Tampilkan postingan dengan label David F. Sandberg. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label David F. Sandberg. Tampilkan semua postingan

SHAZAM! (2019)

Shazam! membuktikan kalau cerita solid dapat dituturkan secara ringan, menyenangkan, dan sederhana. Timbul kepuasan sewaktu mendapati semua elemen dipikirkan betul penempatannya, menyediakan pondasi kokoh bagi film yang telah mematenkan periode renaisans berikutnya bagi adaptasi layar lebar buku komik DC.  

Pada dasarnya, ini merupakan cerita soal konfrontasi dua sisi mata uang, yang akhirnya terpisahkan oleh sebuah sekat bernama “keluarga”. Menurut Shazam!, keberadaan keluarga mampu memberi perbedaan besar dalam hidup seseorang berkat kekuatan kolektif yang diberikan. Berpijak dari situ, Henry Gayden (Earth to Echo) memilih membuka naskah tulisannya bukan lewat penuturan asal usul tokoh utamanya, melainkan sang musuh.

Jauh sebelum jagoan kita, Billy Batson (Asher Angel), Thaddeus Sivana (versi bocah diperankan Ethan Pugiotto, versi dewasa oleh Mark Strong) terlebih dahulu terpilih untuk menjalani ujian sebagai syarat sebagai pewaris kemampuan sesosok penyihir tua misterius bernama Shazam (Djimon Hounsou), guna melindungi dunia dari tujuh dosa mematikan. Kemampuan tersebut meliputi kebijaksanaan Solomon, kapasitas fisik Hercules, stamina Atlas, kekuatan petir Zeus, keberanian Achilles, dan kecepatan Mercury (akronim keenam nama itu adalah SHAZAM).

Sejak kecil, Thaddeus selalu dipandang rendah oleh ayahnya. Sehingga kala ia gagal lulus ujian pemberian Shazam dan (lagi-lagi) merasa direndahkan, terciptalah motivasi believable sekaligus relatable bagi sosok antagonis film ini. Thaddeus pun menghabiskan hidupnya berusaha menemukan Shazam kembali agar ia bisa merengkuh kekuatan yang (menurutnya) pantas ia dapatkan.

Di sisi lain, Billy juga tanpa keluarga sejak terpisah dari ibunya setelah ia tersesat di antara kerumunan pengunjung taman bermain. Billy tumbuh menjadi bocah pemberontak yang senantiasa kabur dari panti asuhan tempatnya ditampung, dengan tujuan mencari keberadaan sang ibu. Hingga ia mendapat orang tua asuh, menemukan banyak anggota keluarga baik nan penyayang, termasuk Freddy (Jack Dylan Grazer) si penggila pahlawan super. Nantinya, Freddy-lah yang membantu Billy belajar memanfaatkan kekuatan pemberian Shazam guna menjadi pahlawan super sejati.

Dari sanalah perselisihan antara individu yang disakiti keluarganya lalu memutuskan menjalankan segalanya seorang diri, melawan individu yang awalnya mempercayai prinsip serupa sebelum pelan-pelan menyadari bahwa mendapat bantuan dari keluarga bukanlah wujud ketidakmandirian.

Tapi jangan lupa. Kita sedang mengikuti dua remaja awal, dan tentu hal pertama yang mereka lakukan adalah bersenang-senang. Itu merupakan hal yang wajar dilakukan anak seusia mereka, alih-alih langsug menerapkan filosofi “from great power comes great responsibility”. Lupakan responsibilitas. Sambutlah parade kekonyolan yang digawangi Zachary Levi dalam kesempurnaan peran selaku bocah bertubuh orang dewasa. Asher Angel pun apik memainkan anak bandel yang berani menghajar para perundung di sekolah, membuat saya makin mensyukuri fakta jika Shazam! tak mengharuskan kita melewati fase klise di mana sebelum memperoleh kekuatan super, protagonisnya adalah seorang pecundang.

Filmnya ringan sekaligus mengasyikkan, saya takkan menyalahkan apabila anda urung menyadari betapa kokoh penceritaannya. Alurnya berjalan memuaskan, menjelaskan segala aspek yang perlu dijelaskan, berusaha sebisa mungkin menekan peluang bagi plot hole atau ketidakjelasan motivasi karakter untuk merangsek masuk. Berbagai hal yang awalnya memancing tanya (Bagaimana sang ibu gagal menemukan Billy padahal sang anak langsug ditemukan oleh polisi? Mengapa Billy menjadi “Si Terpilih”? Dan lain-lain), akhirnya bakal dijawab dengan logika.

Saya acap kali menyebut soal bagaimana sutradara horor bertalenta, besar kemungkinan juga mampu melahirkan blockbuster memikat. Sam Raimi, Scott Derrickson, James Wan, lalu sekarang, David F. Sandberg (Lights Out, Annabelle: Creation) membuktikan poin tersebut. Sedikit sentuhan horor masih terlihat, termasuk desain menawan monster-monster perlambang tujuh dosa mematikan yang akan cocok diselipkan di creature horror mana pun. Kelebihan terbesar Sandberg di sini adalah kapasitas melahirkan ragam imageries memukau.

Momen tatkala Billy bertransformasi sembari melompat dari puncak gedung, atau bagaimana pertarungan puncaknya—yang menutup unsur drama keluarganya secara memuaskan berkat kejutan luar biasa menyenangkan—cerdik menerapkan gerak lambat dengan porsi secukupnya, supaya tampak keren. Mayoritas aksi buatan Sandberg bagai sesuatu yang sejak Man of Steel berusaha Zack Snyder capai namun gagal. Ketika kelak film Superman dibuat lagi, Sandberg siap mengampu tugas berat itu.

ANNABELLE: CREATION (2017)

Prekuel Annabelle adalah salah satu horor terbaik 2017. Kalau tiga tahun lalu selepas film pertama yang begitu buruk rilis ada pernyataan demikian, pasti saya tertawa. Namun kenyataannya, Annabelle: Creation memang salah satu horor terbaik tahun ini. Memberi origin baru yang sesungguhnya merupakan retcon, karya dari David F. Sandberg (Lights Out) ini membawa kisahnya mundur menuju sekitar tahun 1950-an, ketika seorang pembuat boneka bernama Samuel Mullins (Anthony LaPaglia) dan istrinya, Esther Mullins (Miranda Otto) kehilangan sang puteri tunggal, Annabelle (Samara Lee), akibat kecelakaan. 

12 tahun berselang, Samuel dan Esther menjadikan rumah mereka sebagai panti asuhan teruntuk segelintir anak perempuan bimbingan Suster Charlotte (Stephanie Sigman). Kebahagiaan memperoleh rumah baru berukuran besar tidak bertahan lama, khususnya bagi Janice (Talitha Bateman) yang pada suatu malam tertarik memasuki sebuah kamar meski telah dilarang oleh Samuel. Rupanya kamar itu milik Annabelle dulu, dan tanpa Janice sadari, ia sudah membebaskan sesosok roh jahat dari kekangan. Roh yang siap menebar teror keji berkepanjangan. 
Tanda peningkatan kualitas dibanding installment pendahulunya langsung terpercik sejak opening sequence-nya. Sandberg memilih menyusun kesunyian, memperlihatkan proses Samuel menciptakan boneka Annabelle disusul bermain petak umpet bersama puterinya. Nihil musik atau efek suara, hanya kesepian pemantik antisipasi yang terasa mencekik. Nuansa sepi terus bertahan mencapai pertengahan durasi, namun bukan kekosongan melelahkan. Ada sedikit introduksi atas segala keanehan dalam rumah sampai deretan teror berskala kecil seperti sekelebat bayangan. Atmosfer terbangun kuat di mana Sandberg   dibantu pembagian sisi gelap dan terang ruangan oleh sinematografi Maxime Alexandre   memancing ketakutan alamiah kita bahwa ada sosok seram tengah mengintai dari balik kegelapan.

Tapi Sandberg sadar, atmosfer saja takkan cukup memuaskan penonton luas. Butuh parade jump scare. Mengikuti ilmu James Wan ditambah kreativitas sebagaimana dia pamerkan dalam Lights Out, jump scare olahan Sandberg berisi penampakan-penampakan lewat cara serta waktu yang kerap tak terduga. Para hantu bukan saja numpang lewat memamerkan tampang seram, tetapi "aktif" melakukan sesuatu, sebutlah mendorong kursi roda di siang bolong. Babak tengah film praktis bergerak di jalur formulaik berupa teror tanpa henti, namun eskalasi tempo setelah paruh awal yang menjalar pelan plus metode cukup kreatif sang sutradara, ampuh menjaga atensi. 
Turut menjaga film terjerumus pada kehampaan adalah jajaran pemeran. Naskah Gary Dauberman terbagi menjadi dua fokus. Separuh pertama jadi panggung Talitha Baterman menunjukkan akting meyakinkan terkait ekspresi ketakutan. Tatkala kamera kerap mengambil close-up, kita bagai melihat penampilan aktris yang berpengalaman di ranah horor. Lalu paruh kedua diisi Lulu Wilson sebagai sahabat Janice, Linda. Wilson bak mewakili niat Sandberg bersenang-senang menggarap filmnya. Baik celotehan singkat ("who cares, run!" is my favorite line) maupun respon lugu atas teror boneka Annabelle menghadirkan kesegaran humor secukupnya yang tak sampai mendistraksi parade horor. Tapi tingkah polos Linda justru masuk logika, sehinga selain jadi salah satu tokoh bocah paling likeable dalam horor belakangan ini, pula terpintar. 

Menyentuh third act, Sandberg tidak lagi menahan diri. Dilepaskan segala amunisi, dipacunya tempo secepat mungkin. Tidak sampai terburu-buru pula, sebab Sandberg masih menjembatani momen demi momen, menghasilkan antisipasi yang tak kalah menegangkan dibanding suguhan kengerian utama. Berlangsung panjang namun tidak berlebihan dan konsisten menjaga dinamika, klimaks Annabellee: Creation layak mendefinisikan "epic horror entertainment". Terkait eksistensinya dalam The Conjuring universe, sepanjang film ikut disematkan beberapa koneksi dengan judul-judul sebelumnya, termasuk credit scene (ada dua buah) yang merujuk pada spin-off berikutnya yang bakal rilis tahun depan.


Review Annabelle: Creation juga tersedia di: http://tz.ucweb.com/8_L7Lz