REVIEW - SIAPA DIA
Keroncong, dangdut, campursari di musik, kecak, jaipong, cakalele di tari. Daftar itu akan begitu panjang bila disebutkan seluruhnya, tapi pada intinya, Indonesia amat kaya akan kesenian, sehingga klaim "Negeri ini adalah negeri nyanyian dan tarian" yang karakter film ini sebut tidaklah berlebihan. Melalui Siapa Dia, Garin Nugroho coba menciptakan kapsul waktu berisi kekayaan tersebut, yang beriringan dengan perjalanan sejarah bangsa. Hasilnya mengingatkan saya pada judul Bahasa Inggris dari salah satu karya sang sineas: Chaotic love poems.
Begitulah Siapa Dia, yang dipaparkan dalam tiga babak (plus prolog dan epilog) penuh lompatan narasi liar bak puisi cinta yang kacau. Layar (Nicholas Saputra) mengisi sentral penceritaan. Seorang bintang film yang ingin membuat film musikal karena lelah dengan popularitasnya, namun bingung mesti membicarakan apa. Dibantu dua asistennya, Denok (Widi Mulia) dan Rintik (Amanda Rawles), Layar pun menelusuri kisah-kisah leluhurnya yang tersimpan rapat dalam sebuah koper sebagai inspirasi.
Dari situlah keliarannya bermula, seiring penonton diajak bolak-balik menaiki mesin waktu, mengunjungi ayah, kakek, hingga buyut Layar (semua diperankan Nicholas Saputra), yang riwayatnya berkelindan dengan sejarah bangsa, termasuk perkembangan seninya.
Buyut Layar menggemari komedi stambul semasa penjajahan, kakek Layar menghadapi perkembangan kesenian di tengah pergolakan tahun 1965, sedangkan si ayah mengakrabi budaya perlawanan yang tumbuh di tengah era sensor orde baru. Alurnya maju-mundur begitu liar, sampai tak sempat menciptakan koneksi rasa antara penonton dengan barisan karakter di atas. Jangan mengharapkan dampak emosional biarpun mereka punya kesamaan: disambangi tragedi percintaan.
Garin menarik benang merah antara sejarah bangsa, seni termasuk sinema, juga romansa, di mana semua melibatkan proses menemukan serta kehilangan. Kakek buyut Layar misal, yang sebelum mengucap janji setia bersama Juwita (Happy Salma), pernah jatuh hati pada diva komedi stambul bernama Nurlela (Monita Tahalea), yang direnggut nyawanya oleh tuduhan mengkhianati negara.
Puitis, tragis, namun gaya bertutur Siapa Dia menyulitkan terciptanya simpati, biarpun penampilan mayoritas pemainnya cenderung memuaskan, dari Nicholas Saputra yang senantiasa solid, maupun nama-nama seperti Morgan Oey dengan kelihaian menarinya, serta Dira Sugandi lewat suara powerful miliknya, yang mencuri perhatian meski dalam porsi kemunculan terbatas.
Petualangan menembus waktu yang dinahkodai Garin bakal memuaskan bagi mereka yang menaruh antusiasme terhadap sejarah, maupun pecinta seni. Sayangnya, besar kemungkinan kalangan awam yang mengharapkan edukasi justru bakal teralienasi. Tanpa pemahaman memadai, sukar menemukan pesona dari kapsul waktu yang Garin tawarkan.
Lain cerita bila membicarakan para penyuka sinema yang dahaganya akan dipuaskan oleh rangkaian easter eggs seputar perkembangan industri. Berawal dari Loetoeng Kasaroeng (1926) selaku film pertama yang diproduksi di Indonesia, beralih ke judul-judul klasik macam Badai Pasti berlalu (1977) dan Titian Serambut Dibelah Tujuh (1982), hingga judul-judul kekinian, semua dimunculkan.
Menarik pula menilik keputusan film ini menyandingkan poster KKN di Desa Penari (2022) dengan Yuni (2021), mahakarya ciptaan putrinya sendiri, Kamila Andini. Garin memposisikan diri bukan sebagai penakar nilai, melainkan perekam jejak yang berlaku objektif.
Gelaran musikalnya, yang diiringi deretan lagu legendaris (Nurlela, Payung Fantasi, Badai Pasti Berlalu, Anak Jalanan, dll.) yang efektif memancing dorongan ikut berdendang, digarap dengan apik. Biarpun ketimbang musikal layar perak era kini, pendekatan Garin lebih dekat ke arah musikal panggung.
Segala sisi Siapa Dia memang dipenuhi mannerism ala teater. Entah gaya berlakon jajaran pemainnya (cara melafalkan dialog, bergestur, atau menari), mise-en-scène tiap adegan yang mengingatkan ke tata panggung, kecenderungan karakternya berbicara ke layar bak aktor teater yang bertutur ke arah penonton, semua terkesan "stagey". Tentunya dalam konotasi positif, sebab inilah cara Garin mengingatkan bahwa pertunjukan panggung berperan besar dalam tumbuh kembang sinema tanah air.
REVIEW - PANJI TENGKORAK
Selepas Jumbo membuktikan kalau animasi punya tempat di hati masyarakat Indonesia dengan memecahkan rekor jumlah penonton, juga terkait kualitas para pelaku industrinya yang pantang dianggap remeh, maka Panji Tengkorak terasa seperti langkah lanjutan yang logis. Daryl Wilson dan tim mengajarkan bahwa animasi bukanlah medium yang hanya diperuntukkan bagi konsumen anak.
Tengok saja penokohan si Panji Tengkorak (Denny Sumargo). Dia adalah antihero yang bersedia mengorbankan keselamatan warga sipil asalkan misinya tercapai. Tentu seiring durasi ia bakal berproses ke arah lebih baik, namun di awal perkenalannya, nurani merupakan omong kosong di mata Panji.
Si protagonis bertransformasi menjadi pendekar ilmu hitam yang tak bisa mati pasca istrinya, Murni (Aisha Nurra Datau), tewas di tangan perompak. Dikuasai api dendam, Panji pun menggali makam Murni, lalu memakai tengkorak mendiang sang istri sebagai topeng. Panji ingin Murni bisa melihat apa yang ia lihat, seolah berharap dapat memberinya kehidupan kedua. Panji memang gila, tapi ia juga memiliki sisi puitis.
Fokus alurnya terletak pada perjalanan Panji bersama Bramantya (Donny Damara), Gantari (Aghniny Haque), dan Kuwuk (Candra Mukti), yang bertujuan merebut kembali sebuah pusaka keramat dari tangan penjahat keji bernama Kalawereng (Tanta Ginting). Ceritanya cenderung tipis. Sebatas mengajak kita melihat si jagoan berkeliaran di hutan, sambil sesekali menumpas para penjahat yang menghalangi jalan.
Setidaknya alur tipis tersebut menyimpan subteks penting seputar ambiguitas moral, bahwasanya, dunia tidak bisa dilihat sebagai perwujudan warna hitam dan putih. Di pertarungan puncak, Panji mengeluarkan aura hitam dari tubuhnya, sedangkan si antagonis memancarkan warna putih.
Tentu perspektif serta simbolisme kompleks di atas belum sepenuhnya bisa dimengerti oleh penonton anak. Belum lagi bila membicarakan gelaran aksinya, yang bukan sekadar mencipratkan darah, pula tak segan menyajikan anggota tubuh yang terpotong. Kebrutalan filmnya turut dibarengi kreativitas. Salah satunya nampak dari kekuatan unik Panji, yang ludahnya mengandung racun hingga sanggup melelehkan tubuh lawan layaknya Xenomorph dari film Alien.
Animasinya memang belum sempurna, terutama soal gerakan karakter yang cenderung patah-patah dan jauh dari kata "mulus". Tapi tengok bagaimana keterbatasan ini berhasil ditutupi oleh daya kreasi tinggi jajaran animator yang melahirkan banyak desain unik nan keren bagi tokoh-tokohnya.
Satu aspek yang juga patut mendapat apresiasi adalah lagu Bunga Terakhir yang dibawakan oleh Isyana Sarasvati dan Iwan Fals. Biarpun pemakaiannya agak berlebihan karena diputar sampai enam kali (termasuk saat menutupi obrolan penting beberapa karakternya), ia tetaplah nomor soulful yang sempurna mewakili gejolak perasaan si pendekar.
Panji Tengkorak memang pencapaian audiovisual. Klimaksnya yang dihiasi gelaran visual mencolok, pengarahan aksi apik dari Daryl Wilson, juga alunan musik yang meminjam nuansa gamelan, jadi puncak performa seluruh departemen, yang bagi saya tidak berlebihan bila disebut "membanggakan".
REVIEW - RELAY
Relay tidak bergantung pada kecanggihan absurd seperti teknologi pengenalan wajah yang bisa mendeteksi gambar dengan resolusi luar biasa rendah, atau aksi peretasan sarat kemustahilan. Sebaliknya, dia memanfaatkan peralatan analog, layanan konvensional, serta celah dalam sistem untuk menggambarkan kepintaran si protagonis.
Ash (Riz Ahmed) punya pekerjaan unik sebagai penengah netral dalam mediasi antara perusahaan korup dan whistleblower yang memegang rahasia kejahatan mereka. Tidak seorang pun mengetahui identitasnya, sebab seluruh kontak dilakukan via layanan relai, di mana Ash mengetik pesannya memakai alat telekomunikasi untuk orang tuli. Mustahil membongkar aksi laki-laki jenius super teliti ini, kecuali dengan memaksanya melakukan kesalahan.
Klien terbarunya bernama Sarah (Lily James), yang awalnya berniat membocorkan praktik ilegal perusahaannya, namun memilih berdamai pasca menerima intimidasi dari Dawson (Sam Worthington) beserta anak buahnya. Naskah buatan Justin Piasecki memilih berfokus pada rangkaian prosedur yang Sarah jalani atas instruksi Ash, termasuk beberapa taktik cerdik guna mengecoh Dawson, ketimbang cheap thrills atau aksi medioker.
Ash memutar otak, menerapkan kecohan psikologis, didukung pemahaman mendalamnya atas detail berbagai layanan sederhana yang bisa diakses siapa saja. Lihat caranya mengeksploitasi sistem layanan pengiriman barang kantor pos. Di kursi sutradara, David Mackenzie tahu cara mengeskalasi ketegangan secara bertahap nan mulus dalam masing-masing set piece.
Intensitas sedikit mengendur kala Ash dan Sarah sejenak memasuki "fase rehat" untuk menantikan dampak strategi mereka. Alurnya mengalami stagnasi, biarpun ada upaya dari naskahnya menggeser fokus ke elemen dramatik mengenai dinamika sepasang manusia kesepian yang saling menemukan. Riz Ahmed tampil meyakinkan sebagai individu berotak brilian dengan masalah psikis, demikian pula Lily James kala mengeksplorasi kecemasan karakternya menghadapi kesendirian.
Perlahan kita diajak mengenali latar belakang Ash. Memahami alasannya menekuni profesi unik seperti sekarang, pula motivasinya saat kelak memutuskan tak lagi bersikap netral dan berdiam diri di hadapan ketidakadilan para pemegang kuasa. Presentasinya belum mampu memproduksi dampak emosional, namun cukup efektif memanusiakan Ash, yang di awal terkesan kurang manusiawi karena kecerdikannya.
Sayangnya selepas deretan kecerdikan yang filmnya tawarkan, seolah diharuskan memenuhi obligasi, Relay beralih ke format lebih generik di babak ketiganya lewat parade baku tembak dan kejar-kejaran. Belum lagi eksistensi twist-nya, yang meski berjasa menjelaskan beberapa keputusan bodoh karakternya, juga keintiman instan antara Ash dan Sarah yang dipaksakan hadir, lebih terkesan bermain curang ketimbang pintar. Yah, mungkin Relay tidak sepintar protagonisnya.
REVIEW - HANYA NAMAMU DALAM DOAKU
Karya penyutradaraan teranyar Reka Wijaya (Bolehkah Sekali Saja Kumenangis) ini berpusat pada suami sekaligus ayah dengan segala ketidakmampuannya berpikir jernih, yang berujung pada serangkaian kesalahan. Protagonisnya mungkin kurang simpatik, tapi membuat film mengenai orang bodoh bukanlah kesalahan. Hanya Namamu dalam Doaku memperlihatkan laki-laki dengan prinsipnya yang menolak goyah, sebodoh apa pun itu.
Arga (Vino G. Bastian) awalnya menjalani rumah tangga harmonis bersama Hanggini (Nirina Zubir). Keberadaan putri mereka, Nala (Anantya Kirana), makin melengkapi kebahagiaan keluarga kecil tersebut. Lalu terjadilah guncangan tak terduga. Arga divonis menderita ALS (Amyotrophic lateral sclerosis), penyakit langka yang akan membuatnya kehilangan kemampuan motorik, sebelum akhirnya meninggal.
Manusia normal bakal memberitahukan kondisi itu pada keluarganya, mungkin membuat mereka terpukul sementara waktu, kemudian bangkit lalu berjalan beriringan hingga akhir hayat. Tapi didasari keenganan membebani Hanggini dan Nala, Arga memilih menyembunyikan penyakitnya. Hanya dua orang yang mengetahui kondisi Arga: Rio (Ge Pamungkas), sepupu sekaligus rekan kerjanya, kemudian Marisa (Naysila Mirdad), mantan pacarnya semasa SMA yang kini menjadi dokter. Sungguh jahat, egois, dan tentunya, bodoh.
Lambat laun Hanggini justru curiga bahwa Arga berselingkuh dengan Marisa. Nala yang cerdas pun segera memahami konflik orang tuanya. Arga enggan keluarganya terbebani, namun tanpa ia sadari, kebohongan itu malah memberi beban yang tidak kalah (atau bahkan lebih) berat. Begitulah laki-laki beserta kekakuan pikirnya yang sukar memandang permasalahan dari sudut pandang orang lain, juga tendensi mereka merahasiakan perihal yang sebaiknya tak dirahasiakan.
Santy Diliana dan Elin Yuma selaku penulis naskah paham betul sisi problematik dari laki-laki di atas. Apalagi bila telah berstatus kepala keluarga, yang membuat mereka membebani diri sendiri dengan beragam tanggung jawab, biarpun sang istri dan anak mengharapkan sebaliknya. Salah bila menganggap perempuan lebih keras kepala.
Hanya Namamu dalam Doaku mengambil risiko dengan bermain di garis batas antara "meromantisasi" dan "menyentil" fenomena tersebut. Bagi saya kuncinya terletak pada momen saat Rio dan Marissa, yang dipaksa oleh Arga menyembunyikan penyakitnya, nekat memberitahukan fakta itu pada Hanggini. Secara tidak langsung naskahnya membantah perspektif si protagonis, sehingga membuat filmnya masuk ke golongan kedua.
Akting jajaran pemainnya sungguh menawan, dari Vino yang mampu menghindari kesan karikatur kala di paruh kedua ALS telah merenggut banyak kapasitas motorik Arga, Nirina Zubir dengan ledakan emosinya yang terasa menusuk, hingga Anantya Kirana yang kembali menunjukkan kecerdasan akting layaknya pelakon dewasa. Ge Pamungkas pun cukup baik, hanya saja performanya di sebuah adegan pertengkaran dengan Nirina lebih efektif memancing tawa ketimbang pilu. Tapi metode pengarahan Reka Wijaya, terutama pilihan tata kameranya, turut bertanggung jawab atas kekonyolan tak disengaja itu.
Bagaimana membuat penonton terkoneksi dengan laki-laki seperti Arga? Ada alasan mengapa sinema arus utama cenderung menghindari tuturan yang memamerkan ketidaksempurnaan protagonisnya. Butuh kreativitas lebih untuk membuat penonton bersedia menaruh simpati, yang sayangnya belum film ini miliki. Bagaimana pengarahan Reka Wijaya menjauhi keklisean melodrama, dengan tak asal menggenjot kadar emosi hingga titik maksimal di tiap adegan memang patut diapresiasi, tapi di mayoritas kesempatan, Hanya Namamu dalam Doaku masih mengandalkan trik lama yang tak kuasa melandasi kompleksitasnya sendiri.
Di sepanjang kredit penutup kita melihat kondisi para penderita ALS di dunia nyata. Sembari berkaca-kaca, salah satu dokter yang menangani mereka menyamakan kematian pasiennya dengan "chapter buku yang sudah selesai ditulis oleh Tuhan". Momen tersebut jauh lebih indah, menyentuh, sekaligus kreatif dibanding yang filmnya tawarkan selama hampir dua jam.
Setidaknya, sebagaimana karya-karya Sinemaku lain, Hanya Namamu dalam Doaku menawarkan kesungguhan. Segala aspeknya dipastikan berjalan sesuai kaidah, mulai dari elemen medis mengenai ALS, pengingat untuk mencari opini kedua kala memeriksakan keluhan kesehatan, hingga perihal talak dan detail masa idah, yang oleh kebanyakan film bertema keluarga cenderung lalai diperhatikan.
REVIEW - PRETTY CRAZY
Pretty Crazy punya premis eksentrik tentang perempuan yang memiliki dua kepribadian akibat kutukan iblis, diisi para pemain dengan kapasitas komedik yang telah teruji, presentasinya pun dipenuhi kekonyolan. Tapi kalau kita lihat lebih dekat, film ini sesungguhnya cukup menyedihkan, karena menampilkan barisan karakter yang merasa tak pantas dicintai, atau mencintai hidup mereka sendiri.
Gil-gu (Ahn Bo-hyun) misalnya. Setelah keluar dari pekerjaan yang terlalu membebani mentalnya, ia menjadi pengangguran yang mengandalkan kemampuan bermain mesin capit untuk memenuhi kebutuhannya. Gil-gu kesepian, namun beranggapan bahwa kehidupan macam ini cocok untuknya. Setidaknya sampai kedatangan tetangga baru yang tinggal tepat di bawah apartemennya.
Si tetangga baru bernama Jang-su (Sung Dong-il). Dibantu putri tunggalnya, Sun-ji (Lim Yoon-a), serta keponakannya, Ara (Joo Hyun-young), ia membuka toko roti. Tapi bukan roti yang paling menyita perhatian Gil-gu, melainkan Sun-ji, perempuan tercantik yang pernah ia lihat.
Masalahnya satu: Sun-ji yang tutur katanya menyejukkan saat siang, mendadak berubah menjadi liar kala malam menjelang. Konon, semua akibat kutukan turun-temurun yang membuatnya kerasukan sesosok iblis. Alhasil, Jang-su mesti terjaga hingga fajar setiap harinya. Pikiran menikmati hidup pun ia buang jauh-jauh demi sang putri. Kelak terungkap bahwa si iblis bahkan punya kisah hidup yang lebih memilukan.
Tapi tak satu pun dari karakternya tenggelam dalam ratapan. Mereka menjadikan tawa sebagai cara mengakali luka, dan tawa itulah yang coba ditularkan oleh Lee Sang-geun (Exit), selaku sutradara sekaligus penulis naskah, kepada penonton. Materi yang ia sediakan, termasuk perihal humor, sebenarnya tidaklah istimewa. Ada banyak jalur bisa ditempuh oleh premis uniknya, namun penulisannya masih berkutat di rangkaian situasi familiar. Butuh waktu bagi Pretty Crazy untuk bisa tampil mencengkeram.
Situasinya berbalik selepas Gil-gu berani lepas dari segala kekhawatiran dan berniat membahagiakan iblis yang merasuki Sun-ji. Daya bunuh humornya menguat berkat kehandalan dua pelakonnya. Ahn Bo-hyun dengan gelagat canggung serta ekspresi komikalnya, dan Yoon-a yang piawai dalam hal berlaku gila ("dua wajah bertolak belakang" memang jadi pesonanya sejak awal berkarir sebagai idol), membangun dinamika jenaka antar karakternya.
Tentu sebagai produk sinema arus utama Korea Selatan, tidak peduli sekonyol apa pun presentasinya, Pretty Crazy takkan berpuas diri sebelum berhasil menguras tangis penonton. Lee Sang-geun justru menawarkan ide yang lebih segar di sini, baik selaku penulis maupun sutradara. Adegan "punggung ayah" yang efektif menyulut rasa haru tanpa terkesan murahan, hingga konklusi manis berlatar taburan kelopak bunga bagi kisah Gil-gu dan Sun-ji, akhirnya membawa tiap karakternya merasakan cinta lagi, dalam beragam bentuk, setelah sekian lama.
REVIEW - MATERIALISTS
Acap kali film romantis hadir layaknya dongeng dilengkapi pesan moral untuk tidak memandang sesuatu berdasarkan nilai komersial belaka. Tapi kita hidup di era yang cenderung mengedepankan sudut pandang sebaliknya, dan sebagai komedi romantis yang lahir pada era modern semacam itu, Materialists sadar betul akan fenomena tersebut, lalu alih-alih mengerdilkan satu sisi, memilih untuk menyeimbangkannya. Materi dan cinta tidak bisa eksis seorang diri.
"Apakah film yang diputar keliru?", begitu pikir saya sewaktu melihat adegan sepasang manusia purba dimabuk asmara. Tapi memang itulah cara Celine Song membuka filmnya. Diciptakannya komparasi, betapa dahulu jatuh cinta sungguh sederhana. Lompat ke ratusan tahun berselang, rangkaian bunga cantik saja tak cukup untuk meluluhkan hati pasangan. Ada banyak pertimbangan kompleks yang mesti dipikirkan.
Tata kamera arahan Shabier Kirchner menangkap kesibukan kota New York yang segera mengingatkan ke judul-judul romcom klasik, seiring perkenalan kita dengan Lucy (Dakota Johnson), karyawan perusahaan pencarian jodoh yang dikenal sebagai makcomblang terbaik. Sudah sembilan pasangan berujung mengucap janji suci setelah dipersatukan oleh Lucy. Di matanya, kecocokan dua manusia hanyalah penerapan rumus matematika.
Lucy sendiri tidak buru-buru mencari pasangan. Jika kelak harus menikah, ia ingin menghabiskan sisa hidupnya dengan laki-laki yang bukan cuma punya fisik rupawan (wajah ganteng, tubuh tinggi), pula kaya raya. Semakin banyak perempuan masa kini yang memasang standar serupa sehingga mendapat cap "matre" atau "terlalu pilih-pilih", seolah para laki-laki tidak memasang banyak standar dan sekadar mementingkan kemurnian hati.
Tapi toh deretan permintaan beberapa klien Lucy menunjukkan fakta sebaliknya. Laki-laki dengan obsesinya terhadap gadis muda beserta segala tetek bengek tampilan fisik lainnya juga tidak kalah ruwet. Materialists berhasil menyentil paham seksis yang sudah mengakar terlalu kuat di masyarakat tersebut.
Sampai di pesta pernikahan salah satu kliennya, Lucy berkenalan dengan Harry (Pedro Pascal), kakak dari pengantin laki-laki. Seorang pebisnis kaya raya dengan paras tampan, perawakan tanpa cela, selera mode kelas tinggi, penuh sopan santun pula. Sesosok laki-laki sempurna, yang saking langkanya, diberi status "unicorn" oleh perusahaan tempat Lucy bekerja. Di pesta yang sama, Lucy bertemu lagi dengan mantan kekasihnya, John (Chris Evans), yang bekerja sebagai pelayan katering di sela-sela upayanya mewujudkan mimpi menjadi aktor.
Song tidak menunggu lama sampai menumbuhkan api cinta segitiga di antara protagonisnya. Kali pertama tiga individu tersebut berada dalam satu frame, sang sutradara dengan jeli menciptakan momen canggung yang amat menggelitik. Begitulah bentuk elemen komedi Materialists. Bukan kekonyolan luar biasa, melainkan satir untuk menertawakan dinamika percintaan modern, yang presentasinya berpijak pada realisme.
Di kebanyakan film romantis, John bakal otomatis jadi figur jagoan. Seorang "people's champion" dari kalangan akar rumput, yang tak bergelimang harta dan berjuang keras mewujudkan cita-cita, baik dalam hal profesi maupun percintaan. Sudah selayaknya penonton dibuat berharap agar Lucy memilih John dalam romcom semacam ini bukan?
Menariknya, lewat sebuah kilas balik, Materialists membuat penonton bisa memahami alasan Lucy menjadi seorang materialistis, dan mengapa John bukanlah tipikal jagoan dalam film romantis. Song tidak mau menenggelamkan Lucy dalam kenaifan cinta, tapi juga enggan menjadikannya mesin penakar nilai komersial tanpa hati. Dakota Johnson dengan tatapan yang senantiasa menawarkan afeksi terhadap lawan bicaranya, mampu membentuk karakter Lucy sesuai visi sang sutradara tersebut.
Mana yang lebih baik? Harry dengan kekayaan serta keeleganan tutur katanya, atau John yang setelah sekian tahun masih mengingat minuman favorit Lucy? Pada akhirnya Materialists bukanlah soal pihak mana yang akhirnya dipilih, melainkan pengingat supaya kita bersedia meluangkan waktu untuk menimbang kedua sisi secara matang-matang. Bukan pula tentang pencarian atas kesempurnaan (Harry dan John memiliki "cacatnya" masing-masing), sebab mungkin benar adanya, bahwa "true perfection has to be imperfect".
REVIEW - CROSSING
"I hardly think it was a choice", ucap salah satu karakter dalam Crossing pada rekan seperjalanannya, yang mempertanyakan mengapa transpuan di Istanbul memilih hidup sebagai PSK. Kelak kita pun melihat bagaimana transpuan lain, yang ingin meniti karir sebagai pengacara, dipersulit kala membuat kartu identitas baru selepas beralih gender. Menjadi diri sendiri nyatanya bukan perkara gampang.
Lia (Mzia Arabuli), pensiunan guru sejarah asal Georgia, hendak melakukan perjalanan ke Istanbul guna mencari keponakannya, Tekla, dalam rangka menjalankan wasiat terakhir mendiang adiknya. Achi (Lucas Kankava), si pemuda berandalan yang konon mengetahui alamat Tekla di Istanbul pun turut serta.
Dua rekan seperjalanan ini amat bertolak belakang. Lia punya tujuan jelas dan nampak selalu tenang, sementara Achi lebih meledak-ledak dan bak menjalani hari semaunya. Ketika Lia dengan paham konservatifnya menganggap gaya berpakaian dan tingkah perempuan modern melucuti harga diri mereka, Achi yang lebih muda berpikiran sebaliknya. Tapi seiring waktu, naskah buatan sang sutradara, Levan Akin, mengungkap bahwa realita hakiki lebih kompleks dari kulit luarnya.
Lalu ada kisah mengenai Evrim (Deniz Dumanli), pengacara yang kerap jadi pembela kaum marginal. Evrim membuktikan bahwa tak semua transpuan merupakan PSK, tapi toh orang-orang tetap memandangnya remeh. Pada satu kesempatan, dua polisi menertawakan gelarnya sebagai pengacara, yang menurut mereka didapat dari rombongan sirkus alih-alih universitas.
Barisan karakter di atas akan saling bersinggungan jalan. Seperti judulnya, film ini berkisah tentang para individu yang "menyeberang", baik secara literal (melintasi negara dan/atau pulau) maupun figuratif (mengubah kepercayaan, memahami budaya serta perspektif baru, dll.). Akin memastikan cabang-cabang narasinya bertransisi dengan mulus, melahirkan perjalanan 106 menit yang begitu nyaman diikuti.
Crossing punya segalanya guna menciptakan melodrama penuh haru. Tiap karakternya memiliki alasan untuk terus berurai air mata. Tapi Akin memilih bentuk pengarahan yang mengedepankan sensitivitas elegan, di mana dampak emosi berasal dari deretan momen kecil sarat makna. Misal saat selepas berhubungan seks, Evrim dan sopir taksi bernama Ömer (Ziya Sudancikmaz), membahas soal alibi apa yang bakal dipakai bila polisi menilang mereka.
Melalui momen-momen kecil tersebut, Akin seolah memberi pelukan hangat pada para trans. Pada akhirnya perjalanan Lia bukan lagi (cuma) tentang menemukan keponakannya secara fisik, tapi juga spiritual. Lia melalui proses belajar untuk memahami jati diri Tekla beserta segala pilihan hidupnya, sebelum ditutup oleh konklusi yang luar biasa emosional, berkat kelihaian Akin menata momen emosional secara indah, sekaligus akting Mzia Arabuli yang efektif menusuk batin penontonnya.
(Klik Film)
REVIEW - TOGETHER
Together mempertanyakan natur dari hubungan romansa. Kebersamaan memang pondasi sebuah hubungan, di mana dua hati berdetak bak kesatuan. Tapi sejauh mana suatu kebersamaan masih bisa disebut sehat? Film ini membawa penontonnya menelusuri pertanyaan di atas, dalam perjalanan penuh pemandangan yang menyulut kegelisahan.
Millie (Alison Brie) adalah seorang guru, sedangkan Tim (Dave Franco) merupakan musisi dengan karir stagnan. Keduanya sudah berpacaran sekitar 10 tahun, namun tengah mengalami kerenggangan selepas kematian tragis orang tua Tim, yang amat mengguncang psikisnya. Di satu malam, Tim bermimpi melihat wajah menyeramkan ibunya, dalam adegan yang membuktikan kapasitas sang sutradara, Michael Shanks, mengemas kengerian yang menjauh dari pakem klise horor.
Karena Millie memperoleh pekerjaan di area pedesaan, Tim pun terpaksa meninggalkan karirnya untuk mengikuti si partner. Apakah ia laki-laki hebat yang bersedia berkorban demi kekasihnya? Justru sebaliknya, Millie merasa harus menyokong kehidupan Tim yang tak kunjung sukses dari musik, terutama setelah nekat keluar dari label.
Sederhananya, Tim menarik Millie untuk ikut terjatuh ke dalam lubang kegelapan. Bukan cuma hanya secara figuratif, juga literal, yang terjadi kala keduanya berjalan-jalan ke tengah hutan. Akibat sikap sok tahu Tim, mereka tersesat lalu terperangkap dalam gua bawah tanah aneh, yang jadi awal rangkaian peristiwa aneh.
Selama berada di gua, Tim menceritakan pengalaman masa kecil, saat tidak menyadari keberadaan bangkai tikus di kamarnya, akibat sudah terbiasa tidur menghirup bau busuknya. Cerita itu memberi pondasi bagi persoalan toxic relationship yang disentil oleh naskah buatan Michael Shanks. Karena sudah membiasakan diri selama kurang lebih satu dekade, Millie tak menyadari seberapa busuk bangkai bernama "Tim" dalam hubungan yang ia jalani.
Fenomena misterius mulai menimpa Millie dan Tim pasca keluar dari gua: tubuh mereka saling tarik-menarik bagai dua kutub magnet yang berusaha menyatu. Jika mengacu pada prinsip bahwa "semakin menyatu sebuah pasangan, semakin kuat hubungan mereka", bukankah kondisi itu terkesan positif?
Dari situlah Together mengawali diskursusnya. Masihkah kebersamaan patut diperjuangkan bila didasari ketergantungan berlebih? Apakah rasa "terbiasa" bersinonim dengan cinta? Pantaskah hubungan diteruskan jika membuat orang yang terlibat kehilangan jati diri individualnya? Atau malah kondisi tersebut merupakan bentuk pengorbanan?
Di tengah perenungan yang terkadang memamerkan situasi disturbing khas body horror tersebut, naskahnya masih sempat sesekali melempar humor, yang efektivitasnya disokong oleh chemistry Alison Brie dan Dave Franco selaku pasutri dunia nyata. Mereka berlaku layaknya dua protagonis dari komedi romantis, dan memang itulah keunikan utama Together. Hilangkan adegan-adegan menyakitkan seperti tangan yang digergaji, dua alat kelamin yang tiba-tiba merekat kuat, atau bola mata yang saling terikat, maka film ini bakal berubah jadi komedi romantis mengenai hubungan yang pelan-pelan mengalami keruntuhan.
Beberapa waktu belakangan kerap disebut sebagai "era keemasan baru" untuk film horor. Saya rasa salah satu faktornya berasal dari sifat irasional dalam horor, yang memfasilitasi para sineas untuk berpikir bebas, sehingga mampu secara terus-menerus mengembangkan konsep usang ke arah yang lebih segar. Together termasuk salah satu agen dari revolusi tersebut.
REVIEW - TINGGAL MENINGGAL
Saya tidak ingat kapan terakhir kali sutradara Indonesia, terutama dari area arus utama, muncul lewat debut seberani dan sekreatif ini. Melalui Tinggal Meninggal, Kristo Immanuel bukan cuma melenggang memasuki industri. Dia mendobrak pintunya hingga hancur, lalu memperkenalkan diri dengan suara begitu lantang bersenjatakan kepercayaan diri yang mampu mengguncang seisi ruangan.
Menariknya, protagonis film ini yang konon dibuat berdasarkan sosok Kristo sendiri, punya citra berlawanan. Namanya Gema (Omara Esteghlal), dan rasa percaya diri bukan sesuatu yang ia kenal baik akibat tumbuh di keluarga disfungsional. Ayahnya (Gilbert Pattiruhu) gemar menipu orang lewat bisnis MLM sebelum akhirnya kabur dan menikah lagi, sedangkan sang ibu (Nirina Zubir) lebih sibuk berpacaran ketimbang menemani Gema.
Karakter kucing dari kartun televisi yang kerap bicara ke penonton pun jadi panutannya, sehingga Gema juga sering melakukan hal serupa. Breaking the fourth wall jadi salah satu ciri karakternya. Naskah buatan Kristo dan Jessica Tiju memberi alasan di balik tendensi protagonisnya mendobrak dinding keempat. Bukan semata gaya-gayaan, melainkan pertanda betapa sepinya hidup Gema, sampai mengajak bicara kita yang tak kasatmata baginya.
Sungguh luar biasa performa Omara selama menghidupkan Gema. Bukan semata berpura-pura, tapi sepenuhnya "menjadi", bertransformasi sebagai figur canggung hingga ke detail-detail gestur kecil. Sewaktu latarnya beralih ke kantor Gema, Tinggal Meninggal pun berubah dari pertunjukan tunggal Omara Esteghlal, menjadi kombinasi ensambel yang saling menguatkan.
Semua berawal dari kabar kematian sang ayah. Gema yang tadinya terasing, mendadak memperoleh perhatian dari teman-temannya: Adriana (Shindy Huang) lewat topik pembicaraan acaknya, Naya (Nada Novia) si maniak media sosial, Danu (Mario Caesar) dengan beragam cerita liburannya, Pak Cokro (Muhadkly Acho) selaku bos yang ingin dianggap muda, Ilham (Ardit Erwandha) dan segala pertanyaan nihil sensitivitasnya, hingga Kerin (Mawar Eva) yang jadi representasi (atau parodi?) generasi masa kini beserta kesadaran sosial mereka. Nama-nama di atas punya porsi bersinar masing-masing.
Tapi bagaimana bila fase berkabung telah usai? Apakah perhatian mereka bakal turut lenyap? Kalau demikian, siapa lagi yang mesti meninggal supaya Gema tetap mendapatkan atensi? Problematika tersebut bakal menggiring Gema mengambil beragam keputusan, yang semakin lama semakin gila hingga mencapai point of no return, sembari kisahnya turut menyentil soal dinamika sosial era modern, yang seolah menyulitkan individu bersikap apa adanya supaya dapat merasa diterima.
Gema mungkin melakukan banyak tindakan ekstrim, tapi penonton akan selalu menemukan sisi relatable dari sang protagonis. Misalnya saya, yang seperti Gema, sering kebingungan harus berkata apa kala menghampiri sekumpulan teman yang sudah asyik dalam pembicaraan mereka. Mungkin di luar sana banyak juga yang merasakan kedekatan dengan Gema, entah terkait perilaku, dinamika sosial, atau kondisi keluarganya.
Sebagai sutradara, Kristo membawa visi kuat. Entah berapa banyak sutradara debutan bisa membanggakan hal tersebut. Tengok pilihan musiknya, entah penggunaan lagu Setengah Lima milik Sore di sebuah "adegan meninggal", maupun komposisi jazz chaotic gubahan Nic Edwin yang dipakai untuk mewakili kecemasan si protagonis, tak ada yang sebatas mengikuti formula.
Begitu pula mengenai pengadeganan sang sutradara. Pengarahan komedik dengan presisi timing tingkat tinggi, pula momen emosional yang mengutamakan keindahan untuk menolak pakem "asal banjir air mata" khas melodrama, keduanya berkelindan, melahirkan dampak yang janggal (secara positif), tatkala kejenakaan dan kegetiran mampu eksis di saat bersamaan. Saya tertawa, sambil merasakan pilu bak tengah ditusuk-tusuk dalam hati.
Pilihan konklusinya mungkin bakal memecah opini penonton. Saya sendiri beranggapan bahwa di titik itu, Kristo semestinya tidak perlu lagi memaksakan filmnya tampil beda, atau terlalu takut menjamah area melodrama. Tapi harus diakui kalau ending tersebut konsisten dengan gaya yang sudah dibangun selama dua jam durasinya. Karena Tinggal Meninggal bukan bertujuan memenuhi ekspektasi masyarakat luas, melainkan representasi bagi individu yang kerap dicap "aneh", bahkan dianggap minim kepedulian, meski sejatinya mereka diam-diam menaruh perhatian besar, biarpun sambil berdiam diri di sudutnya sendiri.
REVIEW - NOBODY 2
Kalau Nobody (2021) menyoroti sisi individual protagonisnya, maka Nobody 2 mengentalkan aspek kekeluargaan. Bagaimana selepas kebutuhan personalnya terpenuhi (lagi), kini si jagoan mesti menjalankan peran sebagai ayah sekaligus suami, tentunya sembari tetap meninggalkan setumpuk mayat penjahat di sepanjang perjalanan.
Hutch Mansell (Bob Odenkirk) tak lagi mengeluhkan rutinitas membosankan sebagai pekerja kantoran. Demi menebus kekacauan yang ia ciptakan di film pertama, Hutch kembali dikirim untuk menuntaskan berbagai misi rahasia oleh pihak pemerintah. Hasratnya akan kekerasan pun terpuaskan. Masalahnya, giliran sang istri, Becca (Connie Nielsen), yang memendak keluhan.
Melalui montase yang jadi cerminan sekuen serupa di film sebelumnya, kita melihat Becca mulai akrab dengan kesepian akibat Hutch selalu pergi untuk menjalankan misi. Dua anak mereka, Brady (Gage Munroe) dan Sammy (Paisley Cadorath), juga kurang mendapat perhatian sang ayah. Hutch pun mencetuskan ide untuk membawa keluarganya berlibur, tapi bukannya bersantai, ia malah mesti menghadapi penjahat keji bernama Lendina, yang diperankan dengan penuh semangat bersenang-senang Sharon Stone. Sayang, kehadiran sang aktris legendaris dalam adegan aksi cenderung kurang dimanfaatkan.
Naskah buatan Derek Kolstad dan Aaron Rabin sejatinya cuma menawarkan plot generik yang tak cukup kuat untuk menjaga intensitas tatkala baku hantam sedang absen, namun terkadang daya tarik justru hadir dari kesederhanaan kisahnya. Nobody 2 bukan John Wick yang tersusun atas bangunan dunia kompleks.
Skalanya kecil. Hutch tidak harus berurusan dengan beragam organisasi kriminal eksentrik atau terjebak konspirasi pelik. Dia hanya individu yang kelimpungan menata work-life balance, pula kepayahan perihal mengatur emosi. Segala ancaman yang dialami Keluarga Mansell berawal sat Hutch ingin membalas sikap buruk seseorang terhadap dua anaknya. Apakah itu insting "melindungi" milik seorang ayah, atau sekadar luapan amarah pria yang enggan membiarkan egonya tercoreng?
Menarik pula menyaksikan Timo Tjahjanto menangani film dengan alur sederhana macam ini. Nobody 2 (89 menit) merupakan karya tersingkat sang sutradara, yang bahkan lebih pendek daripada Rumah Dara (95 menit). Timo pun bisa lebih berfokus mengeksplorasi pengarahan aksi yang mampu ia susun dengan penuh gaya, termasuk berkat penataan kamera Callan Green yang bergerak demikian lincah.
Dibanding deretan filmografi sang sineas lainnya, kadar kekerasan Nobody 2 tak terlalu tinggi, minimal sebelum babak ketiga yang tampil bak versi mematikan dari Home Alone, namun energi yang Timo suntikkan di tiap pertarungan Hutch, juga sentuhan komedik dalam aksinya yang cukup kreatif dalam memanfaatkan properti (pengaruh dari film-film klasik Jackie Chan amat kental di sini), merupakan motor penggerak yang memadai bagi filmnya.
Satu pilihan artistik yang menonjol adalah penggunaan gerak lambat. Timo tahu kapan harus memakainya guna menambah nuansa dramatis, tanpa mengeksploitasinya secara berlebihan. Gerak lambat di sini adalah penegas. Sebuah bumbu penyedap alih-alih bahan baku utama. Adegan adu pedang yang melibatkan Harry (RZA), adik tiri Hutch, hingga momen romantis tak terduga berhiaskan lagu The Power of Love di penghujung babak ketiga, semua meninggalkan kesan yang berlipat ganda berkat efek tersebut.
Tapi yang membuat Nobody 2 terasa begitu memuaskan bukanlah soal kebrutalan atau estetikanya, melainkan fakta bahwa orang-orang yang Hutch hajar memang pantas menerima bogem mentah, dari sekumpulan penjahat kelas teri yang terlampau sombong, para perundung, hingga barisan aparat korup yang menyalahgunakan kekuasaan mereka. Walau masih jauh dari kesempurnaan, mungkin Hutch bukan ayah yang benar-benar buruk.
REVIEW - SMALL THINGS LIKE THESE
Pernah merasakan keresahan kala dini hari yang membuatmu kesulitan terlelap? Terkadang ia berasal dari "hantu" masa lalu, namun ada kalanya dipicu permasalahan masa sekarang. Small Things like These yang mengadaptasi novela berjudul sama karya Claire Keegan menggambarkan situasi di atas. Si protagonis tahu betul solusi apa yang mesti diambil guna mengusir keresahannya, tapi sukar menentukan, apakah ia sebaiknya bertindak atau berdiam diri menikmati kenyamanan yang telah dimiliki.
Hidup Bill Furlong (Cillian Murphy) jauh dari gelimang harta, tapi usaha batu bara yang susah payah ia bangun, setidaknya mampu memenuhi kebutuhan sang istri, Eileen (Eileen Walsh), beserta lima putri mereka. Kehangatan senantiasa memenuhi rumah keluarga Bill, yang terletak di New Ross, Irlandia, di mana Gereja Katolik berperan besar dalam hidup masyarakatnya.
Suatu ketika, Bill yang tengah mengantar batu bara ke biara yang dikepalai oleh Suster Mary (Emily Watson), melihat pemandangan janggal. Seorang gadis remaja nampak berteriak histeris, menolak untuk dipaksa tinggal dalam biara tersebut oleh orang tuanya. Bill tahu ada yang tidak beres dengan biara tersebut, namun hanya berdiri sembari diam-diam mengawasi. Itulah awal dari dilema batinnya.
Naskah buatan Enda Walsh mendesain Small Things like These sebagai satu proses observasi besar. Penonton mengobservasi Bill, sementara Bill mengobservasi lingkungan sekitarnya. Aktivitas "memperhatikan" lebih banyak terjadi ketimbang perbincangan verbal, informasi penting yang membentuk narasinya pun tidak disuapkan paksa pada penonton. Kita dituntut mengobservasi, mengolah data, lalu menarik kesimpulan sendiri.
Sesekali muncul kilas balik mengenai masa kecil Bill, yang meninggalkan banyak luka di hatinya bahkan hingga dewasa. Bill yang tiap malam pulang dengan tubuh kotor karena batu bara memang bisa mencuci noda di tangannya, tapi tidak dengan noda di hatinya. Bill terus terjaga sampai dini hari, sampai membuat Eileen bertanya-tanya, permasalahan apa yang menimpa sang suami.
Ceritanya terinspirasi dari skandal mengenai Suaka Magdalena, institusi yang dijalankan oleh Gereja Katolik untuk mempekerjakan paksa para perempuan yang dianggap berdosa. Eileen tidak sepenuhnya buta akan fakta tersebut. Bahkan mayoritas warga kota menyadarinya. Tapi karena hampir tiap sendi kehidupan New Ross dikuasai oleh pihak gereja, mereka memilih menutup mata sambil menyibukkan diri memikirkan kado apa yang ingin diterima di Malam Natal.
Tatkala konsumerisme telah menggantikan kebaikan hati sebagai esensi semangat Natal, di situlah para pemegang kuasa keji berkedok pemuka agama bebas bertindak semena-mena. Menariknya, film ini enggan memotret Eileen (atau warga lain yang menyarankan Bill untuk tidak bersuara) sebagai orang jahat. Mereka cuma rakyat jelata tanpa privilege untuk melawan, lalu terpaksa tunduk akibat dikendalikan oleh rasa takut. Eileen meminta Bill agar tidak melawan Suster Mary dan biaranya, sebab putri-putri mereka bersekolah di sana. Poin yang masuk akal.
Tim Mielants selaku sutradara membiarkan penonton terserap dalam rangkaian kesunyian yang ia bangun. Pengarahannya minim letupan, termasuk pada momen intens tatkala Suster Mary mengonfrontasi Bill yang menerobos masuk ke biara. Emily Watson tidak memerlukan bentakan guna menegaskan presensinya sebagai "iblis keji bertopeng anak Tuhan". Figurnya intimidatif, namun dengan tutur kata penuh ketenangan yang dilandasi keyakinan atas kuasanya.
Di kutub berlawanan ada Bill yang menyadari bahwa ia tidak punya kuasa untuk melawan dan berbuat kebaikan. Cillian Murphy mendefinisikan pendekatan akting subtil. Setumpuk kekalutan yang mengganggu Bill mungkin tidak tertuang secara gamblang, tapi semuanya terekam di sorot mata, serta permainan ekspresi mikro sang aktor. Sekali lagi, semuanya adalah perihal proses observasi.
(Klik Film)
REVIEW - MY DAUGHTER IS A ZOMBIE
Serbuan zombi di film ini bukan sesuatu yang mengancam stabilitas global. Wabah cuma menyebar di Korea Selatan, pun pemberantasannya tergolong cepat dibanding yang biasa kita temui di cerita zombi lain. Tapi bagi Lee Jung-hwan (Jo Jung-suk), skenario tersebut terasa bak akhir dunia, karena sebagaimana telah tertulis di judul, putrinya turut terinfeksi.
Terdengar tragis, tapi tak butuh waktu lama bagi My Daughter is a Zombie, untuk menegaskan bahwa adaptasi webtoon berjudul sama karya Lee Yun-chang ini, takkan dipaparkan sebagai sebuah cerita kelam. Hubungan ayah-anak penuh keakraban antara Jung-hwan dan Soo-a (Choi Yoo-ri) menjadi sentral. Seperti ayahnya, Soo-a menggemari tari. Bahkan Soo-a tengah berlatih untuk sebuah lomba, di mana ia bakal menari diiringi lagu legendaris, No. 1 milik BoA.
Sampai tiba-tiba wabah zombi pecah, dan Jung-hwan memutuskan membawa Soo-a ke rumah ibunya (Lee Jung-eun) di pedesaan yang diyakini lebih aman. Tapi keduanya mesti terlebih dahulu menembus barikade pasukan zombi yang telah menguasai kota. Jangan mengharapkan sadisme dalam serangan zombinya yang oleh sang sutradara, Pil Gam-sung, digarap dengan pendekatan "PG".
Ketimbang organ tubuh manusia yang berceceran, filmnya diisi rangkaian situasi absurd khas zom com (zombie comedy) yang mengubah serbuan zombi jadi bahan tertawaan, misal saat zombi bertubuh nenek tua berupaya menyerang mangsanya, atau bagaimana Jung-hwan dan Soo-a mengecoh menari sembari mengikuti gerakan zombi guna mengecoh pasukan mayat hidup tersebut.
Ketika akhirnya Soo-a tertular virus pun filmnya tak serta merta kehilangan kelucuan. Justru di situlah kejenakaan premisnya memuncak, sebab alih-alih membunuh sang putri, Jung-hwan memilih untuk merawat dan mengajari "zombi Soo-a" cara berperilaku layaknya manusia normal. Jung-hwan yakin bahwa dengan membangkitkan memori indah yang Soo-a miliki, lama-kelamaan ia akan sembuh.
Keyakinan Jung-hwan pertama kali muncul tatkala meski dengan gerakan sederhana, menari jadi insting pertama "zombi Soo-a" saat mendengar lagu No. 1. Pada tahun 2021, sekelompok kritikus dan pengamat musik sepakat menasbihkan No. 1 sebagai lagu K-pop terbaik sepanjang masa. Zombi pun nampaknya sepakat dengan pencapaian tersebut.
Elemen drama keluarganya mungkin tak sekuat humornya yang sarat kreativitas, akibat presentasi yang terlalu setia pada pakem melodrama. Cara sang sutradara mengarahkan momen emosional pun cenderung generik. Sederhananya, pesona My Daughter is a Zombie sedikit luntur sewaktu ia merambah area yang lebih serius. Beruntung, jajaran pemainnya ibarat pondasi kokoh sebuah bangunan yang terus menjaga supaya filmnya tak pernah runtuh.
Jo Jung-suk kembali membuktikan kalau ia adalah leading man yang bisa diandalkan, berkat kapasitasnya menyeimbangkan kekonyolan komedi (termasuk dengan fleksibilitas gesturnya) dengan kehangatan dramatik. Sedangkan Choi Yoo-ri mampu melahirkan salah sosok zombi paling likeable di layar perak, yang memudahkan penonton bersimpati pada Soo-a, meski jika dilihat sekilas, ia tidak lagi mempunyai jiwa. Kita pun dibuat tidak mempermasalahkan bila peradaban di film ini akhirnya berakhir, namun berharap kehangatan Jung-hwan dan Soo-a bakal terus bergulir.
REVIEW - PANGGIL AKU AYAH
Serupa banyak tearjerker, termasuk Pawn (2020) yang jadi sumber adaptasinya, Panggil Aku Ayah terasa seperti fantasi. Karena meski tanpa monster dan kekuatan ajaib, alurnya dipenuhi pemandangan yang tidak jamak, atau malah mustahil terjadi dalam realita, untuk mengaduk-aduk emosi penonton. Apakah itu buruk? Tentu tidak. Lagipula, bukankah sinema merupakan medium yang mengeliminasi batasan pikir?
Protagonisnya bernama Dedi (Ringgo Agus Rahman), yang bersama sepupunya, Tatang (Boris Bokir), berprofesi sebagai tukang tagih utang. Tapi keduanya jenaka, pula baik hati. Anomali semacam ini (preman tapi baik, lansia tapi kuat, miskin tapi jenius, dll.) memang banyak disukai penonton. Kebaikan mereka diuji saat terpaksa merawat gadis cilik bernama Intan (Myesha Lin), yang dijadikan jaminan akibat sang ibu (Sita Nursanti) tak mampu membayar utang.
Awalnya Dedi dan Tatang hanya berniat "merawat" Intan, atau yang mereka panggil "Pacil" (Kepala Cilik) selama seminggu, tapi karena rangkaian peristiwa tak terduga, hal itu terus berlangsung sampai si bocah beranjak besar (Tissa Biani memerankan Intan versi dewasa). Bagaimana bisa kebaikan si tukang tagih utang bertahan menahun hingga membentuk paternal love sebegitu kuat?
Alurnya memang masih mengikuti pakem tearjerker generik yang terlampau familiar, namun saya suka bagaimana naskah buatan Rifki Ardisha masih memedulikan sebab-akibat logis dalam menyusun hubungan antar karakternya. Kasih sayang Dedi tumbuh karena ia merasa Pacil adalah satu-satunya orang yang melihatnya lebih dari sebatas penagih utang. Sebaliknya, Pacil terenyuh oleh kepedulian Dedi. Panggil Aku Ayah adalah kisah mengenai dua manusia yang sama-sama disentuh oleh kebaikan hati.
Proses peralihan budayanya pun tergarap apik. Mengapa si protagonis diberi nama "Dedi" dan Intan mendapat julukan "Pacil", semua memiliki landasan kultural kuat yang "sangat Indonesia". Peralihan lain yang menunjukkan kecerdikan naskahnya adalah terkait pemakaian lagu Tegar milik Rossa. Bagaimana lagu cinta tersebut mampu dialihkan maknanya ke arah maternal love, yang membantu terciptanya momen emosional, yang dimotori oleh kekuatan akting Sita Nursanti.
Sebagai tearjerker, tentu tujuan utama Panggil Aku Ayah adalah menguras air mata penonton sebanyak mungkin. Bahkan di sebuah kesempatan, Benni Setiawan selaku sutradara menempatkan kamera dalam posisi close-up guna menangkap tangisan Tissa Biani. Tapi secara keseluruhan, caranya menyulut emosi tak pernah terasa murahan. Filmnya menggiring penonton menangis, tanpa terkesan mengemis tangisan tersebut.
Eksploitasi terhadap kondisi finansial tokoh-tokohnya pun enggan dilakukan. Sekali lagi, fokusnya terletak pada kebaikan hati, bukan soal betapa menyedihkannya kemiskinan. Tim artistiknya jeli mengambil jalan tengah. Tengok baju yang karakternya kenakan, atau properti di rumah mereka, yang sarat perpaduan warna tanpa terlihat artificial dan terlalu mencolok mata, sehingga tetap memancarkan kesederhanaan. Bahkan ada kalanya busana dan properti menciptakan sinkronisasi warna secara subtil.
Sungguh disayangkan segala keunggulan tadi diganggu oleh lemahnya cara Panggil Aku Ayah menutup penceritaan. Babak ketiganya kacau, sampai bukan mustahil banyak penonton akan dibuat pusing oleh kerancuan linimasa alurnya. Konklusinya pun disajikan begitu buru-buru, bak enggan memberi peluang bagi penonton untuk meresapi luapan perasaan yang mestinya hadir.
Tapi jangan khawatir, sebab sebagaimana Dedi selalu siap melindungi Pacil, Ringgo Agus Rahman pun senantiasa hadir layaknya pahlawan yang mampu menyelamatkan film ini dari segala kekurangannya. Caranya mengekspresikan campur aduk perasaan yang Dedi alami, tatkala cita-cita yang selama ini ia pendam akhirnya terwujud, yakni mendengar Pacil memanggilnya "ayah", sungguh luar biasa. Di situlah kebaikan hati seorang manusia akhirnya terbayar lunas.
REVIEW - WEAPONS
Film horor identik dengan kegelapan. Penampakan setan di area temaram, lorong-lorong tanpa cahaya, hingga basemen penyimpan rahasia, seolah jadi sentuhan wajib. Weapons karya Zach Cregger yang tiga tahun lalu menghentak dunia horor lewat Barbarian, adalah perwujudan dari identitas tersebut. Sebuah film mengenai kegelapan.
Suatu malam, tepatnya pukul 2:17 dini hari, 17 anak yang semuanya tergabung dalam satu kelas, secara serentak terbangun, keluar dari rumah masing-masing, dan berlari entah ke mana, melintasi jalanan suburban yang seperti digelayuti kegelapan tanpa ujung. Mereka berlari dengan tangan direntangkan, bak menirukan kepak sayap burung yang melayang di angkasa. Apakah karena bocah-bocah ini merasa bebas, atau sebaliknya, kebebasan itu hanya kepalsuan selaku dampak manipulasi?
Ide cerita Weapons sesungguhnya jauh dari kesan baru. Konsep serupa sudah ratusan kali dipakai oleh horor lokal, sehingga saat kelak twist-nya diungkap, rasanya penonton Indonesia takkan seberapa terkejut. Tapi saya selalu percaya bahwa kebaruan cerita bukan poin terpenting. Metode eksekusi memiliki bobot lebih besar. Cerita seusang apa pun bakal terasa segar bila sang sineas membawa pendekatan kreatif dalam eksekusinya.
Weapons memiliki kreativitas itu. Tengok bagaimana alurnya dibagi jadi beberapa segmen. Setiap segmen mengetengahkan sudut pandang karakter yang berbeda: Justine Gandy (Julia Garner), guru dari kelas yang dihuni 17 anak tersebut; Archer Graff (Josh Brolin), ayah dari salah satu anak; Alex Lilly (Cary Christopher), satu-satunya penghuni kelas Justine yang tidak hilang; Paul Morgan (Alden Ehrenreich) si polisi; Anthony (Austin Abrams) si pecandu narkoba sekaligus maling kelas teri; sampai Andrew Marcus (Benedict Wong) si kepala sekolah.
Segmen-segmen di atas tak ubahnya susunan domino yang saling membutuhkan agar bisa menciptakan pergerakan. Cregger begitu jeli mendesain segmennya, di mana masing-masing ditutup oleh cliffhanger yang senantiasa menjaga atensi penonton. Alurnya bergerak secara non-linear sehingga terus mencuatkan tanda tanya, pula tidak takut menyelipkan humor walau mengusung cerita yang cenderung kelam. Lihatlah saat Cregger, yang seperti baru saja menempuh kursus kilat di kelas Quentin Tarantino, memaksa Josh Brolin terlibat baku hantam di babak puncak, yang tak hanya menegangkan, tapi juga sangat menggelitik.
Kembali ke soal kegelapan. Dia mengambil banyak wujud sepanjang 128 menit durasi Weapons. Entah sebagai misteri yang belum kita ketahui jawabannya, rahasia mencengangkan yang karakternya pendam, atau secara literal, yakni kegelapan mencekam di tiap sudut area suburban. Beberapa kali Cregger membiarkan penonton memandang ke satu titik gelap untuk beberapa lama, sebelum membiarkan sosok menyeramkan perlahan keluar dari balik kehampaan.
Jumpscare-nya pun memiliki efek kejut luar biasa, sebab sebelum memasuki paruh akhir, kita tidak punya gambaran sedikit pun terkait sumber ancamannya. Kita tidak tahu hal apa (atau siapa) yang bakal Cregger munculkan di layar. Sewaktu tirai misteri mulai terbuka, dan figur sang villain perlahan terungkap, Cregger tak memerlukan monster atau hantu bermuka rusak untuk menciptakan kengerian. Hanya anomali sederhana. Sesuatu/seseorang yang terlihat familiar sekaligus janggal di waktu bersamaan.
Cregger membiarkan penonton terhanyut dalam kegelapan dunia suburban yang menghipnotis. Filmnya tidak butuh gore dengan kuantitas berlebih agar bisa tampil seru, namun sekalinya mengisi layar, sadisme selalu hadir dengan dampak besar, sebagaimana dibuktikan oleh klimaksnya yang amat memuaskan. Itulah momen saat segala bentuk kegelapan sarat tanda tanya, sepenuhnya tersapu oleh nyala terang dari cahaya.

%20(1).png)

%20(1).png)

%20(1).png)

%20(1).png)

%20(1).png)



.png)

.png)



%20(1).png)

.png)

%20(1).png)

%20(1).png)

.png)
Tidak ada komentar :
Comment Page:Posting Komentar