THE LAST STAND (2013)

Tidak ada komentar
Memang lewat The Expendables dan sekuelnya kita bisa melihat penampilan Arnold Schwarzenegger di layar lebar, khususnya di film kedua saat dia bersama Stallone dan Willis bersama menembaki para musuh.Tapi kapan terakhir kali sang Governator menjadi tokoh utama dalam filmnya? Jawabannya adalah satu dekade yang lalu dimana ia bermain di Terminator 3: Rise of the Machines. Pada akhirnya saat masa jabatannya sebagai Gubernur berakhir pada tahun 2011 lalu Schwarzenegger menyatakan siap kembali berakting. Yep, he's back! Kendaraan pertama Arnold untuk melakukan come back adalah The Last Stand yang juga menjadi debut film Amerika pertama bagi sutradara asal Korea, Kim Ji-woon. Tentu saja saya bersemangat menyambut film ini. Arnold adalah salah sato action star favorit saya yang filmnya jelas jauh lebih bagus daripada film-film Stallone dan Van Damme. Sedangkan Kim Ji-woon sudah menelurkan banyak film-film hebat dan gila dimana salah satunya adalah I Saw the Devil yang bagi saya adalah salah satu film terbaik di tahun 2011 lalu. Trailer-nya memang terlihat biasa saja, seperti sebuah film aksi generik tahun 80-an, tapi ternyata The Last Stand memberikan hiburan yang jauh lebih menyenangkan dan come back yang layak bagi Arnold.

Di sebuah kota kecil bernama Sommerton Junction yang terletak di Arizona, tinggal seorang Sherrif bernama Ray Owens (Schwarzenegger) yang mencari ketenangan setelah selama ini menjalani kehidupan yang keras sebagai polisi bagian narkotika di Los Angeles. Di kota kecil yang tenang itu, Ray hanya punya tiga anak buah yaitu Mike Figuerola (Luis Guzman) yang hobi menembak daging bersama Lewis Dinkum (Johnny Knoxville) yang aneh dan gemar mengoleksi senajata, Sarah Torrance (Jaimie Alexander) yang bermasalah dengan sang mantan kekasih, Frank Martinez (Rodrigo Santoro) dan yang terakhir adalah deputi muda Jerry Bailey (Zach Gilford) yang berkeinginan menjadi polisi di Los Angeles seperti Ray. Suatu hari ketenangan kota itu terganggu disaat Gabriel Cortez (Eduardo Noriega) seorang bandar narkoba kelas kakap yang tengah dibawa oleh FBI tiba-tiba kabur dan berusaha lari ke Meksiko. Kubu FBI dibuat kewalahan dengan Cortez dan anak buahnya. Semua usaha untuk menghentikan Cortez yang melaju kencang sambil membawa sandera seorang agen FBI, Ellen Richards (Genesis Rodriguez) berhasil digagalkan. Sampai akhirnya Cortez sampai ke Sommerton Junction untuk menyeberang. Tapi disana perlawanan terakhir dari Ray dan para deputinya sudah menunggu.

Tentu saja plot ceritanya setipis kertas. Ada kartel narkoba Meksiko yang sadis, FBI yang kewalahan, dan tentunya seorang jagoan tua yang sudah seharusnya pensiun tapi masih bad-ass. Tapi dalam 107 menit durasinya, The Last Stand tidak pernah terasa membosankan. Memang tidak ada twist dan kegilaan luar biasa layaknya film-film Kim Ji-woon yang lain, tapi sang sutradara tetap menunjukkan ciri khasnya yang tahu betul bagaimana caranya membangun pondasi cerita yang sederhana ini menjadi menarik untuk diikuti sebelum pada akhirnya mencapai klimaks super seru yang bertempat di sebuah kota kecil nan damai tersebut. Kita tidak langsung disuguhkan kehebatan sosok Arnold disini. Paruh awal diisioleh berbagai pengenalan karakter yang tidak spesial tapi tetap terasa menarik. Sebelum sang Sheriff beraksi, kita akan lebih dulu diajak mengikuti kebrutalan Gabriel Cortez yang mencoba kabur dari kejaran FBI. Mayoritas aksinya dirangkum lewat adegan car chase yang memang sudah jadi trade mark film aksi. Saya jarang dibuat terkesima oleh adegan kejar-kejaran mobil, tapi The Last Stand sanggup membuat saya sangat terhibur. Kuncinya adalah berikan sebuah mobil Chevrolet Corvette ZR1 yang sudah dimodifikasi dengan kekuatan 1000 tenaga kuda, dan buat penonton penasaran bagaimana mobil yang kedengarannya super kuat itu beraksi. Hasilnya adalah car chase super seru dengan kecepatan tinggi.
Begitu banyak aksi brutal yang keren dan seru di momen kejar-kejaran tersebut. Ada rangkaian adegan keren yang jadi favorit saya disaat Cortez menembus barikade mobil polisi dengan bantuan sebuah truk raksasa dan pada akhirnya berhasil menghilang dari pantauan helikopter FBI dengan cukup cerdik. Sampai akhirnya momen aksi sampai di Sommerton dan saya dibuat menunggu dengan tidak sabar aksi Arnold. Penantian saya dibayar lunas saat sang Sheriff mulai beraksi dengan begitu keren saat truknya melindas salah sat anak buah Cortez dan mulai menembaki mereka satu persatu. Saya pun bersorak melihat momen kembalinya sang legenda film aksi ini. Klimaks-nya pun tidak main-main. Layaknya sebuah permainan tower defense,Ray dan deputi-deputinya mempertahankan kota tersebut dari serangan Cortez dan anaki buahnya. Disinuilah kehebatan Kim Ji-woon makin terasa dalam merangkum momen-momen seru. Adegn baku tembak tidak berjalan monoton tapi dirangkum dengan begitu bombastis dan tentunya cukup brutal dengan tumpahnya banyak darah dan hancurnya tubuh manusia. 

Arnold harus diakui sudah terlihat sangat tua dengan usianya yang sudah 65 tahun disini. Dia sudah tidak selincah dulu dan nampak cukup kewalahan berlari sambil mengangkat senapannya kesana kemari. Untuk itulah dia tidak menjadi one man army disini. Dia beraksi baru di pertengahan film, dan disaat klimaks pun dia mendapat beberapa bantuan saat beraksi dari para deputinya. Tapi hebatnya, Arnold masih mendapat bagian-bagian aksi yang terbaik, mulai dari pemakaian gunslinger di bus sekolah, adegan kejar-kejaran di ladang jagung, sampai adegan satu lawan satu melawan Cortez yang disajikan cukup brutal dan keras. Sebuah strategi yang jitu dari Kim Ji-woon yang membuat The Last Stand tetap terasa seru tanpa harus membuat Schwarzenegger kehilangan momen terbaik dalam filmnya. Tentu masih ada berbagai one-line khas Arnold yang sanggup memancing tawa disini dan mengobati kerinduan penggemarnya akan ciri khas sang aktor. Sayang sekali film ini terasa underrated dimana perolehan uangnya cukup memprihatinkan dan hingga saat ini baru mencapai setengah dari bujetnya. Kabar buruk bagi Arnold dan tentunya Kim Ji-woon yang mungkin akan kesulitan melanjutkan karirnya di Hollywood. Sangat disayangkan karena meski tidak sebrutal dan segila film-film sang sutradara yang lain, The Last Stand tetap sebuah film action yang sangat seru dan cukup brutal dan berdarah. Tentunya sebuah come back sempurna bagi Arnold Schwarzenegger.

Tidak ada komentar :

Comment Page: