Tampilkan postingan dengan label Gary Dauberman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gary Dauberman. Tampilkan semua postingan
IT CHAPTER TWO (2019)
Rasyidharry
Bujet berlipat ganda,
jajaran bintang bertambah, penggunaan CGI meningkat, hingga meluasnya skala
cerita dalam durasi mendekati tiga jam (170 menit). Sutradara Andy Muschietti (Mama, It) bersama penulis naskah Gary
Dauberman (Annabelle: Creation, It, The
Nun) memperlakukan It Chapter Two layaknya
even blockbuster ketimbang sekuel
horor biasa. Hasilnya tak semengerikan film pertama, namun jelas menutup
pertarungan epik puluhan tahun antara The
Losers’ Club melawan Pennywise dengan layak.
Pertarungan itu terjadi bukan
cuma terjadi secara langsung, karena 27 tahun selepas tragedi di Derry, ketujuh
jagoan kita tidak pernah berhenti bergulat dengan dampak psikis teror Pennywise (Bill Skarsgård). Mike
(Isaiah Mustafa) bertahan di Derry demi mengantisipasi kembalinya si badut
monster, tinggal di perpustakaan, Nampak tenggelam dalam obsesi. Begitu
ketakutannya jadi kenyataan, Mike memanggil keenam sahabat masa kecilnya,
meminta mereka kembali guna memenuhi janji.
Bill (James McAvoy) sang
pemimpin regu adalah penulis novel ternama yang kerap dikritisi akibat ending buruknya, yang mungkin disulut
ketidaktuntasan konflik 27 tahun lalu. Beverly (Jessica Chastain) terjebak di
pernikahan abusive, Ben (Jay Ryan) si
tambun kini jadi seorang arsitek bertubuh atletis yang masih memendam cinta
lamanya, Richie (Bill Hader) sukses sebagai komedian stand-up, Eddie (James Ransone) masih
seorang paranoid, sedangkan Stanley (Andy Bean) tak kuasa menghadapi ketakutan,
lalu memilih bunuh diri daripada kembali pulang.
Ketimbang
melemahkan, pertambahan usia para protagonist justru dipakai menguatkan esensi
kisah It perihal pertarungan melawan
monster, di mana sosok monster itu bukan saja makhluk pembunuh beraneka wujud,
pula manifestasi konflik internal. Bahkan Pennywise sendiri kerap dijadikan
cerminan masalah sosial kala ia membunuh pasangan gay korban persekusi maupun
teror terhadap The Losers’ Club yang
menyentil soal perundungan.
Demi
menciptakan subteks tersebut, Gary Dauberman tak melupakan dua faktor penting: emosi
dan karakter. Selain “melawan ketakutan”, It
Chapter Two turut mengangkat tema “memori”. Bahwa individu cenderung
mengubur ingatan buruk tapi menyimpan kenangan indah, dan bagaimana kenangan
indah itu berperan besar dalam usaha mengalahkan monster-monster di atas. Ending-nya cukup menyentuh berkat
keberhasilan memainkan tema tersebut.
Terkait
karakter, Dauberman memastikan tiap anggota The
Losers’ Club memperoleh porsi seimbang. Bahkan walau fokus utama terletak pada versi dewasa, kita tetap menghabiskan cukup banyak waktu mengunjungi lagi masa kecil The Losers' Club. Positifnya, kita berkesempatan
memahami gejolak batin masing-masing. Menangani enam tokoh utama bukan hal
mudah, namun Dauberman mampu menjalankan tugasnya dengan baik. Berkatnya, akting
jajaran ensemble cast-nya juga tidak
tersia-siakan, biarpun secara mengejutkan, gelar MVP tak jatuh ke tangan James
McAvoy atau Jessica Chastain, melainkan Bill Hader.
“The funniest people are the saddest ones”,
demikian kata Confucius. Kesan serupa berhasil Hader hidupkan. Dia berjasa
menyegarkan suasana lewat beragam kelakar menggelitik (menegaskan status
filmnya bukan sebagai “fun ride”
alih-alih “dreading horror”), tapi
Hader pun menjadikan Richie karakter paling sendu, melankolis, dan dipenuhi
ironi.
Membagi
rata porsi keenam karakter berdampak pada pembengkakan durasi, yang bertanggung
jawab melahirkan second act repetitive,
saat The Losers’ Club berpencar dan
satu per satu mesti menghadapi teror Pennywise. Pada poin ini, It Chapter Two membuat eksplorasi
karakter sebagai sampul, sebagai alasan menghantarkan jump scare sesering mungkin. Alhasil, dampaknya melemah dibanding
film pertama, namun berkat kecakapan Andy Muschietti, biarpun ketegangan kurang
memuncak, setidaknya anda takkan mati bosan.
Sang sutradara
masih piawai mengkreasi gambar-gambar seram (hujan balon di adegan pembuka
hingga deretan penampakan Pennywise) selain tentunya, kreativitas tinggi dalam
memvisualisasikan teror. Peristiwa ikonik macam “tarian Pennywise” di film
pertama mungkin gagal diciptakan, tetapi It
Chapter Two punya variasi teror yang jauh lebih beragam bila disandingkan
dengan kompatriotnya sesama horor.
It Chapter Two juga
ibarat proses Muschietti berlatih menangani aksi berbalut CGI sebelum menggarap
The Flash (direncanakan rilis 2021).
Itulah kenapa filmnya terasa lebih berorientasi membangun wahana aksi ketimbang
teror mengerikan. Beruntung, CGI-nya solid. Tanpa itu, klimaksnya mungkin akan
terjatuh ke ranah kekonyolan. Membahas klimaks, kemenangan terbesar film
Muschietti dibandingkan versi miniserinya adalah keputusan mempertahankan wujud
badut Pennywise.
Berkat itu,
klimaksnya memiliki dinamika, sebab pertunjukan performa Bill Skarsgård, yang
kembali tampil luar biasa menghidupkan beragam wajah menyeramkan si badut
iblis, jelas jauh lebih bernyawa ketimbang serangan monster laba-laba raksasa
tanpa kepribadian. Pun keberanian naskahnya menampilkan Ritual of Chüd layaknya versi novel garapan Stephen King patut diapresiasi. Di satu
sisi, konklusinya mungkin terkesan antiklimaks bagi sebagian penonton, tapi di
sisi lain esensi “pertempuran mental” The
Losers’ Club melawan Pennywise mampu digambarkan.
September 05, 2019
Andy Bean
,
Andy Muschietti
,
Bill Hader
,
Bill Skarsgard
,
Gary Dauberman
,
horror
,
Isaiah Mustafa
,
James McAvoy
,
James Ransone
,
Jay Ryan
,
Jessica Chastain
,
Lumayan
,
REVIEW
ANNABELLE COMES HOME (2019)
Rasyidharry
Kita sudah melihat asal-usul boneka
Annabelle di film pertama yang hancur lebur, lalu mempelajari asal-usul dari
asal-usul tersebut melalui keseruan Anabelle:
Creation. Masih adakah cerita tersisa untuk dituturkan? Jawabannya “tidak”.
Annabelle Comes Home yang membawa
kita kembali ke zaman modern membuktikan itu, dengan nyaris sepenuhnya
mengesampingkan plot demi deretan set
pieces horor, yang untungnya, lumayan solid walau kurang berkesan.
“Annabelle adalah suar bagi para
roh”, demikian ucap Lorraine (Vera Farmiga) kepada sang suami, Ed (Patrick
Wilson), sebelum mengurung si boneka di balik kotak kaca suci, yang menandakan
bahwa film ini mengambil latar segera setelah adegan pembuka The Conjuring. Kalimat Lorraine menjadi
pondasi sutradara sekaligus penulis naskah Gary Dauberman dalam menggerakkan
filmnya. Sehingga, begitu Annabelle keluar dari kurungannya, ada alasan mengapa
barisan monster ikut berseliweran. Trik sederhana, dangkal, namun cukup cerdik.
Tapi siapa yang cukup bodoh untuk
berinisiatif mengeluarkan Annabelle? Semua berawal saat Ed dan Lorraine mesti
meninggalkan sang puteri, Judy (Mckenna Grace) di bawah pengawasan Mary Ellen
(Madison Iseman), selama mereka bekerja di luar kota. Ikut hadir pula Daniela
(Katie Sarife), sahabat Mary yang menyimpan penasaran besar terhadap aktivitas
supernatural Keluarga Warren. Ya, Daniela bertanggung jawab atas terlepasnya
Annabelle bersama lusinan roh jahat lain.
Tanpa menjustifikasi atau
mengurangi tingkat kebodohannya, tindakan Daniela itu bisa dipahami ketika
Dauberman menyelipkan latar belakang tragis pada karakternya, yang berpotensi
menginjeksi elemen drama menyentuh andai Daniela diposisikan sebagai tokoh
utama tunggal. Setidaknya berdua bersama Judy yang jadi korban perisakan karena
profesi orang tuanya. Sementara Mary urung diberikan porsi memadai.
Begitu Annabelle menghilang dari kotaknya,
demikian pula plot film ini. Set piece demi
set piece saling menyusul atau hadir secara
simultan dalam konsep yang mengingatkan kepada seri film Goosebumps ketika monster-monster “koleksi” tokoh utamanya kabur
dan menebar teror (trivia: Madison
Iseman bermain di Goosebumps 2: Haunted
Halloween). Ada hantu pengantin yang mengayunkan pisau, iblis bertanduk,
manusia serigala, hingga The Ferryman yang terinspirasi sosok Charon dari
mitologi Yunani.
Memiliki desain menarik, saya yakin
jajaran monster baru di atas bakal kesulitan menandingi status ikonik seniornya
seperti Valak dan tentunya Annabelle. Penyebabnya sederhana, yaitu kemunculan ala
kadarnya. Beberapa jump scare—yang muncul
menyusul build up yang kerap
terlampau lama—memang efektif meningkatkan denyut jantung sesaat, namun miskin
kreativitas, sebatas menampakkan wajah hantu secara tiba-tiba.
Kurangnya kreativitas turut
menciptakan antiklimaks di momen puncak tatkala Annabelle Comes Home gagal memanfaatkan banyaknya jumlah hantu.
Bahkan teror si boneka terkutuk ditutup dengan cara yang malas. Tapi saya
percaya Dauberman menyimpan banyak ide cemerlang (jangan lupa, dialah penulis Annabelle: Creation dan It). Terbukti, sewaktu dipaksa memutar
otak lebih keras guna menampilkan teror tanpa penampakan, beberapa situasi menarik
berhasil diproduksi, misalnya momen menegangkan yang melibatkan layar televisi.
Annabelle Comes Home tidak seseram, seseru, maupun selucu Creation, tapi memiliki paparan drama
yang meski kecil, cukup baik perihal menggerakkan rasa. Berkat penokohan likeable ditambah penampilan solid
khususnya dari Mckenna Grace, Katie Sarife, dan Vera Farmiga yang mumpuni
menghantarkan emosi, kalimat-kalimat singkat (“Life goes on, somehow”, “He
was the boyfriend”, etc.) bisa
terkesan hangat, pedih, manis, pahit. Beraneka rasa.
Juni 26, 2019
Cukup
,
Gary Dauberman
,
horror
,
Katie Sarife
,
Madison Iseman
,
Mckenna Grace
,
Patrick Wilson
,
REVIEW
,
Vera Farmiga
THE NUN (2018)
Rasyidharry
The Nun adalah korban benturan kepentingan artistik dengan potensi
finansial. Para pembuatnya, yang digawangi sutradara Corin Hardy (The Hallow) serta James Wan sebagai
produser, sadar bahwa seri The Conjuring
butuh napas baru. Tapi sepenuhnya berpindah jalur dapat “mengkhianati”
ekspektasi penonton yang—pasca kesuksesan 4 filmnya meraup lebih dari $1,2
miliar berkat segala cirinya—sudah mantap ingin disuguhi tontonan seperti apa: straight up haunted house ride.
Naskah karya Gary Dauberman (Annabelle: Creation, It) menyenggol area
petualangan berbumbu fantasi ala The
Mummy (1999) milik Stephen Sommers, tapi tak mempunyai cukup nyali untuk
total beralih ke sana (detailnya bakal dibahas nanti). Lokasinya sendiri, yang
kali ini berlatar waktu tahun 1952 atau 25 tahun sebelum The Conjuring 2 (2016), beralih dari rumah tua ke biara tua, yang
sejatinya tak mengandung banyak pembeda terkait pemanfaatannya sebagai panggung
teror mistis.
Masih dalam ruang remang-remang,
perbedan terbesar justru berupa hal negatif, di mana ketiadaan “keluarga
harmonis dalam ancaman hantu” turut meniadakan keintiman kaya rasa yang jadi
nilai tambah deretan installment The Conjuring. Kini karakter utamanya
adalah Irene (Taissa Farmiga), seorang novice yang diutus oleh Vatikan membantu
penyelidikan Pendeta bernama Burke (Demián Bichir) terhadap peristiwa bunuh
diri seorang suster di suatu biara di Rumania. Tragedi tersebut bertindak
selaku momen pembuka The Nun, yang
menyiratkan misteri di balik sosok Valak, namun malah meninggalkan lubang alur
menganga terkait modus operandi sang hantu ternama, yang membutuhkan tubuh guna
memasuki dunia manusia.
Dibantu pria setempat, Frenchie
(Jonas Bloquet), keduanya berusaha mencari kebenaran menyibak tabir rahasia,
yang sebagaimana tagline-nya,
merupakan “Babak tergelap dalam dunia
The Conjuring”. Benar bahwa biara
yang alih-alih suci justru jadi sarang iblis adalah gagasan kelam, tapi tak
terpapar kuat akibat urung dibarengi story
arc mendukung soal para protagonisnya. Keduanya tidak mempertanyakan iman
masing-masing, bahkan keduanya nyaris tidak melewati proses internal sepanjang
durasi. Patut disayangkan mengingat Bichir, sang peraih nominasi Oscar, pasti
sanggup menangani peran kompleks semacam itu.
Walau sama-sama terdiri dari pria
dan wanita yang akrab dengan hal-hal magis, dinamika Burke-Irene dan
Ed-Lorraine ibarat langit dan bumi. Tanpa chemistry,
tanpa lapisan karakterisasi. Irene diceritakan menyimpan “bakat” serupa
Lorraine, namun kurang digali untuk menghasilkan konflik batin mumpuni. Setelah
di awal kesulitan memahami kemampuan itu, tiba-tiba ia sanggup mengendalikan tanpa
menempuh proses apa pun, sebab naskahnya memerlukan cara mengakhiri konflik.
Jangan kaget apabila pada sekuelnya nanti, Lorraine dan Irene diceritakan punya
hubungan darah sebagaimana kedua aktris pemerannya di dunia nyata.
Teror di sekitar karakter, yang
merupakan alasan utama penonton berbondong-bondong meramaikan bioskop, gagal
menjadi wahana pemacu jantung. Seperti sedikit disinggung sebelumnya,
penyebabnya tak lain peleburan parade jump
scare dengan petualangan sarat aksi. Keduanya berbeda. Saya mengibaratkan jump scare layaknya tabrak lari. Fasenya
kurang lebih berjalan begini: penonton menunggu–hantu muncul secara
mengejutkan–hantu menghilang. Trik ini bertujuan melonjakkan intensitas, lalu memberi penonton kesempatan bernapas sembari menunggu hentakan
berikutnya. Sementara petualangan/aksi, walau bisa mengagetkan, menekankan pada
momen “pasca”. Karakter dituntut berjibaku melawan makhluk yang muncul,
membangun intensitas kontinyu daripada sekali waktu.
Hardy acap kali kelabakan
menyatukan dua elemen tadi, khususnya sepanjang second act. Pembangunan tensi yang perlahan jelas mengikuti pola
horor James Wan, tetapi kemunculan Valak dan kompatriotnya sesama makhluk gaib
ditangani bak serbuan monster yang sekedar muncul di layar, minim elemen kejut,
lalu menantang sang jagoan beradu fisik. Namun sebelum adu fisik mencapai
puncak ketegangan sebagaimana mestinya film aksi/petualangan berkualitas,
makhluk tersebut lenyap. Hardy berusaha menggabungkan dua pola yang terbukti
tidak berjodoh.
Penelusuran misteri sempat menarik di paruh awal. Sederet tanya terkait asal muasal Valak, juga
misteri di balik sikap aneh para biarawati, menyuntikkan cukup daya tatkala jump scare kehilangan taring sementara
potensi humor segar tersia-siakan dikarenakan Hardy kurang piawai memainkan comic timing. Namun begitu serangkaian
tanya menemukan titik terang, yang dijabarkan lewat eksposisi plus flashback pendek, daya cengkeram alurnya
ikut memudar. Jangan harap memperoleh latar belakang rumit tentang Valak. Selalu
cuma ada satu jawaban bagi pertanyaan “Dari mana iblis berasal?”.
Klimaks adalah momen sewaktu The Nun akhirnya berani melangkah lebih
jauh ke lingkup petualangan. Mengetengahkan pencarian benda pusaka sambil
diselingi pertarungan kontak fisik yang tidak lagi hadir malu-malu (bahkan
melibatkan senjata), terciptalah hiburan yang datang terlambat. Ambisi
melahirkan spin-off bernuansa lain
layak diberi nilai tambah, tapi bila Wan dan rekan-rekan berharap terus
memperpanjang sekaligus memperlebar cakupan dunia The Conjuring, formula supaya warna baru dan signature lamanya mampu disatukan perlu segera ditemukan.
September 06, 2018
Corin Hardy
,
Demian Bichir
,
Gary Dauberman
,
horror
,
James Wan
,
Jonas Bloquet
,
Kurang
,
REVIEW
,
Taissa Farmiga
IT (2017)
Rasyidharry
It buatan Andy Muschietti (Mama) berada di jalan yang tepat untuk merengkuh status "instant classic" berkat keberhasilan menjadi banyak hal positif. Diangkat dari novel berjudul sama karya Stephen King, film ini sanggup memodifikasi tanpa melupakan esensi, dan bila anda telah menonton miniseries 2 episodenya (1990), ada perasaan familiar sekaligus menyegarkan. Mempertahankan inti novel King, It mengandung unsur coming-of-age sebagai sarana menuturkan subteks mengenai proses melawan rasa takut khususnya pada anak. Suatu pembuktian jika horor mainstream tak selamanya lalai mengurusi penceritaan.
Memindahkan setting 1950-an ke 1989, alkisah di Derry, sebuah kota kecil yang diselimuti misteri hilangnya banyak anak-anak. George (Jackson Robert Scott), adik Bill (Jaeden Lieberher) jadi salah satunya. Momen hilangnya George pun merupakan perkenalan kita dengan It/Pennywise (Bill Skarsgard), entitas jahat yang kerap mengambil wujud badut dan beraksi memangsa anak kecil tiap 27 tahun sekali. Penampakan perdana Pennywise bagai pernyataan Muschietti, bahwa berbeda dengan miniseries-nya, versi layar lebar ini bersedia menyentuh ranah lebih gelap, baik di balik ceritanya maupun aspek kasat mata lewat gore penyusun gambaran nasib tragis tokoh bocah.
Naskah tulisan Chase Palmer, Cary Fukunaga, dan Gary Dauberman disusun atas pemahaman kalau keberhasilan memacu intensitas dan kengerian horor tak terlepas dari seberapa jauh penonton terikat dengan jajaran tokoh. Selain fakta mereka masih bocah (we have soft spot for children), masing-masing memiliki faktor pendorong dukungan penonton. Bill berusaha menemukan sang adik, Beverly (Sophia Lillis) dilecehkan ayahnya, Eddie (Jack Dylan Grazer) dikekang oleh ibunya, sementara Mike (Chosen Jacobs) korban rasisme. Dan kesamaan sekaligus penyatu ketujuh karakter utama (dipanggil The Losers Club" yaitu sama-sama di-bully oleh Henry (Nicholas Hamilton). Bahkan Henry bukan semata tokoh jahat dua dimensi. Sikapnya didasari didikan keras berlebihan sang ayah.
Musuh terbesar mereka tak lain rasa takut, yang kemudian Pennywise wujudkan guna menebar teror. Karena ketakutan tiap tokoh berbeda bentuk, jadilah The Losers Club melawan Pennywise lebih dari pertarungan membasmi makhluk jahat, tapi tentang mengalahkan ketakutan. Menghadapi SARA, trauma, fobia, rasa bersalah, penindas, terdapat konteks perjuangan luas sehingga It bekerja secara universal. Makin kuat ikatan penonton dengan The Losers Club berkat performa solid deretan cast. Sophia Lillis dengan kedalaman memainkan gadis "bermasalah" pencari tempat bernaung, Jaeden Lieberher yang berbeda dengan tokoh peranannya, tidak tergagap menghantarkan kerumitan gejolak batin, Finn Wolfhand sebagai Richie jago melempar lelucon nakal penyegar suasana di antara kengerian. Bersama, The Losers Club punya ikatan persahabatan kuat, memberi pondasi emosi penyokong jalan menuju sekuel.
Bill Skarsgard sebagai Pennywise adalah mimpi buruk, bukan saja untuk penderita coulrophobia (fobia badut). Setiap kehadirannya mengguncang, dengan tatapan, senyum, dan tawa yang seolah dapat mencabut nyawa. Muschietti memanfaatkan betul kengerian Skarsgard, menempatkan sang aktor di sudut-sudut yang efektif. Selain selipan gore dan suasana tak nyaman terkait keberanian memperlakukan tokoh anak begitu kejam, Muschietti cukup pandai meramu jump scare. Walau di beberapa kesempatan cenderung menerapkan metode standar di mana kemunculan mendadak jadi andalan, tetapi apa yang Pennywise perbuat meminimalisir kesan predictable. Mudah menduga "kapan", namun tidak dengan "bagaimana".
Musik Benjamin Wallfisch bak merangkum keseluruhan film. Meski menekankan atmosfer mengerikan atau dentuman mengejutkan, sesekali terdengar alunan megah bernuansa old school yang menyimpan harapan dan hati di tengah kepungan ancaman. It bisa menjadi seram pula brutal, namun tak ketinggalan menyimpan kehangatan, sisi manis bahkan emosional. Penonton menghabiskan lebih dari dua jam tersentak, berteriak, terpaku, tidak hanya dipicu ketakutan sendiri, sebab kita tahu begitu film usai kita akan selamat, tapi bagaimana dengan ketujuh tokoh utama? We scream for them and we cheer for their victory. The Losers Club saling peduli satu sama lain, pun demikian kita dengan mereka.
September 07, 2017
Andy Muschietti
,
Benjamin Wallfisch
,
Bill Skarsgard
,
Cary Fukunaga
,
Chase Palmer
,
Chosen Jacobs
,
Finn Wolfhand
,
Gary Dauberman
,
horror
,
Jack Dylan Grazer
,
Jaeden Lieberher
,
Nicholas Hamilton
,
REVIEW
,
Sophia Lillis
ANNABELLE: CREATION (2017)
Rasyidharry
Prekuel Annabelle adalah salah satu horor terbaik 2017. Kalau tiga tahun lalu selepas film pertama yang begitu buruk rilis ada pernyataan demikian, pasti saya tertawa. Namun kenyataannya, Annabelle: Creation memang salah satu horor terbaik tahun ini. Memberi origin baru yang sesungguhnya merupakan retcon, karya dari David F. Sandberg (Lights Out) ini membawa kisahnya mundur menuju sekitar tahun 1950-an, ketika seorang pembuat boneka bernama Samuel Mullins (Anthony LaPaglia) dan istrinya, Esther Mullins (Miranda Otto) kehilangan sang puteri tunggal, Annabelle (Samara Lee), akibat kecelakaan.
12 tahun berselang, Samuel dan Esther menjadikan rumah mereka sebagai panti asuhan teruntuk segelintir anak perempuan bimbingan Suster Charlotte (Stephanie Sigman). Kebahagiaan memperoleh rumah baru berukuran besar tidak bertahan lama, khususnya bagi Janice (Talitha Bateman) yang pada suatu malam tertarik memasuki sebuah kamar meski telah dilarang oleh Samuel. Rupanya kamar itu milik Annabelle dulu, dan tanpa Janice sadari, ia sudah membebaskan sesosok roh jahat dari kekangan. Roh yang siap menebar teror keji berkepanjangan.
Tanda peningkatan kualitas dibanding installment pendahulunya langsung terpercik sejak opening sequence-nya. Sandberg memilih menyusun kesunyian, memperlihatkan proses Samuel menciptakan boneka Annabelle disusul bermain petak umpet bersama puterinya. Nihil musik atau efek suara, hanya kesepian pemantik antisipasi yang terasa mencekik. Nuansa sepi terus bertahan mencapai pertengahan durasi, namun bukan kekosongan melelahkan. Ada sedikit introduksi atas segala keanehan dalam rumah sampai deretan teror berskala kecil seperti sekelebat bayangan. Atmosfer terbangun kuat di mana Sandberg dibantu pembagian sisi gelap dan terang ruangan oleh sinematografi Maxime Alexandre memancing ketakutan alamiah kita bahwa ada sosok seram tengah mengintai dari balik kegelapan.
Tapi Sandberg sadar, atmosfer saja takkan cukup memuaskan penonton luas. Butuh parade jump scare. Mengikuti ilmu James Wan ditambah kreativitas sebagaimana dia pamerkan dalam Lights Out, jump scare olahan Sandberg berisi penampakan-penampakan lewat cara serta waktu yang kerap tak terduga. Para hantu bukan saja numpang lewat memamerkan tampang seram, tetapi "aktif" melakukan sesuatu, sebutlah mendorong kursi roda di siang bolong. Babak tengah film praktis bergerak di jalur formulaik berupa teror tanpa henti, namun eskalasi tempo setelah paruh awal yang menjalar pelan plus metode cukup kreatif sang sutradara, ampuh menjaga atensi.
Turut menjaga film terjerumus pada kehampaan adalah jajaran pemeran. Naskah Gary Dauberman terbagi menjadi dua fokus. Separuh pertama jadi panggung Talitha Baterman menunjukkan akting meyakinkan terkait ekspresi ketakutan. Tatkala kamera kerap mengambil close-up, kita bagai melihat penampilan aktris yang berpengalaman di ranah horor. Lalu paruh kedua diisi Lulu Wilson sebagai sahabat Janice, Linda. Wilson bak mewakili niat Sandberg bersenang-senang menggarap filmnya. Baik celotehan singkat ("who cares, run!" is my favorite line) maupun respon lugu atas teror boneka Annabelle menghadirkan kesegaran humor secukupnya yang tak sampai mendistraksi parade horor. Tapi tingkah polos Linda justru masuk logika, sehinga selain jadi salah satu tokoh bocah paling likeable dalam horor belakangan ini, pula terpintar.
Menyentuh third act, Sandberg tidak lagi menahan diri. Dilepaskan segala amunisi, dipacunya tempo secepat mungkin. Tidak sampai terburu-buru pula, sebab Sandberg masih menjembatani momen demi momen, menghasilkan antisipasi yang tak kalah menegangkan dibanding suguhan kengerian utama. Berlangsung panjang namun tidak berlebihan dan konsisten menjaga dinamika, klimaks Annabellee: Creation layak mendefinisikan "epic horror entertainment". Terkait eksistensinya dalam The Conjuring universe, sepanjang film ikut disematkan beberapa koneksi dengan judul-judul sebelumnya, termasuk credit scene (ada dua buah) yang merujuk pada spin-off berikutnya yang bakal rilis tahun depan.
Review Annabelle: Creation juga tersedia di: http://tz.ucweb.com/8_L7Lz
Agustus 10, 2017
Anthony LaPaglia
,
Bagus
,
David F. Sandberg
,
Gary Dauberman
,
horror
,
Lulu Wilson
,
Maxime Alexandre
,
Miranda Otto
,
REVIEW
,
Samara Lee
,
Stephanie Sigman
,
Talitha Bateman
Langganan:
Komentar
(
Atom
)













