REVIEW - ANNETTE
Sembilan tahun pasca Holy Motors, Leos Carax kembali, masih dengan surealisme soal "tortured self-destructive artist who wears green outfit", dalam sebuah musikal eksperimental. Tentu ini bukan La La Land (meski sekuen waltz di tengah badai bak versi kelam dari tarian Sebastian dan Mia di planetarium) maupun A Star is Born (walau sama-sama bicara soal rasa iri pria pada kesuksesan pasangannya).
Tapi bukankah musikal sedikit banyak menyinggung surealisme? Orang-orang mendadak menyanyi bersama, tarian di atas awan selaku ekspresi romantika, semua itu bukan wajah realita. Melalui Annette, Carax ibarat meminjam kebebasan bertutur genrenya, untuk memfasilitasi gaya khas miliknya, guna menghidupkan cerita serta musik buatan Ron Mael dan Russell Mael dari duo rock Sparks (mereka bertiga turut menulis naskah filmnya).
"So may we start?", begitu bunyi lirik lagu pembukanya, yang lalu dijawab oleh polisi patroli dengan singkat, "Don't try to start". Apakah ini sentilan atas "kegemaran" aparat merepresi pernyataan seniman? Entahlah, tapi memang betul, protagonis kita merupakan seniman. Jika Henry (Adam Driver) seorang komika, maka tunangannya, Ann (Marion Cotillard), adalah penyanyi sopran ternama. Hubungan mereka menggemparkan publik. Bahkan media memberi cap "Beauty and the bastard couple".
Tampil mengenakan bathrobe di atas panggung, Henry memancing tawa penonton lewat perangai dan materi yang penuh amarah serta kesedihan. Sementara Ann dipuja karena peran tragis yang menuntutnya selalu mati di akhir pertunjukkan. Mungkin di sinilah Henry mulai merasa, kenapa penderitaannya dipandang sebagai lelucon semata, namun "kematian" Ann justru membuatnya dicintai?
Bahkan setelah kelahiran puteri mereka, Annette (diperankan boneka creepy, karena di luar pilihan estetik, nantinya banyak hal ekstrim harus dilalui si bayi), kegelisahan Henry malah membesar. Ketika popularitas Ann konsisten menanjak, karir Henry justru menukik akibat tendensinya menggila di atas panggung.
Saya takkan membocorkan kejadian berikutnya, kecuali bahwa semakin jauh anda memasuki labirin berdurasi 140 menit ini, keanehan khas Leos Carax juga semakin kental. Durasi tersebut terlampau panjang? Mungkin, dan dibanding karya sang sutradara sebelumnya, fokus Annette cenderung kurang terjaga. Bila di Holy Motors Carax menelusuri sebuah gagasan, kali ini ada beberapa.
Ambisius, dan pastinya, pretensius. Persoalan seperti "life imitates art", male insecurity, hingga proses anak memerdekakan diri dari orang tua guna menjadi individu yang utuh, bisa dipresentasikan menggunakan gaya yang lebih mudah diakses. Tapi pilihan gaya juga merupakan wujud kemerdekaan estetika sang sutradara. Dan kalau anda seperti saya yang mengagumi keabsurdan Holy Motors, Annette punya pesona yang sukar ditampik.
Sebenarnya, ditinjau dari kacamata konvensional pun, film ini adalah musikal yang cukup mumpuni. Lagu-lagu opera rock catchy, hingga sekuen musikal imajinatif (adegan "kapal diterjang badai" yang jadi materi posternya menghasilkan sebuah tragedi bernuansa masif nan dramatis), semua bisa ditemukan. Di jajaran pemain, Driver dan Cotillard lebih dari sebatas alat penyampai ide (kerap terjadi pada banyak sajian sureal). Khususnya Driver, yang menangani hampir segala situasi (dan emosi) dengan tingkat intensitas 200%.
Available on KLIK FILM









