[BUKAN REVIEW] 'HELLBOY' DAN SALAH KAPRAH SOAL SENSOR

37 komentar
Judul di atas bukan guyonan. Tulisan ini bukan review untuk reboot seri Hellboy, dan saya memang tidak berniat membuat review film tersebut. Sebelum menyentuh alasannya, mungkin beberapa dari anda sudah mendengar perihal kontroversi yang beredar di media sosial pasca special screening filmnya hari Selasa lalu. Konon, Hellboy jadi korban kekejaman gunting sensor, di mana LEBIH DARI 10 MENIT adegannya dipotong. Bahkan ada yang menyebut “SETIDAKNYA 20 MENIT” sembari melaporkan hal ini kepada Lionsgate. Beberapa komentar bernada serupa kemudian menyusul, dan semua menyuarakan satu hal: LSF SUDAH KETERLALUAN!

Citra Lembaga Sensor Film (LSF) memang buruk akibat kebiasaan memotong film seenak jidat. Sehingga amarah warganet gampang tersulut tiap kali ada kabar miring soal penyensoran. Ingat gosip sensor Avengers: Infinity War yang beredar karena perbedaan durasi dengan data IMDb (yang ternyata keliru)? Kasus kali ini mirip. Tapi benarkah realitanya demikian? Tulisan ini dibuat bukan untuk menyerang atau membela pihak mana pun, melainkan usaha meluruskan salah kaprah yang telah lama dianut publik.

Saya akan jelaskan dulu prosedur penyensoran film, tapi hanya secara garis besar (untuk detail langkah-langkahnya silahkan kunjungi lsf.go.id). Pertama, pemilik film (PH untuk film lokal, distributor untuk film luar) mengajukan permohonan sensor disertai penyerahan berkas-berkas.  Selanjutnya, pemilik film menunggu beberapa hari (seingat saya 3-4 hari, sedangkan untuk trailer dan poster bisa 1-2 hari. Tentatif, tergantung kondisi) sampai turun keputusan, apakah film tersebut lulus sensor atau tidak.

Film yang lulus sensor akan mendapat STLS (Surat Tanda Lulus Sensor) yang menyertakan klasifikasi umur (Semua Umur, 13+, 17+, 21+), sebaliknya, film yang tidak lulus sensor diberikan Surat Tanda Tidak Lulus Sensor (STTLS). Di sinilah salah kaprah kerap terjadi. LSF sudah tidak lagi memotong film. Mereka hanya memberi catatan berupa revisi yang mesti dilakukan agar lulus. Berikutnya terserah pemilik film. Mereka bisa langsung mematuhi revisi atau mengajukan “banding”. LSF kini lebih terbuka, bersedia mengadakan dialog bersama empunya film, bahkan bersdia mengoreksi keputusan sensor apabila didukung alasan kuat.

Hal tersebut juga berlaku bagi PH/distributor yang keberatan akan klasifikasi usia yang didapat. Contohnya, Film A mendapat rating 21+, padahal pemilik film menginginkan 17+. Maka diberikanlah arahan, revisi apa yang perlu dilakukan agar rating tersebut bisa didapat. Kesimpulannya, bentuk sensor apa pun, semua dilakukan oleh pemilik film berdasarkan panduan LSF. Istilahnya “sensor mandiri”. Itu sebabnya kita sering mendapati perbedaa gaya sensor. Ada yang menerapkan pemburaman gambar, zoom in, dan yang paling jamak dilakukan, pemotongan.

Bagaimana cara mengetahui film mendapat revisi atau tidak? Anda bisa cek website LSF, tau melihat bumper STLS yang muncul di layar bioskop sebelum film tayang. Jika anda menemukan tulisan “REV”, artinya film itu mendapat revisi. Sebagai contoh, lihat keterangan sensor Deadpool 2 di bawah.



Lalu bagaimana dengan kasus Hellboy? Cukup menarik. Berikut adalah data yang saya dapat dari halaman LSF:


Tidak ada tulisan “REV” di sana, dan filmnya memperoleh rating 21+. Tapi coba bandingkan dengan informasi filmnya di halaman Cinema 21 ini:


Ya, ternyata Hellboy tertulis mendapat rating 17+, dan ketika saya akhirnya menonton, memang itulah rating resminya, lengkap dengan keterangan “REV” di bumper STLS. Apa yang sebenarnya terjadi? Semakin membingungkan karena sampai tulisan ini dimuat, LSF masih mencantumkan Hellboy sebagai film 21+ tanpa revisi. Saya berasumsi, pihak distributor (PT. Prima Cinema Multimedia) mengubah keputusan di saat-saat terakhir. Mungkin mereka merasa rating 21+ berpotensi mencederai potensi komersialitas filmnya, sehingga memutuskan meminta perubahan rating secara dadakan. Apakah melalui konsultasi terlebih dulu dengan LSF mengenai bagian mana yang perlu dipotong tidak bisa saya pastikan.

Tapi saya takkan terkejut jika itu ternyata tidak dilakukan, dan PCM bergerak cepat (baca: terburu-buru) memotong sebagian besar gore. Karena akan memakan waktu lama apabila menunggu peninjauan ulang LSF untuk klasifikasi usia baru. Dengan begini, PCM hanya tinggal mengirimkan versi baru. Metode “asal-potong-yang-penting-banyak” ini menjelaskan inkonsistensi sepanjang film, di mana ada momen brutal justru lolos tatkala adegan lain yang lebih “bersahabat” malah dipangkas. Rasanya penjabaran di atas sudah cukup membantah anggapan bahwa LSF adalah (satu-satunya) pesakitan di kasus ini. Walau harus diakui, jika LSF tidak memiliki pemikiran kolot soal mana yang pantas dan tidak, peristiwa serupa takkan terjadi.

Berikutnya perihal banyaknya pemotongan adegan. Secara resmi, Hellboy punya durasi 121 menit. Saya coba mengukur sendiri. Sampai mid-credits, hasilnya adalah 109 menit. Tapi karena “perintah alam”, terpaksa segera meninggalkan ruangan. Sekarang, mari berhitung. Kredit akhir untuk film blockbuster biasanya cukup panjang karena melibatkan banyak pihak, jadi kita asumsikan saja 5-6 menit. Belum lagi ditambah dua credits-scene yang kabarnya cukup panjang, anggap saja total 3 menit. Berarti, kurang lebih Hellboy punya total durasi 117-118 menit. Perhitungan ini senada dengan data dari Cinema 21 (cek gambar di atas) yang mencantumkan durasi 119 menit (biasanya pembulatan dari 118 menit lebih sekian detik).

Kesimpulannya? Koar-koar soal pemotongan 10-20 menit adalah SALAH BESAR alias HOAX! Mungkin penyebar kabar itu jarang menonton film, sehingga tidak sadar bahwa 10, apalagi 20 menit dalam konteks durasi film itu luar biasa lama. Kalau memakai patokan standar penulisan naskah, itu sama artinya membuang 10-20 halaman. Saya tahu kalian semua kesal dengan sensor. Saya pun demikian. Tapi alangkah bijak untuk mencari informasi dahulu sebelum menyebar kabar burung.

Tapi bagaimana dengan filmnya sendiri? Apakah masih layak disaksikan di bioskop? Walau kenyataannya “hanya” dipotong 2-3 menit, itu sudah termasuk banyak. Karena jumlah itu didapat lewat gabungan banyak momen-momen singkat (5-10 detik). Hampir setiap gore dibuang, padahal saya cukup yakin, 2-3 menit yang hilang itu dapat memberi dorongan kuat bagi keseluruhan kualitas filmnya. Tanpanya, Hellboy tampil lesu. Tapi saya enggan mencap Hellboy buruk, karena tidak adil rasanya menilai film dengan pemotongan sebanyak itu, apalagi yang hilang termasuk salah satu pondasinya.

Sebagai perbandingan, silahkan bayangkan: Anda menonton Iron Man, tapi tanpa mayoritas adegan sang jagoan terbang di angkasa. Apakah kekuatan filmnya melorot drastis? Tentu. Apakah membuatnya tidak layak tonton? Tidak juga. Masih ada kelebihan lain. Tapi maukah anda menonton itu? Silahkan pikirkan baik-baik.   

37 komentar :

Comment Page:
susan mengatakan...

Hidup "lapak" sebelah!! wkwk

Panca mengatakan...

Jadi inget aquaman.. kiss scene aquaman dan mera di cut, tapi kiss scene atlanna dan suaminya ga di cut.. haha

Fajar mengatakan...

Kalo kiss scene arthur-mera itu mungkin karena kostumnya mera yg terlalu sexy, dan cara shoot adegannya yg mengeksploitasi keseksian itu.

Dimas mengatakan...

sy punya pendapat asal-asalan kalau jaringan bioskop asal Korea (jaringan bioskop terbesar kedua di Indonesia) lebih luwes dalam melakukan sensor di banding jaringan bioskop terbesar di Indonesia. pengaruh gak sih kalau sensor juga tergantung dari jaringan bioskopnya?? atau sama saja??

Fajar mengatakan...

Wow keren nih kalo jaringan bioskop lain punya cara sensor beda. Jadi punya alasan buat pindah bioskop nih.

Rasyidharry mengatakan...

Ini karena kebentur maksimal lamanya adegan ciuman buat 13+. Ditambah gaya ciuman yang lebih passionate

Rasyidharry mengatakan...

Betul ini. Tepatnya film-film yang dibawa CBI. Kenapa? Karena saya tahu orangnya emang demen film bahkan sempet jadi filmmaker, makanya tahu editing yang pas. Dia juga nggak suka kalau sensor mengurangi esensi film

Rasyidharry mengatakan...

Distributor yang rada ngawur potongnya biasanya memang PCM, dan film PCM itu eksklusif di xxi (Overlord, Hellboy, dll)

Albert mengatakan...

Durasi itu dihitung sampai akhir film atau sampai kreditnya habis ya bang?

rahmadamazing mengatakan...

Gua nonton di imax ga disensor ah wkwkw

Fajar mengatakan...

Huh...gak ada imax di Jogja.

Kvinstiono mengatakan...

Bang rasyid. Ave maryam direview ndak ? Katanya itu juga kena sensor ? Trus tayangnya kok dikit amat y di indonesia

Unknown mengatakan...

Kalau film POCONG tahun 2006 itu yg kabarnya juga karena LSF kah?

Rasyidharry mengatakan...

Sampai kredit habis, termasuk after-credits scene kalau ada.

Rasyidharry mengatakan...

Udah ditulis kok dari lama. Nonton di JAFF Desember kemaren, cari aja.
Nggak kena sensor, lagi-lagi itu isu yang disebar orang yang kurang rajin cari info. Fakta yang bener, Ave Maryam punya 2 versi. Versi pertama 74 menit (festival), kedua versi 73 menit (wide release). Cek aja di web LSF. Lengkap STLS-nya. Kalau kabar filmnya berdurasi 85 menit, itu karena web JAFF yang jadi bahan rujukan emang ngaco. Sutradaranya sendiri yang bilang

Rasyidharry mengatakan...

Nah kalau ini emang zaman LSF masih gila. Total dilarang tayang karena alasan politis

Rasyidharry mengatakan...

Soal jumlah layar yang dikit ya emang biasa begitu. Namanya film alternatif pasti jatahnya segituan.

barjokondo mengatakan...

ah sampe sekarang masih penasaran itu pocong 2006 kayak gimana filmnya, cuma pernah nonton trailernya doang, dulu pernah mikir itu cuma siasat marketing pocong2 aja, ternyata emang beneran ada filmnya

Fajar mengatakan...

Alasan politis?
Pocongnya ikut pemilu ya?

Anonim mengatakan...

Pertanyaan nya knp kakak tdak berniat Membuat review film ini!

Rasyidharry mengatakan...

Biasa, isu PKI

Rasyidharry mengatakan...

Lha itu udah dijelasin di akhir

Indra mengatakan...

Bang...bisa tolong sampaikan keberatan saya atas sensor yang dilakukan oleh pihak distributor? Saya coba cari alamat emailnya tapi tidak menemukannya (mungkin saya coba telepon besok). Apakah mungkin bagi pihak distributor untuk mengirimkan versi aslinya namun dengan rating 21+ kepada pihak bioskop? Jika tidak, dan mereka masih tetap dengan versi yang ada saat ini, maka saya memilih untuk menunggu versi digitalnya rilis.

Terima kasih

Kvinstiono mengatakan...

Wah iya rupanya ada di review jaff, terlewatkan olehku. Sepertinya film lumayan tp kok durasinya itu loh minimalis sekali ya bang. Di kota saya film ini malah tampil di bioskop lokal, bukan c*v atau cinem***.

Anw,dari yg sy simpulkan dr review bang rasyid,film ini tdk terlalu kuat d naskah,tapi memanjakan mata. Apakah worthed utk harga tiket weekend kah ?

Unknown mengatakan...

Kasihan yg yg buat film-nya. Seperti tidak dihargai.

Rasyidharry mengatakan...

Iya, untung Pocong 2 bisa dibuat dan sukses.

Rasyidharry mengatakan...

Kalau mau rilis 21+ sebenernya bisa, karena STLS udah terbit. Tapi kalau versi 17+ yang banyak potongan aja rame penonton, nggak ada alasan buat mereka (dan bioskop) ngelakuin itu.

Rasyidharry mengatakan...

Ya karena itu tadi, naskah sebenernya kurang dalem, dan lebih cocok jadi short movie 30-40 menit, makanya hasil akhirnya juga cuma 73 menit. Tapi tetep layak tonton. Cara bertutur yang beda. Akting Maudy juga keren bener

Unknown mengatakan...

Iya. Semoga nanti Pocong the origin tidak mengecewakan, coz sutradara nya penulis naskah Pocong 1 dan 2.

Mofan Rizaldi mengatakan...

Emang ada apaan, bang? Rame ya? Maklumlah, CGV ga tayang tuh Hellboy. Cinemax jauuuuuh dari tempat tinggal :D

Menunggu review film Sunyi & Bumi itu Bulat...

Ulik mengatakan...

Cinemaxx atau cgv apakah beda

rahmadamazing mengatakan...

Bang. Kira2 infinity war ada midnight shownya gak di indo tanggal 20?
Kaya shazam! Dia ada midnight show h-4 .

rahmadamazing mengatakan...

*endgame bukan infinity war

Rasyidharry mengatakan...

Kayaknya nggak ada sih. Endgame nggak perlu bangun hype pake acara midnight soalnya. Kecuali bioskop udah kebelet dapet duit ya

Anonim mengatakan...

Baru aja mau nanya soal ave maryam tapi ternyata ada yg udah bahas, sempet kaget gila karna ngeliat durasi yg muncul di imdb jauh banget kirain film ini terlalu vulgar sampe dipotong belasan menit. Ohiya mas kan katanya ada yg pasti scene yg ga lulus sensor itu waktu bagian mana ya? Apakah pas lagi di pantai di jari ultah maryam? Kepo banget nih wkwk

Rasyidharry mengatakan...

Ya bener itu. Adegan Maudy & Chicco lari-larian telanjang di pantai nggak dimasukkin di versi rilis teatrikal. Pasti nggak dilulusin

Anonim mengatakan...

Itu murni adegan seperti itu aja atau ada pesan atau kilasan di dalamnya ya? Soalnya kerasa ganjel aja gitu dicut langsung ke perjalanan pulang mereka dan si maryam tiba2 menampakan ekspresi penuh dosa