THE ODD FAMILY: ZOMBIE ON SALE (2019)

1 komentar
Sejak Train to Busan, tema zombie menemukan popularitas baru di Korea Selatan. Di layar lebar, bermunculan judul-judul seperti Rampant (2018), Alive (2020), dan tentunya sekuel dari film garapan Yeon Sang-ho itu sendiri, Peninsula (2020). Sedangkan di layar kaca, Kingdom tengah menantikan musim ketiganya. Maka tidak mengherankan jika gelombang besar tersebut turut melahirkan film zombie dengan sentuhan komedi. Sambutlah The Odd Family: Zombie On Sale.

Latarnya di sebuah pedesaan, di mana protagonis kita, Joon-gul (Jung Jae-young), mempunyai pom bensin yang didirikan bersama sang ayah, Man-deok (Park In-hwan). Dia memiliki dua adik, Min-gul (Kim Nam-gil) yang baru pulang setelah dipecat dari pekerjannya, dan Hae-gul (Lee Soo-kyung), si gadis pendiam yang gemar membunuh kelinci. Kehamilan istrinya, Nam-joo (Uhm Ji-won), ditambah bisnis pom bensin yang gagal, “memaksa” Joon-gul menjalankan jasa derek dan bengkel, sembari menebar paku di jalan agar memperoleh konsumen.

Suatu hari datanglah sesosok zombie (Jung Ga-ram). Anda keliru kalau berpikir ia bakal menebar teror. Dari dikejar anjing, ditendang selangkangannya, hingga ditabrak truk derek, mungkin inilah zombie paling tidak mengancam sekaligus paling malang. Dia sempat menggigit Man-deok, sebelum akhirnya singgah di rumahnya. Berkat browsing plus menonton klip Train to Busan, Man-deok sekeluarga menyadari bahwa pemuda aneh ini adalah zombie.

Tapi ada yang beda dari si zombie. Alih-alih daging atau otak manusia, dia lebih menyukai kubis yang diolesi saus. Pun bukannya berubah jadi zombie, setelah digigit Man-deok malah bertambah muda. Kerutnya lenyap, rambutnya menghitam, dan penisnya bisa ereksi, sehingga menciptakan kehebohan bagi kalangan lansia di penjuru desa. Semua ingin bernasib sama. Ketika mayoritas manusia di film zombie berusaha kabur, orang-orang di film ini malah berbondong-bondong meminta digigit zombie (setidaknya sebelum memasuki third act).

Lalu tercetus ide “brilian” untuk membisniskan gigitan zombie, yang oleh Hae-gul diberi nama Jjong-bi. Lee Min-jae selaku sutradara sekaligus penulis naskah memang gemar bermain pelesetan soal nama karakter. Min-gul memanggil Hae-gul dengan “Hey Girl”, sedangkan kelinci-kelinci si gadis remaja punya nama-nama seperti Ho-dong dan Soo-geun (dua komedian ternama Korea Selatan).

Tidak semua humornya mendarat tepat sasaran, namun saat berhasil, kita akan menyaksikan kreatvitias Min-jae perihal mengocok perut penonton. Misalnya saat sang sutradara mengubah serbuan pasukan zombie jadi bak pesta di kelab malam, lengkap dengan seorang DJ. Kreativitas dalam bersenang-senang itulah yang berfungsi sebagai penyegar, tatkala premis soal zombie sebagai peliharaan (kemudian keluarga) bukan lagi suatu modifikasi baru. Kita sudah pernah mendapatkan Fido (2006). Begitu pula unsur romansa antar-spesies yang mulai dibangun sewaktu Hae-gul dan Jjong-bi berkejar-kejaran di ladang kubis diiringi lagu Rebirth milik Yoon Jong-shin, sebuah pilihan yang juga merupakan humor tersendiri.

Sedikit disayangkan, babak ketiganya, yang menyelipkan referensi-referensi untuk seri film The Dead kepunyaan George A. Romero, tak mencapai puncak keseruan, salah satunya akibat rendahnya kuantitas gore, yang mana substansial dalam film zombie. Setidaknya, The Odd Family: Zombie On Sale mampu memanfaatkan keklisean konsep “memanusiakan zombie” sebagai senjata guna menambahkan hati pada kisahnya, pula menghibur lewat jajaran humornya.


Available on VIU

1 komentar :

Comment Page:
Erlanggahari88@gmail.com mengatakan...

Zombie yang tidak menebar teror, seperti Swiss army man