Tampilkan postingan dengan label Andy Muschietti. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Andy Muschietti. Tampilkan semua postingan
IT CHAPTER TWO (2019)
Rasyidharry
Bujet berlipat ganda,
jajaran bintang bertambah, penggunaan CGI meningkat, hingga meluasnya skala
cerita dalam durasi mendekati tiga jam (170 menit). Sutradara Andy Muschietti (Mama, It) bersama penulis naskah Gary
Dauberman (Annabelle: Creation, It, The
Nun) memperlakukan It Chapter Two layaknya
even blockbuster ketimbang sekuel
horor biasa. Hasilnya tak semengerikan film pertama, namun jelas menutup
pertarungan epik puluhan tahun antara The
Losers’ Club melawan Pennywise dengan layak.
Pertarungan itu terjadi bukan
cuma terjadi secara langsung, karena 27 tahun selepas tragedi di Derry, ketujuh
jagoan kita tidak pernah berhenti bergulat dengan dampak psikis teror Pennywise (Bill Skarsgård). Mike
(Isaiah Mustafa) bertahan di Derry demi mengantisipasi kembalinya si badut
monster, tinggal di perpustakaan, Nampak tenggelam dalam obsesi. Begitu
ketakutannya jadi kenyataan, Mike memanggil keenam sahabat masa kecilnya,
meminta mereka kembali guna memenuhi janji.
Bill (James McAvoy) sang
pemimpin regu adalah penulis novel ternama yang kerap dikritisi akibat ending buruknya, yang mungkin disulut
ketidaktuntasan konflik 27 tahun lalu. Beverly (Jessica Chastain) terjebak di
pernikahan abusive, Ben (Jay Ryan) si
tambun kini jadi seorang arsitek bertubuh atletis yang masih memendam cinta
lamanya, Richie (Bill Hader) sukses sebagai komedian stand-up, Eddie (James Ransone) masih
seorang paranoid, sedangkan Stanley (Andy Bean) tak kuasa menghadapi ketakutan,
lalu memilih bunuh diri daripada kembali pulang.
Ketimbang
melemahkan, pertambahan usia para protagonist justru dipakai menguatkan esensi
kisah It perihal pertarungan melawan
monster, di mana sosok monster itu bukan saja makhluk pembunuh beraneka wujud,
pula manifestasi konflik internal. Bahkan Pennywise sendiri kerap dijadikan
cerminan masalah sosial kala ia membunuh pasangan gay korban persekusi maupun
teror terhadap The Losers’ Club yang
menyentil soal perundungan.
Demi
menciptakan subteks tersebut, Gary Dauberman tak melupakan dua faktor penting: emosi
dan karakter. Selain “melawan ketakutan”, It
Chapter Two turut mengangkat tema “memori”. Bahwa individu cenderung
mengubur ingatan buruk tapi menyimpan kenangan indah, dan bagaimana kenangan
indah itu berperan besar dalam usaha mengalahkan monster-monster di atas. Ending-nya cukup menyentuh berkat
keberhasilan memainkan tema tersebut.
Terkait
karakter, Dauberman memastikan tiap anggota The
Losers’ Club memperoleh porsi seimbang. Bahkan walau fokus utama terletak pada versi dewasa, kita tetap menghabiskan cukup banyak waktu mengunjungi lagi masa kecil The Losers' Club. Positifnya, kita berkesempatan
memahami gejolak batin masing-masing. Menangani enam tokoh utama bukan hal
mudah, namun Dauberman mampu menjalankan tugasnya dengan baik. Berkatnya, akting
jajaran ensemble cast-nya juga tidak
tersia-siakan, biarpun secara mengejutkan, gelar MVP tak jatuh ke tangan James
McAvoy atau Jessica Chastain, melainkan Bill Hader.
“The funniest people are the saddest ones”,
demikian kata Confucius. Kesan serupa berhasil Hader hidupkan. Dia berjasa
menyegarkan suasana lewat beragam kelakar menggelitik (menegaskan status
filmnya bukan sebagai “fun ride”
alih-alih “dreading horror”), tapi
Hader pun menjadikan Richie karakter paling sendu, melankolis, dan dipenuhi
ironi.
Membagi
rata porsi keenam karakter berdampak pada pembengkakan durasi, yang bertanggung
jawab melahirkan second act repetitive,
saat The Losers’ Club berpencar dan
satu per satu mesti menghadapi teror Pennywise. Pada poin ini, It Chapter Two membuat eksplorasi
karakter sebagai sampul, sebagai alasan menghantarkan jump scare sesering mungkin. Alhasil, dampaknya melemah dibanding
film pertama, namun berkat kecakapan Andy Muschietti, biarpun ketegangan kurang
memuncak, setidaknya anda takkan mati bosan.
Sang sutradara
masih piawai mengkreasi gambar-gambar seram (hujan balon di adegan pembuka
hingga deretan penampakan Pennywise) selain tentunya, kreativitas tinggi dalam
memvisualisasikan teror. Peristiwa ikonik macam “tarian Pennywise” di film
pertama mungkin gagal diciptakan, tetapi It
Chapter Two punya variasi teror yang jauh lebih beragam bila disandingkan
dengan kompatriotnya sesama horor.
It Chapter Two juga
ibarat proses Muschietti berlatih menangani aksi berbalut CGI sebelum menggarap
The Flash (direncanakan rilis 2021).
Itulah kenapa filmnya terasa lebih berorientasi membangun wahana aksi ketimbang
teror mengerikan. Beruntung, CGI-nya solid. Tanpa itu, klimaksnya mungkin akan
terjatuh ke ranah kekonyolan. Membahas klimaks, kemenangan terbesar film
Muschietti dibandingkan versi miniserinya adalah keputusan mempertahankan wujud
badut Pennywise.
Berkat itu,
klimaksnya memiliki dinamika, sebab pertunjukan performa Bill Skarsgård, yang
kembali tampil luar biasa menghidupkan beragam wajah menyeramkan si badut
iblis, jelas jauh lebih bernyawa ketimbang serangan monster laba-laba raksasa
tanpa kepribadian. Pun keberanian naskahnya menampilkan Ritual of Chüd layaknya versi novel garapan Stephen King patut diapresiasi. Di satu
sisi, konklusinya mungkin terkesan antiklimaks bagi sebagian penonton, tapi di
sisi lain esensi “pertempuran mental” The
Losers’ Club melawan Pennywise mampu digambarkan.
September 05, 2019
Andy Bean
,
Andy Muschietti
,
Bill Hader
,
Bill Skarsgard
,
Gary Dauberman
,
horror
,
Isaiah Mustafa
,
James McAvoy
,
James Ransone
,
Jay Ryan
,
Jessica Chastain
,
Lumayan
,
REVIEW
IT (2017)
Rasyidharry
It buatan Andy Muschietti (Mama) berada di jalan yang tepat untuk merengkuh status "instant classic" berkat keberhasilan menjadi banyak hal positif. Diangkat dari novel berjudul sama karya Stephen King, film ini sanggup memodifikasi tanpa melupakan esensi, dan bila anda telah menonton miniseries 2 episodenya (1990), ada perasaan familiar sekaligus menyegarkan. Mempertahankan inti novel King, It mengandung unsur coming-of-age sebagai sarana menuturkan subteks mengenai proses melawan rasa takut khususnya pada anak. Suatu pembuktian jika horor mainstream tak selamanya lalai mengurusi penceritaan.
Memindahkan setting 1950-an ke 1989, alkisah di Derry, sebuah kota kecil yang diselimuti misteri hilangnya banyak anak-anak. George (Jackson Robert Scott), adik Bill (Jaeden Lieberher) jadi salah satunya. Momen hilangnya George pun merupakan perkenalan kita dengan It/Pennywise (Bill Skarsgard), entitas jahat yang kerap mengambil wujud badut dan beraksi memangsa anak kecil tiap 27 tahun sekali. Penampakan perdana Pennywise bagai pernyataan Muschietti, bahwa berbeda dengan miniseries-nya, versi layar lebar ini bersedia menyentuh ranah lebih gelap, baik di balik ceritanya maupun aspek kasat mata lewat gore penyusun gambaran nasib tragis tokoh bocah.
Naskah tulisan Chase Palmer, Cary Fukunaga, dan Gary Dauberman disusun atas pemahaman kalau keberhasilan memacu intensitas dan kengerian horor tak terlepas dari seberapa jauh penonton terikat dengan jajaran tokoh. Selain fakta mereka masih bocah (we have soft spot for children), masing-masing memiliki faktor pendorong dukungan penonton. Bill berusaha menemukan sang adik, Beverly (Sophia Lillis) dilecehkan ayahnya, Eddie (Jack Dylan Grazer) dikekang oleh ibunya, sementara Mike (Chosen Jacobs) korban rasisme. Dan kesamaan sekaligus penyatu ketujuh karakter utama (dipanggil The Losers Club" yaitu sama-sama di-bully oleh Henry (Nicholas Hamilton). Bahkan Henry bukan semata tokoh jahat dua dimensi. Sikapnya didasari didikan keras berlebihan sang ayah.
Musuh terbesar mereka tak lain rasa takut, yang kemudian Pennywise wujudkan guna menebar teror. Karena ketakutan tiap tokoh berbeda bentuk, jadilah The Losers Club melawan Pennywise lebih dari pertarungan membasmi makhluk jahat, tapi tentang mengalahkan ketakutan. Menghadapi SARA, trauma, fobia, rasa bersalah, penindas, terdapat konteks perjuangan luas sehingga It bekerja secara universal. Makin kuat ikatan penonton dengan The Losers Club berkat performa solid deretan cast. Sophia Lillis dengan kedalaman memainkan gadis "bermasalah" pencari tempat bernaung, Jaeden Lieberher yang berbeda dengan tokoh peranannya, tidak tergagap menghantarkan kerumitan gejolak batin, Finn Wolfhand sebagai Richie jago melempar lelucon nakal penyegar suasana di antara kengerian. Bersama, The Losers Club punya ikatan persahabatan kuat, memberi pondasi emosi penyokong jalan menuju sekuel.
Bill Skarsgard sebagai Pennywise adalah mimpi buruk, bukan saja untuk penderita coulrophobia (fobia badut). Setiap kehadirannya mengguncang, dengan tatapan, senyum, dan tawa yang seolah dapat mencabut nyawa. Muschietti memanfaatkan betul kengerian Skarsgard, menempatkan sang aktor di sudut-sudut yang efektif. Selain selipan gore dan suasana tak nyaman terkait keberanian memperlakukan tokoh anak begitu kejam, Muschietti cukup pandai meramu jump scare. Walau di beberapa kesempatan cenderung menerapkan metode standar di mana kemunculan mendadak jadi andalan, tetapi apa yang Pennywise perbuat meminimalisir kesan predictable. Mudah menduga "kapan", namun tidak dengan "bagaimana".
Musik Benjamin Wallfisch bak merangkum keseluruhan film. Meski menekankan atmosfer mengerikan atau dentuman mengejutkan, sesekali terdengar alunan megah bernuansa old school yang menyimpan harapan dan hati di tengah kepungan ancaman. It bisa menjadi seram pula brutal, namun tak ketinggalan menyimpan kehangatan, sisi manis bahkan emosional. Penonton menghabiskan lebih dari dua jam tersentak, berteriak, terpaku, tidak hanya dipicu ketakutan sendiri, sebab kita tahu begitu film usai kita akan selamat, tapi bagaimana dengan ketujuh tokoh utama? We scream for them and we cheer for their victory. The Losers Club saling peduli satu sama lain, pun demikian kita dengan mereka.
September 07, 2017
Andy Muschietti
,
Benjamin Wallfisch
,
Bill Skarsgard
,
Cary Fukunaga
,
Chase Palmer
,
Chosen Jacobs
,
Finn Wolfhand
,
Gary Dauberman
,
horror
,
Jack Dylan Grazer
,
Jaeden Lieberher
,
Nicholas Hamilton
,
REVIEW
,
Sophia Lillis
Langganan:
Komentar
(
Atom
)





