ALAS PATI (2018)

20 komentar
What??? Seriously?! “. Kalau anda menonton Alas Pati, niscaya kalimat tanya tersebut bakal mengendap di otak. Salah satu karakternya mengucapkan itu beberapa kali sebelum tewas. Pun respon itu juga yang sering saya lontarkan sepanjang film. Saya teringat beberapa tahun lalu, semasa SMP, kala tengah menyaksikan pertunjukan musik di pinggir pantai. Suara ombak dan angin berlomba dengan distorsi gitar yang menggedor lewat amplifier. Nada yang dimainkan tak jelas, tapi pastinya gitar rombeng itu dimainkan dalam volume tertinggi. Seusai penampilan, saya mempertanyakan pengaturan suara tersebut, yang dijawab dengan lantang, “rock is loud, bro!”. Mungkin jika anda tanyakan pada Jose Purnomo (Jailangkung, Gasing Tengkorak), ia pun akan menjawab “horror is loud, bro!”.

Dibantu musik gubahan Ricky Lionardi (Danur 2: Maddah, Bayi Gaib: Bayi Tumbal Bayi Mati), Jose menyerbu telinga penonton dengan musik sekencang mungkin, dalam adegan sebanyak mungkin. Termasuk di setiap false alarm yang kerap terjadi karena karakternya sering salah lihat, mana kaki hantu mana kaki manusia, mana rambut kuntilanak mana rambut mahasiswi. Bahkan sewaktu terornya berwujud kebisingan statis dari alat pendeteksi suara pun, musik tetap diputar sekeras-kerasnya. Seiring waktu saya pun mulai kebal dengan jump scare yang ditawarkan Alas Pati. Saya mulai mati rasa seiring keengganan film horor satu ini untuk memainkan rasa takut penonton.
Padahal premisnya menjanjikan. Naskah yang ditulis berdua oleh Jose Purnomo dan Aviv Elham (Dubsmash, Sang Sekretaris) seolah ingin memberi pelajaran kepada para remaja kekinian yang bersedia melakukan apa saja demi ketenaran dunia maya. Apa saja, termasuk berkunjung ke hutan angker bernama Alas Pati, di mana terdapat kuburan terkutuk di dalamnya, sebagaimana dilakukan lima remaja pencari tantangan dan penonton YouTube. Raya (Nikita Willy) merasa perjalanan itu akan seru, Randy (Roy Sungkono) yakin video petualangan ke lokasi angker bakal mendongkrak jumlah penonton, sementara Vega (Stefhanie Zamora) butuh uang untuk membayar indekos. Ketiga alasan itu sepertinya sudah merangkum tujuan hidup banyak muda-mudi masa kini.

Sesampainya di Alas Pati, para remaja ini mulai bertingkah tidak sopan, bermain-main dengan mayat dan kuburan. Jangankan arwah-arwah penasaran di sana, saya di kursi penonton pun ingin mereka semua tewas. Memiliki deretan tokoh menyebalkan dalam film horor bukan masalah, sebab melihat satu per satu dari mereka dibantai juga memberikan hiburan tersendiri. Tapi alih-alih secara konstan memenuhi harapan tersebut, Alas Pati justru memaksa kita menunggu, menunggu, dan terus menunggu dalam rangkaian keusilan hantu yang cuma sesekali memberi dampak. Salah satu momen paling mencekam justru bukan dari gangguan dedemit, melainkan ketika Roy yang tengah merekam video dari jendela mobil nyaris terserempet truk, karena pemilihan waktunya tak terduga dan tanpa kesan mengulur waktu.
Mayoritas jump scare terlampau diulur, urung memamerkan penampakan ketika kecemasan memuncak, dan baru memunculkan sang hantu saat saya sudah menguap, lelah menanti, bagai usaha malas sutradara dan penulis naskah agar mencapai batas minimal durasi film panjang. Sulit untuk tidak berharap Alas Pati tetap bertahan di hutan. Setidaknya di sana aroma kengerian lebih semerbak. Sayang, pasca sebuah adegan kematian mengejutkan yang dieksekusi solid dibalut gore memadahi, karakternya pulang ke kota, ke rumah masing-masing, dengan darah teman mereka masih mengotori sekujur tubuh. Jika ada di posisi serupa, saya akan mencuci muka di sungai yang harus diseberangi sebelum mencapai hutan daripada menunggu berjam-jam kemudian. Bodoh memang, bahkan untuk ukuran horor remaja.

Bicara soal remaja, jajaran cast-nya bahkan tidak kuasa menjadikan obrolan sehari-hari terdengar realistis, apalagi asyik disimak. Ada usaha dari naskahnya guna menjalin interaksi menarik melalui beragam kelakar, namun kelima bintang mudanya adalah pelontar lelucon yang buruk. Begitu pula tatkala dipaksa berakting ketakutan. Mereka tampak kurang meyakinkan, dibuat-buat, atau menampakkan ekspresi seseorang yang mendapati bakso yang diinginkan sudah habis terjual ketimbang melihat setan. Seperti Jessy (Naomi Paulinda), saya pun berkali-kali ingin berteriak, “What??? Seriously?! “.

20 komentar :

Comment Page:
Ungki Haeri mengatakan...

Seperti yang telah di duga ya Mas, hehe. Jose itu gampang nipu, trailer-nya menjanjikan dan hasilnya ternyata wassalam. Sejauh ini horor paling di tunggu ya Sebelum Iblis Menjemput. Oh ya, opini sementara buat teaser Kafir gimana Mas? For me still look like Pengabdi Setan or Pengabdi Setan wanna be..

Ahmad Nizam mengatakan...

Setuju. Pengambilan gambarnya Semuanya mirip dengan pengabdi setan.

Anonim mengatakan...

Hereditary masih belom ada kabar nih kapan di tanyang di Indo, padahal saya nungguin banget

Rasyidharry mengatakan...

Teaser Kafir keren kok. Bukan mirip sama Pengabdi Setan, tapi dari style dan treatment, keduanya sama-sama terinspirasi haunted house horror era 70-80an. Good, berarti yang bikin banyak nonton horror :)

Anonim mengatakan...

Hereditary tayang juni 2018 saya juga nungguin nih.. penasaran soalnya

Ungki Haeri mengatakan...

Trailer "Zeta" gimana nih opini-nya Mas? Dilihat kayaknya bukan horror remaja ya, cukup menjanjikan karena ada unsur drama-nya, apalagi ada Cut Mini sama Edo Borne, semoga bagus hasilnya nanti.

dimas mukti mengatakan...

Dari Jailangkung, Bayi Gaib sama Sajen dan kemudian Alas Pati ini Udah tau bakalan jelek tapi entah kenapa gw tetep ngeyel pengen nonton haha

Rasyidharry mengatakan...

@Ungki Nggak ekspektasi tinggi lah sama "Zeta". Ya ada Cut Mini, tapi pemain utamanya tetep aja Jeff Smith yang, yah gitulah. Paling jadi film zombie generik.

@dimas Haha yeah, sammpah semua. Tapi tetep aja besok Jailangkung 2 bakal ditonton.

Anonim mengatakan...

Selalu menikmati kala mendapati mas Rasyid menulis sambil menghamburkan untaian kata pedas karena dipancing sebuah film yg dieksekusi dg buruk. Have Fun Go Mad !

Aaron mengatakan...

A nice review. Seperti biasa film Jose Poernomo kualitasnya......ya sudahlah. Tapi masih penasaran sama filmnya sekaligus seberapa hancur filmnya. Mas Rasyid, adegan mobil tenggelam di film ini gimana? Oke gak?
Untuk film horor lebaran, film Kuntilanak lebih menjanjikan ketimbang Jailangkung 2.

Anonim mengatakan...

Another Failure

Panca Soundnar mengatakan...

Lagi lagi saya bersyukur mas rasyid mereview film jelek. Awalnya pun saya ada niat nonton alas pati tp setelah lihat nama Jose.. pffftt.. Tidak seperti Nayato sih tapi yasudahlah.

Ada niat menulis Teaser Kafir n Sebelum iblis menjemput mas?

Rasyidharry mengatakan...

@Aaron Yah adegan itu oke kok eksekusinya, cuma sebelumnya ada adegan kejar-kejaran kepanjangan yang nggak seru, jadi keburu capek. Kuntilanak & Jailangkung 2 sama aja sih, lha satunya Rizal, yang satu Jose+Rizal. 😅

@Panca Jose ini kayak Rizal, kalo naskah bagus, film bagus, tapi keseringan naskah yang ambles. Soal bahas teaser tergantung yang punya film, selama ini artikel trailer kan sponsored post 😁

Anna B mengatakan...

Bakal ngereview Thoroughbreds ga? Ga tayang di Indo itu film, tapi kalo ga sempet review menurut mas Rasyid itu bagus ga?

wins mengatakan...

Entah mengapa, sama sekali gak tertarik nonton film horor buatan sebangsa setanah air...

Rasyidharry mengatakan...

@wins Terakhir nonton horor lokal apaan?

Anonim mengatakan...

Mas Rasyid, filmnya Jose Poernomo ada yang bagus selain Jelangkung? atau Angkerbatu?

Rasyidharry mengatakan...

Skandal (2011). Itu film terbagus Jose selain Jelangkung.

wins mengatakan...

Di boiskop? Blm pernah kayaknya

Rasyidharry mengatakan...

@wins Kalo gitu coba sesekali. Walau kebanyakan masih kurang, tapi horor lokal mulai menjanjikan apalagi sejak "Pengabdi Setan". Sebagai awal mungkin bisa coba "Sebelum Iblis Menjemput"-nya Timo. Gimana bisa tertarik kalo belum coba kan? :)