DEAR NATHAN (2017)

22 komentar
Dilihat dari sampul luarnya, mudah menghakimi "Dear Nathan" sebagai kisah cinta remaja dangkal yang sekedar mengandalkan paras rupawan para pemeran dan baris kalimat sok puitis. Tapi siapa sangka, adaptasi adaptasi novel berjudul sama karya Erisca Febriani ini merupakan salah satu romansa putih abu-abu paling manis dalam beberapa tahun terakhir. Tidak perlu setting luar negeri megah, wardrobe serba mahal, atau kemewahan-kemewahan lain yang belakangan kerap dipakai film cinta dalam negeri guna membuai penonton supaya melupakan setumpuk kelemahannya. "Dear Nathan" sanggup membuai karena dua sejoli tokoh utamanya likeable serta believable.

Salma (Amanda Rawles) dan Nathan (Jefri Nichol) pertama bertemu saat mereka terlambat mengikuti upacara bendera di sekolah. Nathan membantu Salma masuk lewat jalan rahasia, kemudian menghilang. Rupanya Nathan dikenal bandel, hampir tiap hari berkelahi walau satu-satunya yang dia jadikan target pukulan adalah para bully atau preman. Rupanya pertemuan pertama itu langsung membuat Nathan jatuh hati, dan dibantu oleh Rahma (Diandra Agatha), ia mulai mendekati Salma, yang meski menyimpan perasaan sama, ragu untuk langsung menerima cinta Nathan. Tanpa diketahui banyak orang, Nathan sendiri menyimpan masalah terkait masa lalu tragis keluarganya.
Mengambil setting SMA, "Dear Nathan" menghadirkan pernak-pernik dunia tersebut. Bagus Bramanti dan Gea Rexy paham benar seperti apa asmara yang pernah dialami mayoritas orang ketika SMA, lalu menuangkannya ke naskah dalam takaran tepat. Curi-curi pandang saat pelajaran olahraga, duduk berdua di sudut belakang sekolah, sampai jadi pusat perhatian sewaktu kali pertama berangkat berboncengan berdua. Memori saya dilemparkan ke masa itu dan dibuat tersenyum mengingatnya. SMA adalah tempat cinta monyet penuh romantisme gombal mulai bersemi. "Dear Nathan" sanggup merangkum poin itu sembari menyelipkan keping lain seperti teman egois yang gemar mengatur, tata tertib menyebalkan, hingga selintas gesekan siswa akademisi (nan sok suci) dengan mereka yang dianggap nakal.

Nathan mewakili korban prejudice yang dipandang buruk bahkan sampah karena menolak mengikuti jalur lurus yang dianggap sesuai kaidah moralitas. Namun di balik tingkah kasar, ada kebaikan yang enggan diperhatikan orang-orang di sekitarnya. Nathan bukan manusia penghasil quote "ajaib" macam Dimas Anggara di film-film produksi Screenplay. Daripada berkata-kata mesra, ia langsung bertindak untuk hal kecil sekalipun macam membelikan Salma cilok di jam istirahat. Jefri Nichol punya pesona yang bakal memancing jeritan penonton wanita (dan beberapa pria) tanpa perlu kaku bertutur akibat berusaha tampak keren. Nichol tak coba mendramatisir penuturan kalimatnya. Terdengar manis berkat pelafalan natural, asyik, mudah menggaet simpati penonton bagi Nathan. Bagi para pria emosional, Nathan akan terasa relatable
Cinta pada Salma ditambah usaha mengambil kembali kasih sayang ibu (Ayu Dyah Pasha) mendorong perubahan Nathan. Konsisten dengan perlawanannya terhadap prejudice, film ini tak berniat mengubah Nathan menjadi sosok lain yang oleh konsensus publik dianggap lebih baik seperti Aldo (Rayn Wijaya) si ketua OSIS berprestasi misal. Serupa yang diungkapkan Salma, Nathan mesti menjadi versi lebih baik dari dirinya sendiri. Tetap easy going namun lebih teratur, pula bersedia memulai babak baru hidup khususnya bersama sang ayah (Surya Saputra). Patut disayangkan, mencapai titik ini penceritaan kurang mulus. Proses perubahan Nathan terkesan mendadak, tidak bertahap. Lubang pun sempat hadir terkait timeline membingungkan suatu adegan. Saya tidak bisa menuliskan adegan apa, tapi melibatkan momen penting salah satu tokoh.

Daripada orkestra menggelegar, sutradara Indra Gunawan ("Hijrah Cinta") memilih lagu-lagu pop ringan guna menemani perjalanan cinta Nathan dan Salma. Pilihan tepat, karena momen-momen mereka berdua terasa manis tanpa harus didramatisasi berlebihan (penyakit banyak romansa Indonesia). Balutan komedi segar hasil interaksi malu-malu kucing dua remaja sukses pula hidupkan suasana. Amanda Rawles berjasa di sini, dengan baik menangani kecanggungan dan salah tingkahnya Salma yang efektif memancing senyum. Ditutup oleh kebahagiaan manis di bawah guyuran hujan, lengkaplah "Dear Nathan", romantika remaja dengan penekanan pada penokohan, suatu hal yang kini semakin jarang ditemui tatkala puisi-puisi hampa nihil rasa jadi andalan.

22 komentar :

  1. Wah, kirain bakalan dapet rating rendah karena terlalu cheesy dan terlalu ftv banget.

    Sempet baca Dear Nathan di Wattpad bang ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hasil akhirnya emang mengejutkan sih.

      Wah belum tuh. Bagus kah?

      Hapus
    2. Karena di mindset para penonton film tentang cinta-cintaan SMA bakalan sama aja treatment dan alurnya ya, tapi Dear Nathan mah ternyata beda, tetep aja ahh kurang selera saya mah, lagi nunggu aksi Mbak Scarlett di Ghost in the Shell.

      Sama bang sama juga belum, lebih tepatnya kurang tertarik, hehehe.

      Hapus
    3. Oh, wajib tonton itu Rabu besok Mbak ScarJo.

      Hapus
    4. Nonton dulu baru deh nanti udahnya saya liat review MovFreak.

      Hapus
  2. Sama galih dan ratna, suka yg mana bang?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beda tipe sih, G&R treatment-nya lebih dewasa. Keduanya bagus :)

      Hapus
  3. Wah,sudah kuduga sih.Dari awal gua punya good feeling buat film ini (kalo menghiraukan segala aspek FTV).Soalnya cerita aslinya(wattpad) bukan cerita cinta remaja biasa dan emang menarik.Bisa bisa bioskop langsung pecah gara gara orang nonton Beauty and The Beast sama Dear Nathan nih :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh pecah memang. Antrian Beauty masih panjang, Dear Nathan rame, tambah Power Rangers yang lumayan menarik perhatian fans. :D

      Hapus
  4. Tadinya nggak tertarik nonton film ini gara-gara mulai dari kontroversi novelnya yang katanya plagiat dari novel populer lain, cerita yang cheesy, sampai penulis yang baperan main block pembaca yang ngeritik novelnya. Tapi ternyata kalau dijadiin film dan ditangani dengan benar, hasilnya bisa bagus gini ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. True. Di tangan yang tepat, alih media seperti apapun bisa jadi bagus :)

      Hapus
  5. film ini mengingatkan sy dgn film "you are apple in my eyes"... keduanya sm2 film yg mmpu mngingatkan ms2 SMA dlu.

    BalasHapus
  6. Min minta review film2 jelek dong, biar bisa ketawa-ketiwi menghibur hati, saya suka gaya bahasa badass nya bang admin 😂😂😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. (((badass))
      Silahkan ubek-ubek yang rating 0-1, jelek semua itu haha

      Hapus
  7. One of the best Indonesian teen romantic movies after Galih dan Ratna dan Ada Apa dengan Cinta 1&2. Selain kisah cinta romantis, ada pesan yang terselip disini: seburuk apapun masa lalu, lupakanlah. Menyelesaikan masalah tidak perlu pakai emosi, dan perlunya memaafkan diri sendiri dan orang lain yang berbuat salah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yes, untuk ukuran teenlit/romance putih abu-abu, Dear Nathan ini lumayan stands out

      Hapus
  8. Sempat ragu lihat pemerannya Jefri nichol , produksi Rapi Film, judul drama banget, posternya​ aduhai, tapi lihat review ini langsung minat apalagi penulis skenarionya Agus Bramanti langsung packing ke bioskop

    BalasHapus
  9. Gue baru baca pas film abis ternyata yg main Amanda rawles gue kira Annisa rawles gue berpikir sepanjang film kok mukanya beda dari Film single, memang bener plot hole saat ibunya meninggal janggal banget dan endinya terlalu dipaksKanlah

    BalasHapus
  10. Kebetulan saya sudah baca novelnya. Saya sih lebih suka versi filmnya. Tidak terlalu berbelit2 seperti novelnya. Tapi memang ada beberapa kekurangan. Wajar sih karena harus merangkum dari novel yang begitu tebalnya. Acting pemeran utamanya juga bagus. Ini semua berkat kerjasama yang solid dari semua team produksi, sehingga bisa menjadi film remaja yang enak untuk dinikmati. Padahal kalau baca novelnya kurang memuaskan.

    BalasHapus
  11. Ada yanh punya linknya buat nonton streaming dear nathan ga...???

    BalasHapus
  12. Yang punya link downloadnya bagi dong!!

    BalasHapus