Tampilkan postingan dengan label Mark Strong. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mark Strong. Tampilkan semua postingan

SHAZAM! (2019)

Shazam! membuktikan kalau cerita solid dapat dituturkan secara ringan, menyenangkan, dan sederhana. Timbul kepuasan sewaktu mendapati semua elemen dipikirkan betul penempatannya, menyediakan pondasi kokoh bagi film yang telah mematenkan periode renaisans berikutnya bagi adaptasi layar lebar buku komik DC.  

Pada dasarnya, ini merupakan cerita soal konfrontasi dua sisi mata uang, yang akhirnya terpisahkan oleh sebuah sekat bernama “keluarga”. Menurut Shazam!, keberadaan keluarga mampu memberi perbedaan besar dalam hidup seseorang berkat kekuatan kolektif yang diberikan. Berpijak dari situ, Henry Gayden (Earth to Echo) memilih membuka naskah tulisannya bukan lewat penuturan asal usul tokoh utamanya, melainkan sang musuh.

Jauh sebelum jagoan kita, Billy Batson (Asher Angel), Thaddeus Sivana (versi bocah diperankan Ethan Pugiotto, versi dewasa oleh Mark Strong) terlebih dahulu terpilih untuk menjalani ujian sebagai syarat sebagai pewaris kemampuan sesosok penyihir tua misterius bernama Shazam (Djimon Hounsou), guna melindungi dunia dari tujuh dosa mematikan. Kemampuan tersebut meliputi kebijaksanaan Solomon, kapasitas fisik Hercules, stamina Atlas, kekuatan petir Zeus, keberanian Achilles, dan kecepatan Mercury (akronim keenam nama itu adalah SHAZAM).

Sejak kecil, Thaddeus selalu dipandang rendah oleh ayahnya. Sehingga kala ia gagal lulus ujian pemberian Shazam dan (lagi-lagi) merasa direndahkan, terciptalah motivasi believable sekaligus relatable bagi sosok antagonis film ini. Thaddeus pun menghabiskan hidupnya berusaha menemukan Shazam kembali agar ia bisa merengkuh kekuatan yang (menurutnya) pantas ia dapatkan.

Di sisi lain, Billy juga tanpa keluarga sejak terpisah dari ibunya setelah ia tersesat di antara kerumunan pengunjung taman bermain. Billy tumbuh menjadi bocah pemberontak yang senantiasa kabur dari panti asuhan tempatnya ditampung, dengan tujuan mencari keberadaan sang ibu. Hingga ia mendapat orang tua asuh, menemukan banyak anggota keluarga baik nan penyayang, termasuk Freddy (Jack Dylan Grazer) si penggila pahlawan super. Nantinya, Freddy-lah yang membantu Billy belajar memanfaatkan kekuatan pemberian Shazam guna menjadi pahlawan super sejati.

Dari sanalah perselisihan antara individu yang disakiti keluarganya lalu memutuskan menjalankan segalanya seorang diri, melawan individu yang awalnya mempercayai prinsip serupa sebelum pelan-pelan menyadari bahwa mendapat bantuan dari keluarga bukanlah wujud ketidakmandirian.

Tapi jangan lupa. Kita sedang mengikuti dua remaja awal, dan tentu hal pertama yang mereka lakukan adalah bersenang-senang. Itu merupakan hal yang wajar dilakukan anak seusia mereka, alih-alih langsug menerapkan filosofi “from great power comes great responsibility”. Lupakan responsibilitas. Sambutlah parade kekonyolan yang digawangi Zachary Levi dalam kesempurnaan peran selaku bocah bertubuh orang dewasa. Asher Angel pun apik memainkan anak bandel yang berani menghajar para perundung di sekolah, membuat saya makin mensyukuri fakta jika Shazam! tak mengharuskan kita melewati fase klise di mana sebelum memperoleh kekuatan super, protagonisnya adalah seorang pecundang.

Filmnya ringan sekaligus mengasyikkan, saya takkan menyalahkan apabila anda urung menyadari betapa kokoh penceritaannya. Alurnya berjalan memuaskan, menjelaskan segala aspek yang perlu dijelaskan, berusaha sebisa mungkin menekan peluang bagi plot hole atau ketidakjelasan motivasi karakter untuk merangsek masuk. Berbagai hal yang awalnya memancing tanya (Bagaimana sang ibu gagal menemukan Billy padahal sang anak langsug ditemukan oleh polisi? Mengapa Billy menjadi “Si Terpilih”? Dan lain-lain), akhirnya bakal dijawab dengan logika.

Saya acap kali menyebut soal bagaimana sutradara horor bertalenta, besar kemungkinan juga mampu melahirkan blockbuster memikat. Sam Raimi, Scott Derrickson, James Wan, lalu sekarang, David F. Sandberg (Lights Out, Annabelle: Creation) membuktikan poin tersebut. Sedikit sentuhan horor masih terlihat, termasuk desain menawan monster-monster perlambang tujuh dosa mematikan yang akan cocok diselipkan di creature horror mana pun. Kelebihan terbesar Sandberg di sini adalah kapasitas melahirkan ragam imageries memukau.

Momen tatkala Billy bertransformasi sembari melompat dari puncak gedung, atau bagaimana pertarungan puncaknya—yang menutup unsur drama keluarganya secara memuaskan berkat kejutan luar biasa menyenangkan—cerdik menerapkan gerak lambat dengan porsi secukupnya, supaya tampak keren. Mayoritas aksi buatan Sandberg bagai sesuatu yang sejak Man of Steel berusaha Zack Snyder capai namun gagal. Ketika kelak film Superman dibuat lagi, Sandberg siap mengampu tugas berat itu.

KINGSMAN: THE GOLDEN CIRCLE (2017)

"Manners maketh man". Baris kalimat ini menjelaskan popularitas Kingsman, di mana para pria bersetelan jas rapi, menjaga sikap dan perkataannya, berjibaku sebagai agen rahasia yang akrab dengan kekerasan pula seksualitas tinggi. Rupawan, dibekali persenjataan canggih, brutal menghabisi musuh, mudah menaklukkan hati wanita jelas mimpi banyak pria. James Bond pun digemari karena itu, dan kala tiga tahun lalu Kingsman: The Secret Service selaku adaptasi komik karya Dave Gibbons dan Mark Millar menggandakan kadar ragam faktor tadi, perolehan 414 juta dollar jadi kewajaran.

Masih digawangi Matthew Vaughn, The Golden Circle mempertahankan apa yang dicari penonton sejak menit pertama saat Eggsy (Taron Egerton) terlibat perkelahian sengit melibatkan kejar-kejaran mobil di jalanan kota, baku tembak di kursi penumpang, tangan robot, juga aksi-aksi lain yang melawan logika, melawan Charlie (Edward Holcroft), mantan trainee Kingsman yang membelot. Anarkisme Vaughn menggarap aksi lewat pergerakan kamera liar dan para tokoh melakoni stunt di luar nalar yang membuat mereka bagai jagoan paling keren jadi pemandangan rutin yang alih-alih berujung repetitif, justru konsisten menambah tenaga, menekan penurunan tensi selama 141 menit durasi.
"Mustahil" dan "berlebihan" merupakan dua kunci kemenangan seri Kingsman. Sehingga keberadaan penjahat dengan rencana berskala global pemicu kepanikan massal adalah kewajiban. Kali ini Kingsman dihadapkan pada Poppy Adams (Julianne Moore) pemilik organisasi pengedar narkoba terbesar bernama The Golden Circle yang eksistensinya tersembunyi. Bukan saja menebar teror ke seluruh dunia, Poppy pun mampu menekan Kingsman sampai titik terbawah, memaksa Eggsy dan Merlin (Mark Strong) meminta bantuan Statesman, organisasi agen rahasia Amerika berkedok pusat penyulingan whiskey di Kentucky. Dari sini keduanya menemukan kemustahilan berikutnya, yakni masih hidupnya Harry (Colin Firth) pasca kepalanya tertembak di film pertama.

Dibanding pendahulunya, The Golden Circle menurunkan kadar parodi cerdik untuk film-film spy khususnya James Bond meski unsur-unsur seperti gadget super canggih tetap dipertahankan. Jane Goldman bersama Matthew Vaughn merangkai kisah generik seputar perjuangan menggagalkan rencana penjahat keji sembari menyelipkan subplot berupa dua bentuk hubungan Eggsy, dengan Harry sang mentor, dan kekasihnya, Tilde (Hanna Alstrom) si Puteri Swedia. Namun kombinasi rentetan aksi dinamis, kekerasan berlebihan saat Vaughn begitu enteng memasukkan tubuh manusia ke mesin penggiling, alat-alat imajinatif, sampai koreografi yang mendorong karakternya ke status keren tertinggi memudahkan kita melupakan alur tipisnya. 
The Golden Circle dibantu ensemble cast yang sanggup menghasilkan bobot pada momen sekecil apapun. Taron Egerton solid, bahkan sempat sekilas memamerkan sensitivitas rasa kala mengenang Harry. Channing Tatum walau porsinya terbatas, memperoleh kesempatan mengundang tawa lewat tariannya. Colin Firth masih seorang pria sejati. While Harry isn't in his best form, Firth is. Sedangkan Julianne Moore piawai memainkan psikopat yang mampu tersenyum santai memandang kematian berdarah orang lain. Tapi Elton John sebagai versi fiktif dirinya adalah pencuri perhatian terbesar. Memakai kostum-kostum aneh plus elemen kejutan di tiap kemunculan, ia mewakili semangat komedi The Golden Circle, yang serupa aspek lain, mengedepankan absurditas. 

Kingsman: The Golden Circle boleh menempuh jalur semaunya dalam parade aksi penuh gaya Vaughn. Tapi di balik segala kekerasan dan bumbu sensualitas rating R miliknya, Vaughn dan Goldman justru membangun dunia positif di mana pelaku tindak kejahatan kemanusiaan dibabat tanpa kecuali termasuk Presiden negara adidaya, perang melawan narkoba berujung kemenangan mutlak, serta berhasil terealisasikannya percintaan beda kasta. Dilengkapi semuanya, film ini memantapkan posisi Kingsman sebagai franchise yang menampung banyak impian-impian penonton, menghidupkannya melalui jalan unik.