Tampilkan postingan dengan label Jose Purnomo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jose Purnomo. Tampilkan semua postingan

ROY KIYOSHI: THE UNTOLD STORY (2019)

Ingat saat internet dibanjiri meme soal bentuk dagu Roy Kiyoshi? Salah satunya mengedit kepala Roy menjadi sebaris gigi seri. Saya tidak suka mengolok-olok fisik seseorang, tapi aktingnya di film ini memang tampak seperti gigi: keras, kaku, datar. Seperti anda tahu, saya sering menonton film buruk berisi akting tak kalah buruk, namun buruknya akting Roy di sini bahkan berhasil membuat saya terkesima.

Memerankan sosok fiktif dari dirinya, Roy menghabiskan mayoritas paruh awal Roy Kiyoshi: The Untold Story nyaris tanpa berbicara, banyak berdiri diam dikuasai lamunan, tenggelam dalam adiksi alkohol akibat rasa bersalah pasca sang adik, Rani (Clarice Cutie) diculik sosok iblis bernama Banaspati. Tapi jangan khawatir para pecinta suara Roy Kiyoshi, sebab ada banyak porsi voice over dilimpahkan kepada pria indigo kebanggaan Indonesia ini, yang terdengar layaknya anak SD kala pertama kali diminta membaca puisi.

Ketika Roy sibuk mabuk-mabukkan, Sheila (Angel Karamoy), lulusan S2 jurusan psikologi yang bekerja di suatu LSM tengah melangsungkan investigasi terhadap kasus hilangnya anak-anak. Menyandang gelar “Master of Psychology” tak membuat Sheila lupa daratan. Dia enggan pamer ilmu, sehingga tak sedikit pun ia nampak seperti psikolog.

Sebaliknya, Sheila terbuka akan sumber keilmuan lain. Apabila karakter psikolog dalam film umumnya bersikap skeptis pada hal mistis, Sheila langsung percaya bahwa anak-anak itu hilang diculik setan setelah melihat rekaman milik seorang wanita mantan karyawan LSM tempatnya bekerja yang tewas bunuh diri. Lucunya, ruang kerja wanita itu dibiarkan berantakan dengan seluruh barang teronggok begitu saja, memudahkan Sheila menemukan berbagai arsip dan kamera kepunyaannya.

Walau saya mengapresiasi keengganan naskah karya Jose Purnomo (Pulau Hantu, Alas Pati, Gasing Tengkorak) dan Aviv Elham (Tali Pocong Perawan, Reva: Guna Guna) menciptakan satu lagi kompilasi jump scare dan memilih mengutamakan elemen misteri, penyelidikan yang Sheila lakukan amat jauh dari menarik, sebab kita tahu semuanya bakal bermuara di satu kesimpulan: Banaspati adalah pelaku penculikan tersebut. Ada bagian menjanjikan ketika Sheila coba mencari korelasi antara tiap kasus, tapi teka-teki itu langsung terpecahkan selang beberapa detik setelah diperkenalkan.

Berikutnya, Sheila menemukan laporan di kepolisian soal hilangnya Rani, yang ia yakini merupakan keping yang bakal melengkapi keseluruhan misteri. Laporan itu dilayangkan oleh Tante Riska (Olga Lydia). Saya menyimpan setumpuk tanda tanya tentang karater Tante Riska. Pertama, siapa dia??? Apakah tante Roy (adik dari ibu/ayahnya), ataukah “tante”?  Kedua, jika Tante Riska tahu Rani adalah korban Banaspati, buat apa repot-repot lapor ke polisi? Jawaban pertanyaan kedua sederhana. Para penulis naskahnya terlampau malas mencari jalan yang lebih baik guna mempertemukan Sheila dengan Roy.

Saat mengunjungi rumah Roy, Sheila diam-diam mengambil secarik kertas bertuliskan cara memanggil Banaspati. Saya mulai mengkhawatirkan Sheila. Apakah dia pengidap kleptomania? Di hari pertama kerja, ia mengambil kamera dari kantor. Sekarang, di kunjungan pertamanya ke rumah orang asing, ia mengambil catatan. Entahlah, pastinya Sheila orang bodoh. Dia memanggil Banaspati tanpa alasan maupun rencana yang jelas.

Rasanya mental Sheila terganggu akibat tinggal di apartemen yang tak mengenal teknologi bernama “lampu”. Kamarnya remang-remang, bahkan satpam di sana tampak membaca di ruang tanpa penerangan. Hal paling terang justru tubuh penuh urat urat yang menyala layaknya dialiri api milik Banaspati. Setidaknya film ini punya sosok hantu berpenampilan mumpuni, dengan Kabuto (helm samurai) di kepala serta riasan creepy. Itulah satu-satunya elemen positif Roy Kiyoshi: The Untold Story.

Hiburan sesungguhnya baru bermula begitu Roy menyadari kesalahannya, berhenti minum, memutukan membantu Sheila.....lalu mulai banyak bicara. OH TUHAN. Akting Angel Karamoy, yang penuh antusiasme salah tempat dan/atau waktu, sudah cukup buruk, tetapi Roy......Semoga Tuhan mengampuni akting memalukan ini.

Penampilan Roy bukan saja buruk, tapi tampak nihil usaha, bahkan untuk sekedar mengucapkan kalimat senatural mungkin agar tak terdengar seperti sedang pertama kali membaca naskah. Kekakuan Roy mengingatkan saya kepada para pemenang Ale-Ale, dan itu cukup sebagai pemicu ledakan tawa para penonton tiap kali mulutnya melantunkan kalimat-kalimat bernada surgawi. Saya sempat bingung mesti menganugerahi film ini berapa bintang, sebelum memutuskan memberinya sejumlah ekspresi wajah yang Roy Kiyoshi tampilkan sepanjang durasi, yaitu.....

REVA: GUNA GUNA (2019)

Anda tahu dunia horor tanah air sedang mengalami krisis jika film macam Reva: Guna Guna tak sampai membuat anda kejang-kejang. Sebab, tentu saja Jose Purnomo (Jelangkung, Alas Pati, Silam) punya selera visual lebih baik, pula lebih bertalenta dibanding orang-orang di belakang Kain Kafan Hitam atau 11:11: Apa yang Kau Lihat?. Dinilai dari sampul luar, film ini memang produk layar lebar layak putar.

Turut mengambil peran sinematografer seperti biasa, setidaknya Jose tak memberi kesempatan gambar dengan resolusi tiarap dan/atau luput dari proses color grading muncul di hasil akhir filmnya. Sering tampak glitch yang mengindikasikan proses pasca-produksi yang terburu-buru (mungkin DCP baru selesai di saat-saat akhir?), tapi itu bukan kekeliruan sang sutradara. Tiga hantu antagonis (Gemet Aresan, Jurig Jarian, Emak Bongkok) pun wajahnya dibalut riasan memadahi. Tingkat kengeriannya bisa didebat, namun Kiki Aston (Silam, Kuntilanak) dan Dicky Etto (Jaga Pocong, Anak Hoki) jelas tak asal meniupkan bedak ke wajah pemain.

Reva: Guna-Guna memang takkan melukai mata penonton. TAPI, jika diskusi diteruskan menuju pertanyaan “Apakah filmnya melukai otak?”, jawabannya masih “Ya”. Bahkan sejak adegan pembuka yang memperlihatkan Reva (Angel Karamoy) tengah berada di sel tahanan tanpa toilet, seolah memperlihatkan kerja setengah hati tim penata artistik. Pantas Reva nampak begitu tertekan, karena untuk kencing selepas diteror hantu saja ia dipersulit.

Reva merupakan terdakwa pembunuhan atas seluruh anggota keluarganya, kecuali sang ayah, (Ferry Salim). Reva menolak tuduhan tersebut, kukuh pada jawaban bahwa pelakunya adalah tiga setan yang selalu menebar teror selepas ulang tahunnya yang ke-21. Karena psikolognya, Dr. Karina (Wulan Guritno), menyatakan Reva mengidap manik depresif (membahas ketepatan pemakaian istilah medis di film macam ini rasanya percuma), ia pun dikirim ke rumah sakit jiwa.

Keputusan tersebut dijatuhkan pasca proses persidangan ala kadarnya, di mana pengacara Reva menyebut bahwa tak ditemukannya senjata sebagai ketiadaan “motif” alih-alih “barang bukti”. Ya. Motif. Jadi kalau pelaku pembunuhan diajukan pertanyaan, “Apa motif kamu membunuh mereka?”, dia akan menjawab, “Pisau, pak polisi”.

Reva akhirnya tiba di rumah sakit jiwa yang dikepalai Nixon, yang diperankan Marcelino Lefrandt dalam gaya akting over-the-top yang dapat menggiring film ini ke arah psychological b-horror seru, namun naskah garapan Aviv Elham (Suster Ngesot The Movie, Arwah Tumbal Nyai, Alas Pati) memilih bertahan di ranah kisah supernatural medioker dengan plot berupa lompatan antara penampakan hantu, yang jauh dari mengerikan, bahkan tak mengadung jump scare mengejutkan. Mungkin Jose berniat menghindari trik murahan, tapi saat musik berisik buatan Joseph S. Djafar (Suster Keramas, Kain Kafan Hitam, Orang Kaya Baru) tak henti membombardir telinga, niat mulia tersebut terasa semu.

Seiring waktu, serangan trio hantu semakin berbahaya, bahkan sempat membuat Reva berada di kondisi kritis akibat luka tusukan Gemet Aresan. Pendarahannya cukup untuk membuat kolam darah mini, tapi anehnya, jangankan luka, baju Reva sama sekali tidak sobek. Film ini melupakan logika itu, tetapi membuat Angel Karamoy menanggalkan pakaian di beberapa momen tanpa substansi.

Selama di rumah sakit jiwa, Reva sempat dikunjungi sahabatnya, Devi (diperankan Pamela Bowie selaku penampil terbaik film ini), yang lewat dua kunjungannya membuat saya mempertanyakan SOP karyawan di sana. Pada kunjungan pertama, Devi diusir karena membuat Reva menangis, tapi di kunjungan berikutnya, saat paranormal yang ia bawa terlempar hingga memecahkan pintu kaca, semua orang berdiam diri.

Singkat cerita, Devi akhirnya nekat berencana membawa sahabatnya (Atau kekasih rahasia? Kadang film ini seperti berusaha malu-malu menyiratkan hubungan lebih di antara keduanya) kabur. Rencana yang menghasilkan adegan paling intens di Reva: Guna Guna. Tidak perlu hantu. Cukup keberhasilan Jose bermain-main dengan kecemasan penonton, di mana ia bergantung pada atmosfer natural tanpa distraksi musik.

Namun begitu adegan tersebut berhasil menjadikan filmnya terlihat meyakinkan, Reva: Guna Guna kembali terjerumus dalam kebodohan seperti biasa. Sungguh bodoh ketika para petugas rumah sakit jiwa, termasuk Nixon yang digambarkan begitu teliti, tidak mencari keberadaan pasien yang hilang memakai CCTV, memilih repot-repot mengitari seisi gedung di tengah malam. Tapi hal terbodoh datang saat sang pembunuh mengungkap identitasnya lewat adegan konyol, dilengkapi kalimat tak kalah konyol, yang menunjukkan betapa penulisnya bingung bagaimana mesti menutup filmnya.

SILAM (2018)

Silam, yang juga adaptasi novel berjudul sama karya Risa Saraswati, awalnya diniati sebagai spin-off terbaru Danur untuk mengeksploitasi kesuksesan franchise-nya. Sampai tiba-tiba niat tersebut dibatalkan, dan embel-embel “From the Danur Universe” dihapus dari seluruh materi promosi. Untunglah, sebab meski lambat, seri Danur tengah berprogres ke arah positif, hingga tahun ini, Asih jadi judul pertama yang pantas disebut baik. Menyertakan Silam, yang bahkan jauh lebih buruk dibanding film pertama, bakal mengembalikannya ke titik nadir.

Pasca meninggalnya sang ayah, Baskara (Zidane Khalid) merasa dibenci oleh ibunya (Nova Eliza), yang seolah menyalahkan seluruh perbuatan putera semata wayangnya itu. Ditambah perundungan di sekolah, lengkap sudah penderitaan Baskara. Sampai ia menemukan foto saudara kembar ayahnya, Anton (Surya Saputra), lalu memutuskan minggat ke rumah pamannya. Mengapa di balik foto pribadi tertulis nama serta alamat saudara kembar sendiri? Entah. Sepertinya ini hanya cara malas Lele Laila (Danur 2: Maddah, Keluarga Tak Kasat Mata, Asih) selaku penulis naskah agar Baskara menemukan kediaman Anton.

Tapi sebelum itu, kita menyaksikan lebih dahulu peristiwa yang membuka mata batin Baskara, yakni ketika kepalanya terbentur lantai setelah didorong oleh teman sekelasnya. Sejak itu Baskara dapat melihat hantu. Peristiwa tersebut terjadi pada suatu ruangan terlarang di sebuah museum. Mengapa ruangan terlarang tidak diberi gembok atau pengamanan ekstra dalam bentuk apa pun? Entah. Sepertinya ini hanya bentuk kemalasan lain dari penulis naskahnya.

Seandainya anda lupa, film ini disutradarai Jose Purnomo (Alas Pati, Jailangkung, Gasing Tengkorak) yang belakangan bak bersemangat menjadi Nayato 2.0 perihal menyajikan horor-horor bobrok. Di sini, Jose menunjukkan bahwa ia belum banyak berubah, walau soal menciptakan jump scare, tampak sedikit peningkatan. Ada sekitar tiga momen yang sanggup menyentak berkat ketepatan timing.

Soal membangun kengerian, dia masih Jose yang kita sayangi bersama. Di tangan sutradara mumpuni, adegan kala Baskara mampir ke kuburan ayahnya di tengah malam kemudian dikepung barisan setan bisa hadir mencekam. Walau lagi-lagi, timbul pertanyaan. Jika Baskara sudah menyadari kemampuannya melihat hantu, kenapa ia nekat ke kuburan hanya untuk meminta petunjuk yang takkan memperoleh jawaban? Bocah SD kebanyakan takkan melakukan itu. Sekali lagi saya cuma bisa menjawab, “entah”. Sepertinya ini hanya bentuk kemalasan lain dari penulis naskah guna membuka jalan menampilkan kengerian.

Tapi naskahnya masih menyimpan kelebihan. Berbeda dengan Baskoro Adi Wuryanto selaku kompatriotnya sesama pemuja kekosongan cerita dalam horor, pelan-pelan naskah Lele Laila meningkat. Setibanya Baskara di rumah Anton, plot Silam mulai memancarkan daya tarik. Baskara menyadari keanehan pada tingkah Anton, Ami (Wulan Guritno) sang istri, juga dua puteri kembar mereka (yang dicomot dari The Shining). Didasari keanehan itu Silam menghadirkan cerita sungguhan, di mana tercipta pertanyaan, juga misteri untuk digali. Bukan bentuk misteri segar, pun besar kemungkinan anda bisa menebak jawabannya sedari awal. Namun paling tidak, keberadaannya menjauhkan Silam dari deretan horor kosong yang gagal membedakan antara plot dengan segmen-segmen jump scare tak mengerikan.

Sayang, di sela-sela misteri kita dipaksa jadi saksi kecanggungan penyutradaraan Jose. Ada satu momen yang melibatkan hantu gadis cilik dengan riasan dan perilaku yang bagai kombinasi penggila black metal dan emo. Si hantu mengikuti Baskara dan teman barunya yang juga mampu melihat makhluk halus, Irina (Dania Michelle). Pemandangan itu sontak memancing tawa seisi studio. Jose baru saja menghantarkan salah satu kelucuan tak disengaja paling epic sepanjang tahun. Satu lagi elemen mengganggu adalah keputusan Jose, yang seperti biasa merangkap DOP, menerapkan warna kusam termasuk di situasi gelap gulita, sehingga gambar terlihat keruh dan sukar dilihat.

Kemudian tibalah konklusinya, yang terjangkit penyakit mayoritas film horor lokal, yakni kegagalan menghadirkan penutup memuaskan. Babak akhirnya begitu berantakan, di mana beberapa poin cerita dibiarkan tanpa kejelasan atau memunculkan plot hole akibat penyertaan sebuah twist. Kalau itu belum cukup, jangan khawatir. Anda bakal mendapat hal lain untuk ditertawakan, tatkala Silam mengajarkan bahwa untuk membatalkan perjanjian dengan setan, seseorang hanya butuh berniat, tanpa perlu repot-repot melangsungkan ritual. Mendengar itu, karakternya pun berkata, “Saya niatkan pembatalan perjanjian.....”. Oh, for God's sake!

JAILANGKUNG 2 (2018)

Jailangkung 2 diawali dengan meyakinkan, memberi penyegaran dengan membawa kisahnya mundur jauh ke belakang, tepatnya pada 1947 untuk mengaitkan Matianak dengan legenda SS Ourang Medan, kapal yang konon karam akibat kecelakaan misterius berbau mistis. Sekuen—yang sayangnya terlampau singkat—itu bukan cuma menghadirkan suasana berbeda, pula berpotensi melebarkan mitologi cerita, di mana Matianak dikurung dalam kargo SS Ourang Medan. Untuk apa? Pertanyaan-pertanyaan logika serupa terulang berkali-kali, tapi tanya yang lebih besar adalah “kenapa sekuel ini dibuat jika orang-orang yang terlibat tampak setengah hati?”. Demi uang tentu saja. Bodohnya saya bertanya.

Padahal menengok konsepnya, Jailangkung 2 jelas sekuel ambisius. Lebih mahal, lebih besar, punya lingkup lebih luas. Dimulai di tengah samudera, kisahnya berlanjut menceritakan nasib tokoh-tokohnya pasca film pertama. Bella (Amanda Rawles) mendapati keluarganya masih diteror Matianak. Ayahnya, Ferdi (Lukman Sardi) tetap dihinggapi rasa tidak tenang, sementara sang kakak, Angel (Hannah Al Rashid) berada di bawah pengaruh Matianak dalam wujud bayi yang ia lahirkan di film sebelumnya. Kedua mata bayi itu berwarna putih, menyeramkan, tapi entah bagaimana pihak rumah sakit seolah tak merasa ada kejanggalan.

Si puteri bungsu, Tasya (Gabriella Quinlyn), secara tak sengaja menyaksikan video ayahnya bermain jailangkung, lalu terinspirasi membuat jailangkung sendiri guna berkomunikasi dengan mendiang sang ibu. Tindakan inilah awal segala teror yang memicu Bella, bersama Rama (Jefri Nichol), melakukan perjalanan mencari jimat Kurungsukmo yang dipercaya bisa membendung kekuatan Matianak, setelah memperoleh informasi dari Bram (Naufal Samudra) si mahasiswa baru. Perjalanan ini diisi ragam tindakan karakter yang terjadi semata sebagai pembuka jalan menyelipkan jump scare alih-alih didasari motivasi logis. Bella misalnya, mendadak bergegas ke WC untuk cuci tangan. Bisa jadi dia menjunjung tinggi kebersihan, meski saya yakin ini sekedar cara malas Ve Handoyo dan Baskoro Adi Wuryanto (Gasing Tengkorak, Ruqyah: The Exorcism) dari departemen penulisan naskah supaya Bella seorang diri di ruangan gelap. Begitu lampu WC padam, daripada kabur, ia justru nekat menyelidiki.

Di saat bersamaan Ferdi tinggal di rumah, berusaha mencari Tasya yang hilang setelah bermain jailangkung. Selaras dengan tema kekeluargaan yang diusung, Ferdi pun coba digambarkan sebagai seorang ayah dengan kepedulian tinggi pada ketiga puterinya, walau tatkala Bella pamit ingin mencari jimat,—yang jelas sebuah perjalanan berbahaya—Ferdi tak merasa perlu menanyakan destinasinya. Benar saja, gangguan makhluk halus setia mengintai Bella dan kawan-kawan. Bram berkata, bahwa semakin tinggi niat mereka menyingkirkan Matianak, semakin banyak pula setan mengganggu demi menggagalkan usaha itu. Satu momen singkat sempat memperlihatkan para hantu merangkak di depan Matianak layaknya rakyat jelata memuja sang raja. Setidaknya poin itu cukup sebagai “rules”, penjabaran mengapa hantu-hantu selain Matianak ikut meneror.

Samudera ganas baik di permukaan maupun kedalaman hingga Keraton gaib Alas Ketonggo jadi contoh lokasi yang disinggahi petualangan Jailangkung 2. Cenderung nampak seperti ajang unjuk gigi bujet besar ketimbang parade kengerian, untungnya variasi lokasi serta cukup baiknya kualitas CGI menjadikan film ini tidak semelelahkan mayoritas horor lokal buruk yang hanya bertahan di lokasi tunggal nan monoton. Petualangan berskala besar ini sayangnya berakhir ala kadarnya, sewaktu jimat Kurungsukmo yang telah tersembunyi selama puluhan tahun dalam reruntuhan kapal di dasar laut jauh lebih mudah ditemukan ketimbang remote televisi yang hilang.

Setelah berpetualang sedemikian jauh bersama karakternya, tentu saya mengharapkan puncak yang sepadan, bukannya konfrontasi canggung yang bak dikemas tanpa perencanaan, tanpa koreografi matang, tanpa totalitas. Beberapa horor terakhir karya duo sutradaranya, Jose Purnomo (Alas Pati, Ruqyah: The Exorcism, Gasing Tengkorak) dan Rizal Mantovani (Kuntilanak, Bayi Gaib: Bayi Tumbal Bayi Mati) memang buruk, tapi setidaknya ada energi. Jump scare-nya memiliki tenaga meski berhenti di taraf trik mengagetkan murahan. Jailangkung 2 bagai anak kurang gizi yang dipaksa berlari. Begitu pula jajaran pemainnya. Menyaksikan Amanda Rawles-Jefir Nichol bersama di layar lebar tak pernah sedatar dan semembosankan ini. 

ALAS PATI (2018)

What??? Seriously?! “. Kalau anda menonton Alas Pati, niscaya kalimat tanya tersebut bakal mengendap di otak. Salah satu karakternya mengucapkan itu beberapa kali sebelum tewas. Pun respon itu juga yang sering saya lontarkan sepanjang film. Saya teringat beberapa tahun lalu, semasa SMP, kala tengah menyaksikan pertunjukan musik di pinggir pantai. Suara ombak dan angin berlomba dengan distorsi gitar yang menggedor lewat amplifier. Nada yang dimainkan tak jelas, tapi pastinya gitar rombeng itu dimainkan dalam volume tertinggi. Seusai penampilan, saya mempertanyakan pengaturan suara tersebut, yang dijawab dengan lantang, “rock is loud, bro!”. Mungkin jika anda tanyakan pada Jose Purnomo (Jailangkung, Gasing Tengkorak), ia pun akan menjawab “horror is loud, bro!”.

Dibantu musik gubahan Ricky Lionardi (Danur 2: Maddah, Bayi Gaib: Bayi Tumbal Bayi Mati), Jose menyerbu telinga penonton dengan musik sekencang mungkin, dalam adegan sebanyak mungkin. Termasuk di setiap false alarm yang kerap terjadi karena karakternya sering salah lihat, mana kaki hantu mana kaki manusia, mana rambut kuntilanak mana rambut mahasiswi. Bahkan sewaktu terornya berwujud kebisingan statis dari alat pendeteksi suara pun, musik tetap diputar sekeras-kerasnya. Seiring waktu saya pun mulai kebal dengan jump scare yang ditawarkan Alas Pati. Saya mulai mati rasa seiring keengganan film horor satu ini untuk memainkan rasa takut penonton.
Padahal premisnya menjanjikan. Naskah yang ditulis berdua oleh Jose Purnomo dan Aviv Elham (Dubsmash, Sang Sekretaris) seolah ingin memberi pelajaran kepada para remaja kekinian yang bersedia melakukan apa saja demi ketenaran dunia maya. Apa saja, termasuk berkunjung ke hutan angker bernama Alas Pati, di mana terdapat kuburan terkutuk di dalamnya, sebagaimana dilakukan lima remaja pencari tantangan dan penonton YouTube. Raya (Nikita Willy) merasa perjalanan itu akan seru, Randy (Roy Sungkono) yakin video petualangan ke lokasi angker bakal mendongkrak jumlah penonton, sementara Vega (Stefhanie Zamora) butuh uang untuk membayar indekos. Ketiga alasan itu sepertinya sudah merangkum tujuan hidup banyak muda-mudi masa kini.

Sesampainya di Alas Pati, para remaja ini mulai bertingkah tidak sopan, bermain-main dengan mayat dan kuburan. Jangankan arwah-arwah penasaran di sana, saya di kursi penonton pun ingin mereka semua tewas. Memiliki deretan tokoh menyebalkan dalam film horor bukan masalah, sebab melihat satu per satu dari mereka dibantai juga memberikan hiburan tersendiri. Tapi alih-alih secara konstan memenuhi harapan tersebut, Alas Pati justru memaksa kita menunggu, menunggu, dan terus menunggu dalam rangkaian keusilan hantu yang cuma sesekali memberi dampak. Salah satu momen paling mencekam justru bukan dari gangguan dedemit, melainkan ketika Roy yang tengah merekam video dari jendela mobil nyaris terserempet truk, karena pemilihan waktunya tak terduga dan tanpa kesan mengulur waktu.
Mayoritas jump scare terlampau diulur, urung memamerkan penampakan ketika kecemasan memuncak, dan baru memunculkan sang hantu saat saya sudah menguap, lelah menanti, bagai usaha malas sutradara dan penulis naskah agar mencapai batas minimal durasi film panjang. Sulit untuk tidak berharap Alas Pati tetap bertahan di hutan. Setidaknya di sana aroma kengerian lebih semerbak. Sayang, pasca sebuah adegan kematian mengejutkan yang dieksekusi solid dibalut gore memadahi, karakternya pulang ke kota, ke rumah masing-masing, dengan darah teman mereka masih mengotori sekujur tubuh. Jika ada di posisi serupa, saya akan mencuci muka di sungai yang harus diseberangi sebelum mencapai hutan daripada menunggu berjam-jam kemudian. Bodoh memang, bahkan untuk ukuran horor remaja.

Bicara soal remaja, jajaran cast-nya bahkan tidak kuasa menjadikan obrolan sehari-hari terdengar realistis, apalagi asyik disimak. Ada usaha dari naskahnya guna menjalin interaksi menarik melalui beragam kelakar, namun kelima bintang mudanya adalah pelontar lelucon yang buruk. Begitu pula tatkala dipaksa berakting ketakutan. Mereka tampak kurang meyakinkan, dibuat-buat, atau menampakkan ekspresi seseorang yang mendapati bakso yang diinginkan sudah habis terjual ketimbang melihat setan. Seperti Jessy (Naomi Paulinda), saya pun berkali-kali ingin berteriak, “What??? Seriously?! “.

GASING TENGKORAK (2017)

Lupakan Pengabdi Setan yang sebentar lagi akan menggeser Jangkrik Boss! Part 2 dari puncak daftar film lokal terlaris 2017. Gasing Tengkorak, selaku film ketiga Jose Purnomo tahun ini setelah Jailangkung dan Ruqyah: The Exorcism, adalah horor yang amat mewakili pengalaman hidup banyak penontonnya. Kenapa? Karena Jose bersama Baskoro Adi Wuryanto yang belakangan setia menulis naskah untuk filmnya, sukses memposisikan cerita teror makhluk halus sebagai simbol bagi teror lain yang tak kalah mengerikan: penulisan skripsi! Mari kita bedah detailnya.

Ketika mengerjakan skripsi tentu kita pernah merasa sudah menuliskan seluruh poin penting, tapi hasilnya masih terlalu pendek dan tipis. Alhasil kita memilih mengulang-ulang pokok bahasan, menambahkan hal-hal kurang penting, atau memanjangkan kalimat hingga berputar-putar. Demikianlah Gasing Tengkorak. Hanya berdurasi 80 menit dengan inti masalah mungkin dapat diselesaikan sekitar 15 menit. Menceritakan tentang Vero (Nikita Willy), seorang diva yang ingin mengasingkan diri di sebuah villa terpencil pasca pingsan mendadak kala konser. Suatu malam, ada sosok wanita yang disalahartikan kedatangannya. Maksud hati ingin mengajak idolanya main gasing, ia dikira mengirim santet. Malang nian.
Tapi konflik itu baru tampil setelah lewat 30 menit. Sebelumnya, kita dijejali penayangan eksklusif nan terselubung bagi extended trailer untuk Keeping Up with Nikita Willy plus promo villa. Menyaingi iklan apartemen Pantai Indah Kapuk yang dibawakan Feni Rose, filmnya menunjukkan interior mewah serta eksterior dengan ragam fasilitas milik villa tersebut, seperti kolam renang, balkon maha luas, hingga lapangan basket. Sementara Nikita sibuk bergaya di depan cermin bak Krisyanto menyanyikan lagu Putri, merekam vlog, mencoba wig sembari berlenggak-lenggok, bermain PlayStation VR, dan adu kecepatan melawan si wanita gasing. Parahnya, walau menaiki sepeda, ia dikalahkan oleh si wanita yang berlari. You need to workout more, dear.

Melanjutkan kaitan dengan skripsi, layaknya mahasiswa yang asal garap berujung kurang memahami hasil tulisannya, film ini menyalahi rule yang dibuat sendiri. Sempat disebutkan (termasuk dalam mantra), begitu gasing berhenti berputar, hidup korban pun turut terhenti. Fakta di lapangan justru sebaliknya. Saat gasing berhenti, teror yang berhenti, bukan nafas Vero sebagaimana kemauan penonton...maaf, maksud saya si wanita gasing. Bahkan, beberapa gangguan terjadi tanpa ada putaran gasing. Lalu teror macam apa yang menyerang ketika gasing tengkorak dimainkan? Rupanya hantu anak kecil berwajah tengkorak yang bergerak lebih lambat dibandingkan proses PDKT laki-laki paling pemalu sekalipun. 
Tanpa diduga, tanpa dinyana, pelanggaran rule di atas terjawab oleh suatu twist, yang lagi-lagi merupakan simbolisme tepat sasaran terhadap mahasiswa yang menggarap skripsi seenaknya tanpa belajar secara mendalam. Gasing Tengkorak menawarkan kejutan bermuatan psikologis yang selain salah kaprah menyikapi sebuah disorder, juga hadir mendadak tanpa memperhatikan logika alur. Ibarat skripsi dengan tujuan penelitian A, lalu menghasilkan kesimpulan V. Atau latar belakang B, tapi yang diteliti S. Terdapat pula adegan menggelikan berupa pelaksanaan Tes Rorschach yang lebih terlihat seperti kuis tebak gambar. 

Nilai positif layak diberikan pada beberapa set-up menjelang jump scare yang cukup efektif membangun kecemasan, sebelum akhirnya eksekusi teror berbasis hentakan efek suara dan musik berisik merusaknya. Ah, maaf. Saya melantur. Tidak ada yang rusak dalam film ini. Sebaliknya, Gasing Tengkorak sanggup menjadi jendela realita yang teramat relevan, mengajak penonton melongok lebih jauh soal problematika pengerjaan tugas akhir mahasiswa Indonesia. Sementara Nikita Willy yang seolah ingin membuktikan pendewasaannya, tampil dengan performa yang tidak masuk kategori buruk.

RUQYAH: THE EXORCISM (2017)

Pengabdi Setan telah mengeset standar baru bagi horor tanah air sebagaimana The Raid dan sekuelnya pada genre aksi beberapa tahun lalu. Namun Ruqyah: The Exorcism akan tetap buruk bahkan apabila eksis dalam dunia di mana Pengabdi Setan tidak pernah dibuat sekalipun. Benar bahwa tingkat efektivitas horor untuk tiap penonton berlainan, tapi sewaktu seisi bioskop kompak tertawa sepanjang durasi, bisa dipastikan ada yang salah pada filmnya. Setidaknya itu pengalaman saya, ketika bersama puluhan penonton lain, selalu geli mendapati ekspresi Evan Sanders atau kemasan clumsy saat Celine Evangelista kesurupan lalu memanjat tembok layaknya peserta lomba panjang pinang. 

Merupakan film kedua dari total tiga horor karya Jose Purnomo tahun ini (Jailangkung dan Gasing Tengkorak), Ruqyah: The Exorcism konon diangkat dari peristiwa nyata tahun 2012. Namun alangkah sulit mempercayai kebenaran pernyataan tersebut. Bukan terkait unsur gaib, melainkan karakter. Perkenalkan Mahisa (Evan Sanders), wartawan entah dari media mana, yang mendadak merangsek ke tengah hutan melacak suara-suara misterius. Pastinya pekerjaan itu menguntungkan melihat rumah mewah bertingkat dan mobil miliknya. Sampai suatu malam Mahisa bertemu Asha (Celine Evangelista), aktris ternama yang mengeluhkan gangguan makhluk halus, lalu bersedia bercerita ke Mahisa yang baru dikenal hanya karena si wartawan bersedia mengembalikan dompet dan handphone-nya.
Penelusuran Mahisa mendapat kesimpulan bahwa Asha ditanami jin supaya karir juga kekayaannya melesat. Saya sendiri curiga ada ilmu lain yang Asha kuasai, yakni make-up permanen. Bagaimana tidak? Seiring berjalannya waktu, daya tahan riasan wajahnya meningkat. Diawali bulu mata lentik dan bedak tebal yang setia terpasang sewaktu tidur, hingga puncaknya, basuhan air wudu pun tak mampu menghapus semua itu. Sulit mencari perbedaan tata rias Ruqyah: The Exorcism selaku film layar lebar dengan sinetron penghias layar televisi.

Saya yang dulu bakal menyebut naskah buatan Jose Purnomo dan Baskoro Adi Wuryanto (Jailangkung, Sawadikap, Ghost Diary) sebagai bentuk kebodohan. Namun sepertinya "bodoh" terlampau kejam, jadi mari memakai istilah "ajaib". Rentetan kalimat dari mulut tokoh-tokohnya ajaib, tindakan mereka pun ajaib, seperti keputusan Mahisa membawa Asha yang kesurupan ke rumah kosong bak seorang penculik ketimbang langsung ke pondok milik kiai. Patut disyukuri, sebabnya, kita berkesempatan melihat Evan Sanders meruqyah, membaca surat Al Qur'an seperti remaja tengah merengek. Tidak kalah ajaib ekspresi ketakutan Evan yang sukses memecah gelak tawa penonton.
Keajaiban lain terletak di cara menangani unsur religi. Ruqyah: The Exorcism memang tak menggurui, tapi lebih dipicu sisi agama yang sebatas tempelan, terlampau disederhanakan. Fungsinya sederhana. Sebagai jalan resolusi mudah di mana ruqyah berujung menyelesaikan masalah, sekaligus memberi Evan Sanders bantuan saat mati gaya. Alhasil dia tidak perlu repot-repot, cukup memasang ekspresi takut seadanya sembari membaca istighfar. Bicara soal keajaiban, toh tidak ada yang menandingi penyertaan tanggal tanpa maksud yang sama sekali tak membantu orientasi waktu, pula baris kalimat penyejuk kalbu nan penuh makna selaku penutup. 

Urusan menakut-nakuti, Jose Purnomo jelas bukan sutradara kemarin sore. Mayoritas teror memang terjebak dalam keklisean jump scare berbumbu dentuman efek suara berlebihan, pun diperparah oleh adegan kesurupan yang cenderung canggung daripada creepy, tapi tersimpan secercah potensi. Ada sedikit kengerian ketika Jose bermain-main dengan flashy moment bernuansa sureal di klimaks. Sayang, potensi tersebut tenggelam dalam sederet keajaiban yang sanggup menyulap Ruqyah: The Exorcism dari horor menjadi salah satu tontonan terlucu tahun ini.

JAILANGKUNG (2017)

Salah besar menganggap horor tak memerlukan naskah mumpuni. Meski bukan mengedepankan alur kompleks, dialog cerdas, atau penokohan solid naskah horor berguna menyediakan layout, khususnya apabila penulis dan sutradara tidak dipegang satu orang. Deskripsi bagaimana sebuah kengerian muncul amat membantu pengadeganan sutradara. Dan satu poin yang kerap tertinggal (baik sengaja maupun tidak) adalah "rule" alias aturan. Poin ini penting apalagi bagi horor mistis dengan mitologi mengenai hantu, apa pemancing kehadirannya, kemampuan, sampai cara mengusir. Aturan ini merupakan logika tersendiri yang wajib dipegang dalam film horor kala ketiadaan common sense bersifat lumrah.

Jailangkung jelas berambisi mengulang fenomena Jelangkung 16 tahun lalu. Duet Rizal Mantovani dan Jose Purnomo kembali di kursi sutradara, sedangkan naskah dipegang Baskoro Adi Wuryanto (Bulan Terbelah di Langit Amerika 2, Sawadikap, Ghost Diary) menggantikan Adi Nugroho (Kuldesak, Ruang, Strawberry Surprise). Kisahnya memakai template umum, tentang perjalanan tiga kakak beradik, Bella (Amanda Rawles), Angel (Hannah Al Rashid), dan Tasya (Gabriella Quinlyn) menuju pulau Alas Keramat, tempat di mana sang ayah, Ferdi (Lukman Sardi) berada terakhir kali sebelum koma. Dibantu Rama (Jefri Nichol) si pemuda ahli ilmu kejawen, mereka menemukan rahasia mengerikan yang bertahun-tahun disimpan Ferdi.
Walau adegan pembukanya tak lebih dari eksposisi buru-buru, awal Jailangkung cukup menjanjikan berkat penanaman misteri terkait mitos Jawa. Mitologi klenik daerah kita memang berpotensi dieksplorasi karena memberi bekal misteri untuk ditelusuri. Walau teori seputar jiwa dan raga menurut kepercayaan Jawa yang dipresentasikan Rama nyata didasari riset seadanya, rasa ingin tahu masih mampu disulut. Ritual apa yang Ferdi lakukan? Siapa sosok Mati Anak yang mengganggunya? Ada modal kuat guna menggulirkan alur menarik. Ditambah lagi, Jailangkung enggan mengumbar penampakan sebanyak dan sedini mungkin. Sampai akhirnya, semakin jauh perjalanan, semakin buruk filmnya.

Penyebabnya naskah buatan Baskoro gemar menyalahi logika umum hingga rule khusus sebagaimana tersebut tadi. Kakak gila mana yang membawa adik kecilnya ke pulau terpencil kemudian meninggalkannya sendiri di kamar sebuah rumah kosong menyeramkan? Remaja gila mana pula yang bisa duduk santai tersenyum menonton rekaman pernikahan orang tua mereka di sana pada tengah malam? Lalu apa tujuan Ferdi merekam aktivitasnya selain sebagai cara filmnya mengakali flashback? Banyak juga sudut peletakan kamera terlampau sinematik untuk footage amatir. Tapi dosa lebih besar adalah ketika Baskoro mengesampingkan aturan buatannya sendiri mengenai hantu dan jailangkung, contohnya ketika dampak gangguan hantu untuk seorang tokoh berbeda dari tokoh lain (what's the deal with Angel's absurd hallucination?). Hantu memang tak butuh aturan main, tapi untuk apa membangun mitologi kalau berujung seenaknya sendiri? Saat penulisnya menolak peduli, bagaimana penonton mau mempedulikan filmnya?
Buruknya naskah tidak membantu Rizal Mantovani dan Jose Purnomo yang sama-sama dikenal akan kemampuan menangkap gambar indah namun kurang pandai bercerita. Didukung biaya 10 miliar rupiah, Jailangkung serupa produksi Screenplay Films lain, terlihat mahal, enak dilihat, tapi nihil substansi, seperti ditunjukkan tata artistik setting rumah tempat ritual dengan beragam ornamen aneh. Sinematografi Jose Purnomo pun menyajikan kemegahan dramatis (shot pemakaman dari atas misalnya) yang urung mendukung tingkat kengerian. Setelah irit di awal, begitu jump scare mulai menerjang, kita dihadapkan pada rutinits biasa berupa kejutan berisik asal masuk. Kombinasi lemahnya naskah dan penyutradaraan berpuncak di third act. Berniat membangun nuansa chaotic, kekacauan sesungguhnya justru tercipta. Saking kacaunya, bila anda ajukan pertanyaan memakai rumus 5W+1H tentang klimaksnya, jawaban bakal sulit didapat.

Eksekusi teror mencapai paruh akhir tak hanya meniadakan kengerian, bahkan memunculkan geli. Saya bersama mayoritas penonton lain tertawa menyaksikan Lukman Sardi menggendong hantu di depan cermin. Bukan seluruhnya salah sutradara, karena Lukman sendiri (bukan di adegan ini saja) bagai berakting di film horor-komedi lewat ekspresi dibuat-buat. Jarang melihat Lukman Sardi sebagai salah satu aspek terlemah film. It's unusual to see Lukman Sardi became one of a movie's weakest aspect, but there you go. Penampilan Lukman diikuti Jefri Nichol yang pasca penuh karisma di Dear Nathan, kini salah mengartikan "quirky, introvert guy" dengan wooden acting. Karakter Rama si ahli ilmu mistis tidak berguna, malah beberapa kali jadi penyebab peristiwa buruk. Beruntung ada Hannah Al Rashid yang seorang diri menciptakan momen paling mencekam berkat ekspresi believable. Kita bisa merasa pun percaya atas rasa takut serta penderitaannya. She's that good, but the rest is just a big waste of money and many potentials.