BLADE RUNNER 2049 (2017)

26 komentar
Sekuel dirilis puluhan tahun pasca film asli bukan hal asing. Beberapa demi nostalgia, beberapa semata usaha putus asa mengais sisa kejayaan untuk pundi-pundi uang, beberapa memang sebuah lanjutan perjalanan yang perlu. Blade Runner 2049 selaku sekuel Blade Runner (1982) yang merupakan adaptasi novel Do Androids Dream of Electric Sheep? buatan Philip K. Dick sejatinya tanpa urgensi. Tapi melanjutkan rentetan kemenangannya, Denis Villeneuve mampu melahirkan sekuel yang melampaui pendahulunya, setidaknya di mata minoritas macam saya yang kurang mengagumi karya Ridley Scott tersebut.

Blade Runner versi original kental eksplorasi filosofis tentang eksistensi dan kemanusiaan tapi kurang perihal balutan misteri guna menemani tuturan neo-noir tempo lambatnya. Masih ditulis oleh Hampton Francher yang kini berduet bersama Michael Green menggantikan David Peoples, Blade Runner 2049 tetap mempertanyakan humanisme yang tersimpan di balik investigasi K (Ryan Gosling), anggota Blade Runner yang bertugas "memensiunkan" replicants. K sendiri juga seorang replicants. Karena menghindari spoiler, saya tidak bisa menjabarkan lengkap, tapi intinya penyelidikan K mengarah akan rahasia replicants yang dapat mengubah dunia, khususnya hubungan mereka dengan manusia.
Berlangsung selama 163 menit, naskahnya rutin menyuguhkan misteri berdaya tarik tinggi untuk penonton gali. Kuatnya pengaruh noir yang identik dengan alur rumit di mana penyelidikan bakal bercabang dan fakta disebar dalam bentuk kepingan-kepingan kecil pula urung diungkap secara gamblang memaksa penonton berkonsentrasi penuh. Di sinilah gaya Villenueve berperan penting. Serupa Arrival, tempo lambat dipakai supaya tiap momen dan potongan puzzle tertancap di benak penonton, memberi kita waktu mengolah seluruh informasi. Walau di beberapa kesempatan, kelambatan itu berlebihan, menjadikan aktivitas sederhana para tokoh bak berlangsung tanpa ujung.

Pemangkasan durasi sekitar 10-15 menit akan membantu mempertahankan konsistensi intensitas. Setidaknya sinematografi luar biasa Roger Deakins setia menemani. Ditemani tata artistik yang meyakinkan melebur pemandangan tandus wasteland dengan nuansa "low life, high tech" ala cyberpunk, gambar olahan Deakins adalah masterpiece soal pilihan warna dan permainan cahaya. Ketika kisahnya menyoroti jurang pemisah manusia dan replicants, Deakins juga menghadirkan kontradiksi antara reruntuhan peradaban maju seperti di Las Vegas, tempat Rick Deckard (Harrison Ford) bersembunyi yang kental warna Jingga dengan atmosfer futuristik di markas Niander Wallace (Jared Leto) sang produsen replicants
Perpaduan juara sinematografi plus tata artistik tersebut membantu Villeneuve mewujudkan visinya mengemas adegan aksi yang memberi peran penting pada lingkungan sekitar. Aksi milik Blade Runner 2049 cenderung artistik ketimbang bombastis, kondisi sekeliling mempengaruhi rintangan karakter (ombak di klimaks) atau mempengaruhi mood macam hologram Elvis dan Marilyn Monroe yang mengiringi baku hantam K dan Deckard. Momen kedua jadi contoh eksperimen cerdik untuk visual serta suara. Sayangnya departemen musik yang digawangi duo Hans Zimmer-Benjamin Wallfisch tak mampu mengulangi maha karya Vangelis di film pertama walau mempertahankan synth atmosferik sambil diselingi hentakan khas Zimmer. Apalagi dibanding pendahulunya, Blade Runner 2049 menambah kadar bumbu romantika, sehingga scoring jazzy yang intim pun terkadang seksi milik Vangelis jelas lebih cocok.

Gosling sempurna mewakili tema "mempertanyakan kemanusiaan" filmnya lewat penampilan dingin yang turut memancing ambiguitas K dan replicants pada umumnya. Apakah mereka punya jiwa, sekedar benda tanpa nyawa, atau justru lebih manusia dari manusia itu sendiri? Ford membawa Deckard menjadi lebih gritty, selaras dengan setumpuk hal yang menimpanya selama 30 tahun, sementara Leto tampil eksentrik sebagaimana baris-baris kalimat filosofis yang diucapkan Wallace. Namun hati terbesar bersumber dari Ana de Armas sebagai Joi, kekasih hologram K yang meski tanpa tubuh nyata, justru lebih memiliki rasa ketimbang para manusia. Kalimat "like a real girl" yang ia lontarkan adalah hal paling menyentuh sepanjang film. Jadi, apakah yang membuat kita spesial?

26 komentar :

Comment Page:
Anonim mengatakan...

Singkat banget review nya.
Mas, film ini worth it gak di nonton?
Rencana sih mau maraton Pengabdi Setan dan Blade Runner.

ray tamao mengatakan...

Wow roger deakins, adegan panorama bayangan pesawat di film sicario adalah cinematografi paling spektakuler sekaligus paling bangsat mnrut sy hahaha sorry om.. yah sprti biasa villeneuve cerdas, favorite sy ini

Rasyidharry mengatakan...

@Anonim masa sih? Udah 6 paragraf seperti biasa loh. Yang penting jangan berharap sci-fi/action dan siap-siap karena durasinya 163 menit.

@ray tamao Lebih bangsat lagi Oscar, nggak pernah kasih piala ke Deakins haha

Bobby Primadiasnyah mengatakan...

Lebih seru dari yang pertama atau tidak?Saya paham yang pertama memang sangat membosankan gara gara plot gak jelas sama romansa yang dingin tapi sebenernya ceritanya cukup menarik dan baru saya sadari setelah melihat filmnya beberapa kali kemudian.Nah Blade Runner 2049 apakah film yang seperti itu atau mudah dicerna dan mengikuti film zaman sekarang?oh ya menurut bang rasyid kira kira oscar worthy gak ya?

Rasyidharry mengatakan...

@Bobby Primadiasnyah Dibanding film pertama, 2049 ini lebih "berat", karena durasi lebih panjang, lebih pelan, lebih sunyi. Ceritanya lebih menarik, karena bumbu misterinya, satu poin yang kurang di film asli. Layak. Kalau ada big budget movie yang berpeluang dapat nominasi Best Picture, ya antara Blade Runner 2049, Dunkirk, atau Wonder Woman.

Fauzi Rakhman mengatakan...

widih manatap reviewnya, kemaren nonton cuma sendirian di bioskop sepi bgt.. kerasa banget sound synth nya, gw suka... emang ni film durasinya kepanjangan, sama sih kayak karakter pas film pertamanya.. pokoknya nih film art masterpiece.. suka banget setiap detil di film ini, apalagi pas adegan threesome hahahahahaha.. wajib nonton yg suka hal 80s synthwave..

Rasyidharry mengatakan...

@Fauzi Rakhman Thanks! Musik Vangelis di film originalnya lebih gila. Misterius, tapi seksi :D

Zulfikar Knight mengatakan...

Apakah scorenya Vangelis bisa terdengar disini? (Terutama score saat di opening credit sama end creditnya Blade Runner 1982)

benny salim mengatakan...

Biasanya gua kurang suka musiknya hans zimmer karena terdengar terlalu epik, tapi beda dengan film dennis ini wkwkwk.

Dimas Andi Shadewo mengatakan...

Makin ga sabar nonton nih. Kira2 3 film pendek Blade Runner yg di youtube ngaruh sama jalan cerita film versi bioskopnya ga? Belum liat soalnya hehe

Anonim mengatakan...

Mas Rasyid, tolong versi mobile website ini di perbaiki.
Saya sebagai pengunjung setia website ini selalu mengalami kesulitan ketika berpindah ke page selanjutnya/lama.
Saya sudah pencet Next tapi tidak berpindah page, selalu stay di page pertama/home.
Itu aja sih, selebihnya its ok.

Bobby Arbie mengatakan...

SPOILER ALERT ANALYSIS(JANGAN DIBACA SEBELUM NONTON)


menurut saya ini film tentang pencarian jati diri k,awalnya k hanya replicant patuh yang enggak segan segan membunuh sesamanya ,sampai cerita berlanjut bahwa dia mengira dia sang anak spesial,dia merasa lebih manusiawi sampai bohong kepada bosnya,merasa dia punya jiwa,sampai ternyata dia bukanlah sang anak spesial itu kemudian berubah kembali menjadi replicant yang di order untuk membunuh deckard,hingga dia melihat pacar hologramnya dan merasa kalau dia cinta pacar hologramnya yang tidak nyata,kenapa dia gak percaya dia nyata dan menyadari bahwa dia selalu punya jiwa dari awal dan punya kebebasan seperti manusia,dan menggunakan kebebasannya untuk menyelamatkan deckard dan mempertemukannya kembali dengan putrinya,hingga akhirnya k mati dengan damai saat salju turun sama dengan roy yang mati dengan damai saat hujan turun........

Rasyidharry mengatakan...

@Zulfikar Knight Sayangnya nggak, cuma Zimmer berusaha bikin yang rasanya sama

@benny salim Bisa dibantai dia kalau bikin yang "seberisik" biasanya haha

@Dimas Andi Shadewo Bisa cukup membantu, tapi yang wajib cuma film originalnya

@Anonim Sudah diberpaiki ya, sementara pakai mobile view reguler dulu

@Bobby Arbie Yap kurang lebih gitu, soal eksistensi. Bedanya, Denis kali ini kasih penekanan lebih kuat di cinta

mahdy ayyad mengatakan...

waktu nonton banyak yang walkout sebelum selesai ga bang? villeneuve selalu mecah penonton jadi 2 segmen ya bang ada yang satu bener" kagum sama karyanya yang satu lagi tipikal yang ngedumel bilang film nya gajelas, ketipu sama posternya dikiranya action" blockbuster pasaran gitu, anyway best to worst dong untuk filmnya villeneuve :D

mahdy el ayyad mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Rasyidharry mengatakan...

@mahdy ayyad Nggak sih, cuma ya pada muka bantal begitu kelar. Yap, at least di Sicario, Arrival & Blade Runner 2049. Khusus Sicario harus diakui misleading di trailernya emang keterlaluan sih.

Belum nonton filmnya pra Incendies, jadi best to worst gini: Arrival > Incendies > Sicario > Prisoners > Enemy > Blade Runner 2049. Tapi semua bagus, kalau kasih rating selalu 4-4.5 lah :)

Reza Deni Saputra mengatakan...

lu setuju gak bang, taun depan denis baeknya istirahat dulu?.. agak gimana gitu pas selesai nonton ini malah ngebayangin waktu gue kelar nonton arrival taun lalu, dimana gue geleng2 kepala pas keluar bioskop.. ekspektasi gue ketinggian kyknya wkwkwk, tapi tetep worth it lah, gak berasa durasi hampir 3jamnya itu \m/

Rasyidharry mengatakan...

@Reza Deni Saputra Jelas setuju, 5 film dalam 5 tahun itu banyak, dan mostly film-film yang susah. Dia sendiri sudah bilang kok mau istirahat beberapa tahun, at least sampai naskah 'Dune' yang susahnya bukan main itu selesai digarap. Tapi emang banyak proyek dia, dari remake Dune, adaptasi novel The Son, sampai remake Cleopatra.

Zak Bim mengatakan...

Bang coba review film "Better Watch Out" dong!
Udah beredar sih di internet.
Saya udah nonton dan sebagai penonton awam saya nilai 7/10 karena :
1. Trailernya menipu.
Opini kita digiring menganggap ini film sebagai thriller komedi anak-anak yang sedang di teror dan melawan teror.
2. Berbalik 180 derajat
Pertengahan film keadaan kacau dan perasaan kita dibuat "Disturbed".
3. Pengen banting laptop.
Teror-teror cerdas di film ini bikin saya pengen banting laptop dan menghajar tokoh antagonis yang bermain dengan gemilang.
4. Twist Ending
Endingnya bikin saya melongo sekaligus bertepuk tangan.

Steve Haeckal mengatakan...

Lebih banyak drama atau action nya?

Rasyidharry mengatakan...

@Zak Bim Kelihatan menarik sih, soon :)

@Steve Haeckal Lebih banyak drama & investigasi misteri. Action mungkin cuma 20-30%

Lucass mengatakan...

Menurut saya satu lagi mas dari big budget movie, jangan lupakan war for rhe planet of the apes, yg mnurut saya sdikit lebih baik dari wonder woman

Rasyidharry mengatakan...

@Lucass Secara kualitas betul, lebih bagus. Tapi peluang masuk nominasi Best Picture lebih kecil, karena sepertinya (dan seharusnya) kampanye Fox bakal cenderung ke aktor (Serkis). Wonder Woman juga unggul karena unsur feminisme. It's all about campaign :)

Dicky Wahyu Akbar mengatakan...

Bang kalau mau nonton ini harus gak sih nntn yang blade runner 1982 dulu? Ada hubungan gak antar yg 1982 sama ini?

Rasyidharry mengatakan...

@Dicky Wahyu Akbar Ada hubungannya, lebih baik nonton biar nggak tersesat :)

Kasamago mengatakan...

Sebelum berburu menonton versi 2049, saya lebih dulu mengobati rasa penasaran menonton versi originalnya sebagai pondasi..

Keren, originalnya keren. Aura neo noir, musik, setting n story' nya sukses mengingatkan saya dg film anime Akira (1988) dan Ghost on The Shell (1995)

Di jaman segitu dg kualitas penuh totalitas jelas Blade Runner mengukir kesan mendalam bagi penontonnya..
Smg di 2949, misteri Replicants dpt di eksplorasi seluas luasnya