Tampilkan postingan dengan label Dwi Sasono. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dwi Sasono. Tampilkan semua postingan

REVIEW - MENCURI RADEN SALEH

Mencuri Raden Saleh punya segudang alasan untuk diragukan. Genre yang kurang lazim di perfilman Indonesia, kapasitas Angga Dwimas Sasongko mengarahkan aksi yang tak sekuat drama, jajaran bintang idola anak muda yang sekilas dipilih cuma demi mengejar untung, hingga trailer yang tak spesial biarpun jauh dari buruk. Hasilnya? Surprise, this is one of our best blockbusters in years. 

Salah satu upaya terbaru film Indonesia merambah heist adalah lewat The Professionals (2016) yang luar biasa canggung, akibat memandang genre ini sebatas mementingkan karakter ganteng dan cantik bertingkah sok keren, sembari mengenakan setelan mahal. Mencuri Raden Saleh juga dipenuhi karakter ganteng dan keren, tapi mereka bukan sekadar pajangan. 

Ditulis oleh Angga bersama Husein M. Atmodjo (Midnight Show, 22 Menit, Perburuan), naskahnya tahu cara mengelola karakter. Buktinya, ia rela menghabiskan banyak porsi guna mengupas jati diri mereka, walau harus membuat filmnya berdurasi 154 menit (andai di bawah dua jam, hasilnya pasti hambar). 

Piko (Iqbaal Ramadhan) dan Ucup (Angga Yunanda) bekerja sama dalam bisnis pemalsuan lukisan. Piko adalah pemalsu handal, sedangkan sebagai peretas, Ucup mampu memperoleh data yang diperlukan agar lukisan itu terlihat seasli mungkin. Piko mengumpulkan uang demi dua hal: membahagiakan kekasihnya, Sarah (Aghniny Haque), yang sedang berjuang menembus tim PON, dan membebaskan ayahnya, Budiman (Dwi Sasono), dari penjara. 

Maka ketika datang tawaran besar dari mantan presiden, Permadi (Tio Pakusadewo), untuk mencuri lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro karya Raden Saleh yang disimpan di istana negara, Piko tak kuasa menolak. Tim pun dikumpulkan: Gofar (Umay Shahab) si mekanik, Tuktuk (Ari Irham) si driver, dan Fella (Rachel Amanda) si bandar judi yang jadi tambahan sumber daya sekaligus otak rencana. 

Kita tahu jati diri, motivasi, dan terpenting, kemampuan mereka. Naskahnya meluangkan waktu, memberi porsi merata, supaya penonton yakin mereka merupakan ahli di bidang masing-masing. Kecuali Tuktuk. Mencuri Raden Saleh tak punya sekuen kebut-kebutan memadai sebagai pembuktian kualitas Tuktuk. 

Deretan karakternya pun hidup berkat performa tiap pemain. Iqbaal mengeksplorasi sisinya yang lebih tertutup, Angga Yunanda berevolusi jadi lead matang yang tampil lepas (I didn't know he can be this cool), Umay menampilkan akting dramatik, juga komedik melalui celetukan naturalnya. Mudah mendukung perjuangan mereka. Perjuangan yang senada dengan esensi lukisannya selaku simbol perlawanan terhadap kelicikan para pemegang kekuatan. 

Mengenai lukisan, keberhasilan filmnya mereproduksi karya Raden Saleh (konon dibuat oleh seorang pelukis maestro yang tentu saja tak bisa diungkap identitasnya) juga suatu pencapaian, sekaligus bukti bahwa Angga memedulikan detail. Total lima kanvas dibuat dalam beragam fase (sketsa hingga hasil akhir). 

Menyebut naskahnya mulus total mungkin kurang tepat. Beberapa detail rencana terkadang diolah kurang matang, pun twist-nya agak bergantung pada kebetulan, pula membuat ceritanya lebih rumit dari yang dibutuhkan. Tapi secara keseluruhan, alurnya cukup "belokan" sehingga dua setengah jam durasi terisi padat, entah berupa konflik interpersonal atau terkait jalannya misi. Tentu misinya tak berjalan mudah. Terjadi kegagalan yang sekilas nampak bodoh, namun kebodohan berujung kesalahan itu masuk akal, sebab tokoh-tokohnya bukanlah pencuri profesional.  

Meski tersisa sedikit keluhan, pengarahan aksi Angga kentara mengalami peningkatan. Terlebih, kali ini lubangnya tak terlalu mengganggu berkat iringan musik gubahan Abel Huray yang menyokong intensitas adegan. Bintangnya tentu Aghniny. Kita tahu kemampuan bela dirinya mumpuni, tapi baru di Mencuri Raden Saleh potensinya benar-benar dimaksimalkan. Kamera menangkap seluruh karisma serta gestur Aghniny, seolah ia (kamera) sendiri dibuat kagum olehnya. Aksinya menghajar musuh dalam balutan gaun merah merupakan puncak. Kemunculan Reza Hilman (juga menjabat koreografer film ini) di momen tersebut mungkin terkesan tiba-tiba, pula tanpa substansi berarti selain sebuah easter eggs, namun menyaksikan kombinasi dua jagoan bela diri tetap mengandung daya pikat tersendiri. 

Mencuri Raden Saleh membuktikan betapa industri kita sejatinya telah sangat siap melangkah lebih jauh dalam hal penambahan variasi. Bukan lagi di tahap "mari apresiasi karya unik anak bangsa". Sineas kita sudah menjalankan tugasnya. Sekarang semua terletak di tangan publik, untuk menentukan seberapa jauh upaya menambah keberagaman bakal melangkah. 

BUKU HARIANKU (2020)

Saya selalu mengapresiasi film anak dalam negeri. Generasi muda kita membutuhkannya. Termasuk Buku Harianku, walau plot maupun deretan lagunya kental nuansa recycle. Musikal dalam kisah tentang anak kota menyambangi desa dan/atau berlibur ke rumah kakek, sudah jadi pola berulang sejak era Petualangan Sherina dua dekade lalu hingga kini. Bahkan sebagaimana di Petualangan Menangkap Petir (2018), tokoh kakek juga diperankan Slamet Rahardjo.

Kila (Kila Putri Alam) merindukan mendiang ayahnya, Arya (Dwi Sasono) yang gugur saat bertugas sebagai tentara. Walau amat menyayangi Kila, sang ibu, Riska (Widi Mulia), selalu sibuk bekerja. Pun rencana liburan ke Bali mesti diundur karena Riska mendapat tugas dadakan dari kantor. Kila pun terpaksa menghabiskan liburan sementara waktu di rumah Kakek Prapto (Slamet Rahardjo), yang terletak di Desa Goalpara, Sukabumi.

Figur kakek identik dengan rasa sayang luar biasa kepada cucu, tapi tidak dengan Kakek Prapto. Sebagai pensiunan tentara, ia begitu keras, bahkan menganggap bocah seperti Kila hanya merepotkan saja. Walau dibuat kesal, Kila juga menemukan sahabat baru di Goalpara. Namanya Rintik (Widuri Putri), puteri Keling (Ence Bagus) dan Neneng (Wina Marrino) yang bekerja untuk Kakek Prapto. Biarpun Rintik memiliki disabilitas (bisu), hubungan mereka sama sekali tidak terhalang.

Disabilitas memang tak seharusnya menghalangi pertemanan. Itu merupakan satu dari sekian banyak pesan bernilai yang dituturkan oleh naskah buatan Alim Sudio. Perihal belajar bahasa isyarat, anjuran makan sayur, ajakan mencintai alam, dan pastinya nilai kekeluargaan merupakan hal-hal penting yang dapat anda ajarkan saat membawa anak/adik/keponakan menonton Buku Harianku.

Setidaknya berkat pesan-pesan di atas, anda takkan pulang dengan tangan kosong, mengingat sebagai musikal, film ini kurang berhasil. Walau semakin membaik seiring durasi, tata suara pada menit-menit awal seperti tanpa melewati proses mixing, yang mana merupakan kelemahan fatal bagi sebuah musikal. Deretan lagunya catchy, pun mengandung lirik ringan mengenai kehidupan sehari-hari yang mudah dicerna penonton anak. Tapi akibat kemiripan di sana-sini, lagu-lagunya bagai “pengulangan” dari lagu-lagu populer yang sudah lebih dulu muncul.

Apalagi belum semua momen musikalnya mencapai standar tontonan layar lebar. Disutradarai oleh Angling Sagaran (From London to Bali, Tabu) dengan tim dari EKI (Eksotika Karmawibangga Indonesia) sebagai pengarah tari, sekuen musikal Buku Harianku sering kekurangan tenaga, seolah tak melalui proses rehearsal (banyak musikal anak kita yang punya hasil jauh lebih baik), walau musikalnya melahirkan satu pemandangan hangat ketika Rintik dan Kila berdiri di panggung 17-an.

Terkait penceritaan, terdapat beberapa lubang. Pertama soal perubahan sikap karakter. Kakek Prapto semestinya dibawa melewati transformasi dari seorang kakek ketus menjadi lebih ramah, tapi gradasi itu tak nampak karena ambiguitas penokohan. Kadang ia galak, kadang melembut, sehingga saat titik balik sesungguhnya terjadi, dampaknya tidak terlalu besar. Sedangkan di kesempatan lain, Neneng sempat memarahi Kila yang dianggapnya membahayakan Rintik. Tapi keesokan harinya, semua kembali seperti semula, seolah tidak terjadi apa-apa. Permintaan maaf dari Neneng kepada Kila sebenarnya sudah cukup untuk menambal lubang itu.

Terdapat subplot lain mengenai Samsudi (Gary Iskak), seorang pebisnis yang berniat membangun resor dengan kedok memajukan pertanian Desa Goalpara. Konflik ini muncul hanya untuk memenuhi obligasi dalam aturan tak tertulis film anak, di mana keberadaan sosok penjahat merupakan kewajiban. Tapi selain nihil substansi dan takkan berdampak sedikit pun andai dihilangkan, pilihan konklusinya terkesan malas. Ini bukan simplifikasi guna memudahkan penonton anak, melainkan “simply lazy”.

Beruntung, Buku Harianku masih memiliki jajaran pemain yang tampil cukup solid. Di luar inkonsistensi penokohannya, Slamet Rahardjo tidak pernah gagal menambahkan hati. Begitu juga Ence Bagus, yang layak mendapat pengakuan lebih dari “sekadar” seorang komedian. Sementara Kila Putri Alam tidak terbebani kala melakoni peran utama dalam debut layar lebarnya. Santai, luwes, dan natural untuk ukuran aktris cilik, ia adalah figur yang pas untuk memimpin penonton anak mengarungi petualangan bernama Buku Harianku, yang sayangnya berjalan tidak terlalu mulus ini.

MEKAH I'M COMING (2020)

Lebih dari kelucuannya, Mekah I’m Coming, yang sebelumnya mengusung judul Haji Hoax, punya value besar karena keberaniannya menertawakan isu bertema religi. Ketika bangsa ini semakin kehilangan selera humor akibat mabuk agama, Jeihan Angga selaku sutradara sekaligus penulis naskah, seolah membawa saya kembali ke masa tatkala lawakan “Bahasa Arab” milik Bajaj Bajuri dulu belum dianggap ofensif. Bukan agama yang ditertawakan, melainkan kengawuran penganutnya.

Ibu saya pernah bercerita tentang keputusannya keluar dari grup WhatsApp haji, karena orang-orang di dalamnya memanggil satu sama lain dengan sebutan “Bu Hajjah”. “Ya itu kan grup haji. Otomatis semua haji dan hajjah. Ngapain manggil bu hajjah/pak haji? Kayak minta ditinggikan banget!”, ujarnya kesal. Realitanya memang demikian. Haji adalah gelar maha dahsyat yang sering membuat pemiliknya dipandang atau merasa lebih tinggi, lebih mulia, lebih memahami agama.

Karenanya, saat terancam kehilangan kekasihnya, Eni (Michelle Ziudith), yang oleh sang ayah, Haji Soleh (Totos Rasiti), bakal dijodohkan dengan Pietoyo (Dwi Sasono) si saudagar kaya dari kota, Eddy (Rizky Nazar) mantap berkata, “Saya akan naik haji tahun ini!”. Eddy sampai harus menjual bengkel kecilnya sebagai biaya. Tapi, akibat keterbatasan kuota, ia harus mengantre 10 tahun. Terpojok, Eddy nekat menerima tawaran sebuah agen perjalanan yang berjanji bisa memberangkatkannya haji tahun ini dengan biaya 240 juta rupiah.

Seperti sudah kita tahu dari trailer-nya, agen tersebut rupanya membohongi Eddy. Bersama “calon jemaah” lain bernama Fajrul (Ephy Sekurity), Eddy terjebak di Jakarta karena keduanya merasa malu untuk pulang ke rumah dalam kondisi gagal naik haji. Jeihan Angga lalu membawa penonton mendatangi sebuah daerah yang ditinggali oleh banyak korban penipuan agen perjalanan, yang memilih tidak pulang kampung sebelum benar-benar berangkat haji. Kita diajak mengintip sebuah sudut realita kelam Indonesia, dibawa mengetahui dampak besar dari komersialisasi agama serta pengultusan gelar haji.

Keduanya memang saling berkaitan. Tanpa pengultusan, dampak psikis yang dihasilkan takkan sebesar itu. Jeihan mampu memunculkan pemahaman terhadap isu tersebut melalui gaya penuh canda, tanpa memaksakan diri berpindah ke jalur drama sebagaimana  kebanyakan komedi lokal yang menyelipkan subteks di alurnya. Momen yang paling dekat menyentuh ranah dramatis adalah peristiwa romantis tak terduga di penghujung cerita. Peristiwa yang sejatinya tidak logis, namun bisa diterima, mengingat sejak awal Mekah I’m Coming jelas sudah menjauhkan diri dari logika.

Humornya memang masih cenderung hit-and-miss akibat tidak seluruh elemen penyutradaraan (timing, pengemasan hook sebuah banyolan) berjalan mulus. Tapi, keberanian Jeihan Angga menerapkan ide-ide kreatif dalam debutnya ini patut diberi pujian tinggi. Ditemani musik bernuansa Timur Tengah garapan Krisna Purna (Ayat-Ayat Cinta 2, Petualangan Menangkap Petir, Abracadabra), Jeihan memamerkan absurditas komedi, yang acap kali hadir dalam bentuk tak terduga, berkat kombinasi referensi segudang dengan keliaran ide sarat kreativitas, yang biasanya hanya akan berhenti sebagai kelakar konyol pada obrolan warung kopi. Ketika banyak sineas khawatir karyanya tampak norak jika secara total menerapkan komedi receh dan/atau tertawa di atas isu berbau agama, Jeihan melakukan keduanya.

Tertular kegilaan sang sutradara adalah jajaran pemainnya. Rizky Nazar, Ephy Sekuriti, hingga Totos Rasiti, semuanya menghibur. Tapi kejutan terbesar ditampilkan Michelle Ziudith. Meninggalkan zona nyamannya, Michelle tidak ragu mempermalukan diri demi efektivitas komedi dalam performa terbaik yang bisa saja membuka jalan baru bagi karirnya. Mekah I’m Coming pun menandai penampilan terakhir mendiang Ria Irawan, dan sungguh persembahan yang pantas untuk aktris legendaris sepertinya. Selamat jalan Mbak Ria.

DUA GARIS BIRU (2019)

Petisi penolakan terhadap Dua Garis Biru beberapa waktu lalu justru menguatkan urgensi debut penyutradaraan Gina S. Noer (Posesif, Keluarga Cemara) ini. Filmnya tidak mengajarkan seks bebas, tidak pula mengutuknya, sebab Dua Garis Biru tidak terjebak dalam ruang moralitas seperti para penggagas petisi itu. Ketimbang menyalahkan, kita diajak belajar tentang apa yang mesti dilakukan.

Kegemaran menghakimi adalah mentalitas yang ingin film ini runtuhkan. Bahkan sejak momen awal, kita langsung diperlihatkan contoh mentalitas itu, saat seorang guru berkata bahwa masa depan Dara (Zara JKT 48) cerah karena mendapat nilai 100, sebaliknya, Bima (Angga Yundanda) dengan nilai 40-nya tak punya masa depan. Kedua remaja ini berpacaran meski sekilas amat berlawanan. Bukan cuma soal akademik, juga status sosial. Dara yang berasal dari keluarga kaya bermimpi melanjutkan studi di Korea, sebaliknya, orang tua Bima belum tentu mampu membiayai kuliahnya.

Sampai suatu hari, pasangan ini berhubungan badan, dan seperti kita tahu, Dara akhirnya mengandung. Awalnya mereka berusaha menyembunyikan kehamilan Dara lewat beberapa rencana yang menunjukkan betapa remaja memang naif dan berpikiran pendek. Mereka pikir perut Dara yang makin besar bisa terus disembunyikan sampai kelulusan tiba. Mereka pikir si jabang bayi akan lahir begitu saja tanpa satu orang pun tahu. Mereka pikir proses kehamilan, kemudian persalinan, berjalan semudah itu.

Secepat kilat rahasia itu terbongkar. Cara Dua Garis Biru mengungkap kehamilan Dara sebenarnya terasa dipaksakan, tapi paling tidak, momen itu membuka jalan masuknya deretan situasi emosional, termasuk “adegan UKS” selaku adegan terbaik film ini, baik secara rasa maupun teknis.

Di situlah amarah, keterkejutan, dan keputusasaan menyambar bak petir. Di situlah jajaran cast bertalenta film ini untuk kali pertama berkumpul di satu ruangan. Di situlah kekecewaan Lulu Tobing (ibu Dara) menggelayuti layaknya awan mendung, amukan Dwi Sasono (ayah Dara) membuat orang-orang tersentak, kesabaran Arswendy Bening Swara (ayah Bima) muncul selaku penengah, sementara Cut Mini (ibu Bima), biarpun hanya berenjatakan dua kata, memasuki panggung dengan letupan yang membuat saya terpaku seketika.

Walau terdapat begitu banyak karakter saling melempar kalimat berintensitas tinggi, Gina justru menerapkan single take. Nekat, tapi terbayar. Melalui penataan kamera Padri Nadeak (Belok Kanan Barcelona, Hit & Run) yang bergerak penuh ketepatan timing ditambah kejelian Gina mengatur mise-en-scène, atmosfer “berat” yang membebani karakternya bisa turut kita rasakan.

Gina turut menumpahkan beragam hal yang ingin ia sentil dalam satu adegan itu, dari keputusan sekolah yang sebatas mementingkan citra, sampai kecenderungan orang tua mengedepankan ego dan emosi selepas mendengar kabar buah hati mereka hamil/dihamili. Tentu respon itu manusiawi. Alamiah. Sayangnya, tak sedikit orang tua berhenti di fase tersebut. Karena itu, Dua Garis Biru coba menuntun kita guna menemukan solusi.

Daripada menuding sambil berkoar, “Zina! Haram!! PENDOSA!!!”, Gina dengan cermat menjabarkan satu per satu dampaknya. Dampak di lingkup sosial, keluarga, masa depan, psikis, dan tentunya kesehatan fisik. Dua Garis Biru memandang penontonnya sebagai individu pintar lewat keengganannya menggiring opini. Seolah kita dipersilahkan memilih, sementara filmnya berkata lembut, “Demikian akibat-akibat yang dihasilkan. Apa kalian siap?”, alih-alih berteriak “Jangan lakukan!”. Beginilah sebenar-benarnya “film edukasi”.

Di tengah berbagai pesan usungannya, Dua Garis Biru tetap membawa kita kembali ke akar, apalagi kalau bukan keluarga, yang seharusnya jadi tempat berlindung. Dan dari situ filmnya memperoleh setumpuk momen emosional. Agak terlalu banyak malah, sehingga menjelang akhir, daya bunuhnya sempat berkurang. Makanan selezat apa pun bakal berkurang kenikmatannya jika dikonsumsi berlebihan.

Beruntung, Gina tak menaburkan terlampau banyak bumbu. Dia memilih untuk memanfaatkan akting pemain dan hanya menyelipkan kata-kata sederhana namun bermakna, yang sudah cukup merangkum semua rasa yang perlu penontonnya pahami. Contohnya permintaan maaf Dara kepada sang ibu. Air mata mengalir secukupnya, pula tanpa bait-bait puisi.

Mari membicarakan Dara, atau tepatnya sang pemeran, Zara JKT 48. Walau dikelilingi nama-nama besar, Zara tak pernah tampak kerdil. Bersama Angga, ia membangun chemistry manis, sehingga walau Bima dan Dara melakukan tindakan bodoh, saya masih memedulikan keduanya. Begitu pula yang semestinya terjadi apabila orang di sekitar kita mengalami kejadian serupa. Mereka mungkin bodoh, kita pun boleh marah, namun cinta, kepedulian, serta akal sehat tak boleh menguap.

MENDADAK KAYA (2019)

Kita semua punya kerabat atau teman yang berisik, sok asyik, banyak gaya, dan suka melucu walau tidak lucu. Alih-alih senang menghabiskan waktu bersamanya, kita justru terganggu, berharap waktu segera berlalu atau orang itu lenyap dari muka Bumi. Begitulah kesan yang diberikan Mendadak Kaya, sekuel dari DOA: Cari Jodoh yang mengadaptasi komik strip terbitan Poskota. Artinya, Anggy Umbara sukses menghasilkan dua installment berkualitas tiarap.

Tiga karakter utama kita masih sama. Doyok (Fedi Nuril) masih membujang, Otoy (Pandji Pragiwaksono) terus terlibat pertengkaran dengan sang istri, Eli (Nirina Zubir), sementara Ali Oncom (Dwi Sasono) tetap menghadapi jalan berbatu dalam memperjuangkan hubungannya dengan Yuli (Jihane Almira). Tentu saja ketiganya masih sama-sama miskin dan bergelimang hutang.

Ditulis naskahnya oleh Anggy Umbara bersama Iyam Renzia, Mendadak Kaya menghabiskan separuh awal durasi menuturkan usaha tiga tokoh utama mencari kerja. “Menuturkan” di sini bukan berarti bercerita secara layak, melainkan gabungan sketsa-sketsa konyol soal keseharian Doyok-Otoy-Ali Oncom di tempat kerja. Tidak ada cerita sungguhan, hanya pameran gaya Anggy (transisi animasi khasnya pun masih dipertahankan) yang daripada lucu, justru tampak makin murahan.

Saya paham bahwa kemasan murahannya, baik dari humor atau efek visual, adalah bentuk kesengajaan demi menyesuaikan target pasarnya, yakni pembaca Poskota yang biasanya berasal dari kalangan menengah ke bawah. Masalahnya, bukan cuma tidak lucu, gaya sok asyik Anggy tidak terasa sebagai usaha melucu. Bagian mana yang lucu dari kemunculan acak efek visual gelembung sabun sekelas video flash?

Apabila kita bedah satu per satu, sejatinya humor yang film ini tawarkan tidak buruk. Terkesan “murahan”, namun kekeliruan bukan terletak di situ, melainkan pada nihilnya kesadaran akan timing. Sekitar tiga atau empat titik memilikinya, tapi menilik kualitas penghantaran komedin secara menyeluruh, saya yakin itu sekadar kebetulan. Jam rusak saja masih bisa dua kali menunjukkan waktu yang benar.

Praktis, Mendadak Kaya amat bergantung kepada trio pemeran utama yang kembali berusaha semaksimal mungkin, khususnya Dwi Sasono, yang sempurna memerankan karakter komikal berkelakuan antik berfisik unik macam Ali Oncom.

Setelah menanti beberapa lama, akhirnya kita tiba pada titik di mana trio protagonisnya mendadak kaya, sesuatu yang dinanti-nanti karena itulah premis dasarnya, tapi justru dari sini Mendadak Kaya berubah dari komedi medioker menjadi komedi malas. Doyok, Otoy, dan Ali Oncom menghambur-hamburkan uang, membeli barang-barang mewah sambil bertingkah norak. Klise, tapi tak sampai menandingi kemalasan fase kala karakternya berlibur.

Berniat ke Disneyland, sebuah peristiwa bodoh justru membawa mereka berada di JungleLand. Berikutnya, Mendadak Kaya hanya menampilkan tiap-tiap tokoh menaiki wahana, diselingi humor ala kadarnya yang telah kita temui jutaan kali (Doyok, Otoy, dan Ali Oncom ketakutan menunggangi wahana lalu mual selepas melakukannya). Pun waktu dihabiskan terlalu lama, fase ini dapat menjadi sebuah episode vlog jalan-jalan di YouTube.

Bahkan vlog sepertinya masih lebih menghibur. Penataan kamera Edi Santoso (9 Naga, Susah Sinyal, DOA: Cari Jodoh) gagal mewakili keseruan aktivitas senang-senang di taman bermain. Dan tidak peduli dengan kalimat “Cintailah produk-produk Indonesia”, JungleLand bukanlah Disneyland. Tidak ada cukup kemeriahan, apalagi saat dibungkus sinematografi sekenanya.

DOA (DOYOK-OTOY-ALI ONCOM): CARI JODOH (2018)

Sebuah adegan di trailer memperlihatkan Mang Ujang (Ence Bagus) si penjual kopi mengomel sementara kopi mengucur dari mulutnya. Di film, ketika Mang Ujang hendak mengulangi perbuatan sama (membuat kopi dalam mulut alih-alih cangkir), Ali Oncom (Dwi Sasono) menyela dengan berkata “Jangan diulang Bang, yang tadi aja nggak lucu”. Ucapan Ali sebenarnya bisa ditujukan bagi keseluruhan DOA (Doyok-Otoy-Ali Oncom): Cari Jodoh, selaku komedi yang keliru menyamakan definisi “lucu” dengan “aneh” dan “absurd”.

Saya ambil satu lagi adegan dari trailer ketika Doyok (Fedi Nuril) ditelepon oleh mendiang sang ibu (Yati Surachman), yang muncul dalam wujud pocong. Doyok diminta agar cepat mencari jodoh, lalu bermuara pada adegan musikal di mana Doyok menyanyikan Cari Jodoh milik Wali, berlagak bak rock star, sedangkan sang ibu bersama pocong-pocong lain jadi penari latar. Daripada seru dan lucu, saya malah dibuat kebingungan. Saya mesti merespon bagaimana? Musikal berikutnya, walau tak sebegitu aneh, tampil datar dalam kemasan medioker. Entah apa alasan mengganti lirik lagu-lagunya, yang alih-alih lucu justru mengurangi hook lagu. Padahal lagu tema, yang telah lebih dulu mengiringi serial animasi televisinya, luar biasa catchy.

Mengadaptasi komik strip rubrik Lembergar (Lembar Bergambar) milik harian Pos Kota, film ini mengisahkan persahabatan tiga pengangguran: Doyok, Otoy (Pandji Pragiwksono), dan Ali Oncom. Otoy selalu jadi sasaran kemarahan istrinya, Elly (Nirina Zubir) akibat hanya bermalas-malasan, Ali Oncom gemar menggoda wanita walau telah memacari Yuli (Jihane Almira), sedangkan Doyok, masih melajang. Otoy dan Ali Oncom pun tergerak mencarikan kawannya jodoh melalui berbagai cara. Salah satunya lewat situs “Minder”. Ya, satu lagi humor plesetan merk yang bagai kegemaran Anggy, yang kali ini tak hanya menyutradarai, pula menulis naskahnya bersama Fico Fachriza.

Tapi plesetan di atas masih lebih baik daripada 2 gaya komedi yang diandalkan film ini, yaitu 1) Komedi absurd yang dibuat seabsurd serta seaneh mungkin, dan 2) Komedi jorok yang dikemas, well, sejorok mungkin. Namun seolah tidak ada yang berusaha dijadikan selucu mungkin. Seberapa absurd? Bayangkan Anggy Umbara, tampil sebagai cameo, memerankan juri lomba debat bernama Manoj P., yang membuka perlombaan dengan teriakan “Action!”. Seberapa jorok? Pada satu titik, kita diserbu humor berlandaskan alat kelamin yang menampilkan penis salah satu tokoh terjebit dua kali. Anggy memang liar. Saat keliaran itu tersalurkan secara tepat dan terkontrol, ia mampu melahirkan kreativitas tinggi. Sayangnya tidak di sini. Biar seorang sutradara aksi yang bagus, Anggy bukan sutradara komedi mumpuni. DOA (Doyok-Otoy-Ali Oncom): Cari Jodoh adalah bukti nyata.

Karena bagaimana bisa sebuah film amat tidak lucu ketika diisi nama-nama bertalenta? Selain materi lemah, fakta bahwa pemeran pendukung tampil lebih solid ketimbang mayoritas pemain utama merupakan salah satu faktor. Ketika Dwi Sasono, dengan riasan yang membuatnya sulit dikenali, memikat berkat kemampuan menciptakan tawa unik, Pandji adalah Pandji seperti biasa, hanya gaya rambut aneh plus perut (lebih) buncit yang membedakan. Kemudian Fedi Nuril, meski mengenakan gigi tonggos palsu sembari menyindir Fahri si pujaan wanita yang ia perankan di Ayat-Ayat Cinta, jelas belum sepenuhnya piawai berkomedi. Berbeda dengan deretan pemain pendukung, khususnya para wanita. Nirina yang masih ahli mengoceh bak lesatan peluru, Titi Kamal dengan cara bicara dan gerak bibir aneh, sampai Laura Basuki yang menggila, menjaga filmnya dari kehancuran total.

Dan kita pun tahu pasti gaya khas Anggy Umbara. Dia takkan membiarkan DOA (Doyok-Otoy-Ali Oncom): Cari Jodoh berakhir sebagai film mengenai pencarian jodoh berlatar kehidupan masyarakat kampung kelas menengah ke bawah semata. Sehingga, third act-nya, melompat ke satu lagi twist berkonsep tinggi yang menggiring kita menuju klimaks berupa baku hantam sarat kekacauan. Ketika saya berpikir Anggy mulai mampu mengontrol dosis keliaran eksplorasinya untuk dipakai seperlunya seperti dalam Insya Allah Sah 2, sang sutradara justru menghasilkan absurditas berikutnya, yang juga karya terburuknya sejak Comic 8: Casino Kings Part 1 (2015).

5 COWOK JAGOAN: RISE OF THE ZOMBIES (2017)

5 Deadly Angels. Begitu judul internasional untuk 5 Cewek Jagoan (1980) karya Danu Umbara. Tentu para protagonis 5 Cowok Jagoan buatan Anggy Umbara, putera Danu, kurang pas disebut "Deadly", karena daripada membantai lawan, mereka lebih banyak memamerkan kekonyolan. Bahkan Reva (Cornelio Sunny) yang jago mengayunkan katana bukan pria berperilaku normal. Dia bak sufi cinta damai yang tersenyum bijak menyikapi semua hal, tapi berubah menjadi parodi tokoh anime tiap kepalanya terbentur, lengkap dengan rambut lancip dan logat Jepang dengan artikulasi kacau. 

Kelima jagoan kita aneh luar dalam. Dedi (Dwi Sasono) yang berkepala botak tanggung, berperut gendut adalah pelupa akut yang melupakan ulang tahun istri dan anaknya. Danu (Arifin Putra) merupakan dukun palsu dengan alis menyatu. Lilo (Muhadkly Acho) si anak mama gemar ber-cosplay tidak pada tempatnya. Sementara Yanto (Ario Bayu), selain berambut kribo rupanya seorang pemimpi di siang bolong. Berkata punya pekerjaan mentereng padahal cuma cleaning service, lalu mengaku berpacaran dengan Dewi (Tika Bravani), rekan sekantor yang bahkan jarang ia ajak berinteraksi. Tapi hubungan Yanto-Dewi lah penggerak alur film ini.
Dewi diculik oleh sindikat misterius. Demi menyelamatkan sang pujaan hati, Yanto menagih janji keempat sahabat masa kecilnya. Janji yang bahkan tidak diingat jelas, di mana mereka menyimpan memori berbeda akan masa lalu itu sesuai kepribadian masing-masing. Kepribadian yang sebatas disusun oleh ciri komedik: Dedi pemalas yang ingin mendapatkan televisi, Danu mata duitan, Lilo anak manja, Yanto pengkhayal dan penakut, Reva pecinta ketenangan dengan tutur kata bijak. Kepribadian yang semata berfungsi memicu tawa penonton.

Komedi wajib lucu, tapi 5 Cowok Jagoan  ditulis oleh Anggy Umbara, Isman HS, Arie Kriting  berusaha mati-matian membuat penonton tertawa. Memakai visual gags lewat tampilan absurd tokohnya hingga komedi situasi hasil tingkah laku mereka, Anggy ingin penonton tergelak di semua kesempatan, sampai terkadang terasa berlebihan. Tidak berhenti di situ, kita juga diberi tahu kapan mesti tertawa melalui iringan efek suara yang sudah lewat masa keemasannya selaku pemanis komedi. Anggy memerah habis-habisan potensi humornya, menghasilkan inkonsistensi. Kerap gagal, tapi sekalinya berhasil, sulit menahan ledakan tawa. 
Apalagi setiap Cornelio Sunny bicara layaknya tokoh-tokoh dalam Crows Zero. Beberapa waktu lalu, saya menyaksikannya tampil depresif lalu bercinta dengan jeep di Mobil Bekas buatan Ismail Basbeth. Serupa Abimana di Warkop DKI Reborn atau Reza Rahadian di My Stupid Boss, melihat aktor "dramatik" mencoba peran konyol (dan sukses) selalu menyenangkan. Begitu pula Ario Bayu dengan cara menodongkan pistol yang tak ubahnya James Bond kehilangan kewarasan atau Ganindra Bimo dengan bebeknya. Itulah sebab, walau totalitas Dwi Sasono kembali menghibur, kedua nama tadi lebih mencuri perhatian. 

Penampilan berkesan lain berasal dari Nirina Zubir. Berbeda dengan para pria, Nirina sebagai Debby tampil serius, mengundang decak kagum saat secara meyakinkan menangani porsi laga. Bersama Tika (dan tiga aktris lain yang diungkap di penghujung film), Nirina membangun jembatan menuju remake 5 Cewek Jagoan, yang sepertinya bakal fokus pada aksi, menekan kadar komedi. Menjanjikan, mengingat kapasitas Anggy merangkai laga penuh gaya, seperti tampak dalam 3 (Alif, Lam, Mim), lebih mumpuni ketimbang komedi. 5 Cowok Jagoan sendiri tidak jauh beda, asyik berkat takaran gaya plus pemakaian CGI secukupnya, termasuk dalam mengemas para zombie memasuki paruh kedua. 5 Cowok Jagoan: Rise of the Zombies mungkin tak mulus mengalir, tapi saya tak ingin hiburan ini cepat berakhir.

GERBANG NERAKA (2017)

Saya selalu mendukung keberanian sineas Indonesia mengeksplorasi genre yang jarang dijamah asal menggarapnya secara sungguh-sungguh dan hasilnya layak tonton. Kekurangan khususnya terkait teknologi tentu wajar mengingat kita masih merangkak. Justru karena itu dukungan perlu diberikan alih-alih bersikap apatis, menyatakan "tidak perlu coba-coba, kita belum setingkat Hollywood". Inferiority complex demikian adalah penghalang besar kemajuan industri perfilman, yang lucunya, sempat dibahas sekilas dalam Gerbang Neraka (sebelumnya berjudul Firegate), salah satu inovasi film tanah air paling sukses.

Robert Ronny selaku penulis naskah sekaligus produser memanfaatkan misteri situs Gunung Padang di Cianjur, Jawa Barat untuk mengembangkan jalinan petualangan dengan kesadaran penuh bahwa mengingat kulturnya, sains dan klenik bakal tetap beriringan eksistensinya. Maka masing-masing pihak punya perwakilan di sini. Arni Kumalasari (Julie Estelle) termasuk satu dari tim arkeolog yang ditugaskan Presiden meneliti situs Gunung Padang. Guntur Samudra (Dwi Sasono) adalah paranormal yang terkenal berkat acara televisi. Sementara Tomo Gunadi (Reza Rahadian) berada di tengah, mantan wartawan kritis yang sekarang bekerja di tabloid mistis namun enggan mempercayai liputannya. 
Awalnya, mereka bertiga saling berseberangan, sebelum rentetan kematian tidak wajar menghampiri Gunung Padang, memaksa ketiganya menyatukan ilmu masing-masing. Upaya Robert membaurkan dua sisi bertolak belakang memang kurang mulus saat seiring waktu, presentasi scientific mulai keteteran, menyederhanakan unsur misteri yang berkaitan erat dengan sejarah. Untungnya Gerbang Neraka enggan memaksakan tampil sok pintar, dan ancaman utamanya memang berasal dari sisi mistis, sehingga keputusan memberi bobot lebih ke sana merupakan kewajaran. 

Pun mudah merasakan kesungguhan bahkan mungkin kecintaan besar Robert terhadap kisah petualangan berbau arkeologi. Terpancar jelas ketika serupa karakternya, Robert menggabungkan sekumpulan materi sejarah nyata dengan fiksi imajinatif, menghadirkan proses cocok-mencocokkan yang meski kadang dilakukan seadanya, memberi modal penelusuran menarik bagi penonton, juga menghasilkan pembicaraan yang jauh dari kesan monoton. Serahkan pada Reza Rahadian untuk membuat tiap kalimat punya magnet, serta "menjual" momen sesederhana apapun berkat karisma luar biasa. Dwi Sasono lagi-lagi bisa menyeimbangkan ketenangan tutur dengan sisipan humor, meski sayangnya masih banyak penonton terpancing tawa di waktu yang keliru. 
Memasuki paruh kedua, jalinan alur agak melemah, terjebak dalam pola repetitif: penampakan berujung kematian tokoh di malam hari-penemuan mayat di pagi hari-terjadi kehebohan. Di pertengahan durasi naskahnya bagai kehabisan ide eksplorasi walau tensi tak sampai menghilang ketika Rizal Mantovani mampu merangkai beberapa jump scare penggedor jantung. Ditambah lagi desain sosok Badurakh yang jauh meninggalkan kualitas tampilan hantu horor kebanyakan yang biasanya mengandalkan riasan pucat atau lensa kontak semata. Badurakh merupakan iblis yang layak ditakuti, dan Rizal Mantovani pun menciptakan karya terbaiknya selama beberapa tahun terakhir.

Third act-nya gagal mencapai titik klimaks tertinggi tatkala ancaman justru menurun akibat rintangan ala kadarnya dalam piramid, pun beberapa jalinan janggal antar adegan. Obrolan Reza Rahadian dan Lukman Sardi sejatinya diisi konten yang berpotensi memprovokasi, tapi bagai kurang berani menyentuh tingkatan lebih tinggi. Di sinilah tata artistik penyusun set interior piramid memikat dan CGI meyakinkan buatan OrangeRoomCs (Demona, Jagoan Instan) menyelamatkan Gerbang Neraka. Mungkin salah satu pemanfaatan CGI paling efektif di film Indonesia sejauh ini, satu lagi alasan penting mengapa Gerbang Neraka perlu ditonton.