Tampilkan postingan dengan label Alice Norin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Alice Norin. Tampilkan semua postingan
KUTUK (2019)
Rasyidharry
Pepatah “Pengalaman adalah guru
yang terbaik” memang benar. Menjalani debut sebagai produser sekaligus penulis
naskah, Shandy Aulia memanfaatkan pengalamannya bermain di setumpuk horor
buruk, menerapkan segala kelemahan yang ia temui untuk membuat Kutuk semakin busuk. Sambutlah “The Greatest Hits of Shandy Aulia’s Terrible, Horrible, No Good, Very Bad Horror Movie”.
Shandy memerankan Maya, gadis muda
yang baru bekerja di sebuah panti jompo yang cuma punya satu pegawai, yakni
Gendhis (Vitta Mariana) si perawat judes. Sikap tak menyenangkan Gendhis bukan
saja ditujukan pada Maya, pulaElena (Alice Norin) si pemilik panti yang ramah.
Nantinya anda akan tahu, kejudesan Gendhis—yang mengingatkan akan kegalakan
palsu para senior saat ospek—disertakan oleh naskahnya hanya untuk menambah
daya kejut twist terkutuk yang
menanti di belakang.
Maya sendiri merupakan karakter
yang berjalan di garis tipis pemisah “keberanian” dan “kebodohan”. Belum
seberapa lama ia menginjakkan kaki di panti, ia sudah melihat hantu dan mendengar
suara-suara aneh. Bahkan selepas mulai bekerja, setiap hari, apa pun yang Maya
kerjakan selalu membawanya menuju peristiwa mengerikan. Keputusan Maya untuk
terus bertahan bukan membuktikan ia punya nyali atau memedulikan para lansia,
melainkan bahwa otak Maya ternyata juga maya.
Menulis naskahnya bersama Fajar
Umbara (Sabrina, Mata Batin 2, Ikut Aku
ke Neraka), Shandy menerapkan ilmu yang sepanjang karirnya ia pelajari,
yaitu “PLOT FILM HOROR HARUS DIKESAMPINGKAN, DISIMPAN SAMPAI BABAK KETIGA DI MANA
SEMUA RAHASIA MENDADAK DIUNGKAP LEWAT SATU SEKUEN KALA KARAKTER UTAMANYA
MENDAPAT PENGLIHATAN”. Di sini Shandy dan Fajar bukan membuat “plot twist”, melainkan “twist plot”, yaitu kondisi tatkala plot
sebuah film dihimpatkan dalam satu twist.
Jadi, di samping pengalaman
supernatural Maya, apa yang film terkutuk ini tawarkan selama 82 menit
durasinya? Adakah misteri? Atau gejolak drama? Jawabannya adalah “OBROLAN”,
saudara-saudara. Kutuk senang sekali
menampilkan karakternya menyesap secangkir teh sembari melontarkan dialog
membosankan yang dihantarkan oleh para pemainnya tanpa nyawa.
Shandy yang malang. Dia nampak
begitu lelah memproduksi sambil menggarap naskah film ini, ia terlihat tak
punya sisa tenaga untuk berakting, sehingga menyampaikan baris demi baris
kalimat secara datar. Tidak heran. Pasti dia (bersama Bung Fajar tentunya) harus
memeras otak, bekerja ekstra, supaya bisa mencetuskan ide penciptaan kalimat
menggelikan seperti, “Dari awal kamu memang sudah sentimen sama saya” atau “Kamu
pasti udah kena nyinyirnya Gendhis ya?”. Nganu....kenapa gaya bicara karakter
yang biasanya formal mendadak berubah ya Mbak Shandy, Mas Fajar? Dan berlatar
tahun berapa sebenarnya film ini?
Pun tidak mengejutkan saat nyaris
mustahil menemukan teror mengerikan di sini, meski sutradara Rudi Aryanto (Surat Cinta untuk Starla the Movie,The Way I
Love You) telah berbaik hati tidak berusaha menghancurkan gendang telinga
kita, dengan mengatur volume musik secukupnya, terlebih di menit-menit awal
tatkala keheningan kerap dipakai. Setidaknya, Rudi berhasil menyelipkan satu jump scare cerdik nan mengejutkan (clue: melibatkan cermin) berkat pilihan timing sempurna.
Bersenjatakan peristiwa berdarah,
klimaksnya menyimpan potensi, walau sayang, berakhir problematik. Rupanya, si
hantu hanya coba memberitahukan sesuatu kepada Maya. Di horor kebanyakan, hal
itu tak bisa seketika dilakukan karena butuh diadakan ritual dan/atau
menyediakan perantara. Tapi Kutuk tidak
memerlukan itu. Jadi kenapa baru terjadi jelang akhir? Kenapa pula Maya yang
terus diganggu bila ternyata si hantu bukan menargetkan nyawanya? Sungguh
produk terkutuk.
Juli 28, 2019
Alice Norin
,
Fajar Umbara
,
horror
,
Indonesian Film
,
REVIEW
,
Rudi Aryanto
,
Sangat Jelek
,
Shandy Aulia
,
Vitta Mariana
Langganan:
Postingan
(
Atom
)

