Tampilkan postingan dengan label Olga Kurylenko. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Olga Kurylenko. Tampilkan semua postingan

JOHNNY ENGLISH STRIKES AGAIN (2018)

Tentu Johnny English Strikes Again, selaku film ketiga dalam seri Johnny English tidak menawarkan hal baru, tapi secara mengejutkan, merupakan sekuel yang superior, setidaknya dibanding Johnny English Reborn (2011). Tanpa usaha berlebihan menawarkan kelucuan yang berbeda merupakan kunci. Debut penyutradaraan layar lebar David Kerr ini sadar takkan mampu menggaet penggemar baru apalagi merebut hati kritikus. Hasilnya adalah hiburan yang kembali ke formula dasar berupa parodi oldskul film bertema agen rahasia (khususnya seri 007).

Apabila ada modifikasi yang ditawarkan naskah buatan William Davies yang turut menulis 2 film pertamanya, itu tak lain berupa penolakan Johnny English (Rowan Atkinson) menjadi agen rahasia berbekal teknologi semodern mungkin. Dia menolak smartphone dan memilih telepon umum, juga menampik mobil-mobil hibrida mewah demi Aston Martin bergaya lama. Tapi jangan harap itu menghadirkan kritik tajam perihal ketergantungan masyarakat akan teknologi. Bukan pula perkara besar, mengingat Johnny akan selalu membuat kekacauan, tidak peduli seberapa canggih atau kuno peralatannya.

Selepas tak lagi aktif menjadi agen rahasia, Johnny menjalani profesi sebagai guru, yang diam-diam mengajari muridnya teknik-teknik spionase. Namun serangan cyber terhadap pusat data MI7, yang berujung terungkapnya seluruh identitas agen rahasia, memaksa Johnny, yang datanya tak terbongkar karena telah penisun, kembali menjalankan misi. Bersama Agen Bough (Ben Miller) si kawan lama, Johnny harus membongkar dalang di balik serangan tersebut. Di saat bersamaan, Perdana Menteri Inggris (Emma Thompson) berjuang menyelamatkan negara (dan mukanya) dengan menjadikan ahli teknologi, Jason Volta (Jake Lacy), sebagai kepala keamanan digital.

Anda tahu ke mana arah investigasinya, termasuk identitas si pelaku yang teramat jelas sejak kemunculan pertamanya. Beruntung, Johnny English Strikes Again enggan mati-matian menutupinya atau menganggap penonton tak mampu menebaknya dan memposisikan pengungkapan identitas sang pelaku sebagai kejutan. Sekali lagi, itulah kelebihan film ini. Sadar atas segala keklisean juga kebodohannya, tanpa berpura-pura menjadi sesuatu yang lebih. Alurnya melompat dari satu banyolan menuju banyolan lain yang belum seluruhnya sukses memancing tawa, tapi paling tidak, di humor yang bekerja kurang maksimal pun, senyum masih bisa dihadirkan. Olga Kurylenko, yang juga mantan Bond Girl di Quantum of Solace (2008) memerankan Ophella si agen rahasia Rusia dengan perpaduan sempurna antara figur femme fatale dengan sentuhan komedi. Saya berharap ia diberi lebih banyak momen komikal di sini.

Kuncinya adalah kesederhanaan. Deretan slapstick mendominasi namun tidak mencoba tampil sebesar atau seabsurd mungkin. Kebodohan Johnny tak mesti melulu menampilkan kekacauan berskala besar. Rangkaian kejenakaan berlingkup kecil seperti salah satu humor yang melibatkan “nama samaran” justru merupakan puncak gelak tawa filmnya. Tentu pencapaian itu turut dimungkinkan oleh kembalinya Rowan Atkinson pada puncak performa, yang memunculkan perasaan serupa ketika menyaksikan era kejayaan Mr. Bean dahulu. Ambil adegan “gas tidur” di paruh awal. Bahkan, cara si aktor merespon situasi, plus bagaimana David Kerr menangkap situasinya, mengingatkan pada episode Back to School Mr. Bean.

Tidak banyak elemen dapat dibahas dari Johnny English Strikes Again. Filmnya tahu apa harapan penonton, anda tahu harus berekspektasi seperti apa, dan itu pula yang filmnya berikan. Tidak kurang, tidak lebih. Sebuah hiburan sekali waktu dengan kemampuan memberi kesenangan selama anda duduk dalam studio, lalu ketika pulang ke rumah, kontennya akan segera terlupakan, terkubur oleh penantian terhadap film-film lain yang lebih memancing rasa penasaran.