Tampilkan postingan dengan label Naomi Paulinda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Naomi Paulinda. Tampilkan semua postingan
SUNYI (2019)
Rasyidharry
Sunyi merupakan remake dari
Whispering Corridors (1998), yang mana
ambil bagian dalam era baru perfilman Korea Selatan pasca pembebasan dari
penyensoran selepas kediktatoran militer berakhir. Alhasil, film tersebut
dimanfaatkan selaku media menyuarakan kritik terhadap banyak isu, khususnya
perundungan dan kerasnya sistem pendidikan. Itulah alasan mengapa karya Park
Ki-hyung tersebut jadi fenomena populer, meski kualitasnya sendiri agak
mengenaskan. Berbeda dibanding pendahulunya, Sunyi tak kebingungan menentukan jati diri, mencampur horor dan
drama dengan cukup apik, menjadikannya remake
yang superior.
Tema perundungan bukan saja
dipertahankan oleh Sunyi, bahkan diberi
eksplorasi lebih dalam. Kisahnya berlatar tahun 2000 di SMA Abdi Bangsa yang
prestisius namun digelayuti isu perundungan yang konon telah berlangsung
turun-temurun. Pun tersebar rumor bahwa pada dekade lalu, hal tersebut
merenggut nyawa tiga siswi, yang hingga kini arwahnya senantiasa bergentayangan
di sekolah.
Protagonis kita bernama Alex (Angga
Yunanda), putera mediang paranormal terkenal, yang jelang hari pertamanya
bersekolah di Abdi Bangsa, makin mengkhawatirkan senioritas di sana. Ketika ia
nyatakan kekhawatiran tersebut, sang ibu (Unique Priscilla) merespon, “Senioritas
kan bagus buat character building”.
Dari situ kita bisa melihat pola yang menyebabkan perundungan terus lestari.
Pada malam pertama, siswa-siswi
tahun pertama dikumpulkan oleh ketiga senior mereka: Andre (Arya Vasco), Erika
(Naomi Paulinda), dan Fahri (Teuku Ryzki), guna menghadiri malam orientasi.
Saat itulah hukum senioritas mulai diberlakukan. Murid tahun pertama adalah
budak (tahun kedua disebut “manusia”, tahun ketiga disebut “raja”, alumni
disebut “dewa”) yang wajib menuruti perintah senior yang berhak mengambil
barang apa pun milik mereka, bahkan dilarang memasuki area-area seperti
perpustakaan, kafetaria, juga toilet.
Bu Ningsih (Dayu Wijanto) selaku
kepala sekolah merasa khawatir, tapi atas nama tradisi, memilih membiarkan.
Sedangkan para junior tetap diam, karena melawan bukan saja menjadikan mereka
musuh publik, pula menghilangkan kesempatan mendapat jaringan luas milik
alumni. Sampai titik ini, naskah buatan sutradara Awi Suryadi (Danur, Badoet) bersama duet Agasyah
Karim dan Khalid Kashogi (Badoet, Mau
Jadi Apa?, Reuni Z), terbukti mampu menyediakan pijakan solid dalam penggambaran
lingkaran setan budaya perundungan. Tidak berhenti di situ, naskahnya melangkah
lebih jauh menelusuri soal kontribusi pola asuh orang tua lewat tro
Andre-Erika-Fahri. Orang tua mereka sama-sama bermasalah, entah menerapkan
hukuman fisik, menuntut terlalu tinggi, atau tidak hadir di rumah.
Ketiganya membuat hari-hari Alex
bak neraka. Beruntung, ia bertemu Maggie (Amanda Rawles). Keduanya semakin
dekat, dan dunia SMA Alex tak lagi sesunyi itu. Sialnya, begitu identitas ayahnya
diketahui Fahri, Alex dipaksa memanggil arwah para siswi yang konon
bergentayangan di sekolah. Awalnya usaha itu nampak gagal, namun tak lama
berselang, kematian mulai menyebar dan darah mulai tumpah di SMA Abdi Bangsa.
Sewaktu Whispering Corridors seolah melupakan hakikatnya sebagai horor, Sunyi menerapkan pendekatan familiar
sembari tetap memberi jalan bagi elemen-elemen di atas agar mengalir sebagai
pondasi cerita, alih-alih sekedar jump
scare layaknya banyak horor medioker lokal belakangan. Di luar adegan “listening class” dan “kolam renang” (yang
sudah muncul di trailer), terornya
tak banyak memperlihatkan kreativitas. Mayoritas formulaik, ditambah riasan
hantu seadanya. Tapi saya mengapresiasi penolakannya untuk melempar jump scare membabi-buta atau memakai
efek suara berisik. Serupa judulnya, film ini tidak takut menerapkan kesunyian,
tahu kapan mesti berdiam diri, kapan mesti tampil menggelegar (yang juga tak
pernah terlampau berisik). Tata musik
garapan Ricky Lionardi (Danur, Sakral,
Lukisan Ratu Kidul) juga sesekali terdengar atmosferik.
Sunyi pun menempatkan hati di tempat yang tepat. Kembali ke adegan “kolam
renang”, secara mengejutkan momen tersebut menyimpan bobot emosi. Ada kesedihan
di sana, tatkala senior pelaku perundungan ditampakkan kerapuhannya, digambarkan
sebagai salah satu korban kegagalan sistem pendidikan, tentunya tanpa berusaha
menjustifikasi perbuatan mereka kepada junior. Momen itu meyakinkan saya bahwa
mereka tidak pantas mati. Sehingga saya mengamini ketika Alex mengonfrontasi
sang hantu di klimaks sambil menyampaikan pernyataan serupa. Semakin memuaskan
kala Sunyi ditutup oleh konklusi
hangat, sesuatu yang dikorbankan film aslinya demi tambahan twist tak perlu.
Ya, jika sudah menonton Whispering Corridors, anda tahu akan ada
twist. Sepanjang durasi, filmnya
menyiratkan itu melalui beberapa petunjuk subtil. Apa yang membuatnya spesial
adalah, sekalinya kejutan tersebut diungkap (sayangnya lewat eksekusi
antiklimaks), penonton tidak dijejali rekap, selaku penjabaran atas sebaran
petunjuk-petunjuk tadi. Seolah semua itu adalah “bonus” bagi penonton yang
bersedia menaruh perhatian lebih.
April 12, 2019
Agasyah Karim
,
Amanda Rawles
,
Angga Yunanda
,
Arya Vasco
,
Awi Suryadi
,
Dayu Wijanto
,
horror
,
Indonesian Film
,
Khalid Kashogi
,
Lumayan
,
Naomi Paulinda
,
REVIEW
,
Ricky Lionardi
,
Teuku Ryzki
,
Unique Priscilla
ALAS PATI (2018)
Rasyidharry
“What??? Seriously?!
“. Kalau anda menonton Alas Pati,
niscaya kalimat tanya tersebut bakal mengendap di otak. Salah satu karakternya
mengucapkan itu beberapa kali sebelum tewas. Pun respon itu juga yang sering
saya lontarkan sepanjang film. Saya teringat beberapa tahun lalu, semasa SMP,
kala tengah menyaksikan pertunjukan musik di pinggir pantai. Suara ombak dan
angin berlomba dengan distorsi gitar yang menggedor lewat amplifier. Nada yang dimainkan tak jelas, tapi pastinya gitar
rombeng itu dimainkan dalam volume tertinggi. Seusai penampilan, saya mempertanyakan
pengaturan suara tersebut, yang dijawab dengan lantang, “rock is loud, bro!”. Mungkin jika anda tanyakan pada Jose Purnomo (Jailangkung, Gasing Tengkorak), ia pun
akan menjawab “horror is loud, bro!”.
Dibantu musik gubahan Ricky Lionardi (Danur 2: Maddah, Bayi Gaib: Bayi Tumbal Bayi Mati), Jose menyerbu
telinga penonton dengan musik sekencang mungkin, dalam adegan sebanyak mungkin.
Termasuk di setiap false alarm yang
kerap terjadi karena karakternya sering salah lihat, mana kaki hantu mana kaki
manusia, mana rambut kuntilanak mana rambut mahasiswi. Bahkan sewaktu terornya berwujud
kebisingan statis dari alat pendeteksi suara pun, musik tetap diputar
sekeras-kerasnya. Seiring waktu saya pun mulai kebal dengan jump scare yang ditawarkan Alas Pati. Saya mulai mati rasa seiring
keengganan film horor satu ini untuk memainkan rasa takut penonton.
Padahal premisnya menjanjikan. Naskah yang ditulis berdua
oleh Jose Purnomo dan Aviv Elham (Dubsmash,
Sang Sekretaris) seolah ingin memberi pelajaran kepada para remaja kekinian
yang bersedia melakukan apa saja demi ketenaran dunia maya. Apa saja, termasuk berkunjung
ke hutan angker bernama Alas Pati, di mana terdapat kuburan terkutuk di
dalamnya, sebagaimana dilakukan lima remaja pencari tantangan dan penonton
YouTube. Raya (Nikita Willy) merasa perjalanan itu akan seru, Randy (Roy
Sungkono) yakin video petualangan ke lokasi angker bakal mendongkrak jumlah
penonton, sementara Vega (Stefhanie Zamora) butuh uang untuk membayar indekos.
Ketiga alasan itu sepertinya sudah merangkum tujuan hidup banyak muda-mudi masa
kini.
Sesampainya di Alas Pati, para remaja ini mulai bertingkah
tidak sopan, bermain-main dengan mayat dan kuburan. Jangankan arwah-arwah
penasaran di sana, saya di kursi penonton pun ingin mereka semua tewas.
Memiliki deretan tokoh menyebalkan dalam film horor bukan masalah, sebab
melihat satu per satu dari mereka dibantai juga memberikan hiburan tersendiri.
Tapi alih-alih secara konstan memenuhi harapan tersebut, Alas Pati justru memaksa kita menunggu, menunggu, dan terus menunggu
dalam rangkaian keusilan hantu yang cuma sesekali memberi dampak. Salah satu
momen paling mencekam justru bukan dari gangguan dedemit, melainkan ketika Roy
yang tengah merekam video dari jendela mobil nyaris terserempet truk, karena pemilihan
waktunya tak terduga dan tanpa kesan mengulur waktu.
Mayoritas jump scare terlampau diulur, urung memamerkan penampakan ketika kecemasan memuncak, dan
baru memunculkan sang hantu saat saya sudah menguap, lelah menanti, bagai usaha
malas sutradara dan penulis naskah agar mencapai batas minimal durasi film panjang.
Sulit untuk tidak berharap Alas Pati tetap
bertahan di hutan. Setidaknya di sana aroma kengerian lebih semerbak. Sayang,
pasca sebuah adegan kematian mengejutkan yang dieksekusi solid dibalut gore memadahi, karakternya pulang ke
kota, ke rumah masing-masing, dengan darah teman mereka masih mengotori sekujur
tubuh. Jika ada di posisi serupa, saya akan mencuci muka di sungai yang harus
diseberangi sebelum mencapai hutan daripada menunggu berjam-jam kemudian. Bodoh
memang, bahkan untuk ukuran horor remaja.
Bicara soal remaja, jajaran cast-nya bahkan tidak kuasa menjadikan obrolan sehari-hari
terdengar realistis, apalagi asyik disimak. Ada usaha dari naskahnya guna
menjalin interaksi menarik melalui beragam kelakar, namun kelima bintang
mudanya adalah pelontar lelucon yang buruk. Begitu pula tatkala dipaksa
berakting ketakutan. Mereka tampak kurang meyakinkan, dibuat-buat, atau menampakkan
ekspresi seseorang yang mendapati bakso yang diinginkan sudah habis terjual
ketimbang melihat setan. Seperti Jessy (Naomi Paulinda), saya pun berkali-kali
ingin berteriak, “What??? Seriously?!
“.
Mei 22, 2018
Aviv Elham
,
horror
,
Indonesian Film
,
Jeff Smith
,
Jelek
,
Jose Purnomo
,
Naomi Paulinda
,
Nikita Willy
,
REVIEW
,
Ricky Lionardi
,
Roy Sungkono
,
Steffi Zamora
Langganan:
Postingan
(
Atom
)





