SUI DHAAGA: MADE IN INDIA (2018)

7 komentar
Poin fatal Sui Dhaaga: Made in India—yang jelas bermaksud menjadi tontonan inspiratif—adalah pilihannya untuk terlalu bersandar pada penderitaan serta ketidakberdayaan, dan kurang berhasil menyeimbangkannya dengan penebusan uplifting. Bahkan ketika tiba di momen tersebut, filmnya urung menyentuh emosi maksimal, entah diakibatkan elemen di luar nalar atau tergesa-gesa menjatuhkan karakternya lagi ke dalam jurang kepahitan sebelum mereka (dan penonton) berkesempatan menikmati kebahagiaan barang sejenak.

Bukan berarti menampilkan penderitaan berkepanjangan diharamkan dalam tontonan inspirasional. Apalagi Sui Dhaaga: Made in India mengisahkan pergumulan si miskin memperbaiki hidup dan bagaimana mereka diperalat oleh si kaya yang lebih berpendidikan. Tapi sejak awal, sutradara sekaligus penulis naskah, Sharat Katariya (Dum Laga Ke Haisha), telah menetapkan suatu tone, yang seiring perjalanan, gagal dijaga konsistensinya. Tone yang dibawa oleh kalimat andalan protagonisnya: “It’s all good”.

Mauji (Varun Dhawan) selalu berpikiran positif, tersenyum, berkata “It’s all good”, meski faktanya, tinggal bersama keluarganya dalam kesulitan ekonomi, jarang berinteraksi dengan sang istri, Mamta (Anushka Sharma) akibat rutinitas tak bersahabat, pula diperlakukan (literally) layaknya anjing oleh pemilik toko mesin jahit tempatnya bekerja. Melalui Mauji, Sharat Katariya bagai mengajak penonton menengok penderitaan masyarakat ekonomi kelas bawah, tapi alih-alih perspektif sarat ratapan,  ia memakaikan kita kacamata penuh romantisme, sehingga bisa menertawakan segala pemandangannya.

Mauji kerap terlibat cekcok dengan ayahnya (Raghubir Yadav), yang menganggapnya anak pemalas tidak berguna, namun bukan pertengkaran panas yang nampak, melainkan barter sindiran-sindiran tajam berisi pilihan kata-kata menggelitik. Ayah dan anak ini bak punya stok ejekan tanpa batas untuk satu sama lain. Pun tatkala sang ibu (Yamini Das) jatuh di dapur karena serangan jantung, kecemasan keluarga justru mengundang tawa berkat perilaku jenaka. Pendekatan yang membuktikan kesetiaan filmnya pada semangat “It’s all good” yang ditanam sejak permulaan.

Bahkan musibah sakitnya sang ibu justru secara mengejutkan memunculkan harapan baru bagi Mauji untuk menata ulang kehidupannya. Didorong oleh Mamta, Mauji berhasrat menjadi penjahit meski mendapat tentangan ayahnya, mengingat dahulu, usaha jahit sang kakek bangkrut dan menggiring keluarganya menuju kemiskinan. Ini adalah gesekan dua sudut pandang. Mereka yang jengah diinjak-injak (Mauji dan Mamta) “melawan” mereka yang menerima, merendahkan diri demi bertahan hidup (orang tua Mauji). Kedua sudut pandang dapat dimengerti, walau jelas Sharat berpihak ke mana.

Dia ingin kita mendukung mereka yang berjuang. Dia ingin kita menaruh iba pada kegagalan mereka sembari membenci para penindas. Dia ingin kita terhanyut tatkala protagonisnya terjatuh menuju lubang gelap, lalu mendukung usahanya untuk memanjat ke permukaan. Masalahnya, Sharat mengurung karakternya terlau lama di kegelapan, lalu berulang kali mematahkan pendakiannya tiap kali mereka mulai melihat cahaya. Pendekatan “gali lubang tutup lubang” ini menghalangi progres sehingga terasa melelahkan. Sui Dhaaga: Made in India menghabiskan second act sebagai melodrama, mengenyahkan semangat “It’s all good” yang diusung.

Padahal paruh terbaik film ini selalu berpusat pada momen keceriaan, misalnya lewat sebuah adegan musikal yang efektif memancing senyum berkat koreografi sederhana yang memanfaatkan keselarasan musik dengan goyangan kepala penumpang ketika bus bergetar melewati jalan terjal. Sewaktu kejenakaan keluarga Mauji lenyap ditutupi kegelapan, Anushka Sharma hadir sebagai penyelamat. Dengan senyum lebar yang sanggup menebar aura positif ke seluruh penjuru ruangan, Anushka Sharma bagai tiang penyangga kokoh yang mampu menahan agar penonton tak memalingkan hati dari karakternya, sebagaimana Mamta setia menjaga api semangat suaminya.

Intensitas sempat bangkit memasuki paruh akhir, bersamaan dengan kembalinya harapan sekaligus keceriaan para tokoh. Sampai gebrakan emosi yang dinanti-nanti tak kunjung tiba akibat suatu ketidaklogisan. Mauji memang penjahit berbakat, tetapi tidak berarti ia, dengan keterbatasan referensi serta informasi, bisa menciptakan rancangan baju layaknya desainer ternama. Masalah  bukan terletak pada kualitas, melainkan gaya. Ini pun bagian inkonsistensi. Setelah meluangkan sebagian besar durasi memaparkan realita minim “pemanis” Sharat Katariya justru menutup filmnya dengan nuansa berlawanan.

7 komentar :

Comment Page:
Unknown mengatakan...

Bukankah realita memang seperti itu? Jadi penasaran pengen nonton filmnya :D

Rasyidharry mengatakan...

Ya terserah mau bikin film yang pure kasih lihat kepahitan secara terus-terusan atau yang uplifting, tapi mesti pilih salah satu. Kalau coba campur dua-duanya secara nggak rapi begini jadi kurang jelas tujuannya.

Unknown mengatakan...

mas tolong rekomendasiin film romance bollywood yang enak dong hehe makasih

agoesinema mengatakan...

1. Tamasha
2. Yeh jawaani hai deewani
3. Aidil hai mushkil

Rasyidharry mengatakan...

@Monica beberapa favorit sih:
Dilwale Dulhaniya Le Jayenge
Kuch Kuch Hota Hai
Mohabbatein
Kal Ho Na Ho
Khoobsurat

Unknown mengatakan...

makasih mas rekomennya khobsurat baru selesi nonton. ceritanya emang disney banget yaa tapi tetap menikmati filmnya sih. nah kalo yg lain itu kan film lama aku udah nonton semua, kalo boleh rekomendasiin film romance bollywood yang lain dong mas , thank you ^^

Unknown mengatakan...

Badrinath Ki Dulhania