Tampilkan postingan dengan label Jose Purnomo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jose Purnomo. Tampilkan semua postingan
ROY KIYOSHI: THE UNTOLD STORY (2019)
Rasyidharry
Ingat saat internet dibanjiri meme soal bentuk dagu Roy Kiyoshi? Salah
satunya mengedit kepala Roy menjadi sebaris gigi seri. Saya tidak suka
mengolok-olok fisik seseorang, tapi aktingnya di film ini memang tampak seperti
gigi: keras, kaku, datar. Seperti anda tahu, saya sering menonton film buruk
berisi akting tak kalah buruk, namun buruknya akting Roy di sini bahkan
berhasil membuat saya terkesima.
Memerankan sosok fiktif dari
dirinya, Roy menghabiskan mayoritas paruh awal Roy Kiyoshi: The Untold Story nyaris tanpa berbicara, banyak
berdiri diam dikuasai lamunan, tenggelam dalam adiksi alkohol akibat rasa
bersalah pasca sang adik, Rani (Clarice Cutie) diculik sosok iblis bernama
Banaspati. Tapi jangan khawatir para pecinta suara Roy Kiyoshi, sebab ada
banyak porsi voice over dilimpahkan
kepada pria indigo kebanggaan Indonesia ini, yang terdengar layaknya anak SD
kala pertama kali diminta membaca puisi.
Ketika Roy sibuk mabuk-mabukkan,
Sheila (Angel Karamoy), lulusan S2 jurusan psikologi yang bekerja di suatu LSM
tengah melangsungkan investigasi terhadap kasus hilangnya anak-anak. Menyandang
gelar “Master of Psychology” tak membuat Sheila lupa daratan. Dia enggan pamer
ilmu, sehingga tak sedikit pun ia nampak seperti psikolog.
Sebaliknya, Sheila terbuka akan
sumber keilmuan lain. Apabila karakter psikolog dalam film umumnya bersikap
skeptis pada hal mistis, Sheila langsung percaya bahwa anak-anak itu hilang
diculik setan setelah melihat rekaman milik seorang wanita mantan karyawan LSM
tempatnya bekerja yang tewas bunuh diri. Lucunya, ruang kerja wanita itu
dibiarkan berantakan dengan seluruh barang teronggok begitu saja, memudahkan
Sheila menemukan berbagai arsip dan kamera kepunyaannya.
Walau saya mengapresiasi keengganan
naskah karya Jose Purnomo (Pulau Hantu,
Alas Pati, Gasing Tengkorak) dan Aviv Elham (Tali Pocong Perawan, Reva: Guna Guna) menciptakan satu lagi
kompilasi jump scare dan memilih
mengutamakan elemen misteri, penyelidikan yang Sheila lakukan amat jauh dari
menarik, sebab kita tahu semuanya bakal bermuara di satu kesimpulan: Banaspati
adalah pelaku penculikan tersebut. Ada bagian menjanjikan ketika Sheila coba
mencari korelasi antara tiap kasus, tapi teka-teki itu langsung terpecahkan
selang beberapa detik setelah diperkenalkan.
Berikutnya, Sheila menemukan
laporan di kepolisian soal hilangnya Rani, yang ia yakini merupakan keping yang
bakal melengkapi keseluruhan misteri. Laporan itu dilayangkan oleh Tante Riska
(Olga Lydia). Saya menyimpan setumpuk tanda tanya tentang karater Tante Riska.
Pertama, siapa dia??? Apakah tante Roy (adik dari ibu/ayahnya), ataukah “tante”?
Kedua, jika Tante Riska tahu Rani adalah
korban Banaspati, buat apa repot-repot lapor ke polisi? Jawaban pertanyaan
kedua sederhana. Para penulis naskahnya terlampau malas mencari jalan yang
lebih baik guna mempertemukan Sheila dengan Roy.
Saat mengunjungi rumah Roy, Sheila
diam-diam mengambil secarik kertas bertuliskan cara memanggil Banaspati. Saya
mulai mengkhawatirkan Sheila. Apakah dia pengidap kleptomania? Di hari pertama
kerja, ia mengambil kamera dari kantor. Sekarang, di kunjungan pertamanya ke
rumah orang asing, ia mengambil catatan. Entahlah, pastinya Sheila orang bodoh.
Dia memanggil Banaspati tanpa alasan maupun rencana yang jelas.
Rasanya mental Sheila terganggu
akibat tinggal di apartemen yang tak mengenal teknologi bernama “lampu”.
Kamarnya remang-remang, bahkan satpam di sana tampak membaca di ruang tanpa
penerangan. Hal paling terang justru tubuh penuh urat urat yang menyala
layaknya dialiri api milik Banaspati. Setidaknya film ini punya sosok hantu berpenampilan
mumpuni, dengan Kabuto (helm samurai) di kepala serta riasan creepy. Itulah satu-satunya elemen
positif Roy Kiyoshi: The Untold Story.
Hiburan sesungguhnya baru bermula
begitu Roy menyadari kesalahannya, berhenti minum, memutukan membantu
Sheila.....lalu mulai banyak bicara. OH TUHAN. Akting Angel Karamoy, yang penuh
antusiasme salah tempat dan/atau waktu, sudah cukup buruk, tetapi
Roy......Semoga Tuhan mengampuni akting memalukan ini.
Penampilan Roy bukan saja buruk,
tapi tampak nihil usaha, bahkan untuk sekedar mengucapkan kalimat senatural
mungkin agar tak terdengar seperti sedang pertama kali membaca naskah. Kekakuan
Roy mengingatkan saya kepada para pemenang Ale-Ale, dan itu cukup sebagai
pemicu ledakan tawa para penonton tiap kali mulutnya melantunkan kalimat-kalimat
bernada surgawi. Saya sempat bingung mesti menganugerahi film ini berapa
bintang, sebelum memutuskan memberinya sejumlah ekspresi wajah yang Roy
Kiyoshi tampilkan sepanjang durasi, yaitu.....
Maret 22, 2019
Angel Karamoy
,
Aviv Elham
,
Clarice Cutie
,
horror
,
Indonesian Film
,
Jose Purnomo
,
Olga Lydia
,
REVIEW
,
Roy Kiyoshi
,
Sangat Jelek
REVA: GUNA GUNA (2019)
Rasyidharry
Anda tahu dunia horor tanah air
sedang mengalami krisis jika film macam Reva:
Guna Guna tak sampai membuat anda kejang-kejang. Sebab, tentu saja Jose
Purnomo (Jelangkung, Alas Pati, Silam)
punya selera visual lebih baik, pula lebih bertalenta dibanding orang-orang di
belakang Kain Kafan Hitam atau 11:11: Apa yang Kau Lihat?. Dinilai dari
sampul luar, film ini memang produk layar lebar layak putar.
Turut mengambil peran sinematografer
seperti biasa, setidaknya Jose tak memberi kesempatan gambar dengan resolusi tiarap
dan/atau luput dari proses color grading muncul
di hasil akhir filmnya. Sering tampak glitch
yang mengindikasikan proses pasca-produksi yang terburu-buru (mungkin DCP baru
selesai di saat-saat akhir?), tapi itu bukan kekeliruan sang sutradara. Tiga
hantu antagonis (Gemet Aresan, Jurig Jarian, Emak Bongkok) pun wajahnya dibalut
riasan memadahi. Tingkat kengeriannya bisa didebat, namun Kiki Aston (Silam, Kuntilanak) dan Dicky Etto (Jaga Pocong, Anak Hoki) jelas tak asal
meniupkan bedak ke wajah pemain.
Reva: Guna-Guna memang takkan melukai mata penonton. TAPI, jika
diskusi diteruskan menuju pertanyaan “Apakah filmnya melukai otak?”, jawabannya
masih “Ya”. Bahkan sejak adegan pembuka yang memperlihatkan Reva (Angel
Karamoy) tengah berada di sel tahanan tanpa toilet, seolah memperlihatkan kerja
setengah hati tim penata artistik. Pantas Reva nampak begitu tertekan, karena
untuk kencing selepas diteror hantu saja ia dipersulit.
Reva merupakan terdakwa pembunuhan
atas seluruh anggota keluarganya, kecuali sang ayah, (Ferry Salim). Reva
menolak tuduhan tersebut, kukuh pada jawaban bahwa pelakunya adalah tiga setan
yang selalu menebar teror selepas ulang tahunnya yang ke-21. Karena
psikolognya, Dr. Karina (Wulan Guritno), menyatakan Reva mengidap manik
depresif (membahas ketepatan pemakaian istilah medis di film macam ini rasanya
percuma), ia pun dikirim ke rumah sakit jiwa.
Keputusan tersebut dijatuhkan pasca
proses persidangan ala kadarnya, di mana pengacara Reva menyebut bahwa tak
ditemukannya senjata sebagai ketiadaan “motif” alih-alih “barang bukti”. Ya.
Motif. Jadi kalau pelaku pembunuhan diajukan pertanyaan, “Apa motif kamu membunuh
mereka?”, dia akan menjawab, “Pisau, pak polisi”.
Reva akhirnya tiba di rumah sakit
jiwa yang dikepalai Nixon, yang diperankan Marcelino Lefrandt dalam gaya akting
over-the-top yang dapat menggiring
film ini ke arah psychological b-horror
seru, namun naskah garapan Aviv Elham (Suster
Ngesot The Movie, Arwah Tumbal Nyai,
Alas Pati) memilih bertahan di ranah kisah supernatural medioker dengan
plot berupa lompatan antara penampakan hantu, yang jauh dari mengerikan, bahkan
tak mengadung jump scare mengejutkan.
Mungkin Jose berniat menghindari trik murahan, tapi saat musik berisik buatan
Joseph S. Djafar (Suster Keramas, Kain
Kafan Hitam, Orang Kaya Baru) tak henti membombardir telinga, niat mulia
tersebut terasa semu.
Seiring waktu, serangan trio hantu
semakin berbahaya, bahkan sempat membuat Reva berada di kondisi kritis akibat luka
tusukan Gemet Aresan. Pendarahannya cukup untuk membuat kolam darah mini, tapi
anehnya, jangankan luka, baju Reva sama sekali tidak sobek. Film ini melupakan
logika itu, tetapi membuat Angel Karamoy menanggalkan pakaian di beberapa momen
tanpa substansi.
Selama di rumah sakit jiwa, Reva
sempat dikunjungi sahabatnya, Devi (diperankan Pamela Bowie selaku penampil terbaik
film ini), yang lewat dua kunjungannya membuat saya mempertanyakan SOP karyawan
di sana. Pada kunjungan pertama, Devi diusir karena membuat Reva menangis, tapi
di kunjungan berikutnya, saat paranormal yang ia bawa terlempar hingga
memecahkan pintu kaca, semua orang berdiam diri.
Singkat cerita, Devi akhirnya nekat
berencana membawa sahabatnya (Atau kekasih rahasia? Kadang film ini seperti
berusaha malu-malu menyiratkan hubungan lebih di antara keduanya) kabur.
Rencana yang menghasilkan adegan paling intens di Reva: Guna Guna. Tidak perlu hantu. Cukup keberhasilan Jose
bermain-main dengan kecemasan penonton, di mana ia bergantung pada atmosfer
natural tanpa distraksi musik.
Namun begitu adegan tersebut
berhasil menjadikan filmnya terlihat meyakinkan, Reva: Guna Guna kembali terjerumus dalam kebodohan seperti biasa.
Sungguh bodoh ketika para petugas rumah sakit jiwa, termasuk Nixon yang
digambarkan begitu teliti, tidak mencari keberadaan pasien yang hilang memakai
CCTV, memilih repot-repot mengitari seisi gedung di tengah malam. Tapi hal
terbodoh datang saat sang pembunuh mengungkap identitasnya lewat adegan konyol,
dilengkapi kalimat tak kalah konyol, yang menunjukkan betapa penulisnya bingung
bagaimana mesti menutup filmnya.
Maret 07, 2019
Angel Karamoy
,
Aviv Elham
,
Ferry Salim
,
horror
,
Indonesian Film
,
Jelek
,
Jose Purnomo
,
Joseph S. Djafar
,
Marcellino Lefrandt
,
Pamela Bowie
,
REVIEW
,
Wulan Guritno
SILAM (2018)
Rasyidharry
Silam, yang juga adaptasi novel berjudul sama karya Risa Saraswati,
awalnya diniati sebagai spin-off
terbaru Danur untuk mengeksploitasi
kesuksesan franchise-nya. Sampai
tiba-tiba niat tersebut dibatalkan, dan embel-embel “From the Danur Universe” dihapus dari seluruh materi promosi.
Untunglah, sebab meski lambat, seri Danur
tengah berprogres ke arah positif, hingga tahun ini, Asih jadi judul pertama yang pantas disebut baik. Menyertakan Silam, yang bahkan jauh lebih buruk
dibanding film pertama, bakal mengembalikannya ke titik nadir.
Pasca meninggalnya sang ayah,
Baskara (Zidane Khalid) merasa dibenci oleh ibunya (Nova Eliza), yang seolah
menyalahkan seluruh perbuatan putera semata wayangnya itu. Ditambah perundungan
di sekolah, lengkap sudah penderitaan Baskara. Sampai ia menemukan foto saudara
kembar ayahnya, Anton (Surya Saputra), lalu memutuskan minggat ke rumah
pamannya. Mengapa di balik foto pribadi tertulis nama serta alamat saudara
kembar sendiri? Entah. Sepertinya ini hanya cara malas Lele Laila (Danur 2: Maddah, Keluarga Tak Kasat Mata,
Asih) selaku penulis naskah agar Baskara menemukan kediaman Anton.
Tapi sebelum itu, kita menyaksikan
lebih dahulu peristiwa yang membuka mata batin Baskara, yakni ketika kepalanya
terbentur lantai setelah didorong oleh teman sekelasnya. Sejak itu Baskara
dapat melihat hantu. Peristiwa tersebut terjadi pada suatu ruangan terlarang di
sebuah museum. Mengapa ruangan terlarang tidak diberi gembok atau pengamanan
ekstra dalam bentuk apa pun? Entah. Sepertinya ini hanya bentuk kemalasan lain
dari penulis naskahnya.
Seandainya anda lupa, film ini
disutradarai Jose Purnomo (Alas Pati,
Jailangkung, Gasing Tengkorak) yang belakangan bak bersemangat menjadi
Nayato 2.0 perihal menyajikan horor-horor bobrok. Di sini, Jose menunjukkan
bahwa ia belum banyak berubah, walau soal menciptakan jump scare, tampak sedikit peningkatan. Ada sekitar tiga momen yang
sanggup menyentak berkat ketepatan timing.
Soal membangun kengerian, dia masih
Jose yang kita sayangi bersama. Di tangan sutradara mumpuni, adegan kala
Baskara mampir ke kuburan ayahnya di tengah malam kemudian dikepung barisan
setan bisa hadir mencekam. Walau lagi-lagi, timbul pertanyaan. Jika Baskara
sudah menyadari kemampuannya melihat hantu, kenapa ia nekat ke kuburan hanya
untuk meminta petunjuk yang takkan memperoleh jawaban? Bocah SD kebanyakan
takkan melakukan itu. Sekali lagi saya cuma bisa menjawab, “entah”. Sepertinya
ini hanya bentuk kemalasan lain dari penulis naskah guna membuka jalan
menampilkan kengerian.
Tapi naskahnya masih menyimpan
kelebihan. Berbeda dengan Baskoro Adi Wuryanto selaku kompatriotnya sesama
pemuja kekosongan cerita dalam horor, pelan-pelan naskah Lele Laila meningkat.
Setibanya Baskara di rumah Anton, plot Silam
mulai memancarkan daya tarik. Baskara menyadari keanehan pada tingkah Anton,
Ami (Wulan Guritno) sang istri, juga dua puteri kembar mereka (yang dicomot
dari The Shining). Didasari keanehan
itu Silam menghadirkan cerita
sungguhan, di mana tercipta pertanyaan, juga misteri untuk digali. Bukan bentuk
misteri segar, pun besar kemungkinan anda bisa menebak jawabannya sedari awal.
Namun paling tidak, keberadaannya menjauhkan Silam dari deretan horor kosong yang gagal membedakan antara plot
dengan segmen-segmen jump scare tak
mengerikan.
Sayang, di sela-sela misteri kita
dipaksa jadi saksi kecanggungan penyutradaraan Jose. Ada satu momen
yang melibatkan hantu gadis cilik dengan riasan dan perilaku yang bagai
kombinasi penggila black metal dan emo. Si hantu mengikuti Baskara dan teman
barunya yang juga mampu melihat makhluk halus, Irina (Dania Michelle).
Pemandangan itu sontak memancing tawa seisi studio. Jose baru saja menghantarkan
salah satu kelucuan tak disengaja paling epic
sepanjang tahun. Satu lagi elemen mengganggu adalah keputusan Jose, yang
seperti biasa merangkap DOP, menerapkan warna kusam termasuk di situasi gelap
gulita, sehingga gambar terlihat keruh dan sukar dilihat.
Kemudian tibalah konklusinya, yang
terjangkit penyakit mayoritas film horor lokal, yakni kegagalan menghadirkan
penutup memuaskan. Babak akhirnya begitu berantakan, di mana beberapa poin
cerita dibiarkan tanpa kejelasan atau memunculkan plot hole akibat penyertaan sebuah twist. Kalau itu belum cukup, jangan khawatir. Anda bakal mendapat
hal lain untuk ditertawakan, tatkala Silam
mengajarkan bahwa untuk membatalkan perjanjian dengan setan, seseorang hanya
butuh berniat, tanpa perlu repot-repot melangsungkan ritual. Mendengar itu,
karakternya pun berkata, “Saya niatkan pembatalan perjanjian.....”. Oh, for God's sake!
Desember 15, 2018
Dania Michelle
,
horror
,
Indonesian Film
,
Jose Purnomo
,
Kurang
,
Lele Laila
,
Nova Eliza
,
REVIEW
,
Surya Saputra
,
Wulan Guritno
,
Zidane Khalid
JAILANGKUNG 2 (2018)
Rasyidharry
Jailangkung 2 diawali dengan meyakinkan, memberi
penyegaran dengan membawa kisahnya mundur jauh ke belakang, tepatnya pada 1947
untuk mengaitkan Matianak dengan legenda SS Ourang Medan, kapal yang konon karam
akibat kecelakaan misterius berbau mistis. Sekuen—yang sayangnya terlampau
singkat—itu bukan cuma menghadirkan suasana berbeda, pula berpotensi melebarkan
mitologi cerita, di mana Matianak dikurung dalam kargo SS Ourang Medan. Untuk
apa? Pertanyaan-pertanyaan logika serupa terulang berkali-kali, tapi tanya yang
lebih besar adalah “kenapa sekuel ini dibuat jika orang-orang yang terlibat
tampak setengah hati?”. Demi uang tentu saja. Bodohnya saya bertanya.
Padahal menengok konsepnya, Jailangkung 2 jelas sekuel ambisius. Lebih mahal, lebih besar,
punya lingkup lebih luas. Dimulai di tengah samudera, kisahnya berlanjut
menceritakan nasib tokoh-tokohnya pasca film pertama. Bella (Amanda Rawles) mendapati
keluarganya masih diteror Matianak. Ayahnya, Ferdi (Lukman Sardi) tetap
dihinggapi rasa tidak tenang, sementara sang kakak, Angel (Hannah Al Rashid) berada
di bawah pengaruh Matianak dalam wujud bayi yang ia lahirkan di film
sebelumnya. Kedua mata bayi itu berwarna putih, menyeramkan, tapi entah
bagaimana pihak rumah sakit seolah tak merasa ada kejanggalan.
Si puteri bungsu, Tasya (Gabriella Quinlyn), secara tak
sengaja menyaksikan video ayahnya bermain jailangkung, lalu terinspirasi
membuat jailangkung sendiri guna berkomunikasi dengan mendiang sang ibu.
Tindakan inilah awal segala teror yang memicu Bella, bersama Rama (Jefri
Nichol), melakukan perjalanan mencari jimat Kurungsukmo yang dipercaya bisa
membendung kekuatan Matianak, setelah memperoleh informasi dari Bram (Naufal
Samudra) si mahasiswa baru. Perjalanan ini diisi ragam tindakan karakter yang
terjadi semata sebagai pembuka jalan menyelipkan jump scare alih-alih didasari motivasi logis. Bella misalnya,
mendadak bergegas ke WC untuk cuci tangan. Bisa jadi dia menjunjung tinggi
kebersihan, meski saya yakin ini sekedar cara malas Ve Handoyo dan Baskoro Adi
Wuryanto (Gasing Tengkorak, Ruqyah: The
Exorcism) dari departemen penulisan naskah supaya Bella seorang diri di
ruangan gelap. Begitu lampu WC padam, daripada kabur, ia justru nekat
menyelidiki.
Di saat bersamaan Ferdi tinggal di rumah, berusaha mencari
Tasya yang hilang setelah bermain jailangkung. Selaras dengan tema kekeluargaan
yang diusung, Ferdi pun coba digambarkan sebagai seorang ayah dengan kepedulian
tinggi pada ketiga puterinya, walau tatkala Bella pamit ingin mencari jimat,—yang
jelas sebuah perjalanan berbahaya—Ferdi tak merasa perlu menanyakan
destinasinya. Benar saja, gangguan makhluk halus setia mengintai Bella dan
kawan-kawan. Bram berkata, bahwa semakin tinggi niat mereka menyingkirkan
Matianak, semakin banyak pula setan mengganggu demi menggagalkan usaha itu. Satu
momen singkat sempat memperlihatkan para hantu merangkak di depan Matianak
layaknya rakyat jelata memuja sang raja. Setidaknya poin itu cukup sebagai “rules”, penjabaran mengapa hantu-hantu
selain Matianak ikut meneror.
Samudera ganas baik di permukaan maupun kedalaman hingga Keraton
gaib Alas Ketonggo jadi contoh lokasi yang disinggahi petualangan Jailangkung 2. Cenderung nampak seperti
ajang unjuk gigi bujet besar ketimbang parade kengerian, untungnya variasi
lokasi serta cukup baiknya kualitas CGI menjadikan film ini tidak semelelahkan
mayoritas horor lokal buruk yang hanya bertahan di lokasi tunggal nan monoton. Petualangan
berskala besar ini sayangnya berakhir ala kadarnya, sewaktu jimat Kurungsukmo
yang telah tersembunyi selama puluhan tahun dalam reruntuhan kapal di dasar
laut jauh lebih mudah ditemukan ketimbang remote televisi yang hilang.
Juni 18, 2018
Amanda Rawles
,
Baskoro Adi Wuryanto
,
Gabriella Quinlyn
,
Hannah Al Rashid
,
horror
,
Indonesian Film
,
Jefri Nichol
,
Jose Purnomo
,
Kurang
,
Lukman Sardi
,
Naufal Samudra
,
REVIEW
,
Rizal Mantovani
,
Ve Handoyo
ALAS PATI (2018)
Rasyidharry
“What??? Seriously?!
“. Kalau anda menonton Alas Pati,
niscaya kalimat tanya tersebut bakal mengendap di otak. Salah satu karakternya
mengucapkan itu beberapa kali sebelum tewas. Pun respon itu juga yang sering
saya lontarkan sepanjang film. Saya teringat beberapa tahun lalu, semasa SMP,
kala tengah menyaksikan pertunjukan musik di pinggir pantai. Suara ombak dan
angin berlomba dengan distorsi gitar yang menggedor lewat amplifier. Nada yang dimainkan tak jelas, tapi pastinya gitar
rombeng itu dimainkan dalam volume tertinggi. Seusai penampilan, saya mempertanyakan
pengaturan suara tersebut, yang dijawab dengan lantang, “rock is loud, bro!”. Mungkin jika anda tanyakan pada Jose Purnomo (Jailangkung, Gasing Tengkorak), ia pun
akan menjawab “horror is loud, bro!”.
Dibantu musik gubahan Ricky Lionardi (Danur 2: Maddah, Bayi Gaib: Bayi Tumbal Bayi Mati), Jose menyerbu
telinga penonton dengan musik sekencang mungkin, dalam adegan sebanyak mungkin.
Termasuk di setiap false alarm yang
kerap terjadi karena karakternya sering salah lihat, mana kaki hantu mana kaki
manusia, mana rambut kuntilanak mana rambut mahasiswi. Bahkan sewaktu terornya berwujud
kebisingan statis dari alat pendeteksi suara pun, musik tetap diputar
sekeras-kerasnya. Seiring waktu saya pun mulai kebal dengan jump scare yang ditawarkan Alas Pati. Saya mulai mati rasa seiring
keengganan film horor satu ini untuk memainkan rasa takut penonton.
Padahal premisnya menjanjikan. Naskah yang ditulis berdua
oleh Jose Purnomo dan Aviv Elham (Dubsmash,
Sang Sekretaris) seolah ingin memberi pelajaran kepada para remaja kekinian
yang bersedia melakukan apa saja demi ketenaran dunia maya. Apa saja, termasuk berkunjung
ke hutan angker bernama Alas Pati, di mana terdapat kuburan terkutuk di
dalamnya, sebagaimana dilakukan lima remaja pencari tantangan dan penonton
YouTube. Raya (Nikita Willy) merasa perjalanan itu akan seru, Randy (Roy
Sungkono) yakin video petualangan ke lokasi angker bakal mendongkrak jumlah
penonton, sementara Vega (Stefhanie Zamora) butuh uang untuk membayar indekos.
Ketiga alasan itu sepertinya sudah merangkum tujuan hidup banyak muda-mudi masa
kini.
Sesampainya di Alas Pati, para remaja ini mulai bertingkah
tidak sopan, bermain-main dengan mayat dan kuburan. Jangankan arwah-arwah
penasaran di sana, saya di kursi penonton pun ingin mereka semua tewas.
Memiliki deretan tokoh menyebalkan dalam film horor bukan masalah, sebab
melihat satu per satu dari mereka dibantai juga memberikan hiburan tersendiri.
Tapi alih-alih secara konstan memenuhi harapan tersebut, Alas Pati justru memaksa kita menunggu, menunggu, dan terus menunggu
dalam rangkaian keusilan hantu yang cuma sesekali memberi dampak. Salah satu
momen paling mencekam justru bukan dari gangguan dedemit, melainkan ketika Roy
yang tengah merekam video dari jendela mobil nyaris terserempet truk, karena pemilihan
waktunya tak terduga dan tanpa kesan mengulur waktu.
Mayoritas jump scare terlampau diulur, urung memamerkan penampakan ketika kecemasan memuncak, dan
baru memunculkan sang hantu saat saya sudah menguap, lelah menanti, bagai usaha
malas sutradara dan penulis naskah agar mencapai batas minimal durasi film panjang.
Sulit untuk tidak berharap Alas Pati tetap
bertahan di hutan. Setidaknya di sana aroma kengerian lebih semerbak. Sayang,
pasca sebuah adegan kematian mengejutkan yang dieksekusi solid dibalut gore memadahi, karakternya pulang ke
kota, ke rumah masing-masing, dengan darah teman mereka masih mengotori sekujur
tubuh. Jika ada di posisi serupa, saya akan mencuci muka di sungai yang harus
diseberangi sebelum mencapai hutan daripada menunggu berjam-jam kemudian. Bodoh
memang, bahkan untuk ukuran horor remaja.
Bicara soal remaja, jajaran cast-nya bahkan tidak kuasa menjadikan obrolan sehari-hari
terdengar realistis, apalagi asyik disimak. Ada usaha dari naskahnya guna
menjalin interaksi menarik melalui beragam kelakar, namun kelima bintang
mudanya adalah pelontar lelucon yang buruk. Begitu pula tatkala dipaksa
berakting ketakutan. Mereka tampak kurang meyakinkan, dibuat-buat, atau menampakkan
ekspresi seseorang yang mendapati bakso yang diinginkan sudah habis terjual
ketimbang melihat setan. Seperti Jessy (Naomi Paulinda), saya pun berkali-kali
ingin berteriak, “What??? Seriously?!
“.
Mei 22, 2018
Aviv Elham
,
horror
,
Indonesian Film
,
Jeff Smith
,
Jelek
,
Jose Purnomo
,
Naomi Paulinda
,
Nikita Willy
,
REVIEW
,
Ricky Lionardi
,
Roy Sungkono
,
Steffi Zamora
GASING TENGKORAK (2017)
Rasyidharry
Lupakan Pengabdi Setan yang sebentar lagi akan menggeser Jangkrik Boss! Part 2 dari puncak daftar film lokal terlaris 2017. Gasing Tengkorak, selaku film ketiga Jose Purnomo tahun ini setelah Jailangkung dan Ruqyah: The Exorcism, adalah horor yang amat mewakili pengalaman hidup banyak penontonnya. Kenapa? Karena Jose bersama Baskoro Adi Wuryanto yang belakangan setia menulis naskah untuk filmnya, sukses memposisikan cerita teror makhluk halus sebagai simbol bagi teror lain yang tak kalah mengerikan: penulisan skripsi! Mari kita bedah detailnya.
Ketika mengerjakan skripsi tentu kita pernah merasa sudah menuliskan seluruh poin penting, tapi hasilnya masih terlalu pendek dan tipis. Alhasil kita memilih mengulang-ulang pokok bahasan, menambahkan hal-hal kurang penting, atau memanjangkan kalimat hingga berputar-putar. Demikianlah Gasing Tengkorak. Hanya berdurasi 80 menit dengan inti masalah mungkin dapat diselesaikan sekitar 15 menit. Menceritakan tentang Vero (Nikita Willy), seorang diva yang ingin mengasingkan diri di sebuah villa terpencil pasca pingsan mendadak kala konser. Suatu malam, ada sosok wanita yang disalahartikan kedatangannya. Maksud hati ingin mengajak idolanya main gasing, ia dikira mengirim santet. Malang nian.
Tapi konflik itu baru tampil setelah lewat 30 menit. Sebelumnya, kita dijejali penayangan eksklusif nan terselubung bagi extended trailer untuk Keeping Up with Nikita Willy plus promo villa. Menyaingi iklan apartemen Pantai Indah Kapuk yang dibawakan Feni Rose, filmnya menunjukkan interior mewah serta eksterior dengan ragam fasilitas milik villa tersebut, seperti kolam renang, balkon maha luas, hingga lapangan basket. Sementara Nikita sibuk bergaya di depan cermin bak Krisyanto menyanyikan lagu Putri, merekam vlog, mencoba wig sembari berlenggak-lenggok, bermain PlayStation VR, dan adu kecepatan melawan si wanita gasing. Parahnya, walau menaiki sepeda, ia dikalahkan oleh si wanita yang berlari. You need to workout more, dear.
Melanjutkan kaitan dengan skripsi, layaknya mahasiswa yang asal garap berujung kurang memahami hasil tulisannya, film ini menyalahi rule yang dibuat sendiri. Sempat disebutkan (termasuk dalam mantra), begitu gasing berhenti berputar, hidup korban pun turut terhenti. Fakta di lapangan justru sebaliknya. Saat gasing berhenti, teror yang berhenti, bukan nafas Vero sebagaimana kemauan penonton...maaf, maksud saya si wanita gasing. Bahkan, beberapa gangguan terjadi tanpa ada putaran gasing. Lalu teror macam apa yang menyerang ketika gasing tengkorak dimainkan? Rupanya hantu anak kecil berwajah tengkorak yang bergerak lebih lambat dibandingkan proses PDKT laki-laki paling pemalu sekalipun.
Tanpa diduga, tanpa dinyana, pelanggaran rule di atas terjawab oleh suatu twist, yang lagi-lagi merupakan simbolisme tepat sasaran terhadap mahasiswa yang menggarap skripsi seenaknya tanpa belajar secara mendalam. Gasing Tengkorak menawarkan kejutan bermuatan psikologis yang selain salah kaprah menyikapi sebuah disorder, juga hadir mendadak tanpa memperhatikan logika alur. Ibarat skripsi dengan tujuan penelitian A, lalu menghasilkan kesimpulan V. Atau latar belakang B, tapi yang diteliti S. Terdapat pula adegan menggelikan berupa pelaksanaan Tes Rorschach yang lebih terlihat seperti kuis tebak gambar.
Nilai positif layak diberikan pada beberapa set-up menjelang jump scare yang cukup efektif membangun kecemasan, sebelum akhirnya eksekusi teror berbasis hentakan efek suara dan musik berisik merusaknya. Ah, maaf. Saya melantur. Tidak ada yang rusak dalam film ini. Sebaliknya, Gasing Tengkorak sanggup menjadi jendela realita yang teramat relevan, mengajak penonton melongok lebih jauh soal problematika pengerjaan tugas akhir mahasiswa Indonesia. Sementara Nikita Willy yang seolah ingin membuktikan pendewasaannya, tampil dengan performa yang tidak masuk kategori buruk.
November 03, 2017
Baskoro Adi Wuryanto
,
horror
,
Indonesian Film
,
Jelek
,
Jose Purnomo
,
Nikita Willy
,
REVIEW
RUQYAH: THE EXORCISM (2017)
Rasyidharry
Pengabdi Setan telah mengeset standar baru bagi horor tanah air sebagaimana The Raid dan sekuelnya pada genre aksi beberapa tahun lalu. Namun Ruqyah: The Exorcism akan tetap buruk bahkan apabila eksis dalam dunia di mana Pengabdi Setan tidak pernah dibuat sekalipun. Benar bahwa tingkat efektivitas horor untuk tiap penonton berlainan, tapi sewaktu seisi bioskop kompak tertawa sepanjang durasi, bisa dipastikan ada yang salah pada filmnya. Setidaknya itu pengalaman saya, ketika bersama puluhan penonton lain, selalu geli mendapati ekspresi Evan Sanders atau kemasan clumsy saat Celine Evangelista kesurupan lalu memanjat tembok layaknya peserta lomba panjang pinang.
Merupakan film kedua dari total tiga horor karya Jose Purnomo tahun ini (Jailangkung dan Gasing Tengkorak), Ruqyah: The Exorcism konon diangkat dari peristiwa nyata tahun 2012. Namun alangkah sulit mempercayai kebenaran pernyataan tersebut. Bukan terkait unsur gaib, melainkan karakter. Perkenalkan Mahisa (Evan Sanders), wartawan entah dari media mana, yang mendadak merangsek ke tengah hutan melacak suara-suara misterius. Pastinya pekerjaan itu menguntungkan melihat rumah mewah bertingkat dan mobil miliknya. Sampai suatu malam Mahisa bertemu Asha (Celine Evangelista), aktris ternama yang mengeluhkan gangguan makhluk halus, lalu bersedia bercerita ke Mahisa yang baru dikenal hanya karena si wartawan bersedia mengembalikan dompet dan handphone-nya.
Penelusuran Mahisa mendapat kesimpulan bahwa Asha ditanami jin supaya karir juga kekayaannya melesat. Saya sendiri curiga ada ilmu lain yang Asha kuasai, yakni make-up permanen. Bagaimana tidak? Seiring berjalannya waktu, daya tahan riasan wajahnya meningkat. Diawali bulu mata lentik dan bedak tebal yang setia terpasang sewaktu tidur, hingga puncaknya, basuhan air wudu pun tak mampu menghapus semua itu. Sulit mencari perbedaan tata rias Ruqyah: The Exorcism selaku film layar lebar dengan sinetron penghias layar televisi.
Saya yang dulu bakal menyebut naskah buatan Jose Purnomo dan Baskoro Adi Wuryanto (Jailangkung, Sawadikap, Ghost Diary) sebagai bentuk kebodohan. Namun sepertinya "bodoh" terlampau kejam, jadi mari memakai istilah "ajaib". Rentetan kalimat dari mulut tokoh-tokohnya ajaib, tindakan mereka pun ajaib, seperti keputusan Mahisa membawa Asha yang kesurupan ke rumah kosong bak seorang penculik ketimbang langsung ke pondok milik kiai. Patut disyukuri, sebabnya, kita berkesempatan melihat Evan Sanders meruqyah, membaca surat Al Qur'an seperti remaja tengah merengek. Tidak kalah ajaib ekspresi ketakutan Evan yang sukses memecah gelak tawa penonton.
Keajaiban lain terletak di cara menangani unsur religi. Ruqyah: The Exorcism memang tak menggurui, tapi lebih dipicu sisi agama yang sebatas tempelan, terlampau disederhanakan. Fungsinya sederhana. Sebagai jalan resolusi mudah di mana ruqyah berujung menyelesaikan masalah, sekaligus memberi Evan Sanders bantuan saat mati gaya. Alhasil dia tidak perlu repot-repot, cukup memasang ekspresi takut seadanya sembari membaca istighfar. Bicara soal keajaiban, toh tidak ada yang menandingi penyertaan tanggal tanpa maksud yang sama sekali tak membantu orientasi waktu, pula baris kalimat penyejuk kalbu nan penuh makna selaku penutup.
Urusan menakut-nakuti, Jose Purnomo jelas bukan sutradara kemarin sore. Mayoritas teror memang terjebak dalam keklisean jump scare berbumbu dentuman efek suara berlebihan, pun diperparah oleh adegan kesurupan yang cenderung canggung daripada creepy, tapi tersimpan secercah potensi. Ada sedikit kengerian ketika Jose bermain-main dengan flashy moment bernuansa sureal di klimaks. Sayang, potensi tersebut tenggelam dalam sederet keajaiban yang sanggup menyulap Ruqyah: The Exorcism dari horor menjadi salah satu tontonan terlucu tahun ini.
Oktober 06, 2017
Baskoro Adi Wuryanto
,
Celine Evangelista
,
Evan Sanders
,
horror
,
Indonesian Film
,
Jelek
,
Jose Purnomo
,
REVIEW
JAILANGKUNG (2017)
Rasyidharry
Salah besar menganggap horor tak memerlukan naskah mumpuni. Meski bukan mengedepankan alur kompleks, dialog cerdas, atau penokohan solid naskah horor berguna menyediakan layout, khususnya apabila penulis dan sutradara tidak dipegang satu orang. Deskripsi bagaimana sebuah kengerian muncul amat membantu pengadeganan sutradara. Dan satu poin yang kerap tertinggal (baik sengaja maupun tidak) adalah "rule" alias aturan. Poin ini penting apalagi bagi horor mistis dengan mitologi mengenai hantu, apa pemancing kehadirannya, kemampuan, sampai cara mengusir. Aturan ini merupakan logika tersendiri yang wajib dipegang dalam film horor kala ketiadaan common sense bersifat lumrah.
Jailangkung jelas berambisi mengulang fenomena Jelangkung 16 tahun lalu. Duet Rizal Mantovani dan Jose Purnomo kembali di kursi sutradara, sedangkan naskah dipegang Baskoro Adi Wuryanto (Bulan Terbelah di Langit Amerika 2, Sawadikap, Ghost Diary) menggantikan Adi Nugroho (Kuldesak, Ruang, Strawberry Surprise). Kisahnya memakai template umum, tentang perjalanan tiga kakak beradik, Bella (Amanda Rawles), Angel (Hannah Al Rashid), dan Tasya (Gabriella Quinlyn) menuju pulau Alas Keramat, tempat di mana sang ayah, Ferdi (Lukman Sardi) berada terakhir kali sebelum koma. Dibantu Rama (Jefri Nichol) si pemuda ahli ilmu kejawen, mereka menemukan rahasia mengerikan yang bertahun-tahun disimpan Ferdi.
Walau adegan pembukanya tak lebih dari eksposisi buru-buru, awal Jailangkung cukup menjanjikan berkat penanaman misteri terkait mitos Jawa. Mitologi klenik daerah kita memang berpotensi dieksplorasi karena memberi bekal misteri untuk ditelusuri. Walau teori seputar jiwa dan raga menurut kepercayaan Jawa yang dipresentasikan Rama nyata didasari riset seadanya, rasa ingin tahu masih mampu disulut. Ritual apa yang Ferdi lakukan? Siapa sosok Mati Anak yang mengganggunya? Ada modal kuat guna menggulirkan alur menarik. Ditambah lagi, Jailangkung enggan mengumbar penampakan sebanyak dan sedini mungkin. Sampai akhirnya, semakin jauh perjalanan, semakin buruk filmnya.
Penyebabnya naskah buatan Baskoro gemar menyalahi logika umum hingga rule khusus sebagaimana tersebut tadi. Kakak gila mana yang membawa adik kecilnya ke pulau terpencil kemudian meninggalkannya sendiri di kamar sebuah rumah kosong menyeramkan? Remaja gila mana pula yang bisa duduk santai tersenyum menonton rekaman pernikahan orang tua mereka di sana pada tengah malam? Lalu apa tujuan Ferdi merekam aktivitasnya selain sebagai cara filmnya mengakali flashback? Banyak juga sudut peletakan kamera terlampau sinematik untuk footage amatir. Tapi dosa lebih besar adalah ketika Baskoro mengesampingkan aturan buatannya sendiri mengenai hantu dan jailangkung, contohnya ketika dampak gangguan hantu untuk seorang tokoh berbeda dari tokoh lain (what's the deal with Angel's absurd hallucination?). Hantu memang tak butuh aturan main, tapi untuk apa membangun mitologi kalau berujung seenaknya sendiri? Saat penulisnya menolak peduli, bagaimana penonton mau mempedulikan filmnya?
Buruknya naskah tidak membantu Rizal Mantovani dan Jose Purnomo yang sama-sama dikenal akan kemampuan menangkap gambar indah namun kurang pandai bercerita. Didukung biaya 10 miliar rupiah, Jailangkung serupa produksi Screenplay Films lain, terlihat mahal, enak dilihat, tapi nihil substansi, seperti ditunjukkan tata artistik setting rumah tempat ritual dengan beragam ornamen aneh. Sinematografi Jose Purnomo pun menyajikan kemegahan dramatis (shot pemakaman dari atas misalnya) yang urung mendukung tingkat kengerian. Setelah irit di awal, begitu jump scare mulai menerjang, kita dihadapkan pada rutinits biasa berupa kejutan berisik asal masuk. Kombinasi lemahnya naskah dan penyutradaraan berpuncak di third act. Berniat membangun nuansa chaotic, kekacauan sesungguhnya justru tercipta. Saking kacaunya, bila anda ajukan pertanyaan memakai rumus 5W+1H tentang klimaksnya, jawaban bakal sulit didapat.
Eksekusi teror mencapai paruh akhir tak hanya meniadakan kengerian, bahkan memunculkan geli. Saya bersama mayoritas penonton lain tertawa menyaksikan Lukman Sardi menggendong hantu di depan cermin. Bukan seluruhnya salah sutradara, karena Lukman sendiri (bukan di adegan ini saja) bagai berakting di film horor-komedi lewat ekspresi dibuat-buat. Jarang melihat Lukman Sardi sebagai salah satu aspek terlemah film. It's unusual to see Lukman Sardi became one of a movie's weakest aspect, but there you go. Penampilan Lukman diikuti Jefri Nichol yang pasca penuh karisma di Dear Nathan, kini salah mengartikan "quirky, introvert guy" dengan wooden acting. Karakter Rama si ahli ilmu mistis tidak berguna, malah beberapa kali jadi penyebab peristiwa buruk. Beruntung ada Hannah Al Rashid yang seorang diri menciptakan momen paling mencekam berkat ekspresi believable. Kita bisa merasa pun percaya atas rasa takut serta penderitaannya. She's that good, but the rest is just a big waste of money and many potentials.
Juni 29, 2017
Amanda Rawles
,
Baskoro Adi Wuryanto
,
Gabriella Quinlyn
,
Hannah Al Rashid
,
horror
,
Indonesian Film
,
Jefri Nichol
,
Jose Purnomo
,
Kurang
,
Lukman Sardi
,
REVIEW
,
Rizal Mantovani
Langganan:
Postingan
(
Atom
)























