Tampilkan postingan dengan label Patrick Wilson. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Patrick Wilson. Tampilkan semua postingan

REVIEW - MOONFALL

Banyak yang menyebut bahwa karya terbaru Roland Emmerich ini terlalu bodoh, terutama akibat sebuah twist di pertengahan film. Saya menaruh anggapan berbeda. Tengok judulnya. Moonfall. Bukan asteroid yang jatuh menghantam Bumi, melainkan bulan. Kebodohan berlebih bukanlah sebab filmnya buruk. Justru sebaliknya, Emmerich seolah malu-malu mengakui kebodohannya, sehingga Moonfall jadi tontonan dengan krisis identitas.

Sebagai "master of disaster", tentu Emmerich paham betul formula film bencana. Sayangnya pemahaman itu tak berujung upaya penyegaran, tetapi pengulangan. Menulis naskahnya bersama sang kolaborator, Harald Kloser, dan Spenser Cohen (The Expendables 4), Emmerich memaksa kita melewati elemen paling klise sekaligus paling melelahkan di film bencana: prolog.

Sebelum tsunami menenggelamkan seisi kota, sebelum beragam landmark luluh lantah, kita kembali harus menemui seorang pria dengan kehidupan kacau, diceraikan sang istri yang kini memiliki suami baru yang jauh lebih mapan, sementara hubungannya dan sang anak merenggang. Pria itu adalah Brian Harper (Patrick Wilson), mantan astronot NASA yang karirnya hancur pasca kecelakaan maut di suatu misi. Brian dianggap bersalah, sedangkan rekannya di misi tersebut, Jocinda "Jo" Fowler (Halle Berry), sekarang menjabat sebagai wakil direktur NASA. 

Baik Brian maupun Jo tidak mengemban peran "pembawa pesan yang tak dipercaya" di sini. Peran itu jadi milik K.C. Houseman (John Bradley). Tapi K.C. bukan ilmuwan (atau mantan ilmuwan, atau ilmuwan gila). Dia adalah penganut teori konspirasi, yang meyakini kalau bulan merupakan benda buatan (megastruktur). Dialah yang pertama kali menyadari bulan telah bergeser dari orbitnya. Saya bisa membayangkan para penganut teori Bumi datar merasa Moonfall memahami perasaan mereka.

Intinya, bulan keluar dari orbit, siap menabrak Bumi, dan harapan umat manusia terletak di pundak Brian, K.C., dan Jo. Dari situlah Moonfall mulai tancap gas. Tapi biarpun pedal gas sudah diinjak, Emmerich cuma berkutat di gigi satu. Selepas penantian cukup lama, kehancuran tidak kunjung memuncak, pun eksekusinya medioker. Berbeda dari biasanya, Emmerich bagai setengah hati mengarahkan kiamat. 

Tentu momen-momen yang bakal memancing respon "Namanya juga film" masih dapat ditemui, misalnya mobil yang secara ajaib berhasil lolos dari setumpuk ancaman. Tapi semua itu lebih seperti pemenuhan obligasi, alih-alih perwujudan passion seorang pembuat karya (sesuatu yang senantiasa dimiliki Michael Bay, sejelek apa pun filmnya).

Seolah Emmerich membuat Moonfall hanya karena ingin melempar twist ekstrimnya, yang bak diambil dari novel Empire from the Ashes. Kejutan konyol yang sejatinya sah-sah saja digunakan, bahkan bisa jadi pembeda guna membawa Moonfall keluar dari keklisean film bencana, andai warna serupa konsisten ditampilkan. Moonfall could be a fun-to-watch gonzo sci-fi b-movie thanks to that twist.

Tapi di luar penokohan komedik K.C. (Bradley tampil maksimal, meski kualitas humor naskah cenderung lemah) Moonfall cenderung memandang dirinya terlampau serius, layaknya orang yang sesungguhnya sadar telah melakukan hal bodoh, namun menolak mengakuinya atas nama gengsi. Tone semakin inkonsisten, begitu ending-nya mengambil pendekatan komedi yang bahkan jauh lebih konyol dibanding twist di atas.

Selain Bradley, jajaran cast-nya seperti bingung sedang berada dalam film seperti apa. Kapasitas Wilson menyeimbangkan drama dan komedi lenyap, pun ia kurang meyakinkan sebagai figur jagoan. Sama tak meyakinkannya dengan cara Halle Berry menyampaikan speech khas film bencana. 

REVIEW - THE CONJURING: THE DEVIL MADE ME DO IT

James Wan membuat Saw, yang akhirnya menjadi waralaba menguntungkan, meski tanpanya di kursi penyutradaraan, kualitas sekuelnya cenderung menurun. James Wan membuat Insidious, yang akhirnya menjadi waralaba menguntungkan, meski tanpanya di kursi penyutradaraan, kualitas sekuelnya cenderung menurun. Pasti anda sudah memahami polanya.

The Conjuring pun serupa. Deretan spin-off-nya (kecuali Annabelle: Creation yang brilian) gagal menyamai pencapaian dua installment seri utamanya, yang masuk di jajaran horor modern paling mengesankan. Tapi kini tiba waktunya Wan melepas ciptaannya (lagi). Michael Chaves (The Curse of La Llorona), sementara Wan sibuk menyiapkan Malignant (rilis bulan September), yang bisa saja mengawali lahirnya waralaba baru. Sejarah pun terulang lagi, sebagaimana paragraf pembuka tulisan ini.

Wan "cuma" mendapat kredit "story by", untuk naskah buatan David Leslie Johnson-McGoldrick (The Conjuring 2, Aquaman), yang kembali mengangkat salah satu pengalaman mistis Ed Warren (Patrick Wilson) dan Lorraine Warren (Vera Farmiga). Tepatnya pembunuhan yang dikenal sebagai kasus "Devil Made Me Do It" yang terjadi pada 1981, di mana sang tersangka, Arne Cheyenne Johnson (Ruairi O'Connor), mengaku berada di bawah kendali setan kala membunuh. Sejarah mencatat, itulah kali pertama di pengadilan Amerika Serikat, alasan "kerasukan setan" dipakai tersangka guna menyangkal segala tuduhan.

Di awal, kita mengetahui bahwa yang kerasukan adalah David (Julian Hilliard), adik dari kekasih Arne, Debbie (Sarah Catherine Hook). Ed dan Lorraine melakukan pengusiran setan, yang malah berujung kekacauan, tatkala setan berpindah ke tubuh Arne. Berikutnya seperti sudah ditulis di atas, Arne melakukan pembunuhan, menyangkal dengan alasan kerasukan, sedangkan Ed dan Lorraine menjalankan investigasi guna membuktikan eksistensi setan di pengadilan.

Meski filmnya tidak lebih banyak menerapkan unsur courtroom drama (proses pembuktian hal mistis di depan hakim dan juri terdengar menarik), naskah karya Johnson-McGoldrick masih punya cukup amunisi berupa penyelidikan suami-istri Warren, supaya 112 menit durasinya bukan sebatas kompilasi jump scare. The Conjuring: The Devil Made Me Do It benar-benar mempunyai cerita. Ada misteri yang mampu menjaga atensi penonton, meski kemudian, semakin jauh bergulir, alurnya semakin hilang arah. Perihal pembuktian kalau Arne tidak bersalah seolah dilupakan, sepenuhnya beralih ke pola generik tentang "mengalahkan kekuatan jahat demi menyelamatkan nyawa seseorang".

Perubahan terbesar film ini dibanding dua pendahulunya justru terletak pada cara melempar teror. Seperti biasa, tiap seri The Conjuring selalu melabeli diri sebagai "kasus terseram dan/atau paling berbahaya yang pernah Ed dan Lorraine hadapi". Kali ini, pernyataan tersebut bukan hiperbola semata, sebab secara esensi, memang betul. Karena di sini, lawan utama mereka adalah manusia, dan kejahatan manusia dapat lebih berbahaya dibanding setan mana pun. 

Itu pula mengapa tidak muncul figur hantu ikonik seperti sebelumnya. Terornya mengutamakan "apa yang dilakukan" ketimbang "siapa". Apakah hasilnya lebih mengerikan? Sayangnya tidak. Level Chaves masih jauh di bawah Wan. Beberapa jump scare cukup mengejutkan, namun tak sampai benar-benar menggedor jantung. Penyebabnya tak lain desain set piece yang berantakan. Entah terlalu gelap, amera bergoyang terlampau kencang, atau kekacauan dalam kontinuitas sebuah sekuen. Bukannya takut, saya lebih sering dibuat kebingungan mencerna suatu peristiwa. Begitu pula soal build-up. Chaves belum begitu piawai membangun antisipasi penonton.

Minimal Chaves mempresentasikan adegan eksorsis dengan solid (walau rekaman suara pengusiran setan nyata yang dilakukan Ed dan Lorraine, yang diperdengarkan saat kredit, lebih menyeramkan). Intensitas mampu dijaga, sembari karakternya melakukan gerakan-gerakan "tidak manusiawi", yang mana merupakan kekhasan film bertema eksorsis. Tidak lupa, Chaves menyelipkan beberapa nod untuk The Exorcist (1973).

The Conjuring: The Devil Made Me Do It mempertahankan spirit yang diletakkan film kedua (dan berlanjut di Annabelle Comes Home), yakni romansa Ed dan Lorraine. Baik motivasi maupun resolusi yang diambil, didasari cinta keduanya. Kualitas teror boleh mengalami penurunan, namun keberhasilan menjaga semangat dasar tersebut, menjaga film ketiga ini dari kerusakan total. Biarpun tanpa Wan di kursi sutradara, kita mesti was-was menantikan kelanjutan seri ini. 

MIDWAY (2019)

Didedikasikan untuk prajurit Amerika Serikat dan Jepang yang terlibat Pertempuran Midway, film ini punya niat baik, ingin mengangkat perspektif yang adil tanpa menyudutkan pihak mana pun (baca: Jepang). Tidak ada nasionalisme buta, tidak ada kibaran The Stars and Stripes tiap beberapa menit sekali (I’m looking at you Michael Bay), minim antagonisasi, sementara beberapa prajurit berperang karena “tuntutan pekerjaan”, beberapa lainnya didorong hasrat balas dendam. Seharusnya Midway bisa jadi alternatif blockbuster bertema Perang Dunia II.

Tapi ini adalah karya Roland Emmerich, yang beberapa tahun belakangan, lewat Anonymous (2011) dan Stonewall (2015), ingin keluar dari zona nyaman namun berujung kegagalan. Ditulis naskahnya oleh Wes Tooke, seperti judulnya, Midway ibarat usaha Emmerich mengambil jalan tengah dengan tetap menampilkan kehancuran masif bombastis andalannya sembari menguatkan cerita. Poin kedua sayangnya kurang berhasil.

Tokoh sentralnya adalah Letnan Dick Best (Ed Skrein), pilot angkatan laut Amerika Serikat yang dikenal lewat kenekatannya. Dick pun jadi salah satu ujung tombak serangan balik Amerika pasca Jepang membombardir Pearl Harbor, yang turut menewaskan sahabat Dick. Tapi ini bukan kisah Dick seorang. Sepanjang 138 menit durasi, Midway hendak memaparkan peperangan dari beragam sisi. Ada Edwin T. Layton (Patrick Wilson) selaku inteligen pengumpul informasi rahasia Jepang yang bertugas di bawah komando Admiral Chester Nimitz (Woody Harrelson), juga Letnan Kolonel Jimmy Doolittle (Aaron Eckhart) yang memimpin serbuan ke Tokyo (disebut “Serbuan Doolittle”).

Belum lagi membahas nama-nama yang sempat diberi spotlight singkat seperti para prajurit dalam kapal selam atau Bruno Gaido (Nick Jonas) lewat aksi heroiknya menembak jatuh pesawat musuh seorang diri. Jonas merupakan aktor bertalenta. Bukan saja karena mendapat salah satu momen paling badass, keberhasilannya menghidupkan sisi carefree Bruno yang tak takut menantang maut membuat saya berharap karakternya diberi porsi lebih.

Sementara di kubu Jepang, Admiral Isoroku Yamamoto (Etsushi Toyokawa), Rear Admiral Tamon Yamaguchi (Tadanobu Asano), dan Vice Admiral Chuichi Nagumo (Jun Kunimura) diberi porsi lebih. Tapi apakah itu cukup sebagai jalan menyimbangkan sudut pandang? Sayangnya tidak. Mampu menggambarkan prajurit Jepang bukan sebagai pembunuh berdarah dingin, itu betul. Pun filmnya menjadikan tingginya harga diri tentara Jepang untuk melandasi sebuah momen sentimentil yang (diharapkan) menyentuh hati. Tapi itu saja tidak cukup. Berbeda dengan lawannya dari Amerika, kita urung diajak mengunjungi ruang intim prajurit-prajurit Jepang. Mereka masih figur-figur tak bernyawa yang selalu sibuk mengatur strategi. Artinya, Midway gagal menyeimbangkan perspektif.

Mungkin beberapa pembaca ingat bahwa saya bukan penggemar Dunkirk-nya Nolan. Tapi bagaimana naskahnya menata cerita dari beragam sudut pandang supaya seimbang patut dipuji. Emmerich dan Tooke mestinya bisa mengambil contoh soal cara membagi fokus. Metode yang Midway pakai bak sekadar asal menyelipkan, membiarkan tercipta distraksi akibat banyaknya karakter datang dan pergi, termasuk yang substansinya pantas dipertanyakan. Misalnya kehadiran sutradara John Ford (Geoffrey Blake) yang terjebak di baku tembak kala mengambil gambar untuk dokumenter pendek The Battle of Midway (1942). Ford tidak memberi dampak pada sentral cerita sekaligus bakal membingungkan bagi penonton yang asing terhadapnya.

Ketika ceritanya setengah matang, bagaimana Emmerich menyusun peperangan (mayoritas berupa pertempuran udara) justru mengundang decak kagum. Bermodalkan $100 juta, yang menjadikannya salah satu film indie termahal (Emmerich sempat kesulitan mencari dana), tercipta tiga set pieces besar: Serangan ke Pearl Harbor, Serbuan Doolittle, dan tentunya Pertempuran Midway. Di Pearl Harbor, Emmerich menyajikan horor di tengah lautan api, yang tambah mencekam saat adegan sesaat berpindah memperlihatkan seorang bocah yang menyaksikan pertempuran (baca: pembantaian) tersebut dari kejauhan. Sejenak saya merasakan teror yang dialami “orang luar”.

Sedangkan pada Pertempuran Midway selaku puncak, Emmerich mengajak kita memasuki kokpit para dive bomber, khususnya Dick Best, yang berani menukik jauh lebih rendah ke arah target dibanding rekan-rekannya. Serupa pengalaman menaiki roller coaster—hanya saja kali ini dibarengi ledakan dan kepulan asap—Emmerich mampu membuat penontonnya menahan napas, merasakan bagaimana mencekamnya aksi para pilot bertaruh nyawa menghindari hujan peluru, terjun mendekati target sedekat mungkin, dan mesti pintar mengatur timing kapan harus meluncurkan bom untuk kemudian kembali lepas landas di detik-detik terakhir, berharap tidak turut jadi korban ledakan yang ia ciptakan.

Ada paralel antara perjalanan karakternya dengan Emmerich sendiri. Dari seorang pilot sombong, Dick Best tertekan kala ditunjuk memimpin skuadron, dan berhasrat menebus “dosa” karena beberapa anak buahnya tewas. Demikian pula Layton, yang bekerja tanpa henti sampai jarang meluangkan waktu bersama istri akibat dihantui rasa bersalah “membiarkan” Jepang meledakkan Pearl Harbor. Melalui Midway, mungkin Roland Emmerich ingin menebus kegemarannya bertahan di zona nyaman membuat tontonan-tontonan brainless bombastis. Untuk itu, ia belum berhasil. Dan rasanya Emmerich perlu berhenti menebusnya. Pertama, karena hal tersebut bukan kekeliruan, dan kedua, sebagaimana ia buktikan (lagi) di sekuen peperangan film ini, Emmerich adalah ahli di bidang tersebut.

ANNABELLE COMES HOME (2019)

Kita sudah melihat asal-usul boneka Annabelle di film pertama yang hancur lebur, lalu mempelajari asal-usul dari asal-usul tersebut melalui keseruan Anabelle: Creation. Masih adakah cerita tersisa untuk dituturkan? Jawabannya “tidak”. Annabelle Comes Home yang membawa kita kembali ke zaman modern membuktikan itu, dengan nyaris sepenuhnya mengesampingkan plot demi deretan set pieces horor, yang untungnya, lumayan solid walau kurang berkesan.

“Annabelle adalah suar bagi para roh”, demikian ucap Lorraine (Vera Farmiga) kepada sang suami, Ed (Patrick Wilson), sebelum mengurung si boneka di balik kotak kaca suci, yang menandakan bahwa film ini mengambil latar segera setelah adegan pembuka The Conjuring. Kalimat Lorraine menjadi pondasi sutradara sekaligus penulis naskah Gary Dauberman dalam menggerakkan filmnya. Sehingga, begitu Annabelle keluar dari kurungannya, ada alasan mengapa barisan monster ikut berseliweran. Trik sederhana, dangkal, namun cukup cerdik.

Tapi siapa yang cukup bodoh untuk berinisiatif mengeluarkan Annabelle? Semua berawal saat Ed dan Lorraine mesti meninggalkan sang puteri, Judy (Mckenna Grace) di bawah pengawasan Mary Ellen (Madison Iseman), selama mereka bekerja di luar kota. Ikut hadir pula Daniela (Katie Sarife), sahabat Mary yang menyimpan penasaran besar terhadap aktivitas supernatural Keluarga Warren. Ya, Daniela bertanggung jawab atas terlepasnya Annabelle bersama lusinan roh jahat lain.

Tanpa menjustifikasi atau mengurangi tingkat kebodohannya, tindakan Daniela itu bisa dipahami ketika Dauberman menyelipkan latar belakang tragis pada karakternya, yang berpotensi menginjeksi elemen drama menyentuh andai Daniela diposisikan sebagai tokoh utama tunggal. Setidaknya berdua bersama Judy yang jadi korban perisakan karena profesi orang tuanya. Sementara Mary urung diberikan porsi memadai.

Begitu Annabelle menghilang dari kotaknya, demikian pula plot film ini. Set piece demi set piece saling menyusul atau hadir secara simultan dalam konsep yang mengingatkan kepada seri film Goosebumps ketika monster-monster “koleksi” tokoh utamanya kabur dan menebar teror (trivia: Madison Iseman bermain di Goosebumps 2: Haunted Halloween). Ada hantu pengantin yang mengayunkan pisau, iblis bertanduk, manusia serigala, hingga The Ferryman yang terinspirasi sosok Charon dari mitologi Yunani.

Memiliki desain menarik, saya yakin jajaran monster baru di atas bakal kesulitan menandingi status ikonik seniornya seperti Valak dan tentunya Annabelle. Penyebabnya sederhana, yaitu kemunculan ala kadarnya. Beberapa jump scare—yang muncul menyusul build up yang kerap terlampau lama—memang efektif meningkatkan denyut jantung sesaat, namun miskin kreativitas, sebatas menampakkan wajah hantu secara tiba-tiba.

Kurangnya kreativitas turut menciptakan antiklimaks di momen puncak tatkala Annabelle Comes Home gagal memanfaatkan banyaknya jumlah hantu. Bahkan teror si boneka terkutuk ditutup dengan cara yang malas. Tapi saya percaya Dauberman menyimpan banyak ide cemerlang (jangan lupa, dialah penulis Annabelle: Creation dan It). Terbukti, sewaktu dipaksa memutar otak lebih keras guna menampilkan teror tanpa penampakan, beberapa situasi menarik berhasil diproduksi, misalnya momen menegangkan yang melibatkan layar televisi.

Annabelle Comes Home tidak seseram, seseru, maupun selucu Creation, tapi memiliki paparan drama yang meski kecil, cukup baik perihal menggerakkan rasa. Berkat penokohan likeable ditambah penampilan solid khususnya dari Mckenna Grace, Katie Sarife, dan Vera Farmiga yang mumpuni menghantarkan emosi, kalimat-kalimat singkat (“Life goes on, somehow”, “He was the boyfriend”, etc.) bisa terkesan hangat, pedih, manis, pahit. Beraneka rasa.

AQUAMAN (2018)

Aquaman adalah kali pertama film DCEU (or whatever the official name is) berambisi mencampur beraneka elemen, dan alih-alih menghasilkan kekacauan, justru memperkaya filmnya (Wonder Woman berhasil karena cara tutur sederhana). Alasannya tak lain karena James Wan beserta segenap tim tahu hendak membuat tontonan seperti apa: film pahlawan super yang menyenangkan. Jadi, tiap elemen yang dicampurkan, semuanya hanya mengalir menuju tujuan tersebut.

Menilik ceritanya, naskah karya David Leslie Johnson-McGoldricka (Wrath of the Titans, The Conjuring 2) dan Will Beall (Gangster Squad) sesungguhnya sebatas satu lagi cerita asal muasal pahlawan super, khususnya di paruh awal ketika kita diperlihatkan bagaimana Thomas Curry (Temuera Morrison) si penjaga mercusuar bertemu Atlanna (Nicole Kidman) sang Ratu Atlantis. Keduanya jatuh cinta, kemudian memiliki momongan bernama Arthur Curry yang selepas dewasa, dikenal pula sebagai Aquaman (Jason Momoa).

Lalu cerita melompat beberapa tahun ke depan, tepatnya pasca peristiwa di Justice League. Mera (Amber Heard), Puteri kerajaan Xebel, berusaha meyakinkan Arthur agar ia bersedia kembali ke Atlantis guna merebut tahta dari sang adik tiri, Orm (Patrick Wilson), yang berhasrat menyatukan tujuh lautan untuk memulai perang dengan manusia darat yang amat ia benci.

Babak pertamanya menerapkan plot yang serupa dengan Black Panther, namun lebih lemah. Arthur menantang Orm memperebutkan tahta, tapi berhasil dikalahkan akibat tindakan gegabah dan kepercayaan diri berlebih. Soal pembangunan dunia, kita melihat beberapa konsep bawah laut menarik semisal warna suara saat seseorang bicara, dan gerakan tubuh mereka termasuk rambut. Tapi di luar itu, Wan seolah cuma menjalankan kewajiban, ingin lekas melangkah ke babak kedua yang jauh lebih menarik.

Di sana, Arthur dan Mera pergi mencari trisula legendaris yang konon dapat memberikan pemiliknya kekuatan mengontrol seluruh penjuru lautan beserta isinya, dalam perjalanan yang mengembalikan ingatan akan film-film petualangan oldskul bertema pencarian harta karun. Ada harta tersembunyi, Gurun Sahara, hingga pria dan wanita yang terikat hubungan benci-lalu-cinta. Nantinya, deretan lokasi aneh yang bak diangkat dari karya-karya Jules Verne dan H. P. Lovecraft telah menanti untuk kita kunjungi.

Dalam upaya menghibur penonton, tidak semua humornya mendart tepat sasaran, yang untungnya mampu Wan tebus lewat sekuen aksi dengan gaya bervariasi. Dua protagonis wanita, Mera dan Atlanna, diberi gaya bertarung lebih dinamis, saat kamera yang ditangani Don Burgess (Forrest Gump, The Conjuring 2, Wonder) selaku sinematografer, bergerak lincah tanpa putus (ciri khas Wan kala menggarap horor). Sementara Arthur lebih keras, lebih brutal, yang menghasilkan luka serta darah di sana-sini, yang cukup jauh mendorong rating PG-13 sampai ke batasnya.

Pada lingkup aksi lebih besar, Aquaman sesungguhnya tak jauh berbeda dibanding judul-judul DCEU lain, di mana CGI tampil inkonsisten. Tapi filmnya beruntung memiliki Wan, yang serupa mayoritas sutradara horor besar, tumbul dengan pemikiran bahwa gambar yang memiliki dampak (plus pembangunan tensi) merupakan aspek terpenting. Alhasil, ia tak asal mencampur aduk keriuhan efek komputer. Tengok adegan kala ratusan, bahkan mungkin ribuan Trench—makhluk laut buas yang membunuh Atlanna—mengerumuni Arthur dan Mera, yang berenang sambil membawa suar merah menyala bagai tengah membelah samudera.

Pemandangan serupa muncul lagi di third act-nya yang menyatukan monster-monster laut dan para prajurit kerajaan dalam satu peperangan dahsyat. Bahkan, Wan masih sempat menyuntikkan momen khas film kaijuu yang meski berdosis kecil namun memukau, membuat saya berharap, kelak Wan berkesempatan ambil bagian mengerjakan salah satu judul MonsterVerse.

Kuncinya tak lain keberanian Wan setia pada komik—yang bagi sebagian pihak berpotensi membuat film tampak norak—yang akhirnya justru memfasilitasi visinya merangkai visual fantastis. Lihat saja desain sekaligus warna-warni yang bertebaran di departemen artistik Aquaman, khususnya pada kostum. Raja Nereus (Dolph Lundgren) mengenakan warna hijau, demikian pula Mera (belum termasuk gaun ubur-ubur yang sekali ia pakai), tubuh Orm dibalut zirah ungu di klimaks, bahkan Arthur memakai kostum klasik jingga-hijau miliknya.

Di sela-sela gelaran visualnya, Aquaman tetap menyisakan ruang bagi jajaran pemainnya unjuk kebolehan. Momoa makin memantapkan kapasitasnya sebagai jagoan badass yang masih sempat melontarkan lelucon setelah perutnya dihantam ledakan. Sedangkan Amber Heard melanjutkan prestasi Gal Gadot dan Margot Robbie, menegaskan jika ada satu hal yang memposisikan DCEU di depan MCU adalah banyaknya jagoan wanita ikonik yang kuat sekaligus rupawan.

Aquaman bergulir bagai fase pertama MCU, hanya saja lebih besar, lebih ambisius, dan memiliki sentuhan visual lebih kuat. Walau harus diakui, Aquaman turut tertular sindrom “antagonis lemah”, tatkala penokohan Orm lebih condong ke arah satu lagi penjahat megalomania generik ketimbang saudara yang terluka. Pun potensi Black Manta (Yahya Abdul-Mateen II) sebagai sosok simpatik urung terpenuhi, akibat sulit sepenuhnya menyalahkan Arthur atas tragedi yang menimpa villain satu ini. Beruntung, sisi heroisme protagonis berhasil ditekankan, apalagi pasca sebuah kejutan terungkap, yang memberi Arthur alasan personal untuk melakukan aksi kepahlawanan, meski pada akhirnya, bentuk kepahlawanan terbesar Aquaman adalah menggiring DCEU menuju cahaya harapan yang sebelumnya dibukakan Wonder Woman.