Tampilkan postingan dengan label Laura Theux. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Laura Theux. Tampilkan semua postingan
POHON TERKENAL (2019)
Rasyidharry
Daripada propaganda penuh usaha
mengagungkan Akademi Kepolisian (Akpol) atau iklan layanan masyarakat berkedok
film, saya mengapresiasi usaha Pohon
Terkenal tampil ringan nan menghibur dengan memakai sampul film romansa
anak muda. Walau bagaimana ceritanya bergulir bukanlah sesuatu yang pantas
dibanggakan. Lahir satu lagi film dengan niatan baik namun tersandung penuturan
lemah di mana beberapa konflik selesai secara ajaib, sedangkan lainnya
ditinggalkan begitu saja untuk hilang tanpa bekas.
Judulnya merujuk pada sebutan bagi
biang onar di Akpol. Para biang onar itu adalah tiga sahabat: Johanes (Raim
Laode) si jenaka dari Papua, Ayu (Laura Theux) si anak jenderal yang punya
hubungan renggang dengan sang ayah, dan Bara (Umay Shahab) yang terpaksa masuk
Akpol karena terlanjur bernazar saat berdoa demi kesembuhan ibunya.
Di antara ketiganya, Bara paling
sering membuat masalah, yang bahkan kerap membuat satu angkatan dikenai
tindakan (hukuman). Dia bahkan sempat mencoba kabur di satu titik, sebab
baginya tak ada alasan untuk tetap tinggal menjalani pelatihan keras di sana.
Sampai romansa antara ia dan Ayu mulai bersemi, memberi Bara alasan bertahan di
Akpol. Apakah nantinya Bara menemukan alasan selain cinta? Rupanya tidak.
Saya mengira alasan lain itu bakal
muncul dalam wujud sang ibu, tapi elemen ibu-anak yang dibangun di awal, hilang
sejak pertengahan tanpa memberi emotional
payoff sepantasnya. Hal serupa menimpa konflik antara Ayu dengan salah satu
senior Taruni yang menuduhnya bersikap manja sebagai puteri jenderal.
Pertikaian panas mereka yang bahkan sempat menjurus ke arah benturan fisik
mendadak usai, sama mendadaknya dengan menguapnya cemoohan publik terhadap
protagonis kita pasca mereka melakukan suatu pelanggaran serius.
Bahkan Pohon Terkenal ditutup lewat cara serupa, sehingga bukan mustahil banyak
penonton akan mengira filmnya belum usai. Ketimbang menutup secara pantas,
diselipkanlah voice over merangkup
nasib karakter-karakternya selepas masa pendidikan yang terasa seperti sebuah
langkah malas, kemudian disusul mid-credits
scene dengan eksekusi cringey. Tapi
saya berbohong jika berkata tidak sekalipun merasa terhibur. Beberapa humornya
bekerja cukup baik, khususnya yang melibatkan karakter komikal Johanes.
Sedangkan romansanya diawali kurang
meyakinkan akibat sebuah adegan “ciuman di kening” yang terasa canggung (for the wrong reason), sebab naskah
serta penyutradaraan Monty Tiwa (Critical
Eleven, Lagi-Lagi Ateng) yang berduet bersama mantan asistennya, Annisa
Meutia, menghasilkan proses stimulus-respon yang aneh. Setidaknya performa
Laura dan Umay menjadikan romansanya layak tonton. Laura memancarkan aura gadis
bertekad kuat, sementara Umay cukup piawai bermain rasa.
Satu hal yang melukai akting Umay
adalah tubuhnya. Bukan, ini bukan komentar bernada bodyshaming, melainkan murni logika. Diceritakan, Bara menjalani
empat tahun latihan keras di Akpol, namun tubuh sang aktor tak memperlihatkan
itu. Gesturnya lembek, posturnya jauh dari tegap, dan tubuhnya belum mengering
(berbeda dengan kurus). Dia masih tampak bagai remaja awal yang baru lulus SMA.
Saya tak pernah tertarik pada Akpol
atau instansi serupa lain. Walau Pohon
Terkenal takkan tiba-tiba memancing rasa kagum, saya suka caranya
menggambarkan Akpol sebagai tempat di mana hal-hal keseharian seperti jatuh
cinta dan persahabatan bisa terjadi. Penuh ketegasan, tapi bukan neraka dunia,
sebab perbedaan ras, agama, atau gender tak jadi masalah. Bukannya membusungkan
dada soal kehebatan Akpol, film ini menginformasikan bahwa mereka membuka
tempat membangun masa depan bagi masyarakat dengan finansial lemah. “Daripada
menganggur tanpa arah, lebih baik masuk Akpol”. Biar bagaimanapun, saya
mengamini pernyataan tersebut.
Pohon Terkenal tak lupa menyinggung dualitas peran anggota
kepolisian, yakni sebagai individu dan pelayan negara lewat hubungan Ayu dengan
sang ayah (Cok Simbara), yang meski pendek pula urung menyentuh tingkat emosi
yang diharapkan, cukup selaku penjelas kondisi di atas. Presentasinya pun bukan
melalui teriakan nasionalisme berlebihan, tapi tuturan hangat. Andai saja
naskah hasil tulisan Monty Tiwa, Annisa Meutia, dan Lina Nurmalina (Bukan Bintang Biasa The Movie, Istri Bo’ongan)
mampu tampil solid guna menyokong pesan baik filmnya.
Maret 24, 2019
Annisa Meutia
,
Cok Simbara
,
Drama
,
Indonesian Film
,
Kurang
,
Laura Theux
,
Lina Nurmalina
,
Monty Tiwa
,
Raim Laode
,
REVIEW
,
Romance
,
Umay Shahab
YOWIS BEN 2 (2019)
Rasyidharry
Sebuah band merantau dari kampung
halaman dan/atau mengganti manajer “asli” karena dianggap kurang kompeten
memfasilitasi ambisi mereka melompat lebih jauh adalah perkara umum. Biar
demikian, situasi itu sungguh rumit. Tapi dalam Yowis Ben 2, pesannya sederhana: Tindakan tersebut tidaklah bijak,
karena kita tidak seharusnya meninggalkan keluarga yang tumbuh bersama kita
sedari nol.
Tapi apakah anda mengharapkan
olahan cerita kompleks dari film begini? Rasanya tidak. Serupa keceriaan
lagu-lagu synth-pop berbahasa Jawa
milik Yowis Ben, filmnya pun tercipta demi menyulut keceriaan penonton. Kedalaman
dan kesubtilan mungkin tetap dirindukan, tapi takkan menghancurkan Yowis Ben 2. Sebab memasuki film kedua,
pijakannya makin mantap, sementara humor mengalir nyaman dan penuh percaya
diri.
Alkisah, setelah lulus SMA, para
personil Yowi Ben dihadapkan pada rentetan masalah. Bayu (Bayu Skak)
ditinggalkan kekasihnya, Susan (Cut Meyriska), yang memilih berkuliah di Jerman
bersama Roy (Indra Widjaya). Konflik yang dipresentasikan sambil lalu ini
sejatinya membuat segala perjalanan film pertamanya sedikit sia-sia. Bukan itu
saja, ia mesti membantu sang ibu (Tri Yudiman) melunasi kontrakan rumah.
Lalu ada Yayan (Tutus Thomson),
yang selepas menikahi Mia (Anggika Bolsterli) via taaruf, dituntut menanggung
perekonimian keluarga. Nando (Brandon Salim) masih kesulitan menerima papanya
(Richard Oh) berpacaran lagi, tapi hal ini tak berdampak besar akan keseluruhan
kisah, sedangkan Doni (Joshua Suherman).....well,
he’s just there.
Berangkat dari beberapa kegundahan
itu, Yowis Ben merasa Cak Jon (Arief Didu) tak lagi cocok menjadi manajer,
karena ia berulang kali memberi mereka gig absurd (sunatan massal, lapas, dan
lain-lain) yang gagal menghasilkan bayaran. Secara bersamaan, datanglah Cak Jim
(Timo Scheunemann) dan asistennya, Marion (Laura Theux), menawarikan diri
memanajeri Yows Ben asalkan mereka mau pindah ke Bandung. Cak Jim menjanjikan kehidupan
mewah serta kesuksesan kilat. Yows Ben tergiur.
Sesampainya di Bandung, semangat
keempatnya diuji, pula kebersamaan mereka tatkala idealisme dan tali
kekeluargaan berbenturan dengan kebutuhan material. Kembali, situasi tersebut
lebih kompleks dari sekedar “Jika memilih uang artinya kamu rakus dan tidak
berperasaan”. Tapi memang itulah pesan usungan film ini. Mau tidak mau kita
mesti menerimanya. Setidaknya itu pesan yang baik.
Seperti beberapa komedi yang juga
ditulis Bagus Bramanti belakangan ini (Yowis
Ben, Benyamin Biang Kerok, Love Reborn: Komik, Musik, & Kisah Masa Lalu),
jalinan ceritanya berceceran di segala penjuru bagai tak terstruktur. Kisahnya
penuh sesak—termasuk romansa Bayu dengan Asih (Anya Geraldine) si gadis Bandung—dan
bukan mustahil penonton melupakan intisari kisahnya, sebelum diingatkan lagi
oleh third act yang menyelesaikan
konflik dengan begitu sederhana, cenderung menggampangkan.
Walau menyoroti perjalanan sebuah
band, dan kita masih sering melihat mereka memainkan lagu-lagu yang tak kalah catchy dibanding film pertama, substansi
kisah Yowis Ben 2 adalah bagaimana sebuah
keluarga menghadapi perbedaan di antara mereka. Ujian itu juga saya rasakan
saat mendapati Yayan melakukan taaruf, suatu praktek yang saya kurang
sependapat. Tapi naskah Bagus Bramanti bukan propaganda taaruf (atau hal lain),
melainkan sekadar presentasi realita. Karena itu, saya pun tergerak untuk
menghormati karakter berbeda keyakinan seperti Yayan, membuktikan bahwa filmnya
cukup berhasil menyampaikan pesan.
Pesan baik tersebut (dan elemen
cerita lain) bakal makin berdampak andai penyampaian komedi dan dramanya tidak
terkesan berdiri sendiri-sendiri. Seolah saya bisa mendengar filmnya “ganti
gigi” kala melompat dari komedi menuju drama, dan sebaliknya. Pada mode komedi,
karakternya bersikap sekonyol mungkin, namun begitu menginjakkan kaki di area
drama, karakter yang sama mendadak bisa
bicara luar biasa serius, bahkan melontarkan petuah-petuah bijak yang
bepotensi membuat Yowis Ben 2
terdengar preachy bagi sebagian
penonton.
Beruntung, keceriaan “gojek kere” film ini mampu mengangkangi
kelemahannya. Bukan cuma materi yang makin segar, penyutradaraan Fajar Nugros (Yowis Ben, Moammar Emka’s Jakarta Undercover)
pun makin baik berkat kesediaan memperhatikan timing kala menghantarkan humor. Jajaran cast pun masih bersinar. Arief Didu berkesempatan memamerkan
kapasitas mengolah rasa, Bayu Skak makin nyaman menampilkan talenta komikal
lewat ekspresi dan penyampaian hiperbolis, sedangkan Anggika Bolsterli sekali
lagi membuktikan bahwa ia salah satu aktris paling “gila” saat ini.
Maret 15, 2019
Anggika Bolsterli
,
Arief Didu
,
Bagus Bramanti
,
Bayu Skak
,
Brandon Salim
,
Comedy
,
Cukup
,
Cut Meyriska
,
Fajar Nugros
,
Indonesian Film
,
Joshua Suherman
,
Laura Theux
,
REVIEW
,
Richard Oh
,
Timo Scheunemann
,
Tutus Thomson
SESAT (2018)
Rasyidharry
Dalam Sesat, Sammaria Simanjuntak (Demi
Ucok, Cin(t)a) menuntun kita menyusuri proses karakternya menghadapi duka.
Diperlihatkan seluk beluknya dengan seksama, memastikan kita paham dan
melangkah sesuai jalur, selama kita bersedia menaruh perhatian. Tapi saat tiba
waktunya menangani teror makhluk halus pengabul permintaan, sang penunjuk jalan
justru bak kebingungan sendiri. Keharusan menakut-nakuti, yang nampak bukan salah
satu keahliannya, membuat Sammaria tersesat.
Bicara storytelling alias penceritaan, di antara jajaran horor lokal tahun
ini, Sesat memang yang terbaik. Melalui
naskah hasil karyanya bersama Evanggala Rasuli, Sammaria memaparkan sebuah
keluarga kecil yang tidak sempurna, tapi jelas bahagia. Khususnya ketika
menyoroti hubungan hangat Amara (Laura Theux) dengan ayahnya (Willem Bivers).
Kehangatan singkat yang membuat saya ingin menghabiskan waktu lebih lama berada
di tengah-tengah mereka. Begitu pula dengan Amara yang begitu terpukul setelah
sang ayah meninggal. Sebab dialah pendukung terbesar mimpi Amara sebagai atlet,
juga perekat kala ia dan sang ibu (Vonny Cornelia) kerap berselisih.
Kini bersama ibu dan adiknya, Kasih
(Rebecca Klopper), Amara terpaksa tinggal di Desa Beremanyan, di rumah sang
kakek (Arswendy Bening Swara), si penulis novel yang tampak merahasiakan
sesuatu sebagaimana tatapan tak ramah nan misterius warga setempat. Makan waktu
beberapa lama sampai Sesat memulai
usahanya menggedor jantung penonton, tapi Sammaria tidak meninggalkan kita
dalam kehampaan. Di tengah pergerakan lambat temponya, senantiasa hadir sesuatu
untuk dituturkan, entah pergumulan batin Amara atau mitologi setan Beremanyan
yang dijabarkan selangkah demi selangkah.
Berkat informasi dari seorang teman
sekolah (Endy Arfian), Amara mengetahui kemampuan Beremanyan mengabulkan
permintaan siapa saja yang memanggilnya, meski untuk itu, pengorbanan perlu
dilakukan. Melalui kliping surat kabar yang tertempel di dinding ruang kerja
kakek, kita diberi pemahaman akan riwayat Desa Beremanyan yang dinaungi
keberuntungan. Amara pun yakin legenda tersebut benar adanya, dan tatkala ia
akhirnya nekat melakukan ritual, itu bisa memaklumi, sebab campur aduk
kesedihan akibat kehilangan, kerinduan, juga kesepian memang mampu menyeret
manusia melakukan hal gila.
Saya tidak bisa membahas detail progresnya,
kecuali bahwa Sesat melangkah ke
ranah serupa karya klasik Brian De Palma, yang sekaligus menandai bertambahnya
kecepatan laju film ini, sembari menyelipkan elemen gore yang cukup efektif memancing ngeri. Selain rapi bercerita,
naskahnya menyimpan pengembangan menarik yang mengandung dua kejutan. Pertama perihal
mitologi Beremanyan, yang muncul bukan sekedar atas nama efek kejut, pula masuk
akal sekaligus memperkaya bangunan dunianya. Kedua, sewaktu Sammaria dan
Evanggala memelintir selipan romansanya, yang justru menghadirkan relevansi seputar
remaja. Apabila disimak, intisari keduanya saling bertautan, yakni ego yang meruntuhkan
kepedulian.
Sejak tadi saya membahas elemen
penceritaan, karena Sesat sendiri
seperti memilih berkonsentrasi di sana. Sempat luput mengeksplorasi detail peran
penting suatu benda kesayangan Amara yang berujung menciptakan kebingungan,
pada akhirnya kebingungan penonton belum ada apa-apanya dibandingkan yang
Sammaria rasakan sewaktu menyajikan teror. Selain peristiwa berdarah di sekolah
plus jump scare pertama yang efektif
menggedor jantung berkat ketepatan timing
meski triknya tergolong murahan, praktis Sesat
dipenuhi cara menakut-nakuti medioker.
Sammaria seolah terlalu khawatir
menjadi murahan, kemudian memilih berhemat menampilkan sosok Beremanyan, yang
akhirnya berujung fatal akibat pengadeganan canggung di sana-sini. Daripada
penampakan si peneror, Sammaria lebih banyak menampilkan dampak yang terjadi
pada korban. Tubuh mereka diseret, dilempar, dibanting ke sana kemari, dalam
kemasan tak meyakinkan, yang acap kali didorong sudut kamera serta perpindahan
adegan yang kurang memfasilitasi kengerian. Musik buatan “trio Pengabdi Setan”, Aghi Narottama, Bemby Gusti, dan Tony Merle
sesekali memperdengarkan sentuhan unik namun tak menolong lemahnya departemen
penyutradaraan.
Ketimbang kulminasi teror,
klimaksnya justru menjadi puncak kelemahan filmnya menebar teror. Sebenarnya,
konklusi yang Sesat miliki adalah
titik akhir yang sesuai untuk mengakhiri seluruh proses karakternya, namun
ketiadaan puncak gejolak dalam pertarungan manusia melawan iblis, yang hadir
tak sekuat pertarungan manusia melawan sisi gelapnya sendiri, meninggalkan
ketidakpuasan teramat besar pasca filmnya usai. Sebuah potensi besar yang gagal
terpenuhi, setidaknya Sesat bukan
horor pesakitan, sekaligus memberi karir Laura Theux—yang membuat Amara lebih
berwarna ketimbang banyak protagonis horor lokal—“nyawa baru” pasca Jaran Goyang yang memalukan.
Agustus 24, 2018
Aghi Narottama
,
Arswendy Bening Swara
,
Bemby Gusti
,
Cukup
,
Endy Arfian
,
Evanggala Rasuli
,
horror
,
Indonesian Film
,
Laura Theux
,
Rebecca Klopper
,
REVIEW
,
Sammaria Simanjuntak
,
Tony Merle
,
Vonny Cornelia
JARAN GOYANG (2018)
Rasyidharry
Jaran Goyang dibuka saat seorang wanita berlari
ketakutan dari kejaran kuda berwarna hitam di tengah hutan pada malam hari. Rupanya
itu sekedar mimpi. Mendadak filmnya melompat memperlihatkan penari wanita—juga
di tengah hutan—yang didatangi kuda tersebut. Kalimat dari mulut si penari
memberi informasi bahwa kuda itu adalah perwujudan ilmu pengasih “Jaran Goyang”,
dan si penari pernah memakainya. Belum sempat saya berkenalan lebih jauh,
lompatan kembali terjadi, kali ini menuju cameo
Trio Macan yang menyanyikan lagu Jaran
Goyang bersama satu personel tambahan. Apakah personel itu wanita yang tadi
bermimpi dikejar kuda? Entah. Sulit mencerna sekuen pembuka ini akibat gerakan
liar seperti orang kesurupan. Samar-samar saya pun mendengar teriakan “KOPIIII!”.
Tapi mungkin semua itu disengaja. Mungkin film keempat
sutradara Findo Purwono HW (EL, Menculik
Miyabi) sepanjang 2018 ini memang didesain agar penonton merasakan hal
serupa korban ilmu jaran goyang. Mungkin, Jaran
Goyang memang sengaja membuat otak penonton bergoyang, lalu menjadi gila
sebagaimana korbannya. Mungkin, sekali lagi MUNGKIN, tagline-nya yang terdengar bagai modifikasi dipaksakan dari Jelangkung, yakni “Datang sinting,
pulang tergila-gila” memiliki arti terselubung. Sama seperti kelebihan filmnya
yang luar biasa terselubung, tersimpan rapat, sampai sulit ditemukan.
Korban dari ilmu jaran goyang di sini tak lain Elena (Cut
Meyriska) yang sebelumnya kita saksikan bernyanyi bersama Trio Macan. Elena merupakan pernyanyi ternama, meski setelah
sekuen pembuak tadi, tak sekalipun tampak ia bernyanyi. Sementara sang adik,
Tania (Laura Theux) menjadi manajernya. Belum lama kita berkenalan dengan
mereka, keanehan terjadi. Di tengah perjalanan, keduanya berpapasan dengan
seekor kuda hitam di siang bolong. Kuda itu menghilang seketika, tetapi
tapalnya tertinggal. Tania menyimpan tapal tersebut. “Unik”, begitu katanya.
Orang kaya memang sering bertingkah eksentrik termasuk mengoleksi benda tak
biasa. Di Italia, ada pria kolektor lebih dari 8.650 label botor air minum.
Jadi tapal kuda bisa diterima bukan?
Sedangkan si pemilik ilmu jaran goyang adalah Dirga (Ajun
Perwira), tukang kebun di rumah Elena, yang lagi-lagi tak pernah tampak
mengurus kebun. Dirga jatuh cinta (baca: terobsesi) pada Elena, namun tentu
saja cintanya ditolak. Sakit hati, ia mendatangi tantenya di kampung, Srinthil
(Nova Eliza), yang tak lain merupakan penari di adegan pembuak tadi. Dirga
meminta ilmu jaran goyang, yang akhirnya Srinthil berikan dengan syarat, Dirga
tidak memakainya untuk pelampiasan nafsu. Srinthil ini seperti pengedar narkoba
yang berpesan kepada pembeli agar tidak menyalahgunakan obat-obatan terlarang
itu.
Di film yang lebih baik, kisah di atas berpotensi
menghasilkan observasi mendalam tentang bagaimana hasrat menguasai karakternya,
perlahan menariknya menuju kegelapan. Tapi Jaran
Goyang bukan film demikian. Naskah Wahyu S. Nugroho bagai diangkat dari
kisah majalah Hidayah berjudul “Memakai Ilmu Jaran Goyang, Tubuh Jenazah Hangus
Seperti Arang”. Tapi bisa jadi, awalnya sang penulis naskah berniat menyusun
studi karakter kuat, sebelum produser menyela, “Kenapa you bikin drama?! Crazy!
Stupid! You tambahin horornya!”. Jadilah muncul hantu-hantu acak yang tidak
jelas sebab musabab maupun asal muasalanya, akibat sang penulis tak mampu
membedakan mana “tersirat”, mana “tidak jelas”. Mana “subtil”, mana “nihil”.
Untungnya, naskahnya masih bersedia menyediakan cerita ketimbang gempuran jump scare beberapa menit sekali. Ya,
ini dia nilai positif Jaran Goyang.
Saya bersyukur kuantitas jump
scare-nya dibatasi, sebab saat muncul, kualitasnya pun terbatas. Setiap
hantu meneror, selalu ada hal-hal berwarna hitam. Bayangan hitam, asap hitam,
bulatan hitam, yang bisa jadi adalah siluman tahi lalat raksasa. Selain visual,
aspek audio pun tak kalah terbatas kala suara yang diproduksi kerap
timbul-tenggelam. Tapi saya sadar bahwa Jaran
Goyang bukan menyasar cinephile
atau horror aficionado. Film ini
memang menyasar penonton dari kalangan menengah ke bawah dan pemirsa televisi.
Adegan ketika Dirga memukul kekasih Elena, Robert (Cris de Lima) yang diulang
hingga tiga kali demi efek dramatis hingga twist
bertema “Keluarga yang terpisah” jelas merujuk pada kitab suci sinetron tanah
air. Itulah sebabnya saya menikmati beberapa momen tatkala adegan dramatik
berubah jadi komedi pemicu tawa karena penulisan dialog maupun akting buruk
jajaran pemainnya.
Saya menikmatinya sebagai momen “so-bad-its-good”, yang sayangnya cuma mengisi di sebagian kecil
durasi. Dan ketika secara sengaja film ini berusaha melucu lewat kehadiran
dukun konyol nan bodoh bernama Mbah Rondi (Mudy Tailor), saya hanya sanggup
mengelus dada. Begitu film berakhir, terdengar seorang bocah berteriak, “BERUBAH!
JADI KUDA!!!”. Apa saya bilang. Jaran
Goyang berhasil menggoyang otak serta mengguncang jiwa penontonnya.
Juli 06, 2018
Ajun Perwira
,
Cris de Lima
,
Cut Meyriska
,
Findo Purwono HW
,
horror
,
Indonesian Film
,
Laura Theux
,
Mudy Tailor
,
Nova Eliza
,
REVIEW
,
Sangat Jelek
,
Wahyu S. Nugroho
Langganan:
Postingan
(
Atom
)







