Tampilkan postingan dengan label Margot Robbie. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Margot Robbie. Tampilkan semua postingan

REVIEW - THE SUICIDE SQUAD

Saat mendapati buruknya Suicide Squad lima tahun lalu, saya mulai yakin proyek DCEU memang ditakdirkan untuk gagal. Justice League yang rilis setahun berselang adalah "gongnya". Tapi, somehow, kegagalan tersebut berujung berkah. Sejak Aquaman, film DC selalu memuaskan, memberi bentuk shared universe alternatif yang lain dari Marvel. Berkat arah baru itu pula, kita berkesempatan menyaksikan James Gunn "beralih" studio, melahirkan standalone sequel yang dibanding pendahulunya, lebih gritty, namun juga lebih lucu, dan tentu saja lebih baik. 

Semua pasti sudah menduga Gunn bakal menawarkan komedi. Di antara jajaran sutradara/penulis naskah MCU, dialah yang tersukses memakai humor selaku cara menguatkan penokohan dalam dua film Guardians of the Galaxy. Tapi gritty? Bagaimana "gritty" dan "lucu" eksis bersamaan? 

Jawabannya bisa disimak pada sekuen pembuka, saat Amanda Waller (Viola Davis) mengirim tim Task Force X guna menghancurkan Jötunheim, laboratorium tempat eksperimen bernama "Project Starfish" berlangsung. Wajah-wajah lama seperti Harley Quinn (Margot Robbie), Rick Flag (Joel Kinnaman), dan Captain Boomerang (Jai Courtney) tergabung di situ. Saya takkan membocorkan detail adegan. Intinya, Gunn berhasil mencapai apa yang gagal Ayer capai, yakni menekankan, mengapa Task Force X dijuluki "Suicide Squad".

Bukan karena mesti menjalani misi luar biasa berbahaya. Bukan cuma itu, karena semua pahlawan super mengalaminya. Melainkan soal esensi Task Force X, selaku tim yang hidupnya dianggap tidak berharga, sehingga bisa dikirim, tidak hanya untuk bertaruh nyawa, tapi (literally) untuk mati. 

Setelahnya, kita pun bertemu para anggota baru. Bloodsport (Idris Elba) sebagai pemimpin, Peacemaker (John Cena) yang bersedia membunuh siapa saja demi tercapainya perdamaian dunia, Ratcatcher 2 (Daniela Melchior) yang mampu mengontrol tikus, Polka-Dot Man (David Dastmalchian) dengan kekuatan super berupa...well, melempar objek polkadot, dan Nanaue alias King Shark (Sylvester Stallone) si manusia ikan pemakan manusia namun berkepribadian polos. 

The Suicide Squad tampil bagai remidi film sebelumnya. Seorang ahli senjata selaku pemimpin tim yang bersedia ambil bagian demi puterinya (Bloodsport dan Deadshot), wanita yang mencuri perhatian (Ratcatcher 2 dan Harley Quinn), karakter komedik berkekuatan aneh (Polka-Dot Man dan Captain Boomerang), serta sesosok monster (King Shark dan Killer Croc). Tapi sebagaimana harusnya remidi, kali ini hasilnya mengalami peningkatan. Gunn paham, apa saja yang keliru, juga kenapa. 

Karakter Gunn menarik, karena tak menganggap diri mereka terlalu serius. Bloodsport bukan Deadshot yang klise nan membosankan. Dibantu keahlian Elba menangani komedi tanpa kehilangan karisma, ia berperan aktif menghidupkan humor khas Gunn, termasuk saat diduetkan bersama Cena. Bloodsport dan Peacemaker menciptakan rivalitas menggelitik dua alpha male, yang selalu punya waktu saling melempar ejekan. 

Begitu pula King Shark, yang bukan monster tanpa kepribadian layaknya Killer Croc. Dia adalah maskot tim, yang disusun bak kombinasi Groot dan Hulk. Jika si raksasa hijau identik dengan kata "smash", maka "nom nom" jadi catchphrase King Shark. 

Gunn memastikan, The Suicide Squad menjadi film ensemble alih-alih "film Harley Quinn". Porsi Harley dikurangi. Bahkan sampai lewat paruh pertama, ia terpisah dari tim. Gunn sadar, sebaik apa pun penulisannya, pesona Robbie terlalu kuat, berpotensi menenggelamkan tokoh lain. Sebagai gantinya, ia diberi satu sekuen aksi sendiri, sedangkan rekan-rekannya menjalankan "Operation Harley Quinn", guna menyelamatkan Harley dari ancaman musuh. Tapi tentu saja, sebagai salah satu simbol empowerment terbesar di skena film superhero modern, Harley tidak butuh diselamatkan.

Terkait presentasi drama, sebenarnya penulisan Gunn belum layak disebut mulus, karena bergantung pada eksposisi-eksposisi yang dipaksa masuk. Terutama soal masa lalu Ratcatcher 2, yang membuat karakternya memegang peranan penting di keseluruhan alur. Bagaimana flashback diselipkan, terkesan canggung. Kelemahan yang untungnya ditebus oleh sensitivitas penyutradaraan, tatkala Gunn, sebagaimana di dua film Guardians of the Galaxy, menjadikan "keluarga" sebagai senjata terkuat.

Di ranah aksi, The Suicide Squad mengingatkan penonton bahwa James Gunn merupakan "lulusan" Troma, yang identik dengan splatter (debut Gunn adalah menulis naskah Tromeo & Juliet pada 1996). Diiringi pilihan lagu kelas wahid, Gunn membanjiri layar dengan darah dan potongan tubuh manusia. Ketika humor dan plot tipis mulai mencapai batas pasca melewati satu jam (bakal tak terlalu terasa andai durasi di bawah dua jam), aksinya selalu berhasil mengembalikan daya tarik. Apalagi tidak seperti versi Ayer, The Suicide Squad, dengan bujet "cuma" bertambah 10 juta, memiliki kualitas CGI jauh lebih mumpuni (Contohnya Starro dan King Shark).

Mengambil mayoritas latar di tengah hutan yang dihujani api dan ledakan, memberi tim jagoannya misi menyusup ala film caper ke markas militer negara musuh, The Suicide Squad tampil bak film perang. Tepatnya film perang era 1960an hingga 1970an. The Dirty Dozen (1967) muncul pertama di ingatan, sebab serupa The Suicide Squad, film karya Robert Aldrich itu pun mengisahkan tentang pembentukan tim berisi para kriminal paling berbahaya, guna melakoni misi bunuh diri. Bahkan poster kedua film pun mirip (sebuah kesengajaan selaku tribute). Gabungkan itu dengan sentuhan Troma khas Gunn, terciptalah sajian luar biasa menyenangkan. Begitu film usai, saya langsung menontonnya lagi. 


Available on HBO MAX

BIRDS OF PREY (AND THE FANTABULOUS EMANCIPATION OF ONE HARLEY QUINN) (2020)

Menilik cara bertuturnya, Birds of Prey (and the Fantabulous Emancipation of One Harley Quinn) bukan film tim pahlawan super tradisional. Bukan karena narasi non-linear, pemakaian teknik breaking the fourth wall, atau eksplorasi gaya-gaya unik lain. Faktor pembedanya adalah keterlibatan Harley Quinn (Margot Robbie), karakter yang—meski sempat beberapa kali bersinggungan—sejatinya tidak termasuk anggota tim Birds of Prey. Bukankan itu sebatas alasan finansial mengingat sejak Suicide Squad empat tahun lalu, sosoknya jadi bankable?

Jelas ada unsur tersebut, tapi berbeda dengan Joker di Suicide Squad, Christina Hodson (Bumblebee) selaku penulis naskah mampu membuat keberadaan Harleen Quinzel faktor integral dalam terbentuknya Birds of Prey.  Sebagaimana judulnya, terdapat dua kisah, dengan bersatunya para jagoan wanita berkat “the fantabulous emancipation of one Harley Quinn” sebagai poros utama.

Emansipasi yang dimaksud adalah usaha move on Harley setelah putus dari Joker. Di tengah patah hatinya, Harley merasa sudah waktunya membuktikan jika ia bisa hidup tanpa diperbudak siapa pun (namanya berasal dari “Harlequin” yang merupakan karakter pelayan dari drama Eropa abad pertengahan). Kebetulan, ada wanita-wanita lain yang juga mengejar emansipasi masing-masing: Black Canary (Jurnee Smollett-Bell) si penyanyi dengan teriakan hipersonik, Renee Montoya (Rosie Perez) si detektif yang tak pernah dihargai, Huntress (Mary Elizabeth Winstead) si pembunuh misterius bersenjatakan crossbow, dan pencopet bocah bernama Cassandra Cain (Ella Jay Basco).

Singkatnya, mereka bakal bersinggungan dengan Roman Sionis alias Black Mask (Ewan McGregor) si mafia kejam sebagai benang merah. Tapi prosesnya tidak sesederhana itu, sebab Christina Hodson menerapkan alur non-linear yang membawa penonton berpindah-pindah latar waktu secara liar. Bisa mendadak mundur beberapa jam atau bahkan cuma beberapa menit. Keliaran itu pas, karena sesuai dengan kegilaan Harley, yang tingkahnya selalu dipenuhi letupan-letupan tak terduga.

Tapi bila gaya bertutur tersebut dihilangkan, nampaklah wajah asli Birds of Prey, yang di luar kecerdikannya mempermainkan formula film tim superhero sebagaimana telah disebut sebelumnya, sejatinya tidaklah spesial. Medioker, dan bakal membosankan jika dikemas linear. Di sinilah departemen lain turun tangan. Walau lemah di penceritaan, Birds of Prey tetap menghibur. Daya tariknya tidak terletak di storytelling, melainkan peristiwa-peristiwa yang mengisi cerita tersebut.

Sutradara Cathy Yan memakai visual meriah. Ledakan api dan kepulan asap warna-warni, taburan konfeti, hingga tulisan-tulisan neon yang kerap dipakai memperkenalkan karakter secara playful. Sekilas terdengar seperti Suicide Squad, namun ketika karya David Ayer itu hancur akibat ketidakjelasan tone, Birds of Prey jauh lebih konsisten, di mana komedi hitam  digunakan untuk menangani tema-tema serius cenderung kelam seperti abusive relationship, kriminalitas kejam, pembantaian, atau seksisme.

Adanya figur sentral memudahkan para pembuatnya menentukan jalur film. Dan karena figur itu adalah Harley Quinn, mereka bebas bereksplorasi, termasuk menyelipkan gimmick absurd seperti parodi video klip Diamonds Are a Girl’s Best Friend milik Marilyn Monroe. Tentunya jajaran karakter menarik yang diperankan dengan baik juga menjadi kunci. Harley dan Huntress merupakan tokoh paling menonjol. Khususnya terkait presentasi komedi, keduanya ibarat kutub berlawanan yang saling melengkapi. Kalau Harley anarkis dan penuh energi, maka Crossbow Kil.....maksud saya Huntress, diperkuat oleh gaya deadpan Mary Elizabeth Winstead. Begitulah komedi. Semakin variatif dan berlawanan karakter-karakternya, semakin efektif.

Tapi Birds of Prey memang panggungnya Margot Robbie. Pondasi karakter seperti Harley Quinn adalah “unpredictable”. Monotonitas haram hukumnya. Dan dari gestur tubuh, ekspresi, sampai cara penyampaian kalimat, bahkan hingga ke detail terkecil sekali pun, Robbie selalu dipenuhi kejutan. Harley Quinn adalah Margot Robbie. Identifikasi semacam ini merupakan pencapaian tertinggi seorang pelaku seni peran.

Kembali ke perihal “daya tarik Birds of Prey tidak terletak di storytelling, melainkan peristiwa-peristiwa yang mengisi cerita tersebut”, pengarahan adegan aksi Cathy Yan perlu diberi pujian khusus. Biarpun tanpa pahlawan super kelas dewa seperti Superman, Wonder Woman atau Aquaman, sang sutradara tetap mampu mengkreasi momen laga hard-hitting berbekal dentuman lagu-lagu rock, koreografi solid, serta elemen kekerasan secukupnya. Adegan aksi Birds of Prey ibarat pesta meriah. Bahkan kejar-kejaran klimaksnya terasa seperti sedang menonton roller disco.

Semakin meriah pesta itu sewaktu akhirnya para wanita-wanita tangguh film ini bersatu di klimaks, walau susah menghilangkan harapan untuk melihat lebih banyak kebersamaan mereka. Birds of Prey (and the Fantabulous Emancipation of One Harley Quinn) adalah tontonan jujur terkait pemenuhan ekspektasi. Judul serta materi-materi promosinya nyeleneh, demikian pula filmnya.

BOMBSHELL (2019)

Bombshell. Membaca judul tersebut, apa yang terlintas di benak anda? Pasti tidak akan jauh-jauh dari bombastis, eksplosif, dan melesat cepat. Filmnya sendiri digarap demikian. Dipacu kencang, penuh penyuntingan liar demi merangkum setumpuk persoalan yang melibatkan begitu banyak nama. Tidak mengejutkan, sebab penulis naskahnya, Charles Randolph, merupakan co-writer dari The Big Short (2015). Bahkan di sini dapat ditemukan pula adegan breaking the fourth wall kala Megyn Kelly (Charlize Theron) membawa penonton mengelilingi kantor Fox News.

Tapi perlukah keliaran itu? Sayangnya tidak. Apalagi kala sutradara Jay Roach (trilogi Austin Powers, Trumbo), yang belakangan meninggalkan skena komedi untuk menjajal ranah drama biografi, belum begitu lihai menangani gaya tutur semacam itu. Tapi bukan berarti Bombshell buruk. Daya hiburnya memadai, punya beberapa poin memukau, termasuk transformasi Theron menjadi Kelly—si pembaca berita kontroversial yang di awal film terlibat perselisihan dengan Donald Trump kala mengonfrontasi pernyataan seksisnya mengenai wanita—lewat riasan prostetik memukau buatan (The Great) Kazu Hiro, serta akting solid sang aktris sendiri.

Theron mengatur suaranya supaya terdengar serak, memancarkan kharisma dan kekokohan yang bisa membuat seisi ruangan dia memperhatikan kata-katanya. Sosoknya sulit dikenali sekalipun anda mengetahui partisipasinya di film ini. Melalui unggahan di Instagram miliknya, Kelly bercerita bagaimana puteranya bingung saat melihat wajah sang ibu di poster Bombshell. Mungkin peristiwa itu benar adanya. Bahkan berkat penampilan Theron, bisa jadi banyak penonton melupakan sisi kontroversial Kelly di dunia nyata.

Tapi serupa kalimat penutup filmnya, kita tidak harus menyukai para wanita ini. Kita cukup percaya atas cerita mereka. Cerita soal pelecehan seksual yang mengakar dan membudaya di Fox News, khususnya yang dilakukan oleh sang bos, Roger Ailes (John Lithgow). Ailes kerap melontarkan pernyataan ofensif, menyuruh para pembaca berita wanita mengenakan gaun sependek mungkin, sampai melakukan pelecehan fisik di ruangannya. Semua bungkam. Ada yang memang terbutakan oleh “kemurahan hati” Ailes termasuk beberapa wanita yang getol mendukungnya, ada pula yang menghkawatirkan keberlangsungan karirnya.

Salah satu korbannya adalah Kayla Pospisil (Margot Robbie), seorang karakter fiktif yang berasal dari keluarga Kristen konservatif dan bercita-cita menjadi pembaca berita di Fox. Robbie paling bersinar di dua momen. Pertama, saat tangis Pospisil pecah kala menghubungi rekan kerjanya, Jess Carr (Kate McKinnon). Kedua, sewaktu ia jadi korban nafsu Ailes. Bagaimana Robbie tampak menahan ketakutan yang nyata, memperkuat suasana menyesakkan yang berhasil dibangun Jay Roach dengan meniadakan musik.

Nasib Gretchen Carlson (Nicole Kidman) ibarat sebuah peringatan bagi mereka yang ingin mengungkap tindakan Ailes. Sempat membawakan acara ternama Fox and Friends, ia dipindahkan ke program tak popular di sore hari karena dianggap membangkang. Dari ekspresi Kidman, bahkan saat Carlson memaksakan senyum pun, kita bisa merasakan amarah yang berkecamuk dalam batinnya. Akhirnya Carlson menolak diam, kemudian mendatangi pengacara guna merencanakan tuntutan hukum terhadap pelecehan yang diperbuat Ailes. Tapi prosesnya tidak mudah. Sebab kembali, risikonya tidak main-main.

Randolph sempat menampilkan sebuah peristiwa miris sekaligus menggelitik, sewaktu jajaran pembawa acara wanita Fox menyampaikan sangkalan mereka atas tindakan Ailes, sembari sibuk berusaha mengamankan tubuh mereka yang dipaksa diobral di layar kaca. Situasi tersebut menggambarkan kegelisahan luar biasa. Kegelisahan akibat tubuh mereka dieksploitasi, pula kegelisahan perihal memberikan pengakuan jujur. Dilema itu menarik dieksplorasi, namun paparannya cuma hadir di permukaan via deretan dialog eksposisi. Padahal bayangkan saja, betapa besar film ini bisa berdampak pada dunia nyata untuk mendukung keberanian korban-korban pelecehan mengungkap kebusukan si pelaku.

Potensi menggali lebih dalam tenggelam oleh keliaran progresi cerita dan pengadeganan. Deretan peristiwa gagal dipresentasikan secara rapi, berondongan dialog dilepaskan membabi buta, sementara tokoh-tokoh datang dan pergi. Bombshell membutuhkan lebih banyak suntikan rasa ketimbang gaya. Beruntung, di beberapa titik terbaiknya, film ini mampu bersinar. Momen uplifting kala para wanita akhirnya memilih untuk melawan, sedikit kejutan apabila anda tidak sepenuhnya mengikuti perkembangan proses hukum Ailes, juga konklusi bernada positif yang tetap menyiratkan kengerian berupa siklus seksisme yang tak kunjung menampakkan ujung.

ONCE UPON A TIME IN HOLLYWOOD (2019)

(Tulisan ini mengandung SPOILER)
Once Upon a Time in Hollywood diawali dengan gaya, sebagaimana karya Quentin Tarantino biasanya. Cuplikan serial televisi hitam putih era 1950an berjudul Bounty Law yang dibintangi sekaligus melambungkan nama Rick Dalton (Leonardo DiCaprio), diikuti dua situasi yang muncul bergantian: Rick bersama stuntman-nya, Cliff Booth (Brad Pitt) berkendara, sementara Sharon Tate (Margot Robbie) dan sang suami, Roman Polanski (Rafał Zawierucha) baru turun dari pesawat. Menjadi latar adalah lagu Treat Her Right dari Roy Head.

Sebuah adegan pembuka keren yang menset karakterisasi tiga protagonis: Rick si mega bintang yang popularitasnya memudar, Cliff si stuntman tangguh, dan Sharon si bintang muda. Tapi jangan tertipu, sebab Once Upon a Time in Hollywood bukan sajian khas Tarantino. Benar bahwa filmnya dibangun oleh dialog, referensi budaya populer, lagu-lagu asyik, juga penceritaan yang kerap menerapkan flashback, namun siapa sangka ini menjadi karya paling dewasa sekaligus emosional dari sanng sutradara. Seolah, mencapai karya kesembilan, Tarantino ingin berkata, “Saya memiliki hati”.

Selepas adegan pembuka, alurnya melaju bolak-balik antara persahabatan Rick-Cliff dan kehidupan Sharon. Rick merasa ketenarannya anjlok drastis, karena alih-alih pemeran utama, ia cuma menerima tawaran sebagai antagonis yang berakhir tewas atau dihajar oleh sang jagoan, atau penampilan singkat di episode pilot. Akibatnya, Cliff pun kehilangan lahan pekerjaan, menghabiskan hari-harinya mengatar-jemput atau memperbaiki antena di rumah Rick.

Amat disayangkan, sebab Cliff merupakan petarung badass. Bahkan ia sempat menghajar Bruce Lee (Mike Moh) dalam satu momen yang menegaskan kapasitasnya, agar penonton bisa mempercayai apa yang Cliff sanggup lakukan di klimaks. Pitt, bersenjatakan persona bak koboi, tampil berkarisma bahkan saat hanya berdiri diam, mengamati dari balik kaca mata hitamnya.

Berlawanan dengan Cliff, di layar, Rick penuh wibawa, tapi di balik layar dia adalah pria penuh ketakutan, keraguan, yang sering tergagap kala berbicara. Beruntung, bukan saja pegawai, Cliff menjadi sahabat setia yang senantiasa mendukung Rick. Rasanya, bila mampu, Rick bakal meminta Cliff untuk menjadi stuntman-nya di dunia nyata.

Memerankan Rick, DiCaprio memamerkan salah satu performa paling berwarna sepanjang karir lewat interpretasi luar biasa terhadap dua sisi (depan dan belakang kamera) Rick. Dualitas sang aktor terpapar nyata saat Rick menjalani proses pengambilan gambar sebagai antagonis serial televisi western. DiCaprio menghantarkan jangkauan akting luas yang menyulut kekonyolan, kepedihan, hingga kekaguman.

Kalau kisah Rick memaparkan kejatuhan bintang di akhir golden age Hollywood, maka Sharon menuturkan soal terbitnya bintang baru. Tapi serupa Rick, Sharon juga “berwajah ganda”. Dan serupa DiCaprio pula, Robbie berhasil menghidupkan dualitas tersebut. Sekilas Sharon cuma gadis muda yang gemar berpesta, namun di balik itu, dia menjadi cerminan para pemimpi industri perfilman yang berharap bisa menghibur penonton melalui kemunculannya di layar lebar. Kunjungan Sharon ke bioskop untuk menonton The Wrecking Crew yang ia bintangi (juga konklusi proses syuting Rick yang saya singgung di atas) jadi ajang pembuktian sensibilitas Tarantino. Bahwa selain gaya dan kekerasan, ia pun bisa menyentuh hati.

Secara spesifik bertindak selaku penghormatan bagi Hollywood era 1960an, Once Upon a Time in Hollywood tentunya dipenuhi referensi, misalnya penyebutan beberapa judul film atau serial televisi (The Man From U.N.C.L.E., Batman, The Dick Van Dyke Show, FBI, Rosemary's Baby, dan lain-lain), cameo sosok-sosok nyata seperti Bruce Lee dan Steve McQueen (Damian Lewis), atau modifikasi elemen-elemen realita dari nama figur hingga peristiwa tertentu, contohnya perkelahian Cliff melawan Bruce Lee yang terjadi pada set serial The Green Hornet.

Penonton yang familiar dengan hal-hal tadi bakal menemukan surga, sebaliknya, bagi kalangan awam, Once Upon a Time in Hollywood bisa saja terasa kosong atau bertutur tanpa fokus. Bukan sebuah dosa, karena sejak awal, Tarantino memang berniat menulis surat cinta. Keinginan melahirkan surat cinta itulah faktor kemenangan filmnya.

Berbeda dibanding Inglourious Basterds, imajinasi suka-suka Tarantino kali ini, daripada didorong “kenakalan” eksplorasi, bagai sebuah curahan hati tulus atas kondisi yang ia harapkan terjadi. Puncaknya terletak di konklusi. Babak ketiganya, biarpun diawali kurang mulus akibat alasan yang terkesan dipaksakan dalam usaha memodifikasi kasus pembantaian oleh Keluarga Manson, jadi hiburan kelas satu berkat parade kekerasan favorit Tarantino.  Tapi pesona terbesarnya bukan di situ.

(SPOILER STARTS) Klimaksnya boleh merenggut beberapa nyawa, namun tujuan utama Tarantino justru menyelamatkan nyawa. Melalui kelembutan yang belum pernah ditunjukkan, Tarantino mengkreasi penutup magis nan menyentuh, di mana sosok-sosok fiktif macam Rick Dalton dan Cliff Booth tercipta agar nyawa-nyawa yang melayang di malam berdarah 8 Agustus 1969 berkesempatan melanjutkan tawa mereka, bahkan membaginya pada orang lain. Bila semesta sinema Quentin Tarantino memang ada, Once Upon a Time in Hollywood mungkin perwujudan surga semesta itu (SPOILER ENDS).

CALL ME BY YOUR NAME / I, TONYA / LADY BIRD

Ketiga judul di bawah berpeluang meraih kejayaan pada musim penghargaan 2018. Dari Call Me By Your Name, adaptasi novel berjudul sama karya André Aciman yang juga babak pamungkas trilogi tematik Desire milik sutradara Luca Guadagnino (I Am Love, A Bigger Splash), I, Tonya yang mengangkat kisah hidup fenomenal nan kontroversial Tonya Harding sang juara seluncur indah, sampai Lady Bird yang melebarkan sayap si "Ratu Indie" Greta Gerwig ke ranah penyutradaraan setelah membuat Nights and Weekends bersama Joe Swanberg pada tahun 2008.

Call Me By Your Name (2017)
Kredit pembuka berisi foto-foto Classical sculpture, musik klasik, sinematografi cantik Sayombhu Mukdeeprom yang menangkap musim panas di perkampungan Italia bagian Utara berdesain arsitektur cantik. Call Me By Your Name adalah romantika yang memperhatikan keindahan estetika, sama indahnya dengan cinta remaja 17 tahun bernama Elio (Timothée Chalamet) terhadap Oliver (Armie Hammer), pria berusia jauh lebih tua yang singgah sejenak guna membantu riset sang ayah. Benar tema LGBT diusung, tapi ini merupakan sajian universal soal tumbuh kembang dan kegugupan mendapati cinta pertama berseliweran dalam keseharian tanpa ada kepastian. Alur bergulir perlahan, memberi lebih banyak unsur untuk digali selain percintaan, juga kesempatan mengamati detail tiap fase yang Elio lalui. Chalamet penuh antusiasme, bergerak lincah layaknya bocah kegirangan yang coba mencuri perhatian si pujaan hati, pun memiliki kepekaan melakoni momen emosional. Jangankan nominasi, memenangkan Oscar pun layak. Sedangkan Armie Hammer dengan karisma, tubuh tegap, dan suara berat sempurna sebagai sosok cinta pertama. Keduanya beradu manis, bertukar kalimat romantis dari naskah James Ivory ("Call me by your name and I'll call you by mine" is the best line), dibalut kepiawaian Guadagnino menyusun sensualitas. (4.5/5)

I, Tonya (2017)
Tonya Harding (Margot Robbie) merupakan wanita fantastis (dan gila) dengan perjalanan hidup fantastis (dan gila). Metode tradisional kurang pas merangkum riwayatnya. Craig Gillespie (Lars and the Real Girl) menyadari itu, memadukan wawancara palsu ala mockumentary, komedi hitam pekat, serta gerak kamera dinamis kala menangkap aksi Tonya di arena seluncur es. Kita digiring menuju kekaguman serupa mereka yang dulu melihat langsung performa Tonya. Robbie, yang berlatih selama lima bulan termasuk sehari jelang pernikahan, berayun penuh percaya diri seolah tengah menggenggam dunia tanpa peduli publik berpikiran sebaliknya. Ekspresi seusai Triple Axel (gerakan super sulit yang dulu hanya bisa dilakukan Tonya) jadi puncak emosi yang bakal dikenang lama. Tonya memang gila, namun skenario Steven Rogers lebih menaruh atensi pada kegilaan publik akan pencitraan. Alhasil, bersalah atau tidaknya Tonya dalam penyerangan terhadap sang kompetitor, Nancy Kerrigan, tak lagi penting. Apalagi Rogers menonjolkan ambiguitas antara perspektif Tonya dan suaminya, Jeff (Sebastian Stan). Pun sisi liar protagonis dijabarkan selaku dampak perlakuan kasar ibunya, LaVona (Allison Janney), yang dialami sejak kecil. Apakah sejatinya LaVona mencintai sang puteri? Performa eksentrik Janney menjaga kompleksitas tersebut tetap melayang tak pasti. Satu hal pasti, Tonya addalah korban obsesi Amerika atas kesempurnaan "American Sweetheart" dan I, Tonya merupakan film paling bertenaga sepanjang 2017. (4.5/5)

Lady Bird (2017)
Sebuah ode untuk rumah, kenangan, dan orang-orang yang kita ditinggalkan saat kita pergi melanglang buana menggapai mimpi. Lady Bird (Saoirse Ronan), siswi sekolah Katolik di Sacramento, ingin berkuliah di New York, tapi himpitan finansial ditambah ketakutan sang ibu, Marion (Laurie Metcalf), akan bahaya lingkungan kota besar, menghalangi realisasi mimpinya. Gerwig menyajikan observasi soal pertentangan ketimbang permusuhan. Marion bukan antagonis yang mengekang harapan Lady Bird. Naskah buatan Gerwig menyediakan alasan yang menjadikan sikap keras Marion sangat bisa dipahami. Sementara para pengajar sekolah Katolik dilukiskan sebagai sosok religius, namun tidak kolot. Suster Sarah Joan (Lois Smith) misalnya, justru tertawa kala jadi korban keisengan Lady Bird. Daripada menghakimi, Gerwig berlaku bijak, mengajak memahami semua sisi. Penyutradaraannya pun berenergi, kerap mendadak berganti tone, berprogresi cepat layaknya burung yang terbang lincah dari dahan ke dahan. Beberapa momen tampil sekilas bak sketsa komedi, untuk kemudian membentuk keping-keping puzzle yang menyusun lengkap tiap sendi kehidupan tokoh utama (plus kehidupan remaja akhir secara umum). Ronan turut melaju bersama pengarahan dinamis Gerwig, memerankan karakter yang paling menunjang potensinya, membawa Lady Bird mengalahkan rentetan ketidakpastian hingga tiba di cabang pohon yang diinginkan. (4/5)