Tampilkan postingan dengan label Robert De Niro. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Robert De Niro. Tampilkan semua postingan

THE IRISHMAN (2019)

Goodfellas (1990) dan Casino (1995), ibarat glamorisasi Martin Scorsese terhadap mafia yang ia idolakan sewaktu kecil, walau di akhir, selalu ditunjukkan bagaimana pilihan hidup itu bakal berakhir buruk. Kini, dalam The Irishman, menyentuh usia 77 tahun, Scorsese mungkin telah menemukan closure, menyadari bahwa segala kekuatan dan kekerasan itu tak lagi nampak keren, hanya menyebabkan penderitaan, kesepian, yang hanya bermuara pada satu poin: kematian.

Itulah kenapa, mengiringi pengenalan banyak karakter film ini, selalu tercantum kapan serta bagaimana mereka meregang nyawa, di mana mayoritas (kecuali satu nama), tewas akibat dibunuh. Mengadaptasi buku nonfiksi I Head You Paint Houses karya Charles Brandt yang hingga sekarang kebenarannya diperdebatkan, kisahnya dipaparkan melalui sudut pandang Frank Sheeran (Robert De Niro), veteran Perang Dunia II, yang pada tahun 1950an, bekerja sebagai sopir truk di Philadelphia.

Satu hal yang seketika mencuri perhatian pada era tersebut adalah teknologi de-aging untuk memudakan tampilan fisik De Niro (dan lebih dari satu jam kemudian, Al Pacino). Sempurna? Mungkin belum. Beberapa garis wajah yang terlalu mulus masih nampak bila diperhatikan saksama, tapi cukup sebagai ilusi agar penonton percaya tengah melihat pria berumur 30-40an tahun. Satu hal yang sukar disembunyikan adalah kondisi fisik sang actor. Mustahil De Niro bergestur seolah masih berada di masa jayanya, sehingga sedikit aneh kala menyaksikan Frank menghajar seorang pemilik toko roti.

Tapi itu sebatas kelemahan minor yang nyaris tak mengganggu perjalanan 209 menit (hampir tiga setengah jam) yang filmnya tawarkan. Dari mengantar ikan bagi mafia lokal, reputasi Frank sampai di telinga Russell Bufalino (Joe Pesci), pemimpin kelompok mafia Bufalino. Sebagaimana digambarkan Frank, Russell merupakan “penguasa jalan”. Semua bisnis kotor hingga pembunuhan harus seizing Russell. Frank mulai jadi sosok kepercayaan Russell, menjalankan banyak misi, termasuk “painted houses” dan “carpentry”.

Keduanya adalah istilah mafia. “painted houses” berarti membunuh (karena saat menembak target, darah orang itu akan muncrat seperti cat di tembok), sedangkan “carpentry” berarti menyingkirkan tubuh korban. Beberapa pihak meragukan keabsahan istilah-istilah tersebut, namun di situ terletak salah satu daya tarik The Irishman. Ditulis naskahnya oleh Steven Zaillian (Schindler’s List, Gangs of New York, Moneyball), film ini bak panduan soal dunia mafia. Selain istilah, Frank turut “mengajari” kita soal pemilihan pistol yang tepat. Pastikan pistol itu menimbulkan suara agar para saksi mata kabur dan kesulitan mengenali wajahmu, tapi jangan terlalu keras atau mobil patrol bakal menyatroni lokasi. Apakah realitanya demikian? Tidak jadi soal. Terpenting, The Irishman mendapat kadar hiburan tinggi berkatnya.

Seiring waktu, Frank dan Russell semakin akrab, bahkan keluarga masing-masing kerap menghabiskan waktu bersama. Pembicaraan keduanya senantiasa memikat karena dua hal: akting dan penyutradaraan. De Niro, yang lebih pasif ketimbang mayoritas lawan bicaranya siapa pun itu, mampu menyiratkan kekalutan batin yang makin lama makin kuat, tapi Joe Pesci, yang kembali dari masa pensiun setelah hampir satu dekade, merupakan MVP-nya. Sosoknya berjalan di garis ambigu antara pria pemurah dan gangster keji, lalu dengan mudah menarik atensi lewat senyum maupun tatapan mengintimdasi tanpa harus berusaha melakukannya.

Contohnya ketika Russell menemani Angelo Bruno (Harvey Keitel) mengonfrontasi Frank pasca ia meledakkan sebuah tempat laundry. Pesci hanya duduk diam. Bibirnya menyunggingkan senyum sementara kedua tangannya tersembunyi di balik meja, bagai seorang bocah yang bersemangat menantikan sebungkus hadiah. Apa arti senyum itu? Formalitas? Penenang bagi Frank? Atau ada intensi terselubung? Mana pun itu, saya dibuat merinding ngeri menyaksikannya.

Terkait penyutradaraan, silahkan perhatikan betul tiap pengadeganan, dan lewat beragam detailnya, anda akan mendapati betapa hebat seorang Martin Scorsese. Beberapa tampil subtil, misalnya obrolan Frank dan Russell di sebuah café. Ditemani iringan biola yang samar-samar memainkan Speak Softly Love dari The Godfather, ditambah tempo berlangsungnya pembicaraan (penuturan aktor, perpindahan shot), momen itu memunculkan intensitas elegan, seperti musik jazz yang seseorang dengar sesaat sebelum ajal menjemput.

Sejak debutnya di Who’s That Knocking at My Door (1967), Scorsese memang sudah memperlihatkan kepekaan dalam mengawinkan media audio dengan visual. Pilihan musiknya berhasil menyempurnakan atmosfer adegan. Kali ini, selain scoring garapan komposer langganannya, Robbie Robertson, lagu dari beragam genre, khususnya rock ‘n roll dan jazz rutin menemani, dengan In the Still of the Night milik The Five Satins yang terdengar mistis jadi musik yang bakal terus terngiang di benak penonton untuk waktu lama.

Bukan cuma yang bersifat subtil, penyutradaraan Scorsese juga bersinar kala sang sineas membuktikan bahwa usia sekadar angka, dan tak menghalanginya memamerkan gaya bertenaga. Beberapa kali take panjang diterapkan, di mana penembakan yang Frank lakukan di sebuah restoran bakal membuatmu terkejut, kemudian terpukau. Sementara transisi mulus pagi menuju malam di rumah sakit jelang film berakhir akan memancing pertanyaan tentang trik macam apa yang Scorsese dan timnya pakai.

Scorsese boleh memimpin, namun pencapaian The Irishman takkan terjadi tanpa kontribusi timnya. Penyuntingan Thelma Schoonmaker yang telah jadi kolaboratornya sejak Raging Bull (1980) membantu Scorsese menyampaikan repetisi dalam keseharian Frank kala sebuah rentetan peristiwa dimunculkan berulang kali secara beruntun (mengantar daging, membuang pistol, mengambil uang setoran), juga…..humor!

Ya, biarpun mengusung tema kelam nan kejam, The Irishman di luar dugaan cukup menggelitik. Film ini bukan saja Scorsese dalam fase paling matang dan nyaman, juga playful. Bagaimana ia menggambarkan proses “penghantara pesan” antara pelaku dunia hitam (yang melibatkan banyak bahan peledak) contohnya.

Semakin jauh filmnya berjalan, semakin saya dibuat tercengang oleh seberapa kuat pengaruh gangster dalam berjalannya negara adidaya bernama Amerika. Setumpuk karakter datang dan pergi, tapi Zaillian memastikan penonton dapat memilah “siapa adalah siapa” melalui kejelasan serta kesolidan struktur bercerita. Gerbang menuju konspirasi-konspirasi besar dibuka setelah oleh Russell, Frank diperkenalkan pada Jimmy Hoffa (Al Pacino), ketua serikat buruh International Brotherhood of Teamsters. Jimmy, yang dideskripsikan oleh Frank sebagai “sebesar Elvis”, amat berpengaruh, kekuasaannya saat itu mungkin hanya di bawah Presiden (atau malah lebih?). Serupa kondisinya bersama Russell, Frank mulai mendapat kepercayaan Jimmy, menjadi bodyguard kepercayaannya, bahkan Jimmy menjadi figur ayah yang dirindukan puteri Frank, Peggy (Anna Paquin).

Keluarga merupakan salah satu pokok bahasan utama The Irishman, yang penuturannya kental ironi. Frank ingin melindungi keluarganya, termasuk Peggy, namun semakin jauh ia terlibat dalam dunia bawah tanah—yang ia anggap menambah kekuatan, kekuasaan, dan keamanan—semakin menjauh pula sang puteri. Dari situ awal segala tragedi The Irishman, yang menolak meromantisasi dan mendramatisasi kematian. Bahkan kematian terpenting sepanjang film tak diperlakukan dengan spesial. Itulah poin yang ingin diutarakan Scorsese. Dunia mafia hanya membawa kematian, dan kematian hanya kematian. Sebuah akhir. Tinggal bagaimana, dan dengan siapa seseorang menantikan akhir itu tiba.


Available on NETFLIX

JOKER (2019)

Ada perasaan aneh menyerang selepas menonton Joker. Saya hampir menangis, tapi juga merasa geli sampai ingin terkekeh. Sukar dijamah nalar, namun begitulah ironi kehidupan yang hendak disampaikan oleh filmnya. Kompleks, membingungkan, mustahil dipandang sebagai hitam dan putih. Mengutamakan eksplorasi psikologis ketimbang aksi bombastis, inilah “film adaptasi komik dengan pendekatan realistis” yang sesungguhnya, bukan trilogi The Dark Knight (terlepas dari kualitas luar biasa miliknya).

Realistis, sebab serupa dunia nyata, baik/buruk suatu persoalan dalam karya teranyar sutradara Todd Phillips (trilogi The Hangover) ini tidak selalu bisa didefinisikan dengan gampang. Contohnya: Sebagai biang onar sekaligus pembunuh (tentu ini bukan spoiler), yang terbentuk sebagai hasil kebobrokan nurani masyarakat, haruskah kita bersimpati pada Arthur Fleck alias Joker (Joaquin Phoenix)?

Menjawab pertanyaan di atas bukan tujuan Joker, sebab film ini tak berniat menghakimi melainkan melakukan studi. Arthur merupakan komedian stand-up gagal yang mencari nafkah sebagai badut di siang hari. Di rumah, ia mesti merawat ibunya, Penny Fleck (Frances Conroy), yang terobsesi mengirim surat kepada Thomas Wayne (Brett Cullen), agar sang milyuner sekaligus calon Walikota Gotham, bersedia menolong kesulitan finansial yang mereka alami.

Setiap malam, bersama Penny, Arthur setia menonton acara bincang-bincang yang dipandu idolanya, Murray Franklin (Robert De Niro), bermimpi, kelak dapat berdiri di atas panggung, menjadi pusat perhatian yang dicintai publik lewat kelucuannya. Nyatanya, Arthur memang kerap jadi pusat perhatian, tapi bukan didorong kelucuannya. Orang-orang menganggapnya aneh, khususnya dipicu pseudobulbar affect (gangguan emosi di mana penderita tertawa atau menangis secara tidak terkontrol) yang ia derita. Masyarakat tertawa bukan disebabkan lelucon Arthur. Dialah lelucon itu sendiri.

Kisah Joker tidak mengadaptasi komik mana pun (naskahnya amat cerdik memodifikasi mitologi Batman) tapi naskah buatan Todd Phillips dan Scott Silver (8 Mile, The Fighter, The Finest Hours) tetap berhasil menangkap esensi karakternya, yakni ironi. Arthur percaya, bahwa seperti kata-kata sang ibu, takdirnya adalah membuat orang bahagia melalui tawa. Tapi jangankan bahagia, tertawa pun ia tak mampu. Ketika rekan-rekan kerjanya berkelakar, Arthur memalsukan tawanya. Pun ada adegan di mana Arthur menyaksikan pertunjukan komedi sebagai bahan riset, lalu dia tertawa kala penonton lain terdiam, dan sebaliknya. Sekalinya benar-benar tertawa, itu akibat gangguan emosinya.

Sempat timbul kekhawatiran adanya tendensi menjustifikasi para maniak pelaku pembantaian. Pihak yang meneriakkan itu, entah keliru menginterpretasi atau belum menonton dan terbutakan oleh “perjuangan” tanpa arah nan salah kaprah. Joker, sebagaimana Taxi Driver (1976) selaku salah satu inspirasi terbesarnya, bukan glorifikasi kekerasan, namun tamparan pembangkit kesadaran bermasyarakat, termasuk kepedulian terhadap penderita gangguan mental.

Mendukung intensi di atas adalah performa Joaquin Phoenix yang (lagi-lagi) pantas dibanjiri penghargaan. Phoenix total bertransformasi. Selain mengurangi berat badan sebanyak 24 kg, ia membentuk gestur-gestur, dari cara berjalan hingga detail gerakan lain, yang mewakili kecanggungan sosial Arthur. Sementara tawanya, atau tepatnya usaha menahan tawa, menghadirkan kepiluan menusuk. Mungkin akting Phoenix juga salah satu penyebab perasaan aneh seperti saya bahas di kalimat pembuka. Phoenix menyalurkan gejolak batin yang dialami Arthur kepada penonton, tanpa kita sadari.

Berlangsung selama kurang lebih dua jam tanpa set-piece aksi layaknya film adaptasi buku komik lain, Joker juga cerdik menyelipkan kejutan-kejutan kecil, yang bisa saja berlalu begitu saja bila dieksekusi secara lemah, tapi berkat kepiawaian Phillips mengatur timing (kapan tepatnya suatu kejutan mesti menghentak), dampaknya luar biasa. Selain “percikan kecil”, ada satu twist mayor, yang selain menambah daya kejut, eksistensinya berguna menambah rasa sakit yang menikam hati Arthur dan penonton.

Joker bagai pertunjukan yang mempertemukan opera tragedi dengan balet, saat komposisi musik karya Hildur Guðnadóttir (Sicario: Day of Soldado) kerap memperdengarkan orkestrasi megah (ditambah kecerdikan Todd Phillips menyusun daftar putar lagu), sementara Phoenix beberapa kali melakoni adegan menari. Bukan tarian hasil koreografi, melainkan wujud ekspresi diri. Joker memang adaptasi komik superhero (atau supervillain) langka, di mana rasa lebih diutamakan ketimbang laga.

THE FAMILY (2013)

Film garapan Luc Besson ini dibintangi Robert De Niro dan diangkat dari novel karya Tonino Benacquista berjudul Malavita yang artinya Badfellas membuat film ini seolah menjadi versi tidak serius dari Goodfellas karya Martin Scorsese. Tapi meskipun ceritanya memang seputar dunia mafia dan Scorsese menjadi eksekutif produser bahkan ada adegan yang menampilkan pemutaran film Goodfellas, The Family sama sekali bukanlah parodi dari film tersebut. Selain De Niro, ada nama-nama besar lain seperti Michelle Pfeiffer, Tommy Lee Jones hingga Dianna Agron di jajaran pemainnya. Saya sendiri tidak mengharapkan kisah yang berbobot dari The Family yang memang cukup mengedepankan unsur komedi, apalagi melihat jajaran film Luc Besson akhir-akhir ini yang kualitasnya biasa saja bahkan beberapa diantaranya termasuk film yang buruk. Namun sebagai hiburan yang menyenangkan The Family cukup punya potensi memuaskan saya apalagi melihat jajaran cast yang meyakinkan tersebut. Ceritanya berada seputaran keluarga Giovanni Manzoni (Robert De Niro) dan keluarganya yang sedang berada dalam program perlindungan saksi di bawah pengawasan FBI.

Manzoni terpaksa meninggalkan hidupnya sebagai bos mafia setelah terlibat masalah dengan Don Luchese (Stan Carp) yang membuat sang Don harus mendekam dalam penjara. Atas perbuatannya tersebut, Manzoni dan keluarganya terpaksa hidup di bawah perlindungan FBI yang dipimpin oleh Robert Stansfield (Tommy Lee Jones) dan tingga berpindah-pindah sampai sekarang akhirnya mereka tinggal di kota kecil yang terelat di Normandy, Prancis. Disana masing-masing dari keluarga tersebut harus menghadapi permasalahan yang mereka alami. Giovanni yang hidup dengan identitas Fred Blake tidak bisa meninggalkan rumah karena terus diawasi oleh FBI dan terpaksa menghabiskan waktunya dengan menulis riwayat hidupnya sebagai mafia. Permasalahan datang saat ia mengaku sebagai penulis novel sejarah tentang Normandy landing pada tetangganya walaupun ia sama sekali tidak tahu menahu mengenai peristiwa sejarah tersebut. Sang istri, Maggie (Michelle Pfeiffer) merasa harus menanggun semua perbuatan suaminya yang temperamental dan dia sendiri bermasalah dengan beradaptasi disana. Puteri mereka, Belle (Dianna Agron) yang juga selalu main kasar sedang jatuh cinta pada mahasiswa yang mengajar matematika di sekolahnya. Sedangkan sang putera, Warren (John D'Leo) banyak terlibat permasalahan kekerasan di sekolah. Tapi yang mereka tidak tahu adalah Don Luchese semakin dekat untuk mengetahui keberadaan mereka saat ini dan berniat menghabisi satu keluarga tersebut.

Yang paling menarik dari The Family / Malavita bukanlah kualitas cerita tapi karakter-karakter yang ada di dalamnya. Giovanni a.k.a Fred Blake yang diperankan De Niro adalah sajian utamanya. Dari luar ia seperti pria tua pengangguran biasa yang bahkan tidak bisa memperbaiki pipa ledeng dan hanya menghabiskan waktunya di depan mesin ketik, namun jika dia sudah tersinggung, Fred tidak ragu-ragu menghajar habis orang yang membuatnya marah sampai mematahkan semua tulangnya. Sedangkan Maggie tidak ragu-ragu meledakkan supermarket disaat ia merasa tersinggung oleh komentar orang Prancis tentang dirinya. Sedangkan kedua anak mereka tidak jauh beda dimana untuk menyelesaikan masalah mereka tidak ragu memakai kekerasan, bahkan Warren sang putera seolah benar-benar mewarisi darah mafia sang ayah dengan sanggup melakukan berbagai bisnis kotor dan perekrutan anak buah. Terkesan brutal? Memang The Family tampil brutal tapi dibalik kebrutalan keluarga gila tersebut selalu diselipkan unsur komedi yang membuat masing-masing karakternya tampil lebih menarik. Mungkin mereka terkesan sebagai keluarga disfungsional yang bertindak semau sendiri, tapi di balik itu mereka saling menyayangi dan melindungi satu sama lain dimana faktor itulah yang membuat interaksinya lebih menarik.

Seperti yang sudah saya duga tidak ada yang spesial dari ceritanya. Di samping karakternya yang asyik, ceritanya tergolong sangat sederhana. Tidak ada intrik rumit yang sering muncul dalam film-film bertemakan mafia dengan tone yang serius. Tapi The Family memang tidak berusaha untuk tampil serius. Ceritanya tidak berusaha cerdas dan memang terasa bodoh di beberapa bagian namun juga tidak berusaha terlalu keras untuk menjadi bodoh dengan menjadi parodi film-film mafia seperti Goodfellas. Ini adalah murni hiburan dengan selipan komedi yang cukup efektif. Terkadang komedinya memang berlalu begitu saja dalam artian tidak lucu, tapi saya lebih sering mendapati komedinya berhasil membuat saya tersenyum bahkan beberapa kali membuat tertawa. Bukan komedi cerdas namun tetap menarik untuk ditonton. Sebagai contoh adalah saat Fred yang diperankan De Niro datang ke acara pemutaran sekaligus debat film yang menampilkan film Goodfellas dimana kita tahu bahwa De Niro adalah salah satu aktor yang bermain dalam film garapan Martin Scorsese tersebut. De Niro sendiri tampil bagus disini. Yah jangan harapkan kualitas nomor satu seperti aktingnya di The Godfather II ataupun Goodfellas, namun kemampuannya membawakan sosok karakter yang dingin, brutal namun tetap terlihat lucu jelas patut mendapat pujian disini.

Sampai akhirnya kita dibawa pada sebuah klimaks yang untungnya berhasil menjaga tensi film. Pembangunan konflik menuju final showdown yang memperlihatkan anak buah Don Luchese menginvasi Normandy dan menyerbu rumah Fred terasa sangat menegangkan. Apalagi saat masing-masing anggota keluarga itu berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan keluarga mereka dari maut. Momen menuju final tersebut memang begitu intens dan menegangkan. Namun sayangnya saat eksekusi di pertempuran akhirnya malah terasa anti-klimaks dan berakhir begitu saja seolah-olah Luc Besson kebingungan bagaimana harus mengakhiri pertempuran yang (maunya) epic tersebut. Bahkan adegan aksi "mini" saat masing-masing keluarga Blake menghajar orang-orang di sekitarnya masih lebih menghibur daripada klimkas tersebut. Pada akhirnya The Family jelas tidak setara dengan karya-karya terbaik Luc Besson macam Nikita ataupun Leon: The Professional. Kisahnya juga dangkal dan tidak menyinggung hal-hal seperti ambiguitas yang muncul dalam istilah "keluarga" dalam dunia gangster meski punya potensi besar untuk itu. Tapi setidaknya bukan juga karyanya yang masuk daftar terburuk dan masih jadi hiburan yang cukup menghibur khususnya berkat komedinya yang cukup berhasil dan penampilan maksimal para pemainnya dalam membawakan tokoh-tokoh dengan karakterisasi yang asyik. 

LIMITLESS (2011)

Film ini menyinggung masalah kinerja otak manusia yang "katanya" hanya sanggup memakai otaknya hingga presentase 20% walaupun pernyataan tersebut cukup banyak yang menyangkal. Dalam "Limitless" diceritakan ada obat bernama NZT yang mampu membuat penggunanya menggunakan kapasitas otak sampai 100%. Setelah melihat film ini saya rasa "Limitless" juga butuh mengkonsumsi NZT karena dari yang saya lihat walaupun  diatas 20% tapi film garapan sutradara Neil Burger ini masih jauh dari 100% dalam hal memanfaatkan potensinya. Padahal dengan premise yang menarik dan aktor kelas atas, seharusnya dengan eksekusi maksimal film ini bisa menjadi salah satu yang paling menarik tahun ini.

Eddie Morra (Bradley Cooper) sedang mengalami kondisi yang sangat berantakan dalam hidupnya. Karirnya sebagai penulis diujung tanduk karena sampai sekarang dia masih belum berhasil menuliskan satu katapun. Kehidupan cintanya juga berantakan saat Lindy (Abbie Cornish) yang adalah pacarnya memilih meninggalkan Eddie. Dalam kondisiitulah secara tidak sengaja Eddie bertemu dengan mantan adik iparnya, Vernon (Johnny Withworth) yang lalu memberinya NZT, sebuah obat yang diyakini mampu meningkatkan kinerja otak hingga 100%. Hal itu memang terbukti pada diri Eddie.

Buku yang ditulisnya bisa selesai dengan begitu cepat, dia bisa menyelesaikan segala masalah dengan mudah, bahkan kini Eddie menjadi salah satu pemain saham tersukses. Singkat kata hidupnya yang tadinya buram kini menjadi sangat cerah, apalagi sang kekasih sudah kembali kepadanya. Kini Eddie bermitra dengan Carl Van Loon (Robert De Niro) dalam bisnisnya yang membuat mereka menjadi sukses besar. Tapi Eddie kini menjadi sangat bergantung pada NZT, padahal obat itu ternyata mempunyai efek samping yang sangat berbahaya bagi Eddie. Bukan hanya itu, disekitar Eddie juga ada pihak-pihak yang mencoba menguasai NZT yang dia punya dan berusaha membunuhnya.
Apa yang ditampilkan "Limitless" mungkin bukanlah sebuah science fiction yang punya dasar science yang kuat dan saya rasa sutradara Neil Burger harusnya paham hal tersebut. Karena itu gunakanlah faktor kekurang akuratan sisi science tersebut untuk menciptakan sebuah hiburan yang efektif. Ingat film Bradley Cooper sebelumnya, "The A-Team"? Film itu menghadirkan segala macam adegan action yang jelas-jelas tidak mungkin. Tapi pengemasannya yang sekalian gila membuat filmnya menghibur. Hal itulah yang tidak dimiliki "Limitless". Alih-alih mencoba membuat hiburan maksimal, film ini malah kadang mencoba menjadi film serius dengan menjajal ranah perdagangan saham. Jangan coba-coba menggabungkan science fiction menghibur tapi juga cerdas dengan tema yang serius (baca: berat) jika bukan Nolan atau Duncan Jones (sedikit lebay)

Kekurang maksimalan itulah yang membuat film ini nanggung juga dalam urusan menghibur penonton. Awalnya memang menarik melihat Eddie yang berantakan perlahan menjadi sukses lalu kemudian menemukan ada yang tidak beres dalam obat itu. Tapi disaat plot itu mulai mencoba menjadi "pintar" bahkan mengulang beberapa adegan seperti Eddie yang kembali berantakan lalu sukses lagi saya rasa itu menjadi membosankan. Untung menjelang paruh akhir film kembali menarik bahkan sempat cukup menegangkan. Seperti yang dikatakan Vernen bahwa NZT akan makin manjur kalau pada dasarnya sang pengguna sudah pintar, film ini punya potensi kuat menjadi sangat baik karena dasar premise-nya sudah menarik diluar ketidak logisannya. Tapi sekali lagi masih kurang maksimal.

Jajaran cast yang ada cukup baik. Bradley Cooper menjalani peran yang karakterisasinya tidak jauh beda dengan perannya sebagai Peckman (The A-Team) atau Phil (The Hangover), bahkan seperti gabungan keduanya. Yaitu pria tampan berkharisma yang harus berurusan dengan banyak pihak yang membahayakan nayawanya dan dia bermasalah dengan kesadarannya. Bedanya, kali ini Bradley Cooper mendapat porsi yang lebih banyak, sehingga dia bisa memperlihatkan kharisma yang cukup bagus. Begitu pula dengan Robert De Niro yang terlihat sebagai satu-satunya orang yang sanggup menyaingi kharisma dan wibawa Bradley Cooper.

Salah satu penyelamat terbesar film ini adalah sajian visual yang menuntun jalannya cerita serta memberi gambaran-gambaran mengenai dampak NZT pada tubuh Eddie yang digambarkan dengan visualisasi yang sangat menarik. Begitu pula openingnya yang menarik dan sempat membuat saya berharap banyak pada film ini secara keseluruan. Sungguh sangat disayangkan, seharusnya "Limitless" mampu menjadi sebuah film berpredikat "sangat bagus" tapi akibat kurang maksimal dalam eksekusi.