Tampilkan postingan dengan label Nirina Zubir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nirina Zubir. Tampilkan semua postingan

REVIEW - KELUARGA CEMARA 2

Ada perbedaan antara "film anak" dan "film dengan protagonis anak". Jenis pertama berbentuk hiburan ringan, sedangkan yang kedua punya jangkauan lebih luas, dari crowd-pleaser untuk semua kalangan hingga arthouse. Di bawah pengarahan Ismail Basbeth, Keluarga Cemara 2 ingin menyeimbangkan sisi mainstream dan alternatif (hal yang nampak dalam filmografi sang sutradara), namun justru melahirkan inkonsistensi. 

Akibat COVID, Abah (Ringgo Agus Rahman) mesti mencari pekerjaan baru, sedangkan Emak (Nirina Zubir) mendapati penjualan opaknya menurun drastis. Tabungan menipis, padahal kini sudah ada puteri ketiga, Agil (Nilouger Bahalwan). Tapi Keluarga Cemara 2 adalah "filmnya Ara (Widuri Puteri)". Ara yang merasa keluarganya selalu ingkar janji. Ara yang merasa ditinggalkan oleh kakaknya, Euis (Adhisty Zara), yang memasuki usia remaja dan mulai mengenal cinta. 

Saat itulah Ara mulai akrab dengan Aril (Muzakki Ramdhan), lalu memulai petualangan bersama, yang melibatkan seekor ayam. Film ini memang penuh dengan ayam. Ara mendengar suara ayam memanggilnya, bahkan bisa mengajak bicara Neon, anak ayam yang ia temukan di jalan. Mungkin karena Ara sendiri seperti anak ayam yang terpisah dari keluarga. Hanya saja, Ara dan keluarganya terpisah bukan secara fisik. 

Mereka tetap serumah, selalu bersama, namun sulit bersatu. Abah makin sibuk karena pekerjaan baru, Emak harus memikirkan bisnis sampingan sembari menjaga Agil, sementara Euis memasuki masa puber. Kondisi berubah, anggota keluarga berubah, hubungan pun berjarak. Sulitnya Abah memercayai kemampuan Ara berkomunikasi dengan ayam juga menunjukkan jurang pemisah, di mana orang tua kesulitan memahami dunia anak yang jauh dari "masuk akal". Alhasil, Ara lancar berkomunikasi dengan dengan Neon, tapi tidak dengan keluarganya.

Naskah buatan M. Irfan Ramly sudah punya gagasan dasar kuat nan kreatif, tentang bagaimana karakternya menghadapi perubahan, guna mempertahankan nilai "harta paling berharga adalah keluarga". Mudah bersimpati pada Ara yang merasa dipojokkan semua orang, tapi kita pun dibuat tak serta merta menyalahkan Abah maupun Euis, sebab perubahan mereka beralasan. 

Satu kelemahan naskahnya adalah, tingginya kuantitas konflik berujung merendahkan kualitas dalam hal kematangan cerita. Tiada yang benar-benar maksimal. Jika film pertamanya terasa utuh, maka Keluarga Cemara 2 bak rangkuman berbagai episode serial. 

Lalu ada perihal inkonsistensi yang telah saya singgung di atas. Di satu sisi, Keluarga Cemara 2 tampil bagai film anak berisi petualangan dua karakter bocah. Selipan humor yang masih digawangi Asri Welas dan Abdurrahman Arif pun menguatkan kesan "ini hiburan ringan". Tapi tidak jarang, filmnya muncul dengan kemasan yang sukar dinikmati penonton bocah, yang membuatnya terombang-ambing di antara dua sisi tanpa kepastian. 

Mari simak perjalanan Ara dan Aril mencari keluarga Neon. Bagi penonton dewasa yang tumbuh di pedesaan seperti saya, menyaksikan mereka melewati hujan dan menembus kabut di tengah alam asri, yang ditangkap secara cukup cantik oleh kamera Yadi Sugandi selaku sinematografer, memancing rasa homey yang mendamaikan. Tapi penonton anak bakal sulit mempertahankan atensi akibat minimnya dinamika. Ketimbang "petualangan" mungkin lebih pas disebut "jalan santai".

Pacing-nya tak kalah memberatkan. Beberapa adegan bergulir beberapa detik lebih lama dari semestinya, pun sebuah shot bernuansa sunyi yang berlangsung tidak sebentar, kala Emak merenung di malam hari, terasa out-of-place bagi film anak. Walau harus diakui, beberapa shot yang Basbeth rangkai, mampu berbicara lebih kuat dibanding bahasa verbal. Misal sewaktu Ara duduk di meja makan, dan kursi sebelahnya, yang biasa diduduki Euis, nampak kosong. Momen tersebut efektif menggambarkan kehilangan yang menusuk hati Ara. 

Setidaknya jajaran cast masih muncul dengan akting memuaskan. Ringgo dan Nirina kembali membawa sensitivitas yang hangat, Zara semakin nyaman di depan kamera, pun Widuri membuktikan diri pantas diberi porsi lebih. Muzakki tidak perlu ditanya. Memerankan Aril adalah tugas ringan baginya. 

Tapi jangan harap dibuat mengharu biru seperti film pertama. Pendekatan alternatif yang Basbeth terapkan cenderung menekan luapan emosi. Ada kalanya ekspresi rasa berhasil dipercantik sebagaimana adegan Ara di meja makan tadi, namun acap kali, rasa itu sebatas ditahan. Dibiarkan mengendap. Setidaknya, babak konklusi Keluarga Cemara 2 menyimpan keindahan bermakna, saat semua orang diperlihatkan "menuju ke Ara". Ara menyatukan semuanya, karena sekali lagi, mereka adalah keluarga cemara. 

REVIEW - PARANOIA

Saya menghabiskan 20 menit menatap layar kosong, bingung harus mulai menulis dari mana. Ada perasaan tidak percaya, bahwa kolaborasi trio Riri Riza, Mira Lesmana, dan Jujur Prananto, yang pernah melahirkan Petualangan Sherina (1999) serta Ada Apa dengan Cinta? (2001), pula keberadaan Nirina Zubir, Lukman Sardi, dan Nicholas Saputra di depan kamera, berujung film seburuk Paranoia. Seburuk-buruknya thriller adalah saat ketegangan digantikan oleh tawa akibat kekonyolan. 

Alurnya mengisahkan tentang Dina (Nirina Zubir), yang setelah berkali-kali pindah guna menghindari kejaran sang suami, Gion (Lukman Sardi), kini akhirnya menetap di Bali bersama puterinya, Laura (Caitlin North-Lewis). Dina kabur akibat tidak tahan lagi dengan perilaku abusive Gion. Biarpun sudah berpisah, pun Gion sekarang tengah mendekam di penjara, Dina tak pernah bisa lepas dari kecemasan. Apalagi ia membawa barang yang amat berharga bagi Gion. 

Pasca Gion dibebaskan karena pandemi, kecemasan itu datang lagi. Dina percaya, di mana pun ia bersembunyi, Gion dapat menemukannya. Alhasil, saat muncul pria tak dikenal bernama Raka (Nicholas Saputra), kepalanya dipenuhi pertanyaan. Apakah Raka cuma kebetulan berada di dekatnya, ataukah ia orang suruhan Gion? 

Ada begitu banyak potensi penceritaan, sebutlah perihal kecurigaan Dina kepada Raka, trauma KDRT yang tak pernah benar-benar lenyap, hingga paralel antara ketakutan protagonis dan ketakutan massa semasa wabah COVID-19 (poin terakhir mungkin memang bukan tujuan filmnya). Semua cocok sebagai pondasi thriller psikologis. Tinggal mana yang mau dijadikan sorotan utama oleh Riri, Mira, dan Jujur selaku penulis naskahnya.

Tapi di antara semua potensi itu, tak satu pun mampu diolah dengan baik. Presentasi sikap paranoid Dina bak pemenuhan kewajiban semata. Bukan bentuk pendalaman cerita, bukan pula elemen penambah ketegangan. Tidak berlebihan menyebut Paranoia sebagai "thriller nihil ketegangan".

Rangkaian peristiwanya cuma numpang lewat. Misal ketika Dina menaruh kecurigaan pada Raka. Diungkapkannya itu ke Laura (karena sang puteri terus mengunjungi Raka), kemudian ia lakukan pencarian via Google, lalu selesai. Penonton tidak dibuat ikut menduga-duga, misalnya lewat tindak-tanduk misterius Raka. Filmnya ingin membuat penonton memedulikan Dina dan Laura, tetapi saya malah berharap ada hal buruk menimpa keduanya, agar minimal terjadi sesuatu yang signifikan. 

Daripada invenstigasi, Paranoia lebih tertarik mengeksploitasi obsesi publik terhadap Nicholas Saputra. Betapa menawan dia, sampai bisa memikat hati ibu dan anak (Laura "mengklarifikasi" bahwa ia melihat figur ayah dalam sosok Raka, tapi saya yakin bukan kesan itu yang penonton dapat). Jumlah adegan flirting lebih banyak dari ketegangannya, hingga di titik terasa bagai fan fiction murahan. 

Implementasi era pandemi, khususnya terkait penggambaran karakternya memakai masker juga menggelikan (kerap tampak seperti iklan layanan masyarakat), namun bagian terkonyol tentu klimaksnya. Aksi perkelahian yang harusnya jadi puncak intensitas malah tersaji luar biasa canggung. Pengarahan, pilihan shot, penyuntingan, semua canggung. 

Kemudian konklusinya.....astaga. Baik naskah maupun penyutradaraan sama-sama bertanggung jawab di sini. Bagaimana mungkin konklusi seburuk ini, sekonyol ini, sebodoh ini, dicetuskan oleh sosok-sosok sehebat Riri Riza, Mira Lesmana, dan Jujur Prananto? Bagaimana mungkin setelah gambar diambil, mereka melihatnya, lalu berkata, "Ya, ini bagus"? Andai Paranoia dibuat oleh Nayato atau Baginda KKD, saya bakal maklum. 

Akibat keterbatasan? Rasanya tidak, dan itu bukan alasan masuk akal, mengingat para pembuatnya pernah membidani Kuldesak (1997), yang dibuat diam-diam dengan segala keterbatasan di bawah represi rezim. Entahlah. Sungguh menyedihkan.

Setidaknya departemen akting memberi hasil positif. Nirina amat kuat, berkat totalitas melakoni momen-momen penguras emosi, sementara Lukman Sardi meyakinkan sebagai suami menjijikkan sekaligus kriminal intimidatif. Caitlin North-Lewis pun menampakkan potensi menjanjikan, selama di masa depan nanti, pilihan film dan perannya tepat. Nicholas Saputra? Tidak buruk, hanya saja, sang aktor tak diberi materi memadai, dan seolah cuma ada untuk memancing teriakan histeris penggemarnya. Saya juga berteriak. Teriakan saat meratapi kualitas Paranoia. 

REVIEW - ALI & RATU RATU QUEENS

Berbeda dengan mayoritas film Indonesia berlatar luar negeri, Ali & Ratu Ratu Queens tidak dibuat memakai kacamata turis. Berlatar New York, karakternya kerap berkeliling kota (yang tampak cantik berkat tangkapan kamera Batara Goempar selaku sinematografer), bukan sebatas jalan-jalan, namun merekam memori. Di tengah dunia yang asing, rekaman itu dipakai si protagonis untuk mengenal orang-orang di sekitarnya, guna menghapus keterasingan dan kesendiriannya. 

Protagonis kita bernama Ali (Iqbaal Ramadhan), yang menyambangi New York seorang diri, demi mencari sang ibu, Mia (Marissa Anita), yang pergi ke sana sewaktu Ali kecil, guna menggapai mimpi sebagai penyanyi. Ali nekat, biarpun mendapat tentangan dari keluarga besar, termasuk budenya (Cut Mini). Dia ingin tahu, mengapa Mia tidak pernah pulang ke Indonesia. 

Satu hal yang langsung mencur perhatian saya adalah tata suara. Ambience, semisal suara burung, terasa nyata, seolah kita berada langsung di lokasi. Pun baik musik (berisi deretan lagu catchy seperti Khayalan hingga Location Unknown) maupun dialog tampil jernih, walau saat keduanya muncul bersamaan, kerap terdengar tumpang tindih. 

Sesampainya di New York, Ali mendapati sang ibu tidak lagi menetap di alamat lamanya yang terletak di Queens. Tapi ia beruntung, sekarang di sana tinggal para ratu. Empat imigran wanita asal Indonesia dengan kepribadian penuh warna, yang siap membantu pencariannya, termasuk mengizinkan Ali tinggal sementara waktu bersama mereka. Mereka adalah Party (Nirina Zubir), Ajeng (Tika Panggabean), Biyah (Asri Welas), dan Chinta (Happy Salma). Ali turut bertemu Eva (Aurora Ribero), puteri Ajeng, yang bisa ditebak, bakal menjadi love interest-nya.

Ali, yang membawa Iqbaal menampilkan akting natural, memang tokoh utama. Sedangkan Marissa Anita kembali membuktikan diri sebagai salah satu aktris terbaik negeri ini, yang piawai menangai kompleksitas emosi. Tapi keempat ratulah jiwa Ali & Ratu Ratu Queens sesungguhnya. Melalui mereka, sudut pandang imigran dari kelas menengah ke bawah yang jarang diambil film kita, dipresentasikan. Mereka tidak datang untuk liburan. Bukan pula kalangan beruntung yang pergi dari Indonesia karena tawaran pekerjaan menggiurkan atau kesempatan menempuh pendidikan. 

Dari mereka, mimpi-mimpi memperbaiki hidup milik para imigran ditampilkan. Pula bagaimana berkat semangat kebersamaan mereka, penderitaan di tengah upaya menggapai mimpi tersebut dapat terobati, atau setidaknya diringankan. Padahal mereka adalah orang asing. Bukan kawan lama, apalagi keluarga. Gagasan mengenai "chosen family" pun diusung. Bahwa individu bisa, dan berhak, memilih siapa keluarganya. Bahwa keluarga tidak harus terikat hubungan darah. Tempat di mana kita bisa menemukan kehangatan sebagai diri sendiri, itulah keluarga. 

Di Queens, Ali belajar soal itu. Dia menemukan kenyamanan bersama para ratu, sebagaimana saya menemukan kenyamanan selama menonton filmnya. This is a comforting movie. The Queen themselves radiate comfort and warmth. Naskah buatan Ginantri S. Noer (Posesif, Dua Garis Biru, Keluarga Cemara) penuh akan celetukan menggelitik keempat ratu, yang selain berfungsi memancing tawa (berhasil), pula menggambarkan betapa hangatnya berada di sekitar mereka (juga berhasil).

Berstatus "comforting movie", naskahnya tidak membiarkan penonton berlarut-larut menyaksikan permasalahan. Bagi sebagian orang, hal ini mungkin dianggap kekurangan, karena filmnya tak membiarkan konflik lebih berkembang dan berakhir secara instan. Tapi bagi saya, justru di situlah letak pesonanya. Ali & Ratu Ratu Queens ingin selama mungkin membuat penonton dikelilingi emosi positif berupa kedamaian, kehangatan, dan kebahagiaan. Takkan menghapus masalah di dunia nyata, tapi minimal, selama sekitar 100 menit, kita dibawa melupakan realita itu, dalam dunia fiksi yang dipenuhi senyuman.

Tapi bukan berarti terjadi simplifikasi, khususnya perihal konflik keluarga Ali. Mudah saja menggambarkan ayah Ali, Hasan (Ibnu Jamil), sebagai pria pengekang mimpi istri. Mungkin ada sedikit unsur itu, namun filmnya enggan seketika menyalahkan. New York adalah tempat yang jauh. Tentu sulit baginya menjalani perpisahan itu. Dinamika batinnya masih menyisakan ruang untuk ditelusuri, namun dilemanya bisa dipahami. 

Apabila anda menyalahkan Mia, patut dicatat, sebagai wanita apalgi yang tinggal di Indonesia, peluang sekecil apa pun mahal harganya. Pria bisa membuang satu-dua kesempatan meraih mimpi dan punya berpeluang lebih besar dari wanita untuk  mendapatkannya lagi suatu hari kelak. Lewat akting Marissa Anita, dilema antara cita-cita dan keluarga mampu dirasakan. Mia membayar harga yang mahal, dan bagaimana itu berdampak besar terhadapnya, nampak betul dari penampilan sang aktris.

Pengarahan Lucky Kuswandi (Selamat Pagi Malam, Galih dan Ratna) membawa semangat serupa naskahnya, dengan sensitivitas yang sanggup memancing rasa haru tidak harus melalui tangisan, melainkan kehangatan. Departemen lain turut membantu Lucky mewujudkan visinya, termasuk montase jelang akhir, yang menampilkan animasi karya Pinot W. Ichwandardi. Beberapa kecanggungan masih sesekali terasa, baik di gagasan naskah atau pengadeganan, tetapi tidak sampai menghambat laju Ali & Ratu Ratu Queens, yang dengan mulus menjadi film Indonesia terbaik 2021 sejauh ini. 


Available on NETFLIX

MENDADAK KAYA (2019)

Kita semua punya kerabat atau teman yang berisik, sok asyik, banyak gaya, dan suka melucu walau tidak lucu. Alih-alih senang menghabiskan waktu bersamanya, kita justru terganggu, berharap waktu segera berlalu atau orang itu lenyap dari muka Bumi. Begitulah kesan yang diberikan Mendadak Kaya, sekuel dari DOA: Cari Jodoh yang mengadaptasi komik strip terbitan Poskota. Artinya, Anggy Umbara sukses menghasilkan dua installment berkualitas tiarap.

Tiga karakter utama kita masih sama. Doyok (Fedi Nuril) masih membujang, Otoy (Pandji Pragiwaksono) terus terlibat pertengkaran dengan sang istri, Eli (Nirina Zubir), sementara Ali Oncom (Dwi Sasono) tetap menghadapi jalan berbatu dalam memperjuangkan hubungannya dengan Yuli (Jihane Almira). Tentu saja ketiganya masih sama-sama miskin dan bergelimang hutang.

Ditulis naskahnya oleh Anggy Umbara bersama Iyam Renzia, Mendadak Kaya menghabiskan separuh awal durasi menuturkan usaha tiga tokoh utama mencari kerja. “Menuturkan” di sini bukan berarti bercerita secara layak, melainkan gabungan sketsa-sketsa konyol soal keseharian Doyok-Otoy-Ali Oncom di tempat kerja. Tidak ada cerita sungguhan, hanya pameran gaya Anggy (transisi animasi khasnya pun masih dipertahankan) yang daripada lucu, justru tampak makin murahan.

Saya paham bahwa kemasan murahannya, baik dari humor atau efek visual, adalah bentuk kesengajaan demi menyesuaikan target pasarnya, yakni pembaca Poskota yang biasanya berasal dari kalangan menengah ke bawah. Masalahnya, bukan cuma tidak lucu, gaya sok asyik Anggy tidak terasa sebagai usaha melucu. Bagian mana yang lucu dari kemunculan acak efek visual gelembung sabun sekelas video flash?

Apabila kita bedah satu per satu, sejatinya humor yang film ini tawarkan tidak buruk. Terkesan “murahan”, namun kekeliruan bukan terletak di situ, melainkan pada nihilnya kesadaran akan timing. Sekitar tiga atau empat titik memilikinya, tapi menilik kualitas penghantaran komedin secara menyeluruh, saya yakin itu sekadar kebetulan. Jam rusak saja masih bisa dua kali menunjukkan waktu yang benar.

Praktis, Mendadak Kaya amat bergantung kepada trio pemeran utama yang kembali berusaha semaksimal mungkin, khususnya Dwi Sasono, yang sempurna memerankan karakter komikal berkelakuan antik berfisik unik macam Ali Oncom.

Setelah menanti beberapa lama, akhirnya kita tiba pada titik di mana trio protagonisnya mendadak kaya, sesuatu yang dinanti-nanti karena itulah premis dasarnya, tapi justru dari sini Mendadak Kaya berubah dari komedi medioker menjadi komedi malas. Doyok, Otoy, dan Ali Oncom menghambur-hamburkan uang, membeli barang-barang mewah sambil bertingkah norak. Klise, tapi tak sampai menandingi kemalasan fase kala karakternya berlibur.

Berniat ke Disneyland, sebuah peristiwa bodoh justru membawa mereka berada di JungleLand. Berikutnya, Mendadak Kaya hanya menampilkan tiap-tiap tokoh menaiki wahana, diselingi humor ala kadarnya yang telah kita temui jutaan kali (Doyok, Otoy, dan Ali Oncom ketakutan menunggangi wahana lalu mual selepas melakukannya). Pun waktu dihabiskan terlalu lama, fase ini dapat menjadi sebuah episode vlog jalan-jalan di YouTube.

Bahkan vlog sepertinya masih lebih menghibur. Penataan kamera Edi Santoso (9 Naga, Susah Sinyal, DOA: Cari Jodoh) gagal mewakili keseruan aktivitas senang-senang di taman bermain. Dan tidak peduli dengan kalimat “Cintailah produk-produk Indonesia”, JungleLand bukanlah Disneyland. Tidak ada cukup kemeriahan, apalagi saat dibungkus sinematografi sekenanya.

JAFF 2018 - KELUARGA CEMARA (2018)

Di tangan yang salah, Keluarga Cemara bisa berujung suffering porn, di mana tiap sudut ibarat musibah yang melulu memicu ratap tangis. Beruntung, naskahnya ditangani duo penulis, Yandy Laurens dan Gina S. Noer (Posesif, Kulari ke Pantai) yang tahu batas pemisah antara dramatisasi dengan eksploitasi, juga penyutradaraan berbekal pemahaman milik Yandy perihal kapan serta seberapa dramatisasi perlu diterapkan. Adaptasi sinetron legendaris Keluarga Cemara (1996-2005) yang juga dibuat berdasarkan kumpulan cerita pendek berjudul sama karya Arswendo Atmowiloto ini pun menjadi drama keluarga yang menyentuh hati lewat kehangatan alih-alih kesedihan.

Walau bukan hyperrealism (dan tak perlu menjejakkan kaki ke sana), Keluarga Cemara coba tampil senyata mungkin. Mengambil latar sebelum peristiwa di sinetron, filmnya memulai kisah kala Cemara (Widuri Puteri) sekeluarga masih hidup makmur, sehingga menyulut pertanyaan, “Bagaimana mungkin Abah si pengusaha properti jatuh begitu dalam hingga memilih profesi tukang becak?”.

Rupanya film ini mampu menawarkan jawaban logis yang juga relevan bila dihadapkan pada situasi sosial sekarang (salah satunya berbentuk peletakkan produk cerdik). Beberapa perubahan perlu dilakukan, namun tanpa mengkhianati substansi materi asalnya, bahkan masih sempat menyelipkan deretan referensi untuk momen-momen ikonik sinetronnya, dalam penempatan tepat yang selaras dengan keperluan cerita ketimbang bentuk pemaksaan diri menebar easter eggs.

Alkisah, kejatuhan Abah (Ringgo Agus Rahman) memaksa keluarganya pindah ke rumah masa kecilnya di sebuah desa di Jawa Barat. Abah terjerat rasa bersalah, terlebih setelah mendapati faktor usia menyulitkannya memperoleh pekerjaan layak secepatnya, sedangkan di saat bersamaan Emak (Nirina Zubir) mesti ikut menyokong ekonomi keluarga, Cemara harus berjalan jauh menuju sekolah, dan Euis (Zara JKT48) terpaksa bersekolah di tempat baru, meninggalkan para sahabat (sekaligus rekan tim dance) lamanya.

Khususnya bagi Euis yang tengah menginjak masa remaja awal, perubahan tersebut amatlah berat, yang akhirnya menyulut salah satu konflik utama, termasuk pertengkaran beruntun dengan Abah. Sosok Abah sendiri belum sebijak versi Adi Kurdi di sinetron.  Wajar, sebab ia masih pria berusia prima (35 tahun) yang tiba-tiba terjerembab ke titik terendah hidupnya. Dampaknya, emosi gampang tersulut, keputusan-keputusan buruk dibuat, kalimat-kalimat menyakitkan terlontar, menjauhkannya dari kesempurnaan, yang mana merupakan wujud karakterisasi menarik.

Bukan berarti anggota keluarga lain dikesampingkan. Cemara sang peluluh hati keluarga diperankan begitu alamiah oleh peforma kaya dinamika milik Widuri. Tingkah laku dan tutur katanya mampu mendinginkan pertikaian panas. Tapi tiang penyangga keluarga sesungguhnya adalah Emak. Berkatnya, keluarga tetap berdiri meski kerap terombang-ambing. Emak menyediakan tempat mengadu, meluapkan kegundahan terpendam, meski artinya, ia dituntut menyimpan beban berlebih dalam hati yang bisa kita lihat jelas melalui tatapan kaya rasa Nirina.

Gempuran masalah-masalahnya adalah gambaran keseharian yang tak terasa episodik, sebab Yandy dan Gina bukan sedang mengadaptasi mentah-mentah sinetronnya. Pun di sela-selama problematika, Keluarga Cemara bersedia menyegarkan suasana berkat kemampuan jajaran pemeran pendukung—pastinya termasuk Asri Welas sebagai “loan woman turns enter woman”—memaksimalkan gaya hiperbola guna memancing tawa.

Pilihan lagu-lagunya tak kalah memikat. Berasal dari beragam genre dan masa, membentang dari Sepanjang Jalan Kenangan, Tentang Rumahku, sampai Harta Berharga versi Bunga Citra Lestari, berbagai adegan diiringi, dengan mood berhasil terwakili. Ketepatan pemilihan lagu termasuk pembuktian kepekaan Yandy terkait membangun suasana dan rasa. Kalau mau, tearjerker bisa saja diciptakan dari semua konflik, namun ia bersedia menunggu hingga tiba titik terbaik untuk meletupkannya. Resolusinya menghadirkan payoff melalui ekspresi cinta kasih jujur nan sederhana yang bakal menumpahkan air mata.

Keberhasilan momen tersebut tak lepas juga dari kombinasi Ringgo-Zara. Walau perlu mengasah lagi kemampuan menangani ledakan amarah yang belum seberapa meyakinkan, sebagai ayah lembut, Ringgo piawai mencuri hati. Sementara Zara memberi kejutan terbesar, ketika air mata dan senyumnya bisa memicu penonton memunculkan respon serupa sewaktu menyaksikan adegan puncak.

Tidak ada konflik pengancam pernikahan, tidak ada murid baru dari kota jadi korban perundugan, tidak ada anak bermasalah yang memberontak (hanya beberapa ketidakpatuhan), tidak ada penyakit kronis dan kecelakaan (Thank God!), atau masalah-masalah tak perlu lain. Keluarga Cemara menyulut tangis tanpa menjual air mata semata, pula memperlihatkan perjuangan tanpa mengeksplotasi penderitaan. Karena akhirnya, film ini “cuma” memaparkan nilai kekeluargaan sederhana tentang memiliki dan dimiliki, menjaga dan dijaga, di mana kala semua bersatu dalam harmoni, tercipta harta yang paling berharga: Keluarga.

DOA (DOYOK-OTOY-ALI ONCOM): CARI JODOH (2018)

Sebuah adegan di trailer memperlihatkan Mang Ujang (Ence Bagus) si penjual kopi mengomel sementara kopi mengucur dari mulutnya. Di film, ketika Mang Ujang hendak mengulangi perbuatan sama (membuat kopi dalam mulut alih-alih cangkir), Ali Oncom (Dwi Sasono) menyela dengan berkata “Jangan diulang Bang, yang tadi aja nggak lucu”. Ucapan Ali sebenarnya bisa ditujukan bagi keseluruhan DOA (Doyok-Otoy-Ali Oncom): Cari Jodoh, selaku komedi yang keliru menyamakan definisi “lucu” dengan “aneh” dan “absurd”.

Saya ambil satu lagi adegan dari trailer ketika Doyok (Fedi Nuril) ditelepon oleh mendiang sang ibu (Yati Surachman), yang muncul dalam wujud pocong. Doyok diminta agar cepat mencari jodoh, lalu bermuara pada adegan musikal di mana Doyok menyanyikan Cari Jodoh milik Wali, berlagak bak rock star, sedangkan sang ibu bersama pocong-pocong lain jadi penari latar. Daripada seru dan lucu, saya malah dibuat kebingungan. Saya mesti merespon bagaimana? Musikal berikutnya, walau tak sebegitu aneh, tampil datar dalam kemasan medioker. Entah apa alasan mengganti lirik lagu-lagunya, yang alih-alih lucu justru mengurangi hook lagu. Padahal lagu tema, yang telah lebih dulu mengiringi serial animasi televisinya, luar biasa catchy.

Mengadaptasi komik strip rubrik Lembergar (Lembar Bergambar) milik harian Pos Kota, film ini mengisahkan persahabatan tiga pengangguran: Doyok, Otoy (Pandji Pragiwksono), dan Ali Oncom. Otoy selalu jadi sasaran kemarahan istrinya, Elly (Nirina Zubir) akibat hanya bermalas-malasan, Ali Oncom gemar menggoda wanita walau telah memacari Yuli (Jihane Almira), sedangkan Doyok, masih melajang. Otoy dan Ali Oncom pun tergerak mencarikan kawannya jodoh melalui berbagai cara. Salah satunya lewat situs “Minder”. Ya, satu lagi humor plesetan merk yang bagai kegemaran Anggy, yang kali ini tak hanya menyutradarai, pula menulis naskahnya bersama Fico Fachriza.

Tapi plesetan di atas masih lebih baik daripada 2 gaya komedi yang diandalkan film ini, yaitu 1) Komedi absurd yang dibuat seabsurd serta seaneh mungkin, dan 2) Komedi jorok yang dikemas, well, sejorok mungkin. Namun seolah tidak ada yang berusaha dijadikan selucu mungkin. Seberapa absurd? Bayangkan Anggy Umbara, tampil sebagai cameo, memerankan juri lomba debat bernama Manoj P., yang membuka perlombaan dengan teriakan “Action!”. Seberapa jorok? Pada satu titik, kita diserbu humor berlandaskan alat kelamin yang menampilkan penis salah satu tokoh terjebit dua kali. Anggy memang liar. Saat keliaran itu tersalurkan secara tepat dan terkontrol, ia mampu melahirkan kreativitas tinggi. Sayangnya tidak di sini. Biar seorang sutradara aksi yang bagus, Anggy bukan sutradara komedi mumpuni. DOA (Doyok-Otoy-Ali Oncom): Cari Jodoh adalah bukti nyata.

Karena bagaimana bisa sebuah film amat tidak lucu ketika diisi nama-nama bertalenta? Selain materi lemah, fakta bahwa pemeran pendukung tampil lebih solid ketimbang mayoritas pemain utama merupakan salah satu faktor. Ketika Dwi Sasono, dengan riasan yang membuatnya sulit dikenali, memikat berkat kemampuan menciptakan tawa unik, Pandji adalah Pandji seperti biasa, hanya gaya rambut aneh plus perut (lebih) buncit yang membedakan. Kemudian Fedi Nuril, meski mengenakan gigi tonggos palsu sembari menyindir Fahri si pujaan wanita yang ia perankan di Ayat-Ayat Cinta, jelas belum sepenuhnya piawai berkomedi. Berbeda dengan deretan pemain pendukung, khususnya para wanita. Nirina yang masih ahli mengoceh bak lesatan peluru, Titi Kamal dengan cara bicara dan gerak bibir aneh, sampai Laura Basuki yang menggila, menjaga filmnya dari kehancuran total.

Dan kita pun tahu pasti gaya khas Anggy Umbara. Dia takkan membiarkan DOA (Doyok-Otoy-Ali Oncom): Cari Jodoh berakhir sebagai film mengenai pencarian jodoh berlatar kehidupan masyarakat kampung kelas menengah ke bawah semata. Sehingga, third act-nya, melompat ke satu lagi twist berkonsep tinggi yang menggiring kita menuju klimaks berupa baku hantam sarat kekacauan. Ketika saya berpikir Anggy mulai mampu mengontrol dosis keliaran eksplorasinya untuk dipakai seperlunya seperti dalam Insya Allah Sah 2, sang sutradara justru menghasilkan absurditas berikutnya, yang juga karya terburuknya sejak Comic 8: Casino Kings Part 1 (2015).

INSYA ALLAH SAH 2 (2018)

Seorang wanita yang hamil sebelum menikah dan seorang perampok yang kabur dari penjara demi menikahinya. Film pertama Insya Allah Sah (2017) takkan menempatkan Raka (Pandji Pragiwaksono) di antara kedua sosok tersebut, karena filmnya sendiri rasanya takkan mau menjustifikasi mereka. Saya tidak tahu bagaimana jalan cerita novel karya Achi TM selaku sumber adaptasinya, tapi Insya Allah Sah 2 jelas tampil lebih baik ketimbang pendahulunya karena kesediaan memandang tokoh-tokohnya sebagai manusia biasa yang jauh dari kesempurnaan. Raka lebih toleran pada dua protagonis yang punya pandangan hidup berbeda dengannya, untuk itu saya mesti bersikap sama terhadapnya dan film ini.

Mungkin anda ingat betapa saya membenci film pertamanya. Pembaca reguler blog ini pun rasanya tahu betapa saya membenci polisi moral seperti Raka. Sebagai karakter, ia tidak berproses, hanya muncul mendadak layaknya hantu, kemudian berceramah. Fakta bahwa Raka adalah sosok manchild tidak menjadikannya lebih baik. Karena berbeda dibanding para manchild dalam komedi berkualitas, sebutlah Will Ferrell dalam Elf (2003), meski berdandan dan bicara bagai bocah, Raka memahami konsep-konsep yang cuma dipahami orang dewasa. Sehingga ketika ia mencampuri urusan orang-orang di sekitarnya, itu bukan hasil kepolosan bocah yang memandang dunia secara hitam-putih.

Kali ini Raka masih gemar berpetuah, namun ia mampu, atau tepatnya mau melihat kebaikan dalam keputusan (yang menurutnya) buruk dari seseorang. Pun acap kali di tengah ceramahnya, Raka mendapat todongan pistol di kepala, seolah Anggy Umbara (Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss!, Tiga) dan Herry B. Arissa (Generasi Kocak: 90-an vs Komika, Selebgram) selaku penata skrip berkata, “diem lo!”. Tapi Raka memang sulit didiamkan, bahkan ketika terlibat baku tembak bersama Gani (Donny Alamsyah), yang baru saja nekat kabur dari penjara lalu merampok uang Freddy Coughar (Ray Sahetapy) si mafia, semua demi menikahi Mutia (Luna Maya) yang sedang hamil tua. Untuk itu, uang sebesar 250 juta dibutuhkan.

Mungkin alasan mengapa ceramah Raka terasa tidak segencar sebelumnya karena sekuel ini cenderung berorientasi pada aksi. Sekali lagi, saya belum membaca sumber adaptasinya, sehingga tidak tahu apakah Achi TM memang menggeser pendekatan novelnya ke arah laga. Tapi pemilihan Anggy Umbara dan Bounty Umbara (Mama Cake, Rafathar) guna duduk di kursi sutradara jelas tepat. Gaya-gayaan di antara rentetan momen aksi seolah mendarah daging dalam diri Umbara Bersaudara, dan meski Insya Allah Sah 2 tak punya gelaran aksi luar biasa, elemen tersebut jelas jauh lebih menghibur daripada menyaksikan ceramah agama selama 90 menit.

Raka (dan agama) sekedar jembatan dalam proses Gani belajar bahwa tidak semua masalah dapat terselesaikan lewat kekerasan dan amarah. Bukan studi permasalahan mendalam, tapi Insya Allah Sah 2 setidaknya menampilkan pergulatan personal. Saya bisa membayangkan kisah Gani-Mutia dieksekusi tanpa unsur agama dan tetap dapat bekerja dengan baik (bahkan mungkin lebih), sebab ini kisah manusia yang berdamai dengan dirinya, bukan menemukan cahaya agama atau Tuhan. Gani ingin berubah bagi orang-orang tercintanya, juga demi nazar, demi janji, yang tanpa memakai perspektif agama pun, memang wajib ditepati.

Ada satu momen khusus yang seketika membuat Gani menjadi protagonis yang likeable serta layak didukung, yakni ketika Mutia menceritakan beberapa rahasia pada Raka di suatu restoran. Sebelumnya, kita pun sempat diajak mengintip masa lalu kelam nan berat miliknya, yang turut memberi Donny Alamsyah kesempatan memamerkan akting dramatis, melalui lontaran amarah menusuk yang mampu mendiamkan semua orang di ruangan. Kesukaran menggelayuti hidup tokoh-tokohnya, tapi tentu saja senjata utama Insya Allah Sah 2 tetap komedi. Beberapa humor bekerja efektif, sebutlah absurditas yang melibatkan telepon genggam dan suara tangis bayi, Jingga (Nirina Zubir) si polisi cantik yang mudah terbuai oleh pujian, atau bila anda tetap membenci penokohan Raka, anda akan bahagia melihatnya jadi korban serbuan bersin bertubi-tubi.

5 COWOK JAGOAN: RISE OF THE ZOMBIES (2017)

5 Deadly Angels. Begitu judul internasional untuk 5 Cewek Jagoan (1980) karya Danu Umbara. Tentu para protagonis 5 Cowok Jagoan buatan Anggy Umbara, putera Danu, kurang pas disebut "Deadly", karena daripada membantai lawan, mereka lebih banyak memamerkan kekonyolan. Bahkan Reva (Cornelio Sunny) yang jago mengayunkan katana bukan pria berperilaku normal. Dia bak sufi cinta damai yang tersenyum bijak menyikapi semua hal, tapi berubah menjadi parodi tokoh anime tiap kepalanya terbentur, lengkap dengan rambut lancip dan logat Jepang dengan artikulasi kacau. 

Kelima jagoan kita aneh luar dalam. Dedi (Dwi Sasono) yang berkepala botak tanggung, berperut gendut adalah pelupa akut yang melupakan ulang tahun istri dan anaknya. Danu (Arifin Putra) merupakan dukun palsu dengan alis menyatu. Lilo (Muhadkly Acho) si anak mama gemar ber-cosplay tidak pada tempatnya. Sementara Yanto (Ario Bayu), selain berambut kribo rupanya seorang pemimpi di siang bolong. Berkata punya pekerjaan mentereng padahal cuma cleaning service, lalu mengaku berpacaran dengan Dewi (Tika Bravani), rekan sekantor yang bahkan jarang ia ajak berinteraksi. Tapi hubungan Yanto-Dewi lah penggerak alur film ini.
Dewi diculik oleh sindikat misterius. Demi menyelamatkan sang pujaan hati, Yanto menagih janji keempat sahabat masa kecilnya. Janji yang bahkan tidak diingat jelas, di mana mereka menyimpan memori berbeda akan masa lalu itu sesuai kepribadian masing-masing. Kepribadian yang sebatas disusun oleh ciri komedik: Dedi pemalas yang ingin mendapatkan televisi, Danu mata duitan, Lilo anak manja, Yanto pengkhayal dan penakut, Reva pecinta ketenangan dengan tutur kata bijak. Kepribadian yang semata berfungsi memicu tawa penonton.

Komedi wajib lucu, tapi 5 Cowok Jagoan  ditulis oleh Anggy Umbara, Isman HS, Arie Kriting  berusaha mati-matian membuat penonton tertawa. Memakai visual gags lewat tampilan absurd tokohnya hingga komedi situasi hasil tingkah laku mereka, Anggy ingin penonton tergelak di semua kesempatan, sampai terkadang terasa berlebihan. Tidak berhenti di situ, kita juga diberi tahu kapan mesti tertawa melalui iringan efek suara yang sudah lewat masa keemasannya selaku pemanis komedi. Anggy memerah habis-habisan potensi humornya, menghasilkan inkonsistensi. Kerap gagal, tapi sekalinya berhasil, sulit menahan ledakan tawa. 
Apalagi setiap Cornelio Sunny bicara layaknya tokoh-tokoh dalam Crows Zero. Beberapa waktu lalu, saya menyaksikannya tampil depresif lalu bercinta dengan jeep di Mobil Bekas buatan Ismail Basbeth. Serupa Abimana di Warkop DKI Reborn atau Reza Rahadian di My Stupid Boss, melihat aktor "dramatik" mencoba peran konyol (dan sukses) selalu menyenangkan. Begitu pula Ario Bayu dengan cara menodongkan pistol yang tak ubahnya James Bond kehilangan kewarasan atau Ganindra Bimo dengan bebeknya. Itulah sebab, walau totalitas Dwi Sasono kembali menghibur, kedua nama tadi lebih mencuri perhatian. 

Penampilan berkesan lain berasal dari Nirina Zubir. Berbeda dengan para pria, Nirina sebagai Debby tampil serius, mengundang decak kagum saat secara meyakinkan menangani porsi laga. Bersama Tika (dan tiga aktris lain yang diungkap di penghujung film), Nirina membangun jembatan menuju remake 5 Cewek Jagoan, yang sepertinya bakal fokus pada aksi, menekan kadar komedi. Menjanjikan, mengingat kapasitas Anggy merangkai laga penuh gaya, seperti tampak dalam 3 (Alif, Lam, Mim), lebih mumpuni ketimbang komedi. 5 Cowok Jagoan sendiri tidak jauh beda, asyik berkat takaran gaya plus pemakaian CGI secukupnya, termasuk dalam mengemas para zombie memasuki paruh kedua. 5 Cowok Jagoan: Rise of the Zombies mungkin tak mulus mengalir, tapi saya tak ingin hiburan ini cepat berakhir.