Tampilkan postingan dengan label Robert De Niro. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Robert De Niro. Tampilkan semua postingan
THE IRISHMAN (2019)
Rasyidharry
Goodfellas (1990) dan Casino (1995), ibarat glamorisasi Martin Scorsese terhadap mafia
yang ia idolakan sewaktu kecil, walau di akhir, selalu ditunjukkan bagaimana
pilihan hidup itu bakal berakhir buruk. Kini, dalam The Irishman, menyentuh usia 77 tahun, Scorsese mungkin telah
menemukan closure, menyadari bahwa
segala kekuatan dan kekerasan itu tak lagi nampak keren, hanya menyebabkan
penderitaan, kesepian, yang hanya bermuara pada satu poin: kematian.
Itulah kenapa, mengiringi pengenalan banyak karakter film
ini, selalu tercantum kapan serta bagaimana mereka meregang nyawa, di mana
mayoritas (kecuali satu nama), tewas akibat dibunuh. Mengadaptasi buku nonfiksi
I Head You Paint Houses karya Charles
Brandt yang hingga sekarang kebenarannya diperdebatkan, kisahnya dipaparkan
melalui sudut pandang Frank Sheeran (Robert De Niro), veteran Perang Dunia II,
yang pada tahun 1950an, bekerja sebagai sopir truk di Philadelphia.
Satu hal yang seketika mencuri perhatian pada era tersebut
adalah teknologi de-aging untuk memudakan
tampilan fisik De Niro (dan lebih dari satu jam kemudian, Al Pacino). Sempurna?
Mungkin belum. Beberapa garis wajah yang terlalu mulus masih nampak bila
diperhatikan saksama, tapi cukup sebagai ilusi agar penonton percaya tengah
melihat pria berumur 30-40an tahun. Satu hal yang sukar disembunyikan adalah
kondisi fisik sang actor. Mustahil De Niro bergestur seolah masih berada di
masa jayanya, sehingga sedikit aneh kala menyaksikan Frank menghajar seorang
pemilik toko roti.
Tapi itu sebatas kelemahan minor yang nyaris tak mengganggu
perjalanan 209 menit (hampir tiga setengah jam) yang filmnya tawarkan. Dari
mengantar ikan bagi mafia lokal, reputasi Frank sampai di telinga Russell
Bufalino (Joe Pesci), pemimpin kelompok mafia Bufalino. Sebagaimana digambarkan
Frank, Russell merupakan “penguasa jalan”. Semua bisnis kotor hingga pembunuhan
harus seizing Russell. Frank mulai jadi sosok kepercayaan Russell, menjalankan
banyak misi, termasuk “painted houses”
dan “carpentry”.
Keduanya adalah istilah mafia. “painted houses” berarti membunuh (karena saat menembak target,
darah orang itu akan muncrat seperti cat di tembok), sedangkan “carpentry” berarti menyingkirkan tubuh
korban. Beberapa pihak meragukan keabsahan istilah-istilah tersebut, namun di
situ terletak salah satu daya tarik The
Irishman. Ditulis naskahnya oleh Steven Zaillian (Schindler’s List, Gangs of New York, Moneyball), film ini bak
panduan soal dunia mafia. Selain istilah, Frank turut “mengajari” kita soal
pemilihan pistol yang tepat. Pastikan pistol itu menimbulkan suara agar para
saksi mata kabur dan kesulitan mengenali wajahmu, tapi jangan terlalu keras
atau mobil patrol bakal menyatroni lokasi. Apakah realitanya demikian? Tidak
jadi soal. Terpenting, The Irishman mendapat
kadar hiburan tinggi berkatnya.
Seiring waktu, Frank dan Russell semakin akrab, bahkan
keluarga masing-masing kerap menghabiskan waktu bersama. Pembicaraan keduanya
senantiasa memikat karena dua hal: akting dan penyutradaraan. De Niro, yang
lebih pasif ketimbang mayoritas lawan bicaranya siapa pun itu, mampu menyiratkan
kekalutan batin yang makin lama makin kuat, tapi Joe Pesci, yang kembali dari
masa pensiun setelah hampir satu dekade, merupakan MVP-nya.
Sosoknya berjalan di garis ambigu antara pria pemurah dan gangster keji, lalu
dengan mudah menarik atensi lewat senyum maupun tatapan mengintimdasi tanpa
harus berusaha melakukannya.
Contohnya ketika Russell
menemani Angelo Bruno (Harvey Keitel) mengonfrontasi Frank pasca ia meledakkan sebuah
tempat laundry. Pesci hanya duduk diam. Bibirnya menyunggingkan senyum
sementara kedua tangannya tersembunyi di balik meja, bagai seorang bocah yang
bersemangat menantikan sebungkus hadiah. Apa arti senyum itu? Formalitas?
Penenang bagi Frank? Atau ada intensi terselubung? Mana pun itu, saya dibuat
merinding ngeri menyaksikannya.
Terkait
penyutradaraan, silahkan perhatikan betul tiap pengadeganan, dan lewat beragam
detailnya, anda akan mendapati betapa hebat seorang Martin Scorsese. Beberapa
tampil subtil, misalnya obrolan Frank dan Russell di sebuah café. Ditemani
iringan biola yang samar-samar memainkan Speak
Softly Love dari The Godfather, ditambah
tempo berlangsungnya pembicaraan (penuturan aktor, perpindahan shot), momen itu memunculkan intensitas
elegan, seperti musik jazz yang seseorang dengar sesaat sebelum ajal menjemput.
Sejak debutnya di Who’s That Knocking at My Door (1967),
Scorsese memang sudah memperlihatkan kepekaan dalam mengawinkan media audio
dengan visual. Pilihan musiknya berhasil menyempurnakan atmosfer adegan. Kali
ini, selain scoring garapan komposer langganannya,
Robbie Robertson, lagu dari beragam genre, khususnya rock ‘n roll dan jazz
rutin menemani, dengan In the Still of
the Night milik The Five Satins yang terdengar mistis jadi musik yang bakal
terus terngiang di benak penonton untuk waktu lama.
Bukan cuma yang
bersifat subtil, penyutradaraan Scorsese juga bersinar kala sang sineas
membuktikan bahwa usia sekadar angka, dan tak menghalanginya memamerkan gaya
bertenaga. Beberapa kali take panjang
diterapkan, di mana penembakan yang Frank lakukan di sebuah restoran bakal
membuatmu terkejut, kemudian terpukau. Sementara transisi mulus pagi menuju
malam di rumah sakit jelang film berakhir akan memancing pertanyaan tentang
trik macam apa yang Scorsese dan timnya pakai.
Scorsese boleh memimpin,
namun pencapaian The Irishman takkan
terjadi tanpa kontribusi timnya. Penyuntingan Thelma Schoonmaker yang telah
jadi kolaboratornya sejak Raging Bull (1980)
membantu Scorsese menyampaikan repetisi dalam keseharian Frank kala sebuah rentetan
peristiwa dimunculkan berulang kali secara beruntun (mengantar daging, membuang
pistol, mengambil uang setoran), juga…..humor!
Ya, biarpun mengusung
tema kelam nan kejam, The Irishman di
luar dugaan cukup menggelitik. Film ini bukan saja Scorsese dalam fase paling
matang dan nyaman, juga playful.
Bagaimana ia menggambarkan proses “penghantara pesan” antara pelaku dunia hitam
(yang melibatkan banyak bahan peledak) contohnya.
Semakin jauh
filmnya berjalan, semakin saya dibuat tercengang oleh seberapa kuat pengaruh
gangster dalam berjalannya negara adidaya bernama Amerika. Setumpuk karakter
datang dan pergi, tapi Zaillian memastikan penonton dapat memilah “siapa adalah
siapa” melalui kejelasan serta kesolidan struktur bercerita. Gerbang menuju konspirasi-konspirasi
besar dibuka setelah oleh Russell, Frank diperkenalkan pada Jimmy Hoffa (Al
Pacino), ketua serikat buruh International
Brotherhood of Teamsters. Jimmy, yang dideskripsikan oleh Frank sebagai “sebesar
Elvis”, amat berpengaruh, kekuasaannya saat itu mungkin hanya di bawah Presiden
(atau malah lebih?). Serupa kondisinya bersama Russell, Frank mulai mendapat
kepercayaan Jimmy, menjadi bodyguard kepercayaannya,
bahkan Jimmy menjadi figur ayah yang dirindukan puteri Frank, Peggy (Anna
Paquin).
Keluarga merupakan
salah satu pokok bahasan utama The
Irishman, yang penuturannya kental ironi. Frank ingin melindungi
keluarganya, termasuk Peggy, namun semakin jauh ia terlibat dalam dunia bawah
tanah—yang ia anggap menambah kekuatan, kekuasaan, dan keamanan—semakin menjauh
pula sang puteri. Dari situ awal segala tragedi The Irishman, yang menolak meromantisasi dan mendramatisasi
kematian. Bahkan kematian terpenting sepanjang film tak diperlakukan dengan
spesial. Itulah poin yang ingin diutarakan Scorsese. Dunia mafia hanya membawa
kematian, dan kematian hanya kematian. Sebuah akhir. Tinggal bagaimana, dan
dengan siapa seseorang menantikan akhir itu tiba.
Available on NETFLIX
Desember 04, 2019
Al Pacino
,
Anna Paquin
,
Crime
,
Harvey Keitel
,
Joe Pesci
,
Martin Scorsese
,
REVIEW
,
Robbie Robertson
,
Robert De Niro
,
Sangat Bagus
,
Steven Zaillian
,
Thelma Schoonmaker
JOKER (2019)
Rasyidharry
Ada perasaan aneh menyerang selepas
menonton Joker. Saya hampir menangis,
tapi juga merasa geli sampai ingin terkekeh. Sukar dijamah nalar, namun
begitulah ironi kehidupan yang hendak disampaikan oleh filmnya. Kompleks,
membingungkan, mustahil dipandang sebagai hitam dan putih. Mengutamakan
eksplorasi psikologis ketimbang aksi bombastis, inilah “film adaptasi komik
dengan pendekatan realistis” yang sesungguhnya, bukan trilogi The Dark Knight (terlepas dari kualitas luar
biasa miliknya).
Realistis, sebab serupa dunia
nyata, baik/buruk suatu persoalan dalam karya teranyar sutradara Todd Phillips
(trilogi The Hangover) ini tidak
selalu bisa didefinisikan dengan gampang. Contohnya: Sebagai biang onar
sekaligus pembunuh (tentu ini bukan spoiler),
yang terbentuk sebagai hasil kebobrokan nurani masyarakat, haruskah kita
bersimpati pada Arthur Fleck alias Joker (Joaquin Phoenix)?
Menjawab pertanyaan di atas bukan
tujuan Joker, sebab film ini tak
berniat menghakimi melainkan melakukan studi. Arthur merupakan komedian stand-up gagal yang mencari nafkah
sebagai badut di siang hari. Di rumah, ia mesti merawat ibunya, Penny Fleck
(Frances Conroy), yang terobsesi mengirim surat kepada Thomas Wayne (Brett
Cullen), agar sang milyuner sekaligus calon Walikota Gotham, bersedia menolong
kesulitan finansial yang mereka alami.
Setiap malam, bersama Penny, Arthur
setia menonton acara bincang-bincang yang dipandu idolanya, Murray Franklin
(Robert De Niro), bermimpi, kelak dapat berdiri di atas panggung, menjadi pusat
perhatian yang dicintai publik lewat kelucuannya. Nyatanya, Arthur memang kerap
jadi pusat perhatian, tapi bukan didorong kelucuannya. Orang-orang menganggapnya
aneh, khususnya dipicu pseudobulbar
affect (gangguan emosi di mana penderita tertawa atau menangis secara tidak terkontrol) yang ia derita. Masyarakat tertawa bukan disebabkan lelucon Arthur.
Dialah lelucon itu sendiri.
Kisah Joker tidak mengadaptasi komik mana pun (naskahnya amat cerdik
memodifikasi mitologi Batman) tapi naskah buatan Todd Phillips dan Scott Silver
(8 Mile, The Fighter, The Finest Hours)
tetap berhasil menangkap esensi karakternya, yakni ironi. Arthur percaya, bahwa
seperti kata-kata sang ibu, takdirnya adalah membuat orang bahagia melalui
tawa. Tapi jangankan bahagia, tertawa pun ia tak mampu. Ketika rekan-rekan
kerjanya berkelakar, Arthur memalsukan tawanya. Pun ada adegan di mana Arthur menyaksikan
pertunjukan komedi sebagai bahan riset, lalu dia tertawa kala penonton lain
terdiam, dan sebaliknya. Sekalinya benar-benar tertawa, itu akibat gangguan emosinya.
Sempat timbul kekhawatiran adanya
tendensi menjustifikasi para maniak pelaku pembantaian. Pihak yang meneriakkan itu, entah keliru menginterpretasi atau belum menonton dan
terbutakan oleh “perjuangan” tanpa arah nan salah kaprah. Joker, sebagaimana Taxi
Driver (1976) selaku salah satu inspirasi terbesarnya, bukan glorifikasi kekerasan, namun tamparan pembangkit kesadaran bermasyarakat,
termasuk kepedulian terhadap penderita gangguan mental.
Mendukung intensi di atas adalah
performa Joaquin Phoenix yang (lagi-lagi) pantas dibanjiri penghargaan. Phoenix
total bertransformasi. Selain mengurangi berat badan sebanyak 24 kg, ia membentuk
gestur-gestur, dari cara berjalan hingga detail gerakan lain, yang mewakili
kecanggungan sosial Arthur. Sementara tawanya, atau tepatnya usaha menahan tawa, menghadirkan kepiluan menusuk. Mungkin akting Phoenix juga salah satu penyebab
perasaan aneh seperti saya bahas di kalimat pembuka. Phoenix menyalurkan
gejolak batin yang dialami Arthur kepada penonton, tanpa kita sadari.
Berlangsung selama kurang lebih dua
jam tanpa set-piece aksi layaknya
film adaptasi buku komik lain, Joker juga
cerdik menyelipkan kejutan-kejutan kecil, yang bisa saja berlalu begitu saja
bila dieksekusi secara lemah, tapi berkat kepiawaian Phillips mengatur timing (kapan tepatnya suatu kejutan
mesti menghentak), dampaknya luar biasa. Selain “percikan kecil”, ada satu twist mayor, yang selain menambah daya
kejut, eksistensinya berguna menambah rasa sakit yang menikam hati Arthur dan
penonton.
Joker bagai pertunjukan yang mempertemukan opera tragedi dengan
balet, saat komposisi musik karya Hildur Guðnadóttir (Sicario: Day of Soldado) kerap memperdengarkan orkestrasi megah
(ditambah kecerdikan Todd Phillips menyusun daftar putar lagu), sementara
Phoenix beberapa kali melakoni adegan menari. Bukan tarian hasil koreografi,
melainkan wujud ekspresi diri. Joker memang
adaptasi komik superhero (atau supervillain) langka, di mana rasa lebih
diutamakan ketimbang laga.
Oktober 03, 2019
Brett Cullen
,
Drama
,
Frances Conroy
,
Hildur Guðnadóttir
,
Joaquin Phoenix
,
REVIEW
,
Robert De Niro
,
Sangat Bagus
,
Scott Silver
,
Thriller
,
Todd Phillips
THE FAMILY (2013)
Rasyidharry
Film garapan Luc Besson ini dibintangi Robert De Niro dan diangkat dari novel karya Tonino Benacquista berjudul Malavita yang artinya Badfellas membuat film ini seolah menjadi versi tidak serius dari Goodfellas karya Martin Scorsese. Tapi meskipun ceritanya memang seputar dunia mafia dan Scorsese menjadi eksekutif produser bahkan ada adegan yang menampilkan pemutaran film Goodfellas, The Family sama sekali bukanlah parodi dari film tersebut. Selain De Niro, ada nama-nama besar lain seperti Michelle Pfeiffer, Tommy Lee Jones hingga Dianna Agron di jajaran pemainnya. Saya sendiri tidak mengharapkan kisah yang berbobot dari The Family yang memang cukup mengedepankan unsur komedi, apalagi melihat jajaran film Luc Besson akhir-akhir ini yang kualitasnya biasa saja bahkan beberapa diantaranya termasuk film yang buruk. Namun sebagai hiburan yang menyenangkan The Family cukup punya potensi memuaskan saya apalagi melihat jajaran cast yang meyakinkan tersebut. Ceritanya berada seputaran keluarga Giovanni Manzoni (Robert De Niro) dan keluarganya yang sedang berada dalam program perlindungan saksi di bawah pengawasan FBI.
Manzoni terpaksa meninggalkan hidupnya sebagai bos mafia setelah terlibat masalah dengan Don Luchese (Stan Carp) yang membuat sang Don harus mendekam dalam penjara. Atas perbuatannya tersebut, Manzoni dan keluarganya terpaksa hidup di bawah perlindungan FBI yang dipimpin oleh Robert Stansfield (Tommy Lee Jones) dan tingga berpindah-pindah sampai sekarang akhirnya mereka tinggal di kota kecil yang terelat di Normandy, Prancis. Disana masing-masing dari keluarga tersebut harus menghadapi permasalahan yang mereka alami. Giovanni yang hidup dengan identitas Fred Blake tidak bisa meninggalkan rumah karena terus diawasi oleh FBI dan terpaksa menghabiskan waktunya dengan menulis riwayat hidupnya sebagai mafia. Permasalahan datang saat ia mengaku sebagai penulis novel sejarah tentang Normandy landing pada tetangganya walaupun ia sama sekali tidak tahu menahu mengenai peristiwa sejarah tersebut. Sang istri, Maggie (Michelle Pfeiffer) merasa harus menanggun semua perbuatan suaminya yang temperamental dan dia sendiri bermasalah dengan beradaptasi disana. Puteri mereka, Belle (Dianna Agron) yang juga selalu main kasar sedang jatuh cinta pada mahasiswa yang mengajar matematika di sekolahnya. Sedangkan sang putera, Warren (John D'Leo) banyak terlibat permasalahan kekerasan di sekolah. Tapi yang mereka tidak tahu adalah Don Luchese semakin dekat untuk mengetahui keberadaan mereka saat ini dan berniat menghabisi satu keluarga tersebut.
Yang paling menarik dari The Family / Malavita bukanlah kualitas cerita tapi karakter-karakter yang ada di dalamnya. Giovanni a.k.a Fred Blake yang diperankan De Niro adalah sajian utamanya. Dari luar ia seperti pria tua pengangguran biasa yang bahkan tidak bisa memperbaiki pipa ledeng dan hanya menghabiskan waktunya di depan mesin ketik, namun jika dia sudah tersinggung, Fred tidak ragu-ragu menghajar habis orang yang membuatnya marah sampai mematahkan semua tulangnya. Sedangkan Maggie tidak ragu-ragu meledakkan supermarket disaat ia merasa tersinggung oleh komentar orang Prancis tentang dirinya. Sedangkan kedua anak mereka tidak jauh beda dimana untuk menyelesaikan masalah mereka tidak ragu memakai kekerasan, bahkan Warren sang putera seolah benar-benar mewarisi darah mafia sang ayah dengan sanggup melakukan berbagai bisnis kotor dan perekrutan anak buah. Terkesan brutal? Memang The Family tampil brutal tapi dibalik kebrutalan keluarga gila tersebut selalu diselipkan unsur komedi yang membuat masing-masing karakternya tampil lebih menarik. Mungkin mereka terkesan sebagai keluarga disfungsional yang bertindak semau sendiri, tapi di balik itu mereka saling menyayangi dan melindungi satu sama lain dimana faktor itulah yang membuat interaksinya lebih menarik.
Manzoni terpaksa meninggalkan hidupnya sebagai bos mafia setelah terlibat masalah dengan Don Luchese (Stan Carp) yang membuat sang Don harus mendekam dalam penjara. Atas perbuatannya tersebut, Manzoni dan keluarganya terpaksa hidup di bawah perlindungan FBI yang dipimpin oleh Robert Stansfield (Tommy Lee Jones) dan tingga berpindah-pindah sampai sekarang akhirnya mereka tinggal di kota kecil yang terelat di Normandy, Prancis. Disana masing-masing dari keluarga tersebut harus menghadapi permasalahan yang mereka alami. Giovanni yang hidup dengan identitas Fred Blake tidak bisa meninggalkan rumah karena terus diawasi oleh FBI dan terpaksa menghabiskan waktunya dengan menulis riwayat hidupnya sebagai mafia. Permasalahan datang saat ia mengaku sebagai penulis novel sejarah tentang Normandy landing pada tetangganya walaupun ia sama sekali tidak tahu menahu mengenai peristiwa sejarah tersebut. Sang istri, Maggie (Michelle Pfeiffer) merasa harus menanggun semua perbuatan suaminya yang temperamental dan dia sendiri bermasalah dengan beradaptasi disana. Puteri mereka, Belle (Dianna Agron) yang juga selalu main kasar sedang jatuh cinta pada mahasiswa yang mengajar matematika di sekolahnya. Sedangkan sang putera, Warren (John D'Leo) banyak terlibat permasalahan kekerasan di sekolah. Tapi yang mereka tidak tahu adalah Don Luchese semakin dekat untuk mengetahui keberadaan mereka saat ini dan berniat menghabisi satu keluarga tersebut.
Yang paling menarik dari The Family / Malavita bukanlah kualitas cerita tapi karakter-karakter yang ada di dalamnya. Giovanni a.k.a Fred Blake yang diperankan De Niro adalah sajian utamanya. Dari luar ia seperti pria tua pengangguran biasa yang bahkan tidak bisa memperbaiki pipa ledeng dan hanya menghabiskan waktunya di depan mesin ketik, namun jika dia sudah tersinggung, Fred tidak ragu-ragu menghajar habis orang yang membuatnya marah sampai mematahkan semua tulangnya. Sedangkan Maggie tidak ragu-ragu meledakkan supermarket disaat ia merasa tersinggung oleh komentar orang Prancis tentang dirinya. Sedangkan kedua anak mereka tidak jauh beda dimana untuk menyelesaikan masalah mereka tidak ragu memakai kekerasan, bahkan Warren sang putera seolah benar-benar mewarisi darah mafia sang ayah dengan sanggup melakukan berbagai bisnis kotor dan perekrutan anak buah. Terkesan brutal? Memang The Family tampil brutal tapi dibalik kebrutalan keluarga gila tersebut selalu diselipkan unsur komedi yang membuat masing-masing karakternya tampil lebih menarik. Mungkin mereka terkesan sebagai keluarga disfungsional yang bertindak semau sendiri, tapi di balik itu mereka saling menyayangi dan melindungi satu sama lain dimana faktor itulah yang membuat interaksinya lebih menarik.
Seperti
yang sudah saya duga tidak ada yang spesial dari ceritanya. Di samping
karakternya yang asyik, ceritanya tergolong sangat sederhana. Tidak ada intrik
rumit yang sering muncul dalam film-film bertemakan mafia dengan tone
yang serius. Tapi The Family memang tidak berusaha untuk tampil serius.
Ceritanya tidak berusaha cerdas dan memang terasa bodoh di beberapa bagian
namun juga tidak berusaha terlalu keras untuk menjadi bodoh dengan menjadi
parodi film-film mafia seperti Goodfellas. Ini adalah murni hiburan
dengan selipan komedi yang cukup efektif. Terkadang komedinya memang berlalu
begitu saja dalam artian tidak lucu, tapi saya lebih sering mendapati komedinya
berhasil membuat saya tersenyum bahkan beberapa kali membuat tertawa. Bukan
komedi cerdas namun tetap menarik untuk ditonton. Sebagai contoh adalah saat
Fred yang diperankan De Niro datang ke acara pemutaran sekaligus debat film
yang menampilkan film Goodfellas dimana kita tahu bahwa De Niro adalah
salah satu aktor yang bermain dalam film garapan Martin Scorsese tersebut. De
Niro sendiri tampil bagus disini. Yah jangan harapkan kualitas nomor satu
seperti aktingnya di The Godfather II ataupun Goodfellas, namun
kemampuannya membawakan sosok karakter yang dingin, brutal namun tetap terlihat
lucu jelas patut mendapat pujian disini.
Sampai
akhirnya kita dibawa pada sebuah klimaks yang untungnya berhasil menjaga tensi
film. Pembangunan konflik menuju final showdown yang memperlihatkan anak
buah Don Luchese menginvasi Normandy dan menyerbu rumah Fred terasa sangat
menegangkan. Apalagi saat masing-masing anggota keluarga itu berpacu dengan
waktu untuk menyelamatkan keluarga mereka dari maut. Momen menuju final
tersebut memang begitu intens dan menegangkan. Namun sayangnya saat eksekusi di
pertempuran akhirnya malah terasa anti-klimaks dan berakhir begitu saja
seolah-olah Luc Besson kebingungan bagaimana harus mengakhiri pertempuran yang
(maunya) epic tersebut. Bahkan adegan aksi "mini" saat
masing-masing keluarga Blake menghajar orang-orang di sekitarnya masih lebih
menghibur daripada klimkas tersebut. Pada akhirnya The Family jelas
tidak setara dengan karya-karya terbaik Luc Besson macam Nikita ataupun Leon:
The Professional. Kisahnya juga dangkal dan tidak menyinggung hal-hal
seperti ambiguitas yang muncul dalam istilah "keluarga" dalam dunia
gangster meski punya potensi besar untuk itu. Tapi setidaknya bukan juga
karyanya yang masuk daftar terburuk dan masih jadi hiburan yang cukup menghibur
khususnya berkat komedinya yang cukup berhasil dan penampilan maksimal para
pemainnya dalam membawakan tokoh-tokoh dengan karakterisasi yang asyik.
Desember 20, 2013
Comedy
,
Crime
,
Cukup
,
Dianna Agron
,
European Film
,
France Film
,
John DLeo
,
Luc Besson
,
Michelle Pfeiffer
,
REVIEW
,
Robert De Niro
,
Stan Carp
,
Tommy Lee Jones
LIMITLESS (2011)
Rasyidharry
Film ini menyinggung masalah kinerja otak manusia yang "katanya" hanya sanggup memakai otaknya hingga presentase 20% walaupun pernyataan tersebut cukup banyak yang menyangkal. Dalam "Limitless" diceritakan ada obat bernama NZT yang mampu membuat penggunanya menggunakan kapasitas otak sampai 100%. Setelah melihat film ini saya rasa "Limitless" juga butuh mengkonsumsi NZT karena dari yang saya lihat walaupun diatas 20% tapi film garapan sutradara Neil Burger ini masih jauh dari 100% dalam hal memanfaatkan potensinya. Padahal dengan premise yang menarik dan aktor kelas atas, seharusnya dengan eksekusi maksimal film ini bisa menjadi salah satu yang paling menarik tahun ini.
Eddie Morra (Bradley Cooper) sedang mengalami kondisi yang sangat berantakan dalam hidupnya. Karirnya sebagai penulis diujung tanduk karena sampai sekarang dia masih belum berhasil menuliskan satu katapun. Kehidupan cintanya juga berantakan saat Lindy (Abbie Cornish) yang adalah pacarnya memilih meninggalkan Eddie. Dalam kondisiitulah secara tidak sengaja Eddie bertemu dengan mantan adik iparnya, Vernon (Johnny Withworth) yang lalu memberinya NZT, sebuah obat yang diyakini mampu meningkatkan kinerja otak hingga 100%. Hal itu memang terbukti pada diri Eddie.
Buku yang ditulisnya bisa selesai dengan begitu cepat, dia bisa menyelesaikan segala masalah dengan mudah, bahkan kini Eddie menjadi salah satu pemain saham tersukses. Singkat kata hidupnya yang tadinya buram kini menjadi sangat cerah, apalagi sang kekasih sudah kembali kepadanya. Kini Eddie bermitra dengan Carl Van Loon (Robert De Niro) dalam bisnisnya yang membuat mereka menjadi sukses besar. Tapi Eddie kini menjadi sangat bergantung pada NZT, padahal obat itu ternyata mempunyai efek samping yang sangat berbahaya bagi Eddie. Bukan hanya itu, disekitar Eddie juga ada pihak-pihak yang mencoba menguasai NZT yang dia punya dan berusaha membunuhnya.
Apa yang ditampilkan "Limitless" mungkin bukanlah sebuah science fiction yang punya dasar science yang kuat dan saya rasa sutradara Neil Burger harusnya paham hal tersebut. Karena itu gunakanlah faktor kekurang akuratan sisi science tersebut untuk menciptakan sebuah hiburan yang efektif. Ingat film Bradley Cooper sebelumnya, "The A-Team"? Film itu menghadirkan segala macam adegan action yang jelas-jelas tidak mungkin. Tapi pengemasannya yang sekalian gila membuat filmnya menghibur. Hal itulah yang tidak dimiliki "Limitless". Alih-alih mencoba membuat hiburan maksimal, film ini malah kadang mencoba menjadi film serius dengan menjajal ranah perdagangan saham. Jangan coba-coba menggabungkan science fiction menghibur tapi juga cerdas dengan tema yang serius (baca: berat) jika bukan Nolan atau Duncan Jones (sedikit lebay)
Kekurang maksimalan itulah yang membuat film ini nanggung juga dalam urusan menghibur penonton. Awalnya memang menarik melihat Eddie yang berantakan perlahan menjadi sukses lalu kemudian menemukan ada yang tidak beres dalam obat itu. Tapi disaat plot itu mulai mencoba menjadi "pintar" bahkan mengulang beberapa adegan seperti Eddie yang kembali berantakan lalu sukses lagi saya rasa itu menjadi membosankan. Untung menjelang paruh akhir film kembali menarik bahkan sempat cukup menegangkan. Seperti yang dikatakan Vernen bahwa NZT akan makin manjur kalau pada dasarnya sang pengguna sudah pintar, film ini punya potensi kuat menjadi sangat baik karena dasar premise-nya sudah menarik diluar ketidak logisannya. Tapi sekali lagi masih kurang maksimal.
Jajaran cast yang ada cukup baik. Bradley Cooper menjalani peran yang karakterisasinya tidak jauh beda dengan perannya sebagai Peckman (The A-Team) atau Phil (The Hangover), bahkan seperti gabungan keduanya. Yaitu pria tampan berkharisma yang harus berurusan dengan banyak pihak yang membahayakan nayawanya dan dia bermasalah dengan kesadarannya. Bedanya, kali ini Bradley Cooper mendapat porsi yang lebih banyak, sehingga dia bisa memperlihatkan kharisma yang cukup bagus. Begitu pula dengan Robert De Niro yang terlihat sebagai satu-satunya orang yang sanggup menyaingi kharisma dan wibawa Bradley Cooper.
Salah satu penyelamat terbesar film ini adalah sajian visual yang menuntun jalannya cerita serta memberi gambaran-gambaran mengenai dampak NZT pada tubuh Eddie yang digambarkan dengan visualisasi yang sangat menarik. Begitu pula openingnya yang menarik dan sempat membuat saya berharap banyak pada film ini secara keseluruan. Sungguh sangat disayangkan, seharusnya "Limitless" mampu menjadi sebuah film berpredikat "sangat bagus" tapi akibat kurang maksimal dalam eksekusi.
Juli 23, 2011
Abbie Cornish
,
Bradley Cooper
,
Cukup
,
Johnny Withworth
,
Neil Burger
,
REVIEW
,
Robert De Niro
,
Science-Fiction
,
Thriller
Langganan:
Komentar
(
Atom
)









