Tampilkan postingan dengan label Helfi Kardit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Helfi Kardit. Tampilkan semua postingan

REVIEW - MENJELANG MAGRIB

Mendapati keterlibatan Helfi Kardit selaku sutradara sekaligus penulis, lalu melihat tata rias untuk Novia Bachmid yang bak "adaptasi" murahan dari The Taking of Deborah Logan (premisnya pun serupa), kita tahu Menjelang Magrib bakal berakhir buruk. Tapi rupanya asumsi tersebut tidak langsung terbukti, sebab Menjelang Magrib secara mengejutkan dibuka dengan cukup meyakinkan. 

Thalia (Annette Edoarda), Ahmad (Fajar Kurniawan Effendi), dan Erlan (Jeffry Reksa), mengunjungi rumah seorang wanita (diperankan oleh Tien Kadaryono, karakter ini tanpa nama dan cuma dipanggil "nenek"), guna membuat dokumenter sebagai bahan skripsi. Subjek penelitiannya adalah puteri Nenek, Nina (Novia Bachmid), yang mengalami gangguan jiwa.

Sempat dirawat di rumah sakit jiwa, sekarang Nina dipasung di gubuk terpisah tiap menjelang magrib. Karena di waktu itu ia selalu berteriak histeris. Nenek percaya kalau Nina dirasuki arwah gara-gara melangkahi bambu yang melintang di jalan. 

Menerapkan teknik mockumentary, tata kamera garapan Ophie Yuphie tak selalu nyaman diikuti, karena masih kerap terjebak stigma "gerak kamera di mockumentary harus sekasar mungkin", sehingga muncul beberapa momen yang membuat pusing (saya nyaris muntah saat di paruh awal, salah satu karakternya memutar-mutar kamera secara liar). "Raw" bukan berarti "asal". 

Untungnya tidak butuh waktu lama bagi Menjelang Magrib menemukan pijakan. Selama kurang lebih 20-30 menit pertama, Helfi membangun tontonan atmosferik yang bergulir hati-hati. Tata suaranya juga punya takaran pas, tidak sampai menghancurkan gendang telinga, meski masih menyisakan beberapa pemakaian yang tak perlu. 

Penonton awam pencari cheap thrills bakal terpuaskan oleh timing Helfi dalam mengemas jump scare. Penampakannya mungkin tidak jauh-jauh dari sosok Nina, tapi minimal, apa yang Nina lakukan di tiap kemunculan memiliki variasi. Sebuah sekuen kejar-kejaran di tengah hutan, walau belum layak disebut "luar biasa", berkat ketepatan sutradara dalam menyerap referensi (mostly from 'The Blair Witch Project' and its sequels), mengandung intensitas yang menjauhkan Menjelang Magrib dari deretan horor lokal kelas kambing .

Sayangnya film ini tampil seperti sprinter yang terjun di marathon. Unggul di awal, namun cepat kehabisan tenaga sebelum akhirnya terkapar. Helfi tak punya amunisi memadai dalam naskahnya, untuk membuat Menjelang Magrib mampu bertahan selama 104 menit durasinya. 

Sesungguhnya ia membawa setumpuk gagasan. Terkait lekatnya budaya lokal dengan mistis, gesekan perspektif tradisional desa dan nalar orang kota, sampai gangguan mental. Semua ditumpahkan, namun tanpa hasil maksimal. Eksplorasi mistisisme dalam kultur daerah, yang sejatinya bisa dipakai membentuk pondasi cerita, justru dilupakan. Helfi memilih cara bertutur repetitif, di mana trio protagonis akan mengikuti Nina, menemui pemandangan menyeramkan, ketakutan, lalu mengulanginya di keesokan hari. Entah mereka bermental baja atau berotak tempe. 

Ketimbang mengeksplorasi, Helfi lebih tertarik berusaha tampil "pintar" lewat obrolan-obrolan soal eksistensi, semesta, galaksi, hingga blackhole, sebagai proses karakternya memahami fenomena mistis. Apakah memang terdengar pintar? Sama sekali tidak. Menggelikan? Ya. Ditambah akting para pemain yang membaca naskah seperti aktor di pementasan anak SD (tunggu sampai Thalia berkata "Indah sekali hari ini"), rasanya seperti melihat tiga orang bodoh, yang dipaksa membaca jurnal ilmiah ngawur, buatan mahasiswa yang tidak kalah bodoh tapi sok pintar. 

Semakin membingungkan kala tuturan filmnya saling berkontradiksi. Di awal, Menjelang Magrib tampil sebagai kisah mengenai para skeptis yang kena batunya akibat meremehkan kultur mistis. Memasuki paruh akhir, pesannya berubah jadi soal kesadaran terhadap gangguan mental. Bahkan ending-nya memaksa tampil hangat, diiringi lagu Before Night Falls milik Novia Bachmid, yang berlawanan dengan tone filmnya. Dan bukankah pesan tentang gangguan mentalnya menjadi kurang valid karena Nina benar-benar kerasukan? Alih-alih kepedulian, kesan yang timbul malah sebaliknya. "Ada orang kerasukan? Ya sudah, biarkan". Sayang sekali. Padahal tersimpan potensi untuk menghasilkan horor yang solid.

THE ORIGIN OF SANTET (2018)

Hal terbaik tentang The Origin of Santet adalah ketika selama beberapa detik, saya dibuat terkecoh, mengira filmnya bakal ditutup dengan konklusi suram cenderung tragis, di mana para tokoh utama diseret menuju penderitaan batin mendalam. Mungkin sebegitu tidak pedulinya saya kepada karakternya hingga berharap situasi terburuk menimpa mereka. Bisa juga karena konklusi tragis yang saya harapkan setidaknya dapat memberi gebrakan, sesuatu yang sukar ditemukan sepanjang 85 menit film yang menandai kembalinya sutradara Helfi Kardit ke dunia horor setelah Arwah Goyang Jupe Depe 7 tahun lalu.

Awalnya saya berniat menulis “ulasan guyonan” sebagaimana film-film berkualitas jongkok lain. Tapi sulit, karena jumlah hal yang bisa dijadikan bahan guyonan mendekati nol, sama dengan jumlah hal signifikan yang terjadi sepanjang film. The Origin of Santet dibuka oleh kematian Dharma yang diperankan Ray Sahetapy, yang jadi satu-satunya kemunculan sang aktor di sini. Kenapa memajang namanya di poster jika porsinya sebatas cameo? Lalu kita diperlihatkan teks pembuka yang menyatakan bahwa sempat ada wacana pembuatan undang-undang bagi santet, namun batal akibat ketiadaan bukti. Teks tersebut tanpa esensi. Tanpa konflik tentang sulitnya polisi bertindak karena tidak ada dasar hukum, tanpa aspek kultural yang memicu perdebatan soal keperluan ditetapkannya undang-undang.

Film ini sekedar mengulang formula “keluarga terjebak teror supranatural”. Rendy (Marcellino Lefrandt) yang tinggal di Amerika membawa sang istri, Laura (Kelly Brook), beserta kedua puterinya, Aliyah (Jazz Ocampo) dan Kelly (Bali Nadeya Curtain), pulang ke Indonesia guna mengunjungi sang ibu (Tien Kadaryono), yang rupanya berada dalam kondisi katatonik akibat serangan santet. Satu-satunya alasan keberadaan Kelly Brook (The Italian Job, Piranha 3D) dan aktris asal Filipina, Jazz Ocampo, tak lain karena film ini merupakan kerja sama tiga rumah produksi beda negara: Skylar Pictures (Indonesia), GMA Films (Filipina), dan The Annex Entertainment (Kanada).  

Padahal keduanya, terlebih Kelly Brook, berpotensi memberi filmnya elemen investigasi menarik kala warga asing yang kurang familiar dengan hal berbau klenik mesti menghadapi ancaman santet. Tapi tidak, sebab menurut naskah hasil tulisan Helfi Kardit bersama Maruska Bath (Jejak Darah, Ghost), Laura hanya membutuhkan halaman Wikipedia pendek plus segelintir rekaman amatir di YouTube yang berisi praktek mengeluarkan benda-benda aneh dari perut seseorang (ular, rantai, dan sebagainya). Melongok aktingnya, penampilan Ocampo jauh dari jelek, sementara Brook mampu memancing tawa lewat akting ala film kelas B berupa teriakan histeris saat diserang setan. Paling tidak, artinya ia tahu bukan tengah berada di tontonan serius. Berbanding terbalik dengan Marcelino yang justru makin menggelikan seiring usahanya mencurahkan segenap emosi.  

Suatu malam, sang ibu muntah darah disertai pecahan kaca juga belatung, kemudian dibawa ke salah satu setting rumah sakit paling tidak meyakinkan, yakni sebuah ruko yang dipermak ala kadarnya, termasuk tulisan-tulisan penunjuk ruangan yang kualitasnya cuma setingkat di atas FTV. Melihat kondisi ibunya, Rendy jelas tahu dan menyembunyikan sesuatu. Dia pun memulai penyelidikan seorang diri, tanpa mengajak keluarganya, tanpa mengajak kita di bangku penonton. Jangankan petunjuk tersirat, apa yang sedang Rendy cari pun enggan filmnya beritahukan hingga mendekati akhir.

Bermaksud menambah kadar misteri, keengganan menebar petunjuk malah menjadikan The Origin of Santet luar biasa membosankan. Filmnya menekan kuantitas jump scare dan pemandangan disturbing sewaktu barang-barang aneh keluar dari tubuh korban santet hanya untuk menggirin penonton menuju perjalanan hampa. Dan sekalinya terjadi, terornya tak lebih dari penampakan hantu medioker yang turut membuat “aturan” mengenai santet makin membingungkan, walau judulnya mengandung kalimat “The Origin of...”, yang seharusnya memberi penjelasan.

Apakah menurut film ini saat seseorang terkena santet, doppelganger-nya muncul di tempat lain? Mengapa di beberapa kesempatan hantu wanita muncul selaku “kurir santet” tapi di kesempatan lain tidak? Santet macam apa yang dipakai si pelaku saat mengirim sesosok hantu guna menabrak seorang bocah menggunakan troli belanja? Mengapa luka bekas santet di punggung Kelly Brook terlihat bagai bekas kerokan? Jika Kelly Brook kerokan apakah ia memakai Geliga, Balsem Lang, atau Tjing Tjau? Setumpuk pertanyaan termasuk beberapa poin plot dibiarkan menggantung tanpa jawaban.

Klimaksnya menyertakan adegan mobil terguling yang sejatinya dihilangkan pun bukan masalah. Tapi Helfi Kardit sepertinya ingin membuktikan jika kapasitasnya menangani adegan serupa sudah semakin baik. Ya, momen itu memang dieksekusi dengan baik. Begitu total, saya sampai berpikir bahwa peristiwa tersebut merupakan metafora, perlambang bagi The Origin of Santet yang remuk redam layaknya kecelakaan.

TEN: THE SECRET MISSION (2017)

Ten: The Secret Mission merupakan usaha sutradara sekaligus penulis naskah Helfi Kardit (Guardian, BrokenHearts, Arwah Goyang Karawang) meracik film aksi kelas B dengan bumbu sexploitation di mana 10 model majalah Popular jadi tokoh sentral. Tipikal film yang semakin frontal (sensualitas dan kekerasan) semakin menghibur, dan semakin banyak timbunan kebodohan semakin seru. Walau akhirnya kondisi negeri ini tak memungkinkan unsur pertama tertuang sepenuhnya, menghasilkan "sexploitation malu-malu", menyisakan rentetan kebodohan disengaja guna memancing tawa. Sungguh saya berharap semua memang disengaja. 

Dikisahkan, Satuan Intelijen Rahasia Negara kesulitan melancarkan operasi pembebasan puteri duta besar Amerika yang diculik sekelompok teroris di sebuah pulau. Bukan itu saja, karena warga setempat turut jadi sandera. Yakin Navy Seal hanya bersedia menyelamatkan puteri duta besar dan membiarkan warga terbunuh (I know it's stupid, let it go), Kolonel John (Jeremy Thomas) mencetuskan ide merekrut 10 model Popular yang secara kebetulan menguasai beragam cabang bela diri. Mengapa harus model? Bukan atlet atau petarung sungguhan? Sederhana. John merasa sepuluh gadis tersebut adalah model berbakat. Walau belakangan kita tahu John punya niat terselubung merayu salah satunya.
10 model terkumpul, John pun mulai memperkenalkan masing-masing dari mereka lewat eksposisi latar tokoh berupa keahlian bela diri serta rahasia kelam yang memaksa mereka tak kuasa menolak tawaran misi. Toh daripada tawaran lebih tepat disebut paksaan mengingat tiap ungkapan penolakan bakal memancing Mayor Cathy (Karenina Anderson) berteriak, memaki, menyebut para gadis tak punya jiwa kemanusiaan (I know it's stupid, let it go). Di sini penonton mulai diajak tertawa lewat deskripsi masa lalu menggelikan tokohnya. Contohnya kutipan kalimat berbunyi, "Kamu adalah atlet panah. Kamu memanah pacarmu sendiri". Dan apa pun gaya bela diri mereka berujung tak berguna ketika nantinya mayoritas aksi sekedar diisi asal pukul, tusuk, dan tembak.

Selanjutnya Ten: The Secret Mission selalu punya amunisi pemancing tawa khususnya melalui barisan kalimat ajaib bernuansa nasionalisme atau kontemplasi kehidupan. Cathy paling sering mendapat tugas menyampaikan. Dengan letupan membara seperti senior sok galak di tengah ospek, Karenina rutin menampilkan dua sisi kontradiktif Cathy. Dia bisa berucap "kita bagai titik di alam raya yang seolah tak punya arti" lalu sedetik kemudian menghardik "you fucking stupid ass bitches". Namun jangan khawatir, para model kita juga sesekali mendapat jatah berpetuah. Misalkan Model A (coba hafalkan nama mereka kalau bisa), yang seusai melempar bambu ke dada lawan sempat berkata, "negara ini merdeka bukan hanya karena bambu runcing, tapi ahli bela diri yang bersenjatakan bambu runcing" (I know it's stupid, let it go).
Ten: The Secret Mission membuktikan betapa kekakuan "objektif" memandang film bermodal ukuran-ukuran teknis tak selalu berlaku. Nyaris segala sisi entah tutur kata maupun peristiwa tersaji buruk pula bodoh, namun kebodohan yang sungguh menyenangkan. Pertanyaan apakah kebodohan itu disengaja atau tidak dijawab oleh Helfi Kardit ketika Model B memilih kulit duren selaku brass knuckle darurat. Bagaikan pernyataan lantang, "kalau Azrax bisa memakai lampu taman, mengapa model seksi tak boleh mempersenjatai diri dengan kulit duren?". Bukan bentuk kamuflase canggih macam James Bond dengan pistol pena. Kulit duren asli (at least di konteks filmnya) yang tidak sengaja jatuh di depan sang model. Bagaimana cara memasang kulit duren di tangan? Go figure. Terpenting adalah itu kulit duren. 

Di samping kedahsyatan kulit duren, sejatinya Helfi cukup baik membawakan tempo. Hanya berdurasi 73 menit, filmnya enggan berbasa-basi, bergerak cepat membawa penonton pada latihan keras nan ajaib yang sanggup menyulap model jadi agen rahasia tangguh selama tiga hari. Sempat melambat kala Kolonel John dan Kapten Dalton (Gibran Marten) tergugah jiwa kelaki-lakiannya dan mulai merayu dua model di malam hari, tapi itu tak lama. Berikutnya alur telah melompat ke eksekusi misi yang mengandalkan pemandangan gadis-gadis mengenakan beragam baju seksi (tank top, sport bra, apa pun), berpeluh, berdarah-darah, menghajar kawanan teroris sampai sederet jawara unggulan. 

Eksekusi aksinya tak buruk. Paling tidak gerak shaky kamera Nofi Kardit cukup menutupi kemampuan bela diri terbatas jajaran cast-nya. Pun soal melakoni baku hantam, kesepuluh model kita berjuang sekuat tenaga dalam gerak dan ekspresi. Sayang third act-nya berlangsung terlampau panjang, menjadikan berbagai momen highlight khususnya kebrutalan berhiaskan banjir darah menjelang akhir tergerus dampaknya. It could be more fun with shorter yet more impactful finale. Demikian pula keseluruhan film yang berpotensi jauh lebih menghibur andai Helfi Kardit bersedia lebih sering lagi merayakan kebodohan mengasyikkan b-movie. Masih cukup ruang bagi kemunculan ikonik kulit duren. All hail brass-knuckle-made-of-durian-skin!