Tampilkan postingan dengan label John Lithgow. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label John Lithgow. Tampilkan semua postingan
BOMBSHELL (2019)
Rasyidharry
Bombshell. Membaca judul tersebut, apa yang terlintas di benak
anda? Pasti tidak akan jauh-jauh dari bombastis, eksplosif, dan melesat cepat.
Filmnya sendiri digarap demikian. Dipacu kencang, penuh penyuntingan liar demi
merangkum setumpuk persoalan yang melibatkan begitu banyak nama. Tidak
mengejutkan, sebab penulis naskahnya, Charles Randolph, merupakan co-writer dari The Big Short (2015). Bahkan di sini dapat ditemukan pula adegan breaking the fourth wall kala Megyn
Kelly (Charlize Theron) membawa penonton mengelilingi kantor Fox News.
Tapi perlukah keliaran itu? Sayangnya
tidak. Apalagi kala sutradara Jay Roach (trilogi Austin Powers, Trumbo), yang belakangan meninggalkan skena komedi
untuk menjajal ranah drama biografi, belum begitu lihai menangani gaya tutur
semacam itu. Tapi bukan berarti Bombshell
buruk. Daya hiburnya memadai, punya beberapa poin memukau, termasuk
transformasi Theron menjadi Kelly—si pembaca berita kontroversial yang di awal
film terlibat perselisihan dengan Donald Trump kala mengonfrontasi pernyataan
seksisnya mengenai wanita—lewat riasan prostetik memukau buatan (The Great) Kazu Hiro, serta akting solid
sang aktris sendiri.
Theron mengatur suaranya supaya
terdengar serak, memancarkan kharisma dan kekokohan yang bisa membuat seisi
ruangan dia memperhatikan kata-katanya. Sosoknya sulit dikenali sekalipun anda
mengetahui partisipasinya di film ini. Melalui unggahan di Instagram miliknya,
Kelly bercerita bagaimana puteranya bingung saat melihat wajah sang ibu di
poster Bombshell. Mungkin peristiwa
itu benar adanya. Bahkan berkat penampilan Theron, bisa jadi banyak penonton
melupakan sisi kontroversial Kelly di dunia nyata.
Tapi serupa kalimat penutup
filmnya, kita tidak harus menyukai para wanita ini. Kita cukup percaya atas
cerita mereka. Cerita soal pelecehan seksual yang mengakar dan membudaya di Fox
News, khususnya yang dilakukan oleh sang bos, Roger Ailes (John Lithgow). Ailes
kerap melontarkan pernyataan ofensif, menyuruh para pembaca berita wanita mengenakan
gaun sependek mungkin, sampai melakukan pelecehan fisik di ruangannya. Semua
bungkam. Ada yang memang terbutakan oleh “kemurahan hati” Ailes termasuk
beberapa wanita yang getol mendukungnya, ada pula yang menghkawatirkan
keberlangsungan karirnya.
Salah satu korbannya adalah Kayla
Pospisil (Margot Robbie), seorang karakter fiktif yang berasal dari keluarga
Kristen konservatif dan bercita-cita menjadi pembaca berita di Fox. Robbie
paling bersinar di dua momen. Pertama, saat tangis Pospisil pecah kala menghubungi
rekan kerjanya, Jess Carr (Kate McKinnon). Kedua, sewaktu ia jadi korban nafsu
Ailes. Bagaimana Robbie tampak menahan ketakutan yang nyata, memperkuat suasana
menyesakkan yang berhasil dibangun Jay Roach dengan meniadakan musik.
Nasib Gretchen Carlson (Nicole
Kidman) ibarat sebuah peringatan bagi mereka yang ingin mengungkap tindakan
Ailes. Sempat membawakan acara ternama Fox
and Friends, ia dipindahkan ke program tak popular di sore hari karena
dianggap membangkang. Dari ekspresi Kidman, bahkan saat Carlson memaksakan
senyum pun, kita bisa merasakan amarah yang berkecamuk dalam batinnya. Akhirnya
Carlson menolak diam, kemudian mendatangi pengacara guna merencanakan tuntutan
hukum terhadap pelecehan yang diperbuat Ailes. Tapi prosesnya tidak mudah.
Sebab kembali, risikonya tidak main-main.
Randolph sempat menampilkan sebuah
peristiwa miris sekaligus menggelitik, sewaktu jajaran pembawa acara wanita Fox
menyampaikan sangkalan mereka atas tindakan Ailes, sembari sibuk berusaha
mengamankan tubuh mereka yang dipaksa diobral di layar kaca. Situasi tersebut
menggambarkan kegelisahan luar biasa. Kegelisahan akibat tubuh mereka
dieksploitasi, pula kegelisahan perihal memberikan pengakuan jujur. Dilema itu
menarik dieksplorasi, namun paparannya cuma hadir di permukaan via deretan
dialog eksposisi. Padahal bayangkan saja, betapa besar film ini bisa berdampak pada
dunia nyata untuk mendukung keberanian korban-korban pelecehan mengungkap
kebusukan si pelaku.
Potensi menggali lebih dalam
tenggelam oleh keliaran progresi cerita dan pengadeganan. Deretan peristiwa
gagal dipresentasikan secara rapi, berondongan dialog dilepaskan membabi buta,
sementara tokoh-tokoh datang dan pergi. Bombshell
membutuhkan lebih banyak suntikan rasa ketimbang gaya. Beruntung, di
beberapa titik terbaiknya, film ini mampu bersinar. Momen uplifting kala para wanita akhirnya memilih untuk melawan, sedikit
kejutan apabila anda tidak sepenuhnya mengikuti perkembangan proses hukum
Ailes, juga konklusi bernada positif yang tetap menyiratkan kengerian berupa
siklus seksisme yang tak kunjung menampakkan ujung.
Januari 08, 2020
Biography
,
Charles Randolph
,
Charlize Theron
,
Jay Roach
,
John Lithgow
,
Kazu Hiro
,
Lumayan
,
Margot Robbie
,
Nicole Kidman
,
REVIEW
PET SEMATARY (2019)
Rasyidharry
(Review ini mengandung SPOILER)
Serupa versi tahun 1989, adaptasi
novel berjudul sama karya Stephen King ini bukan horor yang mengedepankan teror
menghentak, melainkan presentasi tentang duka dan bagaimana manusia cenderung
takut terhadap kematian, termasuk kematian orang tercinta yang akan
meninggalkan lubang menganga yang menyakitkan di hati.
Sebuah keluarga baru saja pindah ke
kota kecil di sekitar Ludlow, Maine. Sang ayah, Louis (Jason Clarke) dalah
dokter yang berharap kepindahan itu memberinya lebih banyak waktu senggang
untuk dihabiskan bersama sang istri, Rachel (Amy Seimetz), serta kedua anaknya:
Ellie (Jeté Laurence) yang berumur sembilan tahun dan si balita, Gage (diperankan
saudara kembar Hugo Lavoie dan Lucas Lavoie).
Pet Sematary bergerak cepat dengan langsung membawa karakternya menemukan
pemakaman hewa titular-nya, saat
Rachel dan Ellie melihat serombongan anak bertopeng hewan mengerikan tengah
menjalankan proses penguburan bagi seekor anjing. Pemandangan itu membuat Ellie
terus berpikir soal kematian, khawatir jika suatu hari, Church, si kucing
kesayangan, akan pergi untuk selamanya. Louis coba menjelaskan konsep kematian
sebagai peristiwa lumrah yang mustahil dicegah dan tak perlu dikhawatirkan.
Sebaliknya, Rachel memilih
memperhalus penjelasannya, berkata bahwa saat seseorang meninggal, ia akan
pergi ke surga untuk menjaga kerabat-kerabatnya yang masih hidup dari atas.
Rachel memandang realita soal kematian begitu mengerikan pasca peristiwa
traumatis semasa kecil, ketika sang kakak meninggal secara mengenaskan akibat
meningitis tulang belakang.
Dari beberapa perbincangan antar karakter,
bila sudah menonton versi lawasnya, anda bakal menikmati kecerdikan naskah
buatan Jeff Buhler (The Midnight Meat
Train, The Prodigy) menyiratkan peristiwa-peristiwa yang menanti di depan.
Tapi tidak perlu menonton film pendahulunya atau membaca novelnya untuk tahu
bahwa Church adalah yang pertama meregang nyawa. Mayatnya ditemukan oleh sang
tetangga, Jud (diperankan John Lithgow lewat kemampuan memberi kedalaman dan
empati pada karakternya). Church tewas terlindas truk yang memang senantiasa
melintas dengan kecepatan tinggi di jalan depan pemukiman.
Louis berniat menyembunyikan itu
dari Ellie, namun Jud mencetuskan ide yang “lebih baik. Dibawanya Louis ke
sebuah tanah misterius di perbukitan di atas Pet Sematary guna mengubur Church,
yang ternyata merupakan pemakaman Indian, yang konon mampu membangkitkan mereka
yang telah mati. Sejatinya Louis sudah diperingatkan oleh arwah Victor Pascow (Obssa
Ahmed), remaja yang tewas ditabrak truk. Pascow merasa perlu membalas budi atas
usaha Louis menyelamatkan nyawanya. Pascow versi modern ini lebih kelam nan
mengerikan. Kepalanya pecah, dengan otak yang masih berdenyut bisa kita lihat
jelas. Pun kali ini perilaku Pascow jauh lebih serius tanpa senyum di bibir
atau celetukan-celetukan usil.
Pagi berikutnya, Church kembali
meski dalam kondisi berbeda. Dia lebih beringas. Inilah awal mula tragedi-tragedi
lain yang jauh lebih besar. Nantinya, semakin sulit bagi Louis mempertahankan
kepercayaan bahwa “kematian itu natural”, sementara Rachel bertambah sering berhalusinasi,
kerap melihat penampakan mendiang kakaknya, yang Pet Sematary manfaatkan untuk menambal minimnya jump scare supaya penonton tak
kebosanan.
Menyokong narasi suramnya adalah
performa Jason Clarke yang mumpuni mempresentasikan proses degradasi mental karakternya
yang berlangsung bertahap. Kita bisa melihat gradasi kondisi psikis Louis dari
matanya. Sedangkan terkait teror, duo sutradara, Kevin Kölsch dan Dennis
Widmyer (Starry Eyes, Absence),
mungkin belum begitu piawai membagun tensi dan atmosfer, namun cukup apik
melukiskan beberapa disturbing imageries.
Penonton yang familiar akan materi Pet Sematary pasti menantikan tibanya
momen besar yang mengubah arah kisahnya menuju ranah jauh lebih gelap. Momen
tersebut dipertahankan walau terdapat perubahan yang menghasilkan berbagai dampak
positif. Pertama, momen tersebut takkan kehilangan efek kejut walau anda telah
mengetahui detail alurnya, sebab bukan cuma naskah, pengadeganan Kölsch dan
Widmyer pun sukses mengecoh, membuat saya mengira peristiwa serupa akan
terjadi, sebelum ekspektasi tersebut diruntuhkan pada detik terakhir.
Kedua, timbul impresi lebih kuat
jika segala tragedi maupun teror bukan semata kebetulan, melainkan ada campur
tangan tanah pemakaman terkutuk tadi, sesuatu yang oleh film sebelumnya cuma
dijadikan trivia sambil lalu.
Terakhir, berkat perubahan di atas, Pet
Sematary mempunyai babak ketiga yang lebih dinamis. Alih-alih sekadar
formula slasher monoton, hadir pula
elemen drama psikologis menarik.
(SPOILER STARTS) Berbeda dengan Gage yang tewas di novel dan versi
1989, Ellie sudah cukup besar guna memahami apa yang menimpa dirinya. Dia bukan
sebatas mesin pembunuh berwujud mayat
hidup, namun monster keji nan menyeramkan yang tidak hanya sanggup melukai
fisik kedua orang tuanya, juga psikis. (SPOILER
ENDS)
Tidak semua perubahan berujung
positif, dan sayangnya, satu-satunya yang berdampak negatif justru bertempat di
titik akhir. Konklusi baru Pet Sematary
melucuti tragedi dan ironi seputar kematian sosok tercinta yang mendorong
seseorang nekat berbuat hal-hal gila tak terkira. Ending pilihan Jeff Buhler nihil bobot emosi mencekik, seolah
dibuat semata-mata agar tampil beda
April 06, 2019
Amy Seimetz
,
Cukup
,
Dennis Widmyer
,
horror
,
Jason Clarke
,
Jeff Buhler
,
Jeté Laurence
,
John Lithgow
,
Kevin Kölsch
,
Obssa Ahmed
,
REVIEW
PITCH PERFECT 3 (2017)
Rasyidharry
Pitch Perfect 3 ibarat kembalinya sebuah band yang pernah berjaya, namun secara setengah hati, diisi album baru tanpa materi memadahi, pula tur ala kadarnya yang semata bersifat obligasi. It's all about money with no energy and creaticity. Ironisnya, hal yang mirip dialami The Barden Bellas. Selepas gagal menyesuaikan diri dalam realita selepas universitas, mereka bereuni, mencoba lagi peruntungan di panggung hanya untuk mendapati kejayaan masa lalu sulit diulangi. Inilah saat realita (secara kebetulan) mengimitasi karya, sayangnya dalam konteks negatif.
Jajaran cast sama, skenario pun masih dikerjakan oleh Kay Cannon dan Mike White, tapi bangku sutradara kini ditempati Trish Sie. Harapannya, pengalaman menggarap Step Up: All In (2014) menghasilkan sekuen musikal sedap. Namun pesona Bellas lenyap ketika Sie membungkus performa mereka bagai siaran ajang pencarian bakat menyanyi di televisi. Pun kelompok pesaing, Evermoist, band yang terdiri atas empat wanita, ikut melempem. Bergaya serupa rockstar, mereka membawakan pop-rock generik dengan aksi panggung medioker.
Sepertinya daya kreasi Pitch Perfect yang lima tahun lalu menjadikan gelas plastik alat musik keren menguap bersama kesuksesan The Bellas. Beca (Anna Kendrick) adalah produser bagi lagu busuk milik rapper keras kepala, Fat Amy (Rebel Wilson) menganggur sambil sesekali memparodikan Amy Winehouse di tengah kota, sementara anggota lain tidak lebih beruntung. Berniat meraih kejayaan lagi, The Bellas nekat ambil bagian pada tur dunia guna mengibur militer Amerika Serikat yang diselenggarakan oleh United Service Organization (USO).
Realisasi terhadap realita merupakan tema utama, yang mana lebih dewasa dibanding kedua pendahulunya. Bagaimana proses The Bellas mencapai titik tersebut? Itu yang semestinya dijawab alih-alih sibuk mengotak-atik unsur sampingan tak perlu. Momen pembukanya mencuatkan pertanyaan: Apa esensi ledakan ala suguhan laga dalam film seputar grup akapela? Pasca konteksnya dipaparkan pun, fungsinya selain menghabiskan bujet nyaris tiga kali lipat film pertama tetap jadi pertanyaan. Dan pertemuan Fat Amy dengan ayahnya (John Lithgow) hanya ada untuk membuka jalan menyelipkan adegan bombastis di atas.
Sebagai film musik dengan konflik kompetisi musik, mestinya intensitas muncul karena kompetisi tersebut, perseteruan antar peserta, perjuangan tokoh utama mencapai tujuan (entah soal mengejar kemenangan atau penerimaan diri), tidak perlu tetek bengek penculikan berbumbu ledakan. That's cheap. Anna Kendrick dan Hailee Steinfeld sebagai Emily masih mempesona di atas panggung, tapi story arc Beca dangkal dan membosankan, sedangkan Emily lebih parah, sebatas penggembira. Fat Amy selaku "sumber derita" mampu memancing tawa, demikian juga absurditas Lilly (Hana Mae Lee), namun Pitch Perfect 3, dengan sekelompok protagonis wanita berbeda kepribadian dan latar seharusnya lebih berwarna. Sayang, naskahnya kelabakan membagi fokus.
Pertanyaan terpenting: Apakah Pitch Perfect 3 menyenangkan? Komedinya cukup efektif mengocok perut. Mayoritas nomor musikalnya kurang berkesan, walau tatkala The Bellas membawakan Toxic, sulit rasanya menahan tubuh ikut bergoyang biarpun sedikit. Ya, dalam film di mana para protagonis disindir sebagai grup karaoke karena cuma menyanyikan karya orang lain, cover bagi lagu rilisan awal 2000-an justru jadi yang paling memorable. Pitch Perfect 3 memang reuni setengah hati. The Bellas need another new cups if they want to comeback (again).
Desember 28, 2017
Anna Kendrick
,
Comedy
,
Hailee Steinfeld
,
Hana Mae Lee
,
John Lithgow
,
Kay Cannon
,
Kurang
,
Mike White
,
Musical
,
Rebel Wilson
,
REVIEW
,
Trish Sie
DADDY'S HOME 2 (2017)
Rasyidharry
Komedi dapat dikatakan baik bila mampu memenuhi tujuan memancing tawa, sebagaimana horor menyulut ketakutan, atau laga memacu adrenalin. Menjadi spesial jika terdapat adegan (dengan fungsi mendukung tujuan itu) yang terus tertanam di ingatan. Pada Daddy's Home, momen tersebut hadir ketika Brad (Will Ferrell) terjungkal ke tembok akibat gagal mengontrol motor milik Dusty (Mark Wahlberg). Sekuelnya berusaha mengulangi sihir serupa tatkala Brad kelabakan mengendalikan mesin penyedot salju. Konsep mirip dengan hasil berbeda karena sang sutradara, Sean Anders, sekedar berusaha meniru. Itulah mengapa Daddy's Home 2 bukan suguhan spesial.
Tapi bukan pula komedi buruk, dan saya pun tergelak menyaksikan situasi absurd saat jumlah ayah berlipat ganda. Selaku versi ekstrim dari anak masing-masing, datanglah para kakek; Don (John Lithgow) yang lebih cerewet, konyol, dan norak dibanding Brad, juga Kurt (Mel Gibson) si tua-tua keladi lewat tingkat kekejaman serta sarkasme yang membuat Dusty terlihat lembut. Demi nuansa kekeluargaan Natal, mereka bersama istri dan bocah-bocah memilih berlibur di sebuah resort. Kondisi ini memfasilitasi pemandangan menarik semisal keempat ayah dengan kegilaan berlainan berkumpul di tengah malam, berdebat soal termostat.
Banyak perdebatan, banyak pertengkaran, yang disebabkan kekonyolan Don dan Brad maupun sinisme Kurt, takkan berujung pembicaraan waras. Anders mengemas segala perbincangan itu bagai peperangan. Perang verbal di mana kalimat yang karakternya lontarkan tak ubahnya berondongan peluru senapan mesin. Bising, cepat, kacau nan tanpa aturan. Enggan memperhatikan timing, deretan punch line di naskah tulisan Anders dan John Morris gagal mendarat keras pada urat tawa penonton. Walau berkat jajaran pemainnya, rasa kantuk belum sampai menguasai.
Ferrell tetap pesakitan, seorang anak kecil bertubuh dewasa dengan kesialan beruntun, yang semakin dia menderita, semakin penonton terhibur. Sewaktu Wahlberg sebagai Dusty kini merupakan tokoh berakal paling sehat sementara talenta komikal John Cena dibatasi minimnya materi pendukung, dua kakek sanggup mencuri atensi. Gibson memainkan peran penuh wibawa sekaligus bermulut pedas seperti kerap dia lakoni, hanya saja, kini maskulinitas tersebut dipakai untuk pondasi humor yang nyatanya sukses besar. Begitu mudah ia babat setiap kesempatan. Sedangkan Lithgow, melalui senyum lebar dan mata berbinar adalah yang terbaik. Menggelitik sejak awal, dia remukkan perasaan hanya dalam satu momentum emosional.
Secara mengejutkan Daddy's Home 2 mempunyai setumpuk porsi drama, atau setidaknya tuturan serius yang bersembunyi di belakang kedok banyolan-banyolan. Wajar, mengingat bertambahnya jumlah ayah berarti bertambah banyak pula masalah. Terlampau banyak malah, sampai filmnya kesulitan menyediakan penanganan total. Beberapa problematika memperoleh resolusi natural, macam hubungan Dusty-Kurt yang manis namun sederhana. Tapi ada pula yang tertinggal, contohnya saat usaha Kurt menarik perhatian cucu-cucu terlupakan. Terdapat 9 orang anggota keluarga (10 ditambah Roger-nya Cena), dan mereka semua diberi subplot. Berlebihan, meski disertakannya sekelumit pesan mengenai hak wanita sejak kecil terasa melegakan.
Penutup berupa nomor musikal diiringi lagu Do They Know It's Christmas? bak pertunjukan darurat yang tampil lebih mendadak daripada suguhan Bollywood. Konklusi pun terasa ajaib, tapi bukankah Natal memang tentang keajaiaban? Mengusung semangat tersebut, walau dieksekusi memakai jalan yang terkesan malas, Daddy's Home 2 masih suatu komedi yang baik, biarpun takkan hinggap lama di benak para penontonnya.
November 30, 2017
Comedy
,
Cukup
,
John Cena
,
John Lithgow
,
John Morris
,
Mark Wahlberg
,
Mel Gibson
,
REVIEW
,
Sean Anders
,
Will Ferrell
BEATRIZ AT DINNER (2017)
Rasyidharry
Pada sekuen pembuka yang berfungsi memaparkan identitas Beatriz (Salma Hayek) selaku protagonis, pekerjaannya sebagai terapis pijat, serta minggunya yang berat pasca kambing peliharaannya dibunuh oleh seorang tetangga, kita juga diperlihatkan patung Budha dan gambar Maria berdampingan menghiasi mobilnya. Suatu cara gamblang guna menjelaskan bahwa tokoh Beatriz adalah liberal. Filmnya sendiri merupakan usaha sutradara Miguel Arteta bersama penulis naskah Mike White, di kolaborasi kedua mereka setelah Chuck & Buck dan The Good Girl, membuat dramedy yang sayangnya terlampau on-the-nose pula dangkal untuk bisa menggelitik maupun memancing pemikiran.
Seusai melayani kliennya, Kathy (Connie Britton), Beatriz terpaksa menunda kepulangan karena mobilnya rusak. Kathy pun menawarkannya tinggal, mengikuti jamuan makan malam bersama beberapa rekannya, para pebisnis sukses. Berasal dari "dunia berbeda" dan memakai pakaian seadanya, tak mengejutkan kala Beatriz kesulitan berbaur walau Kathy berulang kali memberi puja-puji atas jasa Beatriz membantu kesembuhan sang puteri dari kanker. Kita pernah ada di situasi serupa. Merasa sendiri di antara keramaian saat terjebak di tengah riuh rendah perbincangan sekelompok orang asing yang begitu berbeda dengan kita.
Kawan-kawan Kathy nampak ramah (setidaknya di awal), namun semakin banyak Beatriz bicara soal pekerjaan dan reinkarnasi, bertambah tebal tembok pemisah, semakin terasing pula Beatriz. Tapi Beatriz at Dinner tidak berhenti sampai presentasi situasi canggung yang familiar itu. Konflik tereskalasi begitu tokoh utama bersinggungan dengan Doug (John Lithgow), pengusaha yang bergerak di bidang pembangunan hotel dan kerap terlibat kontroversi terkait penggusuran juga keengganan memperhatikan kesejahteraan karyawan. Fase ini pun menarik, sebab (lagi-lagi) besar kemungkinan penonton pun pernah (terpaksa) menghadapi sosok yang berlawanan dengan prinsip mereka.
Masalahnya, obrolan yang disusun gagal menjadi observasi memikat yang sanggup mengikat akibat dialog dangkal dari para tokoh, yang seiring durasi makin menjadi dua dimensi. Mana hitam dan putih terpampang terlalu jelas. Alhasil bukan pertukaran opini dinamis yang tersaji, melainkan kemalasan eksplorasi berbentuk eksploitasi akan ketidakberdayaan. Filmnya mengambil cara murahan kala melukiskan Beatriz sebagai "sosok putih" nan polos yang selalu bicara kebaikan dan disudutkan oleh kedigdayaan lawan bicaranya, para kapitalis. Namun Beatriz sendiri, dengan segala omongan yang terkesan tak tentu arah plus timing bicara semaunya, juga bukan tokoh simpatik terlepas dari maksud baiknya.
Melalui naskahnya, White bagai tak merasa perlu memberi Beatriz bobot argumentasi, berharap penonton otomatis mendukung karena tujuan mulianya. Tapi Beatriz at Dinner adalah drama berbasis dialog yang mestinya menggiring persepsi penonton lewat kalimat, bukan semata-mata berharap belas kasih. Isu "kapitalisme versus humanisme" atau secara lebih umum "ego versus hati" merupakan hal kompleks yang penting dibahas demi mencari jalan keluar. Alih-alih menawarkan jalan tersebut, film ini memilih menghadapi kompleksitas dengan pola pikir dangkal, sebatas berhenti pada "bunuh atau dibunuh".
Padahal Salma Hayek menawarkan salah satu performa terbaik sepanjang karirnya. Berpenampilan lusuh, mata yang seolah hanya mengenal kebaikan dan keburukan tanpa keabu-abuan, sampai gerak minimalis semisal tangan yang nyaris tak berubah posisi kala berjalan, sang aktris tenggelam dalam peran yang sungguh berkebalikan dengan glamoritasnya sebagai mega bintang. Tidak seperti filmnya yang menyederhanakan gagasan ceritanya, Hayek total menangani karakter Beatriz.
Oktober 17, 2017
Comedy
,
Connie Britton
,
Drama
,
John Lithgow
,
Kurang
,
Miguel Arteta
,
Mike White
,
REVIEW
,
Salma Hayek
Langganan:
Postingan
(
Atom
)















