Tampilkan postingan dengan label Steven Soderbergh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Steven Soderbergh. Tampilkan semua postingan

REVIEW - KIMI

Ditulis naskahnya oleh David Koepp (Jurassic Park, Mission: Impossible, Spider-Man), Kimi punya cerita sederhana. Saking sederhananya, ada kesan pembuatannya didasari pemikiran, "Film apa yang bisa diproduksi selama pandemi?". Biar demikian, kehadiran Steven Soderbergh di kursi sutradara bak memberi garansi bahwa cerita sederhana itu dapat disulap jadi tontonan spesial.

"Kimi" bukan nama protagonisnya, melainkan smart speaker canggih milik perusahaan Amygdala, yang memancing kontroversi karena memonitor para pengguna atas nama "peningkatan layanan". Data-data direkam, termasuk seluruh perintah suara yang diberikan ke Kimi. Angela (Zoë Kravitz) bekerja sebagai "penerjemah" di Amygdala. Semisal Kimi tidak memahami bahasa slang, Angela yang bertugas menginput data baru terkaitnya.

Sesuai protokol pandemi, Angela bekerja dari apartemennya. Pun serupa banyak orang di tengah serangan COVID, ia tidak berani bepergian. Cuma melangkah keluar beberapa meter saja sudah mendatangkan kecemasan. Tapi saat Angela bersedia membukakan pintu bagi sang kekasih yang tinggal di seberang, Terry (Byron Bowers), bahkan berhubungan seks, kita tahu bukan virus (satu-satunya) sumber ketakutan Angela. 

Kondisi mental Angela mendapat ujian tatkala salah satu rekaman Kimi menunjukkan kemungkinan terjadinya tindak kriminal. Angela dengan agorafobianya, yang menghabiskan semua waktu sendirian dalam kamar, jarang melakukan interaksi sosial, dan lebih banyak mengintip situasi luar melalui jendela, harus mencari cara mengungkap kejahatan tersebut.

Menciptakan komparasi dengan Rear Window (1952) baik terkait perilaku karakter serta penggunaan interior apartemen selaku mayoritas latar, Kimi merupakan Hitchcockian yang disederhanakan. Alurnya tidak memodifikasi formula, namun kesederhanaannya efektif. Intriknya punya cukup daya guna menjaga kestabilan intensitas selama 89 menit durasinya. 

Begitu pula sentilan mengenai isu surveillance dan respon publik terhadap tindak kekerasan di sekitar mereka. Tidak dieksplorasi secara mendalam, tapi mampu membuat penonton berdiri di belakang Angela. Kita dibuat yakin tengah mendukung figur yang tepat, dalam perjuangannya melawan musuh yang juga tepat (untuk dibenci). 

Dan sesuai dugaan, Soderbergh menyulap kesederhanaan penuturan jadi tontonan yang jauh lebih menarik. Sejak dulu, karya-karya Soderbergh selalu menonjolkan permainan warna. Peralihan ke medium digital pun salah satunya didasari pilihan gaya itu. Kimi memperlihatkan bagaimana kegemaran Soderbergh akan warna-warna mencolok amat terfasilitasi oleh kamera digital. Gambarnya tajam. Apalagi begitu Kimi keluar dari kamar, di mana tambahan cahaya natural menyajikan visual distinct, sembari kameranya bergerak dinamis mewakili kecemasan si protagonis, yang tak kalah menonjol dibanding warna-warna di sekitar berkat rambut birunya (pilihan estetika yang sekilas remeh, namun berdampak besar).

Satu-satunya ganjalan datang dari musik. Ditangani oleh Cliff Martinez selaku kolaborator Soderbergh sejak Kafka (1991), nuansa noir klasik yang kerap dipakai terkesan kurang cocok, berkontradiksi dengan visual digital modern filmnya. Justru musik elektronik yang biasanya menjadi ciri khas Martinez (dan sesekali masih terdengar) lebih pas membungkus Kimi.

Untungnya kekurangan di atas cuma batu sandungan kecil dibandingkan pencapaian menyeluruh Kimi. Tujuan utamanya adalah melahirkan thriller menghibur, yang mana berhasil. Klimaksnya memuaskan. Sebagai thriller, babak puncaknya merupakan bukti kreativitas Koepp, yang mesti memutar otak guna menciptakan keseruan dalam kisah berskala kecil.

Sementara dilihat dari proses sang protagonis, klimaksnya ibarat wujud kemenangan mutlak, saat ia sanggup mengubah hal-hal yang sebelumnya adalah sumber masalah, menjadi keuntungan. Kravitz tampil kuat sebagai Angel, menghidupkan kecemasan, sesekali meletupkan rasa, sembari mendefinisikan "kekuatan". Pasca The Batman dan Kimi, rasanya Zoë Kravitz sudah siap jadi salah satu penguasa baru industri. 

(HBO Max)

REVIEW - NO SUDDEN MOVE

Selama eksistensinya, film noir, yang kemudian bangkit dalam wujud neo-noir, selalu mewakili ketakutan publik. Ketakutan nyata yang dikhawatirkan, atau bahkan sudah mempengaruhi keseharian. Bukan hantu, wabah zombie, atau invasi aien, melainkan Perang Dunia, Perang Dingin, konspirasi pemerintah, teknologi, dan lain-lain. Tidak terkecuali No Sudden Move, selaku karya terbaru Steven Soderbergh, yang meski berlatar Detroit tahun 1950-an,  mencerminkan kecemasan masyarakat sekarang. 

Tapi sebagaimana ketakutan terdalam, isu yang diangkat oleh Ed Solomon (seri Bill & Ted, Men in Black, Now You See Me) melalui naskahnya, tidak langsung nampak. Pertama, kita lebih dulu bagaimana protagonisnya, gangster bernama Curt Goynes (Don Cheadle), kala menjalankan misi ringan dengan bayaran tinggi. Setidaknya itu yang ia kira, namun penonton yang familiar akan karakteristik film noir tentu tahu, bahwa itu hanya gerbang pembuka menuju masalah-masalah rumit nan berbahaya, yang ada di luar kapasitas si tokoh utama. 

Curt tidak sendiri. Ronald Russo (Benicio del Toro) dan Charley (Kieran Culkin) pun ikut serta. Bukan perkara mudah untuk mereka bekerja sama, khususnya Ronald dan Curt. Ronald, adalah seorang rasis yang bahkan menolak duduk bersama Curt di mobil. Mengesalkan bagi Curt, tapi berkah bagi kita, sebab banter menarik berisi celetukan-celetukan menggelitik dari naskahnya, jadi terfasilitasi. 

Tentu Don Cheadle dan Benicio del Toro berperan besar. Saya betah berlama-lama menyaksikan keduanya saling melempar kalimat. Cheadle, dengan suara serak dan berat, sempurna mewakili tone film. No Sudden Move tidak memakai voice over ala film noir klasik, tapi saya bisa membayangkan Cheadle cocok melakukan itu, mendeskripsikan tiap sudut gelap Detroit yang dapat kapan saja menghilangkan nyawa manusia, mengutarakan perspektif sinis atas kehidupan, menyiratkan kesulitan yang telah dan akan dia alami.

Misi mereka sederhana saja. Menyambangi rumah akuntan bernama Matt (David Harbour), lalu memaksanya mengambil dokumen dalam brankas milik bosnya. Charley pergi bersama Matt, sedangkan Curt dan Ronald menyandera keluarga si akuntan. Sekuen di rumah Matt menunjukkan kemampuan Soderbergh membangun dinamika, melalui penyutradaraan yang tidak flashy. Temponya lambat, tapi bersama iringan musik jazz gubahan David Holmes, Soderbergh bak memproduksi magnet yang teramat kuat menyeret penontonnya memasuki tiap peristiwa. 

Kekacauan bermula kala brankas tersebut rupanya kosong. Kekacauan yang meski cukup rumit dan berlapis-lapis, sayangnya terlalu familiar untuk bisa memancing rasa penasaran. Selepas first act memukai, second act milik No Sudden Move seperti perjalanan menelusuri labirin yang sudah ratusan kali kita kunjungi. 

Memasuki babak akhir, twist demi twist mulai bermunculan. Twist yang awalanya tampak seperti usaha berlebihan untuk mengejutkan penonton, sebelum intensi sesungguhnya diungkap di penghujung durasi. Seperti saya bahas di paragraf pertama, film noir kerap dipakai mewakili ketakutan pada suatu masa, dan twist milik No Sudden Move, yang melibatkan berbagai pengkhianatan, pun sama.

Ketakutan akan keserakahan, akan ketidakpuasan manusia sewaktu menatap pundi-pundi uang. Tentu "kalangan bawah" seperti Curt dan Ronald juga terjangkit penyakit tersebut, namun akhirnya, mereka (dan kita) hanya korban keserakahan orang-orang kaya di puncak rantai makanan. Bukankah itu yang publik takutkan sekarang? Takut terhadap ketidakberdayaan, saat menjadi santapan para pemilik modal, yang menguasai segalanya (termasuk aparat dan pemerintah) dari balik tirai. Sedangkan rakyat jelata sudah lebih dulu kehilangan semuanya (harta bahkan nyawa), sebelum sempat menyibak tirai ketidakadilan itu.


Available on HBO GO & HBO MAX

REVIEW - LET THEM ALL TALK

Setiap Steven Soderbergh merilis karya baru, pertanyaan-pertanyaan seperti, “Eksperimen apa yang akan dilakukan?”, dan “Genre apa yang bakal dieksplorasi?”, selalu muncul. Let Them All Talk tidak terkecuali. Melakukan pengambilan gambar selama dua minggu dengan latar kapal Queen Mary 2 (yang disewakan secara gratis), Soderbergh memanfaatkan pencahayaan alami, memakai tiga set kamera RED Komodo, menggunakan kursi roda sebagai pengganti dolly, dan yang paling sering dibicarakan adalah ketiadaan naskah final, yang menuntut para pemain berimprovisasi.

Bagaimana membuat keterbatasan di atas tak disadari penonton adalah tantangan yang Soderbergh berikan bagi dirinya. Dia berhasil. Beberapa kali gambar mengikuti pergerakan aktor, dan anda takkan menyadari kamera itu dipegang oleh Soderbergh sembari duduk di atas kursi roda. Terkait naskah, sejatinya ada sedikit miskonsepsi. Deborah Eisenberg yang memperoleh kredit atas naskah Let Them All Talk bukan sekadar membuat outline singkat, melainkan detail karakter, situasi, serta APA yang mereka ucapkan. BAGAIMANA kalimat itu diucapkanlah yang bebas dieksplorasi. Di situlah ensemble cast-nya berperan luar biasa besar.

Meryl Streep memerankan Alice Hughes, seorang penulis yang memenangkan Pulitzer melalui novelnya, You Always/You Never. Pihak penerbit melalui sang agen, Karen (Gemma Chan), berharap Alice melahirkan sekuel, tapi ia menolak. Karen coba merayu secara halus, termasuk dengan menyewakan kapal Queen Mary 2, guna membawa Alice berlayar ke Inggris menghadiri sebuah malam penghargaan literatur. Alice bersedia, asalkan ia boleh mengajak tiga orang: dua sahabatnya, Roberta (Candice Bergen) dan Susan (Dianne Wiest) yang tak ditemuinya selama puluhan tahun, juga sang keponakan, Tyler (Lucas Hedges).

Sepanjang perjalanan itulah, Let Them All Talk, well, membiarkan tokoh-tokohnya berbicara. Roberta masih sakit hati, karena yakin Alice menulis You Always/You Never berdasarkan kisah hidupnya tanpa izin, dan bahwa itulah alasan pernikahannya hancur. Alice sendiri beberapa kali mengajak untuk bicara empat mata, tapi Roberta terus menolak, lebih memilih “berburu” pria-pria kaya, berharap bisa lepas dari jeratan kesulitan finansial. Susan muncul bak penengah, sosok bijak yang berusaha membuat semua orang memandang masalah dari perspektif lain. Sedangkan Tyler mulai menaruh hati pada Karen, yang diam-diam turut serta, dan meminta bantuan Tyler untuk mencari informasi mengenai manuskrip yang sedang Alice buat.

Apakah Soderbergh dan Eisenberg berniat menyampaikan satu gagasan besar di balik interaksi tokoh-tokohnya? Rasanya tidak. Let Them All Talk adalah eksperimen Soderbergh terkait kenaturalan komunikasi verbal. Serupa perihal improvsasi di atas, yang terpenting bukan APA tujuan suatu pembicaraan, tapi BAGAIMANA pembicaraan itu dihantarkan, sehingga penonton merasa terikat tanpa memedulikan konteks di dalamnya.

Tantangan lain dihadirkan oleh monotonitas latar. Alice dan Tyler lebih sering mengobrol pada pagi hari di kamar Alice, Roberta dan Susan sambil bermain Scrabble, sedangkan keempatnya rutin berkumpul di restoran. Apa yang diobrolkan di masing-masing titik pun cenderung sama. Hanya interaksi Tyler dengan Karen yang selalu berpindah lokasi, karena cuma hubungan keduanya yang bersifat “adventurous”. Kesan stagnan, di mana progres minim terjadi sayangnya gagal terhindarkan, namun bukan berarti filmnya membosankan.

Setiap obrolan mampu menarik atensi, bahkan memberi kesan nyaman, yang diperkuat oleh iringan musik-musik jazz garapan Thomas Newman. Trio Streep-Bergen-Wiest membuat saya rela jadi pendengar setia, sekaligus menarik keingintahuan mengamati respon alami yang diberikan ketiganya atas perkataan satu sama lain. Khusus Streep, di sini si aktris legendaris memberi bobot tersendiri bagi jeda antar kata. Bahwa jeda memiliki banyak makna. Entah bentuk aksi-reaksi, upaya memikirkan kata apa yang sebaiknya diucapkan, atau proses regulasi emosi. Sementara bagi Lucas Hedges dan Gemma Chan, merupakan prestasi tersendiri tatkala mereka tidak tenggelam meski bersanding dengan nama-nama senior, bahkan menghasilkan warna berbeda di luar interaksi Alice dan teman-temannya.


Available on HBO MAX

OCEAN'S 8 (2018)

Genre heist caper punya formula klasik, aturan-aturan yang diawali dengan (1) perkenalan benteng yang mustahil ditembus (brankas, kasino, museum), lalu kita (2) bertemu sekelompok pria necis yang berencana membobolnya, (3) melihat mereka membeberkan rencana mengenai siapa harus melakukan apa serta bagaimana. Ocean’s 8 sepenuhnya berjalan mengikuti pakem kecuali pada poin kedua, di mana alih-alih pria necis, kita berkenalan dengan para wanita berkelas. Sandra Bullock dengan ketenangan elegannya, Cate Blanchett dalam lagak semaunya, sikap eksentrik Helena Bonham Carter sebagaimana biasa, Rihanna yang melambungkan level “keren” peretas beberapa tingkat lebih tinggi, Anna Hathaway dengan senyum yang mewakili definisi “selebritis bodoh”.

Ocean’s 8 adalah sepenuhnya soal star power. Ditambah Sarah Paulson, Awkwafina, dan Mindy Kaling, tercipta kombinasi menarik yang bukan cuma tentang multikultural, juga beragam kepribadian. Walau bertindak selaku spin-off untuk remake dari Ocean’s 11 (1960) yang juga mengandalkan star power kelima Rat Pack (Peter Lawford, Frank Sinatra, Dean Martin, Sammy Davis, Jr., dan Joey Bishop), toh naskah garapan Gary Ross bersama Olivia Milch bergerak layaknya reka ulang dari versi Steven Soderbergh (di sini bertindak selaku produser). Debbie Ocean (Sandra Bullock) baru keluar dari penjara, menemui partner sekaligus sahabatnya, Lou (Cate Blanchett), menyusun rencana merampok Toussaint, kalung berlian senilai $150 juta, lalu membentuk tim guna menjalankan perampokan.

Seperti saat Rusty Ryan (Brad Pitt) menentang niatan Danny Ocean (George Clooney) menyelipkan usaha balas dendam personal di tengah misi, Lou pun bakal menyatakan hal serupa pada Debbie, yang dijebloskan ke penjara akibat pengkhianatan Claude Becker (Richard Armitage), mantan kekasih sekaligus rekan dalam praktek penipuan benda seni. Dari konsep, persamaan dengan Ocean’s Eleven (2001) memang tak terhindarkan, sayang, detail eksekusinya justru mengingatkan akan Ocean’s Thirteen (2007), yang notabene film terburuk dalam triloginya. Sebelum perampokan utama, penipuan, sabotase, dan penyusupan dilakukan terlebih dahulu sebagai persiapan. Di fase ini, cuma para karakter yang tahu apa rencananya, sementara penonton dibiarkan buta hingga misi berakhir, tapi filmnya berharap kita terpukau oleh eksekusi rencana yang disusun di balik layar itu. Bagaimana bisa jika penonton diasingkan dan tidak merasa terlibat?

Tidak peduli seberapa mustahil rencananya, penonton mesti diyakinkan bahwa itu bisa dilakukan, setidaknya oleh jajaran protagonisnya. Filmnya perlu memperlihatkan keberhasilan misi terjadi berkat kapasitas karakternya, bukan akibat kebodohan korban seperti saat Rose Weil (Helena Bonham-Carter) sang desainer dan Amita (Mindy Kalling) si pembuat berlian berusaha memindai barang target perampokan. Keduanya bersikap konyol, bodoh, aneh, mencurigakan, namun urung dicurigai. Ketika karakternya lolos semudah itu, hilang pula tensi filmnya. Praktis sebelum sajian utama di klimaks, kenikmatan hidangan pembukanya sebatas menyaksikan kepiawaian aktris-aktris kelas satu memerankan sederet tokoh tanpa kedalaman penokohan. Tapi siapa peduli? Film macam ini bukan studi karakter. Kemampuan khusus masing-masing jadi kepribadian pengganti yang mendefinisikan dan membedakan mereka.

Puncak aksinya berjalan cukup singkat, tapi dikemas penuh gaya kala Ross mengkreasi ulang Met Gala secara otentik di Metropolitan Museum of Art selaku lokasi asli, lengkap dengan barang-barang seni asli pula, yang semuanya mampu diperoleh berkat restu Anna Wintour, pimpinan redaksi Vogue sekaligus kurator Met Gala sejak 1995 yang juga menjadi cameo. Tentu cameo para pesohor diperlukan demi menjaga otentitas, sehingga nama-nama seperti Zayn Malik, Katie Holmes, Maria Sharapova, Serena Williams, Kim Kardashian, Adriana Lima, Kylie Jenner, Kendall Jenner, Olivia Munn, dan lain-lain turut hadir di antara keglamoran yang mampu membuat penonton berteriak “oooohh”. Itu juga respon saya tatkala Rihanna, pasca menghabiskan sepanjang film memakai pakaian kasual, mendadak memasuki lantai Met Gala dalam balutan gaun merah menawan.

Apalah artinya heist tanpa twist yang bertempat pasca perampokan ketika kita merasa segalanya telah usai. Kejutan yang hadir semata untuk menghentak ketimbang memperkuat jalinan cerita, walau beberapa dari penonton mungkin telah menyadarinya, mengingat film ini bukan berjudul Ocean’s 7. Kejutan yang justru menambah pertanyaan terkait logika serta detail daripada menjawab. Dalam Ocean’s 8, star power, setting megah dan gaun mewah jauh lebih mencuri perhatian dibanding aksi perampokannya sendiri. Kalau cuma itu, tidak perlu rasanya menyaksikan film heist, cukup karpet merah Met Gala sungguhan, walau di sana kita takkan melihat keluwesan Sandra Bullock mengutil, terlibat pembicaraan renyah dengan Cate Blanchett, atau Rihanna bersenang-senang mengakali sistem keamanan melalui laptop miliknya. Ocean's 8 adalah aksi perampokan biasa oleh para wanita luar biasa.

LOGAN LUCKY (2017)

Sekembalinya dari hiatus, Steven Soderbergh menyuguhkan antitesis dari film terlaris sepanjang karirnya, Ocean's Eleven. Masih tentang perampokan, hanya tanpa kemewahan, teknologi canggih, maupun keeleganan. Daripada ekspertis, karakternya merupakan sekumpulan orang kampung miskin berpakaian lusuh, cenderung bodoh, dengan seorang "ahli teknologi" yang tak bisa membedakan telepon genggam dan rumah, pula bangun kesiangan di Hari-H. Pun Soderbergh turut mengubah James Bond menjadi kriminal liar. Logan Lucky tampil keren dan mengasyikkan tanpa perlu berusaha keras menjadi keren dan sok asyik.

Dalam naskah buatan Rebecca Blunt  nama samaran Jules Asner, istri sang sutradara  Channing Tatum memerankan Jimmy Logan yang baru saja dipecat dari pekerjaan konstruksi serta terbentur masalah hak asuh dengan mantan istrinya, Jo (Katie Holmes). Terhimpit soal ekonomi, Jimmy berencana merampok brankas di sebuah arena balap NASCAR dengan bantuan kedua adiknya, Clyde (Adam Driver), bartender yang kehilangan tangannya di Irak juga percaya keluarga Logan dikutuk kesialan tak berujung dan Mellie (Riley Keough) si pegawai salon bermulut pedas. Turut direkrut adalah Joe Bang (Daniel Craig) yang tengah mendekam di penjara sebagai penyedia bahan peledak. 
Jimmy, selaku otak misi, muncul dengan "10 aturan perampokan" yang terdiri dari "have a plan", "have a back-up plan" sampai "shit happens", menandakan bahwa ia bukan seorang cerdas, sebagaimana cara filmnya menyusun heist, yang meski didasari perencanaan berlapis, keberhasilannya banyak melibatkan kebetulan dan kebodohan korban. Tapi filmnya memang tak mau berlagak pintar, dibuat sebagai hiburan semaunya. Jangan lupa, kita sedang menonton film berjudul "Logan Lucky", bukan "Logan Smart" atau "Logan Genius". 

Skenario Blunt (atau Asner) lebih rapi dari kelihatannya, mengandung struktur sangat solid dalam mengaitkan beragam narasi yang berjalan beriringan. Selain eksekusi perampokan, ada kembalinya pemmbalap Dayton White (Sebastian Stan), kontes yang diikuti puteri Jimmy, Sadie (Farrah Mackenzie), hingga kekacauan di penjara, yang berujung saling bertautan seiring penyelidikan oleh agen FBI, Sarah Grayson (Hilary Swank). Sesekali, balutan komedi berbasis absurditas situasi dan dialog ala Coen Brothers (tangan palsu yang terhisap mesin penyedot, obrolan mengenai Game of Thrones yang melewati bukunya) ikut meramaikan suasana.
Pasca tiga tahun absen, rupanya Soderbergh sama sekali belum kehilangan sentuhan, menggerakkan alur dengan semangat bersenang-senang penuh energi sembari tetap memperhatikan ketelitian bernarasi. Filmnya liar namun mudah dicerna, urung tersesat dalam alur serta kejutan berlapis miliknya. Mewakili jiwa Logan Lucky, ketimbang mengikuti template musik heist pada umumnya, iringan lagu-lagu country yang lebih renyah dan "mentah", dengan Take Me Home, Country Roads sebagai jiwa inti pun diterapkan, menghasilkan perbedaan sisi estetika yang istimewa. 

Kekuatan Soderbergh dalam hal mengarahkan ensemble cast juga masih jelas terpampang, memberi kesempatan bersinar tiap-tiap dari mereka. Tatum dengan aksen Southern-nya, Driver dengan ketertutupan yang canggung, dan Craig selaku pencuri perhatian melalui sisi eksentrik penghilang kekhawatiran jika James Bond membatasi jangkauan perannya. Bahkan peran-peran kecil yang dilakoni Seth MacFarlane dan Hilary Swank pun urung berlalu tanpa kesan. Nama yang disebut terakhir mencuatkan potensi terkait sekuel menarik walau perolehan Box Office rasanya membunuh harapan itu. Tapi bagi Soderberg yang merevolusi sinema independen lewat Sex, Lies, and Videotape, berani membuat ulang Solaris-nya Tarkovsky, dan menjadikan Sasha Grey pemain utama di The Gilrfriend Experience, tak ada kemustahilan.

CONTAGION (2011)

Steven Soderbergh kembali menampilkan banyak bintang besar dalam film filmnya setelah dulu membentuk super team dalam trilogi Ocean. Kali ini malah lebih luar biasa lagi karena yang muncul adalah bintang-bintang kelas Oscar macam Matt Damon, Marion Cotillard, Gwyneth Paltrow dan Kate Winslet. Ada juga nama Jude Law, Laurence Fisburne, sampai John Hawkes. "Contagion" menceritakan mengenai penyebaran sebuah virus tak dikenal yang mencakup seluruh dunia dan menyebabkan kematian puluhan juta jiwa hanya dalam waktu singkat. Awal penyebaran virus ini bermula dari jatuh sakitnya Beth (Gwyneth Paltrow) yang baru saja pulang dari urusan bisnis di Chicago.

Beth yang awalnya mengira hanya terkena flu tiba-tiba saja mengalami kejang-kejang saat berada dirumah bersama suaminya, Mitch (Matt Damon). Beth yang dibawa kerumah sakit nyawanya tak tertolong. Bahkan putera mereka juga akhirnya meninggal disaat Mitch baru kembali dari rumah sakit. Virus itu mulai menyebar dengan amat cepat ke seluruh dunia dan mulai banyak menimbulkan kasus yang berujung kematian. Dr. Cheever (Laurence Fishburne) mendapat tugas meneliti wabah ini dan memutuskan mengirim Dr. Erin Mears (Kate Winslet) untuk meneliti dan mencari tahu dari siapakah asal mula wabah ini. Dr. Leonora (Marion Cotillard) dari WHO juga turut menyelidiki virus ini di Hong Kong, tempat Beth singgah transit saat pulang. Di lain pihak, Alan (Jude Law) yang merupakan seorang blogger menulis banyak posting kontroversial mengenai wabah itu dan menuduh adanya konspirasi dari berbagai pihak untuk menyembunyikan vaksin.
"Contagion" sama sekali bukanlah film yang mencoba menyuguhkan efek penyebaran virus secara berlebihan dan menggambarkan post-apocalyptic. Daripada itu, film ini tampil layaknya sebuah film tentang kesehatan. Kita akan disuguhi berbagai macam fakta kesehatan dan istilah-istilah didalamnya. Tapi jangan salah, pembabaran dari Soderbergh tidak akan membuat kita pusing dan bosan, tapi justru akan mengangguk-anggukan kepala setelah menemui berbagai pengetahuan baru dari film ini.
Saya angkat jempol untuk naskah yang ditulis Scott Z. Burns ini yang dengan begitu baik mampu merangkum drama dari tiap-tiap karakter yang diteror oleh virus dengan berbagai pengetahuan-pengetahuan ilmu kesehatan. Bermacam isu sosial politik juga tidak lupa diangkat, seperti bagaimana respon pemerintah dalam menanggapi penyebaran virus, kisah mengenai konspirasi bahwa orang dalam dan orang terdekat merekalah yang mendapat pertolongan terlebih dahulu bila terjadi wabah dan semacamnya, sampai mengenai isu dan berita-berita yang heboh namun kadang tidak pasti dari internet. Semua itu ada dalam dunia nyata sehingga membuat film ini lebih realistis.

Tapi cara film ini bercerita memang agak kurang bersahabat bagi penonton yang mencari film mengenai wabah penyakit mengerikan dan mengutamakan ketegangan daripada drama. Saya sendiri merasa film ini agak kurang dalam menyajikan ketegangannya. Selain itu beberapa karakter porsinya agak kurang, dan sayangnya Marion Cotillard yang notabene aktris favorit saya justru mendapat peran yang bisa dibilang kurang penting. Untungnya tiap kemunculannya dia selalu bisa membuat saya terpaku karena seperti biasa dia tampil cantik dan anggun. Akting para pemain lain juga bagus khususnya pada Kate Winslet dan Jude Law dimana mereka berdua juga punya karakterisasi yang menarik khususnya Jude Law.

Secara keseluruhan "Contagion" adalah sebuah film yang menarik dalam pemaparannya dan banyak memberikan pengetahuan baru pada penonton meskipun agak kurang dalam membangun keteganga. Steven Soderbergh juga kembali berhasil menyatukan berbagai bintang besar dengan cukup baik tanpa ketimpangan yang berarti. Sebuah film tentang penyebaran wabah yang memang ditampilkan secara cerdas tapi jika urusan ketegangan sayangnya tidak begitu. Tapi film ini tetap memberikan efek bagi penontonnya yang mungkin akan berpikir dua kali untuk menyentuh wajahnya, bahkan untuk sekedar batuk saat menonton film ini dalam bioskop.