Tampilkan postingan dengan label Fico Fachriza. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fico Fachriza. Tampilkan semua postingan
DOA (DOYOK-OTOY-ALI ONCOM): CARI JODOH (2018)
Rasyidharry
Sebuah adegan di trailer memperlihatkan Mang Ujang (Ence
Bagus) si penjual kopi mengomel sementara kopi mengucur dari mulutnya. Di film,
ketika Mang Ujang hendak mengulangi perbuatan sama (membuat kopi dalam mulut
alih-alih cangkir), Ali Oncom (Dwi Sasono) menyela dengan berkata “Jangan
diulang Bang, yang tadi aja nggak lucu”. Ucapan Ali sebenarnya bisa ditujukan
bagi keseluruhan DOA (Doyok-Otoy-Ali
Oncom): Cari Jodoh, selaku komedi yang keliru menyamakan definisi “lucu”
dengan “aneh” dan “absurd”.
Saya ambil satu lagi adegan dari trailer ketika Doyok (Fedi Nuril)
ditelepon oleh mendiang sang ibu (Yati Surachman), yang muncul dalam wujud
pocong. Doyok diminta agar cepat mencari jodoh, lalu bermuara pada adegan
musikal di mana Doyok menyanyikan Cari Jodoh
milik Wali, berlagak bak rock star,
sedangkan sang ibu bersama pocong-pocong lain jadi penari latar. Daripada seru
dan lucu, saya malah dibuat kebingungan. Saya mesti merespon bagaimana? Musikal
berikutnya, walau tak sebegitu aneh, tampil datar dalam kemasan medioker. Entah
apa alasan mengganti lirik lagu-lagunya, yang alih-alih lucu justru mengurangi hook lagu. Padahal lagu tema, yang telah
lebih dulu mengiringi serial animasi televisinya, luar biasa catchy.
Mengadaptasi komik strip rubrik Lembergar
(Lembar Bergambar) milik harian Pos Kota, film ini mengisahkan persahabatan
tiga pengangguran: Doyok, Otoy (Pandji Pragiwksono), dan Ali Oncom. Otoy selalu
jadi sasaran kemarahan istrinya, Elly (Nirina Zubir) akibat hanya
bermalas-malasan, Ali Oncom gemar menggoda wanita walau telah memacari Yuli
(Jihane Almira), sedangkan Doyok, masih melajang. Otoy dan Ali Oncom pun
tergerak mencarikan kawannya jodoh melalui berbagai cara. Salah satunya lewat
situs “Minder”. Ya, satu lagi humor plesetan merk yang bagai kegemaran Anggy,
yang kali ini tak hanya menyutradarai, pula menulis naskahnya bersama Fico
Fachriza.
Tapi plesetan di atas masih lebih
baik daripada 2 gaya komedi yang diandalkan film ini, yaitu 1) Komedi absurd
yang dibuat seabsurd serta seaneh mungkin, dan 2) Komedi jorok yang dikemas, well, sejorok mungkin. Namun seolah
tidak ada yang berusaha dijadikan selucu mungkin. Seberapa absurd? Bayangkan
Anggy Umbara, tampil sebagai cameo,
memerankan juri lomba debat bernama Manoj P., yang membuka perlombaan dengan
teriakan “Action!”. Seberapa jorok?
Pada satu titik, kita diserbu humor berlandaskan alat kelamin yang menampilkan
penis salah satu tokoh terjebit dua kali. Anggy memang liar. Saat keliaran itu
tersalurkan secara tepat dan terkontrol, ia mampu melahirkan kreativitas
tinggi. Sayangnya tidak di sini. Biar seorang sutradara aksi yang bagus, Anggy
bukan sutradara komedi mumpuni. DOA (Doyok-Otoy-Ali
Oncom): Cari Jodoh adalah bukti nyata.
Karena bagaimana bisa sebuah film
amat tidak lucu ketika diisi nama-nama bertalenta? Selain materi lemah, fakta
bahwa pemeran pendukung tampil lebih solid ketimbang mayoritas pemain utama
merupakan salah satu faktor. Ketika Dwi Sasono, dengan riasan yang membuatnya
sulit dikenali, memikat berkat kemampuan menciptakan tawa unik, Pandji adalah
Pandji seperti biasa, hanya gaya rambut aneh plus perut (lebih) buncit yang
membedakan. Kemudian Fedi Nuril, meski mengenakan gigi tonggos palsu sembari menyindir
Fahri si pujaan wanita yang ia perankan di Ayat-Ayat
Cinta, jelas belum sepenuhnya piawai berkomedi. Berbeda dengan deretan pemain
pendukung, khususnya para wanita. Nirina yang masih ahli mengoceh bak lesatan
peluru, Titi Kamal dengan cara bicara dan gerak bibir aneh, sampai Laura Basuki
yang menggila, menjaga filmnya dari kehancuran total.
Dan kita pun tahu pasti gaya khas
Anggy Umbara. Dia takkan membiarkan DOA
(Doyok-Otoy-Ali Oncom): Cari Jodoh berakhir sebagai film mengenai pencarian
jodoh berlatar kehidupan masyarakat kampung kelas menengah ke bawah semata.
Sehingga, third act-nya, melompat ke
satu lagi twist berkonsep tinggi yang
menggiring kita menuju klimaks berupa baku hantam sarat kekacauan. Ketika saya
berpikir Anggy mulai mampu mengontrol dosis keliaran eksplorasinya untuk
dipakai seperlunya seperti dalam Insya
Allah Sah 2, sang sutradara justru menghasilkan absurditas berikutnya, yang
juga karya terburuknya sejak Comic 8:
Casino Kings Part 1 (2015).
Agustus 18, 2018
Anggy Umbara
,
Comedy
,
Dwi Sasono
,
Ence Bagus
,
Fedi Nuril
,
Fico Fachriza
,
Indonesian Film
,
Jelek
,
Laura Basuki
,
Nirina Zubir
,
Pandji Pragiwaksono
,
REVIEW
,
Titi Kamal
,
Yati Surachman
Langganan:
Komentar
(
Atom
)

