Tampilkan postingan dengan label Paul Feig. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Paul Feig. Tampilkan semua postingan
LAST CHRISTMAS (2019)
Rasyidharry
Last Christmas, yang naskahnya ditulis oleh Emma Thompson (Sense and Sensibility, Nanny McPhee, Bridget
Jones’s Baby) dan Bryony Kimmings berdasarkan lagu berjudul sama buatan
George Michael, merupakan komedi-romantis berlatar Natal, yang seperti banyak
film Natal, “nilai apa yang diangkat” lebih dipentingkan dari penceritaan. Hasilnya
klise dan kerap terlalu sentimentil, tapi merupakan kebohongan bila saya
mengaku film ini gagal meninggalkan kesan.
Termasuk Last Christmas, ada total 14 lagu duo pop Wham! dan solo George
Michael plus satu unreleased track (This Is How (We Want You to Get High)),
mengiringi perjalanan Katarina, atau yang lebih suka dipanggil Kate (Emilia
Clarke), seorang gadis dari keluarga Yugoslavia yang menetap di London pasca
meletusnya perang. Hidup Kate berantakan. Hubungannya dengan keluarga, terutama
sang ibu (Emma Thompson) merenggang, pun akibat kecerobohan serta keegoisannya,
Kate selalu diusir di mana saja ia tinggal, menjadikannya tunawisma ,
mondar-mandir di jalanan London membawa koper dengan stiker “George Michael Forever”, mengenakan
sepatu Elf selaku seragam kerjanya.
Kate bekerja di toko barang Natal
milik Santa (Michelle Yeoh), di mana dia selalu terkena teguran si bos akibat
kinerja buruknya. Mimpinya menjadi penyanyi senantiasa kandas akibat deretan
kegagalan audisi. Begitu sampai di titik terendah dalam hidupnya, Kate bertemu
Tom (Henry Golding). Berkebalikan dengan sinisme Kate, Tom penuh semangat
bahkan cenderung eksentrik. Tom gemar menari di tengah jalan, dan ketimbang
menatap layar smartphone, dia lebih
suka menengadah memperhatikan detail-detail di sekitarnya.
Kate mulai tertarik pada Tom yang
mengembalikan kepoitifannya, membuka matanya akan warna-warna dalam hidup yang
selama ini tidak Kate acuhkan, dan dari situ, mudah menebak Last Christmas bakal bergerak ke mana. Film
ini adalah soal proses Kate memperbaiki diri, menemukan kebahagiaan dengan cara
mengurangi egoisme untuk membahagiakan sesama, alias sejalan dengan nilai-nilai
Natal perihal kebaikan hati dan kebersamaan.
Sederhana, hanya saja di tengah
perjalanan, naskahnya menambahkan beberapa kisah sampingan yang sejalan dengan
nilai-nilai di atas, meski signifikansi terhadap konflik utamanya
dipertanyakan. Isu rasisme sedikit disentil, sedangkan Santa, yang digambarkan
keras dan dingin, rupanya bisa luluh juga karena cinta. Dia terpikat pada
seorang pria pemalu pengunjung toko (Peter Mygind), pasca pertemuan pertama
yang menunjukkan totalitas Michelle Yeoh mengolah rasa, bahkan untuk adegan
komedik ringan sekalipun.
Setumpuk masalah kompleks menimpa
Kate, namun seperti tertulis di paragraf pembuka, naskahnya cuma berfokus pada
nilai daripada kualitas penceritaan. Berbasis pada konsep keajaiban Natal,
filmnya melakukan simplifikasi tatkala seluruh konflik usai begitu saja begitu
Kate berhasil memperbaiki diri, yang mana prosesnya juga tidak kalah instan. Beruntung
kita takkan keberatan menyaksikan perubahan Kate, sebab dengan semua sifat
buruknya, sosoknya tetap simpatik berkat penampilan Emilia Clarke.
Walau tampil apik di Me Before You (2016) dan Solo: A Star Wars Story (2018), di
sinilah talenta sang aktris dimanfaatkan seutuhnya. Sesuatu yang sangat Clarke
butuhkan guna lepas dari bayang-bayang Game
of Thrones. Clarke mampu mengubah sinisme dan sikap apatis jadi kejenakaan loveable, lalu saat akhirnya Kate sukse
mengentaskan diri dari jurang kesengsaraan, senyum lebarnya bakal membuatmu
ikut merasakan kebahagiaan. Henry Golding jadi tandem sempurna dengan pesona
bak Prince Charming dari negeri
dongeng sebagaimana telah ditunjukkannya di Crazy
Rich Asians.
Membungkus pertemuan dua hati itu
adalah penyutradaraan Paul Feig (Bridesmaids,
Spy, A Simple Favor) yang tahu caranya menangkap romantisme berlatar
kelap-kelip indah hiasan lampu Natal, sembari masih meninggalkan jejak
kelihaiannya memvisualisasikan komedi. Euforia serta kehangatan adegan musikal
selaku penutup pun mampu dihantarkan Feig, yang efeknya akan lebih kuat andai
sebelumnya tidak ada gangguan berupa twist melodramatis
ala Nicholas Sparks, yang kemunculannya bisa ditebak hanya dengan membaca dua
kalimat dari lirik salah satu lagu George Michael.
Desember 09, 2019
Bryony Kimmings
,
Comedy
,
Cukup
,
Emilia Clarke
,
Emma Thompson
,
Henry Golding
,
Michelle Yeoh
,
Paul Feig
,
Peter Mygind
,
REVIEW
,
Romance
A SIMPLE FAVOR (2018)
Rasyidharry
Paul Feig (Bridesmaids, Spy) bereksperimen lewat A Simple Favor yang merupakan adaptasi novel berjudul sama karya
Darcey Bell. Alih-alih sepenuhnya merambah “sisi gelap” sebagaimana dijadikan
materi promosi lewat tagline berbunyi
“The Darker Side of Paul Feig” dan
mengikuti pola Hitchcockian atau Les Diaboliques (1955)—yang bahkan
disebut dalam dialog—sang sutradara, bersama penulis naskah Jessica Sharzer (Nerve), berani menyatukan elemen thriller misteri dengan komedi yang jadi
keahliannya. Hasilnya menyenangkan, meski acap kali campur aduk.
Itulah kenapa Anna Kendrick jadi
pilihan tepat sebagai Stephanie Smothers, ibu tunggal sekaligus vlogger resep masakan dan kerajinan. Kendrick,
serupa mayoritas peran-peran sebelumnya, memerankan wanita muda naif dan
canggung, yang kerap membuatnya bertingkah konyol di tengah interaksi sosial.
Dan dia bagus. Kendrick, selain tentunya kepiawaian pengadeganan Feig, adalah
alasan humornya selalu berhasil, walau kejenakaan A Simple Favor seringkali ada di tempat yang aneh.
Tapi inilah tujuan Feig. Dia tidak
ingin mencengkeram jantung penonton layaknya Alfred Hitchcock, atau menampilkan
gurat-gurat kengerian bak Les Diaboliques.
Feig ingin menghibur. Feig ingin kita tertawa, terjaga, terkejut, dan tentunya
terpesona sebagaimana Stephanie kala ia pertama bertemu Emily Nelson (Blake
Lively) saat keduanya menjemput putera mereka dari sekolah. Emily adalah wanita
elegan dengan dandanan menawan seolah baru tiba dari acara peragaan busana di
Paris, selaras dengan lantunan musik jazzy
garapan Theodore Shapiro, komposer langganan Feig sejak Spy.
Serupa Kendrick, Lively jelas sempurna
sebagai Emily, yang membuat bukan saja Stephanie, tapi juga penonton sulit
melepaskan pandangan darinya. Hebatnya, ia pun mulus berkomedi. Kata “brotherfucker” takkan selucu itu kalau
bukan berkatnya.
Kedua tokoh utama kita cepat akrab.
Stephanie mengagumi betapa elegan Emily, sebaliknya, sang kepala divisi
hubungan masyarakat suatu perusahaan mode itu menyukai kelucuan Stephanie.
Mungkin Stephanie memberi hiburan bagi Emily, yang kesehariannya hanya ditemani
pekerjaan serta suaminya, Sean (Henry Golding), novelis yang telah 10 tahun tak
menghasilkan karya baru. Hingga suatu hari, Emily mengajukan sebuah permintaan
sederhana agar Stephanie menjemput puteranya dari sekolah. Setelahnya, ia
menghilang.
“Where’s Emily?” merupakan pertanyaan yang filmnya ingin kita
pertanyakan. Asumsi-asumsi mampu dimunculkan, teori-teori berseliweran di
kepala, usaha menyatukan keping-keping puzzle pun saya lakukan didasari
pengalaman menyaksikan film-film misteri bertema serupa. Kemudian filmnya
menampar lewat titik balik di pertengahan durasi. Segala teori dan asumsi tadi
pun runtuh.
Saya meyakini, kisah misteri yang
baik bukan bergantung pada jawaban atau kejutan di akhir, melainkan proses investigasi.
Konklusi yang sukar ditebak sebatas bonus. Dan kelebihan A Simple Favor terletak pada caranya mengombang-ambingkan pemikiran
penonton. Setiap kita merasa mulai menemukan titik terang, fakta baru yang
kontradiktif langsung dipresentasikan. Alurnya pun bergerak dinamis begitu
Stephanie memutuskan memulai penyelidikan ketimbang berdiam diri dikuasai
kebingungan. Di sinilah humornya berperan. Sesekali otak kita dibawa rehat
sejenak dari pencarian fakta, untuk menertawakan polah Stephanie (plus jajaran
tokoh pendukung) yang selalu menemukan jalan bertingkah konyol.
Sayang, mencapai babak akhir,
filmnya keteteran akibat penyakit lawas: obesi terhadap twist. Kejutan demi kejutan yang mayoritas punya mekanisme absurd dijajarkan
terburu-buru, tanpa memberi penonton waktu mencerna fakta yang terungkap
sebelumnya. Ditambah lagi, kapasitas Feig menangani momen pengungkapan kejutan
dalam misteri belum mumpuni. Mungkin ia enggan “membesar-besarkan” kejutan,
namun dampaknya, beberapa titik sebatas hadir sambil lalu. Untunglah A Simple Favor tidak semata
menggantungkan garis finish, pula perjalanan mencapai sana. Dan sungguh
perjalanan yang menyenangkan.
Oktober 21, 2018
Anna Kendrick
,
Blake Lively
,
Henry Golding
,
Jessica Sharzer
,
Lumayan
,
Mystery
,
Paul Feig
,
REVIEW
,
Theodore Shapiro
,
Thriller
Langganan:
Postingan
(
Atom
)



