Tampilkan postingan dengan label Ifan Ismail. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ifan Ismail. Tampilkan semua postingan
HABIBIE & AINUN 3 (2019)
Rasyidharry
Di realita, romantika Habibie dan
Ainun akan terus abadi dan menyentuh hati, tapi setelah tujuh tahun lalu Habibie & Ainun jadi fenomena saat
mencatatkan sekitar 4,6 juta penonton, lalu disusul empat tahun kemudian oleh
pengultusan dengan pendekatan blockbuster
bernama Rudy Habibie, harus
diakui bahwa di layar lebar, kesakralan kisah cinta ini mulai terkikis. Habibie & Ainun 3 menegaskan itu
lewat paparan drama yang kembali digarap mewah, diisi akting-akting kuat, namun
dilemahkan oleh ketiadaan jiwa.
Jika Rudy Habibie berfokus pada, well,
Rudy Habibie (Reza Rahadian), maka film ketiga ini, yang awalnya berjudul Ainun, menceritakan lebih jauh soal
kehidupan Hasri Ainun Besari (Maudy Ayunda) sebelum bersatu dengan pasangan
sehidup sematinya. Alurnya dibuka saat suatu malam, di acara kumpul keluarga,
Habibie menceritakan sosok mendiang sang istri kepada cucu-cucunya. Teguh
Widodo, Orlando Bassi, dan Aktris Handradjasa selaku tim tata rias berhasil
memperbaiki kekurangan fatal film pertama terkait menuakan para aktor kala
secara meyakinkan menyulap Reza menjadi Habibie di usia senja. Sebagai bentuk
kepercayaan diri, Reza sempat dibuat membuka pecinya, sekilas menunjukkan uban
serta rambut yang telah menipis.
Tentu performa sang aktor turut
membantu, di mana melalui detail gestur tangan juga mimik wajah, kerentaan
karakternya mampu ditampakkan oleh Reza. Tapi sebaik apa pun aktingnya, Reza
tetap tak kuasa menolong CGI buruk, kala latarnya mundur ke era 1950an. Habibie
remaja dihidupkan memakai teknologi de-aging
menggelikan, yang gagal menciptakan sinkronisasi antara wajah dengan gerak
leher Reza. Bukan cuma terlalu mulus (in
a weird way), wajahnya seperti melayang. Beruntung ini film tentang Ainun,
sehingga kita takkan sering melihat hasil menyedihkan tersebut.
Ainun bercita-cita menjadi dokter
meski sebagai wanita, impian itu kerap dianggap remeh. Bahkan begitu diterima
di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, diskriminasi gender terus
dirasakan, baik dari olok-olok mahasiswa pria, maupun pandangan sebelah mata
sang dosen, Pak Husodo (Arswendi Bening Swara). Jadi apakah naskah buatan Ifan
Ismail (The Gift, Ayat-Ayat Cinta 2,
Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta) mengusung pesan female empowerment? Benar bahwa filmnya
menyimpan sederet momen perlawanan gambling terhadap seksisme, namun sejatinya,
ini hanyalah quasi-empowerment.
Contohnya sewaktu Arlis (Aghniny
Haque), sahabat Ainun yang terkenal berani melawan penindasan bahkan memukul
senior, mengucapkan kalimat “Ini urusan laki-laki”, saat teman dekatnya,
Soelarto (Kevin Ardilova), hendak terlibat baku hantam dengan Ahmad (Jefri
Nichol), mahasiswa Fakultas Hukum yang berusaha merebut hati Ainun. Sejak kapan
cerita empowerment mengasosiasikan
perkelahian sebagai “urusan laki-laki”?
Setelahnya, Habibie & Ainun 3 mengambil sudut pandang menarik terkait
tujuannya menguatkan percintaan pasangan legendarisnya. Filmnya mengetengahkan
bagaimana mereka bisa langgeng, karena masing-masing mampu belajar dari
pengalaman dan kesalahan masa lalu, khususnya hubungan Ainun dengan Ahmad.
Bahkan karakter Habibie di sini hanya sebatas pendukung. Setidaknya penonton
bisa dibuat memahami itu, meski dilakukan memakai cara gampang, yakni memberi
Ahmad karakterisasi yang benar-benar berlawanan dengan Habibie.
Dia lebih agresif, jago merayu
wanita, gemar berkelahi, selalu mengalihkan pembicaraan sewaktu Ainun
menanyakan soal rencana masa depannya, dan ingin keluar dari Indonesia. Tidak
diragukan lagi, Jefri adalah jagonya perihal memerankan tokoh berkepribadian
seperti itu, dengan tenaga yang menjadi salah satu dinamo utama penggerak
filmnya. Setelah Bebas, ini merupakan
kali kedua Jefri dan Reza bermain di satu judul tapi tidak berbagi adegan
bersama. Saya berharap suatu hari bisa menyaksikan keduanya bertatap muka di layar.
Seperti Rudy Habibie, Hanung Bramantyo kembali menjadi sutradara. Bermodal
pengalaman hampir dua dekade, Hanung adalah sutradara yang hafal betul formula
tontonan arus utama agar bisa dinikmati penonton sebanyak mungkin. Bagaimana
kamera harus diposisikan supaya gambar nyaman dilihat, bagaimana cerita
mengalir supaya mudah diikuti, atau kapan musik mesti muncul dan tenggelam demi
mendramatisasi peristiwa. Mungkin Hanung sudah melakukan itu secara otomatis. Tapi
otomatisasi itu pula yang membuat film ini bak tanpa jiwa. Habibie & Ainun 3 seperti dibuat berdasarkan rumus-rumus pasti
ketimbang suatu permainan rasa.
Bakal semakin kosong andai filmnya
tak memiliki Maudy Ayunda dengan segala sensibilitasnya yang sanggup membedakan
mana “kelembutan” dan mana “kelemahan”, juga Arswendi Bening Swara yang di
balik sikap galak serta kata-kata pedasnya, juga menyimpan keteduhan dalam
bertutur kata. Habibie & Ainun 3 merupakan
film yang digarap secara kompeten, layak tonton, tetapi urung mengulangi
pencapaian film pertama, apalagi menangkap elemen terpenting dari kisah yang
diangkat, yaitu “rasa”.
Desember 20, 2019
Aghniny Haque
,
Arswendy Bening Swara
,
Drama
,
Hanung Bramantyo
,
Ifan Ismail
,
Indonesian Film
,
Jefri Nichol
,
Kevin Ardilova
,
Kurang
,
Maudy Ayunda
,
REVIEW
,
Reza Rahadian
,
Romance
THE GIFT (2018)
Rasyidharry
Bagi banyak sutradara, mengarahkan Reza Rahadian, Ayushita Nugraha, Diyon Wiyoko, hingga Christine Hakim dalam satu film yang sepertiga bagian akhirnya bertempat di Italia merupakan kemewahan. Namun kita membicarakan Hanung Bramantyo. Baginya, menangani deretan nama besar serta setting luar negeri jadi hal biasa. Menjadi tidak biasa tatkala The Gift membawanya menarik rem dramatisasi, membiarkan musik mengalun secukupnya, dan menekan jumlah sekaligus intensitas tangisan. Rupanya setelah bertahun-tahun menerapkan pemahaman akan formula, Hanung masih menyimpan kepekaan bertutur.
Berusaha menyelesaikan novel terbarunya, Tiana (Ayushita Nugraha) pindah ke Yogyakarta, menempati kamar kosong yang terletak di kediaman Harun (Reza Rahadian). Mengalami gangguan penglihatan dan masalah personal terkait keluarga membentuk Harun sebagai pribadi yang kurang ramah. Berbeda kondisi fisik, keduanya memiliki kesamaan, sama-sama terbiasa memandang dunia dari dalam kegelapan. Dibantu naskah buatan Ifan Ismail (Habibie & Ainun, Ayat-Ayat Cinta 2), Hanung mempresentasikan percintaan sebagai hasil kecocokan dua insan, membangun romantika dari interaksi yang tersusun atas dialog tajam nan menarik ketimbang eksploitasi momen manis.
Kali ini Hanung turut menggunakan simbolisme yang tersaji subtil nan mulus, bermain-main dengan metafora guna menyoroti sisi gelap serta sifat hubungan manusia. Gembok pemisah kamar Tiana dan Harun melambangkan sekat pembatas dua hati, sementara bahasan soal "penglihatan" yang kental mengisi sepanjang film tak hanya bermakna literal. Apakah Tiana dengan mata yang sempurna mampu melihat lebih jelas dibanding Harun? Ataukah kesempurnaan itu membuatnya terlena, melupakan sensitivitas lain termasuk perasaan?
Dibekali kebebasan kentara memaksimalkan kualitas penyutradaraan Hanung. Hasil pengadeganannya penuh kreativitas yang memperkuat dinamika. Kamera bergerak lincah pun beberapa kali memanfaatkan pantulan cermin dengan puncak kebolehan menyusun mise-en-scène tersaji pada sebuah pertengkaran Harun dan Tiana, sedangkan karakter Simbok berdiri di kejauhan sambil merespon. Perpindahan rutin flashback ke masa kini pun bergerak rapi, saling menguatkan dan menyokong alih-alih mendistraksi. Tapi poin terbaiknya adalah penyusunan situasi dramatis.
Musik garapan Charlie Meliala dibiarkan melantun merdu sebagai latar, bukan media manipulasi rasa. Bahkan mayoritas momen terkuat tampil di tengah kesunyian mencekat layaknya tragedi yang menghadang tiba-tiba tanpa bisa kita antisipasi. Penampilan para pemain ikut jadi tonggak. Baik selaku tuna netra maupun ketepatan ekspresi emosi, telah cukup mengingatkan penonton betapa Reza Rahadian merupakan aktor terbaik yang jauh meninggalkan generasinya di level berbeda. Ayushita mengimbangi lewat sensibilitas tinggi, dan bukan sebuah kejutan kala Christine Hakim sanggup merenggut hati walau cuma muncul beberapa menit.
Sayangnya The Gift menurun saat menyentuh babak akhir, pasca memindahkan setting ke Italia seiring kehadiran Arie (Dion Wiyoko) mewarnai cinta segitiga, kemudian bertransformasi dari drama low-key menuju konflik penuh kebetulan yang bagai hasil kebingungan penulis menyusun konklusi. Belum lagi bumbu kejutan yang diharapkan mencengkeram emosi namun berakhir sebatas shock value akibat kurangnya fase pembangunan. The Gift bukan persembahan terbaik Hanung Bramantyo, tapi cukup menjadi bukti bahwa sang sutradara punya kapasitas lebih dari sekedar meramu tontonan sesuai pakem.
Mei 28, 2018
Ayushita
,
Charlie Meliala
,
Christine Hakim
,
Dion Wiyoko
,
Drama
,
Hanung Bramantyo
,
Ifan Ismail
,
Indonesian Film
,
Lumayan
,
REVIEW
,
Reza Rahadian
AYAT-AYAT CINTA 2 (2017)
Rasyidharry
SPOILER ALERT: Fahri kembali menikah di sekuel ini. Melihat track record karakter yang diperankan Fedi Nuril dalam beberapa film religi, fakta tersebut bukan kejutan. Pertanyaannya, dengan siapa? Karena seperti film pertama saat ia diperebutkan Aisha, Maria, Noura sampai Nurul, Fahri masih pria mulia idola wanita. Sesungguhnya penokohan Fahri memang hanya tersusun atas dua kata: mulia dan idola. Pintar, kaya, dan tampan bisa disertakan, tapi tetap tidak menambah kedalaman. Fahri begitu sempurna, sisi manusiawinya nyaris lenyap.
Kini dia tinggal di Edinburgh, Skotlandia, hidup mapan sebagai dosen yang rutin menerima setumpuk hadiah makanan dari penggemar. Tapi hatinya urung tergoda, setia menanti Aisha yang hilang, diduga meninggal di Palestina. Alih-alih dibenamkan kesedihan, Fahri memilih membantu orang-orang tanpa pandang bulu, dari Nenek Catarina (Dewi Irawan dalam kepiawaian bermain rasa) yang seorang Yahudi hingga Keira (Chelsea Islan) yang menyalahkan umat Islam akibat kematian sang ayah. Bisa diduga, kebaikan Fahri layaknya magnet penarik cinta wanita. Hulya (Tatjana Saphira), sepupu Aisha yang hendak menempuh S2, Brenda (Nur Fazura), pengacara yang kerap dia tolong, Sabina (Dewi Sandra), imigran yang ia pekerjakan, semua jatuh hati. Pun menengok trailer-nya, kita tahu pada satu titik, kebencian Keira berubah jadi permohonan agar dinikahi.
Ketiadaan cela dalam diri Fahri menjadikan Ayat-Ayat Cinta 2 sebatas kumpulan episode yang merekam kebaikan-kebaikannya, menutupi gejolak batin soal upaya mengikhlaskan kepergian Aisha. Ini satu-satunya pertanda Fahri masih manusia. Dia menangis menyadari kesedihan pembentuk kelemahannya. Tapi sebelum beranjak menuju eksplorasi lebih jauh, masalah usai pasca obrolan singkat dengan sahabat lamanya, Misbah (Arie Untung). Fahri memperoleh pencerahan agar merelakan sang istri, mengikuti kata hati untuk menikah lagi. Mencapai film kedua, rupanya dilema Fahri tetap berkutat seputar menikah atau tidak.
Bahkan proses mencari keikhlasan itu berakhir sia-sia, karena melihat konklusi yang ditawarkan, Fahri justru makin terjebak di masa lalu. Belum lagi ditambah "keajaiban" medis serta keberadaan twist yang terkesan membohongi, paruh akhir Ayat-Ayat Cinta 2 cenderung memancing tawa daripada haru. Setidaknya bagi penonton umum seperti saya, sebab target pasar utama filmnya yaitu para akhwat pemuja Fedi Nuril terdengar berteriak histeris sembari berurai air mata. Saya memutuskan menahan tawa demi menghormati mereka, sebagaimana Ayat-Ayat Cinta 2 menghormati kelompok penonton yang punya perbedaan cara pandang.
Naskah buatan Alim Sudio dan Ifan Ismail mungkin dangkal mengkaji debat soal toleransi dalam Islam, termasuk mengenai perlakuan terhadap wanita yang dijawab seadanya. Namun jalan pikir film ini tak sesempit perkiraan Meski penempatannya kurang mulus, dialog tentang Pancasila menunjukkan filmnya coba menghargai keragaman. Tidak ada ceramah menggurui, dan itu patut diapresiasi. Tentu terdapat perbedaan ideologi, yang apabila dikeluhkan, saya sama saja dengan para fanatik yang membabi buta membela kepercayaannya.
Ayat-Ayat Cinta 2 bakal berhasil di pasaran, namun takkan mencapai tingkat fenomena setara film pertama yang dibekali setting perkampungan Kairo plus scoring bernuansa etnik garapan Tya Subiakto dan lagu-lagu ikonik yang dibawakan Rossa. Ditangani Guntur Soeharjanto, kemewahan dan kemegahan dipentingkan, membuat filmnya nampak terlalu mirip suguhan religi berlokasi luar negeri kebanyakan, sebutlah 99 Cahaya Di Langit Eropa yang juga karya Guntur. Suguhan religi berlokasi luar negeri dengan tokoh-tokoh Eropa atau Timur Tengah berwajah Indonesia dan fasih bicara Bahasa Indonesia.
Desember 22, 2017
Alim Sudio
,
Arie Untung
,
Chelsea Islan
,
Dewi Irawan
,
Dewi Sandra
,
Drama
,
Fedi Nuril
,
Guntur Soeharjanto
,
Ifan Ismail
,
Indonesian Film
,
Kurang
,
Nur Fazura
,
REVIEW
,
Romance
,
Tatjana Saphira
,
Tya Subiakto
Langganan:
Postingan
(
Atom
)









