Tampilkan postingan dengan label Patrick Stewart. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Patrick Stewart. Tampilkan semua postingan

CHARLIE'S ANGELS (2019)

Woman can do anything”, ucap Sabina Wilson (Kristen Stewart) membuka filmnya, seolah langsung menegaskan niat Elizabeth Banks, selaku sutradara sekaligus penulis naskah, membawa Charlie’s Angels dari eye candy pemuas fantasi lelaki di dua installment pertama (ini sekuel, bukan remake maupun reboot) menjadi sajian empowerment. Tapi dalam prosesnya justru membuat film ini tampil jauh lebih bodoh dari dua karya McG tersebut, yang notabene mengambil pendekatan campy cenderung mengarah ke parodi.

Kini Townsend Agency milik Charlie, si pria misterius yang hanya bisa didengar suaranya lewat interkom, telah melebarkan sayap merambah dunia internasional berkat inisiatif John Bosley (Patrick Stewart menggantikan Bill Murray). Beberapa cabang dibuka di berbagai belahan dunia yang dikelola oleh banyak Bosley. Ya, di sini “Bosley” bukan sebatas nama individu, pula sebuah jabatan.

Misi para Angel kali ini datang saat ilmuwan bernama Elena Houghlin (Naomi Scott), khawatir jika teknologi buatannya yang berfungsi menyediakan sumber energi, berpotensi disalahgunakan sebagai senjata berbahaya. Di bawah komando Susan (Elizabeth Banks) si mantan Angel yang sekarang merupakan salah satu Bosley, Sabina dan Jane Kano (Ella Balinska) harus terjun dalam petualangan yang diisi terlalu banyak pengkhianatan konyol serta rentetan aksi medioker.

Seperti telah saya sebutkan, dua film Charlie’s Angels pertama memang disengaja tampil campy, sehingga kekonyolan-kekonyolannya dapat dimaklumi, bahkan dinikmati. Tapi versi terbaru ini, biarpun tetap dibumbui banyak humor (yang tidak seberapa lucu), jelas ingin lebih serius. Karena itulah cara Elizabeth Banks membangun kisahnya seperti salah tempat. Pada film bertema spionase, kejutan beraroma pengkhianatan adalah elemen biasa. Banks menerapkan itu, namun dosisnya keterlaluan, Charlie’s Angels pun ibarat film kelas B yang menolak (atau tidak sadar?) dianggap demikian.

Ketika satu jenis twist diterapkan berulang kali, daya kejutnya berkurang. Charlie’s Angels membuat saya sampai di titik enggan memperhatikan alurnya lagi, juga malas memikirkan bagaimana hal “A” bisa menjadi “B”, atau kenapa seorang karakter yang tadinya bersikap “C” berubah jadi “D”. Naskah Banks seperti dibuat menggunakan prinsip warganet, yaitu “pokoknya nge-twist!”. Tidak peduli kejutan itu tidak masuk akal, mencurangi penonton, datang entah dari mana, atau bahkan merusak penokohan sebagaimana pernah dilakukan salah satu franchise spionase besar lain (can’t tell you which movie).

Dahulu, McG memakai teknik wire-fu sebagai cool factor bagi adegan aksi dua film Charlie’s Angels. Alih-alih muncul dengan metode keren lain yang lebih modern, Banks memutuskan tampil tanpa gaya, membungkus aksi secara apa adanya menggunakan quick cuts dan pergerakan kamera chaotic yang sukar dinikmati. Koreografi medioker bertempo terlampau lambat turut memperburuk keadaan. Mana mungkin misi empowering yang filmnya usung tersampaikan kalau sepak terjang para jagoannya gagal mencuri perhatian.

Satu-satunya penyelamat adalah penampilan trio Angels, walau sayangnya mereka tidak memperoleh materi yang layak. Ella Balinska paling meyakinkan sebagai Angel, bersenjatakan kemampuan bela diri terbaik dan gestur serta ekspresi natural dalam melakoni laga maupun baku tembak. Keliaran Stewart, kecanggungan menggelitik Scott, sama-sama menghibur. Tapi sulit menampik kesan bahwa mereka adalah dua mobil sport yang dikendarai bak city car. Semestinya Banks bisa memacu keduanya lebih kencang lagi, memberi materi yang lebih gila lagi.

Bicara soal empowerment, blunder terbesar Charlie’s Angels hadir jelang akhir kala mengubah mitologi panjang serinya atas nama kesetaraan. Bukan masalah andai filmnya berstatus reboot atau remake. Tapi sebagai suatu kelanjutan cerita, continuity error-nya memancing pertanyaan, “Apakah Elizabeth Banks belum menonton serial atau film-film sebelumnya? Atau dia memang tidak peduli?”.

THE KID WHO WOULD BE KING (2019)

Entah dengan bocah zaman sekarang, tapi jika menontonnya semasa SD, saya akan terobsesi dengan The Kid Who Would Be King, khususnya di bagian klimaks, saat si tokoh utama memimpin teman-temannya berperang melawan pasukan berkuda dengan tubuh membara dan penyihir berusia ribuan tahun yang tampak bagai naga berwajah Gollum, dengan menyulap seisi sekolah menjadi benteng pertahanan. Sejujurnya saya kerap melamunkan fantasi semacam itu sewaktu kecil dulu.

Melalui The Kid Who Would Be King, Joe Cornish (Attack the Block) mengubah kisah Arthurian menjadi film keluarga bernuansa Amblin, yang bahkan mengandung cue musik serupa, serta pesan tentang kekuatan dalam diri dan cinta, sebagaimana banyak mahakarya Steven Spielberg pada era 80-an.

Filmnya berlatar di dunia serupa dunia kita, di mana kekacauan terjadi akibat penyalahgunaan kekuasaan serta lenyapnya kemuliaan. Kondisi tersebut turut mempengaruhi proses tumbuh kembang protagonis kita, Alex Elliot (Louis Ashbourne), yang hidup berdua bersama sang ibu (Denise Gough) sembari terus merindukan sosok ayah yang telah lama hilang.

The Kid Who Would Be King membuka perjalanan Alex saat ia menolong sahabatnya, Bedders (Dean Chaumoo), dari gangguan Lance (Tom Taylor) dan Kaye (Rhianna Doris). Tapi kebaikan Alex justru mendatangkan masalah baru, dan seperti banyak individu zaman sekarang, ia mulai meragukan esensi kebaikan. Tapi jangan khawatir, sebab film ini mampu menyentuh permasalahan serius tanpa harus membenamkan karakter anaknya dalam area yang terlampau gelap.

Tidak perlu juga bagi The Kid Who Would Be King berlama-lama di fase perenungan. Kita dengan cepat diajak menyaksikan keberhasilan Alex mencabut pedang Excalibur milik Raja Arthur, tanpa menyadari, bahwa secara bersamaan, Morgana (Rebecca Ferguson), saudari tiri Arthur, mulai bangkit dan bersiap membawa kegelapan bagi dunia sekaligus merebut Excalibur. Tentu Merlin (Angus Imrie) pun terlibat. Sang penyihir hadir dengan samaran sebagai remaja aneh bernama Mertin. Sesekali ia menunjukkan sosok tuanya, yang diperankan Patrick Stewart lewat kharisma “pria tua bijak” yang jamak kita jumpai di film-film setipe.

Merlin membimbing Alex memahami takdirnya sebagai pewaris Excalibur yang mesti menghentikan rencana Morgana. Untuk itu, selain Bedders, direkrut pula Lance dan Kaye. Sebab serupa Raja Arthur, Alex pun bisa mengubah lawan menjadi kawan. Bermodalkan kecerdikan berlatar semangat bersenang-senang, naskah buatan Cornish menyerap beberapa elemen legenda Arthurian, tanpa perlu mengekang kebebasan mengeksplorasi kisah ke arah berbeda.

Karena sejatinya salah satu pesan utama film ini adalah soal “memilih arahmu sendiri”. Walau presentasinya sedikit inkonsisten (tepat setelah pesan itu disampaikan, Cornish membuat karakternya kembali bergantung pada buku guna memecahkan masalah), elemen tersebut memang diperlukan oleh blockbuster masa kini. Masih segar di ingatan bagaimana Star Wars: The Last Jedi menerima setumpuk kebencian akibat enggan menjadikan Rey keturunan sosok penting. The Kid Who Would Be King melontarkan pernyataan tegas jika golongan biasa pun sanggup (dan berhak) menjadi figur luar biasa.

Absen menyutradarai selama bertahun-tahun tak membuat Cornish kehilangan sentuhan. Berpijak pada naskah penuh aksi di mana deretan laga muncul tepat waktu demi menjaga momentum, Cornish berhasil melahirkan beberapa sekuen seru lengkap dengan napas fantasi. Namun kemenangan terbesarnya adalah kesuksesan memberi hati. Cornish memanfaatkan kalimat “Honor those you love” untuk membangun momen ibu-anak menyentuh, yang dibungkus menggunakan sensitivitas dalam pengadeganan, akting kuat Denise Gough, serta timing sempurna.