Tampilkan postingan dengan label Jeff Fradley. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jeff Fradley. Tampilkan semua postingan

HALLOWEEN (2018)

Begini hasilnya saat sekuel dibuat oleh sineas handal sekaligus pengemar sejati. Tidak mengindahkan installment selain film orisinalnya jelas keputusan berani, sebab, selain elemen-elemen buruk, rumit, sekaligus memalukan (Druid, Busta Rhymes, sampah nuklir buatan Rob Zombie), Halloween II (1981, salah satu sekuel slasher terunik) dan Halloween H20: 20 Years Later (1998, salah satu sekuel slasher terbaik) pun turut terhapus. Pada akhirnya, terbukti keberanian itu merupakan langkah penghormatan terbaik bagi karakter-karakternya, menjadikannya film terbaik Halloween sejak karya John Carpenter 40 tahun lalu.

Apa yang David Gordon Green (George Washington, Pineapple Express, Joe), Danny McBride (Your Highness) dan Jeff Fradley ingin capai melalui naskah yang mereka tulis bukan (cuma) memberi Michael Myers panggung pembantaian, tapi juga kelanjutan natural yang layak bagi kisah Laurie Strode (Jamie Lee Curtis), sembari mengubah modus operandi franchise ini (keluarga), dari alasan membunuh atau kehilangan nyawa, menjadi alasan untuk bertahan hidup.
Mengenyahkan Halloween II berarti tidak lagi menganggap Laurie sebagai saudari Michael, sehingga alasan sang boogeyman alias The Shape mengejar si mantan pengasuh anak kembali ambigu. Kita pun kembali pada ucapan Dr. Loomis (tidak ada stock footage mendiang Donald Pleasence, sebatas gambar di buku dan penyebutan nama) dahulu, bahwa Michael adalah manifestasi iblis. Sesederhana itu. Tidak ada gangguan psikologis, tidak ada alasan pasti.

Dan Green, yang turut menempati kursi sutradra, menekankan itu sejak adegan pembuka mengerikan ketika dua jurnalis, Dana (Rhian Rees) dan Aaron (Jefferson Hall), mengonfrontasi Michael di rumah sakit jiwa. Begitu mereka mengeluarkan topeng Michael, atmosfer seketika berubah. Pasien lain bertingkah manic, anjing menggonggong, seolah sosok iblis tak kasat mata bangun dari tidur panjangnya. Lalu filmnya melompat ke kredit pembuka, dilengkapi gambar labu klasik khas Halloween dan lagu tema ikonik ciptaan Carpenter. Teruntuk para penggemar, momen ini saja sudah cukup memancing sorak sorai.

Laurie sendiri digambarkan tidak jauh berbeda dibanding Michael. Label “gila” disematkan masyarakat. Mengidap PTSD, hidup dalam ketakutan kalau suatu hari Michal bakal kembali, Laurie menghabiskan 40 tahun terakhir menyulap rumahnya menjadi benteng, berlatih teknik membela diri termasuk menggunakan senjata. Apabila Michael dikurung oleh pemerintah, Laurie mengurung dirinya sendiri.

Ketakutan Laurie memaksanya mengalami 2 kegagalan pernikahan plus kehilangan sang puteri, Karen (Judy Greer), yang menghabiskan masa kecilnya berlatih dan membuat perangkap, sementara cucunya, Allyson (Andi Matichak) berusaha meyakinkan orang tuanya untuk tetap menjalin komunikasi dengan sang nenek. Karen menganggap ketakutan Laurie berlebihan. Terlihat demikian selama 4 dekade terakhir, hingga bus yang para pasien termasuk Michael mengalami kecelakaan, dan ia kembali menebar teror bagi warga Haddonfield di malam Halloween.

Pasca tahun-tahun penuh sekuel buruk yang terus membawa franchise-nya bertransformasi dari slasher medioker, slasher dengan unsur supranatural sampai slasher remaja, Green membawa Halloween kembali ke akarnya. Diterapkannya gaya serupa Carpenter, di mana teror berasal dari atmosfer yang mencengkeram perlahan, menahan pembantaian hingga nyaris separuh jalan, walau harus diakui, terkadang Green kehilangan pegangan sehingga beberapa sekuen berakhir draggy.

Tapi Green sadar betul, bahwa sepenuhnya meniadakan sadisme dapat membuat penonton masa kini kebosanan. Alhasil, begitu Michael mengekan topengnya lagi (topeng terbaik sejak 2 film pertama), tubuh tanpa nyawa langsung bertumpuk. Dibandingkan karya Carpenter, jumlah kematian serta kebrutalan digandakan, tetapi mayoritas terjadi di balik layar supaya atmosfer yang hendak dibangun urung terdistraksi oleh gore. Hebatnya, Green bisa menciptakan banyak creative kills tanpa memperlihatkan peristiwanya. Caranya adalah menunjukkan mayat-mayat yang Michael tinggalkan, sehingga nuansa sadisme tetap terasa. Bahkan kali ini Michael tidak segan menghabisi seorang bocah.

Green memahami Halloween luar-dalam, dan itu terlihat. Contohnya, ia mematuhi “aturan” yang Rob Zombie langgar: menampilkan Michael tanpa topeng. Di film ini, sebelum topeng dikenakan, kita hanya melihat punggung, kaki, atau kepala. Ketika menampakkan seluruh tubuh atau wajah pun, kamera menangkapnya dari jauh, di luar fokus, atau dalam kondisi bergerak cepat. Cerdik pula cara Green memainkan visual cues khas Halloween: tubuh yang menghilang, sudut gelap ruangan, lemari. Bukan atas nama nostalgia semata, semuanya jadi bagian pengembangan karakter, termasuk penukaran peran “pemburu” dan “yang diburu”. Laurie bukan sekedar korban tak berdaya, namun aktif mengejar Michael. Jamie Lee Curtis mengerahkan segala kemampuannya sebagai heroine dengan fisik kokoh namun remuk dan rapuh secara mental.

Third act-nya termasuk salah satu yang terbaik di antara jajaran slasher. Ingin rasanya menjerit kegirangan menyaksikan pertarungan terakhir yang turut bertindak selaku konklusi luar biasa memuaskan terhadap segala konflik keluarga di antara tiga generasi Strode, pasca set-up kuat nan panjang. “Happy Halloween, Michael!”.