya perasaan remuk yang takkan begitu saja kembali tersusun rapi. Kemudian segalanya memuncak sewaktu ketiganya sejenak bersama sebagai satu keluarga utuh, mencari tiket lotere di tengah gempuran badai layaknya perjuangan menggapai mimpi meski harus diterjang problematika. 

14 komentar :

Comment Page:
Amatir dalam Hidup mengatakan...

Uuuw penulis naskah dan sutradaranya Like Father, Like Son dan Our Little Sister. Mesti ditonton iniii x))

Rasyidharry mengatakan...

Oh yes, wajib! :)

Dimas Catur mengatakan...

Bang Rasyid mau review Mars met Venus gak ??

agoesinema mengatakan...

Gak ada niat review film
1. My name is lenny (2017)
2. Once upon a time in Venice (2017)

Rasyidharry mengatakan...

Review kok, bareng sama The Doll 2 :)

Rasyidharry mengatakan...

Lenny belum ada yang memancing minat, kalau Venice sudah hilang kepercayaan sama Bruce Willis :)

agoesinema mengatakan...

Ya sejak instalement Die Hard terakhir yg parah bgt... film doi jg menurun secara kualitas.. pdhl dulu dia idola sy
Kayak 11/12 dgn Nicolas Cage yg terkesan kejar setoran main di film kelas home video

Rasyidharry mengatakan...

Contoh nama besar yang jatuh karena attitude. Studio & sutradara mana juga jadi males pakai dia

Dimas Catur mengatakan...

oke ditunggu, Bang hehehe saya juga niat nonton juma agak ragu-ragu hehe

Tadi saya lihat di ig Surat Cinta Untuk Starla bakal diangkat diangkat ke layar lebar sama Screenplay Films. Kok saya jadi khawatir ya lagu favorit sejuta umat bakal ternodai (semoga saja tidak) secara banyak film PH tersebut laris manis tapi kualitas absurd (ngga semua juga sih tapi almost kaya gitu, jadi pukul rata saja hehehe)

Rasyidharry mengatakan...

Well, nggak terlalu berharap sih. Romansa produksi Screenplay kan template-nya begitu-begitu aja :)

dramaaddict mengatakan...

Bang, ga review despicable me 3?

Rasyidharry mengatakan...

Nanti malam baru mulai nulis :)

yuniar johansz mengatakan...

Bang ada niat ngereview the circle ga?

Rasyidharry mengatakan...

Masih belum tertarik nonton. Konsepnya telat beberapa tahun buat ukuran film tema futuristik & satir teknologi modern