Tampilkan postingan dengan label Tommy Lee Jones. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tommy Lee Jones. Tampilkan semua postingan

AD ASTRA (2019)

Ad Astra bukan soal perjalanan mencari kehidupan baru di luar Bumi (walau salah satu karakternya menjalani misi tersebut), melainkan kehidupan dalam diri manusia. Bakal memancing komparasi dengan judul-judul macam 2001: A Space Odyssey (1968) dan Solaris (1972) terkait penggunaan elemen fiksi-ilmiah guna membungkus drama humanis bertempo lambat, serta karya-karya Terrence Malick karena penggunaan monolog internal bernada kontemplatif, film teranyar sutradara James Gray (The Immigrant, The Lost City of Z) ini jelas menuntut kesabaran yang bakal terbayar lunas di akhir.

Perkenalkan Mayor Roy McBride (Brad Pitt), putera astronot legendaris H. Clifford McBride (Tommy Lee Jones) yang hilang 16 tahun lalu saat mengorbit di Neputunus kala menjalankan “Lima Project”, sebuah misi dengan tujuan mencari makhluk ekstraterestrial. Serupa ayahnya,talenta Roy dikagumi. Kemampuannya menjaga ketenangan (detak jantungnya tak pernah di bawah 80 bpm) dianggap bukti kapabilitas oleh pihak SpaceCom. Mungkin benar, namun Gray yang menulis naskahnya bersama Ethan Gross (Klepto) menawarkan perspektif lain.

Tentu anda sering mendengar anggapan bahwa orang kuat tidak kenal takut dan/atau tidak pernah menangis. Ad Astra menyanggah asosiasi tersebut. Ketenangan Roy justru menjauhkannya dari humanisme. Salah satu monolog Roy di awal menyebut bahwa segala senyum atau ekspresi rasa darinya sebatas “performance”. Sebuah kepura-puraan, wujud kekosongan layaknya ruang hampa di luar angkasa yang amat dia akrabi.

Apabila eksplorasi angkasa luar menjadikan lubang hitam sebagai momok, Roy pun terjebak di lubang hitam bernama kesendirian dan kesepian. Karena itulah sang istri, Eve (Liv Tyler) meninggalkannya. Roy terlihat tenang di luar, tapi sejatinya, ia mempertanyakan segalanya. Sehingga saat SpaceCom menginformasikan jika kemungkinan sang ayah masih hidup bahkan jadi penyebab lonjakan listrik yang mengancam tata surya akibat eksperimennya, Roy bersedia menjalankan misi menemui Clifford guna membujuknya menghentikan itu.

Apa yang menyusul berikutnya adalah observasi tentang manusia melalui pergulatan batin Roy, yang digambarkan bermental baja kala menatap maut, tidak ragu menantang bahaya dan mengambil risiko, tetapi seketika runtuh sewaktu dihadapkan pada rasa. Berbeda dibanding barisan pusi Malick, monolog internal Ad Astra, biarpun terdengar puitis, amat memudahkan sebagai alat bantu memahami poin-poin yang ingin Gray sampaikan.

Lambatnya permainan tempo Gray mungkin menyulitkan bagi banyak penonton, namun berjasa menjembatani penyaluran rasa sang protagonis kepada penonton. Pun Ad Astra masih “berbaik hati” menyelipkan beberapa set-piece aksi yang menyiratkan potensi Gray menangani spectacle besar. Bukan suguhan bombastis, luasnya jangkauan pengadeganan sang sutradara nampak betul. Momen sewaktu Roy jatuh dari ketinggian menampilkan kemegahan, baku tembak di bulan menyelipkan teror, pula pertarungan melawan babun yang mengandung kebrutalan layaknya seri Alien. Bukan cuma Gray, desain produksi meyakinkan garapan Kevin Thompson (Birdman, Okja, Michael Clayton) juga cerminan keagugan semesta lewat sinematografi Hoyte van Hoytema (Her, Interstellar, Dunkirk) yang mengambil gambar menggunakan format 35mm, masing-masing layak diacungi dua jempol.

Di titik ini, tentu anda telah banyak mendengar banjir pujian terhadap performa Brad Pitt. Seringkali mengandalkan kharisma, melalui Ad Astra, Gray memanfaatkan wibaya sang aktor sebagai media komparasi perbedaan ekstrim sisi eksternal dan internal individu. Menengok tampilan luar, Roy bak karang kokoh yang takkan terkikis, sedangkan kondisi dalam hati Roy jadi panggung Pitt menampilkan ekspresi kerapuhan subtil, yang memuncak selepas third act yang membahas “putusnya sebuah ikatan”. Di situ untuk kali pertama kita menyaksikan senyum si tokoh utama, yang kali ini bukan sekadar formalitas, melainkan wujud kebahagiaan hakiki.

THE FAMILY (2013)

Film garapan Luc Besson ini dibintangi Robert De Niro dan diangkat dari novel karya Tonino Benacquista berjudul Malavita yang artinya Badfellas membuat film ini seolah menjadi versi tidak serius dari Goodfellas karya Martin Scorsese. Tapi meskipun ceritanya memang seputar dunia mafia dan Scorsese menjadi eksekutif produser bahkan ada adegan yang menampilkan pemutaran film Goodfellas, The Family sama sekali bukanlah parodi dari film tersebut. Selain De Niro, ada nama-nama besar lain seperti Michelle Pfeiffer, Tommy Lee Jones hingga Dianna Agron di jajaran pemainnya. Saya sendiri tidak mengharapkan kisah yang berbobot dari The Family yang memang cukup mengedepankan unsur komedi, apalagi melihat jajaran film Luc Besson akhir-akhir ini yang kualitasnya biasa saja bahkan beberapa diantaranya termasuk film yang buruk. Namun sebagai hiburan yang menyenangkan The Family cukup punya potensi memuaskan saya apalagi melihat jajaran cast yang meyakinkan tersebut. Ceritanya berada seputaran keluarga Giovanni Manzoni (Robert De Niro) dan keluarganya yang sedang berada dalam program perlindungan saksi di bawah pengawasan FBI.

Manzoni terpaksa meninggalkan hidupnya sebagai bos mafia setelah terlibat masalah dengan Don Luchese (Stan Carp) yang membuat sang Don harus mendekam dalam penjara. Atas perbuatannya tersebut, Manzoni dan keluarganya terpaksa hidup di bawah perlindungan FBI yang dipimpin oleh Robert Stansfield (Tommy Lee Jones) dan tingga berpindah-pindah sampai sekarang akhirnya mereka tinggal di kota kecil yang terelat di Normandy, Prancis. Disana masing-masing dari keluarga tersebut harus menghadapi permasalahan yang mereka alami. Giovanni yang hidup dengan identitas Fred Blake tidak bisa meninggalkan rumah karena terus diawasi oleh FBI dan terpaksa menghabiskan waktunya dengan menulis riwayat hidupnya sebagai mafia. Permasalahan datang saat ia mengaku sebagai penulis novel sejarah tentang Normandy landing pada tetangganya walaupun ia sama sekali tidak tahu menahu mengenai peristiwa sejarah tersebut. Sang istri, Maggie (Michelle Pfeiffer) merasa harus menanggun semua perbuatan suaminya yang temperamental dan dia sendiri bermasalah dengan beradaptasi disana. Puteri mereka, Belle (Dianna Agron) yang juga selalu main kasar sedang jatuh cinta pada mahasiswa yang mengajar matematika di sekolahnya. Sedangkan sang putera, Warren (John D'Leo) banyak terlibat permasalahan kekerasan di sekolah. Tapi yang mereka tidak tahu adalah Don Luchese semakin dekat untuk mengetahui keberadaan mereka saat ini dan berniat menghabisi satu keluarga tersebut.

Yang paling menarik dari The Family / Malavita bukanlah kualitas cerita tapi karakter-karakter yang ada di dalamnya. Giovanni a.k.a Fred Blake yang diperankan De Niro adalah sajian utamanya. Dari luar ia seperti pria tua pengangguran biasa yang bahkan tidak bisa memperbaiki pipa ledeng dan hanya menghabiskan waktunya di depan mesin ketik, namun jika dia sudah tersinggung, Fred tidak ragu-ragu menghajar habis orang yang membuatnya marah sampai mematahkan semua tulangnya. Sedangkan Maggie tidak ragu-ragu meledakkan supermarket disaat ia merasa tersinggung oleh komentar orang Prancis tentang dirinya. Sedangkan kedua anak mereka tidak jauh beda dimana untuk menyelesaikan masalah mereka tidak ragu memakai kekerasan, bahkan Warren sang putera seolah benar-benar mewarisi darah mafia sang ayah dengan sanggup melakukan berbagai bisnis kotor dan perekrutan anak buah. Terkesan brutal? Memang The Family tampil brutal tapi dibalik kebrutalan keluarga gila tersebut selalu diselipkan unsur komedi yang membuat masing-masing karakternya tampil lebih menarik. Mungkin mereka terkesan sebagai keluarga disfungsional yang bertindak semau sendiri, tapi di balik itu mereka saling menyayangi dan melindungi satu sama lain dimana faktor itulah yang membuat interaksinya lebih menarik.

Seperti yang sudah saya duga tidak ada yang spesial dari ceritanya. Di samping karakternya yang asyik, ceritanya tergolong sangat sederhana. Tidak ada intrik rumit yang sering muncul dalam film-film bertemakan mafia dengan tone yang serius. Tapi The Family memang tidak berusaha untuk tampil serius. Ceritanya tidak berusaha cerdas dan memang terasa bodoh di beberapa bagian namun juga tidak berusaha terlalu keras untuk menjadi bodoh dengan menjadi parodi film-film mafia seperti Goodfellas. Ini adalah murni hiburan dengan selipan komedi yang cukup efektif. Terkadang komedinya memang berlalu begitu saja dalam artian tidak lucu, tapi saya lebih sering mendapati komedinya berhasil membuat saya tersenyum bahkan beberapa kali membuat tertawa. Bukan komedi cerdas namun tetap menarik untuk ditonton. Sebagai contoh adalah saat Fred yang diperankan De Niro datang ke acara pemutaran sekaligus debat film yang menampilkan film Goodfellas dimana kita tahu bahwa De Niro adalah salah satu aktor yang bermain dalam film garapan Martin Scorsese tersebut. De Niro sendiri tampil bagus disini. Yah jangan harapkan kualitas nomor satu seperti aktingnya di The Godfather II ataupun Goodfellas, namun kemampuannya membawakan sosok karakter yang dingin, brutal namun tetap terlihat lucu jelas patut mendapat pujian disini.

Sampai akhirnya kita dibawa pada sebuah klimaks yang untungnya berhasil menjaga tensi film. Pembangunan konflik menuju final showdown yang memperlihatkan anak buah Don Luchese menginvasi Normandy dan menyerbu rumah Fred terasa sangat menegangkan. Apalagi saat masing-masing anggota keluarga itu berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan keluarga mereka dari maut. Momen menuju final tersebut memang begitu intens dan menegangkan. Namun sayangnya saat eksekusi di pertempuran akhirnya malah terasa anti-klimaks dan berakhir begitu saja seolah-olah Luc Besson kebingungan bagaimana harus mengakhiri pertempuran yang (maunya) epic tersebut. Bahkan adegan aksi "mini" saat masing-masing keluarga Blake menghajar orang-orang di sekitarnya masih lebih menghibur daripada klimkas tersebut. Pada akhirnya The Family jelas tidak setara dengan karya-karya terbaik Luc Besson macam Nikita ataupun Leon: The Professional. Kisahnya juga dangkal dan tidak menyinggung hal-hal seperti ambiguitas yang muncul dalam istilah "keluarga" dalam dunia gangster meski punya potensi besar untuk itu. Tapi setidaknya bukan juga karyanya yang masuk daftar terburuk dan masih jadi hiburan yang cukup menghibur khususnya berkat komedinya yang cukup berhasil dan penampilan maksimal para pemainnya dalam membawakan tokoh-tokoh dengan karakterisasi yang asyik.