Tampilkan postingan dengan label Fajar Umbara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fajar Umbara. Tampilkan semua postingan

SI MANIS JEMBATAN ANCOL (2019)

Terlepas dari hasil akhirnya, “Anggy Umbara” dan “main aman” tidak pernah eksis secara bersamaan. Begitu pula di Si Manis Jembatan Ancol, remake dari film berjudul sama rilisan tahun 1973, yang dibuat berdasarkan urban legend masyarakat Betawi, meski masyarakat umum mungkin lebih akrab dengan dua musim sinetron yang begitu populer pada era 90-an, hingga melahirkan satu lagi adaptasi layar lebar di tahun 1994. Melalui naskah hasil tulisannya bersama Fajar Umbara (Mata Batin, Sabrina) dan Isman HS (5 Cowok Jagoan: Rise of the Zombies, Flight 555), Anggy melakukan modernisasi.

Berlatar tahun 1973, kisahnya berpusat pada keretakan rumah tangga Maryam (Indah Permatasari) dan Roy (Arifin Putra), terlebih setelah bisnis Roy berantakan sampai membuatnya terlilit hutang besar pada Bang Ozi (Ozy Syahputra), seorang lintah darat. Sebagai istri, Maryam merasa kurang dihargai, namun tetap berusaha menjaga keharmonisan rumah tangga, bahkan setelah kedatangan pelukis bernama Yudha (Randy Pangalila) yang menjadikan Maryam sebagai objek. Si Manis jatuh hati, namun yang hadir justru tragedi.

Tragedi yang tidak datang secepat itu, mengingat filmnya lebih banyak berkutat dalam drama sampai sekitar 50 menit durasi (dari total 117 menit), ketika kita akhirnya dibawa mengunjungi jembatan Ancol yang legendaris. Maksudnya baik. Supaya penderitaan Maryam, hubungan terlarangnya dengan Yudha, juga kesulitan finansial Roy tergali utuh. Tapi apakah terlalu panjang? Ya. Bisakah dipadatkan? Sangat bisa. Perjalanan sejam pertamanya cukup bertele-tele, menampilkan banyak hal tak perlu, seperti keputusan Bang Ozi terus memberi tambahan waktu bagi Roy atau red herring terkait keangkeran rumah Yudha.

Setidaknya selama itu, hampir seluruh departemen berkontribusi maksimal. Anggy semakin matang (kalau tak bisa disebut dewasa) baik urusan menulis maupun menyutradarai, dengan lebih berkonsentrasi pada merapikan aliran alur ketimang melempar gimmick. Tata dekorasi plus kostum pembangun latar masa lalunya pun cukup konsisten dan memanjakan mata, apalagi gaun merah Maryam yang membuatnya otomatis jadi pusat atensi di tiap kemunculan. Satu elemen yang mengganggu adalah rambut palsu Randy Pangalila, yang kala digerai jauh dari kesan alamiah, tapi kalau diikat, sosoknya bak pendekar dari era Angling Dharma.

Melihat pilihan artistik, tema balas dendam, serta statusnya sebagai remake judul klasik, mungkin Si Manis Jembatan Ancol akan mengingatkan banyak penonton kepada Suzzanna: Bernapas Dalam Kubur (2018). Ditambah lagi keberadaan unsur komedi yang sayangnya hanya berhasil memancing tawa bila banyolannya terlontar dari mulut Arief Didu sebagai Bang Kribo si pemilik warung.

Paruh kedua sepenuhnya mengesampingkan plot, untuk merangkai menit-menitnya menggunakan pembantaian demi pembantaian yang dilakukan arwah Maryam selepas ia tewas di tangan Bang Ozi dan anak buahnya. Anggy menggabungkan jump scare (termasuk di lima adegan mimpi yang pengulangannya tak sampai mengesalkan karena punya pemicu jelas: ketakutan dan rasa bersalah) dan elemen kekerasan. Agak disayangkan saat beberapa sadisme terjadi off-screen (mengacu pada bumper LSF, kemungkinan terdapat revisi), meski kita tetap disuguhi aftermath brutal yang menampilkan kondisi jenazah mengenaskan.

Mengandalkan kesan misterius, kesenduan, serta kemarahan yang menyatu di sorot matanya, Indah Permatasari berhasil menghapus bayang-bayang para pemeran Si Manis sebelumnya dengan, melahirkan versinya sendiri yang sejalan dengan modernisasi Anggy. Sementara Ozy Syahputra, dengan kumis dan berewok ditambah aksi kejam karakternya, melepaskan diri dari kecentilan sosok Karina dalam sinetronnya dulu. Bahkan di sini Ozy diberikan salah satu momen paling mencengangkan sepanjang film, yang menegaskan upaya Anggy bermain-main dengan stereotip gender dalam horor.

Di ranah dunia, menyelipkan empowerment dalam horor bukan perkara baru, tapi masih langka di perfilman lokal. Anggy dan tim penulisnya berani melakukan itu, termasuk melalui twist yang tak kalah berani bahkan berpotensi memecah opini penonton. Saya menyukainya. Sebuah langkah kreatif meski meninggalkan beberapa lubang alur. Masalah justru muncul terkait keputusan filmnya tak memberi kesempatan si tokoh utama menuntaskan segalanya. Selain Maryam berhak mendapatkannya, keputusan tersebut berlawanan dengan pesan empowerment-nya. Andai itu dilakukan, niscaya Si Manis Jembatan Ancol akan jauh lebih memuaskan.

KELAM (2019)

Setidaknya Kelam adalah film yang jujul secara penjudulan. Kalau kualitasnya terus begini, masa depan horor kita memang KELAM. Dan jika rutin mengikuti perkembangan horor lokal, anda bisa menebak apa yang ditawarkan karya teranyar Erwin Arnada (Rumah di Seribu Ombak, Guru Ngaji, Tusuk Jelangkung di Lubang Buaya) ini. Ambil contoh departemen musik dan tata suara. Dentingan piano bernada minor ala kadarnya mengiri momen dramatik berisi obrolan memosankan, dentuman berisik di tiap jump scare, lalu ketika film berakhir sayup-sayup terdengar teriakan penyesalan dari batin anda setelah membuang waktu juga uang.

Kelam ibarat mayat hidup. Film yang dibuat tanpa semangat, tanpa usaha menjadi lebih baik. Semua bermain sesuai pola. Sebuah pola buruk yang didasari pemikiran “Sejelek ini aja bisa laku kan?”. Bahkan jajaran pemainnya, termasuk Aura Kasih, tampak luar biasa bosan, seolah ingin sesegera mungkin menyelesaikan proses produksi.

Aura Kasih memerankan Nina, yang kembali pulang setelah delapan tahun, ketika sang ibu, Dewi (Rina Hassim), terserang stroke ringan. Ada perselisihan masa lalu yang jadi penyebab retaknya hubungan ibu dan anak itu, namun Nina menyembunyikannya, termasuk dari Fenny (Amanda Manopo), adiknya. Datang bersama puteri kecilnya, Sasha (Giselle Tambunan), Nina berharap bisa menyambung tali silaturahmi. Tapi rencana tersebut buyar ketika Sasha mulai bertingkah aneh setelah mendadak pingsan di suatu malam.

Salah satu keanehan Sasha adalah saat Nina hendak menceritakan dongeng Puteri Salju, bocah itu menjawab, “Sudah ada yang menceritakannya!”. Ingin saya bertanya pada Fajar Umbara (Mata Batin, Sabrina, Ikut Aku ke Neraka) selaku penulis naskah. “Kenapa Sasha bicara begitu formal? Apa dia kerasukan hantu Jaka Sembung? Atau arwah guru les Bahasa Indonesia?”. Kasihan hantu-hantu di film horor medioker negeri ini yang terjebak stereotip, bahwa mereka selalu bicara formal.

Semua elemen Kelam tampil malas. Salah satunya tata rias dan kostum yang kualitas jongkoknya amat kentara sewaktu Nina mandi dalam kondisi masih memakai bulu mata lentik serta alis mata tebal. Pun manusia mana di muka bumi ini yang mandi sambil memakai semua cincinnya? Alurnya tidak kalah malas. Fokus Fajar Umbara hanyalah menyembunyikan jawaban misteri—yang sudah bisa ditebak sejak menit-menit awal—lewat beberapa elemen pencipta misleading nihil dampak yang dipaksakan hadir ketimbang membangun jalinan misteri mumpuni.

Kemalasan-kemalasan di atas berujung memproduksi kebodohan. Apa perlunya kemunculan Rico (Evan Sanders) si mantan pacar Nina? Kalau untuk menegaskan bahwa membalas mereka yang berbuat buruk padanya merupakan tujuan sang hantu, tidak bisakah memakai metode lain daripada sebuah kebetulan ala sinetron? Nantinya twist film ini terungkap ketika protagonis menemukan surat yang disembunyikan karakter lain. Sesulit apa melenyapkan surat? Dibakar, dibuang, disobek, dimakan. Ada sejuta cara.

Ah, sudahlah. Membahas alur hanya akan melahirkan pertanyaan-pertanyaan tak berujung. Mari membicarakan cara Erwin Arnada membangun teror. Dari total 75 menit, cuma satu adegan berdurasi 2 detik yang mampu menyulut sedikit kengerian, yaitu ketika si hantu bocah diam-diam melayang turun di samping Sasha. Dua detik dari total sekitar 4.500 detik penuh siksaan, sebelum ditutup oleh klimaks buru-buru yang berakhir secepat kita buang angin dan konklusi menggelikan, saat Aura Kasih menatap kosong ke arah kamera. Matanya bagai berteriak, “SEMOGA INI CEPAT BERAKHIR”. I feel you, sis.  

KUTUK (2019)

Pepatah “Pengalaman adalah guru yang terbaik” memang benar. Menjalani debut sebagai produser sekaligus penulis naskah, Shandy Aulia memanfaatkan pengalamannya bermain di setumpuk horor buruk, menerapkan segala kelemahan yang ia temui untuk membuat Kutuk semakin busuk. Sambutlah “The Greatest Hits of Shandy Aulia’s Terrible, Horrible, No Good, Very Bad Horror Movie”.

Shandy memerankan Maya, gadis muda yang baru bekerja di sebuah panti jompo yang cuma punya satu pegawai, yakni Gendhis (Vitta Mariana) si perawat judes. Sikap tak menyenangkan Gendhis bukan saja ditujukan pada Maya, pulaElena (Alice Norin) si pemilik panti yang ramah. Nantinya anda akan tahu, kejudesan Gendhis—yang mengingatkan akan kegalakan palsu para senior saat ospek—disertakan oleh naskahnya hanya untuk menambah daya kejut twist terkutuk yang menanti di belakang.

Maya sendiri merupakan karakter yang berjalan di garis tipis pemisah “keberanian” dan “kebodohan”. Belum seberapa lama ia menginjakkan kaki di panti, ia sudah melihat hantu dan mendengar suara-suara aneh. Bahkan selepas mulai bekerja, setiap hari, apa pun yang Maya kerjakan selalu membawanya menuju peristiwa mengerikan. Keputusan Maya untuk terus bertahan bukan membuktikan ia punya nyali atau memedulikan para lansia, melainkan bahwa otak Maya ternyata juga maya.

Menulis naskahnya bersama Fajar Umbara (Sabrina, Mata Batin 2, Ikut Aku ke Neraka), Shandy menerapkan ilmu yang sepanjang karirnya ia pelajari, yaitu “PLOT FILM HOROR HARUS DIKESAMPINGKAN, DISIMPAN SAMPAI BABAK KETIGA DI MANA SEMUA RAHASIA MENDADAK DIUNGKAP LEWAT SATU SEKUEN KALA KARAKTER UTAMANYA MENDAPAT PENGLIHATAN”. Di sini Shandy dan Fajar bukan membuat “plot twist”, melainkan “twist plot”, yaitu kondisi tatkala plot sebuah film dihimpatkan dalam satu twist.

Jadi, di samping pengalaman supernatural Maya, apa yang film terkutuk ini tawarkan selama 82 menit durasinya? Adakah misteri? Atau gejolak drama? Jawabannya adalah “OBROLAN”, saudara-saudara. Kutuk senang sekali menampilkan karakternya menyesap secangkir teh sembari melontarkan dialog membosankan yang dihantarkan oleh para pemainnya tanpa nyawa.

Shandy yang malang. Dia nampak begitu lelah memproduksi sambil menggarap naskah film ini, ia terlihat tak punya sisa tenaga untuk berakting, sehingga menyampaikan baris demi baris kalimat secara datar. Tidak heran. Pasti dia (bersama Bung Fajar tentunya) harus memeras otak, bekerja ekstra, supaya bisa mencetuskan ide penciptaan kalimat menggelikan seperti, “Dari awal kamu memang sudah sentimen sama saya” atau “Kamu pasti udah kena nyinyirnya Gendhis ya?”. Nganu....kenapa gaya bicara karakter yang biasanya formal mendadak berubah ya Mbak Shandy, Mas Fajar? Dan berlatar tahun berapa sebenarnya film ini?

Pun tidak mengejutkan saat nyaris mustahil menemukan teror mengerikan di sini, meski sutradara Rudi Aryanto (Surat Cinta untuk Starla the Movie,The Way I Love You) telah berbaik hati tidak berusaha menghancurkan gendang telinga kita, dengan mengatur volume musik secukupnya, terlebih di menit-menit awal tatkala keheningan kerap dipakai. Setidaknya, Rudi berhasil menyelipkan satu jump scare cerdik nan mengejutkan (clue: melibatkan cermin) berkat pilihan timing sempurna.

Bersenjatakan peristiwa berdarah, klimaksnya menyimpan potensi, walau sayang, berakhir problematik. Rupanya, si hantu hanya coba memberitahukan sesuatu kepada Maya. Di horor kebanyakan, hal itu tak bisa seketika dilakukan karena butuh diadakan ritual dan/atau menyediakan perantara. Tapi Kutuk tidak memerlukan itu. Jadi kenapa baru terjadi jelang akhir? Kenapa pula Maya yang terus diganggu bila ternyata si hantu bukan menargetkan nyawanya? Sungguh produk terkutuk.

IKUT AKU KE NERAKA (2019)

Ikut Aku ke Neraka adalah film di mana Sara Wijayanto muncul dalam kapasitas glorified cameo sebagai psikiater yang menyampaikan kepada bawahannya bahwa salah satu pasien yang mereka tangani mungkin bukan mengalami gangguan jiwa melainkan diganggu makhluk halus, sementara Ence Bagus memerankan dokter kandungan yang melontarkan lelucon di tengah proses persalinan. Tidak mengejutkan bila masih tersimpan banyak kengawuran lain.

Merupakan kali kedua Azhar Kinoi Lubis menyutradarai horor pasca Kafir: Bersekutu dengan Setan yang menyiratkan potensi meski eksekusinya jauh dari maksimal, Ikut Aku ke Neraka memang tontonan ngawur dan acak. Termasuk judulnya, yang mengingatkan pada Drag Me to Hell. Ketika film garapan Sam Raimi tersebut memang secara literal menampilkan usaha hantu menarik korbannya ke neraka, judul film ini tak ubahnya clickbait.

Film dibuka dengan memperlihatkan Sari (Cut Mini) di rumah sakit jiwa, kemudian melompat untuk mengajak kita bertemu gadis cilik yang bisa berinteraksi dengan hantu. Gadis itu tak lain adalah protagonis kita, Lita (Clara Bernadeth) yang kini sedang hamil tua. Hanya lewat beberapa menit awal saja, penuturan berantakan dari naskah buatan Fajar Umbara (Comic 8, Mata Batin, Sabrina) seketika dapat dideteksi.

Kebahagiaan Lita dan sang suami, Rama (Rendy Kjaernett) harus sirna akibat teror sesosok hantu, yang terjadi setelah Lita mengoperasi tanda lahir di punggungnya. Malang bagi Lita, Rama tak mempercayai ceritanya. Kemudian kisah bergerak menuju.....well,  sebenarnya untuk berpuluh-puluh menit ke depan, kisahnnya jalan di tempat. Lita diteror, melapor pada Rama yang tak menggubris ceritanya. Begitu seterusnya.

Narasi semacam itu bisa menarik jika berhasil mempermainkan perspektif penonton terkait kondisi psikis Lita. Tanpanya, hanya ada repetisi menyebalkan, sebab respon skeptis Rama praktis menghalangi alurnya bergerak maju. Keadaan membaik setelah Rama mengakui kebenaran cerita sang istri, lalu memanggil dukun bernama Adam (Teuku Rifnu Wikana), yang menjabarkan beberapa teori seputar alasan di balik teror si hantu. Teori yang alih-alih menjawab, justru menyulut pertanyaan lain, yang menunjukkan kebingungan Fajar membangun aturan mistisismenya sendiri.

Naskahnya bertambah remuk jika kita membahas soal diksi. Banyak kalimat, sebutlah, “Mari akhiri malapetaka ini”, “Dia adalah entitas independen”, dan lain sebagainya, takkan kita temukan dalam obrolan kasual di realita. Semakin terdengar aneh ketika penghantaran lemah para pemain turut berkontribusi.

Sekali waktu, kita diajak mengunjungi Sari yang tiap malam juga mendapatkan teror di bangsalnya. Tidak perlu merekrut nama sekaliber Cut Mini untuk peran sekecil Sari, tapi Ikut Aku Ke Neraka adalah film yang memasang Sara Wijayanto sebagai psikiater dan Ence Bagus sebagai dokter kandungan. Keputusan memakai Cut Mini jelas lebih bisa dipahami. Setidaknya sang aktris mampu jadi penampil terbaik, ketika jajaran cast lain tidak terlalu berkesan (Teuku Rifnu Wikana, Clara Bernadeth), atau justru bermain kaku (Rendy Kjaernett).

Beruntung, departemen penyutradaraan sedikit lebih baik. Azhar Kinoi Lubis masih sanggup membuat segelintir jump scare yang cukup efektif meningkatkan intensitas, biarpun metode kemunculan hantunya miskin kreativitas, dan masih terjebak dalam pemakaian tata suara berisik. Elemen soild lain adalah tata artistik dan visual, namun pada titik ini, nuansa vintage dari dekorasi serta pewarnaan tak lagi spesial akibat terlalu sering dieksploitasi pasca kesuksesan Pengabdi Setan (oleh horor produksi Rapi Films).

Ikut Aku ke Neraka ditutup oleh konklusi kelam yang gagal menusuk perasaan akibat ketidakmampuan memancing kepedulian terhadap jajaran karakternya. Seolah belum cukup, pemandangan konyol yang menggabungkan penulisan bodoh dan akting buruk, menyusul beberapa detik kemudian selaku mid-credits scene.

MATA BATIN 2 (2019)

Don’t change a winning formula”. Rocky Soraya menuruti petuah tersebut. Sebab buat apa berubah, bila sebuah formula mampu membawanya meraih rekor MURI sebagai sutradara pertama yang empat kali beruntun menghasilkan film jutaan penonton? Alhasil, kecuali Suzzanna: Bernapas dalam Kubur (2018), sejak The Doll (2016) Rocky selalu menerapkan templat sama. Dia hanya perlu mengganti nama karakter. Sisanya, dari konflik, twist, hingga resolusi, nyaris tanpa perbedaan.

Begitu pula di Mata Batin 2. Hidup Alia (Jessica Mila) boleh mengalami perubahan drastis pasca kematian adiknya, Abel (Bianca Hello), di tangan makhluk halus. Tapi peristiwa seterusnya masih berkutat soal teror hantu terhadap sepasang suami-istri, yang nantinya diketahui menyimpan rahasia. Rahasia yang oleh duet penulis naskah langganan Rocky, Riheam Junianti dan Fajar Umbara, dijadikan bahan baku twist khas opera sabun.

Pasangan itu adalah Laksmi (Sophia Latjuba) dan Fadli (Jeremy Thomas), pemilik panti asuhan megah bak kastil negeri dongeng, yang jadi tempat Alia menjalani kerja sosial dalam rangka melangkah menuju hidup baru. Tapi bukan itu saja tujuan protagonis kita. Lewat penerawangan yang didapat, Alia yakin panti asuhan tersebut memegang kunci jawaban misteri kematian Abel.

Di sana pula Alia bertemu Nadia (Nabilah Ayu), gadis dengan mata batin yang juga terbuka sepertinya. Berdua, mereka menyelidiki teror sesosok hantu bocah yang mengirim pesan melalui suara-suara di dinding. Suara itu lirih, berbanding terbalik dengan gebrakan-gebrakan efek suara berisik yang gemar menusuk telinga penonton tiap beberapa menit sekali. Sekecil apa pun kejanggalan terjadi, Mata Batin 2 selalu menaikkan volume ke titik maksimum.

Tata suara garapan Khikmawan Santosa cuma mempedulikan volume, hingga lalai mengatur agar dialognya mudah didengar. Berkali-kali saya kesulitan mencerna kaliamt apa yang meluncur dari mulut jajaran pemainnya. Sementara soal dampaknya terhadap teror, beberapa momen dengan potensi kengerian cukup tinggi berujung kehilangan daya akibat distraksi efek suara meledak-ledak filmnya.

Mata Batin 2 merupakan titik nadir seorang Rocky Soraya. Sebelum ini, walau menerapkan pola mirip, Rocky kentara masih mencurahkan segenap daya upaya. Kali ini, ketimbang presentasi kekhasan, Rocky bagai membuat parodi bagi cirinya sendiri. “Film saya harus mengandung adegan kaca pecah, gerakan kamera cepat,  lalu ditutup banjir darah”, mungkin begitu ia pikir. Mata Batin 2 begitu malas, berlawanan dengan karya-karya Rocky sebelunya, tak satu pun jump scare berhasil, apalagi melekat di ingatan begitu durasi berakhir.

Metode menumpahkan darahnya pun serupa, di mana salah satu karakter dirasuki arwah pembawa dendam guna membunuh orang lain atau melukai diri sendiri. Caranya? Tentu saja memakai tusukan pisau seperti biasa. Beruntung, momen gore penutupnya lebih inovatif. Kuantitas banjir darahnya menurun, namun dampaknya lebih besar berkat keberanian Rocky mengeskalasi tingkat sadisme.

Sialnya, keberhasilan parade kekerasan film ini diganggu upaya memantik emosi lewat dramatisasi menggelikan dilengkapi ceramah perihal “larangan membalas kejahatan dengan kejahatan”, yang idealnya hanya dapat ditemui dalam sinetron religi bertema alam baka. Bahkan penampilan solid Sophia Latjuba maupun Jessica Mila yang makin bisa diandalkan sebagai scream queen tak kuasa menolong konklusinya. Saya berharap Rocky mulai perlahan mencoba gaya baru. Tapi dengan perolehan lebih dari 53 ribu penonton di hari pertama, tipis kemungkinan harapan tersebut jadi kenyataan.

SABRINA (2018)

Ada tiga jenis template. Pertama, yang diulang karena digandrungi publik. Kedua, yang diulang karena disukai pembuatnya kemudian menjadi gaya. Ketiga, yang diawali jenis kedua, tapi begitu laris manis, pengulangannya dilakukan atas dasar poin pertama. Rocky Soraya rasanya masuk jenis ketiga. The Doll (2016) memberinya tempat menumpahkan segala elemen favoritnya (trik ala James Wan bertemu banjir darah), tapi begitu lebih dari 550 ribu penonton sukses didapat, tiada alasan meninggalkan usungan formula itu. Apalagi setahun berselang, Mata Batin dan The Doll 2 masing-masing menembus angka 1,2 juta penonton.

Saat banyak pihak memuji Mata Batin, saya justru sampai pada titik jenuh, sebab Rocky mulai repetitif. Karyanya selalu dibuka oleh first act lambat minim penampakan—yang mana langkah berani dan patut diapresiasi—berlanjut ke second act berupa deretan jump scare medioker, hingga ditutup klimaks berdarah-darah. Sabrina, selaku spin-off seri The Doll yang makin memperlihatkan ambisi Rocky mengikuti jejak James Wan dengan seri The Conjuring, memakai pola sama. Tapi kentara terdapat perbaikan di sana-sini. Belum menyeuruh, namun satu langkah kecil jauh lebih berarti daripada keengganan melangkah.

Maira (Luna Maya) pun melangkah maju ketika menikahi Aiden (Christian Sugiono), meninggalkan tragedi dalam The Doll 2 di masa lalu. Keduanya belum dikaruniai momongan, tapi ada Vanya (Richelle Georgette Skornicki), keponakan Aiden yang mereka rawat pasca kedua orang tuanya meninggal. Mencuri hati Vanya yang masih selalu merindukan mendiang ibunya tidaklah mudah. Karena itu, Maira memberikan boneka Sabrina edisi kedua yang khusus dibuat Aiden (dia pemilik pabrik mainan) untuk mengenang Kayla, puteri Maira yang sudah tiada. Harapannya, sebagaimana Sabrina edisi pertama dahulu bagi Kayla, boneka baru ini bisa menemani sekaligus menguatkan Vanya.

Memasuki kemunculan keduanya, desain Sabrina makin mengerikan, yang berarti, semakin tak logis bila disukai bocah. Sepertinya sekarang adalah waktunya kita menyimpan rapat-rapat ekspektasi melihat boneka Sabrina yang lebih “masuk akal”. Bedanya, kali ini boneka itu tidak langsung menjadi sumber masalah, melainkan permainan memanggil arwah bernama Pensil Charlie, yang Vanya pakai guna bertemu arwah sang ibu. Bisa ditebak, justru sosok gaib jahat yang hadir. Baghiah namanya. Salah satu anak iblis. Apakah ia mempunyai hubungan darah dengan Ghawiah dari The Doll pertama? Entahlah.

Paruh awalnya dibungkus tempo cukup lambat pula minim teror, yang sayangnya urung ditunjang naskah solid di tatanan drama, sehingga pondasi kisah kekeuargaan serta gejolak batin si paranormal, Laras (Sara Wijayanto), yang kini telah menikahi sesama paranormal bernama Raynard (Jeremy Thomas), berakhir lemah. Gagal pula usahan menyentuh hati lewat porsi drama tersebut, walau untuk subplot mengenai Laras, akting kurang meyakinkan Sara Wijayanto turut jadi penyebab.

Singkat cerita, bermain Pensil Charlie membuat Vanya mampu berkomunikasi dengan sang ibu, atau tepatnya, sosok yang ia percaya merupakan sang ibu. Khawatir akan kondisi bocah itu, Maira dan Aiden sepakat berlibur bertiga. Liburan itu juga titik balik filmnya, di mana tempo dipercepat, sementara teror mulai menyergap. Kali ini, Rocky dibantu tim efek spesialnya berkenan memutar otak demi variasi. Beberapa trik memikat, dari adegan “Edward Mordrake-esque” sampai “kesurupan pertama” menyita atensi saya. Beberapa kali bulu kuduk berdiri, bukan karena seram, melainkan dipicu kekaguman atas aspek teknisnya. Those weren’t scary, yet fun and highly admirable. Dipadu kemampuan sutradara memancing intensitas melalui nuansa chaotic, jadilah Sabrina suatu perjalanan seru. Bila diibaratkan musik, Rocky bak tengah menggeber musik rock beroktan tinggi.

Selain faktor teknis, repetisi turut diminalisir oleh naskah karya Fajar Umbara (Comic 8, The Doll 2) dan Riheam Junianti (The Doll 2, Mata Batin) lewat disertakannya beragam lokasi, yang berujung menyediakan beragam metode berbeda pula untuk meneror. Pantai, penginapan, pabrik, dan pastinya rumah. Setidaknya terjadi pergantian suasana sehingga mata kita takkan lelah, walau dari alur, naskahnya sendiri seperti carbon copy dari seri-seri sebelumnya, termasuk twist-nya.

Mencapai klimaks, Sabrina seolah kehabisan amunisi trik, ditambah kerap terlampau panjang di banyak titik. Kita diajak berdiam terlalu lama mendengar Laras dan Raynard merapal mantra berupa puja-puji terhadap Yang Maha Kuasa, sama seperti first act-nya yang terus-terusan menyeret kita melihat Vanya menjalankan aplikasi pendeteksi han...maaf, maksud saya entitas. Rocky dan tim bukannya menyerah begitu saja. Tampak usaha menambah varian peristiwa melalui bumbu aksi yang sayangnya, tanpa koreografi mumpuni, plus lagi-lagi performa kurang meyakinkan Sara Wijayanto mengayunkan senjata. Sebaliknya, Luna Maya terlihat bersenang-senang melakoni akting kesurupan gila nan over-the-top sebagaimana dalam The Doll 2.

Beberapa kelemahan sudah teratasi, kini pekerjaan rumah Rocky Soraya tinggal terus mengeksplorasi variasi trik jump scare dan tusuk-menusuk supaya tidak stagnan, mencari naskah dengan pondasi solid, dan bersedia memadatkan momen-momennya agar tak kehilangan momentum. Sebab konklusinya, yang berusaha menutup kisah di nada melodrama, pun tidak kalah berlarut-larut bagai akan berjalan selamanya. Namun seperti saya ungkapkan, Sabrina memang bukan lompatan, melainkan langkah, yang meski kecil, asalkan konsisten berjalan ke depan, bukanlah suatu persoalan. 

MATA BATIN (2017)

Sinema horor tanah air sedang marak oleh karakter dengan kemampuan melihat makhluk halus. Diawali Mereka Yang Tak Terlihat yang mengedepankan drama keluarga, diikuti Keluarga Tak Kasat Mata yang entah maunya apa, kini Mata Batin memilih meletakkan fokus pada penelusuran sisi supranatural yang didukung keterlibatan parapsikolog Citra Prima sebagai pemeran pendukung. Jarangnya perjalanan menyelami dunia lain demi memahami seluk-beluk mistik dalam film kita memberi potensi pembeda, yang sayangnya, kembali dikalahkan obligasi menyajikan repetisi trik-trik teror murahan, meruntuhkan perbedaan tersebut. 

Bersama Davin (Denny Sumargo) sang kekasih, Alia (Jessica Mila) memilih pulang dari merantau di Thailand pasca kedua orang tuanya tewas dalam kecelakaan lalu lintas, demi menjaga adiknya, Abel (Bianca Hello). Gagasan kembali ke rumah masa kecil tidak Abel sambut positif, sebab di situlah pernah terjadi peristiwa traumatis, tatkala sesosok makhluk halus menyerangnya. Abel sendiri mampu melihat yang tak terlihat karena mata batinnya terbuka sejak lahir. Menolak percaya, Alia meminta Windu (Citra Prima), seorang paranormal, membuka mata batinnya. Tidak butuh waktu lama sampai Alia mengalami teror serupa Abel, yang makin lama makin berbahaya.
Dwilogi The Doll membawa Rocky Soraya menuju kemantapan gaya, yang dia terapkan pula di Mata Batin. Kekerasan berdarah di mana sekali tusukan pisau takkan cukup merenggut nyawa manusia tetap menjadi titik tertinggi, meski kali ini porsinya tak mendominasi babak akhir. Begitu juga pengadeganan berbasis kekacauan suasana yang mengandalkan gerak kamera dinamis garapan Asep Kalila, kolaborator langganannya sedari The Doll. Setidaknya Mata Batin tampil berenergi berkat kedua aspek itu, sekaligus memunculkan harapan, suatu hari kelak Rocky berminat membuat film slasher.

Bersenjatakan energi sedemikian tinggi, Mata Batin ibarat manusia dengan raga solid. Namun tidak jiwanya, ketika cara menakut-nakuti Rocky masih berkutat di metode penampakan gamblang bersuara berisik, ditambah desain hantu yang menganggap bahwa kengerian berbanding lurus dengan kerusakan wajah. Bisa efektif untuk beberapa penonton, tapi saat pengulangan-pengulangan ngotot dipertahankan, timbul kelelahan juga kebosanan. Pun klimaks "dunia lain" miliknya hadir tumpul bagai rumah hantu pasar malam murahan. Sial bagi Rocky, jump scare terbaik yang melibatkan kain putih belum lama ini sudah kita temui dalam Pengabdi Setan, sehingga dampaknya tidak sekuat harapan. 
Citra Prima menuturkan rangkaian pemahaman terkait aturan serta ragam sisi alam gaib dan mata batin. Menarik disimak, tapi kesan "sekilas info" gagal ditampik karena kurang piawaianya duo penulis skenario, Fajar Umbara dan Riheam Junianti, menyusun informasi-informasi berharga tersebut menjadi struktur alur yang bisa membedakan Mata Batin dengan judul-judul bertema serupa di atas. Mengenai beberapa twist, naskahnya pun kedodoran. Ada yang meninggalkan setumpuk lubang logika menganga, ada pula yang bagai kurang akal dalam caranya mengungkap fakta (identitas perampok bertopeng). 

Mata Batin sama sekali tidak buruk. Jessica Mila mulus merespon ragam situasi menyeramkan yang Alia alami, bukti dirinya pantas diberi proyek berkelas pasca rentetan film buruk sejak Pacarku Anak Koruptor. Seperti umumnya produksi Hitmaker Studios, tata artistik Mata Batin cukup memuaskan mata, termasuk segelintir efek visual yang walau jauh dari kata sempurna, sama sekali tidak memalukan. Mata Batin is not an embarassing effort, just repetitive, uncreative, and frustratingly boring. 

THE DOLL 2 (2017)

Danur: I Can See Ghosts, The Curse, Jailangkung. Ketiganya termasuk horor lokal paling ditunggu karena potensi besar serta digawangi nama-nama tak sembarangan. Sayangnya ada satu persamaan lain yakni sama-sama berkualitas buruk, mengecewakan meski sejatinya digarap sungguh-sungguh. Walau demikian dua di antaranya sukses secara finansial pun nampaknya memancing kembali animo publik terhadap horor. Ikut mencoba peruntungan adalah The Doll 2 yang film pertamanya mengumpulkan lebih dari 550 ribu penonton dan bertengger di posisi 15 film Indonesia terlaris 2016. 

Serupa pendahulunya, film karya sutradara Rocky Soraya ini masih mengumbar kebrutalan, mengandalkan sadisme eksplisit sebagai senjata. Prolognya berurutan menampilkan karakter paranormal Bu Laras (Sara Wijayanto) dari film pertama dan pasangan suami istri Aldo (Herjunot Ali) dan Maira (Luna Maya) beserta puteri tunggal mereka, Kayla (Shofia Shireen). Tanpa basa-basi Rocky memacu filmnya, mengumbar darah sejak menit pertama. Bukan kekerasan kosong, melainkan punya shock value yang salah satu momennya memberi statement tegas: sang roh jahat begitu kejam, bukan hantu narsis yang sekedar doyan muncul tiba-tiba.
Suatu malam kecelakaan lalu lintas yang secara logika mustahil terjadi kecuali ada peranan alkohol merenggut nyawa Kayla, membenamkan Maira dalam depresi. Atas saran sahabatnya yang tidak percaya hal-hal mistis, Elsa (Maria Sabta), Maira mencoba memanggil arwah sang puteri memakai boneka kesayangannya, Sabrina  yang lebih tak masuk akal jadi mainan anak dan membuat Ghawiyah nampak menggemaskan  sebagai medium. Dari situlah teror bermula, menggiring Maira menuju peristiwa-peristiwa mengerikan, seperti salah satunya kemunculan mendadak Sabrina di antara tumpukan cucian yang entah bagaimana, seluruhnya berwarna putih. Menolak percaya cerita sang istri, Aldo membawa Maire bertemu Dini (Mega Caferansa), dokter spesialis kejiwaan yang daripada membimbing justru "menyerang" dan menghakimi "halusinasi" Maira. 
Paragraf di atas mendeskripsikan kelemahan paling fatal The Doll 2 yaitu kebodohan luar biasa naskah garapan Riheam Junianti (Sunshine Becomes You, The Doll, Tarot) dan Fajar Umbara (trilogi Comic 8). Film horor bisa dimaafkan bila tampil bodoh, namun lain cerita saat kebodohan tersebut hadir pada tiap titik penting, menghadirkan ganjalan untuk bisa sepenuhnya menikmati barisan kengerian. Melanjutkan jejak pendahulunya, The Doll 2 menolak eksploitasi jump scare. Kali ini hasilnya lebih baik. Sepanjang second act, ketimbang sekedar melambatkan alur kosong, ada usaha menyelipkan bobot dramatik berupa perjuangan seorang ibu menghadapi duka kehilangan buah hati. Luna Maya pun memberi suntikan nyawa melalui kesanggupan mencurahkan keputusasaan bercampur pilu. Walau akhirnya kesan draggy tetap menyeruak akibat tuturan yang cuma menjangkau permukaan. 

Meski jump scare-nya sempat formulaik, Rocky mampu menyusun beberapa hentakan tak terduga yang efektif memberi daya kejut. Tapi keunggulan terbesarnya adalah teror action-oriented pemicu adrenalin yang berkulminasi di klimaks. Disokong gerak kamera liar Asep Kalila yang mendukung terciptanya suasana chaotic dan gemuruh musik dengan porsi tepat gubahan Anto Hoed, sang sutradara menyajikan puncak intensitas yang acap kali menyinggung ranah kejar-kejaran ala slasher. Membanjiri lokasi dengan darah hasil tusukan berantai atau benturan ke beragam benda, di tangan Rocky tubuh manusia dijadikan target kekerasan tak berujung, seolah memfasilitasi hasrat sadisme dalam diri penonton. Berlangsung cukup lama (sekitar 30 menit), third act-nya adalah sajian bernyali yang jarang ditemui di horor lokal belakangan ini. 


Review film ini tersedia juga di: http://tz.ucweb.com/7_1C1tE