REVIEW - TERSANJUNG THE MOVIE
Suka atau tidak, Tersanjung merupakan salah satu sinetron paling berpengaruh sepanjang sejarah pertelevisian Indonesia. Berlangsung selama tujuh musim dari 1998-2005 (termasuk musim ketujuh yang berganti judul menjadi Adilkah), hampir semua selebritis ternama layar kaca pernah ambil bagian (silahkan cek daftar cast di Wikipedia, saya jamin akan muncul respon, "Lho, si A pernah ikut main juga???").
Walau bukan penggemar setia yang hafal detail alur maupun tokohnya, saya cukup familiar dengan beberapa elemen pembentuk pondasi dasarnya, sehingga bisa menyebut bahwa versi layar lebar besutan Hanung Bramantyo dan Pandhu Adjisurya (sebelumnya adalah asisten Hanung di The Gift, Jomblo versi remake, dan Benyamin Biang Kerok) ini, merupakan adaptasi, yang meski cukup lepas, mampu mempertahankan jiwa materi aslinya.
Kedua sutradara turut menulis naskahnya, yang secara cerdik merangkum, kemudian memodifikasi poin-poin dalam 365 episode sinetronnya, menjadi film berdurasi 115 menit. Dari penceritaan, kita bisa menemukan ibu tiri jahat, mertua kejam, romansa beda kasta, kehamilan di luar nikah, penyakit kronis, hingga adegan kejar-kejaran, di mana sewaktu protagonis mulai tersudut, mendadak datang sosok penolong, yang memukul si antagonis dari belakang memakai sebatang kayu.
Segala hal di atas bakal mengaduk-aduk emosi penonton, membuat kita ingin marah-marah sebagaimana penonton sinetron, namun Hanung dan Pandhu paham betul bahwa butuh penyesuaian agar jangkauan pasar filmnya lebih luas. Alhasil, kesan hiperbolis sedikit ditekan, yang berujung membuat presentasinya lebih berkelas dari perkiraan.
Karakternya pun mengalami modifikasi. Yura (Clara Bernadeth), Christian (Giorgino Abraham), dan Oka (Kevin Ardilova) jelas perwujudan lain dari Indah, Bobby (walau ada juga karakter bernama Bobby yang diperankan Marthino Lio), dan Rama. Bedanya, kali ini ketiganya digambarkan sebagai sahabat, dengan interaksi yang begitu hidup sedari momen perkenalan, sehingga nantinya, transformasi pertemanan hangat itu menjadi romansa manis (plus tragis) sarat pengorbanan, berlangsung mulus.
Tersanjung lekat dengan penderitaan, dan filmnya tak mengubah itu. Penderitaan Yura berawal saat ia dipaksa menjalani perjodohan oleh ibu tirinya yang diperankan Kinaryosih, Indah Besari (kemungkinan sebuah easter egg, mengingat di sinetron ada karakter Indah Besar dan Indah Kecil). Melunasi hutang keluarga jadi alasan, mengingat karir bermusik sang ayah, Gerry (Nugie), sudah meredup. Berkat bantuan Christian dan Oka, Yura berhasil kabur, namun itu cuma awal penderitaan.
Alurnya penuh konflik tanpa terasa tumpang tindih, meski beberapa tetap kurang substansial. Sebut saja soal pecahnya konflik 1998, yang di titik ini, kemunculannya bak kewajiban bersifat formalitas di film Indonesia berlatar tahun 90an. Pun bila niatnya adalah menggambarkan kekalutan personal di tengah kekacauan berskala nasional, naskahnya tidak cukup kuat dalam menautkan kedua peristiwa.
Lubang lain dalam naskah, yang biarpun tak mempengaruhi keseluruhan cerita namun membuktikan penulis-penulis kita masih sering mengabaikan ketepatan medis (fisik maupun psikis), tampak saat Yura didiagnosa menderita "depresi berat" oleh dokter (bukan psikolog atau psikiater), pada pertemuan pertama, tanpa melalui pemeriksaan memadai. Para penulisnya punya pola pikir serupa remaja-remaja masa kini, yang di media sosial dengan mudah menyebut diri mereka menderita depresi, bipolar, atau gangguan mental lain.
Sebaliknya, estetika 90an digarap cukup baik melalui kemunculan berbagai properti dan budaya populer masa itu. Setidaknya lebih baik dibanding film Indonesia lain dengan embel-embel "90an" di judulnya, yang belum lama ini rilis. Tapi tugas Tersanjung the Movie bukan cuma membangun latar waktu, melainkan juga cerminan sinetron pada masa itu. Paling terasa adalah ketika latar belakang salah satu tokoh utama terungkap, dan kita dibawa mengunjungi rumah dengan kemewahan luar biasa khas suguhan layar kaca. Aura sinetron (in a positive way) pun terpancar kuat dari obrolan di rumah tersebut. Mungkin berkat manner tokoh-tokohnya, di mana dua pemain sinetronnya berkesempatan tampil sebagai cameo.
Tapi tidak ada sentuhan nostalgia sebaik penggunaan versi baru dari lagu tema Tersanjung (dibawakan Umimma Khusna, diaransemen ulang oleh Charlie Meliala1) yang dulu dinyanyikan Retno Susanti. Bukan sekadar nostalgia kosong, karena lagunya diperdengarkan di momen yang tepat. Sangat tepat, hingga berhasil menggandakan dampak emosional momen yang diiringinya. Momen romantis nan menyentuh yang jadi titik balik hubungan karakternya. Sayang, alih-alih lagu itu, Salam Rindu dari Tipe-X justru menutup filmnya secara kurang tepat.
Turut berjasa mengangkat rasa filmnya adalah penampilan memikat tiga pemeran utama. Giorgino Abraham tampil jauh lebih lepas dari biasanya, Kevin Ardilova mencuri hati sebagai pria baik yang hati yang bisa selalu diandalkan, sedangkan Clara Bernadeth, dengan gaya ala Nike Ardilla (posternya terpasang di kamar Yura), mampu menarik simpati, membuat penonton mengharapkan kebahagian bagi Yura, si gadis kuat yang dihantui oleh penderitaan dalam tiap langkahnya.
Available on NETFLIX





