Tampilkan postingan dengan label Mike White. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mike White. Tampilkan semua postingan

REVIEW - THE ONE AND ONLY IVAN

Saya belum membaca novel anak The One and Only Ivan karya K. A. Applegate, yang terinspirasi dari kisah nyata tentang seekor gorila bernama Ivan. Tapi mengacu pada seri Animorphs, sang penulis punya kecenderungan menyelipkan kisah kelam di balik sampul cerita remaja/semua umur. The One and Only Ivan tidak jauh beda, dan sewaktu ceritanya dibungkus dalam kemasan ala Disney, hasilnya adalah suguhan krisis identitas, meski tetap menghibur, pun tentunya, memiliki hati.

Memang di sini tidak ada serbuan alien, remaja yang terjebak di tubuh elang selamanya, atau konklusi depresif di mana protagonisnya melancarkan misi bunuh diri. Tokoh utamanya adalah Ivan (Sam Rockwell), seekor gorila yang jadi bintang utama pertunjukan sirkus Big Top Mall milik Mack (Bryan Cranston). Kalau hewan-hewan lain mesti melakukan trik, Ivan cukup memamerkan sisi buasnya, memukul-mukul dada sambil mengaum. Tapi lambat laun, minat publik meredup. Mereka terancam bangkrut.

Sampai Mack mendatangkan hewan baru, yakni gajah kecil menggemaskan bernama Ruby (Brooklynn Prince). Di bawah asuhan Stella (Angelina Jolie) si gajah senior, Ruby langsung jadi bintang pertunjukan. Ivan terpaksa menerima kebintangannya terpinggirkan. Hingga suatu peristiwa memaksa Ivan mengesampingkan ego, demi kelangsungan hidup para hewan, khususnya Ruby.

Sekilas terdengar seperti film anak mengenai hewan yang bisa bicara, bukan? Tapi, seiring kita diajak mengenali tiap karakter, semakin jelas bahwa The One and Only Ivan tidak sesederhana itu. Sebuah flashback menjelaskan bagaimana Mack ditinggalkan sang istri, karena Ivan yang sejak bayi mereka adopsi, mulai tumbuh dewasa dan kerap menciptakan kekacauan di rumah. Lalu soal Julia (Ariana Greenblatt), puteri salah satu karyawan Big Top Mall, yang hampir setiap hari berinteraksi dengan Ivan. Tersirat kalau ibu Julia tidak dalam kondisi baik-baik saja (kemungkinan terjangkit kanker).

Latar kandang-kandang sempit selaku rumah barisan hewan yang kerap bertingkah jenaka, bak ilusi yang menutupi realita kelam di luarnya. Bicara soal kandang, The One and Only Ivann turut mengusung isu eksploitasi hewan, yang diburu di tengah habitatnya oleh manusia. Beberapa tewas, beberapa dijebloskan dalam kurungan sebagai bahan tontonan sirkus maupun kebun binatang.

Bagi manusia, hewan-hewan itu sebatas alat pencari uang, yang dapat dengan mudah disingkirkan. Walau sudah merawat Ivan sejak bayi, ketika tuntutan finansial datang, Mack dengan gampang menggantikan posisi gorila tersebut sebagai bintang pertunjukan. Sedangkan bagi hewan-hewan dalam kandang, terbiasa dikurung nyaris seumur hidup, membuat mereka lupa rasanya kebebasan.  

Di sini terjadi kontradiksi. Naskah buatan Mike White (School of Rock, Pitch Perfect 3) menyampaikan tentang pentingnya bagi hewan untuk hidup di habitat asli, namun secara bersamaan, merayakan showmanship. Hal itu diperkuat oleh pengadeganan Thea Sharrock (Me Before You), yang lebih banyak memperlihatkan sisi magis ketimbang eksploitatif tiap pertunjukan. Mungkin tujuannya adalah membuat semua itu tidak hitam-putih, tapi yang terasa justru kebingungan menentukan arah, antara menyentil isu di atas, atau membuat film semua umur ala Disney seperti biasa.

Sejatinya The One and Only Ivan memenuhi hampir semua syarat untuk menjadi film bertema talking animals menyentuh. Sharrock piawai membangun emosi melalui bahasa visual, sebagaimana pada pertemuan pertama Stella dan Ruby, yang digambarkan lewat dua belalai yang saling bersentuhan. Kualitas CGI mumpuni sanggup menciptakan ekspresi-ekspresi kaya rasa di wajah karakter hewan, khususnya Ivan. Musik orkestra gubahan Craig Armstrong (Moulin Rouge!, The Great Gatsby, Me Before You) juga ampuh mengaduk-aduk perasaan, termasuk pada ending, yang sejatinya, merupakan satu lagi wujud krisis identitas dan kenaifan filmnya, yang merayakan kemerdekaan palsu.


Available on DISNEY+ HOTSTAR

PITCH PERFECT 3 (2017)

Pitch Perfect 3 ibarat kembalinya sebuah band yang pernah berjaya, namun secara setengah hati, diisi album baru tanpa materi memadahi, pula tur ala kadarnya yang semata bersifat obligasi. It's all about money with no energy and creaticity. Ironisnya, hal yang mirip dialami The Barden Bellas. Selepas gagal menyesuaikan diri dalam realita selepas universitas, mereka bereuni, mencoba lagi peruntungan di panggung hanya untuk mendapati kejayaan masa lalu sulit diulangi. Inilah saat realita (secara kebetulan) mengimitasi karya, sayangnya dalam konteks negatif.

Jajaran cast sama, skenario pun masih dikerjakan oleh Kay Cannon dan Mike White, tapi bangku sutradara kini ditempati Trish Sie. Harapannya, pengalaman menggarap Step Up: All In (2014) menghasilkan sekuen musikal sedap. Namun pesona Bellas lenyap ketika Sie membungkus performa mereka bagai siaran ajang pencarian bakat menyanyi di televisi. Pun kelompok pesaing, Evermoist, band yang terdiri atas empat wanita, ikut melempem. Bergaya serupa rockstar, mereka membawakan pop-rock generik dengan aksi panggung medioker. 
Sepertinya daya kreasi Pitch Perfect yang lima tahun lalu menjadikan gelas plastik alat musik keren menguap bersama kesuksesan The Bellas. Beca (Anna Kendrick) adalah produser bagi lagu busuk milik rapper keras kepala, Fat Amy (Rebel Wilson) menganggur sambil sesekali memparodikan Amy Winehouse di tengah kota, sementara anggota lain tidak lebih beruntung. Berniat meraih kejayaan lagi, The Bellas nekat ambil bagian pada tur dunia guna mengibur militer Amerika Serikat yang diselenggarakan oleh United Service Organization (USO). 

Realisasi terhadap realita merupakan tema utama, yang mana lebih dewasa dibanding kedua pendahulunya. Bagaimana proses The Bellas mencapai titik tersebut? Itu yang semestinya dijawab alih-alih sibuk mengotak-atik unsur sampingan tak perlu. Momen pembukanya mencuatkan pertanyaan: Apa esensi ledakan ala suguhan laga dalam film seputar grup akapela? Pasca konteksnya dipaparkan pun, fungsinya  selain menghabiskan bujet nyaris tiga kali lipat film pertama  tetap jadi pertanyaan. Dan pertemuan Fat Amy dengan ayahnya (John Lithgow) hanya ada untuk membuka jalan menyelipkan adegan bombastis di atas. 
Sebagai film musik dengan konflik kompetisi musik, mestinya intensitas muncul karena kompetisi tersebut, perseteruan antar peserta, perjuangan tokoh utama mencapai tujuan (entah soal mengejar kemenangan atau penerimaan diri), tidak perlu tetek bengek penculikan berbumbu ledakan. That's cheap. Anna Kendrick dan Hailee Steinfeld sebagai Emily masih mempesona di atas panggung, tapi story arc Beca dangkal dan membosankan, sedangkan Emily lebih parah, sebatas penggembira. Fat Amy selaku "sumber derita" mampu memancing tawa, demikian juga absurditas Lilly (Hana Mae Lee), namun Pitch Perfect 3, dengan sekelompok protagonis wanita berbeda kepribadian dan latar seharusnya lebih berwarna. Sayang, naskahnya kelabakan membagi fokus. 

Pertanyaan terpenting: Apakah Pitch Perfect 3 menyenangkan? Komedinya cukup efektif mengocok perut. Mayoritas nomor musikalnya kurang berkesan, walau tatkala The Bellas membawakan Toxic, sulit rasanya menahan tubuh ikut bergoyang biarpun sedikit. Ya, dalam film di mana para protagonis disindir sebagai grup karaoke karena cuma menyanyikan karya orang lain, cover bagi lagu rilisan awal 2000-an justru jadi yang paling memorable. Pitch Perfect 3 memang reuni setengah hati. The Bellas need another new cups if they want to comeback (again). 

BEATRIZ AT DINNER (2017)

Pada sekuen pembuka yang berfungsi memaparkan identitas Beatriz (Salma Hayek) selaku protagonis, pekerjaannya sebagai terapis pijat, serta minggunya yang berat pasca kambing peliharaannya dibunuh oleh seorang tetangga, kita juga diperlihatkan patung Budha dan gambar Maria berdampingan menghiasi mobilnya. Suatu cara gamblang guna menjelaskan bahwa tokoh Beatriz adalah liberal. Filmnya sendiri merupakan usaha sutradara Miguel Arteta bersama penulis naskah Mike White, di kolaborasi kedua mereka setelah Chuck & Buck dan The Good Girl, membuat dramedy yang sayangnya terlampau on-the-nose pula dangkal untuk bisa menggelitik maupun memancing pemikiran.

Seusai melayani kliennya, Kathy (Connie Britton), Beatriz terpaksa menunda kepulangan karena mobilnya rusak. Kathy pun menawarkannya tinggal, mengikuti jamuan makan malam bersama beberapa rekannya, para pebisnis sukses. Berasal dari "dunia berbeda" dan memakai pakaian seadanya, tak mengejutkan kala Beatriz kesulitan berbaur walau Kathy berulang kali memberi puja-puji atas jasa Beatriz membantu kesembuhan sang puteri dari kanker. Kita pernah ada di situasi serupa. Merasa sendiri di antara keramaian saat terjebak di tengah riuh rendah perbincangan sekelompok orang asing yang begitu berbeda dengan kita. 
Kawan-kawan Kathy nampak ramah (setidaknya di awal), namun semakin banyak Beatriz bicara soal pekerjaan dan reinkarnasi, bertambah tebal tembok pemisah, semakin terasing pula Beatriz. Tapi Beatriz at Dinner tidak berhenti sampai presentasi situasi canggung yang familiar itu. Konflik tereskalasi begitu tokoh utama bersinggungan dengan Doug (John Lithgow), pengusaha yang bergerak di bidang pembangunan hotel dan kerap terlibat kontroversi terkait penggusuran juga keengganan memperhatikan kesejahteraan karyawan. Fase ini pun menarik, sebab (lagi-lagi) besar kemungkinan penonton pun pernah (terpaksa) menghadapi sosok yang berlawanan dengan prinsip mereka.

Masalahnya, obrolan yang disusun gagal menjadi observasi memikat yang sanggup mengikat akibat dialog dangkal dari para tokoh, yang seiring durasi makin menjadi dua dimensi. Mana hitam dan putih terpampang terlalu jelas. Alhasil bukan pertukaran opini dinamis yang tersaji, melainkan kemalasan eksplorasi berbentuk eksploitasi akan ketidakberdayaan. Filmnya mengambil cara murahan kala melukiskan Beatriz sebagai "sosok putih" nan polos yang selalu bicara kebaikan dan disudutkan oleh kedigdayaan lawan bicaranya, para kapitalis. Namun Beatriz sendiri, dengan segala omongan yang terkesan tak tentu arah plus timing bicara semaunya, juga bukan tokoh simpatik terlepas dari maksud baiknya.
Melalui naskahnya, White bagai tak merasa perlu memberi Beatriz bobot argumentasi, berharap penonton otomatis mendukung karena tujuan mulianya. Tapi Beatriz at Dinner adalah drama berbasis dialog yang mestinya menggiring persepsi penonton lewat kalimat, bukan semata-mata berharap belas kasih. Isu "kapitalisme versus humanisme" atau secara lebih umum "ego versus hati" merupakan hal kompleks yang penting dibahas demi mencari jalan keluar. Alih-alih menawarkan jalan tersebut, film ini memilih menghadapi kompleksitas dengan pola pikir dangkal, sebatas berhenti pada "bunuh atau dibunuh".

Padahal Salma Hayek menawarkan salah satu performa terbaik sepanjang karirnya. Berpenampilan lusuh, mata yang seolah hanya mengenal kebaikan dan keburukan tanpa keabu-abuan, sampai gerak minimalis semisal tangan yang nyaris tak berubah posisi kala berjalan, sang aktris tenggelam dalam peran yang sungguh berkebalikan dengan glamoritasnya sebagai mega bintang. Tidak seperti filmnya yang menyederhanakan gagasan ceritanya, Hayek total menangani karakter Beatriz.