TRANSFORMERS: THE LAST KNIGHT (2017)

30 komentar
Suatu ketika saya membaca wawancara suatu majalah film dengan Michael Bay. Disebutkan bahwa menikmati gelaran eksplosi sang sutradara bagai menjual jiwa pada setan. Penonton tahu filmnya buruk ditinjau dari standar sinematik namun tak kuasa menolak dan akhirnya menerima kegembiraan yang dirasa. Istilah umumnya "guilty pleasure". Saya kurang setuju. Benar Bay bukan jagoan pembangun tensi layaknya Cameron atau ahli mengawinkan aksi dengan hati seperti Spielberg. Tapi ia diberi talenta yang didukung passion dan kecintaan. Talenta berupa menyajikan epic cinema berbasis ledakan "cantik". Bayhem (begitu gayanya disebut) adalah soal spektakel yang saking bombastisnya jadi terasa dramatis, poin yang tidak semua sutradara blockbuster punya.

The Last Knight menawarkan formula familiar, dan mencapai installment kelima seri Transformers memang enggan ke mana-mana. Pasca tease menarik di konklusi Age of Extinction saat Optimus Prime lepas landas menuju Cybertron toh kisahnya tetap berpijak di Bumi, menyoroti invasi robot yang hendak menabrakkan Cybertron ke planet ini (tak jauh beda dibanding Dark of the Moon). Pembuka menjanjikan kala kita diajak ke era medieval menyaksikan Raja Arthur bersama Merlin si penyihir dan 12 Kesatria Meja Bundar berperang dibantu para Transformers pun bertahan sejenak saja. Sekedar prolog, eksposisi singkat bagi cerita selanjutnya di masa kini. Padahal melihat naga robot berkepala sukses mengundang decak kagum sekaligus bukti Transformers bisa bekerja dengan baik di setting waktu dan tempat non-kontemporer. 
Cerita kembali berpusat di Cade Yeager (Mark Wahlberg) yang kini menetap di junkyard penampung Autobots sementara Optimus pergi. Di tengah penelusuran terkait makin banyaknya robot mendarat di Bumi, sesosok Transformers sekarat memberi Yeager sebuah jimat. Tanpa dia tahu, benda itu menggiringnya ke rahasia ribuan tahun mengenai eksistensi robot dan manusia. Bersama Sir Edmund Burton (Anthony Hopkins) sang pemimpin organisasi rahasia, mekanik cilik pemberani bernama Izabella (Isabela Moner), Viviane (Laura Haddock), Profesor dari Oxford, dan tentunya Autobots, Yeager memperjuangkan keselamatan Bumi. Perjuangan berujung semakin berat karena "pengkhianatan" Optimus Prime.

Tuturan bahwa tokoh legendaris semisal Einstein, Galileo, dan Wright Bersaudara tergabung dalam organisasi rahasia yang menyembunyikan keberadaan Transformers, juga keterlibatan robot pada peristiwa sejarah (kematian Hitler misalnya) hanya jadi bumbu penyedap. Menarik di awal kemudian dilupakan. Proses Yeager dan Viviane memecahkan teka-teki soal tongkat Merlin yang bak diambil dari salah satu chapter The Da Vinci Code pun bukan konflik pintar, meski setidaknya menstimulus otak penonton berproses, memancing gejolak naik-turun alur yang lebih menggigit ketimbang sepenuhnya "hit and run" macam film-film sebelumnya. The Last Knight memang penuh pernak-pernik kurang substansif tapi memperkaya warna. Sebutlah pembuatan tokoh Cogman dan Sqweeks selaku "tiruan" C-3PO dan R2-D2 dari Star Wars
Pergantian penulis dari Ehren Kruger menjadi trio Art Marcum, Matt Holloway, dan Ken Nolan mungkin urung menambah bobot, namun sukses memperbaiki kelemahan terkait komedi. Kita ingat betul Revenge of The Fallen dan Dark of the Moon dirusak oleh lelucon menyebalkan, berlebihan nan dipaksakan di waktu tak tepat. The Last Knight bisa menghadirkan beberapa tawa berkat dosis humor secukupnya, entah berbentuk banter karakter maupun situasi absurd (yang sesungguhnya klise) kala Cogman mendadak memainkan musik dramatis mengiringi pembicaraan. Sayangnya, Bay kurang cakap meramu momen komedik. Timing menyelipkan kesunyian tiba-tiba sering meleset, begitu pula transisi kasar antar adegan yang kerap melemahkan daya bunuh humor.

Penampilan jajaran cast turut membaik. Setelah meraba-raba di Age of Extinction, sekarang Wahlberg maksimal melakoni peran sebagai leading hero di antara kepungan robot-robot raksasa, seutuhnya menghapus memori buruk bernama Shia LaBeouf. Walau bukan performa kelas Oscar, Hopknis nampak jelas bersenang-senang di sini. Lalu tatkala Isabela Moner memamerkan kapasitas sebagai bintang muda potensial, Laura Haddock akhirnya mengobati kehilangan atas Megan Fox. Selain paras serupa, sewaktu Rosie Huntington-Whiteley dan Nicola Peltz sekedar berusaha tampak cantik, Haddock memiliki sensual presence tinggi. Haddock dan Wahlerg pun saling mengimbangi, menciptakan interaksi raunchy yang jauh lebih bernyawa dibanding duo tokoh utama lain franchise ini.

Tidak perlu mempertanyakan eksekusi aksi Michael Bay. Ledakan bombastic artistic dengan staging yang dipikir masak-masak atau penggunaan slow-motion tepat guna sehingga aksi Autobots makin badass adalah alat pacu kegembiraan yang hanya bisa diimpikan banyak kompatriotnya sesama blockbuster filmmaker. Hanya ada satu minus, di mana intensitas gagal mencapai titik maksimum akibat set-piece acap kali berlangsung terlampau singkat. Bukan sepenuhnya kekeliruan Bay (the anticlimactic third act was his fault though), sebab terburu-burunya naskah merangkum konklusi ikut jadi penyebab. Tengok resolusi konflik seputar Optimus sebagai contoh. Kekurangan tersebut masih termaafkan, apalagi sensibiltas visual Bay dalam melukiskan massive landscape tetap terjaga. Salah satu momen menampilkan pertarungan Autobots melawan Decepticon di tengah padang rumput hijau dengan Stonehenge sebagai pusat, api bergelora di sana-sini, sementara di angkasa Cybertron berukuran raksasa ikut melatari. What a chaotic beatuy.

30 komentar :

  1. Sayang sekali Michael Bay di Transformers 6 udah gak akan jadi sutradara lagi. Alasannya kenapa ya bang ? Udah cukup jenuhkah seorang Michael Bay dengan Transformers-universe-nya ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bay kan dari film ketiga selalu ngomong "this is my last". Ujungnya habis diselingin bikin film lain ya selalu balik lagi doi :D

      Hapus
    2. Gimmick kali kayaknya ya bang ? Mungkin Bay butuh penyegaran dari para robot2. Btw spin-off Bumblebee kira2 menurut Bang Rasyid gimana tanpa ditangani Bay, tapi disutradarai sama Travis Knight yang belum punya banyak jam terbang sebagai sutradara ?

      Hapus
    3. Bisa juga buat nego soal kontrak. Tapi lihat kondisi sekarang termasuk Box Office Transformers sih peluang balik 50:50
      Mungkin bakal dibuat ala teen movie/coming-ofage versi robot. Tricky sih, treatment gitu butuh cerita kuat tapi film TF juga wajib dahsyat di action

      Hapus
    4. Hahaha, tetep ujung2nya permainan uang ya bang ?
      Dibuat lebih colorful maksudnya gitu ya ? Biar gak terlalu "gelap" kayak Transformers kali ya. Bukan gak mungkin kan ya bang, kalo Bumblebee sukses, bakalan dibikin spin-off Optimus Prime juga, hehehe.

      Hapus
    5. Pasti colorful, coming-of-age movie pasti hopeful & berwarna.
      Apa pun bisa selama Box Office lancar, mau Optimus Prime bahkan Megatron

      Hapus
  2. "Seni adalah Ledakan"

    -Michael "deidara" Bay

    BalasHapus
  3. mas rasyid mau nonton liam gak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau ditanya mau ya mau hehe, tapi sayangnya nggak sempat

      Hapus
  4. Tapi menurut saya bisa dibilang bahwa ini adalah seri Transformers yang paling mengecewakan. Terlalu banyak sub plot yang tidak penting dan plot hole yang terparah sampai walaupun menganggap film ini 'popcorn movie' pun bakal notice.

    Spoiler alert!

    Di third act, saat Optimus Prime terbang duluan ke Cybertron tapi saat yang lain dah abis-abisan di padang rumput stone hedge itu, doi ga nongol-nongol bahkan sampai misi tersebut di abort oleh militer US karena mereka menanyakan where is optimus prime. Bahkan membuat Optimus Prime seakan-akan snob hero yang akan memegang slogan 'Jagoan selalu muncul belakangan'.


    Sebagai penggemar berat transformers, terus terang saya dikecewakan..ganti Michael Bay! hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh masalah begitu dari film pertama juga udah parah. Bay & penulis naskahnya emang kurang jago urusan bangun tensi dramatik begitu. Kalau mau ganti ya penulisnya, selain Cameron nggak ada itu sutradara yang bisa bikin filmnya semewah Bay. Kebanyakan ya jadi mubazir bujetnya :D

      Hapus
    2. Iya tapi di film pertama dan kedua, masih muncul moment WOWnya..sekarang ga ada sih hehe

      Hapus
    3. Nah tergantung preferensi kalo ini. Saya sih lima film Transformers, sejelek apa selalu ada WOW moment. Grimlock di Age of Extinction misal.

      Hapus
  5. Plotnya kacau, njlimet, hny ngandelin efek visual, mgkn lbh tepat film untuk anak2..wajar rotten jg cm ngasih skor 18%

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dari dulu plot Transformers juga udah jelek & cuma andalin visual, we should know that by now. Marketnya memang buat yang sudah tahu bakal dapat film seperti apa & nggak berharap lebih :)

      Hapus
  6. Bang, Dunkirk kapan rilis bang? Nggak sabar. Hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kemungkinan 19 Juli, film Nolan pasti tepat waktu rilis di sini.

      Hapus
    2. Ada ekspektasi gak bang sama Dunkirk?
      Menurut saya Interstellar kemarin bagus cuma masih kurang nendang dibanding Memento, Inception, sama The Dark Knighy trilogy.
      Berharap disini Nolan kembali gila, apalagi lead actornya THE GREAT TOM HARDY wkwk

      Hapus
    3. Nolan selalu bisa bikin tontonan epic, nggak sepintar yang dianggap orang kebanyakan, tapi dia spesial, termasuk sutradara blockbuster yang bisa bikin adrenaline rush. Jadi Dunkirk pasti perkara gampang buat doi :)

      Hapus
    4. Saya berharap Dunkirk jadi film perang yang lain dari sebelom2nya masa bang. Siapa tau bisa dibikin seintens The Dark Knight atau sebelok2 Inception wkwk

      Hapus
  7. Ga ada pra riview film lebaran Indo ya gan? Semacam analisis gitu.. (Surat Kecil untuk tuhan, Insya Allah sah, Jailangkung, Sweet 20)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Boro-boro, karena lagi mudik masih belum tahu bisa nonton film lebaran kapan haha

      Hapus
  8. Anonim5:27 PM

    This is more like "just another transformers movie" masih ada peningkatan kecil sih dari film sebelumnya..tapi yaaa begitulah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Apalagi preferensi Transformers tiap penonton divisive banget. Ada yang anggap TF2 remuk, ada yang bilang epic, ada yang bilang TF4 kacau, ada yang bilang rame bombastis. :)

      Hapus
  9. aduh belum nonton ini http://dewakartu168.com/ Dewa Poker dan Ceme Keliling Online adalah situs permainan Capsa Susun terpercaya yang dapat anda akses dengan mudah.

    BalasHapus
  10. Salah satu film buruk yg GW tonton tahun ini brsma the mummy, king Arthur . Bad bad, kecewa!!

    BalasHapus
  11. Yg bilang kcewa dg transformer 5 brarti cuma nonon transformer 5 doang.
    Dari awal ni film temanya memang cuma robot baku hantam yg mengancam bumi.
    Yaudah gt aja��
    Ngomongin plot, paling konyol malah dark of the moon lo, the last knight kren abis lah

    BalasHapus
  12. Om Rasyif ga tertarik review Sing 2016 nih yg ada Scarlett Johansson as Ash. Awalnya saya underrated sama film ini, tapi setelah nonton perasaan sedih dan terharu bakal menyelimuti kita. Ditunggu reviewnya mas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah sudah terlanjur nonton tanpa di-review, nggak ada niat buat ngulang lagi hehe

      Hapus