Tampilkan postingan dengan label Amber Heard. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Amber Heard. Tampilkan semua postingan
AQUAMAN (2018)
Rasyidharry
Aquaman adalah kali pertama film DCEU (or whatever the official name is) berambisi mencampur beraneka
elemen, dan alih-alih menghasilkan kekacauan, justru memperkaya filmnya (Wonder Woman berhasil karena cara tutur
sederhana). Alasannya tak lain karena James Wan beserta segenap tim tahu hendak
membuat tontonan seperti apa: film pahlawan super yang menyenangkan. Jadi, tiap
elemen yang dicampurkan, semuanya hanya mengalir menuju tujuan tersebut.
Menilik ceritanya, naskah karya David
Leslie Johnson-McGoldricka (Wrath of the
Titans, The Conjuring 2) dan Will Beall (Gangster Squad) sesungguhnya sebatas satu lagi cerita asal muasal
pahlawan super, khususnya di paruh awal ketika kita diperlihatkan bagaimana
Thomas Curry (Temuera Morrison) si penjaga mercusuar bertemu Atlanna (Nicole
Kidman) sang Ratu Atlantis. Keduanya jatuh cinta, kemudian memiliki momongan
bernama Arthur Curry yang selepas dewasa, dikenal pula sebagai Aquaman (Jason
Momoa).
Lalu cerita melompat beberapa tahun
ke depan, tepatnya pasca peristiwa di Justice
League. Mera (Amber Heard), Puteri kerajaan Xebel, berusaha meyakinkan
Arthur agar ia bersedia kembali ke Atlantis guna merebut tahta dari sang adik
tiri, Orm (Patrick Wilson), yang berhasrat menyatukan tujuh lautan untuk
memulai perang dengan manusia darat yang amat ia benci.
Babak pertamanya menerapkan plot
yang serupa dengan Black Panther,
namun lebih lemah. Arthur menantang Orm memperebutkan tahta, tapi berhasil
dikalahkan akibat tindakan gegabah dan kepercayaan diri berlebih. Soal
pembangunan dunia, kita melihat beberapa konsep bawah laut menarik semisal warna
suara saat seseorang bicara, dan gerakan tubuh mereka termasuk rambut. Tapi di
luar itu, Wan seolah cuma menjalankan kewajiban, ingin lekas melangkah ke babak
kedua yang jauh lebih menarik.
Di sana, Arthur dan Mera pergi
mencari trisula legendaris yang konon dapat memberikan pemiliknya kekuatan
mengontrol seluruh penjuru lautan beserta isinya, dalam perjalanan yang
mengembalikan ingatan akan film-film petualangan oldskul bertema pencarian
harta karun. Ada harta tersembunyi, Gurun Sahara, hingga pria dan wanita yang
terikat hubungan benci-lalu-cinta. Nantinya, deretan lokasi aneh yang bak
diangkat dari karya-karya Jules Verne dan H. P. Lovecraft telah menanti untuk
kita kunjungi.
Dalam upaya menghibur penonton,
tidak semua humornya mendart tepat sasaran, yang untungnya mampu Wan tebus
lewat sekuen aksi dengan gaya bervariasi. Dua protagonis wanita, Mera dan
Atlanna, diberi gaya bertarung lebih dinamis, saat kamera yang ditangani Don
Burgess (Forrest Gump, The Conjuring 2, Wonder)
selaku sinematografer, bergerak lincah tanpa putus (ciri khas Wan kala
menggarap horor). Sementara Arthur lebih keras, lebih brutal, yang menghasilkan
luka serta darah di sana-sini, yang cukup jauh mendorong rating PG-13 sampai ke
batasnya.
Pada lingkup aksi lebih besar, Aquaman sesungguhnya tak jauh berbeda
dibanding judul-judul DCEU lain, di mana CGI tampil inkonsisten. Tapi filmnya
beruntung memiliki Wan, yang serupa mayoritas sutradara horor besar, tumbul
dengan pemikiran bahwa gambar yang memiliki dampak (plus pembangunan tensi)
merupakan aspek terpenting. Alhasil, ia tak asal mencampur aduk keriuhan efek
komputer. Tengok adegan kala ratusan, bahkan mungkin ribuan Trench—makhluk laut
buas yang membunuh Atlanna—mengerumuni Arthur dan Mera, yang berenang sambil
membawa suar merah menyala bagai tengah membelah samudera.
Pemandangan serupa muncul lagi di third act-nya yang menyatukan
monster-monster laut dan para prajurit kerajaan dalam satu peperangan dahsyat. Bahkan,
Wan masih sempat menyuntikkan momen khas film kaijuu yang meski berdosis kecil namun memukau, membuat saya
berharap, kelak Wan berkesempatan ambil bagian mengerjakan salah satu judul MonsterVerse.
Kuncinya tak lain keberanian Wan setia
pada komik—yang bagi sebagian pihak berpotensi membuat film tampak norak—yang
akhirnya justru memfasilitasi visinya merangkai visual fantastis. Lihat saja desain
sekaligus warna-warni yang bertebaran di departemen artistik Aquaman, khususnya pada kostum. Raja
Nereus (Dolph Lundgren) mengenakan warna hijau, demikian pula Mera (belum
termasuk gaun ubur-ubur yang sekali ia pakai), tubuh Orm dibalut zirah ungu di
klimaks, bahkan Arthur memakai kostum klasik jingga-hijau miliknya.
Di sela-sela gelaran visualnya, Aquaman tetap menyisakan ruang bagi
jajaran pemainnya unjuk kebolehan. Momoa makin memantapkan kapasitasnya sebagai
jagoan badass yang masih sempat
melontarkan lelucon setelah perutnya dihantam ledakan. Sedangkan Amber Heard
melanjutkan prestasi Gal Gadot dan Margot Robbie, menegaskan jika ada satu hal
yang memposisikan DCEU di depan MCU adalah banyaknya jagoan wanita ikonik yang
kuat sekaligus rupawan.
Aquaman bergulir bagai fase pertama MCU, hanya saja lebih besar,
lebih ambisius, dan memiliki sentuhan visual lebih kuat. Walau harus diakui, Aquaman turut tertular sindrom “antagonis
lemah”, tatkala penokohan Orm lebih condong ke arah satu lagi penjahat
megalomania generik ketimbang saudara yang terluka. Pun potensi Black Manta (Yahya
Abdul-Mateen II) sebagai sosok simpatik urung terpenuhi, akibat sulit
sepenuhnya menyalahkan Arthur atas tragedi yang menimpa villain satu ini. Beruntung, sisi heroisme protagonis berhasil
ditekankan, apalagi pasca sebuah kejutan terungkap, yang memberi Arthur alasan
personal untuk melakukan aksi kepahlawanan, meski pada akhirnya, bentuk kepahlawanan terbesar Aquaman adalah menggiring DCEU menuju cahaya harapan yang sebelumnya dibukakan Wonder Woman.
Desember 13, 2018
Adventure
,
Amber Heard
,
Bagus
,
David Leslie Johnson-McGoldricka
,
Dolph Lundgren
,
Don Burgess
,
Fantasy
,
James Wan
,
Jason Momoa
,
Nicole Kidman
,
Patrick Wilson
,
REVIEW
,
Will Beall
,
Yahya Abdul-Mateen II
3 DAYS TO KILL (2014)
Rasyidharry
Albino sendiri berhasil kabur karena disaat Ethan hampir menangkapnya, ia tiba-tiba jatuh pingsan. Ethan pun kemudian tahu bahwa ia menderita sebuah kanker otak parah dan divonis hanya akan bertahan hidup selama beberapa bulan ke depan. Karena penyakit itu jugalah pihak CIA memberhentikan Ethan dari pekerjaannya sebagai agen rahasia. Setelah semua itu, Ethan memutuskan untuk berusaha memperbaiki hubungannyya yang retak dengan sang mantan istri, Christine (Connie Nielsen) dan puterinya, Zoey (Hailee Steinfeld). Tentu saja itu tidak mudah karena Ethan selama ini sudah meninggalkan keduanya, apalagi Zoey yang akhirnya tumbuh tanpa sosok seorang ayah. Kesempatan bagi Ethan untuk memperbaiki hubungannya yang kaku dengan Zoey datang saat Christine harus bekerja keluar kota selama beberapa hari dan menitipkan Zoey pada Ethan. Namun ternyata hal itu juga tidak berjalan dengan lancar setelah Ethan "dikunjungi" oleh Vivi (Amber Heard), seorang agen CIA yang memerintahkan Ethan untuk membunuh The Wolf (Richard Sammel) yang merupakan atasan dari Albino. Meski awalnya menolak, Ethan akhirnya menerima misi tersebut setelah Vivi menawarkan sebuah obat hasil eksperimen yang dikatakan bisa menyembuhkan penyakit Ethan.
Seperti yang saya katakan diawal tadi, 3 Days to Kill tidaklah sebombastis yang saya perkirakan. Saya benar-benar tertipu oleh kulit luarnya. Dengan judul yang mengandung kata "kill" dan posternya yang sedemikian rupa, mudah untuk mengira bahwa film ini adalah sebuah action-thriller yang kelam, apalagi mendengar premisnya yang berkisah tentang seorang agen rahasia yang harus menjalankan misi sembari membina kembali hubungan dengan keluarganya disaat ia sedang sekarat. Saya menduga film ini akan punya tone yang mirip dengan Edge of Darkness yang dibintangi Mel Gibson, tapi nyatanya 3 Days to Kill tidak sekelam itu. Bagian awalnya memang langsung menampilkan adegan aksi penuh ledakan, seolah menandakan ini akan menjadi sebuah kisah tentang secret agent yang bergerak cepat dan memacu adrenaline. Tapi semuanya berubah saat Ethan mulai mencoba membangun kembali hubungannya dengan Zoey. 3 Days to Kill mendadak berubah menjadi lebih banyak berfokus pada drama keluarganya sambil sesekali kembali ke ranah action-thriller yang juga dibumbui komedi. Warna filmnya jadi semakin cerah, semakin ringan dan mengesampingkan segala tetek bengek mengenai agen CIA yang berusaha menangkap gerombolan teroris.
Tapi itu bukanlah hal yang buruk, karena saya akui drama keluarga dan sentuhan komedinya bekerja dengan cukup baik. Hubungan ayah-anak antara Ethan dan Zoey mungkin tidak sampai terasa begitu menyentuh tapi tetap bisa terasa manis khususnya berkat chemistry kuat dari Kevin Costner dan Hailee Steinfeld. Komedinya yang cukup baik juga semakin membuat hubungan keduanya terasa menyenangkan untuk diikuti. Bahkan sentuhan komedi juga terasa cukup kental saat film ini menampilkan kembali momen aksinya. Bukan sebuah komedi yang membuat saya tertawa terbahak-bahak memang, tapi cukup untuk membuat saya menikmati segala momen yang dihadirkan McG dalam filmnya ini. 3 Days to Kill juga terlihat bergantung pada sosok Kevin Costner yang tampil maksimal disini. Costner tidak hanya punya kharisma yang membuatnya meyakinkan sebagai agen CIA veteran yang handal tapi juga sanggup menjadi sosok ayah yang "terjebak" dalam usaha mencairkan hubungan dengan sang puteri yang begitu kaku setelah sekian lama. Costner juga fasih dalam mengemban porsi komedi yang diberikan padanya. Bahkan dengan wibawa yang ia miliki momen komedi yang ada semakin terasa lucu. Sayangnya sebuah potensi bernama Amber Heard gagal dimanfaatkan dengan baik disini. Amber Heard jelas punya potensi menjadi scene stealer berkat keseksian dan karakternya yang dingin, tapi hal itu tidak dimaksimalkan. Vivi hanya muncul sesaat untuk kemudian menghilang lagi dan muncul lagi, menjadikan karakternya terlihat dipaksakan masuk dan tidak penting. Padahal hubungan Vivi dan Ethan bisa jadi sebuah sajian yang menghibur khususnya lewat dialog keduanya.
Tidak hanya Vivi, karakter lainnya pun banyak yang terasa hanya tempelan belaka seperti dua antagonis Albino dan Wolf serta keluarga yang tinggal di rumah Ethan. Khusus untuk Albino dan Wolf kedua penjahat yang begitu lemah dan sangat tidak menarik ini menjadikan klimaks 3 Days to Kill menjadi jauh dari kata menegangkan dan terasa datar. Pada akhirnya bukan hanya porsi aksinya saja yang terpinggirkan, tapi juga beberapa subplot yang coba dimasukkan termasuk tentang sekelompok keluarga yang menumpang di rumah Ethan. Dari situ sangat terasa bahwa naskah yang ditulis oleh Luc Besson dan Adi Hasak punya ambisi yang begitu besar tanpa diimbangi kualitas yang mumpuni. Ada ambisi besar untuk menggabungkan berbagai macam genre dan aspek-aspek cerita melalui beberapa subplot, tapi akibat kualitas yang kurang terjadilah ketidak seimangan porsi yang begitu terasa. Banyak hal yang akhirnya hanya terasa numpang lewat dan hambar. Untungnya walaupun adegan aksinya terpinggirkan, tiap kemunculannya dieksekusi dengan lumayan baik hingga tetap terasa menghibur. Secara keseluruhan pun, 3 Days to Kill masih menjadi tontonan yang menghibur meski jelas terdapat banyak kebodohan dalam ceritanya, pembagian porsi yang kurang seimbang, beberapa kesan repetitif, serta peralihan momen antara drama keluarga dan aksi yang begitu kasar dan dipaksakan.
Mei 22, 2014
Action
,
Amber Heard
,
Connie Nielsen
,
Cukup
,
Drama
,
Hailee Steinfeld
,
Kevin Costner
,
Luc Besson
,
McG
,
REVIEW
,
Richard Sammel
,
Tomas Lemarquis
Langganan:
Komentar
(
Atom
)





