Tampilkan postingan dengan label Shandy Aulia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Shandy Aulia. Tampilkan semua postingan
CINTA ITU BUTA (2019)
Rasyidharry
Mengadaptasi film Filipina berjudul
Kita-Kita, karya penyutradaraan
teranyar Rachmania Arunita (penulis novel Eiffel...I’m
in Love) setelah absen 11 tahun lamanya sejak Lost in Love ini adalah film pertama yang total memaksimalkan
potensi komedi Dodit Mulyanto. Memasang Dodit sebagai pemeran utama membuatnya
lepas, bebas melontarkan ide-ide humor gilanya. Konyol. Terlalu konyol malah,
hingga Cinta itu Buta lalai
meluangkan waktu membangun rasa, yang mana substansial dalam paparan romansa.
Berlatar di Busan, Korea Selatan,
tokoh sentralnya adalah Diah (Shandy Aulia), pemandu wisata yang selama tiga
tahun terakhir telah bertunangan dengan pria lokal, Jun-ho (Chae In-woo), namun
pernikahan keduanya tak kunjung tiba, karena Jun-ho selalu beralasan bahwa ia
belum siap. Kemampuan Shandy melafalkan dialog memakai Bahasa Korea patut
diapresiasi, namun cara bertuturnya mengganggu. Saya memahami intensi mereplikasi
protagonis wanita drama Korea yang kerap bicara dengan aegyo, tapi bukan berarti gaya itu pantas diterapkan di semua
situasi.
Suatu malam, Diah akhirnya
mengetahui alasan Jun-ho menunda pernikahan. Begitu terpukul, Diah pun
kehilangan penglihatannya—membuat karakternya menderita penyakit jelas satu
dari berbagai unsur yang diterapkan naskah buatan Fanya Runkat dan Renaldo Samsara
(I Am Hope) supaya Cinta itu Buta tampil bak drama Korea. Anehnya,
di pagi hari berikutnya, Diah sudah mahir berjalan menggunakan tongkat. Padahal
itu tidak semudah membalikkan telapak tangan, ditambah lagi (seharusnya) psikis
Diah masih terguncang.
Tapi biarlah. Setidaknya pasca
kejanggalan itu, filmnya memasuki babak baru yang jauh lebih menyenangkan berkat
kehadiran Nik (Dodit Mulyanto), yang mengunjungi Korea sebagai bentuk pelarian
sakit hati setelah diselingkuhi tunangannya. Nik ngotot membantu Diah,
membawakan makanan tiap pagi walau sang gadis menolak menyentuhnya. Lambat laun
Diah luluh, membiarkan Nik memasuki kehidupannya, membuatnya menyadari bahwa
tanpa melihat pun, ia tetap bisa merasa.
Kedatangan Nik bukan saja mengubah
hidup Diah, juga jalur filmnya, yang banting setir ke ranah komedi-romantis,
dengan proporsi komedi jauh lebih besar. Di sinilah Dodit bersinar, melepaskan
banyolan-banyolan gombal khasnya, disertai kelakar-kelakar aneh, yang semakin
absurd justru semakin efektif memancing tawa. Beberapa polahnya bakal terus
menggelitik, bahkan setelah filmnya usai, dari teriakan norak Nik kala
memanggil Diah tiap pagi, sampai improvisasinya di adegan “dangdut”.
Tapi bagi Cinta itu Buta, kelucuan Dodit ibarat investasi jangka pendek.
Selama paruh kedua, filmnya tampil menarik, kemudian menjadi bumerang kala
menginjak babak akhir yang mengedepankan elemen drama romantis. Benar bahwa
membuat dua tokoh utama tidak melulu tampil serius merupakan formula ampuh
pemancing simpati penonton sebab kita merasa bersenang-senang bersama mereka,
namun kedua protagonis film ini sama sekali tidak pernah serius. Tawa yang
hadir sekadar melahirkan kekonyolan, bukan membangun warna hubungan. Alhasil,
dampak emosional yang semestinya muncul berdasarkan gagasan manis “Saat bisa
melihat, kamu tidak bisa melihatku, tapi saat tidak bisa melihat, kamu baru
bisa melihatku”, gagal tersalurkan.
Kondisi semakin diperburuk oleh
kekacauan penceritaan. Atas nama kejutan, gerakan alurnya kerap menciptakan
disorientasi waktu. Pun konklusi yang memilih menggantungkan tanda tanya
ketimbang habis-habisan mengaduk rasa, ikut mengundang kejanggalan. Padahal
kalau drama Korea klasik jadi acuan (keberadaan penyakit hingga nasib buruk
yang tiba-tiba menimpa, mengingatkan pada judul-judul seperti Autumn in My Heart, Stairway to Heaven,
dan lain-lain), Cinta itu Buta seharusnya
bersedia menyentuh ranah melodrama daripada bersikap “malu-malu tapi mau”.
Oktober 11, 2019
Chae In-woo
,
Comedy
,
Dodit Mulyanto
,
Fanya Runkat
,
Indonesian Film
,
Kurang
,
Rachmania Arunita
,
Renaldo Samsara
,
REVIEW
,
Romance
,
Shandy Aulia
KUTUK (2019)
Rasyidharry
Pepatah “Pengalaman adalah guru
yang terbaik” memang benar. Menjalani debut sebagai produser sekaligus penulis
naskah, Shandy Aulia memanfaatkan pengalamannya bermain di setumpuk horor
buruk, menerapkan segala kelemahan yang ia temui untuk membuat Kutuk semakin busuk. Sambutlah “The Greatest Hits of Shandy Aulia’s Terrible, Horrible, No Good, Very Bad Horror Movie”.
Shandy memerankan Maya, gadis muda
yang baru bekerja di sebuah panti jompo yang cuma punya satu pegawai, yakni
Gendhis (Vitta Mariana) si perawat judes. Sikap tak menyenangkan Gendhis bukan
saja ditujukan pada Maya, pulaElena (Alice Norin) si pemilik panti yang ramah.
Nantinya anda akan tahu, kejudesan Gendhis—yang mengingatkan akan kegalakan
palsu para senior saat ospek—disertakan oleh naskahnya hanya untuk menambah
daya kejut twist terkutuk yang
menanti di belakang.
Maya sendiri merupakan karakter
yang berjalan di garis tipis pemisah “keberanian” dan “kebodohan”. Belum
seberapa lama ia menginjakkan kaki di panti, ia sudah melihat hantu dan mendengar
suara-suara aneh. Bahkan selepas mulai bekerja, setiap hari, apa pun yang Maya
kerjakan selalu membawanya menuju peristiwa mengerikan. Keputusan Maya untuk
terus bertahan bukan membuktikan ia punya nyali atau memedulikan para lansia,
melainkan bahwa otak Maya ternyata juga maya.
Menulis naskahnya bersama Fajar
Umbara (Sabrina, Mata Batin 2, Ikut Aku
ke Neraka), Shandy menerapkan ilmu yang sepanjang karirnya ia pelajari,
yaitu “PLOT FILM HOROR HARUS DIKESAMPINGKAN, DISIMPAN SAMPAI BABAK KETIGA DI MANA
SEMUA RAHASIA MENDADAK DIUNGKAP LEWAT SATU SEKUEN KALA KARAKTER UTAMANYA
MENDAPAT PENGLIHATAN”. Di sini Shandy dan Fajar bukan membuat “plot twist”, melainkan “twist plot”, yaitu kondisi tatkala plot
sebuah film dihimpatkan dalam satu twist.
Jadi, di samping pengalaman
supernatural Maya, apa yang film terkutuk ini tawarkan selama 82 menit
durasinya? Adakah misteri? Atau gejolak drama? Jawabannya adalah “OBROLAN”,
saudara-saudara. Kutuk senang sekali
menampilkan karakternya menyesap secangkir teh sembari melontarkan dialog
membosankan yang dihantarkan oleh para pemainnya tanpa nyawa.
Shandy yang malang. Dia nampak
begitu lelah memproduksi sambil menggarap naskah film ini, ia terlihat tak
punya sisa tenaga untuk berakting, sehingga menyampaikan baris demi baris
kalimat secara datar. Tidak heran. Pasti dia (bersama Bung Fajar tentunya) harus
memeras otak, bekerja ekstra, supaya bisa mencetuskan ide penciptaan kalimat
menggelikan seperti, “Dari awal kamu memang sudah sentimen sama saya” atau “Kamu
pasti udah kena nyinyirnya Gendhis ya?”. Nganu....kenapa gaya bicara karakter
yang biasanya formal mendadak berubah ya Mbak Shandy, Mas Fajar? Dan berlatar
tahun berapa sebenarnya film ini?
Pun tidak mengejutkan saat nyaris
mustahil menemukan teror mengerikan di sini, meski sutradara Rudi Aryanto (Surat Cinta untuk Starla the Movie,The Way I
Love You) telah berbaik hati tidak berusaha menghancurkan gendang telinga
kita, dengan mengatur volume musik secukupnya, terlebih di menit-menit awal
tatkala keheningan kerap dipakai. Setidaknya, Rudi berhasil menyelipkan satu jump scare cerdik nan mengejutkan (clue: melibatkan cermin) berkat pilihan timing sempurna.
Bersenjatakan peristiwa berdarah,
klimaksnya menyimpan potensi, walau sayang, berakhir problematik. Rupanya, si
hantu hanya coba memberitahukan sesuatu kepada Maya. Di horor kebanyakan, hal
itu tak bisa seketika dilakukan karena butuh diadakan ritual dan/atau
menyediakan perantara. Tapi Kutuk tidak
memerlukan itu. Jadi kenapa baru terjadi jelang akhir? Kenapa pula Maya yang
terus diganggu bila ternyata si hantu bukan menargetkan nyawanya? Sungguh
produk terkutuk.
Juli 28, 2019
Alice Norin
,
Fajar Umbara
,
horror
,
Indonesian Film
,
REVIEW
,
Rudi Aryanto
,
Sangat Jelek
,
Shandy Aulia
,
Vitta Mariana
PERJANJIAN DENGAN IBLIS (2019)
Rasyidharry
Posternya seolah bicara, “Perjanjian dengan Iblis adalah b-movie menghibur yang enggan tampil
terlalu serius”. That’s why I’m sold.
Trailer-nya menampilkan materi dengan
nuansa jauh berbeda, tapi beberapa momen menjanjikan bisa ditemui. Secara
khusus, cuplikan kemunculan hantu berbentuk bayangan tampak cukup mengerikan.
Mungkinkah memasuki 2019, MD Pictures bersama Pichouse Films selaku anak
perusahaannya, memutuskan untuk mulai menyeimbangkan kualitas dan kuantitas
(sekitar 11 judul horor siap tayang tahun ini)?
Tapi begitu film dimulai, tidak
butuh waktu lama bagi saya menyadari, bahwa Perjanjian
dengan Iblis adalah satu lagi sajian berkualitas jongkok. Setelah sekian
banyak dicekoki horor lokal buruk, saya sudah hafal polanya. Kisahnya akan
diawali perkenalan dengan sebuah keluarga kecil yang dirundung permasalahan
klise. Entah sang ayah lalai memberi kasih sayang akibat disibukkan urusan
pekerjaan, momongan yang tak kunjung hadir, meninggalnya salah satu anggota
keluarga, ketidakharmonisan antara mereka, atau gabungan beberapa elemen di
atas.
Di sini, karakternya tengah
berlibur ke Pulau Bengalor. Bara (Aghi Narottama) merasa liburan ini diperlukan
demi merekatkan hubungan sang puteri, Lara (Basmalah Gralind) dan istri
barunya, Anisa (Shandy Aulia). Walau Anisa telah berjuang keras, Lara yang amat
merindukan mendiang ibunya, terus membencinya meski enam bulan telah berlalu
sejak pernikahan dilangsungkan.
Bermodalkan naskah buatan Husein M.
Atmodjo (Midnight Show, 22 Menit)
bersama Ardy Octaviand (Coklat Stroberi,
3 Dara, Stip & Pensil) yang juga menduduki kursi sutradara, elemen
dramanya—sesuai dugaan—tampil tak meyakinkan sekaligus membosankan, diisi
presentasi konflik dangkal plus baris dialog miskin kreativitas. Beginilah
rutinitas horor buruk negeri ini (khususnya produksi MD/Pichouse). Kita akan dibuat
bosan selama kurang lebih setengah jam, menanti teror dimulai, namun begitu
teror tersebut datang, eksekusinya gagal memberi penebusan setimpal.
Drama keluarga melelahkan ini turut
dibarengi akting kaku bagai kayu dari Aghi Narottama yang selama ini lebih kita
kenal sebagai komposer (Pengabdi Setan,
Sweet 20, Kafir: Bersekutu dengan Setan), juga Shandy Aulia yang sebatas
mengulangi penampilan-penampilan di film sebelumnya. Semua tampil dalam suasana
serius, bukan keburukan yang disengaja selaku bentuk senang-senang. Sehingga
ketika satu demi satu momen “lucu” terjadi, saya yakin itu adalah hasil filmmaking buruk alih-alih usaha
merangkai b-movie.
Terornya dimulai saat sekelompok
setan mengganggu malam hari Anisa dan lara. Bara, yang tak mengalaminya,
bersikap skeptis, bahkan meninggalkan mereka ke Jakarta karena urusan pekerjaan
mendadak. Keduanya dijaga oleh wanita pengurus villa bernama Rengganis, yang
diperankan Artika Sari Devi, yang dengan kharismanya, jadi satu-satunya
penampil yang menarik disaksikan.
Deretan jump scare-nya tidak cukup baik, namun
saya mengapresiasi usaha yang diluangkan, di mana para hantu tidak sekadar
“setor muka”. Bahkan, beberapa kali sang sutradara mampu memunculkan mereka
dari lokasi tak terduga guna mengirim sedikit efek kejut. Setidaknya Ardy
Octaviand masih bersedia mencari timing
yang tepat, juga memperhatikan pembangunan tensi. Pun tata rias garapan Chaery
Eka Wirawan (Petak Umpet Minako, Night
Bus) jelas lebih unggul dibanding jajaran “hantu muka bubur basi” di luar
sana. Hanya saja, seluruh usaha di atas belum berhasil menghasilkan produk yang
layak disebut “baik”.
Saya tidak terkejut begitu mencapai
babak akhir, sewaktu naskahnya coba merangkum konklusi berbagai poin plot, Perjanjian dengan Iblis terjangkit
penyakit kronis horor medioker dalam negeri. Keburukannya tak tertahankan
akibat dipaksa hadirnya suatu twist
tanpa pondasi memadahi ditambah upaya menyatukan berbagai rahasia dan misteri
Pulau Bengalor yang berujung berantakan. Hanya menyelipkan penjelasan sekilas yang
urung tersusun rapi, para penulisnya seolah tak lagi peduli. Jadi mengapa kita
harus peduli?
Januari 11, 2019
Aghi Narottama
,
Ardy Octaviand
,
Artika Sari Devi
,
Basmalah Gralind
,
Chaery Eka Wirawan
,
horror
,
Husein M. Atmodjo
,
Indonesian Film
,
Jelek
,
REVIEW
,
Shandy Aulia
RASUK (2018)
Rasyidharry
Jamaknya, poster berguna selaku media promosi untuk menarik
penonton, memberi sekilas gambaran mengenai konten suatu film. Tapi Rasuk, selaku produksi gabungan keempat
Dee Company bersama MD Pictures mengangkat esensi poster ke tingkatan lebih
jauh, yakni memprediksi apa yang penonton rasakan kala menyaksikan filmnya. Jika
Shandy Aulia tampak ketakutan akibat ditarik sosok-sosok misterius, saya
terjerat keburukan demi keburukan Rasuk
yang tak butuh waktu lama untuk memancing frustrasi. Tapi film ini patut dirayakan
sebagai pertanda kembalinya Dheeraj Kalwani menuju jati dirinya sebagai KKD
yang kita kenal, puja, dan sayangi bersama.
Tentu Gasing Tengkorak (2017)
dan Bayi Gaib: Bayi Tumbal Bayi Mati Bayi
Hidup Lagi Bayi Prematur Bayi Setan (2018) buruk (saya melewatkan Kembang K*nt*l), namun film garapan Ubay
Fox (Valentine) ini paling mendekati
mahakarya Baginda Yang Termahsyur KK Dheeraj. Adegan yang dikemas sedemikian
ajaib berpadu penyuntingan gambar tak kalah gaib? Ada. Hantu dengan riasan
bagai bubur basi? Ada! Andai Rasuk
dirilis satu dekade lalu, Alexis Texas, Lexi Belle, atau Sunny Leone mungkin
bakal direkrut sebagai cameo,
sementara judulnya berubah jadi Kerasukan
Arwah Datang Bulan, atau semacamnya.
Rasuk yang mengadaptasi novel berjudul
sama karya Risa Saraswati, dibuka lewat presentasi sinematografi paling cantik
sepanjang film, walau konteksnya layak dipertanyakan, dan baru dijawab
menjelang akhir, itu pun tetap tak masuk akal. Tapi ini film KKD. Alangkah
baiknya demi kesehatan penonton, logika serta akal sehat disimpan rapat-rapat.
Kala situ Langgir (Shandy Aulia) berada di atas gunung, mengenakan gaun
putih cantik tanpa alas kaki. Awal yang menjanjikan, sayangnya Rasuk merupakan film cerita, bukan video
pre-wedding. Pasca kematian sang
ayah, Langgir mulai membenci dunia, karena merasa sang ibu menyalahkannya atas
peristiwa itu. Akibatnya, Langgir senantiasa murung, bersikap ketus pada semua
orang.
Semua orang kecuali Abimanyu (Miller Khan), pria yang
diam-diam ia sukai. Di depan Abimanyu, Langgir berubah ceria, atau lebih
tepatnya, Shandy Aulia kembali menjadi Tita di Eiffel...I’m In Love. Selain Abimanyu, praktis Langgir bersikap tak
menyenangkan di depan orang lain. Dia membentak adik tirinya yang masih balita,
menyatakan ketidaksukaan pada keluarganya, yang menurutnya dipenuhi kebencian
(meski sejatinya Langgir sendirilah yang penuh rasa benci), pun kesal setengah
mati kepada sahabat-sahabatnya. Kenapa? Karena bagi Langgir kehidupan mereka
terlampau sempurna. Oh, dan dia langsung mengamuk ketika tahu Abimanyu
berpacaran dengan salah satu sahabatnya, padahal sedikitpun tidak pernah ia
bercerita pada mereka.
Bagaimana bisa menaruh simpati untuk Langgir, yang bukannya
tokoh tertindas, melainkan gadis menyebalkan, egois, enggan bersyukur, juga
bersikap pahit terhadap seala hal? Bukan berarti karakter lainnya lebih baik.
Sambutlah geng “Puteri Sejagat”, empat gadis termasuk Langgir, yang mesti
menghadapi lawan luar biasa berat berupa dialog-dialog dalam naskah tulisan
Alim Sudio (Dimsum Martabak, Kuntilanak),
yang penuh kalimat tidak natual berisi perpaduan asal gaya kasual dan resmi,
yang bak ditulis seseorang dengan pemahaman minim tentang interaksi manusia
sehari-hari. Keempat protagonis kita begitu bangga dengan nama “Puteri Sejagat”,
sewaktu bertemu wanita misterius di hutan, hal pertama yang dilakukan adalah
berkenalan kemudian berkata, “kami berempat Puteri Sejagat”, saat seharusnya
mereka membaca doa sapu jagat lalu kabur sejauh mungkin.
Alkisah, “Puteri Sejagat” ingin berlibur ke sebuah villa. Sayang
seribu sayang, jembatan yang mesti dilalui putus, dan dengan begitu berani,
keempatnya memasuki hutan. Bisa ditebak, mereka pun tersesat. Tapi tenang,
setidaknya papan penunjuk jalan sudah menyebut villa tujuan mereka berada di
Utara. Masalah timbul ketika jalan bercabang. Kompas sudah menunjukkan mana
arah Utara, tapi feeling salah satu
anggota “Puteri Sejagat” berkata kalau Selatan adalah arah yang tepat. Mana
yang akhirnya dipilih? Tentu saja Selatan. Percayalah pada kata hatimu.
Persetan dengan kompas dan papan kayu. Tahu apa benda-benda mati itu soal arah.
Luar biasa bodoh para tokoh utama kita, hingga elemen
persahabatan ditambah pesan mengenai “semua punya masalah, jangan mengira
dirimu paling menderita” terkubur bersama arwah penasaran, yang tiap kali
muncul, disertai gebrakan efek suara memekakkan telinga. Bahkan tatkala hantu
muka bubur basi tak muncul menyerang “Puteri Sejagat”, telinga kita terus saja
diserang tata suara berisik tersebut. Mungkin pembuat filmnya mengira, jika
volume ditingkatkan ke titik maksimal, penonton bakal tertipu, mengira di layar
sedang terjadi sesuatu. Di sebuah kesempatan, Langgir memarahi teman-temannya
karena berteriak meminta bantuan. “Berisik!”, begitu ucapnya. Wahai Langgir,
itu pula yang ingin saya sampaikan pada film ini.
Sekitar 90% bangku penonton terisi dan nyaris semua terhibur,
selalu berteriak ketakutan. Kondisi ini bisa memicu anggapan, “mengapa
repot-repot membuat film bagus kalau suguhan berkualitas rendah macam ini pun
laku keras dan disukai?”. Melalui Rasuk,
KKD seolah mengacungkan jari tengah kepada penonton film Indonesia yang peduli
dan mengharapkan tontonan berkualitas. Tapi kalau anda tetap penasaran, saya
sarankan datang saja ke bioskop dengan tata suara terbaik yang menayangkan film
ini. Begitu film dimulai, tidak perlu masuk, cukup duduk di samping studio.
Pasang telinga baik-baik, dan anda tetap bisa mendengar gempuran-gempuran tata
suaranya. Tidak perlu menyaksikan gambarnya, toh pembuatnya merasa, teror dalam
horor bisa dicapai lewat gelaran musik berisik saja.
Juni 29, 2018
Alim Sudio
,
Dheeraj Kalwani
,
horror
,
KK Dheeraj
,
Miller Khan
,
REVIEW
,
Sangat Jelek
,
Shandy Aulia
,
Ubay Fox
EIFFEL...I'M IN LOVE 2 (2018)
Rasyidharry
Eiffel...I’m In Love 2 adalah produk budaya Indonesia
terkait pernikahan. Pernyataan “Menikah jangan ditunda-tunda” atau pertanyaan “Kapan
nikah?” pun jamak mampir di telinga kita, termasuk telinga Tita (Shandy Aulia).
Bayangkan, sudah 12 tahun ia berpacaran dengan Adit (Samuel Rizal) tapi bahtera
rumah tangga tak kunjung ditempuh. Bagi kebanyakan masyarakat kita, itu
permasalahan besar. Bagi Tita, menanti kalimat “will you marry me?” dari Adit makin lama makin meresahkan. Apakah Adit
benar-benar serius menjalani hubungan? Tita kerap mempertanyakan itu.
Sedangkan saya mempertanyakan “Apakah filmnya mampu mengolah
isu kekinian yang kompleks tersebut?”. Alkisah 12 tahun pasca film pertama,
Adit dan Tita masih menjalani LDR dengan bentuk interaksi serupa: bertengkar,
bertengkar, dan bertengkar. Tita yang manja dan selalu merengek, Adit yang
ketus dan galak. Sekilas mereka tidak berubah. Tapi sejatinya ada perubahan
besar yang menggiring Eiffel...I’m
In Love 2 berpindah jalur dibandingkan pendahulunya, yakni status pacaran dua tokoh utama.
Konon setelah berpacaran, romantisme berkurang, hubungan lebih
hambar serta gampang ditebak. Eiffel...I’m
In Love 2 terjangkit hal serupa. Elemen kejutan dalam dinamika Adit-Tita memudar,
sedangkan konfliknya terjerumus keklisean seputar kesalahpahaman yang mestinya
dapat diselesaikan dengan mudah dan cepat. Pertengahan durasi praktis sekedar
diisi jalan-jalan berkeliling Paris sembari diselingi rutinitas obrolan
berujung pertengkaran. Obrolan dangkal sekaligus repetitif yang urung dipakai
menggali isu pernikahan yang diangkat.
Beruntung chemistry
Shandy Aulia dan Samuel Rizal kian rekat, hingga efektif menyunggingkan senyum
di bibir penonton. Samuel yang semakin matang tidak lagi datar saat
menyampaikan dialog, sementara Shandy adalah sumber tenaga filmnya. Keduanya
menyatu bersama warna-warna lembut dari kamera Yunus Pasolang serta lagu-lagu catchy Melly Goeslaw, menciptakan rasa manis
guna menebus usaha pendewasaan cerita yang belum dibarengi naskah mendalam
maupun kecanggungan Rizal Mantovani membungkus sederet adegan komedi.
Kekurangan naskah buatan Donna Rosamayna tampak dalam
penokohan yang inkonsisten bila disandingkan dengan usungan tema. Eiffel...I’m In Love 2 coba merobohkan
anggapan “lebih cepat menikah lebih baik”. Pola pikirnya kekinian, tetapi diisi
tokoh-tokoh macam Adit dan Bunda (Hilda Arifin) yang kolot pula mengekang. Khususnya
Bunda. Di film pertama, sikapnya masuk akal mengingat Tita merupakan gadis 15
tahun sekaligus anak bungsu. Bermaksud membangun kontinuitas, hasilnya justru karakter
yang seolah tak berkembang seiring waktu.
Pesan agar tak menggampangkan pernikahan memang relevan pada
era saat banyak orang buru-buru menikah karena dipandang selaku solusi
permasalahan (yang justru memancing masalah lebih besar kala minim persiapan). Andaikan pesan itu disampaikan bertahap sembari menyertakan gambaran nyata ketimbang diringkas di penghujung dan cuma berbentuk
petuah. Kekurangan Eiffel...I’m In Love 2
jelas menumpuk. Saya akan mengingatnya sebagai film buruk kalau bukan
karena beberapa menit terakhir yang berisi ciuman romantis dan perbincangan
intim nan menyentuh. Konklusi itu bersifat krusial. Bisa menghancurkan atau
melambungkan kualitas film. Eiffel...I’m
In Love 2 termasuk golongan kedua.
Februari 16, 2018
Cukup
,
Donna Rosamayna
,
Hilda Arifin
,
Indonesian Film
,
REVIEW
,
Rizal Mantovani
,
Romance
,
Samuel Rizal
,
Shandy Aulia
Langganan:
Postingan
(
Atom
)











