Tampilkan postingan dengan label France Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label France Film. Tampilkan semua postingan

REVIEW - GIRLS WILL BE GIRLS

Girls Will Be Girls selaku karya penyutradaraan perdana Shuchi Talati (juga menulis naskahnya) menunjukkan bahwa kisah mengenai seksualitas dapat disajikan secara cute, dan sebaliknya, film yang cute tetap bisa melempar kritik sosial setajam pisau. Bukti kalau sinema tidak semestinya mengurung diri dalam kekakuan pakem. 

Menariknya, Girls Will Be Girls punya protagonis yang terkesan kaku. Namanya Mira (Preeti Panigrahi), seorang siswi teladan di sebuah sekolah asrama yang terletak di kaki Himalaya. Dia menjadi perpanjangan tangan guru untuk mengingatkan murid yang melanggar aturan (rok yang terlalu pendek, mewarnai kuku, dll.), nilainya pun selalu jadi yang tertinggi. 

Demi mendukung prestasi akademik putrinya, Anila (Kani Kusruti) tinggal di dekat asrama sekolah supaya tiap mendekati jadwal ujian, Mira dapat pulang ke rumah untuk belajar di bawah pengawasannya. Ayah Mira, Harish (Jitin Gulati), lebih banyak absen dari hidupnya karena urusan pekerjaan. Suatu ketika Harish berkata pada Anila, "Kalau Mira gagal, itu salahmu", seolah berusaha memamerkan maskulinitasnya, menagih hak tanpa bersedia memenuhi kewajiban selaku ayah dan suami. 

Sekilas semuanya nampak seperti prolog familiar bagi sebuah drama coming-of-age. Masih terasa demikian di saat Mira berkenalan dengan Sri (Kesav Binoy Kiron), seorang siswa pindahan yang juga putra diplomat sehingga pernah menetap di banyak negara. Mira yang kaku mulai jatuh cinta, melanggar aturan rumah dan sekolah, hingga belajar mengenai seksualitas. Di satu titik, Mira mengajak Sri ke warnet untuk mempelajari organ reproduksi sebelum berhubungan seks. 

Shuchi Talati memotret cinta monyet tokoh utamanya, yang mulai mengenal romansa beserta segala pernak-perniknya, dengan amat menggemaskan. Seksualitasnya tidaklah jorok atau eksploitatif karena menekankan kepolosan protagonisnya. Misal saat Mira dan Sri diam-diam berciuman di kamar dengan kedok belajar bersama, sambil sesekali mengintip keberadaan Anila. Sekali lagi, menggemaskan. 

Sampai kemudian Sri justru mendekati Anila, termasuk memberinya perhatian yang tak pernah Harish berikan. Awalnya itu dilakukan supaya Anila memperbolehkannya menemui Mira, tapi lambat laun timbul kecemburuan dalam hati sang putri kepada ibunya. 

Tapi Girls Will Be Girls bukan cerita opera sabun mengenai ibu dan anak yang memperebutkan laki-laki. Sebaliknya, ia bagai cautionary tale. Peringatan akan bahaya manipulasi laki-laki terhadap perempuan, apa pun hubungan yang terjalin di antara mereka. Tentang para laki-laki yang seolah peduli (rajin melontarkan kata-kata manis, atau bersedia memenuhi kebutuhan finansial pasangan), namun sejatinya selalu absen kala ia dibutuhkan. 

Tiga pelakon utamanya sama-sama tampil mengesankan. Kesav Binoy Kiron akan membuat penonton ikut mempertanyakan intensi karakternya, Kani Kusruti membawa kompleksitas pada figur ibu tegas dan istri kesepian, sedangkan Preeti Panigrahi seolah sudah punya pengalaman akting segudang biarpun film ini merupakan debutnya. Sosok Mira dibuatnya begitu hidup dengan fleksibilitas dan jangkauan emosi luas. 

Pada akhirnya "perempuan akan tetap menjadi perempuan". Selalu jadi sasaran manipulasi dan beragam bentuk ancaman lainnya dari laki-laki. Tapi perempuan tetaplah perempuan, yang tatkala bersatu memberikan dukungan dan kepedulian bagi satu sama lain, bakal menciptakan ikatan yang takkan mampu diputus oleh laki-laki sebiadab apa pun.  

(JAFF 2024)

REVIEW - PETITE MAMAN

"You did not invent my sadness". "Secrets aren't always things we try to hide. There's just no one to tell them to". Kalimat-kalimat itu terdengar indah dan bijaksana. Sehingga, apabila di dunia nyata ada bocah delapan tahun mengucapkannya, pasti langsung viral di media sosial. Saya pun mempertanyakan perspektif yang Céline Sciamma (Tomboy, Portrait of a Lady on Fire) pakai untuk mengemas film ini. 

Petite Maman adalah film yang indah, baik terkait gagasannya mengenai upaya anak mengenal orang tua, maupun pengadeganan sang sutradara. Sebuah adegan di awal durasi memperlihatkan Nelly (Joséphine Sanz) dan ibunya, Marion (Nina Meurisse), berada dalam mobil. Kamera menyorot wajah Marion, sementara hanya tangan Nelly yang terlihat. Dia menyuapi kudapan ke mulut Marion. Lalu minuman kotak. Terakhir, dipeluknya sang ibu dari belakang. Tampak betul sensitivitas Sciamma dalam mengolah interaksi ibu-anak tersebut. 

Nenek Nelly baru saja meninggal. Bersama kedua orang tuanya, Nelly bermalam beberapa hari di rumah masa kecil Marion untuk mengosongkan isinya. Proses itu rupanya terlampau berat bagi Marion, yang di suatu pagi memilih pergi, meninggalkan Nelly dan ayahnya (Stéphane Varupenne). Tapi sebagai anak tunggal, kesendirian tidaklah asing bagi Nelly. Dia terbiasa, bahkan mungkin terpaksa menikmatinya. Ketika menemukan sebuah paddle ball, dan mengetahui permainan itu dimainkan seorang diri, responnya sederhana. "Sempurna", begitu ucap Nelly. 

Terdapat poin penceritaan penting yang mustahil dikesampingkan kala membahas Petite Maman, jadi kalau anda ingin menonton tanpa tahu sedikit pun tentangnya, silahkan berhenti membaca sampai di sini. Ketika bermain di hutan belakang rumah, Nelly bertemu seorang gadis. Selain sama-sama berumur delapan tahun, wajah si gadis pun amat mirip dengannya (diperankan Gabrielle Sanz, saudara kembar Joséphine). Nama gadis itu Marion. 

Nantinya Nelly sadar, kesamaan tersebut bukan sebuah kebetulan. Marion memang ibunya dari masa lalu. Jangan berpikir Petite Maman merupakan fiksi ilmiah high concept. Sciamma mempertahankan nuansa naturalistik, membiarkan fenomena itu tanpa penjelasan (lebih seperti keajaiban puitis ketimbang peirstiwa saintifik), menjadikannya alat mengeksplorasi perihal jurang pemisah antara anak dan orang tua. 

Tidak semua orang tua bisa menghapus sekat permisah dengan si buah hati. Acap kali tercipta jarak, yang membuat anak bertanya-tanya seperti apa sebenarnya si ayah/ibu. Apa yang mereka pikirkan? Kenapa mereka sedih? Mempertemukan Nelly dengan versi muda Marion, memberinya kesempatan mengenali sang ibu secara lebih gampang. Karena keduanya berada di satu dunia. Dunia bocah. 

Sciamma menyerahkan segala proses belajar kepada karakter anak. Tidak ada petuah maupun arahan dari orang dewasa. Hanya seorang bocah yang mengobservasi, kemudian menyimpulkan. Tapi karena itu pula saya jadi mempertanyakan kacamata yang digunakan Sciamma. Sekali lagi, dialog dipenuhi kalimat indah, namun jelas bukan berasal dari pemikiran anak delapan tahun, tidak peduli sekaya apa kosakatanya dan sejago apa ia bermain teka-teki silang. Petite Maman bak proses Sciamma merasuki tubuh anak kecil, tapi mempertahankan mental age dewasa. Hasilnya menguntungkan secara estetika, namun melemahkan logika.

Menariknya, kelemahan di atas mampu "dimanipulasi" oleh akting si kembar, yang sama sekali tak kesulitan menangani kalimat-kalimat serta emosi kompleks. Joséphine dengan raut wajah penuh tanya, sedangkan Gabrielle membuat saya tersentuh kala mengucapkan "merci" kepada "suami masa depannya". Cara bicaranya penuh makna. Dia berbisik. Ekspresinya bahagia, tapi tidak hanya karena momen saat itu. Seolah pikirannya diisi bayangan atas skenario-skenario indah di masa yang akan datang. 

Lain halnya jika membicarakan pengadeganan. Sensitivitas Sciamma kembali terlihat, kala menangkap gestur-gestur seorang bocah dalam kesendiriannya. Mungkin karena di departemen ini, statusnya adalah observer, yang lewat kameranya, menuangkan segala gerak-gerik bocah sebagaimana pernah disaksikan, tanpa harus benar-benar menjadi mereka. Tempo lambatnya mungkin takkan mudah diikuti sebagian orang, namun dibantu sinematografi garapan Claire Mathon, sarat visual yang tidak cuma indah, juga terasa intim.

(CGV Award Season Week)

VALERIAN AND THE CITY OF A THOUSAND PLANETS (2017)

Sewaktu kecil saya gemar memainkan setumpuk action figure karakter fiksi favorit. Berbekal barang  seadanya macam bantal, guling, atau kaleng biskuit bekas, dunia tempat karakter itu hidup jadi kenyataan. Setidaknya dalam imajinasi saya selaku satu-satunya batasan realisasi. Melalui film ini, Luc Besson melakukan hal serupa, menghidupkan komik kesukaannya saat kecil, Valerian and Laureline. Bedanya ia punya modal $210 juta (film Eropa dan independen termahal) guna mengganti mainan dan perabot sehari-hari dengan deretan aktor kenamaan sekaligus efek CGI. Tapi ada sebuah persamaan. Keduanya tak peduli kedalaman karakter atau cerita solid. Terpenting imajinasi terwujud. Valerian and the City of a Thousand Planets memang membawa Besson kembali menjadi bocah.

Dibarengi lagu Space Oddity-nya David Bowie yang sempurna membangun mood, filmnya dibuka oleh montage perkembangan program luar angkasa manusia dari masa ke masa, berujung pada abad 28 ketika stasiun Alpha tempat jutaan makhluk dari planet berlainan hidup bersama berbagi kultur pula pengetahuan, dilepas dari orbit Bumi, melayang bebas di angkasa tanpa batas. Valerian (Dane DeHaan) dan sang partner, Laureline (Cara Delevigne) adalah anggota kepolisian manusia yang tengah menjalankan misi mengamankan spesies hewan langka di suatu planet. Misi yang membawa keduanya mengarungi berbagai tempat di galaksi, bertemu alien beragam bentuk, juga menyelidiki tragedi masa lalu yang disembunyikan rapat-rapat.
Sederhana saja rangkaian cerita dalam naskah Besson. Penyebab durasinya melebihi dua jam (137 menit) dikarenakan alurnya kerap berputar-putar dahulu sebelum sampai titik destinasi. Ibarat perjalanan, penonton sebagai penumpang sering diajak singgah di tempat lain, menetap di sana menikmati suasana, baru lanjut ke tujuan. Juga terasa bagai menyaksikan video game dari stage ke stage berikutnya. Bahkan adegan tatkala Valerian menembus satu per satu lokasi Alpha dikemas oleh Besson laksana tipe permainan endless running yang biasa kita mainkan di smartphone. An exciting one

Meski berakibat pacing yang kurang dinamis, Besson punya alasan kuat di balik pilihan tersebut, yaitu mengajak penonton mengamati keindahan beraneka ragam dunia asing beserta makhluk dan budaya di sana. Karena sejatinya, ketimbang suguhan tipikal "kebaikan melawan kejahatan", Valerian and the City of a Thousand Planets lebih menitikberatkan pada eksplorasi soal diversity dengan cakupan luas: alam semesta. Kalau diperhatikan, mayoritas konflik berujung sekuen aksi tidak didorong usaha tokoh utama menumpas kejahatan, melainkan sebuah keterpaksaan dipicu insting bertahan hidup saat terancam bahaya akibat terjebak di situasi maupun kultur asing. Pun musuh utama yang mesti dihadapi bukan sosok megalomania dengan hasrat menguasai dunia, sekedar manusia dan keburukan alami mereka (kita). 
Walau acap berlama-lama mampir kebosanan urung hadir, sebab bersenjatakan kreatifitas tanpa batasnya, Besson yang makin sahih disebut sutradara visioner mampu menciptakan sederet lingkungan, teknologi, hingga aktivitas tak terbayangkan. Tentu semua didasari komik buatan Pierre Christin dan Jean-Claude Mézières, tetapi menghidupkan gambar diam di panel komik butuh daya kreasi luar biasa. Inilah esensi film selaku motion picture. Gambar bergerak yang mewadahi imajinasi liar pembuatnya. Sinematografi Thierry Arbogast juga musik Alexandre Desplat yang mencerminkan ekspresi kekaguman, menambah daya pukau petualangan jagat raya yang langsung menghentak sejak menit-menit awal di Planet Mül. Sayang, fokus terhadap visual seolah sepenuhnya menyedot energi Besson, sehingga ia gagal maksimal soal eksekusi aksi. Tidak buruk, hanya saja medioker, nihil cool aspect ciri khasnya.

Saat Dane DeHaan kekurangan pesona sebagai pahlawan sci-fi yang bertingkah semaunya (charm-nya lebih cocok untuk tokoh gloomy), Cara Delevigne sukses menghapus memori buruk Enchantress si iblis penari perut berkat deadpan sarcasm yang juga didukung struktur wajah naturalnya. Sebagai Laureline, Cara mampu pula menangkap sisi sensual tanpa kehilangan kekuatan khas tokoh wanita idola ala suguhan sci-fi klasik. Walau demikian, gelar penampil paling mencuri perhatian justru disandang dua nama yang hanya muncul singkat, Ethan Hawke dan Rihanna. Gaya koboi Texas banyak omong milik Hawke menghembuskan nuansa berbeda di tengah kesan monoton kebanyakan karakter (bertampang) manusia. Sementara Rihanna dengan kehebatan olah tubuh di sebuah adegan pole dance memikat nyatanya paling mencerminkan aura inti filmnya: unik, aneh, imajinatif, magical, out of this world.


Ulasan untuk film ini dapat dibaca juga di: http://tz.ucweb.com/8_dMLE

RAW (2016)

Ada beragam cara menggolongkan film horor, dan kali ini saya akan membaginya ke dalam tiga bentuk. Pertama nasty horror. Sesuai namanya, jenis ini mengedepankan momen menjijikkan, sering eksploitatif, menempatkan cerita, akting, dan segala tetek bengek sinematik lain di urutan ke sekian. Kritikus cenderung membabat habis film model begini. Kedua adalah mainstream horror yang dirilis luas, dibuat mengikuti pola demi memuaskan penonton sebanyak mungkin. Ketiga, artsy horror yang gemar bermain alegori, banjir penghargaan dari bermacam festival, namun bagi penonton awam tak selalu memuaskan entah disebabkan tempo lambat atau "pelit" mengumbar teror.

Raw yang disutradarai dan ditulis naskahnya oleh Julia Ducournau termasuk golongan terakhir, menceritakan hari-hari pertama Justine (Garance Marillier) berkuliah menempuh pendidikan kedokteran hewan. Justine merupakan gadis "lurus" yang cerdas, pendiam, masih perawan, sekaligus seorang vegetarian. Di sana ia bersama sang kakak, Alexia (Ella Rumpf). Berlawanan dengan Justine, Alexia lebih "liar" dan gemar berpesta. Seiring waktu, Justine menyadari ada keanehan pada dirinya ketika mulai timbul hasrat memakan daging mentah yang bahkan bisa menyeruak hadir kala melihat seekor sapi hidup di depan kelas. Hingga saat terjadi sebuah kecelakaan, hasrat Justine berubah ke tingkatan ekstrim.
Kisah coming-of-age memang mangsa empuk bagi sineas horor menyelipkan simbolisme-simbolisme, mengingat pada kenyataannya, fase hidup manusia khususnya remaja dipenuhi berbagai perubahan yang dirasa aneh, entah pengalaman seksual pertama, fisik pula kepribadian juga berubah. Karena itu takkan sulit memberi twist pada perubahan tersebut, misal si karakter menyadari dia adalah monster, kanibal, atau semacamnya. Ducournau pun memanfaatkan itu, menumpahkan setumpuk alegori tentang bangkitnya naluri dasar manusia, seksualitas, kehidupan kampus, sampai perdebatan soal perlakuan terhadap hewan, entah untuk dikonsumsi atau eksperimen akademik.

Tapi keberadaan simbol di atas tidak serta merta menjadikan filmnya suguhan cerdas, sebab kini ketika coming-of-age sudah jamak dijadikan metafora termasuk dalam horor, apa yang Ducournau berikan terlampau familiar. Mudah ditebak ke mana perkembangan karakternya bergerak, walau di beberapa titik terdapat kejutan selaku pemberi shock value. Pula pada pengadeganan, di mana tempo lambat sebagai niat membangun atmosfer ditambah gambar artistik cantik garapan sinematografer Ruben Impens yang sesekali dibalut slow motion mendominasi. Gaya demikian yang dulu termasuk "hipster" telah menjadi klise, membentuk template tersendiri bagi arthouse horror, dan Ducournau sekedar menerapkan, mengulangi template itu.
Eksplorasi dramatik cenderung mengesampingkan porsi horor, yang mana bukan masalah bila terdapat pendalaman paten. Sayangnya, untuk film yang berupaya mengangkat tentang tumbuh kembang manusia secara serius, bukan gimmick semata, presentasinya dangkal. Perubahan demi perubahan Justine tak nampak sebagai proses berkelanjutan yang natural, melainkan hanya alat agar film dapat bergerak dari satu twisted moment ke twisted moment berikutnya. Andai saja fokus banyak terletak pada horor, sebab meski Raw memperlihatkan bahwa Ducournau bukan pencerita solid, ia piawai menebar teror menyakitkan.

Tanpa perlu sadisme berlebihan, sang sutradara sanggup menyulap peristiwa remeh seperti menggaruk luka alergi jadi adegan yang bisa memaksa penonton berpaling dari layar berkat perpaduan visual eksplisit dengan tata suara meyakinkan. Atau bagaimana "menarik rambut dari dalam mulut" yang telah ratusan kali kita lihat tampak begitu menyakitkan. Ducournau punya kejelian tinggi terkait menciptakan pemandangan disturbing tanpa perlu terkesan over-the-top. Selalu mencekam dan mencekat tatkala momen berdarah mengambil alih, Raw sayangnya turut memperlihatkan betapa hipster artistic horror makin repetitif, predictable, mencapai kekliseannya sendiri.

PERSONAL SHOPPER (2016)

Judul dari kolaborasi kedua antara sutradara Olivier Assayas dengan Kristen Stewart setelah Clouds of Sils Maria yang membawa sang aktris menjadi orang Amerika pertama yang memenangkan Cesar Awards ini merujuk pada profesi tokoh utamanya, Maureen Cartwright (Kristen Stewart). Sepanjang film, kita mendapati Maureen mengendarai motor berkeliling Paris, mengambil gaun dan aksesoris mahal untuk ia berikan pada bosnya, Kyra (Nora von Waldstätten), seorang selebritis. Sementara Kyra mendatangi pemotretan maupun acara bertabur bintang satu ke lainnya, Maureen hanya bisa diam, memendam berhasrat karena tak diperkenankan mencoba gaun-gaun mahal tersebut. 

Tapi "kekangan" yang Maureen alami bukan itu saja, dan poin berikutnya menggiring Personal Shopper menuju alam lain penuh keanehan misterius. Pada adegan pembuka, Maureen bermalam di rumah kosong milik Lewis, saudara kembarnya yang meninggal akibat serangan jantung (Maureen pun memiliki kondisi serupa). Sebagaimana saudaranya pula, Maureen punya kemampuan berkomunikasi dengan hal gaib. Di rumah itu, Maureen menunggu arwah Lewis mengirimkan sebuah tanda, sesuatu yang dahulu sempat ia janjikan saat masih hidup. Proses menantikan pesan spiritual itu menahan Maureen di Paris meski ia membenci pekerjaannya bersama Kyra, dan sang kekasih, Gary (Ty Olwin) tengah berada di Oman.
Personal Shopper adalah hibrida studi karakter yang mencari makna kehidupan di tengah kekangan dari sosok hidup dan mati, Hitchcockian thriller, hingga horor supranatural yang jauh lebih mengerikan dibanding suguhan horor arus utama. Menyelami dunia spiritualisme penuh ketidakpastian memberi Assayas kebebasan menuangkan segala keanehan tak terduga, menciptakan misteri yang mempermainkan asumsi penonton. Atensi kita bakal direnggut dan ketegangan tersulut, sebab kita takkan pernah tahu apa yang disiapkan Assayas di balik dinding-dinding gelap rumah Lewis atau di ujung percakapan pesan singkat antara Maureen dengan stalker misterius yang bahkan tidak ia ketahui masih hidup atau sudah mati.

Guna mewujudkan ketakutan yang dialami Maureen (juga penonton), Assayas enggan memakai formula klise horor. Musik dan bunyi-bunyian lain diminimalisir, false alarm pun ditiadakan, di mana hal yang kita lihat maupun dengar sungguh-sungguh terjadi juga sama dengan yang dilihat dan didengar sang protagonis (kecuali satu momen creepy ketika jauh di belakang Maureen samar-samar nampak sesosok pria). Kamera bergerak perlahan, seolah Assayas sedang mencekik penonton menggunakan penantian ditemani ketidaktahuan serta ambiguitas. Terkait ambiguitas dan kesubtilan, hantu dalam film ini pun tak muncul dalam tampilan segamblang horor mainstream, namun efektif memancing kengerian, terlebih Assayas cerdik memilih timing sewaktu penonton tidak berekspektasi bakal dijejali teror.
Kepiawaian Assayas mengolah tensi tergambar dalam pertukaran chat Maureen dan sang stalker yang membuktikan bahwa pembicaraan melalui pesan telepon genggam pun dapat berujung cinematic thriller kelas satu. Menegangkan sekaligus memunculkan penasaran, momen tersebut turut menyiratkan sensualitas. Merasa terganggu di awal, Maureen pelan-pelan membuka diri, menceritakan rahasianya pada si sosok misterius, bahkan kemudian seolah tersulut hasratnya, lalu sadar tidak sadar menikmati "obrolan" kental voyeuristic manner. Pun dalam diri Maureen seperti timbul fetishism terhadap barang-barang milik Kyra yang kelak mendorongnya bermasturbasi di atas kasur sang bos sembari mengenakan baju miliknya. 

Kristen Stewart memantapkan posisinya selaku salah satu aktris Hollywood paling "berbahaya" saat ini lewat satu lagi performa magnetik, mengandalkan karisma dari kecanggungan kala berinteraksi ditambah pilihan detail-detail gestur menarik sehingga aktivitas sederhana macam mengambil kopi sekalipun menyenangkan disaksikan. Penekanan sinema Eropa termasuk Prancis akan realisme cerita membentuk para aktornya memperagakan penampilan serupa, dan Stewart pun demikian. Tanpa ledakan emosi, performanya pasca Twilight Saga mencerminkan bentuk modifikasi artistik dari gerak laku realita. Membumi namun indah kala diamati lebih lanjut. 

IT'S ONLY THE END OF THE WORLD (2016)

Serahkan pada Xavier Dolan untuk menghasilkan karya unik yang bersedia membaurkan visual vibrant dan musik pop dalam tuturan arthouse yang walau tidak wajib tapi identik dengan kesunyian atau kemasan sederhana. Tengok Mommy yang bersama aspek rasio 1:1 miliknya ikut memasukkan lagu-lagu familiar macam Wonderwall, Born to Die, Counting Stars hingga White Flag. It's Only the End of the World selaku adaptasi pertunjukan teater berjudul sama karya Jean-Luc Lagarce pun serupa, bahkan tak jarang di antara monolog-monolog panjang kental teriakan karakter, filmnya seperti extended music video. Sedap dipandang, dinamis, meski soal substansi patut dipertanyakan.

Louis (Gaspard Ulliel), pria gay 34 tahun dengan profesi sebagai penulis naskah teater memutuskan pulang ke rumah, menemui keluarganya setelah 12 tahun. Bukan semata-mata rindu, Louis punya intensi lain, mengabarkan umurnya yang tak lagi panjang akibat penyakit (detailnya tidak dijabarkan). Sang ibu (Nathalie Baye) antusias menyambut kepulangan puteranya, pun Suzanne (Lea Seydoux), si adik yang mengenal Louis hanya dari cerita atau artikel koran. Terjadi pula pertemuan perdana Louis dengan Catherine (Marion Cotillard), istri kakaknya, Antoine (Vincent Cassel) yang selalu mengantagonisasi semua orang lewat komentar pedas.
Pasca adegan pembuka berhiaskan quick cuts, gambar kontras didominasi warna biru juga iringan Home is Where It Hurts-nya Camille yang bertempo upbeat, keliaran Dolan enggan meluntur, langsung menyambungnya dengan berondongan kalimat cepat nan acak yang terasa melelahkan ketimbang rancak. Penonton seketika dihadang oleh sambutan keempat keluarga tokoh utama yang terasa aneh sebab mereka begitu cerewet, bak tak bisa stop bicara, berteriak, mengomeli satu sama lain. Mungkin anda bakal menanggapinya seperti Louis yang lebih banyak diam dan bicara seperlunya serupa dua sampai tiga patah kalimat dalam kartu pos yang ia kirim tiap ada anggota keluarga berulang tahun. 

Dolan mempertahankan penggambaran Lagarce atas keluarga disfungsional melalui pertukaran kata luar biasa canggung di mana para tokoh sering mengkoreksi grammar sendiri, seolah bingung bagaimana bersikap di depan Louis, sang "stranger in the family". Catherine selalu ragu dan meminta maaf, juga Suzanne yang diam-diam mengagumi Louis, sementara bagi Antoine apapun konteks pembicaraan pasti salah di matanya. Timpal-menimpalinya terdengar aneh, menimbulkan pertanyaan, "Mengapa tiap kalimat direspon negatif oleh lawan bicara? Kenapa tiap situasi berujung bentak-membentak?" Wajar, sebab paruh kedua dari sumber adaptasinya abstrak, terdiri atas monolog demi monolog tanpa lawan bicara jelas. 
Dari situ kekacauan keluarga mampu dijelaskan, ketidaknyamanan Louis  yang mungkin memicu kepergiannya dulu  tersiratkan. Louis memang terlihat berbeda. Ketika keluarganya seolah terbiasa akan kondisi tersebut, dapat seketika berubah dari saling bentak jadi mengobrol santai sembari tersenyum. Rasanya semua adalah bagian keseharian. It's Only the End of the World pun bergerak dari nostalgia menuju masa lalu (asal muasal hidup) karakternya sebelum kematian (akhir hidup) menjemput menjadi drama kegagalan seseorang menemukan tempat dalam keluarga. 

Kembali ke pernyataan di paragraf awal, Xavier Dolan sekali lagi memastikan sampul filmnya bersahabat bagi penonton awam meski kontennya tidak demikian. Di sela-sela riuh rendah saling serang tanpa ujung, unik mendapati I Miss You-nya Blink 182 sayup-sayup diputar dan Dragostea Din Tei milik O-Zone mengiringi gerak aerobik asal Martine dan Suzanne. Adakah signifikansi? Selain nostalgia yang mana dilakukan protagonis, jelas tidak. Serupa pula sempilan flashback-nya. Pemakaian slow-motion dan sinematografi garapan Andre Turpin memastikannya terlihat artistik tapi dari sisi kontekstual, fungsinya sekedar memberi informasi tambahan, bukan penguat penokohan. Kita tahu pasti siapa mantan pacar Louis hingga kegiatan keluarganya tiap Minggu pagi, namun tidak tentang detail hubungan atau motivasi pasti kepergian Louis yang sejatinya dapat memancing emosi penonton.
Mengesampingkan sederet penyesuaian ke layar lebar, Dolan setia pada naskah Lagarce. Bahkan pengadeganan film ini tak ubahnya pertunjukkan teater di mana pameran utamanya adalah akting bersenjatakan kata-kata, serta karakter yang bergerak keluar-masuk frame (panggung). Kesetiaan itu berujung pisau bermata dua tatkala arah tidak menentu. Sebagai paparan realis filmnya terlampau aneh, terlebih klimaks yang bagai akhir dunia (musik mencekam, warna jingga menyala seolah matahari mendekati Bumi) disusul simbolisme burung di ending. Tetapi sebagai presentasi absurd, adaptasi Dolan amat menyederhanakan surealisme naskah Jean-Luc Lagarce lalu mengedepankan melodrama. 

Salah satu keputusan terbaik Dolan terkait memindahkan media panggung ke film yaitu pemanfaatan close-up, dengan begitu akting memukau  terlebih ekspresi  ensemble cast-nya dapat tertangkap sempurna. Gaspard Ulliel memperagakan gejolak dalam hati yang berusaha ditekan, ditutupi dengan senyum simpul dan kediaman. Lea Seydoux meragu, bagai burung dalam sangkar terbuka yang berhasrat terbang tapi malu-malu. Marion Cotillard terbata-bata, berulang kali minta maaf, memancarkan kegamangan dari tatapan mata. Nathalie Baye penuh energi tanpa kehilangan kasih sayang hangat seorang ibu yang ia tumpahkan kala dibutuhkan. Vincent Cassel sekilas merupakan sosok terkuat, meluap-luap, gemar "memangsa" lawan bicara dan menyudutkan mereka, namun kerapuhan sosok pria yang disalahartikan dan  tidak tahu cara membenarkannya amat kentara.

R.A.I.D. SPECIAL UNIT (2017)

Saya bisa saja melihat film berjudul asli Raid Dingue ini semata-mata sebagai komedi ringan berbasis lelucon-lelucon bodoh dari tingkah konyol karakternya saja yang mana berhasil dibuat oleh sutradara/penulis naskah/aktor Danny Boon. Tapi menengok fokus alur seputar perjuangan seorang wanita menepis stigma miring tentangnya serta seringnya naskah buatan Boon bersama Sarah Kaminsky melontarkan dialog berisi sindiran bagi seksisme, R.A.I.D. Special Unit ingin dipandang lebih dari itu. Sebuah niatan yang meski baik namun justru menurunkan kualitas akibat lemahnya tuturan naskah. 

Johanna Pasquali (Alice Pol) adalah puteri Perdana Menteri Prancis, Jacques Pasquali (Michel Blanc) juga calon istri pebisnis kaya bernama Viktor (Yvan Attal). Biar demikian, ia menolak hanya berdiam diri hidup nyaman di rumah, sebab impiannya sejak kecil adalah bergabung di RAID, sebuah kesatuan polisi elit. Walau sudah berlatih amat keras, Johanna tetap tak sanggup memenuhi kriteria, sampai "intervensi" sang ayah mewujudkan mimpi itu. Di RAID, Johanna dihadapkan pada bermacam kesulitan, mulai latihan super keras hingga penolakan anggota senior, Eugene Froissard (Danny Boon) yang membenci wanita setelah ditinggalkan istrinya. 
R.A.I.D. Special Unit is about Johanna against all odds. Begitu diterima, Johanna berusaha membuktikan kepantasannya, berjuang melewati segala rintangan termasuk upaya Eugene dan pimpinan RAID, Patrick (François Levantal) membuatnya kapok lalu memilih keluar. Tapi Johanna pantang menyerah. Kisah standar yang menjadi modal solid menyampaikan women empowerment, bahwa wanita sejatinya mampu apabila diberi kesempatan. Masalahnya, kesempatan yang didapat tokoh utama bukan ia raih, melainkan diberikan cuma-cuma melalui "jalur belakang" pula. 

Johana pun selalu gagal diterima murni akibat tidak memenuhi syarat, bukan dipicu dikstriminasi gender. Bahkan Patrick sempat menyatakan nilai Johanna merupakan hasil terburuk yang pernah dia lihat. Bagaimana bisa mendukung perjuangan seseorang jika orang itu sendiri tak capableJohanna berhati baik. Terlihat ketika berusaha menunjukkan Eugene bukanlah sosok pembawa sial. Dia juga tahan banting, langsung berdiri lagi tiap kali terjatuh. Tapi ia bukan agen yang baik. Beberapa misi seperti menjaga Presiden atau mengintai teroris berakhir kacau akibat kecerobohannya. 
Kecerobohan Johanna melemahkan bobot karakter namun menguatkan komedi. Ketepatan timing Boon memaksimalkan humor slapstick-nya, membuat situasi "murahan" macam Johanna jatuh dari sepeda atau kepala Presiden terbentur pintu mobil jadi efektif memancing tawa sebab hadir di waktu tepat bahkan kadangkala tak terduga. Totalitas Alice Pol memunculkan hiburan berbentuk kebodohan luar biasa wanita berparas rupawan. Mudah menyukai Johanna. Bukan berkat perjuangan yang memancing simpati tapi lebih disebabkan dia bodoh, sebagaimana mestinya karakter komikal menarik hati penonton. 

R.A.I.D. Special Unit sempat pula mengekspresikan penghormatan bagi aparat keamanan. Sebuah adegan sewaktu para trainee memberi tepuk tangan pada pasukan yang baru melakoni misi berbahaya cukup menyentuh perasaan. Namun serupa paparan soal perjuangan wanita dan sindiran bagi misogynist (shoot 'em right on their dick), poin ini pun lenyap seiring dominasi kekonyolan filmnya. Bukan masalah ketika tujuannya sekedar berkomedi, tapi R.A.I.D. Special Unit hendak tampil lebih, sehingga meski menghibur, banyak tertinggal rasa hambar. 

THE FAMILY (2013)

Film garapan Luc Besson ini dibintangi Robert De Niro dan diangkat dari novel karya Tonino Benacquista berjudul Malavita yang artinya Badfellas membuat film ini seolah menjadi versi tidak serius dari Goodfellas karya Martin Scorsese. Tapi meskipun ceritanya memang seputar dunia mafia dan Scorsese menjadi eksekutif produser bahkan ada adegan yang menampilkan pemutaran film Goodfellas, The Family sama sekali bukanlah parodi dari film tersebut. Selain De Niro, ada nama-nama besar lain seperti Michelle Pfeiffer, Tommy Lee Jones hingga Dianna Agron di jajaran pemainnya. Saya sendiri tidak mengharapkan kisah yang berbobot dari The Family yang memang cukup mengedepankan unsur komedi, apalagi melihat jajaran film Luc Besson akhir-akhir ini yang kualitasnya biasa saja bahkan beberapa diantaranya termasuk film yang buruk. Namun sebagai hiburan yang menyenangkan The Family cukup punya potensi memuaskan saya apalagi melihat jajaran cast yang meyakinkan tersebut. Ceritanya berada seputaran keluarga Giovanni Manzoni (Robert De Niro) dan keluarganya yang sedang berada dalam program perlindungan saksi di bawah pengawasan FBI.

Manzoni terpaksa meninggalkan hidupnya sebagai bos mafia setelah terlibat masalah dengan Don Luchese (Stan Carp) yang membuat sang Don harus mendekam dalam penjara. Atas perbuatannya tersebut, Manzoni dan keluarganya terpaksa hidup di bawah perlindungan FBI yang dipimpin oleh Robert Stansfield (Tommy Lee Jones) dan tingga berpindah-pindah sampai sekarang akhirnya mereka tinggal di kota kecil yang terelat di Normandy, Prancis. Disana masing-masing dari keluarga tersebut harus menghadapi permasalahan yang mereka alami. Giovanni yang hidup dengan identitas Fred Blake tidak bisa meninggalkan rumah karena terus diawasi oleh FBI dan terpaksa menghabiskan waktunya dengan menulis riwayat hidupnya sebagai mafia. Permasalahan datang saat ia mengaku sebagai penulis novel sejarah tentang Normandy landing pada tetangganya walaupun ia sama sekali tidak tahu menahu mengenai peristiwa sejarah tersebut. Sang istri, Maggie (Michelle Pfeiffer) merasa harus menanggun semua perbuatan suaminya yang temperamental dan dia sendiri bermasalah dengan beradaptasi disana. Puteri mereka, Belle (Dianna Agron) yang juga selalu main kasar sedang jatuh cinta pada mahasiswa yang mengajar matematika di sekolahnya. Sedangkan sang putera, Warren (John D'Leo) banyak terlibat permasalahan kekerasan di sekolah. Tapi yang mereka tidak tahu adalah Don Luchese semakin dekat untuk mengetahui keberadaan mereka saat ini dan berniat menghabisi satu keluarga tersebut.

Yang paling menarik dari The Family / Malavita bukanlah kualitas cerita tapi karakter-karakter yang ada di dalamnya. Giovanni a.k.a Fred Blake yang diperankan De Niro adalah sajian utamanya. Dari luar ia seperti pria tua pengangguran biasa yang bahkan tidak bisa memperbaiki pipa ledeng dan hanya menghabiskan waktunya di depan mesin ketik, namun jika dia sudah tersinggung, Fred tidak ragu-ragu menghajar habis orang yang membuatnya marah sampai mematahkan semua tulangnya. Sedangkan Maggie tidak ragu-ragu meledakkan supermarket disaat ia merasa tersinggung oleh komentar orang Prancis tentang dirinya. Sedangkan kedua anak mereka tidak jauh beda dimana untuk menyelesaikan masalah mereka tidak ragu memakai kekerasan, bahkan Warren sang putera seolah benar-benar mewarisi darah mafia sang ayah dengan sanggup melakukan berbagai bisnis kotor dan perekrutan anak buah. Terkesan brutal? Memang The Family tampil brutal tapi dibalik kebrutalan keluarga gila tersebut selalu diselipkan unsur komedi yang membuat masing-masing karakternya tampil lebih menarik. Mungkin mereka terkesan sebagai keluarga disfungsional yang bertindak semau sendiri, tapi di balik itu mereka saling menyayangi dan melindungi satu sama lain dimana faktor itulah yang membuat interaksinya lebih menarik.

Seperti yang sudah saya duga tidak ada yang spesial dari ceritanya. Di samping karakternya yang asyik, ceritanya tergolong sangat sederhana. Tidak ada intrik rumit yang sering muncul dalam film-film bertemakan mafia dengan tone yang serius. Tapi The Family memang tidak berusaha untuk tampil serius. Ceritanya tidak berusaha cerdas dan memang terasa bodoh di beberapa bagian namun juga tidak berusaha terlalu keras untuk menjadi bodoh dengan menjadi parodi film-film mafia seperti Goodfellas. Ini adalah murni hiburan dengan selipan komedi yang cukup efektif. Terkadang komedinya memang berlalu begitu saja dalam artian tidak lucu, tapi saya lebih sering mendapati komedinya berhasil membuat saya tersenyum bahkan beberapa kali membuat tertawa. Bukan komedi cerdas namun tetap menarik untuk ditonton. Sebagai contoh adalah saat Fred yang diperankan De Niro datang ke acara pemutaran sekaligus debat film yang menampilkan film Goodfellas dimana kita tahu bahwa De Niro adalah salah satu aktor yang bermain dalam film garapan Martin Scorsese tersebut. De Niro sendiri tampil bagus disini. Yah jangan harapkan kualitas nomor satu seperti aktingnya di The Godfather II ataupun Goodfellas, namun kemampuannya membawakan sosok karakter yang dingin, brutal namun tetap terlihat lucu jelas patut mendapat pujian disini.

Sampai akhirnya kita dibawa pada sebuah klimaks yang untungnya berhasil menjaga tensi film. Pembangunan konflik menuju final showdown yang memperlihatkan anak buah Don Luchese menginvasi Normandy dan menyerbu rumah Fred terasa sangat menegangkan. Apalagi saat masing-masing anggota keluarga itu berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan keluarga mereka dari maut. Momen menuju final tersebut memang begitu intens dan menegangkan. Namun sayangnya saat eksekusi di pertempuran akhirnya malah terasa anti-klimaks dan berakhir begitu saja seolah-olah Luc Besson kebingungan bagaimana harus mengakhiri pertempuran yang (maunya) epic tersebut. Bahkan adegan aksi "mini" saat masing-masing keluarga Blake menghajar orang-orang di sekitarnya masih lebih menghibur daripada klimkas tersebut. Pada akhirnya The Family jelas tidak setara dengan karya-karya terbaik Luc Besson macam Nikita ataupun Leon: The Professional. Kisahnya juga dangkal dan tidak menyinggung hal-hal seperti ambiguitas yang muncul dalam istilah "keluarga" dalam dunia gangster meski punya potensi besar untuk itu. Tapi setidaknya bukan juga karyanya yang masuk daftar terburuk dan masih jadi hiburan yang cukup menghibur khususnya berkat komedinya yang cukup berhasil dan penampilan maksimal para pemainnya dalam membawakan tokoh-tokoh dengan karakterisasi yang asyik.