Tampilkan postingan dengan label Fajar Umbara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fajar Umbara. Tampilkan semua postingan
SI MANIS JEMBATAN ANCOL (2019)
Rasyidharry
Terlepas dari hasil akhirnya, “Anggy
Umbara” dan “main aman” tidak pernah eksis secara bersamaan. Begitu pula di Si Manis Jembatan Ancol, remake dari
film berjudul sama rilisan tahun 1973, yang dibuat berdasarkan urban legend masyarakat Betawi, meski
masyarakat umum mungkin lebih akrab dengan dua musim sinetron yang begitu populer
pada era 90-an, hingga melahirkan satu lagi adaptasi layar lebar di tahun 1994.
Melalui naskah hasil tulisannya bersama Fajar Umbara (Mata Batin, Sabrina) dan Isman HS (5 Cowok Jagoan: Rise of the Zombies, Flight 555), Anggy melakukan
modernisasi.
Berlatar tahun 1973, kisahnya
berpusat pada keretakan rumah tangga Maryam (Indah Permatasari) dan Roy (Arifin
Putra), terlebih setelah bisnis Roy berantakan sampai membuatnya terlilit hutang
besar pada Bang Ozi (Ozy Syahputra), seorang lintah darat. Sebagai istri,
Maryam merasa kurang dihargai, namun tetap berusaha menjaga keharmonisan rumah
tangga, bahkan setelah kedatangan pelukis bernama Yudha (Randy Pangalila) yang
menjadikan Maryam sebagai objek. Si Manis jatuh hati, namun yang hadir justru
tragedi.
Tragedi yang tidak datang secepat
itu, mengingat filmnya lebih banyak berkutat dalam drama sampai sekitar 50
menit durasi (dari total 117 menit), ketika kita akhirnya dibawa mengunjungi
jembatan Ancol yang legendaris. Maksudnya baik. Supaya penderitaan Maryam,
hubungan terlarangnya dengan Yudha, juga kesulitan finansial Roy tergali utuh.
Tapi apakah terlalu panjang? Ya. Bisakah dipadatkan? Sangat bisa. Perjalanan
sejam pertamanya cukup bertele-tele, menampilkan banyak hal tak perlu, seperti
keputusan Bang Ozi terus memberi tambahan waktu bagi Roy atau red herring terkait keangkeran rumah
Yudha.
Setidaknya selama itu, hampir
seluruh departemen berkontribusi maksimal. Anggy semakin matang (kalau tak bisa
disebut dewasa) baik urusan menulis maupun menyutradarai, dengan lebih
berkonsentrasi pada merapikan aliran alur ketimang melempar gimmick. Tata dekorasi plus kostum pembangun
latar masa lalunya pun cukup konsisten dan memanjakan mata, apalagi gaun merah
Maryam yang membuatnya otomatis jadi pusat atensi di tiap kemunculan. Satu
elemen yang mengganggu adalah rambut palsu Randy Pangalila, yang kala digerai jauh
dari kesan alamiah, tapi kalau diikat, sosoknya bak pendekar dari era Angling
Dharma.
Melihat pilihan artistik, tema
balas dendam, serta statusnya sebagai remake
judul klasik, mungkin Si Manis
Jembatan Ancol akan mengingatkan banyak penonton kepada Suzzanna: Bernapas Dalam Kubur (2018).
Ditambah lagi keberadaan unsur komedi yang sayangnya hanya berhasil memancing
tawa bila banyolannya terlontar dari mulut Arief Didu sebagai Bang Kribo si
pemilik warung.
Paruh kedua sepenuhnya
mengesampingkan plot, untuk merangkai menit-menitnya menggunakan pembantaian
demi pembantaian yang dilakukan arwah Maryam selepas ia tewas di tangan Bang Ozi
dan anak buahnya. Anggy menggabungkan jump scare (termasuk di lima adegan mimpi yang pengulangannya tak
sampai mengesalkan karena punya pemicu jelas: ketakutan dan rasa bersalah) dan elemen
kekerasan. Agak disayangkan saat beberapa sadisme terjadi off-screen (mengacu pada bumper
LSF, kemungkinan terdapat revisi), meski kita tetap disuguhi aftermath brutal yang menampilkan
kondisi jenazah mengenaskan.
Mengandalkan kesan misterius, kesenduan,
serta kemarahan yang menyatu di sorot matanya, Indah Permatasari berhasil
menghapus bayang-bayang para pemeran Si Manis sebelumnya dengan, melahirkan
versinya sendiri yang sejalan dengan modernisasi Anggy. Sementara Ozy Syahputra,
dengan kumis dan berewok ditambah aksi kejam karakternya, melepaskan diri dari kecentilan
sosok Karina dalam sinetronnya dulu. Bahkan di sini Ozy diberikan salah satu
momen paling mencengangkan sepanjang film, yang menegaskan upaya Anggy
bermain-main dengan stereotip gender dalam horor.
Di ranah dunia, menyelipkan empowerment dalam horor bukan perkara
baru, tapi masih langka di perfilman lokal. Anggy dan tim penulisnya berani
melakukan itu, termasuk melalui twist yang
tak kalah berani bahkan berpotensi memecah opini penonton. Saya menyukainya.
Sebuah langkah kreatif meski meninggalkan beberapa lubang alur. Masalah justru
muncul terkait keputusan filmnya tak memberi kesempatan si tokoh utama
menuntaskan segalanya. Selain Maryam berhak mendapatkannya, keputusan tersebut
berlawanan dengan pesan empowerment-nya.
Andai itu dilakukan, niscaya Si Manis
Jembatan Ancol akan jauh lebih memuaskan.
Desember 27, 2019
Anggy Umbara
,
Arief Didu
,
Arifin Putra
,
Cukup
,
Fajar Umbara
,
horror
,
Indah Permatasari
,
Indonesian Film
,
Isman HS
,
Ozy Syahputra
,
Randy Pangalila
,
REVIEW
KELAM (2019)
Rasyidharry
Setidaknya Kelam adalah film yang jujul secara penjudulan. Kalau kualitasnya terus
begini, masa depan horor kita memang KELAM. Dan jika rutin mengikuti
perkembangan horor lokal, anda bisa menebak apa yang ditawarkan karya teranyar
Erwin Arnada (Rumah di Seribu Ombak, Guru
Ngaji, Tusuk Jelangkung di Lubang Buaya) ini. Ambil contoh departemen musik
dan tata suara. Dentingan piano bernada minor ala kadarnya mengiri momen
dramatik berisi obrolan memosankan, dentuman berisik di tiap jump scare, lalu ketika film berakhir
sayup-sayup terdengar teriakan penyesalan dari batin anda setelah membuang
waktu juga uang.
Kelam ibarat mayat hidup. Film yang dibuat tanpa semangat, tanpa
usaha menjadi lebih baik. Semua bermain sesuai pola. Sebuah pola buruk yang
didasari pemikiran “Sejelek ini aja bisa laku kan?”. Bahkan jajaran pemainnya,
termasuk Aura Kasih, tampak luar biasa bosan, seolah ingin sesegera mungkin
menyelesaikan proses produksi.
Aura Kasih memerankan Nina, yang
kembali pulang setelah delapan tahun, ketika sang ibu, Dewi (Rina Hassim),
terserang stroke ringan. Ada perselisihan masa lalu yang jadi penyebab retaknya
hubungan ibu dan anak itu, namun Nina menyembunyikannya, termasuk dari Fenny
(Amanda Manopo), adiknya. Datang bersama puteri kecilnya, Sasha (Giselle
Tambunan), Nina berharap bisa menyambung tali silaturahmi. Tapi rencana
tersebut buyar ketika Sasha mulai bertingkah aneh setelah mendadak pingsan di
suatu malam.
Salah satu keanehan Sasha adalah
saat Nina hendak menceritakan dongeng Puteri Salju, bocah itu menjawab, “Sudah
ada yang menceritakannya!”. Ingin saya bertanya pada Fajar Umbara (Mata Batin, Sabrina, Ikut Aku ke Neraka)
selaku penulis naskah. “Kenapa Sasha bicara begitu formal? Apa dia kerasukan
hantu Jaka Sembung? Atau arwah guru les Bahasa Indonesia?”. Kasihan hantu-hantu
di film horor medioker negeri ini yang terjebak stereotip, bahwa mereka selalu
bicara formal.
Semua elemen Kelam tampil malas. Salah satunya tata rias dan kostum yang
kualitas jongkoknya amat kentara sewaktu Nina mandi dalam kondisi masih memakai
bulu mata lentik serta alis mata tebal. Pun manusia mana di muka bumi ini yang
mandi sambil memakai semua cincinnya? Alurnya tidak kalah malas. Fokus Fajar
Umbara hanyalah menyembunyikan jawaban misteri—yang sudah bisa ditebak sejak
menit-menit awal—lewat beberapa elemen pencipta misleading nihil dampak yang dipaksakan hadir ketimbang membangun jalinan
misteri mumpuni.
Kemalasan-kemalasan di atas
berujung memproduksi kebodohan. Apa perlunya kemunculan Rico (Evan Sanders) si
mantan pacar Nina? Kalau untuk menegaskan bahwa membalas mereka yang berbuat
buruk padanya merupakan tujuan sang hantu, tidak bisakah memakai metode lain
daripada sebuah kebetulan ala sinetron? Nantinya twist film ini terungkap ketika protagonis menemukan surat yang
disembunyikan karakter lain. Sesulit apa melenyapkan surat? Dibakar, dibuang,
disobek, dimakan. Ada sejuta cara.
Ah, sudahlah. Membahas alur hanya akan melahirkan pertanyaan-pertanyaan tak berujung. Mari membicarakan
cara Erwin Arnada membangun teror. Dari total 75 menit, cuma satu adegan
berdurasi 2 detik yang mampu menyulut sedikit kengerian, yaitu ketika si hantu
bocah diam-diam melayang turun di samping Sasha. Dua detik dari total sekitar
4.500 detik penuh siksaan, sebelum ditutup oleh klimaks buru-buru yang berakhir
secepat kita buang angin dan konklusi menggelikan, saat Aura Kasih menatap
kosong ke arah kamera. Matanya bagai berteriak, “SEMOGA INI CEPAT BERAKHIR”. I feel you, sis.
Oktober 26, 2019
Amanda Manopo
,
Aura Kasih
,
Erwin Arnada
,
Evan Sanders
,
Fajar Umbara
,
Giselle Tambunan
,
horror
,
Indonesian Film
,
REVIEW
,
Rina Hassim
,
Sangat Jelek
KUTUK (2019)
Rasyidharry
Pepatah “Pengalaman adalah guru
yang terbaik” memang benar. Menjalani debut sebagai produser sekaligus penulis
naskah, Shandy Aulia memanfaatkan pengalamannya bermain di setumpuk horor
buruk, menerapkan segala kelemahan yang ia temui untuk membuat Kutuk semakin busuk. Sambutlah “The Greatest Hits of Shandy Aulia’s Terrible, Horrible, No Good, Very Bad Horror Movie”.
Shandy memerankan Maya, gadis muda
yang baru bekerja di sebuah panti jompo yang cuma punya satu pegawai, yakni
Gendhis (Vitta Mariana) si perawat judes. Sikap tak menyenangkan Gendhis bukan
saja ditujukan pada Maya, pulaElena (Alice Norin) si pemilik panti yang ramah.
Nantinya anda akan tahu, kejudesan Gendhis—yang mengingatkan akan kegalakan
palsu para senior saat ospek—disertakan oleh naskahnya hanya untuk menambah
daya kejut twist terkutuk yang
menanti di belakang.
Maya sendiri merupakan karakter
yang berjalan di garis tipis pemisah “keberanian” dan “kebodohan”. Belum
seberapa lama ia menginjakkan kaki di panti, ia sudah melihat hantu dan mendengar
suara-suara aneh. Bahkan selepas mulai bekerja, setiap hari, apa pun yang Maya
kerjakan selalu membawanya menuju peristiwa mengerikan. Keputusan Maya untuk
terus bertahan bukan membuktikan ia punya nyali atau memedulikan para lansia,
melainkan bahwa otak Maya ternyata juga maya.
Menulis naskahnya bersama Fajar
Umbara (Sabrina, Mata Batin 2, Ikut Aku
ke Neraka), Shandy menerapkan ilmu yang sepanjang karirnya ia pelajari,
yaitu “PLOT FILM HOROR HARUS DIKESAMPINGKAN, DISIMPAN SAMPAI BABAK KETIGA DI MANA
SEMUA RAHASIA MENDADAK DIUNGKAP LEWAT SATU SEKUEN KALA KARAKTER UTAMANYA
MENDAPAT PENGLIHATAN”. Di sini Shandy dan Fajar bukan membuat “plot twist”, melainkan “twist plot”, yaitu kondisi tatkala plot
sebuah film dihimpatkan dalam satu twist.
Jadi, di samping pengalaman
supernatural Maya, apa yang film terkutuk ini tawarkan selama 82 menit
durasinya? Adakah misteri? Atau gejolak drama? Jawabannya adalah “OBROLAN”,
saudara-saudara. Kutuk senang sekali
menampilkan karakternya menyesap secangkir teh sembari melontarkan dialog
membosankan yang dihantarkan oleh para pemainnya tanpa nyawa.
Shandy yang malang. Dia nampak
begitu lelah memproduksi sambil menggarap naskah film ini, ia terlihat tak
punya sisa tenaga untuk berakting, sehingga menyampaikan baris demi baris
kalimat secara datar. Tidak heran. Pasti dia (bersama Bung Fajar tentunya) harus
memeras otak, bekerja ekstra, supaya bisa mencetuskan ide penciptaan kalimat
menggelikan seperti, “Dari awal kamu memang sudah sentimen sama saya” atau “Kamu
pasti udah kena nyinyirnya Gendhis ya?”. Nganu....kenapa gaya bicara karakter
yang biasanya formal mendadak berubah ya Mbak Shandy, Mas Fajar? Dan berlatar
tahun berapa sebenarnya film ini?
Pun tidak mengejutkan saat nyaris
mustahil menemukan teror mengerikan di sini, meski sutradara Rudi Aryanto (Surat Cinta untuk Starla the Movie,The Way I
Love You) telah berbaik hati tidak berusaha menghancurkan gendang telinga
kita, dengan mengatur volume musik secukupnya, terlebih di menit-menit awal
tatkala keheningan kerap dipakai. Setidaknya, Rudi berhasil menyelipkan satu jump scare cerdik nan mengejutkan (clue: melibatkan cermin) berkat pilihan timing sempurna.
Bersenjatakan peristiwa berdarah,
klimaksnya menyimpan potensi, walau sayang, berakhir problematik. Rupanya, si
hantu hanya coba memberitahukan sesuatu kepada Maya. Di horor kebanyakan, hal
itu tak bisa seketika dilakukan karena butuh diadakan ritual dan/atau
menyediakan perantara. Tapi Kutuk tidak
memerlukan itu. Jadi kenapa baru terjadi jelang akhir? Kenapa pula Maya yang
terus diganggu bila ternyata si hantu bukan menargetkan nyawanya? Sungguh
produk terkutuk.
Juli 28, 2019
Alice Norin
,
Fajar Umbara
,
horror
,
Indonesian Film
,
REVIEW
,
Rudi Aryanto
,
Sangat Jelek
,
Shandy Aulia
,
Vitta Mariana
IKUT AKU KE NERAKA (2019)
Rasyidharry
Ikut Aku ke Neraka adalah film di mana Sara Wijayanto muncul dalam
kapasitas glorified cameo sebagai
psikiater yang menyampaikan kepada bawahannya bahwa salah satu pasien yang
mereka tangani mungkin bukan mengalami gangguan jiwa melainkan diganggu makhluk
halus, sementara Ence Bagus memerankan dokter kandungan yang melontarkan
lelucon di tengah proses persalinan. Tidak mengejutkan bila masih tersimpan
banyak kengawuran lain.
Merupakan kali kedua Azhar Kinoi
Lubis menyutradarai horor pasca Kafir:
Bersekutu dengan Setan yang menyiratkan potensi meski eksekusinya jauh dari
maksimal, Ikut Aku ke Neraka memang
tontonan ngawur dan acak. Termasuk judulnya, yang mengingatkan pada Drag Me to Hell. Ketika film garapan Sam
Raimi tersebut memang secara literal menampilkan usaha hantu menarik korbannya
ke neraka, judul film ini tak ubahnya clickbait.
Film dibuka dengan memperlihatkan
Sari (Cut Mini) di rumah sakit jiwa, kemudian melompat untuk mengajak kita
bertemu gadis cilik yang bisa berinteraksi dengan hantu. Gadis itu tak lain
adalah protagonis kita, Lita (Clara Bernadeth) yang kini sedang hamil tua.
Hanya lewat beberapa menit awal saja, penuturan berantakan dari naskah buatan
Fajar Umbara (Comic 8, Mata Batin,
Sabrina) seketika dapat dideteksi.
Kebahagiaan Lita dan sang suami,
Rama (Rendy Kjaernett) harus sirna akibat teror sesosok hantu, yang terjadi setelah
Lita mengoperasi tanda lahir di punggungnya. Malang bagi Lita, Rama tak
mempercayai ceritanya. Kemudian kisah bergerak menuju.....well, sebenarnya untuk
berpuluh-puluh menit ke depan, kisahnnya jalan di tempat. Lita diteror, melapor
pada Rama yang tak menggubris ceritanya. Begitu seterusnya.
Narasi semacam itu bisa menarik
jika berhasil mempermainkan perspektif penonton terkait kondisi psikis Lita. Tanpanya,
hanya ada repetisi menyebalkan, sebab respon skeptis Rama praktis menghalangi
alurnya bergerak maju. Keadaan membaik setelah Rama mengakui kebenaran cerita
sang istri, lalu memanggil dukun bernama Adam (Teuku Rifnu Wikana), yang
menjabarkan beberapa teori seputar alasan di balik teror si hantu. Teori yang
alih-alih menjawab, justru menyulut pertanyaan lain, yang menunjukkan
kebingungan Fajar membangun aturan mistisismenya sendiri.
Naskahnya bertambah remuk jika kita
membahas soal diksi. Banyak kalimat, sebutlah, “Mari akhiri malapetaka ini”, “Dia
adalah entitas independen”, dan lain sebagainya, takkan kita temukan dalam
obrolan kasual di realita. Semakin terdengar aneh ketika penghantaran lemah
para pemain turut berkontribusi.
Sekali waktu, kita diajak
mengunjungi Sari yang tiap malam juga mendapatkan teror di bangsalnya. Tidak perlu
merekrut nama sekaliber Cut Mini untuk peran sekecil Sari, tapi Ikut Aku Ke Neraka adalah film yang
memasang Sara Wijayanto sebagai psikiater dan Ence Bagus sebagai dokter
kandungan. Keputusan memakai Cut Mini jelas lebih bisa dipahami. Setidaknya
sang aktris mampu jadi penampil terbaik, ketika jajaran cast lain tidak terlalu berkesan (Teuku Rifnu Wikana, Clara
Bernadeth), atau justru bermain kaku (Rendy Kjaernett).
Beruntung, departemen
penyutradaraan sedikit lebih baik. Azhar Kinoi Lubis masih sanggup membuat segelintir
jump scare yang cukup efektif
meningkatkan intensitas, biarpun metode kemunculan hantunya miskin kreativitas,
dan masih terjebak dalam pemakaian tata suara berisik. Elemen soild lain adalah
tata artistik dan visual, namun pada titik ini, nuansa vintage dari dekorasi serta pewarnaan tak lagi spesial akibat
terlalu sering dieksploitasi pasca kesuksesan Pengabdi Setan (oleh horor produksi Rapi Films).
Ikut Aku ke Neraka ditutup oleh konklusi kelam yang gagal menusuk
perasaan akibat ketidakmampuan memancing kepedulian terhadap jajaran
karakternya. Seolah belum cukup, pemandangan konyol yang menggabungkan
penulisan bodoh dan akting buruk, menyusul beberapa detik kemudian selaku mid-credits scene.
Juli 12, 2019
Azhar Kinoy Lubis
,
Clara Bernadeth
,
Cut Mini
,
Ence Bagus
,
Fajar Umbara
,
horror
,
Indonesian Film
,
Kurang
,
Rendy Kjaernett
,
REVIEW
,
Sara Wijayanto
MATA BATIN 2 (2019)
Rasyidharry
“Don’t change a winning formula”. Rocky Soraya menuruti petuah
tersebut. Sebab buat apa berubah, bila sebuah formula mampu membawanya meraih
rekor MURI sebagai sutradara pertama yang empat kali beruntun menghasilkan film
jutaan penonton? Alhasil, kecuali Suzzanna:
Bernapas dalam Kubur (2018), sejak The
Doll (2016) Rocky selalu menerapkan templat sama. Dia hanya perlu mengganti
nama karakter. Sisanya, dari konflik, twist,
hingga resolusi, nyaris tanpa perbedaan.
Begitu pula di Mata Batin 2. Hidup Alia (Jessica Mila) boleh mengalami perubahan
drastis pasca kematian adiknya, Abel (Bianca Hello), di tangan makhluk halus.
Tapi peristiwa seterusnya masih berkutat soal teror hantu terhadap sepasang
suami-istri, yang nantinya diketahui menyimpan rahasia. Rahasia yang oleh duet
penulis naskah langganan Rocky, Riheam Junianti dan Fajar Umbara, dijadikan bahan
baku twist khas opera sabun.
Pasangan itu adalah Laksmi (Sophia
Latjuba) dan Fadli (Jeremy Thomas), pemilik panti asuhan megah bak kastil
negeri dongeng, yang jadi tempat Alia menjalani kerja sosial dalam rangka
melangkah menuju hidup baru. Tapi bukan itu saja tujuan protagonis kita. Lewat
penerawangan yang didapat, Alia yakin panti asuhan tersebut memegang kunci
jawaban misteri kematian Abel.
Di sana pula Alia bertemu Nadia
(Nabilah Ayu), gadis dengan mata batin yang juga terbuka sepertinya. Berdua, mereka
menyelidiki teror sesosok hantu bocah yang mengirim pesan melalui suara-suara
di dinding. Suara itu lirih, berbanding terbalik dengan gebrakan-gebrakan efek
suara berisik yang gemar menusuk telinga penonton tiap beberapa menit sekali.
Sekecil apa pun kejanggalan terjadi, Mata
Batin 2 selalu menaikkan volume ke titik maksimum.
Tata suara garapan Khikmawan
Santosa cuma mempedulikan volume, hingga lalai mengatur agar dialognya mudah
didengar. Berkali-kali saya kesulitan mencerna kaliamt apa yang meluncur dari
mulut jajaran pemainnya. Sementara soal dampaknya terhadap teror, beberapa
momen dengan potensi kengerian cukup tinggi berujung kehilangan daya akibat
distraksi efek suara meledak-ledak filmnya.
Mata Batin 2 merupakan titik nadir seorang Rocky Soraya. Sebelum
ini, walau menerapkan pola mirip, Rocky kentara masih mencurahkan segenap daya
upaya. Kali ini, ketimbang presentasi kekhasan, Rocky bagai membuat parodi bagi
cirinya sendiri. “Film saya harus mengandung adegan kaca pecah, gerakan kamera
cepat, lalu ditutup banjir darah”,
mungkin begitu ia pikir. Mata Batin 2
begitu malas, berlawanan dengan karya-karya Rocky sebelunya, tak satu pun jump scare berhasil, apalagi melekat di
ingatan begitu durasi berakhir.
Metode menumpahkan darahnya pun serupa,
di mana salah satu karakter dirasuki arwah pembawa dendam guna membunuh orang
lain atau melukai diri sendiri. Caranya? Tentu saja memakai tusukan pisau
seperti biasa. Beruntung, momen gore penutupnya
lebih inovatif. Kuantitas banjir darahnya menurun, namun dampaknya lebih besar
berkat keberanian Rocky mengeskalasi tingkat sadisme.
Sialnya, keberhasilan parade
kekerasan film ini diganggu upaya memantik emosi lewat dramatisasi menggelikan
dilengkapi ceramah perihal “larangan membalas kejahatan dengan kejahatan”, yang
idealnya hanya dapat ditemui dalam sinetron religi bertema alam baka. Bahkan
penampilan solid Sophia Latjuba maupun Jessica Mila yang makin bisa diandalkan
sebagai scream queen tak kuasa menolong
konklusinya. Saya berharap Rocky mulai perlahan mencoba gaya baru. Tapi dengan
perolehan lebih dari 53 ribu penonton di hari pertama, tipis kemungkinan
harapan tersebut jadi kenyataan.
Januari 19, 2019
Bianca Hello
,
Fajar Umbara
,
horror
,
Indonesian Film
,
Jeremy Thomas
,
Jessica Mila
,
Kurang
,
Nabilah Ayu
,
REVIEW
,
Riheam Junianti
,
Rocky Soraya
,
Sophia Latjuba
SABRINA (2018)
Rasyidharry
Ada tiga jenis template.
Pertama, yang diulang karena digandrungi publik. Kedua, yang diulang karena
disukai pembuatnya kemudian menjadi gaya. Ketiga, yang diawali jenis kedua,
tapi begitu laris manis, pengulangannya dilakukan atas dasar poin pertama.
Rocky Soraya rasanya masuk jenis ketiga. The
Doll (2016) memberinya tempat menumpahkan segala elemen favoritnya (trik
ala James Wan bertemu banjir darah), tapi begitu lebih dari 550 ribu penonton
sukses didapat, tiada alasan meninggalkan usungan formula itu. Apalagi setahun
berselang, Mata Batin dan The Doll 2 masing-masing menembus angka
1,2 juta penonton.
Saat banyak pihak memuji Mata
Batin, saya justru sampai pada titik jenuh, sebab Rocky mulai repetitif.
Karyanya selalu dibuka oleh first act
lambat minim penampakan—yang mana langkah berani dan patut diapresiasi—berlanjut
ke second act berupa deretan jump scare medioker, hingga ditutup
klimaks berdarah-darah. Sabrina,
selaku spin-off seri The Doll yang makin memperlihatkan
ambisi Rocky mengikuti jejak James Wan dengan seri The Conjuring, memakai pola sama. Tapi kentara terdapat perbaikan
di sana-sini. Belum menyeuruh, namun satu langkah kecil jauh lebih berarti
daripada keengganan melangkah.
Maira (Luna Maya) pun melangkah maju ketika menikahi Aiden
(Christian Sugiono), meninggalkan tragedi dalam The Doll 2 di masa lalu. Keduanya belum dikaruniai momongan, tapi
ada Vanya (Richelle Georgette Skornicki), keponakan Aiden yang mereka rawat
pasca kedua orang tuanya meninggal. Mencuri hati Vanya yang masih selalu
merindukan mendiang ibunya tidaklah mudah. Karena itu, Maira memberikan boneka
Sabrina edisi kedua yang khusus dibuat Aiden (dia pemilik pabrik mainan) untuk
mengenang Kayla, puteri Maira yang sudah tiada. Harapannya, sebagaimana Sabrina
edisi pertama dahulu bagi Kayla, boneka baru ini bisa menemani sekaligus
menguatkan Vanya.
Memasuki kemunculan keduanya, desain Sabrina makin
mengerikan, yang berarti, semakin tak logis bila disukai bocah. Sepertinya
sekarang adalah waktunya kita menyimpan rapat-rapat ekspektasi melihat boneka
Sabrina yang lebih “masuk akal”. Bedanya, kali ini boneka itu tidak langsung
menjadi sumber masalah, melainkan permainan memanggil arwah bernama Pensil
Charlie, yang Vanya pakai guna bertemu arwah sang ibu. Bisa ditebak, justru
sosok gaib jahat yang hadir. Baghiah namanya. Salah satu anak iblis. Apakah ia
mempunyai hubungan darah dengan Ghawiah dari The Doll pertama? Entahlah.
Paruh awalnya dibungkus tempo cukup lambat pula minim teror,
yang sayangnya urung ditunjang naskah solid di tatanan drama, sehingga pondasi
kisah kekeuargaan serta gejolak batin si paranormal, Laras (Sara Wijayanto),
yang kini telah menikahi sesama paranormal bernama Raynard (Jeremy Thomas), berakhir
lemah. Gagal pula usahan menyentuh hati lewat porsi drama tersebut, walau untuk
subplot mengenai Laras, akting kurang meyakinkan Sara Wijayanto turut jadi
penyebab.
Singkat cerita, bermain Pensil Charlie membuat Vanya mampu
berkomunikasi dengan sang ibu, atau tepatnya, sosok yang ia percaya merupakan
sang ibu. Khawatir akan kondisi bocah itu, Maira dan Aiden sepakat berlibur
bertiga. Liburan itu juga titik balik filmnya, di mana tempo dipercepat,
sementara teror mulai menyergap. Kali ini, Rocky dibantu tim efek spesialnya berkenan
memutar otak demi variasi. Beberapa trik memikat, dari adegan “Edward Mordrake-esque” sampai “kesurupan
pertama” menyita atensi saya. Beberapa kali bulu kuduk berdiri, bukan karena
seram, melainkan dipicu kekaguman atas aspek teknisnya. Those weren’t scary, yet fun and highly admirable. Dipadu kemampuan
sutradara memancing intensitas melalui nuansa chaotic, jadilah Sabrina suatu
perjalanan seru. Bila diibaratkan musik, Rocky bak tengah menggeber musik rock
beroktan tinggi.
Selain faktor teknis, repetisi turut diminalisir oleh naskah
karya Fajar Umbara (Comic 8, The Doll 2)
dan Riheam Junianti (The Doll 2, Mata
Batin) lewat disertakannya beragam lokasi, yang berujung menyediakan
beragam metode berbeda pula untuk meneror. Pantai, penginapan, pabrik, dan
pastinya rumah. Setidaknya terjadi pergantian suasana sehingga mata kita takkan
lelah, walau dari alur, naskahnya sendiri seperti carbon copy dari seri-seri sebelumnya, termasuk twist-nya.
Mencapai klimaks, Sabrina
seolah kehabisan amunisi trik, ditambah kerap terlampau panjang di banyak
titik. Kita diajak berdiam terlalu lama mendengar Laras dan Raynard merapal
mantra berupa puja-puji terhadap Yang Maha Kuasa, sama seperti first act-nya yang terus-terusan
menyeret kita melihat Vanya menjalankan aplikasi pendeteksi han...maaf, maksud
saya entitas. Rocky dan tim bukannya menyerah begitu saja. Tampak usaha
menambah varian peristiwa melalui bumbu aksi yang sayangnya, tanpa koreografi
mumpuni, plus lagi-lagi performa kurang meyakinkan Sara Wijayanto mengayunkan
senjata. Sebaliknya, Luna Maya terlihat bersenang-senang melakoni akting
kesurupan gila nan over-the-top
sebagaimana dalam The Doll 2.
Beberapa kelemahan sudah teratasi, kini pekerjaan rumah Rocky
Soraya tinggal terus mengeksplorasi variasi trik jump scare dan tusuk-menusuk supaya tidak stagnan, mencari naskah
dengan pondasi solid, dan bersedia memadatkan momen-momennya agar tak
kehilangan momentum. Sebab konklusinya, yang berusaha menutup kisah di nada
melodrama, pun tidak kalah berlarut-larut bagai akan berjalan selamanya. Namun
seperti saya ungkapkan, Sabrina
memang bukan lompatan, melainkan langkah, yang meski kecil, asalkan konsisten berjalan
ke depan, bukanlah suatu persoalan.
Juli 14, 2018
Christian Sugiono
,
Cukup
,
Fajar Umbara
,
horror
,
Indonesian Film
,
Jeremy Thomas
,
Luna Maya
,
REVIEW
,
Richelle Georgette Skornicki
,
Riheam Junianti
,
Rocky Soraya
,
Sara Wijayanto
MATA BATIN (2017)
Rasyidharry
Sinema horor tanah air sedang marak oleh karakter dengan kemampuan melihat makhluk halus. Diawali Mereka Yang Tak Terlihat yang mengedepankan drama keluarga, diikuti Keluarga Tak Kasat Mata yang entah maunya apa, kini Mata Batin memilih meletakkan fokus pada penelusuran sisi supranatural yang didukung keterlibatan parapsikolog Citra Prima sebagai pemeran pendukung. Jarangnya perjalanan menyelami dunia lain demi memahami seluk-beluk mistik dalam film kita memberi potensi pembeda, yang sayangnya, kembali dikalahkan obligasi menyajikan repetisi trik-trik teror murahan, meruntuhkan perbedaan tersebut.
Bersama Davin (Denny Sumargo) sang kekasih, Alia (Jessica Mila) memilih pulang dari merantau di Thailand pasca kedua orang tuanya tewas dalam kecelakaan lalu lintas, demi menjaga adiknya, Abel (Bianca Hello). Gagasan kembali ke rumah masa kecil tidak Abel sambut positif, sebab di situlah pernah terjadi peristiwa traumatis, tatkala sesosok makhluk halus menyerangnya. Abel sendiri mampu melihat yang tak terlihat karena mata batinnya terbuka sejak lahir. Menolak percaya, Alia meminta Windu (Citra Prima), seorang paranormal, membuka mata batinnya. Tidak butuh waktu lama sampai Alia mengalami teror serupa Abel, yang makin lama makin berbahaya.
Dwilogi The Doll membawa Rocky Soraya menuju kemantapan gaya, yang dia terapkan pula di Mata Batin. Kekerasan berdarah di mana sekali tusukan pisau takkan cukup merenggut nyawa manusia tetap menjadi titik tertinggi, meski kali ini porsinya tak mendominasi babak akhir. Begitu juga pengadeganan berbasis kekacauan suasana yang mengandalkan gerak kamera dinamis garapan Asep Kalila, kolaborator langganannya sedari The Doll. Setidaknya Mata Batin tampil berenergi berkat kedua aspek itu, sekaligus memunculkan harapan, suatu hari kelak Rocky berminat membuat film slasher.
Bersenjatakan energi sedemikian tinggi, Mata Batin ibarat manusia dengan raga solid. Namun tidak jiwanya, ketika cara menakut-nakuti Rocky masih berkutat di metode penampakan gamblang bersuara berisik, ditambah desain hantu yang menganggap bahwa kengerian berbanding lurus dengan kerusakan wajah. Bisa efektif untuk beberapa penonton, tapi saat pengulangan-pengulangan ngotot dipertahankan, timbul kelelahan juga kebosanan. Pun klimaks "dunia lain" miliknya hadir tumpul bagai rumah hantu pasar malam murahan. Sial bagi Rocky, jump scare terbaik yang melibatkan kain putih belum lama ini sudah kita temui dalam Pengabdi Setan, sehingga dampaknya tidak sekuat harapan.
Citra Prima menuturkan rangkaian pemahaman terkait aturan serta ragam sisi alam gaib dan mata batin. Menarik disimak, tapi kesan "sekilas info" gagal ditampik karena kurang piawaianya duo penulis skenario, Fajar Umbara dan Riheam Junianti, menyusun informasi-informasi berharga tersebut menjadi struktur alur yang bisa membedakan Mata Batin dengan judul-judul bertema serupa di atas. Mengenai beberapa twist, naskahnya pun kedodoran. Ada yang meninggalkan setumpuk lubang logika menganga, ada pula yang bagai kurang akal dalam caranya mengungkap fakta (identitas perampok bertopeng).
Mata Batin sama sekali tidak buruk. Jessica Mila mulus merespon ragam situasi menyeramkan yang Alia alami, bukti dirinya pantas diberi proyek berkelas pasca rentetan film buruk sejak Pacarku Anak Koruptor. Seperti umumnya produksi Hitmaker Studios, tata artistik Mata Batin cukup memuaskan mata, termasuk segelintir efek visual yang walau jauh dari kata sempurna, sama sekali tidak memalukan. Mata Batin is not an embarassing effort, just repetitive, uncreative, and frustratingly boring.
Desember 01, 2017
Asep Kalila
,
Bianca Hello
,
Citra Prima
,
Denny Sumargo
,
Fajar Umbara
,
horror
,
Indonesian Film
,
Jessica Mila
,
Kurang
,
REVIEW
,
Riheam Junianti
,
Rocky Soraya
THE DOLL 2 (2017)
Rasyidharry
Danur: I Can See Ghosts, The Curse, Jailangkung. Ketiganya termasuk horor lokal paling ditunggu karena potensi besar serta digawangi nama-nama tak sembarangan. Sayangnya ada satu persamaan lain yakni sama-sama berkualitas buruk, mengecewakan meski sejatinya digarap sungguh-sungguh. Walau demikian dua di antaranya sukses secara finansial pun nampaknya memancing kembali animo publik terhadap horor. Ikut mencoba peruntungan adalah The Doll 2 yang film pertamanya mengumpulkan lebih dari 550 ribu penonton dan bertengger di posisi 15 film Indonesia terlaris 2016.
Serupa pendahulunya, film karya sutradara Rocky Soraya ini masih mengumbar kebrutalan, mengandalkan sadisme eksplisit sebagai senjata. Prolognya berurutan menampilkan karakter paranormal Bu Laras (Sara Wijayanto) dari film pertama dan pasangan suami istri Aldo (Herjunot Ali) dan Maira (Luna Maya) beserta puteri tunggal mereka, Kayla (Shofia Shireen). Tanpa basa-basi Rocky memacu filmnya, mengumbar darah sejak menit pertama. Bukan kekerasan kosong, melainkan punya shock value yang salah satu momennya memberi statement tegas: sang roh jahat begitu kejam, bukan hantu narsis yang sekedar doyan muncul tiba-tiba.
Suatu malam kecelakaan lalu lintas yang secara logika mustahil terjadi kecuali ada peranan alkohol merenggut nyawa Kayla, membenamkan Maira dalam depresi. Atas saran sahabatnya yang tidak percaya hal-hal mistis, Elsa (Maria Sabta), Maira mencoba memanggil arwah sang puteri memakai boneka kesayangannya, Sabrina yang lebih tak masuk akal jadi mainan anak dan membuat Ghawiyah nampak menggemaskan sebagai medium. Dari situlah teror bermula, menggiring Maira menuju peristiwa-peristiwa mengerikan, seperti salah satunya kemunculan mendadak Sabrina di antara tumpukan cucian yang entah bagaimana, seluruhnya berwarna putih. Menolak percaya cerita sang istri, Aldo membawa Maire bertemu Dini (Mega Caferansa), dokter spesialis kejiwaan yang daripada membimbing justru "menyerang" dan menghakimi "halusinasi" Maira.
Paragraf di atas mendeskripsikan kelemahan paling fatal The Doll 2 yaitu kebodohan luar biasa naskah garapan Riheam Junianti (Sunshine Becomes You, The Doll, Tarot) dan Fajar Umbara (trilogi Comic 8). Film horor bisa dimaafkan bila tampil bodoh, namun lain cerita saat kebodohan tersebut hadir pada tiap titik penting, menghadirkan ganjalan untuk bisa sepenuhnya menikmati barisan kengerian. Melanjutkan jejak pendahulunya, The Doll 2 menolak eksploitasi jump scare. Kali ini hasilnya lebih baik. Sepanjang second act, ketimbang sekedar melambatkan alur kosong, ada usaha menyelipkan bobot dramatik berupa perjuangan seorang ibu menghadapi duka kehilangan buah hati. Luna Maya pun memberi suntikan nyawa melalui kesanggupan mencurahkan keputusasaan bercampur pilu. Walau akhirnya kesan draggy tetap menyeruak akibat tuturan yang cuma menjangkau permukaan.
Meski jump scare-nya sempat formulaik, Rocky mampu menyusun beberapa hentakan tak terduga yang efektif memberi daya kejut. Tapi keunggulan terbesarnya adalah teror action-oriented pemicu adrenalin yang berkulminasi di klimaks. Disokong gerak kamera liar Asep Kalila yang mendukung terciptanya suasana chaotic dan gemuruh musik dengan porsi tepat gubahan Anto Hoed, sang sutradara menyajikan puncak intensitas yang acap kali menyinggung ranah kejar-kejaran ala slasher. Membanjiri lokasi dengan darah hasil tusukan berantai atau benturan ke beragam benda, di tangan Rocky tubuh manusia dijadikan target kekerasan tak berujung, seolah memfasilitasi hasrat sadisme dalam diri penonton. Berlangsung cukup lama (sekitar 30 menit), third act-nya adalah sajian bernyali yang jarang ditemui di horor lokal belakangan ini.
Review film ini tersedia juga di: http://tz.ucweb.com/7_1C1tE
Juli 21, 2017
Anto Hoed
,
Asep Kalila
,
Cukup
,
Fajar Umbara
,
Herjunot Ali
,
horror
,
Indonesian Film
,
Luna Maya
,
Maria Sabta
,
Mega Caferansa
,
REVIEW
,
Riheam Junianti
,
Rocky Soraya
,
Sara Wijayanto
,
Shofia Shireen
Langganan:
Postingan
(
Atom
)



















