Tampilkan postingan dengan label Jeff Smith. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jeff Smith. Tampilkan semua postingan
4 MANTAN (2020)
Rasyidharry
Sutradara
Hanny R. Saputra (Heart, Sajen, Bisikan
Iblis) bersama duo penulis naskah langganan rumah produksi RA Pictures,
Demas Garin dan Talitha Tan, berniat menyalurkan kecintaan (?)
mereka terhadap mahakarya Alfred Hitchcock, Psycho.
Beberapa adegan (contoh: kematian Milton Arbogast di tangga) direka ulang,
elemen gangguan mental dipakai, bahkan twist
di pertengahan durasi yang mengubah drastis arah film turut diterapkan.
Tapi “peniruan” tersebut hanya di kulit luar semata, sedangkan hal fundamental
justru dilupakan.
Hitchcock tidak berusaha terlihat keren. Sang maestro melakukan hal-hal
kecil substansial yang berdampak besar. Sebaliknya, 4 Mantan cuma berkutat di kebombastisan. Diawali secara kacau oleh
sekuen pembuka carut-marut yang tampak seperti trailer berantakan ketimbang adegan sungguhan, kemudian disusul momen-momen
penyutradaraan canggung yang terkesan amatiran, film ini mulai menemukan
pijakan tatkala misteri mulai menyelimuti. Dikisahkan, pasca pemakaman pemuda
bernama Alex (Jeff Smith), terjadi pertemuan empat wanita yang rupanya
sama-sama mantan almarhum, yang dipacarinya di waktu bersamaan.
Sara (Ranty Maria) si musisi yang mesti merawat sang ibu, Airin (Melanie
Berentz) si gadis tangguh, Rachel (Melayu Nicole) si model berkemampuan Bahasa
Inggris buruk (entah disengaja atau tidak), dan Amara (Denira Wiraguna) si
pelayan cafe. Kematian tidak wajar sang mantan menyatukan mereka, terlebih saat
masing-masing menerima surat misterius dari Alex, yang menyatakan bahwa ia
dibunuh oleh salah satu di antara keempatnya.
Bergerak cepat, tanpa banyak basa-basi, pula rutin mengundang pertanyaan-pertanyaan
yang kerap bermuara pada kejutan, 4
Mantan sempat berhasil mementahkan keraguan di separuh pertama durasi. Walau
penyelipan paksa elemen supernatural berupa deretan jump scare medioker demi memfasilitasi kegemaran penonton umum
untuk dikageti oleh penampakan hantu terasa mengganggu, intensitasnya mampu
terjaga berkat pengolahan misteri yang cukup baik. Ekspektasi kerap dibantah,
kisah bergerak ke arah yang tak terduga bakal dijamah.
Pun segelintir isu sosial sempat disinggung, meski ada yang tak dieksplorasi
lebih jauh (bulimia) dan ada pula yang penyampaiannya terlampau on the nose (soal pelecehan, khususnya
di konklusi). Semakin jauh misteri bergerak, semakin saya dibuat bersemangat
sembari bertanya-tanya, “Bagaimana kiranya Hanny dan tim akan menjawab semua
ini?”. Sayang, begitu memasuki paruh kedua tatkala jawaban dipaparkan, yang
tersisa justru kekecewaan.
4 Mantan menghabiskan sekitar setengah jam terakhir hanya untuk mengupas semua
kebenaran. Misteri tidak tersisa, alur menjadi stagnan. Mengapa perlu selama
itu untuk mempresentasikan jawaban? Karena kembali pada apa yang telah
disinggung di atas, film ini berambisi tampil bombastis, saat memasukkan
kejutan berbasis versi modifikasi dari elemen psikologi yang jamak digunakan di
banyak horor/thriller.
Sayangnya bukan modifikasi positif. Unsur psikologisnya mustahil dan penuh
keasalan. Di ranah film genre,
ketepatan keilmuan memang bukan kewajiban, hanya saja, 4 Mantan tidak dibarengi kreativitas memadai agar menjadi “fantasi”
mumpuni, juga tanpa kesolidan bercerita. Naskahnya tersesat sendiri dalam kerumitan
ambisius yang coba dibangun, sehingga pemaparannya berlarut-larut. Berniat
memuaskan dahaga penonton arus utama kekinian atas twist yang identik dengan status “film keren”, 4 Mantan malah berpotensi membingungkan mereka. Setidaknya cukup
mengasyikkan melihat Jeff Smith akhirnya tidak cuma memasang satu ekspresi
datar sepanjang film.
Februari 22, 2020
Demas Garin
,
Denira Wiraguna
,
Hanny R. Saputra
,
Indonesian Film
,
Jeff Smith
,
Kurang
,
Melanie Berentz
,
Melayu Nicole
,
Ranty Maria
,
REVIEW
,
Talitha Tan
,
Thriller
ZETA: WHEN THE DEAD AWAKEN (2019)
Rasyidharry
Zeta: When the Dead Awaken (berikutnya disebut “Zeta”) membuktikan jika tim sineas kita
sudah mampu memproduksi zombie flicks secara
layak, selama skalanya minimalis. Filmnya solid perihal memamerkan serangan
zombie, bahkan sesekali memancing ketegangan, namun ketika jangkauan kisahnya
diperluas hingga mencakup kepentingan nasional dengan melibatkan pemerintah,
ilmuwan, dan militer, Zeta tak
ubahnya role play anak-anak.
Saya terpikat oleh momen
pembukanya, yang begitu rapi mempresentasikan kondisi Jakrta yang tinggal
menyisakan puing-puing tanpa penduduk. Berbekal pemakaian CGI efektif ditambah
kelihaian menangkap pemandangan langka berupa kesenyapan ibukota, nuansa kiamat
yang menghantui mampu ditampilkan.
Kesolidan itu terus berlanjut saat
para zombie (di sini dipanggil “Zeta”)
melancarkan serangan di sekolah Deon (Jeff Smith), sebelum kisahnya mengajak
kita menyaksikan usaha sang remaja bermasalah menyelamatkan sang ibu, Isma (Cut
Mini), yang menderita alzheimer dan tinggal di apartemen sendirian. Isma
menetap seorang diri selepas dua tahun lalu Deon meninggalkannya, ketika sang
suami, Richard (Willem Bevers) menangkap basah perselingkuhannya.
Richard sendiri bekerja di Amerika
sebagai ilmuwan sekaligus pakar terkait wabah yang sedang terjadi. Richard
menyebut bahwa wabah itu dipicu evolusi amoeba parasit yang masuk ke tubuh
manusia lewat air, kemudian menguasai otak korbannya, mengubah mereka menjadi
zombie.
Penyutradaraan Amanda Iswan—yang
turut merangkap penulis naskah, produser, dan produser eksekutif—sanggup
menciptakan keseruan berbasis serbuan zombie yang bergerak cepat. Berlatar
apartemen kecil yang dipenuhi lorong sempit serta tangga darurat gelap, Amanda
mengkombinasikan modal lokasi tersebut dengan pergerakan kamera dinamis tanpa
harus membuat penonton sakit kepala lewat gaya shaky cam, juga ketepatan timing
dalam serangan zombie, guna menyusun intensitas.
Bahkan terkadang, para monster
pemangsa otak ini tampak menyeramkan berkat tata rias apik, pula efek suara
geraman sang zombie. Contohnya ketika Deon mesti mendobrak kamar lain demi
mencari makanan, hanya untuk dihadang sesosok zombie bertubuh tambun.
Satu-satunya gaya tidak perlu yang sang sutradara terapkan adalah sudut pandang
orang pertama layaknya gim video. Penempatannya terlalu acak juga begitu
singkat hingga kurang berhasil meninggalkan dampak.
Pada titik ini, sejatinya naskah Zeta sudah menyiratkan tanda-tanda
kebodohan, sebutlah saat Deon meminta salah satu anggota Blue River (kelompok
militan pembasmi zombie) agar bersedia menunggu di luar selama ia menolong
Isma. Tapi apa yang Deon lakukan begitu berhasil bertemu sang ibu? Secara
sepihak ia memilih menetap di kamar, lalu tertidur. Memang remaja sekarang
perlu diajari sopan santun.
Tapi kebodohan di atas sekadar
lubang kecil dibanding apa yang Zeta tampilkan
begitu mulai memperbesar cakupan cerita. Dari film zombie berlatar tunggal yang
menghibur, film ini bertransformasi menjadi kekonyolan canggung sewaktu
mengajak penonton melihat pertemuan antara ilmuwan, militer, dan Blue River.
Dekorasi setnya murahan penuh properti ala kadarnya, tiada usaha membangun
atmosfer sebuah markas rahasia secara meyakinkan akibat minimnya permainan tata
cahaya, penulisan kalimatnya buruk, belum lagi akting yang remuk.
Sang ilmuwan terlihat bak orang
bodoh yang berusaha keras terdengar pintar tanpa memahami apa yang ia
bicarakan, sementara para tentara bergaya sok gahar. Daripad akting mumpuni,
kita malah dipertunjukkan aksi main-main. Main tentara-tentaraan,
dokter-dokteran, jagoan-jagoanan.
Hampir seluruh cast-nya mengecewakan, termasuk para pemeran rakyat sipil—kecuali Dimas
Aditya yang tak terlihat mengganggu sebagai seorang penyintas tangguh. Jeff
Smith tak diberahi aura sebagai protagonis yang dapat diandalkan, tidak pula
secara layak menghidupkan sosok remaja bermasalah. Sementara Cut Mini melakoni
aspek cluelessness pengidap alzheimer
layaknya karikatur stereotipikal. Menyakitkan melihat penampilannya di sini
(terburuk sepanjang karir) pasca menakjubkannya Dua Garis Biru.
Karena tidak dibarengi materi
cerita mencukupi, Zeta sudah
kehabisan bahan bakar di pertegahan, mulai terasa draggy kala berlama-lama dalam situasi dengan pacing menyiksa selaku usaha mengulur waktu. Membosankan, padahal
setumpuk aspek berpotensi dieksplorasi. Contohnya, bila ingin melebarkan
cakupan, mengapa tidak berhenti sok keren ketimbang berusaha menggali perihak
isu sosial politik ketika satu kalimat mengenai “militer yang kehabisan
helikopter akibat dipakai mengangkut orang-orang penting” sudah menyiratkan
perihal permasalahan tersebut?
Saya suka penerapan konsep dua tipe
zeta, juga bagaimana mereka melihat
otak dan jantung manusia (kita sempat dibawa melihat apa yang mereka lihat).
Paparannya kreatif sampai Amanda Iswan kelelahan
(atau malas?), lalu meninggalkan penonton pada ketidakpastian soal cara kerja antidote, dan lain-lain. “Dan lain-lain”
inilah yang semestinya mendapat perhatian lebih.
Agustus 04, 2019
Amanda Iswan
,
Cut Mini
,
Dimas Aditya
,
horror
,
Indonesian Film
,
Jeff Smith
,
Kurang
,
REVIEW
,
Willem Bevers
ALAS PATI (2018)
Rasyidharry
“What??? Seriously?!
“. Kalau anda menonton Alas Pati,
niscaya kalimat tanya tersebut bakal mengendap di otak. Salah satu karakternya
mengucapkan itu beberapa kali sebelum tewas. Pun respon itu juga yang sering
saya lontarkan sepanjang film. Saya teringat beberapa tahun lalu, semasa SMP,
kala tengah menyaksikan pertunjukan musik di pinggir pantai. Suara ombak dan
angin berlomba dengan distorsi gitar yang menggedor lewat amplifier. Nada yang dimainkan tak jelas, tapi pastinya gitar
rombeng itu dimainkan dalam volume tertinggi. Seusai penampilan, saya mempertanyakan
pengaturan suara tersebut, yang dijawab dengan lantang, “rock is loud, bro!”. Mungkin jika anda tanyakan pada Jose Purnomo (Jailangkung, Gasing Tengkorak), ia pun
akan menjawab “horror is loud, bro!”.
Dibantu musik gubahan Ricky Lionardi (Danur 2: Maddah, Bayi Gaib: Bayi Tumbal Bayi Mati), Jose menyerbu
telinga penonton dengan musik sekencang mungkin, dalam adegan sebanyak mungkin.
Termasuk di setiap false alarm yang
kerap terjadi karena karakternya sering salah lihat, mana kaki hantu mana kaki
manusia, mana rambut kuntilanak mana rambut mahasiswi. Bahkan sewaktu terornya berwujud
kebisingan statis dari alat pendeteksi suara pun, musik tetap diputar
sekeras-kerasnya. Seiring waktu saya pun mulai kebal dengan jump scare yang ditawarkan Alas Pati. Saya mulai mati rasa seiring
keengganan film horor satu ini untuk memainkan rasa takut penonton.
Padahal premisnya menjanjikan. Naskah yang ditulis berdua
oleh Jose Purnomo dan Aviv Elham (Dubsmash,
Sang Sekretaris) seolah ingin memberi pelajaran kepada para remaja kekinian
yang bersedia melakukan apa saja demi ketenaran dunia maya. Apa saja, termasuk berkunjung
ke hutan angker bernama Alas Pati, di mana terdapat kuburan terkutuk di
dalamnya, sebagaimana dilakukan lima remaja pencari tantangan dan penonton
YouTube. Raya (Nikita Willy) merasa perjalanan itu akan seru, Randy (Roy
Sungkono) yakin video petualangan ke lokasi angker bakal mendongkrak jumlah
penonton, sementara Vega (Stefhanie Zamora) butuh uang untuk membayar indekos.
Ketiga alasan itu sepertinya sudah merangkum tujuan hidup banyak muda-mudi masa
kini.
Sesampainya di Alas Pati, para remaja ini mulai bertingkah
tidak sopan, bermain-main dengan mayat dan kuburan. Jangankan arwah-arwah
penasaran di sana, saya di kursi penonton pun ingin mereka semua tewas.
Memiliki deretan tokoh menyebalkan dalam film horor bukan masalah, sebab
melihat satu per satu dari mereka dibantai juga memberikan hiburan tersendiri.
Tapi alih-alih secara konstan memenuhi harapan tersebut, Alas Pati justru memaksa kita menunggu, menunggu, dan terus menunggu
dalam rangkaian keusilan hantu yang cuma sesekali memberi dampak. Salah satu
momen paling mencekam justru bukan dari gangguan dedemit, melainkan ketika Roy
yang tengah merekam video dari jendela mobil nyaris terserempet truk, karena pemilihan
waktunya tak terduga dan tanpa kesan mengulur waktu.
Mayoritas jump scare terlampau diulur, urung memamerkan penampakan ketika kecemasan memuncak, dan
baru memunculkan sang hantu saat saya sudah menguap, lelah menanti, bagai usaha
malas sutradara dan penulis naskah agar mencapai batas minimal durasi film panjang.
Sulit untuk tidak berharap Alas Pati tetap
bertahan di hutan. Setidaknya di sana aroma kengerian lebih semerbak. Sayang,
pasca sebuah adegan kematian mengejutkan yang dieksekusi solid dibalut gore memadahi, karakternya pulang ke
kota, ke rumah masing-masing, dengan darah teman mereka masih mengotori sekujur
tubuh. Jika ada di posisi serupa, saya akan mencuci muka di sungai yang harus
diseberangi sebelum mencapai hutan daripada menunggu berjam-jam kemudian. Bodoh
memang, bahkan untuk ukuran horor remaja.
Bicara soal remaja, jajaran cast-nya bahkan tidak kuasa menjadikan obrolan sehari-hari
terdengar realistis, apalagi asyik disimak. Ada usaha dari naskahnya guna
menjalin interaksi menarik melalui beragam kelakar, namun kelima bintang
mudanya adalah pelontar lelucon yang buruk. Begitu pula tatkala dipaksa
berakting ketakutan. Mereka tampak kurang meyakinkan, dibuat-buat, atau menampakkan
ekspresi seseorang yang mendapati bakso yang diinginkan sudah habis terjual
ketimbang melihat setan. Seperti Jessy (Naomi Paulinda), saya pun berkali-kali
ingin berteriak, “What??? Seriously?!
“.
Mei 22, 2018
Aviv Elham
,
horror
,
Indonesian Film
,
Jeff Smith
,
Jelek
,
Jose Purnomo
,
Naomi Paulinda
,
Nikita Willy
,
REVIEW
,
Ricky Lionardi
,
Roy Sungkono
,
Steffi Zamora
SAJEN (2018)
Rasyidharry
“Ini yang bikin editnya nggak ketawa?”, celetuk seorang
penonton di depan saya saat menyaksikan klimaks Sajen, yang menandai kembalinya sutradara Hanny R. Saputra (Heart, Mirror) setelah tiga tahun absen
pasca menggarap Dejavu: Ajian Puter
Giling. Memasuki sepertiga akhir durasi, tepatnya ketika elemen horor yang
jadi jualan utama mulai mendominasi, saya, dan sepertinya mayoritas penonton,
sudah menyerah menganggap serius film ini. Kami hanya bisa tertawa melihat
lemparan kotak pensil Minati Atmanegara ke arah hantu yang merangkak dari
televisi layaknya Sadako, atau Rachel Amanda selaku pustakawan yang lebih
sering membagikan tisu ketimbang mengurus buku.
Padahal, naskah buatan Haqi Achmad (Ada Cinta di SMA, Meet Me After Sunset) menyenggol pokok bahasan
serius berupa bullying di lingkungan
sekolah. SMA Pelita Bangsa namanya. Sebuah sekolah swasta elit nan unggulan
yang anehnya mau mempekerjakan penjaga sekolah berpenampilan ala dukun yang
bertugas meletakkan sajen di berbagai tempat peristirahatan terakhir
siswa-siswi yang tewas bunuh diri karena tersiksa akibat penindasan. Lebih aneh
lagi melihat sekolah sebesar itu bak cuma punya dua tenaga pengajar plus
seorang pembagi tisu...ah, maksud saya pustakawan.
Tokoh utamanya bernama Alanda (Amanda Manopo), siswi berprestasi
yang berniat membongkar kasus bullying
di sekolah, yang mana dirinya turut menjadi korban. Bianca (Steffi Zamora)
beserta gengnya, juga sang kekasih, Davi (Jeff Smith) adalah para pelaku.
Konfliknya mengikuti formula mayoritas film bertema serupa, di mana penindasan
terhadap Alanda yang makin lama wujudnya makin parah jadi sorotan utama.
Caranya tidak baru, namun kritik yang dilontarkan penting untuk didengar,
khususnya kala menyentil keengganan pihak sekolah bertindak tegas. Disokong
performa Amanda Manopo yang memeras emosi sekuat tenaga, paruh awal Sajen sejatinya menjanjikan.
Sampai tiba momen yang telah diprediksi: Alanda bunuh diri.
Di sinilah titik kejatuhan Sajen,—yang
awalnya pelit mengumbar penampakan bahkan cenderung lebih dekat ke drama ketimbang horor sepenuhnya—yang ironisnya
terjadi sejak kedatangan teror yang telah penonton nantikan. Pemakaian rasa
tradisional lewat bunyi angklung dan gamelan dalam musik buatan Andhika Triyadi
(Benyamin Biang Kerok, #TemanTapiMenikah)
merupakan poin positif yang sesekali jadi obat di antara deretan jump scare nir-timing. Diperparah penyuntingan kacau, saya pun ingin mengikuti nasihat
Riza (Angga Yunana) untuk banyak-banyak berdoa dan mengucap istighfar. Produksi Starvision, termasuk
yang kelas wahid macam Cek Toko Sebelah,
memang kerap bermasalah soal transisi kasar antar adegan. Entah disebabkan
pasca-produksi yang buruk atau minimnya stok rekaman.
Mungkin ingin menandingi keperkasaan Sadako, hantu Alanda
bukan cuma bisa merangkak keluar dari televisi, pula mencuatkan kepala dari
layar telepon genggam. Davi jadi korban modus operandi kaya inovasi itu. Jika
saya mengalaminya, dijamin saya bakal berteriak kencang sambil memasang
ekspresi ketakutan yang berbanding 180 derajat dengan definisi “ganteng”. Tapi
Davi, sebagai siswa populer juga kapten basket tentu tak ingin terlihat jelek. Alhasil,
situasi absurd tersebut tak membuat raut wajahnya berubah. Dia hanya berlari bagai
sedang terlibat perlombaan marathon. Toh itu tidak ada apa-apanya dibanding
reaksi seisi sekolah di klimaks filmnya, di tengah pelaksanaan prom.
Pernah menonton Carrie?
Pasti anda ingat betapa kacau prom
ketika Carrie mengamuk. Tapi siswa-siswi SMA Pelita Bangsa rupanya amat
bernyali. Melihat hantu Alanda menampakkan wajah rusaknya di tengah panggung, melempar
seorang siswi ke sana kemari, mereka cuma berdiri, memasang wajah tenang,
bergerombol layaknya menonton perkelahian remaja. Fakta bahwa klimaks konyolnya
masuk ke produk akhir, yang berarti ada pihak pengambil keputusan yang memberi
persetujuan, adalah sebuah misteri tersendiri. Sama misteriusnya dengan apa
perlunya karakter Ratu (Rachel Amanda) diceritakan sedang melakukan riset. Biarkan
dia membagikan tisu...ah, maksud saya mengurus buku-bukunya.
Mei 05, 2018
Amanda Manopo
,
Hanny R. Saputra
,
Haqi Achmad
,
horror
,
Indonesian Film
,
Jeff Smith
,
Jelek
,
Minati Atmanegara
,
Rachel Amanda
,
REVIEW
,
Steffi Zamora
THE UNDERDOGS (2017)
Rasyidharry
The Underdogs adalah film tentang ambisi para remaja meraih kesuksesan sebagai Youtubers sekaligus menampilkan Young Lex. Sederhananya, film ini mudah dibenci bahkan oleh mereka yang tidak atau belum menonton. Walau tidak seluruhnya, saya pribadi terkadang menyimpan sentimen negatif terhadap obsesi generasi masa kini mengejar popularitas melalui kanal yang katanya lebih dari televisi ini. Dangkal. Begitu pikir saya. Sampai The Underdogs datang, menyadarkan justru keengganan saya (atau mungkin kita) menilik dari perspektif lain lah yang dangkal.
Empat sekawan, Ellie (Sheryl Sheinafia), Dio (Brandon Salim), Bobi (Jeff Smith), dan Nanoy (Babe Cabita) merupakan korban bullying, dianggap pecundang di sekolah. Kondisi itu bertahan hingga lulus. Keinginan memperbaiki nasib terjawab pasca melihat kesuksesan S.O.L: Sandro X (Ernest Prakasa), Oscar (Young Lex), dan Lola (Han Yoo Ra), trio Youtubers yang sukses berkat video rap mereka. Terinspirasi, keempat protagonis kita mengikuti jalur serupa, membentuk channel rap memakai nama The Underdogs sambil berharap mengubah nasib di tengah beragam deraan masalah pribadi termasuk keluarga.
Naskah garapan Alitt Susanto bersama Bene Dion Rajagukguk memegang kunci. Saya (atau lagi-lagi, mungkin kita) terbiasa menganggap jajaran Youtubers terdiri atas sosok-sosok haus atensi berotak dangkal yang besar kepala pasca keberhasilan direnggut. Naskah The Underground menjelaskan betapa banyak dorongan lain. Ellie dengan pertengkaran sehari-hari orang tuanya, Bobi yang dipaksa melanjutkan pabrik tahu sang ayah atau Dio yang selalu diragukan ibunya akibat belum dianggap dewasa. Motivasi tersebut bukan saja simpatik, juga relatable. Poinnya, bisa jadi di luar sana, ada Youtubers berangkat dari alasan serupa yang terlanjur menghadapi hujatan akibat publik ogah lebih mencari tahu.
Alurnya bergerak tak hanya rapi, pun ikut mendukung keterikatan akan karakter. Contohnya waktu Bobi menyulut perpecahan begitu The Underdogs mencapai ketenaran. Enggan berlarut-larut, sutradara Adink Liwutang secara cepat nan tepat seketika menggiring penonton menuju pemahaman tentang persoalan pribadi Bobi, menghalangi kesempatan penonton kesal kepadanya. Walau cukup disayangkan, perjalanan ke arah resolusi mengenai konflik keluarga agak terburu-buru sekaligus menggampangkan, seolah tanpa proses. Pengorbanan yang dilakukan demi memfasilitasi penyelesaian masalah lain, sebutlah persahabatan. Lalu pada konteks lebih luas terkait kultur internet, The Underdogs turut menyampaikan bagaimana media sosial dapat luar biasa bermanfaat andai dimanfaatkan tepat.
Komedinya memang bukan berisi humor yang mampu menancap di benak penonton lama seusai film berakhir, tetapi berhasil tampil konsisten. Meski hadir beruntun, gelontoran banyolan The Underdogs rutin memancing tawa atau setidaknya senyum lebar. Parodi brand atau program di sana-sini sampai nasib buruk tanpa ujung yang menimpa Babe Cabita (sekali lagi ia jago memerankan penderita kesialan akut) lebih dari cukup menjalin hiburan. Pun mencuri perhatian yakni Sheryl Sheinafia lewat banyak pembawaan deadpan hingga Dodit Mulyanto yang hobi dirapikan rambutnya sembari sesekali berkata "asu kowe". Young Lex? Well, he's just chilling out here and there.
Mengangkat kisah Youtubers yang memilih jalur video rap, sudah barang tentu The Underdogs diisi sederet nomor yang cukup menghibur telinga, khususnya lagu berlirik jenaka milik The Underdogs. Adink Liwutang tidak ketinggalan memasukkan visualisasi selaku (ceritanya) video klip lagu-lagu tersebut, menjadikan filmnya paket lengkap mengenai Youtube. Walau masih dibarengi kekurangan-kekurangan, The Underdogs di luar dugaan lebih dari menghibur, juga sanggup memancing agar bersedia menyikapi fenomena Youtubers dari sudut pandang lain yang pastinya lebih positif.
Review The Underdogs dapat dibaca juga di tautan ini
Agustus 17, 2017
Adink Liwutang
,
Alitt Susanto
,
Babe Cabita
,
Bene Dion
,
Brandon Salim
,
Comedy
,
Dodit Mulyanto
,
Ernest Prakasa
,
Han Yoo Ra
,
Indonesian Film
,
Jeff Smith
,
Lumayan
,
REVIEW
,
Sheryl Sheinafia
,
Young Lex
Langganan:
Postingan
(
Atom
)















