Tampilkan postingan dengan label Aviv Elham. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aviv Elham. Tampilkan semua postingan

REVIEW - GHIBAH

Saya punya kenalan yang....."unik". Bercandaannya selalu garing. Begitu garing, sampai sering terasa menyebalkan. Tapi saat serius malah bisa membuat teman-teman tertawa, karena dia sangat buruk dan canggung dalam tiap hal yang dilakukan secara sungguh-sungguh. 

Orang itu sekarang sehat. Tapi saya tidak, gara-gara menonton Ghibah, yang ciri-cirinya hampir sama, bahkan lebih parah, dibanding teman saya tadi. Sewaktu melempar humor (yang mana kerap dilakukan), saya malah kesal, karena selain sering tidak lucu, pula berkali-kali salah tempat. Sebaliknya, ketika meneror, hasilnya buruk, cenderung konyol, hingga memancing tawa. 

Jadi, bagaimana ghibah bisa berujung maut? Pertama, mari berkenalan dulu dengan Firly (Anggika Bolsterli), seorang mahasiswi yang aktif terlibat di kegiatan jurnalistik kampus. Firly adalah vegetarian, sehingga kala diminta menggantikan tugas Yola (Josephine Firmstone) yang sakit untuk meliput acara penyembelihan kurban, Firly sebenarnya keberatan. 

Terkejutlah Firly, saat mendapati unggahan foto di Instagram Yola, yang memperlihatkannya sedang berada di hotel. Esoknya, Firly marah-marah di depan umum, menuduh Yola "check-in" di hotel dan meninggalkan tanggung jawab. Artinya, FIRLY SUDAH MELAKUKAN GHIBAH!! (cue musik dramatis).

Apa dampaknya? Tentu saja didatangi jin Ifrit. Karena dosa serta ancaman siksa api neraka saja tidaklah cukup. Firly berhalusinasi, dari mengelupas kulit wajah (dalam balutan gore over-the-top yang harus diakui cukup efektif), sampai memakan daging yang dia kira tempe. Teman satu kosnya, Okta (Adila Firti), juga bernasib sama, akibat menulis berita palsu tentang perselingkuhan dosen dan mahasiswi. 

Kenapa tidak semua pelaku ghibah didatangi Ifrit? Naskah buatan Monty Tiwa (juga sebagai sutradara), Aviv Elham, Riza Pahlevi, dan Vidya Talisa Ariestya, luput menerapkan standar pasti terkait kehadiran Ifrit. Apakah saya yang terpancing melakukan ghibah di grup Whatsapp dan Twitter saat menonton film ini juga bakal dihantui? Kalaupun iya, setidaknya saya hafal ayat kursi, yang rupanya cukup untuk menumpas Ifrit, sebagaimana dilakukan Asri Welas.

Anda tidak salah baca. Asri Welas memerankan Umi Asri, ibu kos Firly sekaligus keturunan Mataram yang sakti. Pilihan tidak biasa, namun saya mengapresiasi. Tidak semua karakter orang sakti atau dukun atau indigo harus digambarkan serius, misterius, dan memakai baju serba hitam. Pun Asri, bersama Opie Kumis (memerankan Mang Opie, suami Umi Asri), tetap menangani momen komedik, yang seperti saya sebutkan, tidak lucu.

Bukan salah keduanya. Naskahnya memaksa menabur komedi setiap ada celah. Selain Asri dan Opie, dua penghuni kos lain, Ulfa (Arafah Rianti) dan Dina (Zsa Zsa Utari) juga dituntut melakukan hal serupa. Jika diibaratkan masakan, humor film ini bukan bumbu, melainkan tambahan lauk yang terus dijejalkan ke mulut kita, sampai terasa muak dan mual. 

Saat tidak melucu, Ghibah malah mengocok perut lewat kekonyolan, yang muncul karena eksekusi buruk. Misal, penampakan hantu di handphone Firly yang bak sedang selfie sambil memasang pose sok genit, ucapan "sosisnya enak ya" dari mulut Yola sewaktu berhalusinasi dan memakan jarinya sendiri, sampai desain hantu berlidah panjang yang mengingatkan ke boneka-boneka berwajah tumpahan bubur ayam khas era keemasan Dheeraj Kalwani alias Baginda Maha Besar KKD dahulu. Oh, benar juga. Saya lupa Ghibah diproduksi Sang Agung KKD. Mau berharap apa lagi? 

Masih banyak contoh lain, tapi kalau dilanjutkan, saya khawatir Ifrit benar-benar datang. Jadi, mari beralih ke pujian. Anggika Bolsterli tampil total. Ekspresi takut, jijik, semua dilakukan 100%. Tapi Anggika pantas mendapat film yang 12483749 kali lipat lebih bagus. Dia pantas mendapat tantangan lebih, di horor yang memberinya materi memadai. 

Teror apa yang paling sering menimpa Firly? Jawabannya, "kecipratan". Kecipratan darah kambing, darah teman sendiri, sampai cairan hijau kehitaman dari toilet. Rasanya itu cukup menjelaskan, seberapa kreatif orang-orang di balik Ghibah. Film ini lebih tepat disebut Kecipratan The Movie. 

Tersimpan beberapa niat baik di sini, seperti menyampaikan wejangan agar menghindari ghibah, dan mengutarakan tentangan atas kekerasan hewan. Bagus, meski bakal lebih bagus kalau diimbangi dengan kualitas yang juga bagus. 

Ada pula upaya menghembuskan diversity melalui karakter Dina, yang beragama Kristen, dan diajak ikut berdoa sesuai kepercayaannya ketika proses pengusiran jin. Tapi menjadi percuma, karena pada akhirnya, film ini tetap Islam-sentris. Dina malah seperti terkucilkan, layaknya minoritas di realita, yang terjebak dalam hegemoni para mayoritas, yang.....ah, sudahlah. Saya sudah melantur. Ghibah memang film tentang anti-ghibah yang memancing penontonnya untuk melakukan ghibah.


Available on DISNEY+ HOTSTAR

ROY KIYOSHI: THE UNTOLD STORY (2019)

Ingat saat internet dibanjiri meme soal bentuk dagu Roy Kiyoshi? Salah satunya mengedit kepala Roy menjadi sebaris gigi seri. Saya tidak suka mengolok-olok fisik seseorang, tapi aktingnya di film ini memang tampak seperti gigi: keras, kaku, datar. Seperti anda tahu, saya sering menonton film buruk berisi akting tak kalah buruk, namun buruknya akting Roy di sini bahkan berhasil membuat saya terkesima.

Memerankan sosok fiktif dari dirinya, Roy menghabiskan mayoritas paruh awal Roy Kiyoshi: The Untold Story nyaris tanpa berbicara, banyak berdiri diam dikuasai lamunan, tenggelam dalam adiksi alkohol akibat rasa bersalah pasca sang adik, Rani (Clarice Cutie) diculik sosok iblis bernama Banaspati. Tapi jangan khawatir para pecinta suara Roy Kiyoshi, sebab ada banyak porsi voice over dilimpahkan kepada pria indigo kebanggaan Indonesia ini, yang terdengar layaknya anak SD kala pertama kali diminta membaca puisi.

Ketika Roy sibuk mabuk-mabukkan, Sheila (Angel Karamoy), lulusan S2 jurusan psikologi yang bekerja di suatu LSM tengah melangsungkan investigasi terhadap kasus hilangnya anak-anak. Menyandang gelar “Master of Psychology” tak membuat Sheila lupa daratan. Dia enggan pamer ilmu, sehingga tak sedikit pun ia nampak seperti psikolog.

Sebaliknya, Sheila terbuka akan sumber keilmuan lain. Apabila karakter psikolog dalam film umumnya bersikap skeptis pada hal mistis, Sheila langsung percaya bahwa anak-anak itu hilang diculik setan setelah melihat rekaman milik seorang wanita mantan karyawan LSM tempatnya bekerja yang tewas bunuh diri. Lucunya, ruang kerja wanita itu dibiarkan berantakan dengan seluruh barang teronggok begitu saja, memudahkan Sheila menemukan berbagai arsip dan kamera kepunyaannya.

Walau saya mengapresiasi keengganan naskah karya Jose Purnomo (Pulau Hantu, Alas Pati, Gasing Tengkorak) dan Aviv Elham (Tali Pocong Perawan, Reva: Guna Guna) menciptakan satu lagi kompilasi jump scare dan memilih mengutamakan elemen misteri, penyelidikan yang Sheila lakukan amat jauh dari menarik, sebab kita tahu semuanya bakal bermuara di satu kesimpulan: Banaspati adalah pelaku penculikan tersebut. Ada bagian menjanjikan ketika Sheila coba mencari korelasi antara tiap kasus, tapi teka-teki itu langsung terpecahkan selang beberapa detik setelah diperkenalkan.

Berikutnya, Sheila menemukan laporan di kepolisian soal hilangnya Rani, yang ia yakini merupakan keping yang bakal melengkapi keseluruhan misteri. Laporan itu dilayangkan oleh Tante Riska (Olga Lydia). Saya menyimpan setumpuk tanda tanya tentang karater Tante Riska. Pertama, siapa dia??? Apakah tante Roy (adik dari ibu/ayahnya), ataukah “tante”?  Kedua, jika Tante Riska tahu Rani adalah korban Banaspati, buat apa repot-repot lapor ke polisi? Jawaban pertanyaan kedua sederhana. Para penulis naskahnya terlampau malas mencari jalan yang lebih baik guna mempertemukan Sheila dengan Roy.

Saat mengunjungi rumah Roy, Sheila diam-diam mengambil secarik kertas bertuliskan cara memanggil Banaspati. Saya mulai mengkhawatirkan Sheila. Apakah dia pengidap kleptomania? Di hari pertama kerja, ia mengambil kamera dari kantor. Sekarang, di kunjungan pertamanya ke rumah orang asing, ia mengambil catatan. Entahlah, pastinya Sheila orang bodoh. Dia memanggil Banaspati tanpa alasan maupun rencana yang jelas.

Rasanya mental Sheila terganggu akibat tinggal di apartemen yang tak mengenal teknologi bernama “lampu”. Kamarnya remang-remang, bahkan satpam di sana tampak membaca di ruang tanpa penerangan. Hal paling terang justru tubuh penuh urat urat yang menyala layaknya dialiri api milik Banaspati. Setidaknya film ini punya sosok hantu berpenampilan mumpuni, dengan Kabuto (helm samurai) di kepala serta riasan creepy. Itulah satu-satunya elemen positif Roy Kiyoshi: The Untold Story.

Hiburan sesungguhnya baru bermula begitu Roy menyadari kesalahannya, berhenti minum, memutukan membantu Sheila.....lalu mulai banyak bicara. OH TUHAN. Akting Angel Karamoy, yang penuh antusiasme salah tempat dan/atau waktu, sudah cukup buruk, tetapi Roy......Semoga Tuhan mengampuni akting memalukan ini.

Penampilan Roy bukan saja buruk, tapi tampak nihil usaha, bahkan untuk sekedar mengucapkan kalimat senatural mungkin agar tak terdengar seperti sedang pertama kali membaca naskah. Kekakuan Roy mengingatkan saya kepada para pemenang Ale-Ale, dan itu cukup sebagai pemicu ledakan tawa para penonton tiap kali mulutnya melantunkan kalimat-kalimat bernada surgawi. Saya sempat bingung mesti menganugerahi film ini berapa bintang, sebelum memutuskan memberinya sejumlah ekspresi wajah yang Roy Kiyoshi tampilkan sepanjang durasi, yaitu.....

REVA: GUNA GUNA (2019)

Anda tahu dunia horor tanah air sedang mengalami krisis jika film macam Reva: Guna Guna tak sampai membuat anda kejang-kejang. Sebab, tentu saja Jose Purnomo (Jelangkung, Alas Pati, Silam) punya selera visual lebih baik, pula lebih bertalenta dibanding orang-orang di belakang Kain Kafan Hitam atau 11:11: Apa yang Kau Lihat?. Dinilai dari sampul luar, film ini memang produk layar lebar layak putar.

Turut mengambil peran sinematografer seperti biasa, setidaknya Jose tak memberi kesempatan gambar dengan resolusi tiarap dan/atau luput dari proses color grading muncul di hasil akhir filmnya. Sering tampak glitch yang mengindikasikan proses pasca-produksi yang terburu-buru (mungkin DCP baru selesai di saat-saat akhir?), tapi itu bukan kekeliruan sang sutradara. Tiga hantu antagonis (Gemet Aresan, Jurig Jarian, Emak Bongkok) pun wajahnya dibalut riasan memadahi. Tingkat kengeriannya bisa didebat, namun Kiki Aston (Silam, Kuntilanak) dan Dicky Etto (Jaga Pocong, Anak Hoki) jelas tak asal meniupkan bedak ke wajah pemain.

Reva: Guna-Guna memang takkan melukai mata penonton. TAPI, jika diskusi diteruskan menuju pertanyaan “Apakah filmnya melukai otak?”, jawabannya masih “Ya”. Bahkan sejak adegan pembuka yang memperlihatkan Reva (Angel Karamoy) tengah berada di sel tahanan tanpa toilet, seolah memperlihatkan kerja setengah hati tim penata artistik. Pantas Reva nampak begitu tertekan, karena untuk kencing selepas diteror hantu saja ia dipersulit.

Reva merupakan terdakwa pembunuhan atas seluruh anggota keluarganya, kecuali sang ayah, (Ferry Salim). Reva menolak tuduhan tersebut, kukuh pada jawaban bahwa pelakunya adalah tiga setan yang selalu menebar teror selepas ulang tahunnya yang ke-21. Karena psikolognya, Dr. Karina (Wulan Guritno), menyatakan Reva mengidap manik depresif (membahas ketepatan pemakaian istilah medis di film macam ini rasanya percuma), ia pun dikirim ke rumah sakit jiwa.

Keputusan tersebut dijatuhkan pasca proses persidangan ala kadarnya, di mana pengacara Reva menyebut bahwa tak ditemukannya senjata sebagai ketiadaan “motif” alih-alih “barang bukti”. Ya. Motif. Jadi kalau pelaku pembunuhan diajukan pertanyaan, “Apa motif kamu membunuh mereka?”, dia akan menjawab, “Pisau, pak polisi”.

Reva akhirnya tiba di rumah sakit jiwa yang dikepalai Nixon, yang diperankan Marcelino Lefrandt dalam gaya akting over-the-top yang dapat menggiring film ini ke arah psychological b-horror seru, namun naskah garapan Aviv Elham (Suster Ngesot The Movie, Arwah Tumbal Nyai, Alas Pati) memilih bertahan di ranah kisah supernatural medioker dengan plot berupa lompatan antara penampakan hantu, yang jauh dari mengerikan, bahkan tak mengadung jump scare mengejutkan. Mungkin Jose berniat menghindari trik murahan, tapi saat musik berisik buatan Joseph S. Djafar (Suster Keramas, Kain Kafan Hitam, Orang Kaya Baru) tak henti membombardir telinga, niat mulia tersebut terasa semu.

Seiring waktu, serangan trio hantu semakin berbahaya, bahkan sempat membuat Reva berada di kondisi kritis akibat luka tusukan Gemet Aresan. Pendarahannya cukup untuk membuat kolam darah mini, tapi anehnya, jangankan luka, baju Reva sama sekali tidak sobek. Film ini melupakan logika itu, tetapi membuat Angel Karamoy menanggalkan pakaian di beberapa momen tanpa substansi.

Selama di rumah sakit jiwa, Reva sempat dikunjungi sahabatnya, Devi (diperankan Pamela Bowie selaku penampil terbaik film ini), yang lewat dua kunjungannya membuat saya mempertanyakan SOP karyawan di sana. Pada kunjungan pertama, Devi diusir karena membuat Reva menangis, tapi di kunjungan berikutnya, saat paranormal yang ia bawa terlempar hingga memecahkan pintu kaca, semua orang berdiam diri.

Singkat cerita, Devi akhirnya nekat berencana membawa sahabatnya (Atau kekasih rahasia? Kadang film ini seperti berusaha malu-malu menyiratkan hubungan lebih di antara keduanya) kabur. Rencana yang menghasilkan adegan paling intens di Reva: Guna Guna. Tidak perlu hantu. Cukup keberhasilan Jose bermain-main dengan kecemasan penonton, di mana ia bergantung pada atmosfer natural tanpa distraksi musik.

Namun begitu adegan tersebut berhasil menjadikan filmnya terlihat meyakinkan, Reva: Guna Guna kembali terjerumus dalam kebodohan seperti biasa. Sungguh bodoh ketika para petugas rumah sakit jiwa, termasuk Nixon yang digambarkan begitu teliti, tidak mencari keberadaan pasien yang hilang memakai CCTV, memilih repot-repot mengitari seisi gedung di tengah malam. Tapi hal terbodoh datang saat sang pembunuh mengungkap identitasnya lewat adegan konyol, dilengkapi kalimat tak kalah konyol, yang menunjukkan betapa penulisnya bingung bagaimana mesti menutup filmnya.

JAGA POCONG (2018)

Menjaga pocong adalah premis mengerikan, utamanya karena kegiatan itu amat mungkin dialami siapa saja. Semakin menarik dua figur kunci Jaga Pocong sama-sama menjajaki dunia horor untuk kali pertama: Acha Septriasa yang kerap memamerkan akting-akting dramatik terbaik, dan Hadrah Daeng Ratu di kursi penyutradaraan yang baru saja mempersembahkan tontonan terlucu tahun lalu melalui dua bagian Mars Met Venus. Saya mulai was-was begitu mendapati nama-nama yang tercantum pada departemen penulisan. Aviv Elham (Alas Pati, Arwah Tumbal Nyai) menulis naskah berdasarkan ide cerita Baskoro Adi Wuryanto (Jailangkung, Sakral, Gasing Tengkorak) terdengar bagai kolaborasi dari neraka.

Mila (Acha Septriasa) adalah suster yang menaruh perhatian besar terhadap pasien anak (ini akan jadi modus operandi naskahnya nanti). Ketika ia bersiap pulang dari giliran jaga di rumah sakit, Mila justru diminta secara mendadak menangani seorang pasien di rumah. Mengapa tugas ini dilimpahkan padanya? Menurut sang atasan, “Karena memang harus kamu”. Kalimat itu, yang nantinya bakal dipakai menjelaskan sebuah poin plot penting jelang akhir, merupakan simplifikasi yang jamak kita temui di karya-karya Aviv maupun Baskoro sebelumnya.

Ada satu elemen menarik, yakni kicau burung kedasih, yang konon memberitakan kematian. Kicau tersebut terdengar sebelum seorang pasien di rumah sakit yang Mia rawat meninggal, juga sesampainya Mia di tujuan, dan mendapati bahwa Sulastri (Jajang C. Noer), pasien yang semestinya dia rawat, sudah tak bernyawa. Hanya ada putera Sulastri, Radit (Zack Lee), dan cucunya, Novi (Aqilla Herby). Kicau burung kedasih dapat memberi sentuhan kecil, subtil, namun efektif membangun kengerian, yang sayangnya urung diterapkan lagi begitu Jaga Pocong melancarkan terornya.

Jaga Pocong mengalun lambat di awal, mengajak kita melihat Mila memandikan jenazah Sulastri, mengafaninya, sampai akhirnya diminta menjaga jenazah karena Radit harus mengurus izin pemakaman. Rangkaian aktvitias tersebut dekat dengan realita, dan itulah alasan pembangunan atmosfernya cukup berhasil. Jaga Pocong menempatkan protagonis dalam situasi yang kengeriannya mudah penonton pahami.

Tapi seiring waktu berlalu, naskahnya mulai memperlihatkan kelemahan demi kelemahan. Salah satunya ketiadaan ide mengenai apa yang harus Mila perbuat selama ditinggal seorang diri bersama pocong Sulastri yang terbaring di tengah ruangan. Alhasil, dibuatlah Mila menjadi karakter penuh rasa penasaran (baca: bodoh). Sewaktu tiba-tiba, entah dari mana kain kafan membentang di hadapannya, Mila menarik itu, berusaha mencari ujungnya. Di lain kesempatan, disorotnya wajah pocong dengan senter, seolah tidak puas cuma melihat bagian bawah tubuhnya.

Karakterisasi lain, seperti sudah saya sebutkan, adalah perhatian besar kepada anak-anak. Mia amat mempedulikan Novi, sampai menghabiskan mayoritas durasi film memanggil nama si bocah. Ketimbang Jaga Pocong, film ini mestinya disebut Jaga Novi. Demi mengakali ketiadaan plot (yang sejatinya bukan masalah asal ditangani secara tepat), naskahnya menggiring Mila dalam kesibukan mencari Novi yang berulang kali menghilang. Aviv Elham perlu memahami jika tidak semua peristiwa wajib diverbalkan. Bahasa non-verbal justru berpeluang memaksimalkan penuturan visual sutradara maupun akting pemain.

Keharusan meneriakkan nama Novi cukup mengganggu penampilan Acha, yang meski bukan akting terbaik sepanjang karirnya, jelas jauh lebih baik dibanding banyak pemeran utama horor medioker kita. Acha berteriak, menangis, dengan cara yang memudahkan kita merasakan keputusasaan Mila. Keputusasaan wanita biasa yang terjebak dalam situasi di mana ia benar-benar tidak berdaya. Hadrah paham betul kapasitas aktrisnya dan berusaha memanfaatkannya sebisa mungkin, membiarkan kamera menangkap emosi Acha secara utuh terlebih dahulu sebelum berpindah ke teror berikutnya.

Perihal menangani teror, Hadrah sanggup menghadirkan beberapa jump scare solid, walau keseluruhan, masih jauh dari spesial. Tapi saya rasa itu masalah pengalaman. Jaga Pocong merupakan pengalaman pertama Hadrah menggarap horor, dan merujuk pada fakta tersebut, debut ini jelas tidak buruk-buruk amat. Terlebih, tidak banyak yang bisa diperbuat ketika diberi modal naskah yang miskin kreativitas. Riasan pocong—yang tampak mumpuni dibanding deretan hantu muka bubur basi dalam deretan horor lokal kelas D—pun tak banyak menolong.

Kemudian, setelah nyaris tak memberi kontribusi, naskahnya menghabiskan 10 menit terakhir mempresentasikan twist yang memancing saya bertanya, “Apabila ada jalan gampang guna mencapai tujuannya, untuk apa repot-repot meneror Mila melalui penampakan-penampakan pocong yang nihil signfikansi dengan tujuan itu?”. Lalu ketika saya mulai melontarkan pertanyaaan berikutnya, “Kenapa harus Mila?”, naskahnya langsung menjawab, “Karena memang harus dia”. Oh, baiklah.

ARWAH TUMBAL NYAI THE TRILOGY: PART ARWAH (2018)

Mari sambut Arwah Tumbal Nyai The Trilogy: Part Arwah selaku film Indonesia dengan judul paling membingungkan sejak Laskar Pelangi Sekuel 2: Edensor (2013). Arwah sendiri merupakan pembuka sebelum Tumbal dan Nyai yang masing-masing dibintangi Dewi Perssik dan Ayu Ting Ting ikut menyusul rilis tahun ini. Saya merasa patut berterimakasih, karena tanpa film ini, saya takkan tahu kalau Zaskia Gotik telah menjadi brand ambassador Go-Jek lalu mengubah namanya menjadi Zaskia Gotix. Jangan kaget jika di film kedua ia berganti nama lagi jadi Zaskia Go-Ride.

Digarap oleh sutradara spesialis film ajaib, yaitu Arie Azis (Oops!! Ada Vampir, Tali Pocong Perawan, The Secret: Suster Ngesot Urban Legend), Arwah mengisahkan seorang gadis bernama Syurkiani (Zaskia Go-Car), yang untungnya tidak gemar beradegan syur, melainkan bermimpi ingin menari jaipong seperti mendiang ibunya. Tapi rentetan kasus hilangnya para penari jaipong secara misterius ditambah larangan sang nenek, Lela (Minati Atmanegara), membuat impian Mbak Syur sukar terwujud.

Tapi Mbak Syur nekat, kemudian memilih meminta diajari oleh Nyi Imas (Dewi Gita), yang tinggal di sebuah rumah tua. Di rumah Nyi Imas pula terdapat kendang terkutuk yang apabila dipukul tiga kali, bakal membangkitkan para hantu. Di sinilah naskah karya Aviv Elham (Tali Pocong Perawan, Alas Pati) mulai menunjukkan kejeniusannya berlogika. Nyi Imas bersedia melatih Mbak Syur menari jaipong asal Mbak Syur mau memukul kendang itu 3 kali. Pertanyaan bagi anda: Mbak Syur ingin belajar jaipong, tapitak mau memanggil hantu. Jalan apa yang mesti dia ambil agar 2 hal tersebut terpenuhi?

Apabila anda menjawab “pergi dari sana, cari guru jaipong di kota lain”, maka SELAMAT, anda cukup pintar juga waras. Sayang, Mbak Syur (dan penulis naskahnya) tidak sepintar itu. Karena pantangannya adalah “JANGAN PUKUL KENDANG 3 KALI”, dia pun MEMUKUL KENDANG 4 KALI! Begini Mbak Syur, sebagai orang yang peduli pada sesama, beri saya kesempatan untuk menjelaskan. Jika anda memukul kendang itu 4 kali, bukankah artinya anda sempat memukulnya sebanyak 3 kali yang artinya hantu-hantu sudah keluar?

Selanjutnya, kebodohan demi kebodohan elemen cerita menyusul bergantian. Tapi jangan khawatir. Bukan cuma itu kehebatan film ini. Sebagaimana Dewi Perssik sebut di sebuah wawancara, ia ingin trilogi ini menjadi bak trilogi “GOD FATHER”. Peduli setan bahwa penulisan judul yang benar adalah “The Godfather”. Mungkin maksud Dewi, keduanya sama-sama total. Apabila trilogi garapan Francis Ford Coppola itu memukau di seluruh elemen, maka Arwah Tumbal Nyai remuk di segala sisi.

Tata suaranya lebih berantakan daripada arus lalu lintas Ibukota di jam pulang kantor. Karakternya bagai bicara dari balik bantal sehingga sulit mencerna apa yang dikatakan. Apalagi kalau kalimat itu diucapkan oleh Shakti Arora yang memerankan Shakti, kekasih Mbak Syur. Orang bicara sambil kumur-kumur masih lebih jernih di telinga ketimbang obrolan film ini. Sedangkan musik gubahan Tya Subiakto termasuk salah satu scoring paling menyayat telinga yang pernah saya dengar. Baru kali ini saya benar-benar menutup telinga karena tidak kuat.

Tentu saja “musik” tersebut rutin menemani deretan jump scare “asal masuk” yang disusun Arie Azis. Jujur, Arwah sejatinya diawali dengan cukup meyakinkan. Hantu tidak buru-buru dimunculkan, dan waktu coba dimanfaatkan guna menuturkan kisahnya, walau apa sebenarnya yang ingin dikisahkan tak pernah jelas. Sekitar 15-20 menit pertama plus beberapa titik-titik berikutnya, Arie Azis nampak ingin membuat slow burning horror.

Ya, bukan saja The Godfather, Arie pun berusaha menciptakan Hereditary versinya, yang mengalun pelan, luar biasa pelan sampai satu sekuen jump scare saja sempat makan waktu 5 menit. Dari Mbak Syur terbangun akibat barang di kamarnya jatuh, duduk di kasur, pelan-pelan berjalan ke arah barang itu, pelan-pelan mengeceknya, pelan-pelan membuka pintu, pelan-pelan menutup pintu, pelan-pelan menengok ke bawah kasur, dan berbagai “pelan-pelan” lain yang ditutup menggunakan payoff antiklimaks kala musik penyayat telinganya terdengar beberapa detik lebih cepat sebelum si setan menampakkan wajah.

Melakoni debut akting layar lebarnya,  Zaskia Go-Pay masih luar biasa canggung. Sewaktu dituntut berakting kaget akibat gangguan setan, Zaskia Go-Massage malah bagai orang yang dikejutkan bunyi alarm. Satu-satunya hal yang terlihat natural hanya ketika Zaskia Go-Food mencoba beberapa gerakan tari jaipong. Akting sang aktris kaku sekaligus monoton, sama monotonnya dengan gelaran alur yang berjalan memakai formula: Datang ke rumah Nyi Imas - Diusir - Menemukan misteri - Datang ke rumah Nyi Imas - Ulangi dari awal.

Semakin mencapai akhir, kekonyolan alurnya makin dahsyat, sayangnya, begitu pula histeria penonton kebanyakan, yang rupanya sangat terhibur menyaksikan Zaskia Go-Send terjebak dalam satu lagi “horor berisik”. Fakta mengenaskan: Jumlah penonton Arwah pada hari pertama penayangan mengalahkan Aruna & Lidahnya juga Something in Between, walau di antara ketiganya, film yang dibintangi Zaskia Go-Box ini diberi jatah layar paling sedikit. Bukan salah bioskop, bukan salah Rapi Amat, bukan salah Zaskia Go-Pulsa. Kita sebagai penonton yang perlu introspeksi.

ALAS PATI (2018)

“What??? Seriously?! “. Kalau anda menonton Alas Pati, niscaya kalimat tanya tersebut bakal mengendap di otak. Salah satu karakternya mengucapkan itu beberapa kali sebelum tewas. Pun respon itu juga yang sering saya lontarkan sepanjang film. Saya teringat beberapa tahun lalu, semasa SMP, kala tengah menyaksikan pertunjukan musik di pinggir pantai. Suara ombak dan angin berlomba dengan distorsi gitar yang menggedor lewat amplifier. Nada yang dimainkan tak jelas, tapi pastinya gitar rombeng itu dimainkan dalam volume tertinggi. Seusai penampilan, saya mempertanyakan pengaturan suara tersebut, yang dijawab dengan lantang, “rock is loud, bro!”. Mungkin jika anda tanyakan pada Jose Purnomo (Jailangkung, Gasing Tengkorak), ia pun akan menjawab “horror is loud, bro!”.

Dibantu musik gubahan Ricky Lionardi (Danur 2: Maddah, Bayi Gaib: Bayi Tumbal Bayi Mati), Jose menyerbu telinga penonton dengan musik sekencang mungkin, dalam adegan sebanyak mungkin. Termasuk di setiap false alarm yang kerap terjadi karena karakternya sering salah lihat, mana kaki hantu mana kaki manusia, mana rambut kuntilanak mana rambut mahasiswi. Bahkan sewaktu terornya berwujud kebisingan statis dari alat pendeteksi suara pun, musik tetap diputar sekeras-kerasnya. Seiring waktu saya pun mulai kebal dengan jump scare yang ditawarkan Alas Pati. Saya mulai mati rasa seiring keengganan film horor satu ini untuk memainkan rasa takut penonton.
Padahal premisnya menjanjikan. Naskah yang ditulis berdua oleh Jose Purnomo dan Aviv Elham (Dubsmash, Sang Sekretaris) seolah ingin memberi pelajaran kepada para remaja kekinian yang bersedia melakukan apa saja demi ketenaran dunia maya. Apa saja, termasuk berkunjung ke hutan angker bernama Alas Pati, di mana terdapat kuburan terkutuk di dalamnya, sebagaimana dilakukan lima remaja pencari tantangan dan penonton YouTube. Raya (Nikita Willy) merasa perjalanan itu akan seru, Randy (Roy Sungkono) yakin video petualangan ke lokasi angker bakal mendongkrak jumlah penonton, sementara Vega (Stefhanie Zamora) butuh uang untuk membayar indekos. Ketiga alasan itu sepertinya sudah merangkum tujuan hidup banyak muda-mudi masa kini.

Sesampainya di Alas Pati, para remaja ini mulai bertingkah tidak sopan, bermain-main dengan mayat dan kuburan. Jangankan arwah-arwah penasaran di sana, saya di kursi penonton pun ingin mereka semua tewas. Memiliki deretan tokoh menyebalkan dalam film horor bukan masalah, sebab melihat satu per satu dari mereka dibantai juga memberikan hiburan tersendiri. Tapi alih-alih secara konstan memenuhi harapan tersebut, Alas Pati justru memaksa kita menunggu, menunggu, dan terus menunggu dalam rangkaian keusilan hantu yang cuma sesekali memberi dampak. Salah satu momen paling mencekam justru bukan dari gangguan dedemit, melainkan ketika Roy yang tengah merekam video dari jendela mobil nyaris terserempet truk, karena pemilihan waktunya tak terduga dan tanpa kesan mengulur waktu.
Mayoritas jump scare terlampau diulur, urung memamerkan penampakan ketika kecemasan memuncak, dan baru memunculkan sang hantu saat saya sudah menguap, lelah menanti, bagai usaha malas sutradara dan penulis naskah agar mencapai batas minimal durasi film panjang. Sulit untuk tidak berharap Alas Pati tetap bertahan di hutan. Setidaknya di sana aroma kengerian lebih semerbak. Sayang, pasca sebuah adegan kematian mengejutkan yang dieksekusi solid dibalut gore memadahi, karakternya pulang ke kota, ke rumah masing-masing, dengan darah teman mereka masih mengotori sekujur tubuh. Jika ada di posisi serupa, saya akan mencuci muka di sungai yang harus diseberangi sebelum mencapai hutan daripada menunggu berjam-jam kemudian. Bodoh memang, bahkan untuk ukuran horor remaja.

Bicara soal remaja, jajaran cast-nya bahkan tidak kuasa menjadikan obrolan sehari-hari terdengar realistis, apalagi asyik disimak. Ada usaha dari naskahnya guna menjalin interaksi menarik melalui beragam kelakar, namun kelima bintang mudanya adalah pelontar lelucon yang buruk. Begitu pula tatkala dipaksa berakting ketakutan. Mereka tampak kurang meyakinkan, dibuat-buat, atau menampakkan ekspresi seseorang yang mendapati bakso yang diinginkan sudah habis terjual ketimbang melihat setan. Seperti Jessy (Naomi Paulinda), saya pun berkali-kali ingin berteriak, “What??? Seriously?! “.