Tampilkan postingan dengan label Nicole Kidman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nicole Kidman. Tampilkan semua postingan

REVIEW - THE NORTHMAN

"There is nothing either good or bad, but thinking make it so", ucap Hamlet. The Northman karya sutradara Robert Eggers (The Witch, The Lighthouse) mengadaptasi legenda tentang Amleth, yang kisah hidupnya menginspirasi William Shakespeare melahirkan The Tragedy of Hamlet, Prince of Denmark. Sebuah kisah epik yang melempar ambiguitas soal "Apakah kita tengah menyaksikan keberanian seorang prajurit menuntut balas, atau semata wujud kebengisan haus darah?". 

Setiap menemui cerita masa lalu, entah melalui medium film dan serial, atau dalam buku pelajaran sejarah, saya kerap menganggap betapa masa itu sungguh mengerikan. Raja dilengserkan oleh kudeta berdarah, lalu keturunannya menuntut balas sekaligus merebut kembali tampuk kekuasaan, dan itu terus berulang selama beberapa generasi, membentuk lingkaran setan yang menolak putus. 

The Northman melukiskan dunia yang serupa, di mana aroma kematian begitu mencekat, darah bercampur bangkai seolah bisa tercium dari kabut dan lumpur. Latarnya tahun 895, dan Raja Aurvandill (Ethan Hawke) bertahta di Hrafnsey, hidup bersama sang istri, Ratu Gudrún (Nicole Kidman), dan puteranya, Amleth (Oscar Novak). 

Aurvandill menyatakan ingin mati di medan perang, karena itulah kunci menuju Valhalla. Di sebuah upacara spiritual yang dipimpin Heimir (Willem Dafoe), Aurvandill dan Amleth bertingkah layaknya anjing, kemudian Raja bertitah agar kelak setelah ia tewas, sang putera mahkota membalaskan kematiannya. Sisi buas manusia, kematian, balas dendam. Hal-hal itu menguasai dunia The Northman. Tiada ruang bagi kebahagiaan maupun harapan.

Benar saja, Fjölnir (Claes Bang), saudara tiri Aurvandill, membunuhnya, mengambil alih kekuasaan, bahkan menikahi Ratu Gudrún. Amleth berhasil kabur, dan mengabdikan hidupnya untuk menghabisi nyawa si paman. Selang beberapa tahun, Amleth dewasa (Alexander Skarsgård) tumbuh jadi prajurit Viking beringas, yang menjalankan pembalasannya dengan menyamar sebagai budak Fjölnir. 

Sekali lagi, tiada ruang bagi kebahagiaan maupun harapan di sini, dan Eggers memastikan kesan tersebut muncul di tiap sudut. Kembali berkolaborasi dengan Jarin Blaschke sebagai sinematografer, gambar-gambar atmosferik ia bentangkan di hadapan penonton. Warna kuning menyesakkan dalam pencahayaan temaram, sementara tone monokrom jadi pilihan unik untuk mewakili kegelapan pekat. 

Enggan rasanya memalingkan mata dari layar. Semakin menghipnotis tatkala musik gubahan Robin Carolan dan Sebastian Gainsborough pun membangun nuansa atmosferik yang sama, sambil sesekali menaikkan intensitas agar penonton ingat kalau sedang menyaksikan sebuah epik. Segala departemennya mencengkeram, dan tentunya gelap. Bahkan suara Dafoe sewaktu mendeskripsikan pedang ajaib bernama Draugr pun bagai suara dari alam mimpi buruk.

Ada kalanya naskah buatan Eggers dan Sjón terdengar puitis sebagaimana kisah-kisah dari abad pertengahan pada umumnya. Salah satu favorit saya adalah kalimat "Soaked in my blood, it will soon be sliding off your arm like a serpent" yang diucapkan Aurvandill. Indah, tapi tetap lekat dengan kegelapan yang diusung. Romansa terjalin antara Amleth dan Olga (Anya Taylor-Joy), salah satu budak Fjölnir, tapi cinta mereka pun dipersatukan oleh intensi balas dendam. Seksnya biarpun menyimpan hasrat, juga terasa seperti upaya mengenyahkan emosi-emosi negatif yang tak pernah bisa sepenuhnya dilakukan. 

Di bawah penanganan Eggers, tidak mengejutkan saat dunia sarat paham nihilisme ini digiring ke ranah horor. Beberapa adegan trippy ala horor sureal dapat ditemukan, pun ada fase di mana filmnya "meminjam" unsur slasher berdarah. The Northman merupakan karya seorang sineas yang berkat kematangannya, telah menemukan jati diri yang memudahkannya bermain-main dengan formula aneka genre. 

Skarsgård dengan tubuh kekar, jenggot, serta wajah kerasnya tampak intimidatif, meyakinkan sebagai prajurit dengan ketangguhan fisik tanpa tanding. Tapi begitu ia (dan penonton) mengetahui kebenaran di balik tragedi beberapa tahun lalu, timbul berbagai perenungan. Apakah hatinya setangguh itu? Apakah balas dendam yang ia impikan merupakan wujud keadilan dan kedigdayaan? Ataukah Amleth hanya jiwa terluka yang gagal mengolah kompleksnya realita, akibat dunia yang dikuasai kematian di tiap sisinya? 

(iTunes US)

REVIEW - BEING THE RICARDOS

"Di masa kejayaannya, 60 juta orang menyaksikan I Love Lucy". Demikian bunyi trivia pertama Being the Ricardos, bak ingin langsung menegaskan soal betapa besar sitkom yang tayang tahun 1951-1957 itu, ke penonton generasi sekarang yang kurang familiar terhadapnya. Fakta tambahan: enam bulan selepas penayangan perdananya, sekitar 11 juta keluarga menonton I Love Lucy tiap minggu, di saat pemilik televisi di Amerika Serikat baru berjumlah 15 jutaan. Warisannya bertahan hingga kini. Serial apa yang jadi inspirasi terbesar WandaVision? Tentu saja I Love Lucy. 

Alur Being the Ricardos berjalan non-linear dengan tiga latar waktu. Proses produksi salah satu episode I Love Lucy tahun 1952, masa-masa awal hubungan Lucille Ball (Nicole Kidman) dengan Desi Arnaz (Javier Bardem), dan wawancara ala dokumenter di masa sekarang. Elemen mockumentary-nya jadi bagian terlemah. Sorkin membangun jembatan penghubung antara kisah utama dengan penonton, yang sejatinya tak perlu dilakukan karena minim signifikansi.

Being the Ricardos memang suguhan paling bersahabat dari Sorkin. Biopic yang cenderung lebih tradisional dibanding judul-judul seperti The Social Network (2010), Steve Jobs (2015), atau Molly's Game (2017). Tapi DNA Sorkin tetap tertanam kuat, entah lewat dialog/monolog yang masih bagai senapan mesin meski tak seliar biasanya, maupun sentral penceritaan yang mengambil satu peristiwa spesifik untuk mengeksplorasi karakternya, alih-alih menuturkan seluruh kisah hidup figur tersebut. 

Peristiwa spesifik itu tak lain satu minggu yang disebut "scary week", kala produksi episode I Love Lucy terancam, akibat pemberitaan bahwa Lucille merupakan anggota partai komunis. Situasi memanas, apalagi saat Lucille kerap bersikap kurang menyenangkan. Arahan sutradara ditolak, naskah ia revisi hinggal aspek terkecil, hubungannya dengan sang sahabat sekaligus lawan main, Vivian Vance (Nina Arianda), juga memburuk. Vivian merasa Lucille terancam atas keberadaannya.

Naskah Sorkin menjelaskan, kalau perangai Lucille bukan semata aksi egois megabintang, melainkan usaha seorang wanita menyuarakan isi pikirannya. Meski sekarang belum bisa dianggap benar-benar adil, kita tahu separah apa industri film masa lalu memperlakukan wanita. Lihat saja kondisi di sekitar Lucille. Jajaran eksekusitf, perwakilan CBS dan Philip Morris, semuanya pria. Lucille, begitu juga Madelyn (Alia Shawkat) selaku salah satu penulis naskah, punya bakat luar biasa. Bahkan mungkin yang terbaik dalam tim. Tapi mereka bukan pengambil keputusan. Tindakan Lucille dapat dilihat sebagai upaya merebut hak tersebut. 

Kita pun melihat wujud nyata bakat Lucille. Beberapa kali ia terdiam, lalu penonton disuguhi isi pikirannya, yakni visualisasi untuk adegan-adegan dalam naskah. Lucille bukan sekadar boneka industri hiburan. Dia memiliki insting artistik. Tepatnya, insting artis wanita, yang menolak dipandang atau nampak bodoh, sebagaimana Hollywood jamak mencitrakan para wanita saat itu. 

Selama seminggu (plus beberapa flashback), filmnya menyajikan banyak penceritaan. Mayoritas berhasil berkat adanya benang merah dengan tema utama mengenai gender (penolakan menampilkan wanita hamil di televisi karena "tidak enak dilihat" dan "terlampau realistis", anggapan kepala empat merupakan akhir karir pelakon wanita), walau ada yang setengah matang akibat tidak diberi cukup ruang. Persahabatan Lucille dengan Vivian, Madelyn, dan William Frawley (J.K. Simmons) misalnya. 

Satu lagi kekhasan Sorkin yang muncul adalah kecerdikan memainkan komedi verbal, khususnya melalui sarkasme. Shawkat jadi yang terbaik melakoninya, lewat celetukan-celetukan tajam nan menggelitik. Kidman mungkin tak selucu Lucille Ball, namun di situ poinnya. Being the Ricardos bukan tentang kejenakaan Ball, melainkan proses penciptaannya, yang seperti kita tahu, acap kali justru jauh dari kejenakaan. 

Kidman yang sekokoh karang dan Bardem yang karismatik sama-sama paling bersinar kala Being the Ricardos menyoroti pernikahan karakter keduanya. Sebuah hubungan kompleks mengenai pasangan yang saling mencintai, saling menolong, saling membukakan jalan, tetapi jauh dari kesempurnaan. Sorkin menolak menjadikan karakternya bak karikatur. Pasangan yang buruk tidak harus digambarkan tercela di segala sisi. Bisa saja ia mempunyai kelebihan yang benar-benar tulus dilakukan, namun berbuat dosa dalam bentuk lain. 

Konklusinya menegaskan itu. Konklusi menyentuh yang memadukan manis dan pahit, meski agak terganggu oleh pemakaian unsur deus-ex-machina. Campur aduknya perasaan Lucille yang selama ini mendambakan "rumah", dipaparkan begitu emosional oleh Sorkin. Di situlah, mungkin untuk kali terakhir, Lucille memilih untuk sejenak kembali berpura-pura bodoh dalam dunia fantasi, karena menghadapi realita amatlah menyakitkan.

(Prime Video)

REVIEW - THE PROM

Ryan Murphy kembali ke kursi penyutradaraan film panjang setelah satu dekade absen (terakhir melalui Eat Pray Love). Tapi berkat karya-karyanya di layar kaca, kita tahu harus berekspektasi seperti apa terhadap The Prom, sebuah komedi musikal remaja sarat pesan relevan mengenai kesetaraan dan self-love, serta inklusivitas yang memberi kesempatan bersuara bagi para minoritas, meski di tangan Murphy, suara tersebut dipenuhi keklisean, drama opera sabun, serta kemustahilan.

Diadaptasi oleh duo penulis naskah Bob Martin dan Chad Beguelin dari musikal Broadway berjudul sama, yang juga dilahirkan oleh mereka berdua, The Prom mengisahkan tentang malam prom di sebuah SMA di Indiana, yang dibatalkan. Menurut Greene (Kerry Washington) selaku ketua POMG, pembatan itu dikarenakan salah satu siswi, yaitu Emma Nolan (Jo Ellen Pellman), berniat membawa sesama perempuan ke acara tersebut. Walau didukung penuh oleh Tom Hawkins (Keegan-Michael Key) sang kepala sekolah, Emma tetap mendapat celaan dari seisi sekolah.

Di tempat lain, dua bintang Broadway narsis, Dee Dee Allen (Meryl Streep) dan Barry Glickman (James Corden), tengah merasa hancur karena pertunjukan terbaru mereka dicela habis-habisan oleh kritikus. Sampai berita mengenai Emma memberi keduanya ide. Demi publisitas, Dee Dee dan Barry, ditemani Trent Oliver (Andrew Rannells) si lulusan Julliard graduate dan Angie Dickinson (Nicole Kidman) si chorus girl, berniat datang ke Indiana guna membantu Emma.

Sebagaimana negara-negara adidaya merasa negara miskin butuh uluran tangan mereka untuk meraih kesejahteraan, atau SJW kota besar penghuni cafe mahal menganggap orang-orang desa perlu mereka edukasi, keempat bintang Broadway ini ngotot memberi bantuan, tanpa tahu (baca: peduli) apa yang Emma butuhkan. Tapi sekali lagi, ini film Ryan Murphy, di mana manusia-manusia berperangai buruk bakal menyadari kesalahan, kemudian berubah. Walau perubahan itu tak melalui proses yang meyakinkan.

Bahkan melalui kacamata musikal, di mana nyanyian dapat menyelesaikan masalah, simplifikasi yang dilakukan The Prom termasuk berlebihan. Sesuka apa pun saya mendengar sindiran terhadap kemunafikan para homofobia soal pengaplikasian ajaran Alkitab dalam nomor Love Thy Neihgbor, sekuen musikal ini jadi bukti nyata penyederhanaan filmnya atas masalah kompleks. Tapi saya yakin Murphy, Martin, dan Beguelin menyadari itu.

Meski mengganggu, rasanya mereka bukan sedang membodohi penonton. Kekurangan di atas merupakan kesengajaan. Seperti perkataan Pak Hawkins mengenai bagaimana Broadway menjadi eskapisme, The Prom menyediakan tempat bagi penonton untuk kabur dari ketidakadilan realita, ditemani lagu-lagu super catchy berlirik super cheesy. Murphy pun mampu melahirkan hiburan menyenangkan di deretan sekuen musikal, contohnya klimaks meriah berlatar malam prom, yang biarpun lagi-lagi terkesan naif, mengandung niat baik, yakni menyediakan safe haven bagi semua orang, apa pun gender dan preferensi seksual mereka.

Penceritaan The Prom bukan hanya terganggun simplifikasi, juga penyertaan subplot, juga momen-momen tidak perlu. Mungkin para penulis ingin penonton juga peduli pada karakter-karakter selain Emma, namun akibatnya, fokus melebar, pun durasi membengkak hingga 131 menit. Mungkin bakal melelahkan andai filmnya tidak memiliki jajaran pemain jempolan. Di luar dugaan Corden cukup baik mengolah rasa, Keegan memberi kita figur likeable, begitu pula Pellman, sebagai protagonis yang dengan senang hati kita dukung berkat keteguhan dan kekuatannya. Streep? Mungkin tidak banyak aktris selain Streep yang mampu menggabungkan sisi komikal over-the-top dengan kerapuhan sosok bintang paruh baya yang hatinya tak seglamor citranya. Sementara performa Kidman di lagu Zazz bakal membuatmu merindukan Satine dari Moulin Rouge!, berharap suatu hari sang aktris akan mendapatkan proyek musikal serupa sebagai bintang utama.


Available on NETFLIX

BOMBSHELL (2019)

Bombshell. Membaca judul tersebut, apa yang terlintas di benak anda? Pasti tidak akan jauh-jauh dari bombastis, eksplosif, dan melesat cepat. Filmnya sendiri digarap demikian. Dipacu kencang, penuh penyuntingan liar demi merangkum setumpuk persoalan yang melibatkan begitu banyak nama. Tidak mengejutkan, sebab penulis naskahnya, Charles Randolph, merupakan co-writer dari The Big Short (2015). Bahkan di sini dapat ditemukan pula adegan breaking the fourth wall kala Megyn Kelly (Charlize Theron) membawa penonton mengelilingi kantor Fox News.

Tapi perlukah keliaran itu? Sayangnya tidak. Apalagi kala sutradara Jay Roach (trilogi Austin Powers, Trumbo), yang belakangan meninggalkan skena komedi untuk menjajal ranah drama biografi, belum begitu lihai menangani gaya tutur semacam itu. Tapi bukan berarti Bombshell buruk. Daya hiburnya memadai, punya beberapa poin memukau, termasuk transformasi Theron menjadi Kelly—si pembaca berita kontroversial yang di awal film terlibat perselisihan dengan Donald Trump kala mengonfrontasi pernyataan seksisnya mengenai wanita—lewat riasan prostetik memukau buatan (The Great) Kazu Hiro, serta akting solid sang aktris sendiri.

Theron mengatur suaranya supaya terdengar serak, memancarkan kharisma dan kekokohan yang bisa membuat seisi ruangan dia memperhatikan kata-katanya. Sosoknya sulit dikenali sekalipun anda mengetahui partisipasinya di film ini. Melalui unggahan di Instagram miliknya, Kelly bercerita bagaimana puteranya bingung saat melihat wajah sang ibu di poster Bombshell. Mungkin peristiwa itu benar adanya. Bahkan berkat penampilan Theron, bisa jadi banyak penonton melupakan sisi kontroversial Kelly di dunia nyata.

Tapi serupa kalimat penutup filmnya, kita tidak harus menyukai para wanita ini. Kita cukup percaya atas cerita mereka. Cerita soal pelecehan seksual yang mengakar dan membudaya di Fox News, khususnya yang dilakukan oleh sang bos, Roger Ailes (John Lithgow). Ailes kerap melontarkan pernyataan ofensif, menyuruh para pembaca berita wanita mengenakan gaun sependek mungkin, sampai melakukan pelecehan fisik di ruangannya. Semua bungkam. Ada yang memang terbutakan oleh “kemurahan hati” Ailes termasuk beberapa wanita yang getol mendukungnya, ada pula yang menghkawatirkan keberlangsungan karirnya.

Salah satu korbannya adalah Kayla Pospisil (Margot Robbie), seorang karakter fiktif yang berasal dari keluarga Kristen konservatif dan bercita-cita menjadi pembaca berita di Fox. Robbie paling bersinar di dua momen. Pertama, saat tangis Pospisil pecah kala menghubungi rekan kerjanya, Jess Carr (Kate McKinnon). Kedua, sewaktu ia jadi korban nafsu Ailes. Bagaimana Robbie tampak menahan ketakutan yang nyata, memperkuat suasana menyesakkan yang berhasil dibangun Jay Roach dengan meniadakan musik.

Nasib Gretchen Carlson (Nicole Kidman) ibarat sebuah peringatan bagi mereka yang ingin mengungkap tindakan Ailes. Sempat membawakan acara ternama Fox and Friends, ia dipindahkan ke program tak popular di sore hari karena dianggap membangkang. Dari ekspresi Kidman, bahkan saat Carlson memaksakan senyum pun, kita bisa merasakan amarah yang berkecamuk dalam batinnya. Akhirnya Carlson menolak diam, kemudian mendatangi pengacara guna merencanakan tuntutan hukum terhadap pelecehan yang diperbuat Ailes. Tapi prosesnya tidak mudah. Sebab kembali, risikonya tidak main-main.

Randolph sempat menampilkan sebuah peristiwa miris sekaligus menggelitik, sewaktu jajaran pembawa acara wanita Fox menyampaikan sangkalan mereka atas tindakan Ailes, sembari sibuk berusaha mengamankan tubuh mereka yang dipaksa diobral di layar kaca. Situasi tersebut menggambarkan kegelisahan luar biasa. Kegelisahan akibat tubuh mereka dieksploitasi, pula kegelisahan perihal memberikan pengakuan jujur. Dilema itu menarik dieksplorasi, namun paparannya cuma hadir di permukaan via deretan dialog eksposisi. Padahal bayangkan saja, betapa besar film ini bisa berdampak pada dunia nyata untuk mendukung keberanian korban-korban pelecehan mengungkap kebusukan si pelaku.

Potensi menggali lebih dalam tenggelam oleh keliaran progresi cerita dan pengadeganan. Deretan peristiwa gagal dipresentasikan secara rapi, berondongan dialog dilepaskan membabi buta, sementara tokoh-tokoh datang dan pergi. Bombshell membutuhkan lebih banyak suntikan rasa ketimbang gaya. Beruntung, di beberapa titik terbaiknya, film ini mampu bersinar. Momen uplifting kala para wanita akhirnya memilih untuk melawan, sedikit kejutan apabila anda tidak sepenuhnya mengikuti perkembangan proses hukum Ailes, juga konklusi bernada positif yang tetap menyiratkan kengerian berupa siklus seksisme yang tak kunjung menampakkan ujung.

DESTROYER (2018)

Destroyer berpijak pada premis tentang polisi yang terluka jiwa serta raganya, dan mesti menghadapi kembali peristiwa traumatis yang mengakibatkan luka tersebut. Sebuah premis kuat, namun berakhir sebagai jalinan cerita tipis yang berlari tanpa tujuan selama dua jam dikarenakan duet penulis naskah Phil Hay-Matt Manfredi (Æon Flux, Clash of the Titans, The Invitation) gagal mengembangkannya.

Polisi tersebut adalah anggota LAPD bernama Erin Bell (Nicole Kidman). Kita pertama melihatnya ketika ia terbangun di mobil dengan tubuh kering, rambut berantakan, dan mata merah. Kondisi menyedihkan itu dipicu misi beberapa tahun lalu, sewaktu Erin dan Chris (Sebastian Stan) menjalankan misi penyamaran dalam sebuah gang yang dipimpin Silas (Toby Kebbell). Misi tersebut berujung tragis, dan kini Erin digergoti kenangan pahit yang mengubahnya seperti mayat hidup.

Benar bahwa trauma berujung depresi dapat memicu “kerusakan” tersebut, tapi sulit menampik kesan jika transformasi ekstrim Kidman dilakukan semata agar Destroyer tampak edgy, sekaligus memperbesar peluang sang aktris berjaya di musim penghargaan. Filmnya sendiri tak cukup gila mendobrak banyak batasan demi menghentak penonton, pula kurang mencengkeram perihal proses penelusuran kehidupan suram protagonisnya.

Demi meningkatkan penderitaan si tokoh utama, filmnya menambah bumbu permasalahan berupa keretakan hubungan Erin dengan puterinya, remaja 16 tahun bernama Shelby (Jade Pettyjohn). Shelby membenci sang ibu, senantiasa memberontak, juga memacari seorang laki-laki dewasa. Tapi unsur ini cuma ditampilkan sesekali sehingga urung menghasilkan dampak sebagaimana mestinya. Patut disayangkan, sebab dari hubungan ibu-anak inilah Destroyer memperoleh momen terkuatnya.

Momen itu terjadi jelang akhir saat Erin dan Shelby bertemu di cafe. Seperti biasa, pertemuan itu diawali obrolan kurang ramah, sebelum Shelby akhirnya melunak dan bercerita tentang satu dari sedikit kenangan tentang Erin, yang bisa jadi hanya sebuah false memory (kebenaran baru diungkap di ending). Rekoleksi memori tersebut jadi simbolisme apik terkait kerenggangan hubungan keduanya, juga penggambaran subtil mengenai bagaimana bawah sadar Shelby melihat sang ibu.

Tapi menu utamanya tetaplah investigasi Erin akan sebuah kasus pembunuhan yang memaksanya bersinggungan lagi dengan komplotan kriminal yang sempat ia susupi. Investigasinya lemah, sebab melalui flashback yang rutin mengisi sela-sela latar masa kini, kita sudah tahu siapa sosok yang Erin cari, intensinya kembali “menyapa” Erin, dan lain sebagainya.

Bagi penonton, tidak lagi ada misteri menarik tersisa untuk dipecahkan atau pertanyaan esensial yang perlu diajukan. Tersimpan twist mengejutkan di paruh akhir yang cukup cerdik memanfaatkan struktur non-linier alurnya, walau di sisi lain, kejutan itu turut menegaskan bahwa Destroyer sebatas cerita soal usaha seorang polisi kacau membunuh sesosok kriminal dari masa lalunya. Cerita tipis yang tak perlu diulur sampai dua jam, pun sudah didaur ulang ratusan kali dalam b-movie ringan bertema balas dendam. Keputusan menerapkan gaya serius cenderung kelam mewajibkan film ini menghadirkan pendalaman mumpuni, yang mana gagal total dilakukan.

Karena akhirnya, proses apa yang Destroyer berusaha paparkan tidak pernah jelas. Melihat beberapa momen di penghujung durasi, mungkin naskahnya ingin merangkum perjuangan seorang ibu sekaligus gambaran sulitnya mengangkat beban yang menghantui selama bertahun-tahun (aksi para remaja bermain skateboard di belakang mobil Erin bertindak sebagai metafora). Hanya satu yang bisa saya pastikan, tidak satu pun elemen di atas berhasil melahirkan penutup yang memiliki dampak.

Aspek yang konsisten menjaga atensi saya ialah penampilan Nicole Kidman. Gelagatnya meyakinkan sebagai wanita di titik darah penghabisan. Sutradara Karyn Kusama (Æon Flux, Jennifer’s Body, The Invitation) pun begitu bergantung kepada Kidman, tampak dari seringnya ia menempatkan kamera sedekat mungkin dari wajah sang aktris. Harapannya, akting (plus riasan ekstrim) Kidman mampu menggiring penonton merasakan penderitaan karakternya. Mungkin ketergantungan Kusama didorong kesadaran kalau ia menerima materi naskah yang lemah.

AQUAMAN (2018)

Aquaman adalah kali pertama film DCEU (or whatever the official name is) berambisi mencampur beraneka elemen, dan alih-alih menghasilkan kekacauan, justru memperkaya filmnya (Wonder Woman berhasil karena cara tutur sederhana). Alasannya tak lain karena James Wan beserta segenap tim tahu hendak membuat tontonan seperti apa: film pahlawan super yang menyenangkan. Jadi, tiap elemen yang dicampurkan, semuanya hanya mengalir menuju tujuan tersebut.

Menilik ceritanya, naskah karya David Leslie Johnson-McGoldricka (Wrath of the Titans, The Conjuring 2) dan Will Beall (Gangster Squad) sesungguhnya sebatas satu lagi cerita asal muasal pahlawan super, khususnya di paruh awal ketika kita diperlihatkan bagaimana Thomas Curry (Temuera Morrison) si penjaga mercusuar bertemu Atlanna (Nicole Kidman) sang Ratu Atlantis. Keduanya jatuh cinta, kemudian memiliki momongan bernama Arthur Curry yang selepas dewasa, dikenal pula sebagai Aquaman (Jason Momoa).

Lalu cerita melompat beberapa tahun ke depan, tepatnya pasca peristiwa di Justice League. Mera (Amber Heard), Puteri kerajaan Xebel, berusaha meyakinkan Arthur agar ia bersedia kembali ke Atlantis guna merebut tahta dari sang adik tiri, Orm (Patrick Wilson), yang berhasrat menyatukan tujuh lautan untuk memulai perang dengan manusia darat yang amat ia benci.

Babak pertamanya menerapkan plot yang serupa dengan Black Panther, namun lebih lemah. Arthur menantang Orm memperebutkan tahta, tapi berhasil dikalahkan akibat tindakan gegabah dan kepercayaan diri berlebih. Soal pembangunan dunia, kita melihat beberapa konsep bawah laut menarik semisal warna suara saat seseorang bicara, dan gerakan tubuh mereka termasuk rambut. Tapi di luar itu, Wan seolah cuma menjalankan kewajiban, ingin lekas melangkah ke babak kedua yang jauh lebih menarik.

Di sana, Arthur dan Mera pergi mencari trisula legendaris yang konon dapat memberikan pemiliknya kekuatan mengontrol seluruh penjuru lautan beserta isinya, dalam perjalanan yang mengembalikan ingatan akan film-film petualangan oldskul bertema pencarian harta karun. Ada harta tersembunyi, Gurun Sahara, hingga pria dan wanita yang terikat hubungan benci-lalu-cinta. Nantinya, deretan lokasi aneh yang bak diangkat dari karya-karya Jules Verne dan H. P. Lovecraft telah menanti untuk kita kunjungi.

Dalam upaya menghibur penonton, tidak semua humornya mendart tepat sasaran, yang untungnya mampu Wan tebus lewat sekuen aksi dengan gaya bervariasi. Dua protagonis wanita, Mera dan Atlanna, diberi gaya bertarung lebih dinamis, saat kamera yang ditangani Don Burgess (Forrest Gump, The Conjuring 2, Wonder) selaku sinematografer, bergerak lincah tanpa putus (ciri khas Wan kala menggarap horor). Sementara Arthur lebih keras, lebih brutal, yang menghasilkan luka serta darah di sana-sini, yang cukup jauh mendorong rating PG-13 sampai ke batasnya.

Pada lingkup aksi lebih besar, Aquaman sesungguhnya tak jauh berbeda dibanding judul-judul DCEU lain, di mana CGI tampil inkonsisten. Tapi filmnya beruntung memiliki Wan, yang serupa mayoritas sutradara horor besar, tumbul dengan pemikiran bahwa gambar yang memiliki dampak (plus pembangunan tensi) merupakan aspek terpenting. Alhasil, ia tak asal mencampur aduk keriuhan efek komputer. Tengok adegan kala ratusan, bahkan mungkin ribuan Trench—makhluk laut buas yang membunuh Atlanna—mengerumuni Arthur dan Mera, yang berenang sambil membawa suar merah menyala bagai tengah membelah samudera.

Pemandangan serupa muncul lagi di third act-nya yang menyatukan monster-monster laut dan para prajurit kerajaan dalam satu peperangan dahsyat. Bahkan, Wan masih sempat menyuntikkan momen khas film kaijuu yang meski berdosis kecil namun memukau, membuat saya berharap, kelak Wan berkesempatan ambil bagian mengerjakan salah satu judul MonsterVerse.

Kuncinya tak lain keberanian Wan setia pada komik—yang bagi sebagian pihak berpotensi membuat film tampak norak—yang akhirnya justru memfasilitasi visinya merangkai visual fantastis. Lihat saja desain sekaligus warna-warni yang bertebaran di departemen artistik Aquaman, khususnya pada kostum. Raja Nereus (Dolph Lundgren) mengenakan warna hijau, demikian pula Mera (belum termasuk gaun ubur-ubur yang sekali ia pakai), tubuh Orm dibalut zirah ungu di klimaks, bahkan Arthur memakai kostum klasik jingga-hijau miliknya.

Di sela-sela gelaran visualnya, Aquaman tetap menyisakan ruang bagi jajaran pemainnya unjuk kebolehan. Momoa makin memantapkan kapasitasnya sebagai jagoan badass yang masih sempat melontarkan lelucon setelah perutnya dihantam ledakan. Sedangkan Amber Heard melanjutkan prestasi Gal Gadot dan Margot Robbie, menegaskan jika ada satu hal yang memposisikan DCEU di depan MCU adalah banyaknya jagoan wanita ikonik yang kuat sekaligus rupawan.

Aquaman bergulir bagai fase pertama MCU, hanya saja lebih besar, lebih ambisius, dan memiliki sentuhan visual lebih kuat. Walau harus diakui, Aquaman turut tertular sindrom “antagonis lemah”, tatkala penokohan Orm lebih condong ke arah satu lagi penjahat megalomania generik ketimbang saudara yang terluka. Pun potensi Black Manta (Yahya Abdul-Mateen II) sebagai sosok simpatik urung terpenuhi, akibat sulit sepenuhnya menyalahkan Arthur atas tragedi yang menimpa villain satu ini. Beruntung, sisi heroisme protagonis berhasil ditekankan, apalagi pasca sebuah kejutan terungkap, yang memberi Arthur alasan personal untuk melakukan aksi kepahlawanan, meski pada akhirnya, bentuk kepahlawanan terbesar Aquaman adalah menggiring DCEU menuju cahaya harapan yang sebelumnya dibukakan Wonder Woman.

THE BEGUILED (2017)

Sejak pembukanya, The Beguiled, sebagai adaptasi novel A Painted Devil karya Thomas P. Cullinan, memperlihatkan setting rumah besar dengan taman rimbun dihiasi bunga yang terpencil di pinggir hutan. Bagai perwujudan negeri dongeng. Kisahnya pun serupa. Kopral John McBurney (Colin Farrell), prajurit union yang terluka, dirawat oleh murid serta guru sekolah wanita di Virginia. Bagi John, jelas ini mimpi indah. Sementara para wanita dibuat "kasak-kusuk" oleh kemunculan mendadak seorang pria. Untuk kedua belah pihak, bertemu lawan jenis menawan di tengah perang jelas bak dongeng. Bukan mustahil ada asmara merekah.

Sekolah itu dipimpin Martha Farnsworth (Nicole Kidman) yang tegas tapi murah hati, bersedia menolong John yang notabene pihak musuh karena memegang teguh ajaran Katolik untuk berbuat baik. Namun benarkah? John akan dirawat hingga pulih, barulah diserahkan pada pasukan konfederasi. Nyatanya selalu ada alasan memperpanjang masa tinggal sang Kopral, dari kesehatan yang belum sepenuhnya membaik sampai kebutuhan akan tenaga laki-laki guna mengurus taman. Demikian pula wanita lain yang senantiasa mencari dan mencuri kesempatan menemui John, entah Edwina Morrow (Kirsten Dunst) selaku guru di sana, atau si murid, Alicia (Elle Fanning) yang gemar menggoda.
Secara pribadi, genre yang paling sulit saya nikmati adalah period drama, murni disebabkan lebarnya jurang kultural, di mana romantika berasaskan tetek bengek sopan santun merupakan pondasi. Melalui The Beguiled, Sofia Coppola memang tidak mendobrak kemasan luar period drama. Nuansa lembut dalam kecenderungan tempo lambat tetap diutamakan, tapi bukan sekedar langkah mengikuti formula. Sebaliknya, gaya itu sesuai dengan usaha karakter wanitanya menekan gelora untuk mendekati John. Aksi curi-curi pandang dan kesempatan, meski berlangsung subtil, terasa menggelitik sekaligus "nakal".

Tersimpan potensi terkait tuturan pertarungan gender dalam dinamika saling goda John dengan para wanita yang sayangnya kurang dipusatkan oleh Coppola yang memilih mengedepankan seducing drama. Tatkala durasi melewati satu jam, baru unsur "girl power" mengambil alih sentral, membungkus perlawanan Miss Farnsworth beserta murid-muridnya terhadap represi patriarki yang menyentuh ranah perilaku abusive. The Beguiled menyenggol lingkup thriller, seiring mulusnya transisi Colin Farrell dari pria mempesona menjadi sosok buas. 
Elle Fanning, seperti biasa mumpuni sebagai gadis remaja dengan keliaran laku di balik paras anggunnya. Sedangkan para aktris yang lebih senior, Dunst dan Kidman, sebagai dua wanita dewasa yang perlu menjaga sikap, mampu menenggelamkan penonton dalam permainan menyembunyikan hasrat. Dunst memperlihatkan, bahwa makin Edwina coba menyangkal godaan John, makin runtuh pertahanan dirinya. Sebaliknya, Miss Farnsworth yang diperankan Kidman bermain lebih cerdik, menggiring makna-makna tersirat melalui permainan kata sembari kukuh bertahan di balik tebalnya tembok harga diri. 

Visualnya kelas wahid, dengan adegan yang bertempat di kamar John sebagai salah satu highlight perpaduan beragam departemen. Nuansa elegan pada tata kostum rancangan Stacey Battat dibingkai indah dalam sinematografi arahan Philippe Le Sourd yang menyiramkan cahaya terik matahari dari balik gorden putih selaku salah satu bentuk tata dekorasi cantik buatan Amy Beth Silver. The Beguiled nampak layaknya dunia fairy tale, hanya saja kali ini dongeng tersebut tidak seindah khayalan, terhempas oleh realita berupa hasrat dan ego manusia.