Tampilkan postingan dengan label Corin Hardy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Corin Hardy. Tampilkan semua postingan
THE NUN (2018)
Rasyidharry
The Nun adalah korban benturan kepentingan artistik dengan potensi
finansial. Para pembuatnya, yang digawangi sutradara Corin Hardy (The Hallow) serta James Wan sebagai
produser, sadar bahwa seri The Conjuring
butuh napas baru. Tapi sepenuhnya berpindah jalur dapat “mengkhianati”
ekspektasi penonton yang—pasca kesuksesan 4 filmnya meraup lebih dari $1,2
miliar berkat segala cirinya—sudah mantap ingin disuguhi tontonan seperti apa: straight up haunted house ride.
Naskah karya Gary Dauberman (Annabelle: Creation, It) menyenggol area
petualangan berbumbu fantasi ala The
Mummy (1999) milik Stephen Sommers, tapi tak mempunyai cukup nyali untuk
total beralih ke sana (detailnya bakal dibahas nanti). Lokasinya sendiri, yang
kali ini berlatar waktu tahun 1952 atau 25 tahun sebelum The Conjuring 2 (2016), beralih dari rumah tua ke biara tua, yang
sejatinya tak mengandung banyak pembeda terkait pemanfaatannya sebagai panggung
teror mistis.
Masih dalam ruang remang-remang,
perbedan terbesar justru berupa hal negatif, di mana ketiadaan “keluarga
harmonis dalam ancaman hantu” turut meniadakan keintiman kaya rasa yang jadi
nilai tambah deretan installment The Conjuring. Kini karakter utamanya
adalah Irene (Taissa Farmiga), seorang novice yang diutus oleh Vatikan membantu
penyelidikan Pendeta bernama Burke (Demián Bichir) terhadap peristiwa bunuh
diri seorang suster di suatu biara di Rumania. Tragedi tersebut bertindak
selaku momen pembuka The Nun, yang
menyiratkan misteri di balik sosok Valak, namun malah meninggalkan lubang alur
menganga terkait modus operandi sang hantu ternama, yang membutuhkan tubuh guna
memasuki dunia manusia.
Dibantu pria setempat, Frenchie
(Jonas Bloquet), keduanya berusaha mencari kebenaran menyibak tabir rahasia,
yang sebagaimana tagline-nya,
merupakan “Babak tergelap dalam dunia
The Conjuring”. Benar bahwa biara
yang alih-alih suci justru jadi sarang iblis adalah gagasan kelam, tapi tak
terpapar kuat akibat urung dibarengi story
arc mendukung soal para protagonisnya. Keduanya tidak mempertanyakan iman
masing-masing, bahkan keduanya nyaris tidak melewati proses internal sepanjang
durasi. Patut disayangkan mengingat Bichir, sang peraih nominasi Oscar, pasti
sanggup menangani peran kompleks semacam itu.
Walau sama-sama terdiri dari pria
dan wanita yang akrab dengan hal-hal magis, dinamika Burke-Irene dan
Ed-Lorraine ibarat langit dan bumi. Tanpa chemistry,
tanpa lapisan karakterisasi. Irene diceritakan menyimpan “bakat” serupa
Lorraine, namun kurang digali untuk menghasilkan konflik batin mumpuni. Setelah
di awal kesulitan memahami kemampuan itu, tiba-tiba ia sanggup mengendalikan tanpa
menempuh proses apa pun, sebab naskahnya memerlukan cara mengakhiri konflik.
Jangan kaget apabila pada sekuelnya nanti, Lorraine dan Irene diceritakan punya
hubungan darah sebagaimana kedua aktris pemerannya di dunia nyata.
Teror di sekitar karakter, yang
merupakan alasan utama penonton berbondong-bondong meramaikan bioskop, gagal
menjadi wahana pemacu jantung. Seperti sedikit disinggung sebelumnya,
penyebabnya tak lain peleburan parade jump
scare dengan petualangan sarat aksi. Keduanya berbeda. Saya mengibaratkan jump scare layaknya tabrak lari. Fasenya
kurang lebih berjalan begini: penonton menunggu–hantu muncul secara
mengejutkan–hantu menghilang. Trik ini bertujuan melonjakkan intensitas, lalu memberi penonton kesempatan bernapas sembari menunggu hentakan
berikutnya. Sementara petualangan/aksi, walau bisa mengagetkan, menekankan pada
momen “pasca”. Karakter dituntut berjibaku melawan makhluk yang muncul,
membangun intensitas kontinyu daripada sekali waktu.
Hardy acap kali kelabakan
menyatukan dua elemen tadi, khususnya sepanjang second act. Pembangunan tensi yang perlahan jelas mengikuti pola
horor James Wan, tetapi kemunculan Valak dan kompatriotnya sesama makhluk gaib
ditangani bak serbuan monster yang sekedar muncul di layar, minim elemen kejut,
lalu menantang sang jagoan beradu fisik. Namun sebelum adu fisik mencapai
puncak ketegangan sebagaimana mestinya film aksi/petualangan berkualitas,
makhluk tersebut lenyap. Hardy berusaha menggabungkan dua pola yang terbukti
tidak berjodoh.
Penelusuran misteri sempat menarik di paruh awal. Sederet tanya terkait asal muasal Valak, juga
misteri di balik sikap aneh para biarawati, menyuntikkan cukup daya tatkala jump scare kehilangan taring sementara
potensi humor segar tersia-siakan dikarenakan Hardy kurang piawai memainkan comic timing. Namun begitu serangkaian
tanya menemukan titik terang, yang dijabarkan lewat eksposisi plus flashback pendek, daya cengkeram alurnya
ikut memudar. Jangan harap memperoleh latar belakang rumit tentang Valak. Selalu
cuma ada satu jawaban bagi pertanyaan “Dari mana iblis berasal?”.
Klimaks adalah momen sewaktu The Nun akhirnya berani melangkah lebih
jauh ke lingkup petualangan. Mengetengahkan pencarian benda pusaka sambil
diselingi pertarungan kontak fisik yang tidak lagi hadir malu-malu (bahkan
melibatkan senjata), terciptalah hiburan yang datang terlambat. Ambisi
melahirkan spin-off bernuansa lain
layak diberi nilai tambah, tapi bila Wan dan rekan-rekan berharap terus
memperpanjang sekaligus memperlebar cakupan dunia The Conjuring, formula supaya warna baru dan signature lamanya mampu disatukan perlu segera ditemukan.
September 06, 2018
Corin Hardy
,
Demian Bichir
,
Gary Dauberman
,
horror
,
James Wan
,
Jonas Bloquet
,
Kurang
,
REVIEW
,
Taissa Farmiga
Langganan:
Postingan
(
Atom
)

