Tampilkan postingan dengan label John Lithgow. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label John Lithgow. Tampilkan semua postingan

BOMBSHELL (2019)

Bombshell. Membaca judul tersebut, apa yang terlintas di benak anda? Pasti tidak akan jauh-jauh dari bombastis, eksplosif, dan melesat cepat. Filmnya sendiri digarap demikian. Dipacu kencang, penuh penyuntingan liar demi merangkum setumpuk persoalan yang melibatkan begitu banyak nama. Tidak mengejutkan, sebab penulis naskahnya, Charles Randolph, merupakan co-writer dari The Big Short (2015). Bahkan di sini dapat ditemukan pula adegan breaking the fourth wall kala Megyn Kelly (Charlize Theron) membawa penonton mengelilingi kantor Fox News.

Tapi perlukah keliaran itu? Sayangnya tidak. Apalagi kala sutradara Jay Roach (trilogi Austin Powers, Trumbo), yang belakangan meninggalkan skena komedi untuk menjajal ranah drama biografi, belum begitu lihai menangani gaya tutur semacam itu. Tapi bukan berarti Bombshell buruk. Daya hiburnya memadai, punya beberapa poin memukau, termasuk transformasi Theron menjadi Kelly—si pembaca berita kontroversial yang di awal film terlibat perselisihan dengan Donald Trump kala mengonfrontasi pernyataan seksisnya mengenai wanita—lewat riasan prostetik memukau buatan (The Great) Kazu Hiro, serta akting solid sang aktris sendiri.

Theron mengatur suaranya supaya terdengar serak, memancarkan kharisma dan kekokohan yang bisa membuat seisi ruangan dia memperhatikan kata-katanya. Sosoknya sulit dikenali sekalipun anda mengetahui partisipasinya di film ini. Melalui unggahan di Instagram miliknya, Kelly bercerita bagaimana puteranya bingung saat melihat wajah sang ibu di poster Bombshell. Mungkin peristiwa itu benar adanya. Bahkan berkat penampilan Theron, bisa jadi banyak penonton melupakan sisi kontroversial Kelly di dunia nyata.

Tapi serupa kalimat penutup filmnya, kita tidak harus menyukai para wanita ini. Kita cukup percaya atas cerita mereka. Cerita soal pelecehan seksual yang mengakar dan membudaya di Fox News, khususnya yang dilakukan oleh sang bos, Roger Ailes (John Lithgow). Ailes kerap melontarkan pernyataan ofensif, menyuruh para pembaca berita wanita mengenakan gaun sependek mungkin, sampai melakukan pelecehan fisik di ruangannya. Semua bungkam. Ada yang memang terbutakan oleh “kemurahan hati” Ailes termasuk beberapa wanita yang getol mendukungnya, ada pula yang menghkawatirkan keberlangsungan karirnya.

Salah satu korbannya adalah Kayla Pospisil (Margot Robbie), seorang karakter fiktif yang berasal dari keluarga Kristen konservatif dan bercita-cita menjadi pembaca berita di Fox. Robbie paling bersinar di dua momen. Pertama, saat tangis Pospisil pecah kala menghubungi rekan kerjanya, Jess Carr (Kate McKinnon). Kedua, sewaktu ia jadi korban nafsu Ailes. Bagaimana Robbie tampak menahan ketakutan yang nyata, memperkuat suasana menyesakkan yang berhasil dibangun Jay Roach dengan meniadakan musik.

Nasib Gretchen Carlson (Nicole Kidman) ibarat sebuah peringatan bagi mereka yang ingin mengungkap tindakan Ailes. Sempat membawakan acara ternama Fox and Friends, ia dipindahkan ke program tak popular di sore hari karena dianggap membangkang. Dari ekspresi Kidman, bahkan saat Carlson memaksakan senyum pun, kita bisa merasakan amarah yang berkecamuk dalam batinnya. Akhirnya Carlson menolak diam, kemudian mendatangi pengacara guna merencanakan tuntutan hukum terhadap pelecehan yang diperbuat Ailes. Tapi prosesnya tidak mudah. Sebab kembali, risikonya tidak main-main.

Randolph sempat menampilkan sebuah peristiwa miris sekaligus menggelitik, sewaktu jajaran pembawa acara wanita Fox menyampaikan sangkalan mereka atas tindakan Ailes, sembari sibuk berusaha mengamankan tubuh mereka yang dipaksa diobral di layar kaca. Situasi tersebut menggambarkan kegelisahan luar biasa. Kegelisahan akibat tubuh mereka dieksploitasi, pula kegelisahan perihal memberikan pengakuan jujur. Dilema itu menarik dieksplorasi, namun paparannya cuma hadir di permukaan via deretan dialog eksposisi. Padahal bayangkan saja, betapa besar film ini bisa berdampak pada dunia nyata untuk mendukung keberanian korban-korban pelecehan mengungkap kebusukan si pelaku.

Potensi menggali lebih dalam tenggelam oleh keliaran progresi cerita dan pengadeganan. Deretan peristiwa gagal dipresentasikan secara rapi, berondongan dialog dilepaskan membabi buta, sementara tokoh-tokoh datang dan pergi. Bombshell membutuhkan lebih banyak suntikan rasa ketimbang gaya. Beruntung, di beberapa titik terbaiknya, film ini mampu bersinar. Momen uplifting kala para wanita akhirnya memilih untuk melawan, sedikit kejutan apabila anda tidak sepenuhnya mengikuti perkembangan proses hukum Ailes, juga konklusi bernada positif yang tetap menyiratkan kengerian berupa siklus seksisme yang tak kunjung menampakkan ujung.

PET SEMATARY (2019)

(Review ini mengandung SPOILER)
Serupa versi tahun 1989, adaptasi novel berjudul sama karya Stephen King ini bukan horor yang mengedepankan teror menghentak, melainkan presentasi tentang duka dan bagaimana manusia cenderung takut terhadap kematian, termasuk kematian orang tercinta yang akan meninggalkan lubang menganga yang menyakitkan di hati.

Sebuah keluarga baru saja pindah ke kota kecil di sekitar Ludlow, Maine. Sang ayah, Louis (Jason Clarke) dalah dokter yang berharap kepindahan itu memberinya lebih banyak waktu senggang untuk dihabiskan bersama sang istri, Rachel (Amy Seimetz), serta kedua anaknya: Ellie (Jeté Laurence) yang berumur sembilan tahun dan si balita, Gage (diperankan saudara kembar Hugo Lavoie dan Lucas Lavoie).

Pet Sematary bergerak cepat dengan langsung membawa karakternya menemukan pemakaman hewa titular-nya, saat Rachel dan Ellie melihat serombongan anak bertopeng hewan mengerikan tengah menjalankan proses penguburan bagi seekor anjing. Pemandangan itu membuat Ellie terus berpikir soal kematian, khawatir jika suatu hari, Church, si kucing kesayangan, akan pergi untuk selamanya. Louis coba menjelaskan konsep kematian sebagai peristiwa lumrah yang mustahil dicegah dan tak perlu dikhawatirkan.

Sebaliknya, Rachel memilih memperhalus penjelasannya, berkata bahwa saat seseorang meninggal, ia akan pergi ke surga untuk menjaga kerabat-kerabatnya yang masih hidup dari atas. Rachel memandang realita soal kematian begitu mengerikan pasca peristiwa traumatis semasa kecil, ketika sang kakak meninggal secara mengenaskan akibat meningitis tulang belakang.

Dari beberapa perbincangan antar karakter, bila sudah menonton versi lawasnya, anda bakal menikmati kecerdikan naskah buatan Jeff Buhler (The Midnight Meat Train, The Prodigy) menyiratkan peristiwa-peristiwa yang menanti di depan. Tapi tidak perlu menonton film pendahulunya atau membaca novelnya untuk tahu bahwa Church adalah yang pertama meregang nyawa. Mayatnya ditemukan oleh sang tetangga, Jud (diperankan John Lithgow lewat kemampuan memberi kedalaman dan empati pada karakternya). Church tewas terlindas truk yang memang senantiasa melintas dengan kecepatan tinggi di jalan depan pemukiman.

Louis berniat menyembunyikan itu dari Ellie, namun Jud mencetuskan ide yang “lebih baik. Dibawanya Louis ke sebuah tanah misterius di perbukitan di atas Pet Sematary guna mengubur Church, yang ternyata merupakan pemakaman Indian, yang konon mampu membangkitkan mereka yang telah mati. Sejatinya Louis sudah diperingatkan oleh arwah Victor Pascow (Obssa Ahmed), remaja yang tewas ditabrak truk. Pascow merasa perlu membalas budi atas usaha Louis menyelamatkan nyawanya. Pascow versi modern ini lebih kelam nan mengerikan. Kepalanya pecah, dengan otak yang masih berdenyut bisa kita lihat jelas. Pun kali ini perilaku Pascow jauh lebih serius tanpa senyum di bibir atau celetukan-celetukan usil.

Pagi berikutnya, Church kembali meski dalam kondisi berbeda. Dia lebih beringas. Inilah awal mula tragedi-tragedi lain yang jauh lebih besar. Nantinya, semakin sulit bagi Louis mempertahankan kepercayaan bahwa “kematian itu natural”, sementara Rachel bertambah sering berhalusinasi, kerap melihat penampakan mendiang kakaknya, yang Pet Sematary manfaatkan untuk menambal minimnya jump scare supaya penonton tak kebosanan.

Menyokong narasi suramnya adalah performa Jason Clarke yang mumpuni mempresentasikan proses degradasi mental karakternya yang berlangsung bertahap. Kita bisa melihat gradasi kondisi psikis Louis dari matanya. Sedangkan terkait teror, duo sutradara, Kevin Kölsch dan Dennis Widmyer (Starry Eyes, Absence), mungkin belum begitu piawai membagun tensi dan atmosfer, namun cukup apik melukiskan beberapa disturbing imageries.

Penonton yang familiar akan materi Pet Sematary pasti menantikan tibanya momen besar yang mengubah arah kisahnya menuju ranah jauh lebih gelap. Momen tersebut dipertahankan walau terdapat perubahan yang menghasilkan berbagai dampak positif. Pertama, momen tersebut takkan kehilangan efek kejut walau anda telah mengetahui detail alurnya, sebab bukan cuma naskah, pengadeganan Kölsch dan Widmyer pun sukses mengecoh, membuat saya mengira peristiwa serupa akan terjadi, sebelum ekspektasi tersebut diruntuhkan pada detik terakhir.

Kedua, timbul impresi lebih kuat jika segala tragedi maupun teror bukan semata kebetulan, melainkan ada campur tangan tanah pemakaman terkutuk tadi, sesuatu yang oleh film sebelumnya cuma dijadikan trivia sambil lalu. Terakhir, berkat perubahan di atas, Pet Sematary mempunyai babak ketiga yang lebih dinamis. Alih-alih sekadar formula slasher monoton, hadir pula elemen drama psikologis menarik.

(SPOILER STARTS) Berbeda dengan Gage yang tewas di novel dan versi 1989, Ellie sudah cukup besar guna memahami apa yang menimpa dirinya. Dia bukan sebatas  mesin pembunuh berwujud mayat hidup, namun monster keji nan menyeramkan yang tidak hanya sanggup melukai fisik kedua orang tuanya, juga psikis. (SPOILER ENDS)

Tidak semua perubahan berujung positif, dan sayangnya, satu-satunya yang berdampak negatif justru bertempat di titik akhir. Konklusi baru Pet Sematary melucuti tragedi dan ironi seputar kematian sosok tercinta yang mendorong seseorang nekat berbuat hal-hal gila tak terkira. Ending pilihan Jeff Buhler nihil bobot emosi mencekik, seolah dibuat semata-mata agar tampil beda

PITCH PERFECT 3 (2017)

Pitch Perfect 3 ibarat kembalinya sebuah band yang pernah berjaya, namun secara setengah hati, diisi album baru tanpa materi memadahi, pula tur ala kadarnya yang semata bersifat obligasi. It's all about money with no energy and creaticity. Ironisnya, hal yang mirip dialami The Barden Bellas. Selepas gagal menyesuaikan diri dalam realita selepas universitas, mereka bereuni, mencoba lagi peruntungan di panggung hanya untuk mendapati kejayaan masa lalu sulit diulangi. Inilah saat realita (secara kebetulan) mengimitasi karya, sayangnya dalam konteks negatif.

Jajaran cast sama, skenario pun masih dikerjakan oleh Kay Cannon dan Mike White, tapi bangku sutradara kini ditempati Trish Sie. Harapannya, pengalaman menggarap Step Up: All In (2014) menghasilkan sekuen musikal sedap. Namun pesona Bellas lenyap ketika Sie membungkus performa mereka bagai siaran ajang pencarian bakat menyanyi di televisi. Pun kelompok pesaing, Evermoist, band yang terdiri atas empat wanita, ikut melempem. Bergaya serupa rockstar, mereka membawakan pop-rock generik dengan aksi panggung medioker. 
Sepertinya daya kreasi Pitch Perfect yang lima tahun lalu menjadikan gelas plastik alat musik keren menguap bersama kesuksesan The Bellas. Beca (Anna Kendrick) adalah produser bagi lagu busuk milik rapper keras kepala, Fat Amy (Rebel Wilson) menganggur sambil sesekali memparodikan Amy Winehouse di tengah kota, sementara anggota lain tidak lebih beruntung. Berniat meraih kejayaan lagi, The Bellas nekat ambil bagian pada tur dunia guna mengibur militer Amerika Serikat yang diselenggarakan oleh United Service Organization (USO). 

Realisasi terhadap realita merupakan tema utama, yang mana lebih dewasa dibanding kedua pendahulunya. Bagaimana proses The Bellas mencapai titik tersebut? Itu yang semestinya dijawab alih-alih sibuk mengotak-atik unsur sampingan tak perlu. Momen pembukanya mencuatkan pertanyaan: Apa esensi ledakan ala suguhan laga dalam film seputar grup akapela? Pasca konteksnya dipaparkan pun, fungsinya  selain menghabiskan bujet nyaris tiga kali lipat film pertama  tetap jadi pertanyaan. Dan pertemuan Fat Amy dengan ayahnya (John Lithgow) hanya ada untuk membuka jalan menyelipkan adegan bombastis di atas. 
Sebagai film musik dengan konflik kompetisi musik, mestinya intensitas muncul karena kompetisi tersebut, perseteruan antar peserta, perjuangan tokoh utama mencapai tujuan (entah soal mengejar kemenangan atau penerimaan diri), tidak perlu tetek bengek penculikan berbumbu ledakan. That's cheap. Anna Kendrick dan Hailee Steinfeld sebagai Emily masih mempesona di atas panggung, tapi story arc Beca dangkal dan membosankan, sedangkan Emily lebih parah, sebatas penggembira. Fat Amy selaku "sumber derita" mampu memancing tawa, demikian juga absurditas Lilly (Hana Mae Lee), namun Pitch Perfect 3, dengan sekelompok protagonis wanita berbeda kepribadian dan latar seharusnya lebih berwarna. Sayang, naskahnya kelabakan membagi fokus. 

Pertanyaan terpenting: Apakah Pitch Perfect 3 menyenangkan? Komedinya cukup efektif mengocok perut. Mayoritas nomor musikalnya kurang berkesan, walau tatkala The Bellas membawakan Toxic, sulit rasanya menahan tubuh ikut bergoyang biarpun sedikit. Ya, dalam film di mana para protagonis disindir sebagai grup karaoke karena cuma menyanyikan karya orang lain, cover bagi lagu rilisan awal 2000-an justru jadi yang paling memorable. Pitch Perfect 3 memang reuni setengah hati. The Bellas need another new cups if they want to comeback (again). 

DADDY'S HOME 2 (2017)

Komedi dapat dikatakan baik bila mampu memenuhi tujuan memancing tawa, sebagaimana horor menyulut ketakutan, atau laga memacu adrenalin. Menjadi spesial jika terdapat adegan (dengan fungsi mendukung tujuan itu) yang terus tertanam di ingatan. Pada Daddy's Home, momen tersebut hadir ketika Brad (Will Ferrell) terjungkal ke tembok akibat gagal mengontrol motor milik Dusty (Mark Wahlberg). Sekuelnya berusaha mengulangi sihir serupa tatkala Brad kelabakan mengendalikan mesin penyedot salju. Konsep mirip dengan hasil berbeda karena sang sutradara, Sean Anders, sekedar berusaha meniru. Itulah mengapa Daddy's Home 2 bukan suguhan spesial. 

Tapi bukan pula komedi buruk, dan saya pun tergelak menyaksikan situasi absurd saat jumlah ayah berlipat ganda. Selaku versi ekstrim dari anak masing-masing, datanglah para kakek; Don (John Lithgow) yang lebih cerewet, konyol, dan norak dibanding Brad, juga Kurt (Mel Gibson) si tua-tua keladi lewat tingkat kekejaman serta sarkasme yang membuat Dusty terlihat lembut. Demi nuansa kekeluargaan Natal, mereka bersama istri dan bocah-bocah memilih berlibur di sebuah resort. Kondisi ini memfasilitasi pemandangan menarik semisal keempat ayah dengan kegilaan berlainan berkumpul di tengah malam, berdebat soal termostat. 
Banyak perdebatan, banyak pertengkaran, yang disebabkan kekonyolan Don dan Brad maupun sinisme Kurt, takkan berujung pembicaraan waras. Anders mengemas segala perbincangan itu bagai peperangan. Perang verbal di mana kalimat yang karakternya lontarkan tak ubahnya berondongan peluru senapan mesin. Bising, cepat, kacau nan tanpa aturan. Enggan memperhatikan timing, deretan punch line di naskah tulisan Anders dan John Morris gagal mendarat keras pada urat tawa penonton. Walau berkat jajaran pemainnya, rasa kantuk belum sampai menguasai. 

Ferrell tetap pesakitan, seorang anak kecil bertubuh dewasa dengan kesialan beruntun, yang semakin dia menderita, semakin penonton terhibur. Sewaktu Wahlberg sebagai Dusty kini merupakan tokoh berakal paling sehat sementara talenta komikal John Cena dibatasi minimnya materi pendukung, dua kakek sanggup mencuri atensi. Gibson memainkan peran penuh wibawa sekaligus bermulut pedas seperti kerap dia lakoni, hanya saja, kini maskulinitas tersebut dipakai untuk pondasi humor yang nyatanya sukses besar. Begitu mudah ia babat setiap kesempatan. Sedangkan Lithgow, melalui senyum lebar dan mata berbinar adalah yang terbaik. Menggelitik sejak awal, dia remukkan perasaan hanya dalam satu momentum emosional.  
Secara mengejutkan Daddy's Home 2 mempunyai setumpuk porsi drama, atau setidaknya tuturan serius yang bersembunyi di belakang kedok banyolan-banyolan. Wajar, mengingat bertambahnya jumlah ayah berarti bertambah banyak pula masalah. Terlampau banyak malah, sampai filmnya kesulitan menyediakan penanganan total. Beberapa problematika memperoleh resolusi natural, macam hubungan Dusty-Kurt yang manis namun sederhana. Tapi ada pula yang tertinggal, contohnya saat usaha Kurt menarik perhatian cucu-cucu terlupakan. Terdapat 9 orang anggota keluarga (10 ditambah Roger-nya Cena), dan mereka semua diberi subplot. Berlebihan, meski disertakannya sekelumit pesan mengenai hak wanita sejak kecil terasa melegakan. 

Penutup berupa nomor musikal diiringi lagu Do They Know It's Christmas? bak pertunjukan darurat yang tampil lebih mendadak daripada suguhan Bollywood. Konklusi pun terasa ajaib, tapi bukankah Natal memang tentang keajaiaban? Mengusung semangat tersebut, walau dieksekusi memakai jalan yang terkesan malas, Daddy's Home 2 masih suatu komedi yang baik, biarpun takkan hinggap lama di benak para penontonnya. 

BEATRIZ AT DINNER (2017)

Pada sekuen pembuka yang berfungsi memaparkan identitas Beatriz (Salma Hayek) selaku protagonis, pekerjaannya sebagai terapis pijat, serta minggunya yang berat pasca kambing peliharaannya dibunuh oleh seorang tetangga, kita juga diperlihatkan patung Budha dan gambar Maria berdampingan menghiasi mobilnya. Suatu cara gamblang guna menjelaskan bahwa tokoh Beatriz adalah liberal. Filmnya sendiri merupakan usaha sutradara Miguel Arteta bersama penulis naskah Mike White, di kolaborasi kedua mereka setelah Chuck & Buck dan The Good Girl, membuat dramedy yang sayangnya terlampau on-the-nose pula dangkal untuk bisa menggelitik maupun memancing pemikiran.

Seusai melayani kliennya, Kathy (Connie Britton), Beatriz terpaksa menunda kepulangan karena mobilnya rusak. Kathy pun menawarkannya tinggal, mengikuti jamuan makan malam bersama beberapa rekannya, para pebisnis sukses. Berasal dari "dunia berbeda" dan memakai pakaian seadanya, tak mengejutkan kala Beatriz kesulitan berbaur walau Kathy berulang kali memberi puja-puji atas jasa Beatriz membantu kesembuhan sang puteri dari kanker. Kita pernah ada di situasi serupa. Merasa sendiri di antara keramaian saat terjebak di tengah riuh rendah perbincangan sekelompok orang asing yang begitu berbeda dengan kita. 
Kawan-kawan Kathy nampak ramah (setidaknya di awal), namun semakin banyak Beatriz bicara soal pekerjaan dan reinkarnasi, bertambah tebal tembok pemisah, semakin terasing pula Beatriz. Tapi Beatriz at Dinner tidak berhenti sampai presentasi situasi canggung yang familiar itu. Konflik tereskalasi begitu tokoh utama bersinggungan dengan Doug (John Lithgow), pengusaha yang bergerak di bidang pembangunan hotel dan kerap terlibat kontroversi terkait penggusuran juga keengganan memperhatikan kesejahteraan karyawan. Fase ini pun menarik, sebab (lagi-lagi) besar kemungkinan penonton pun pernah (terpaksa) menghadapi sosok yang berlawanan dengan prinsip mereka.

Masalahnya, obrolan yang disusun gagal menjadi observasi memikat yang sanggup mengikat akibat dialog dangkal dari para tokoh, yang seiring durasi makin menjadi dua dimensi. Mana hitam dan putih terpampang terlalu jelas. Alhasil bukan pertukaran opini dinamis yang tersaji, melainkan kemalasan eksplorasi berbentuk eksploitasi akan ketidakberdayaan. Filmnya mengambil cara murahan kala melukiskan Beatriz sebagai "sosok putih" nan polos yang selalu bicara kebaikan dan disudutkan oleh kedigdayaan lawan bicaranya, para kapitalis. Namun Beatriz sendiri, dengan segala omongan yang terkesan tak tentu arah plus timing bicara semaunya, juga bukan tokoh simpatik terlepas dari maksud baiknya.
Melalui naskahnya, White bagai tak merasa perlu memberi Beatriz bobot argumentasi, berharap penonton otomatis mendukung karena tujuan mulianya. Tapi Beatriz at Dinner adalah drama berbasis dialog yang mestinya menggiring persepsi penonton lewat kalimat, bukan semata-mata berharap belas kasih. Isu "kapitalisme versus humanisme" atau secara lebih umum "ego versus hati" merupakan hal kompleks yang penting dibahas demi mencari jalan keluar. Alih-alih menawarkan jalan tersebut, film ini memilih menghadapi kompleksitas dengan pola pikir dangkal, sebatas berhenti pada "bunuh atau dibunuh".

Padahal Salma Hayek menawarkan salah satu performa terbaik sepanjang karirnya. Berpenampilan lusuh, mata yang seolah hanya mengenal kebaikan dan keburukan tanpa keabu-abuan, sampai gerak minimalis semisal tangan yang nyaris tak berubah posisi kala berjalan, sang aktris tenggelam dalam peran yang sungguh berkebalikan dengan glamoritasnya sebagai mega bintang. Tidak seperti filmnya yang menyederhanakan gagasan ceritanya, Hayek total menangani karakter Beatriz.