FILOSOFI KOPI 2: BEN & JODY (2017)

27 komentar
Luar biasa apa yang dilakukan Angga Dwimas Sasongko beserta segenap tim dengan Filosofi Kopi. Tatkala film pertama hanya mengumpulkan sekitar 229 ribu penonton, perjalanan tak lantas berhenti. Alih-alih menyatakan gagal, brand Filosofi Kopi dikembangkan lebih jauh. Berangkat dari cerita pendek karya Dewi "Dee" Lestari, kini kita mendapati dibukanya gerai kopi, prekuel berupa web series Ben & Jody, serta sandiwara radio selaku jembatan penghubung film pertama dengan kedua. Hasilnya nyata. Tiket pemutaran hari pertama Filosofi Kopi 2: Ben & Jody ludes di berbagai kota. Ikut berkembang pula kisahnya, dari pemaknaan hidup dalam cerpen Dee menuju soal cinta, sahabat, keluarga, hingga kompleksitas dunia bisnis. 

Berbagai tema diangkat oleh trio penulis naskah Jenny Jusuf, M. Irfan Ramly dan Angga Dwimas Sasongko, termasuk seputar betapa hidup diisi kedatangan dan kepergian, suatu tema yang setia hadir sepanjang durasi, pun berperan memberi momen paling emosional dan intisari konklusinya. Tapi semua berawal kala dua tahun setelah memutuskan mengendarai kombi berkeliling Indonesia menyuguhkan kopi terbaik, Ben (Chicco Jerikho) dan Jody (Rio Dewanto) menemui jalan buntu. Mulai ditinggal karyawan, pemasukan tak seberapa, sampai kegamangan akibat merasa tanpa tujuan jadi beberapa sebab. Poin terakhir sejatinya mengundang kejanggalan.  
Ben meragukan "destinasi" hidup berkeliling menjual kopi, menyebut keduanya perlu meninggalkan zona nyaman. Artinya, semua masalah dipicu pencarian jawaban karakternya atas tujuan. Namun filmnya lalai menawarkan jawaban kecuali "menemukan dirinya", serupa film pertama, mengesankan stagnansi yang sebaiknya tak dimiliki sekuel selaku proses berkelanjutan. Takkan jadi persoalan bila filmnya tegas memposisikan diri sebagai kisah "kepulangan" yang sejatinya turut membentuk resolusi di akhir, sayangnya banyak hal-hal lain ikut campur aduk. Sedangkan ketika Jody berkata bahwa bisnisnya tidak berjalan, kita tak melihat kesulitan finansial dalam Filosofi Kopi. Ditunjang alasan dipaksakan itu, filmnya membawa Ben dan Jody berusaha membuka kembali kedai filosofi kopi, kali ini dibantu investasi dari Tarra (Luna Maya), juga barista baru bernama Brie (Nadine Alexandra). Benturan dua pribadi berbeda (Ben si idealis total dan Jody si pebisnis tulen) jadi ujian seiring masalah pribadi yang turut menghampiri.

Melalui film kedua, Filosofi Kopi tak lagi banyak berfilosofi soal hidup dengan kopi. Tentu kalimat quotable bermakna macam "Setiap hal yang punya rasa selalu punya nyawa" tetap menghiasi, namun serupa judul awalnya yakni Ben & Jody ("Filosofi Kopi" ditambahkan sebagai penegas brand), bromance dua tokoh utama makin dikedepankan. Dinamika persahabatan Ben dan Jody masih digambarkan lewat saling ejek dibarengi rentetan kalimat seenaknya yang mengalir bebas dari mulut mereka. Rio Dewanto dan Chicco Jerikho tampil bersenjatakan chemistry meyakinkan. Chicco membuat keras kepalanya Ben tak menyebalkan berkat gaya asyik, sementara Rio menjaga supaya Jody tidak ditenggelamkan tingkah polah sang sahabat. Di samping keduanya, ada Luna Maya yang solid kala melakoni porsi emosional, juga Nadine Alexandra dengan kekokohan tersembunyi di balik diamnya Brie. 
Persahabatan sejati dibangun oleh pertengkaran yang menyatukan. Naskahnya disusun berdasarkan prinsip itu, tetapi sewaktu film pertama (memenangkan Piala Citra) punya aliran konflik mulus, Ben & Jody menjadikannya obligasi, melemparkan benturan beruntun yang daripada menyatu, baga keping-keping terpisah yang berlebih kuantitasnya. Terlampau seringnya perpindahan lokasi di mana acap kali satu tempat hadir sambil lalu dengan cepat makin menyulitkan pergerakan alur rapi. Pun naskahnya memiliki kesalahan mendasar berbentuk sebuah kebetulan sebagai kejutan sekaligus titik balik perjalanan karakternya. Sebab kebetulan adalah cara paling tak elegan (kalau enggan disebut malas) guna menggerakkan cerita, terlebih jika merupakan fase vital pengembangan karakter. 

Andai bukan karena pengadeganan Angga, sulit menerima kelemahan tuturan drama di atas. Sang sutradara diberkahi sensitivitas merangkai momen dramatis, yang daripada mengandalkan metode manipulatif berupa tangisan meraung ditemani musik bergelora, Angga justru "membisukan" suasana. Keheningan menyengat ini memunculkan nuansa intim yang menggandakan dampak emosi. Bagaimana para tokoh diposisikan sebagai manusia yang sedang "merasakan" ketimbang mesin pengundang haru penonton termasuk salah satu kunci. Angga paham betul seperti apa kehilangan atau sakit hati, sehingga visualisasi momen punya ketepatan di tatanan rasa. Ditemani deretan lagu musisi indie penyegar telinga, Filosofi Kopi 2: Ben & Jody tetap perjalanan menyenangkan penuh hati, walau kini, kopi itu tak senikmat dulu. 

27 komentar :

Comment Page:
Ikhwan Al Hanif mengatakan...

Masih bagusan yg pertama ya bang? Apakah film kedua ni masih panya daya spirit sprti sbelumnya? karena selain kuat secara emosional, film pertama sya rasa pnya daya spirit inspiratif layaknya The Billionare..

Rasyidharry mengatakan...

Yap, bagus yang pertama. Spirit masih sama, tapi perjalanan sampai ke spirit itu yang kurang mulus

Pramudya Jayawiguna mengatakan...

Kirain saya tuh investor di filkop 1 itu Tarra (yang akhirnya diungkap di filkop 2). Soalnya setau saya di filkop 1 itu gak diketahuin siapa investornya ya, Bang ? Atau ada yang luput dari pengamatan saya ?

Rasyidharry mengatakan...

Tarra karakter baru kok. Dia dan Brie hasil sayembara ide cerita "Ben & Jody" beberapa waktu lalu

Pramudya Jayawiguna mengatakan...

Oalah, maklum Bang, soalnya saya gak ngikutin ceritanya dari buku itu. Btw tapi tetep gak diketahuin ya Bang investor di filkop 1 ?

Moexavier Ganep mengatakan...

Setuju banget bang sama reviewnya :)
Filosofi Kopi yang udah nggak filosofis lagi, nggak ada lagi kritik sosial yang jadi salah satu poin penting di Filkop-1.
Full Drama, yah, emang jagonya sutradara ini sih.

Afif Abid mengatakan...

kayaknya si baim wong itu bro,cmiiw

Rasyidharry mengatakan...

Oh maksudnya yang nantang buat kopi sempurna itu? Ya, Baim Wong itu

Rasyidharry mengatakan...

Betul, Angga salah satu storyteller terbaik kita, yang bisa kasih dampak emosi tinggi tapi tetep elegan :)

Pramudya Jayawiguna mengatakan...

Nah iya Baim Wong. Btw ralat maksud saya bukan investor, tapi ya itu si "penantang". Saya sempet ngeh juga sih kalo itu dia. Tapi bentar banget ya scene-nya. Dan cuman cameo doang kayaknya.

Pramudya Jayawiguna mengatakan...

Btw apa Luna Maya yang penuh ambisi sama Nadine Alexandra yang pendiam tapi berbakat sukses menggantikan Julie Estelle yang "cerewet" dalam menghidupkan filkop, Bang ?

Rasyidharry mengatakan...

Dasarnya Julie memang aktris yang lebih baik sih. Tapi Lunmay & Nadine tetep oke, dengan masing-masing karakter yang beda

Pramudya Jayawiguna mengatakan...

Ada penambahan peran utama wanita mungkin biar klop karena ada dua peran utama kali ya, Bang ?

SPOILER ALERT !!!





Bang saya mau nanya dong. Tau darimana ya Ben kalau ayahnya Tarra itu pengusaha kelapa sawit yang udah ngancurin kebun kopi milik ayah Ben ? Dan gimana reaksi Ben pas tau itu semua ? Soalnya pas scene itu kayaknya saya ketiduran gitu, maklum kebawa suasana selow melow setelah scene ayahnya Ben meninggal. Tau-tau pas saya ngeh, udah di scene Jody sama Tarra yang lagi cerita tentang perselisihan antara ayahnya Tarra sama ayahnya Ben.

Amatir dalam Hidup mengatakan...

Aku baru merasakan sedikit keanehan dari kebetulan itu setelah baca reviewmu ini lho. Pas nonton gak merasa itu mengganggu masa.. dan untungnya gak sekebetulan bangetnya SKUT sih. Hehe

Kalau buatku, aku lebih suka (sedikit) sama yang kedua, suka banget sama lagu2nya dan keempat cast utamanya x))
Tapi iya, kenikmatan kopinya lebih di yang pertama :")

Rasyidharry mengatakan...

Hahaha lama juga itu tidurnya
(SPOILER)

Ayahnya Tarra ngirim karangan bunga ucapan selamat Filkop Jogja buka, nah Ben ngebaca namanya, yang sama dengan nama pengusaha kelapa sawit yang juga kirim bunga ucapan bela sungkawa.

Rasyidharry mengatakan...

Tetep aja, one in a million banget. Dan dari kacamata penulisan naskah juga bentuk menggampangkan urusan ngasih konflik.

Ya, directing, akting, musik, teknis, dll, semua lebih bagus kok. Naskahnya yang jauh lebih lemah, which is fatal, lha dasarnya di situ :)

Pramudya Jayawiguna mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Pramudya Jayawiguna mengatakan...

(STILL) SPOILER ALLERT!!!






Hahaha, terlalu terhanyut dalam suasana, Bang.

Oh waktu ada orang yang ngirim karangan bunga terus diancurin sama Ben itu ternyata dari ayahnya Tarra ya, Bang ?

Makasih Bang udah ngebuat saya bisa tidur nyenyak jadinya, hahaha.

Rasyidharry mengatakan...

Yap, betul sekali :)

hilpans mengatakan...

Horay..bakalan sering liat luna maya nih di tahun ini setelah film.mantan sebelum lebaran kmaren..trus filkop 2 dan ad the doll juga di bulan ini juga ya bung... Oh uy bung review film bukan cinta malaikat dunk..yg fahcri albar sma cats malaysia itu...mu nonton tpi mo liat reviwe ny dulu hehe

Rasyidharry mengatakan...

Wah sayangnya masih di kampung dan Bukan Cinta Malaikat nggak tayang di sini

Banumustafa24 mengatakan...

Memang benar, bang. Disini malah lebih banyak dramanya, kalau yang pertama itu simple tapi sangat menyentuh banget kisahnya. Bagi saya tujuan mereka dari awal film dan akhirnya begitu jadi rada kecewa juga sih, jadi kurang tepat aja dinamakan Filosofi Kopi, melainkan ini kaya pembuatan ulang filosofi kopi pertama namun dengan lebih banyak drama

Rasyidharry mengatakan...

Bisa dimaklumi kok adanya "Filosofi Kopi" di judul, niat Angga dan Visinema memang mau bikin brand. Murni alasan marketing. Tanpa itu orang awam potensi nggak ngeh ini film apa :)

Kasamago mengatakan...

Hal yang paling berkesan dari Filosofi Kopi adalah Quotes dan chemistri ben jody nya..

"Persahabatan sejati dibangun oleh pertengkaran yang menyatukan" Joss

Rasyidharry mengatakan...

Betul! Sahabat gitu mau bilang babi, cibai, enak-enak aja :D

Pasca H. Winanda mengatakan...

scoring nya rada lemah sih menurut gw, beberapa momen dpt lebih maksimal tanpa ada lagu indie pengiringnya. Terlalu memaksakan sih angga yg ingin bikin film dengan agak musikal,seperti yg ia utarain, karena jadinya lagu2 itu gak mulus dlm scene nya. Sisanya gw sepakat, naskahnya ga mulus

ridwan messi mengatakan...


hammer of thor
thor hammer
semenax