Tampilkan postingan dengan label Roy Marten. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Roy Marten. Tampilkan semua postingan
MANGKUJIWO (2020)
Rasyidharry
Walau hasilnya belum begitu solid,
seri terbaru Kuntilanak yang dimulai dua
tahun lalu merupakan salah satu seri horor Indonesia paling berani. Ketimbang
mengulangi formula kesuksesan trilogi lama yang dibintangi Julie Estelle, film
pertama dan keduanya justru mengusung bentuk horor keluarga dengan menempatkan karakter
anak-anak sebagai sentral. Selaku prekuel, Mangkujiwo
menegaskan anggapan tersebut saat sekali lagi banting setir ke arah
berbeda, bukan cuma dibandingkan para pendahulunya, juga horor-horor lokal
kebanyakan.
Ketika budaya klenik kedaerahan biasanya
sekadar jadi pajangan, naskah garapan Dirmawan Hatta (The Mirror Never Lies, Bulan di Atas Kuburan, Another Trip to the Moon)
dan Erwanto Alphadullah (sebelumnya menjabat manajer produksi di Kuntilanak versi 2018) bersedia
mengeksplorasi, bahkan menjadikannya amunisi menakut-nakuti. Begitu menyaksikan
Brotoseno (Sujiwo Tejo) menjalankan ritual mencambuki dirinya atau membuat nasi
kepal dengan darah dan organ-organ hewan sebagai lauk serta bumbu penyedap,
anda akan menyadari Mangkujiwo bukan
untuk penonton berperut lemah.
Alkisah, Brotoseno menyimpan dendam
setelah disingkirkan dari keraton akibat fitnah Cokrokusumo (Roy Marten). Rencana
pembalasan tercetus saat ia menemukan Kanthi (Asmara Abigail), gadis yang
dipasung, juga akibat fitnah Cokrokusumo. Dibawanya Kanthi, dipasungnya si
gadis di depan pengilon kembar (cermin
kembar yang sama-sama dimiliki Brotoseno dan Cokrokusumo) untuk kemudian
disiksa tiap malam menggunakan berbagai ritual ilmu hitam, guna menciptakan
senjata membalas perbuatan Cokrokusumo.
Jadi, apakah asal muasal sosok
Kuntilanak terjelaskan? Kurang lebih. Tersimpan gagasan menarik tentang
bagaimana hantu mengerikan ini merupakan produk perebutan kekuasaan. Mangkujiwo adalah kisah mengenai
orang-orang biasa yang dijadikan bidak para penguasa. Sayangnya pengilon kembar masih sebatas alat pemberi
jalan pintas agar plotnya berjalan. Pokoknya cermin itu adalah cermin ajaib “pemberian”
Laut Selatan yang bisa mengabulkan segala permintaan, alias memfasilitasi
penulis melakukan apa saja tanpa perlu memikirkan rules atau logika, tidak peduli seacak apa pun itu.
Perseteruan Brotoseno dan
Cokrokusumo berlangsung puluhan tahun, dan di sinilah Mangkujiwo menerapkan bentuk narasi non-linear yang cukup berisiko.
Di awal durasi, kita seolah disuguhi berbagai cabang alur tak berkaitan yang
silih berganti mengisi, termasuk soal Uma (Yasamin Jasem) si gadis remaja yang
bekerja di sebuah hotel, dan tidak sengaja melihat pembunuhan yang dilakukan
Karmila (Karina Suwandi) dan rekan-rekannya selaku penjual barang pusaka. Nantinya
semua cabang tersebut bakal bertemu.
Kelebihan penceritaan non-linear
ini adalah memperkuat bangunan misteri. Pertanyaan selalu muncul, menjaga kepadata
alur sepanjang 106 menit perjalanan Mangkujiwo.
Kelemahannya, tidak semua transisi antar lini waktu terjahit rapi.
Lompatan-lompatan kasar kerap tercipta, pun di paruh awal—sebelum dua warna
rambut Sujiwo Tejo bisa dipakai sebagai alat bantu membedakan latar waktu—potensi
membuat penonton kebingungan cukup besar. Hal ini penting terkait menjaga
atensi penonton. Apalagi Mangkujiwo bukan
horor yang gemar menebar jump scare, sehingga
kesolidan bercerita wajib hukumnya.
Minimnya penampakan mengagetkan
hantu digantikan oleh pemandangan lain yang jauh lebih mencekam (dan membuat mual).
Sutradara Azhar Kinoi Lubis (Kafir:
Bersekutu dengan Setan, Ikut Aku Ke Neraka) memperlihatkan keterampilan memainkan
atmosfer. Pacing-nya terjaga, sambil
memastikan kamera menangkap tiap detail tata artistik, khususnya dalam ruang
tempat Brotoseno melakoni ritual yang tampilannya menimbulkan perasaan tidak
nyaman.
Azhar membuktikan bahwa membangun
teror tidak melulu harus mengumbar penampakan murahan makhluk halus. Cukup
kumpulkan beragam hewan (ular, kodok, kalajengking, laba-laba, cicak), biarkan berkeliaran,
atau sekali waktu, bedah isi perut mereka. Mangkujiwo
memang tidak takut menumpahkan darah atau organ tubuh, yang dampaknya
begitu kuat berkat beberapa efek praktikal mumpuni. Kelemahan sang sutradara—yang
telah nampak sejak Kafir—sayangnya masih
bisa ditemukan. Azhar Kinoi Lubis jago membangun atmosfer atau mengeksploitasi gore, tapi tidak ketika dihadapkan pada
adegan bertempo cepat berbumbu aksi. Klimaks yang mestinya jadi babak
pembantaian puncak malah berakhir canggung. Efek slow motion diterapkan demi kesan dramatis, padahal pengadeganan
aslinya sudah terlampau lambat.
Selain itu, walau jauh lebih baik
dibanding mayoritas kompatriotnya sesama horor lokal, naskah Mangkujiwo juga belum sepenuhnya lepas
dari lubang-lubang, dari yang menimbulkan pertanyaan “Kok bisa?”, hingga
pengembangan karakter yang tak alamiah. Saya membicarakan karakter Uma di sini.
Biarpun sudah “dicuci otak”, keputusannya memasuki babak akhir film tetap
terlampau ekstrim, seolah ada jembatan proses yang dilompati.
Mangkujiwo juga memiliki jajaran pemain dengan akting memuaskan.
Seperti biasa, apa pun yang dilakukan Sujiwo Tejo di layar selalu memancarkan
kemistisan, meski adegan Brotoseno memainkan saksofon terlalu out-of-place (saya cukup yakin ini ide
sang aktor). Septian Dwi Cahyo, yang mungkin lebih banyak dikenal selaku
seniman pantomim, memerankan Sadi, asisten Brotoseno yang mempunyai badan
bungkuk dan tak bisa bicara, tanpa harus jatuh ke ranah karikatur. Dibantu tata
rias yang mendukung, Asmara Abigail menghidupkan sosok yang pastinya takkan mau
anda temui langsung di dunia nyata. Sedangkan di usia yang baru akan menginjak
16 tahun, Yasamin Jasem menambah satu lagi daftar aktris muda potensial tanah
air, selama ia terus mengasah penampilan sekaligus jeli memilih peran.
Di luar kekurangan yang masih
bertebaran, setidaknya, Mangkujiwo berhasil
membuat elemen kejawen bukan pernak-pernik
sambil lalu. Di tiap sudutnya, aroma misterius dari budaya mistisisme itu
selalu tercium. Ditambah intensi baik untuk tidak sekadar mengeksploitasi jump scare, juga pengembangan latar
cerita memadai supaya status prekuel bukanlah tempelan semata (baca: alasan
memperbanyak installment demi
menambah profit), Mangkujiwo mampu memperpanjang
napas seri Kuntilanak.
Januari 31, 2020
Asmara Abigail
,
Azhar Kinoy Lubis
,
Dirmawan Hatta
,
Erwanto Alphadullah
,
horror
,
Indonesian Film
,
Karina Suwandi
,
Lumayan
,
REVIEW
,
Roy Marten
,
Septian Dwi Cahyo
,
Sujiwo Tejo
,
Yasamin Jasem
JERITAN MALAM (2019)
Rasyidharry
Megah dan
dramatis. Sepertinya Soraya Intercine Films ingin kesan tersebut lekat dengan
mereka, sekalipun di film horror, yang biasanya identik dengan kesederhanaan
(baca: murah). Contohnya adalah Suzzanna:
Bernapas dalam Kubur tahun lalu. Mengadaptasi cerita karya meta.morfosis
yang sempat ramai dibicarakan warganet dan konon berasal dari kisah nyata, Jeritan Malam mengambil jalur serupa.
Berambisi tampil dramatis, menit-menit awalnya bahkan bak tersusun atas
cuplikan opera sabun yang berlangsung terlalu panjang.
Ketimbang
langsung menghadapi teror, kita lebih dulu disuguhi perjuangan karakter
utamanya, Reza (Herjunot Ali), yang setia menarasikan kisahnya bahkan di
titik-titik yang tak perlu lagi dijelaskan (naskahnya terlalu literal dalam
menerapkan cara bertutur materi aslinya), dalam perjuangannya mencari kerja. Setelah
ditolak belasan kali, akhirnya ia diterima bekerja di Jawa Timur. Masalahnya,
itu berarti Reza mesti meninggalkan Bogor beserta kedua orang tua, juga
kekasihnya, Wulan (Cinta Laura Kiehl). Jelang keberangkatan Reza, filmnya
didominasi perpisahan mengharu biru, yang entah berapa kali memperdengarkan
kalimat cringey, “Aku bakal kangen
luar biasa”.
Kalau anda
penasaran mengapa durasi Jeritan Malam bisa
mendekati dua jam (119 menit), di situlah jawabannya. Naskah buatan Ferry
Lesmana (Danur, Suzzanna: Bernapas dalam
Kubur) dan Donny Dhirgantoro (Tenggelamnya
Kapal Van Der Wijck, Antologi Rasa) gemar menyelipkan drama berlarut-larut
yang hanya membengkakkan film ketimbang mencuri hati, akibat paparan dangkal
yang hanya bersenjatakan kalimat (sok) romantic, yang di realita, mungkin cuma
bakal jadi status Facebook remaja pengidap cinta monyet.
Sebelum
berangkat, oleh sang ayah (Roy Marten), Reza dibawakan sebuah kujang sebagai
alat pelindung. Berkebalikan dengan ayahnya, Reza bersikap skeptis terhadap hal
gaib. Ditambah peristiwa tragis masa kecilnya, ketidakpercayaan Reza berkembang
jadi kebencian. Bahkan ketika dua teman kantornya, Indra (Winky Wiryawan) dan
Minto (Indra Brasco) menceritakan fakta horor terkait mess yang ketiganya
tempati, Reza menolak percaya. Bukan saja enggan percaya, Reza cenderung
meremehkan, menendang sesajen, lalu menantang para “penghuni mess”.
Jeritan Malam memang didesain supaya penonton
berharap si protagonis tertimpa hukuman atas kesombongannya. Alhasil, bila mengandalkan
Reza semata, alurnya takkan
menyenangkan diikuti. Karena itulah filmnya mengambil bentuk crowd pleasure, di mana serupa Suzzanna: Bernapas dalam Kubur, humor
turut diterapkan lewat kekonyolan dua teman Reza, khususnya Minto, dalam
menghadapi kengerian di mess. Jelas bukan komedi cerdas, namun memadai sebagai
penambah daya hibur.
Begitu
teror dimulai, gerak alur Jeritan Malam sebenarnya
sempat repetitif, kala berkali-kali kita disajikan adegan Reza terbangun di
tengah malam, minum, sebelum akhirnya diganggu sosok tak kasat mata. Beruntung
pengulangan itu tak berlangsung seterusnya, sebab semakin
kisahnya bergulir, varian peristiwanya cukup kaya, dari “perjalanan sukma” Reza
hingga ritual misterius yang jadi penyebab rentetan tragedi pada babak ketiga.
Jump scare tidak
dikesploitasi, biarpun efektivitas kemunculan hantunya tergolong inkonsisten.
Misalnya, setelah penampakan sesosok nenek di atas pohon yang punya tata rias
lumayan baik, intensitas langsung dirusak oleh serbuan pasukan tuyul dengan kualitas
CGI menyedihkan. Tapi satu hal yang cukup menarik adalah bagaimana Rocky,
dibantu sinematografi garapan Muhammad Firdaus (My Stupid Boss, Ikut Aku ke Neraka), di beberapa kesempatan, sukses
membangun atmosfer bersenjatakan sudut pandang orang pertama. Saya pernah
terlibat menggarap acara penelusuran mistis, dan menonton Jeritan Malam rasanya seperti dibawa kembali ke suasana itu, kala menyusuri
lokasi-lokasi gelap nan menyesakkan, yang memancing kecemasan karena dari balik
kegelapan itu, seolah ada figur menyeramkan tengah mengintai.
Seperti telah
disebut sebelumnya, horor satu ini ingin betul terlihat (lebih) mahal, dan itu
nampak dari penataan set dan properti, color
grading khas Soraya yang memakai kontras rendah, juga musik garapan Andhika
Triyadi (Suzzanna: Bernapas dalam Kubur,
Dua Garis Biru) yang mengandalkan suara biola menyayat ala horor/thriller klasik. Di antara semua itu,
justru akting Herjunot Ali yang nampak paling murah, sebab lagi-lagi ia masih
bermasalah dalam mengekspresikan emosi melalui mimik wajah “besar” yang selalu
berlawanan dengan definisi “natural”.
Kecintaan
Rocky terhadap gore, yang secara
mengejutkan kuantitasnya tidak seberapa, menguatkan kesan tragis dari salah
satu kematian karakternya. Andai filmnya ditutup tak lama setelah itu.
Sayangnya tidak. Jeritan Malam justru
menambahkan epilog dramatik cenderung menggurui yang merusak bangunan
intensitasnya. Sesungguhnya epilog ini bisa menambah kengerian (menegaskan
bahwa iblis yang karakternya hadapi teramat licik dan kejam) sekaligus
memantapkan status filmnya sebagai tragedi (sejalan dengan image dramatis Soraya yang saya singgung), jika narasi terkait sebuah
ritualnya dikemas lebih rapi dan jelas.
Desember 14, 2019
Andhika Triyadi
,
Cinta Laura Kiehl
,
Cukup
,
Donny Dhirgantoro
,
Ferry Lesmana
,
Herjunot Ali
,
horror
,
Indonesian Film
,
Indra Brasco
,
Muhammad Firdaus
,
REVIEW
,
Rocky Soraya
,
Roy Marten
,
Winky Wiryawan
PRETTY BOYS (2019)
Rasyidharry
Mengangkat seluk-beluk di balik
layar dunia pertelevisian, dibintangi duet maut Deddy Mahendra Desta dan
Vincent Rompies serta ditulis naskahnya oleh Imam Darto (sebelumnya pernah
menulis judul rilisan tahun 2008, Coblos
Cinta), yang mana seluruhnya merupakan pelaku industri tersebut, Pretty Boys semestinya bisa lebih dari “sekadar”
menghibur, andai dibarengi eksplorasi mendalam sekaligus konsistensi dalam
mengutarakan pesan.
Tapi jika anda datang karena ingin
tertawa menyaksikan kekonyolan khas Vincent-Desta, maka debut penyutradaraan
Tompi ini bakal memuaskan. Memerankan Anugerah dan Rahmat, sepasang sahabat
yang sejak kecil bermimpi menjadi pembaca acara televisi, keduanya langsung
melontarkan banyolan berbentuk tebak-tebakan receh, atau berbagai pelesetan
ringan lain yang selama ini terbukti sukses membuat publik menyukai kemunculan
mereka di layar kaca.
Berangkat dari desa menuju Jakarta
berbekal impian (dan kenekatan) tinggi, karir Anugerah dan Rahmat justru mentok
sebagai karyawan restoran. Tapi mereka enggan menyerah. Didukung pula oleh Asty
(Danilla Riyadi), rekan kerja sekaligus gadis yang disukai Anugerah namun tak
kunjung ia tembak, semua jalan dicoba. Hingga tawaran menjadi penonton bayaran untuk
acara bincang-bincang yang dikoordinir oleh Roni (Onadio Leonardo), secara tak
terduga membuka lapang jalan menggapai cita-cita.
Dari judulnya tentu anda bisa
menebak bahwa Pretty Boys hendak
menyentil isu kegemaran stasiun televisi memakai lawakan “banci-bancian”.
Seolah ada aturan tak tertulis bila seseorang ingin terkenal, jadilah komedian
dengan karakter banci. Perihal mengungkap dunia gelap di balik gemerlapnya
industri televisi, kejujuran filmnya pantas dipuji. Walau digawangi para
penggiatnya, Pretty Boys tak berusaha
mempermanis realita.
Hanya saja, sebagai karya “orang
dalam”, naskahnya minim fakta baru. Perihal eksploitasi tokoh transgender,
kongkalikong manajer dan pihak acara, sampai pembayaran honor yang mencapai
berbulan-bulan, sudah jadi rahasia umum (mungkin khusus soal honor saja yang
belum). Pun terkait gimmick transgender,
paparan isunya problematik. Kalau Pretty
Boys ingin mengkritisi poin itu, filmnya sendiri membangun humor
berlandaskan hal serupa. Jangan salah, ini bukan urusan ofensif atau tidak,
melainkan konsistensi narasi. Lain cerita jika soal “kepalsuan demi popularitas”
yang coba disampaikan. Masalahnya, naskah Imam Darto kurang kuat menggiring sindirannya
ke ranah itu.
Biarpun menampilkan dua protagonis,
sosok Anugerah jelas lebih menonjol dengan kehadiran elemen drama dalam story arc-nya. Dia terlibat konflik
dengan sang ayah (Roy Marten), mengalami pergolakan jati diri, juga kesulitan
mengutarakan cinta kepada Asty. Benang merahnya adalah keraguan Anugerah
mengambil kesempatan. Di sini inkonsistensi timbul lagi. Di satu sisi, Pretty Boys berkata “jangan membuang
kesempatan”, padahal kritik utamanya ditujukan bagi para pelaku industri yang
mengambil kesempatan.
Kelemahan narasi setidaknya
berhasil ditambal komedi yang paling tidak bisa memancing senyum. Dalam debut
penyutradaraannya, Tompi juga melahirkan barang langka berupa komedi lokal yang
menolak memakai kemasan artistik seadanya. Sebagai seorang musisi sekaligus
fotografer, tidak heran Tompi melahirkan film bervisual cantik, pula diisi
deretan lagu pembuai telinga, termasuk Kembali
Putih Lagi milik Danilla. Disokong sinematografi Wirawan Sanjaya, visual Pretty Boys begitu memperhatikan
permainan cahaya serta kombinasi warna, alias bukan asal terang.
Di jajaran pemain, Vincent dan
Desta senantiasa bisa diandalkan urusan chemistry
kala mengocok perut. Teruntuk Vincent, kapasitas aktingnya diuji kala harus
menghidupkan pergulatan batin Anugerah. Tidak spesial, namun tidak pula
mengecewakan. Tidak kalah menghibur adalah gaya feminnin Onadio, sedangkan
Danilla tampil solid dalam kapasitas love
interest, meski sayangnya, subplot romansa yang melibatkannya terkesan inkonklusif.
Atau jangan-jangan Anugerah.....
September 20, 2019
Comedy
,
Cukup
,
Danilla Riyadi
,
Deddy Mahendra Desta
,
Imam Darto
,
Indonesian Film
,
Onadio Leonardo
,
REVIEW
,
Roy Marten
,
Tompi
,
Vincent Rompies
,
Wirawan Sanjaya
KAPAL GOYANG KAPTEN (2019)
Rasyidharry
Setelah (gagal) memancing tawa
melalui pembajakan pesawat di Flight 555 tahun
lalu, Raymond Handaya melahirkan sau lagi komedi seputar pembajakan
transportasi, tapi kali ini, latarnya beralih dari udara ke perairan dan pulau
terpencil. Perubahan itu rupanya berdampak, karena cakupan kapal dan pulau tidak
sesempit pesawat, yang berarti bertambahnya hal untuk dieksplorasi. Walau tidak
lebih pintar, Kapal Goyang Kapten jelas
lebih lucu.
Kapal tersebut dimiliki Gomgom
(Babe Cabita), pemilik usaha wisata kecil di Manado. Begitu kecil, posisi
pemandu tur, sopir bus, dan kapten kapal diemban oleh Gomgom seorang, suatu
kondisi yang rutin dijadikan bahan banyolan di paruh awal. Turis yang jadi
kliennya sekarang adalah Tiara (Yuki Kato),
Burhan (Arief Didu) beserta istri (Asri Welas) dan puterinya (Romaria
Simbolon), pasangan suami-istri Darto (Yusril) dan Salma (Naomi Papilaya),
serta tiga mahasiswa Noni (Andi Anissa), Cika (Ryma Gembala) dan Agung (Ananta
Rispo).
Sementara itu, pemuda kaya asal
Jakarta, Daniel (Ge Pamungkas), juga baru tiba di Manado setelah kabur dari
rumah guna membuktikan bahwa ia bisa hidup mandiri tanpa bergantung pada uang
ayahnya (Roy Marten). Sementara waktu, Daniel menetap di rumah mantan sopir
pribadinya, Cakka (Muhadkly Acho). Cakka sendiri tengah mengalami masalah
berupa ketidakmampuan finansial guna mengobati penyakit sang ibu. Bersama
Bertus (Mamat Alkatiri), ia berencana membajak kapal Gomgom. Walau awalnya
menolak, didorong keinginan membantu Cakka, Daniel memutuskan bergabung.
Bisa ditebak, akibat aksi amatiran
ditambah sisi manja Daniel, pembajakan tersebut berantakan. Alih-alih mendapat
uang, mereka bertiga, bersama seluruh penumpang, justru terdampar di pulau
terpencil setelah kapal kehabisan solar. Kedua belah pihak pun terpaksa
mengesampingkan perbedaan, berdamai demi bertahan hidup dann mencari jalan
pulang.
Humor recehnya, yang mayoritas
berupa kelakar dan plesetan bodoh, tingkah laku bodoh, atau bentuk kebodohan
lain, masih sama, namun ketika Flight 555
menyia-nyiakan premis dan latar uniknya, Kapal Goyang Kapten, walau belum bisa disebut maksimal,
menanganinya dengan lebih baik. Setidaknya humor datang dari situasi khusus
terkait kapal, survival, maupun
pembajakan, daripada sekadar kekonyolan acak.
Banyolan semacam itu punya tingkat
risiko kegagalan tinggi, tapi duo penulis Muhadkly Acho dan Awwe (Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1
& 2) memahami itu, memilih menjadikan lelucon garing sebagai sebuah
kesengajaan yang disadari. Contohnya sewaktu puteri Burhan kerap mengomentari
ketidaklucuan Gomgom. Sebuah win-win
solution cerdik. Bagus jika penonton menganggap lawakan Gomgom lucu, tapi
jika tidak, mereka akan menertawakan kritik pedas si gadis cilik.
Kapal Goyang Kapten juga dibantu jajaran pemain yang seolah tengah on fire. Kedua penulis menggunakan polah
absurd Babe hingga celetukan-celetukan Arief Didu dengan cara yang tepat, di
tempat yang tepat, juga dalam dosis memadai. Tentu tidak seluruhnya mengenai
sasaran, namun saya mendapati diri lebih sering tertawa daripada memasang wajah
datar sambil garuk-garuk kepala.
Menyentuh pertengahan durasi,
karakter baru diperkenalkan, yaitu Pak Sentot (Mathias Muchus), yang sudah
terperangkan di pulau selama 10 tahun. Pak Sentot lebih terasa sebagai rip-off Chuck Noland di Cast Away ketimbang parodi dari tokoh
yang dipopulerkan oleh Tom Hanks itu. Baik nasib atau tampilan fisik mereka
serupa. Bahkan Pak Sentot pun berteman dengan bola voli yang diberi nama Mika
(dari Mikasa) sebagaimana Chuck dan Wilson. Beruntung, totalitas sang aktor
berhasil menjadikan Pak Sentot karakter menarik. Melihat Mathias Muchus
bertingkah eksentrik dibalut riasan meyakinkan, menggendong bola voli layaknya
puteri sendiri, merupakan hiburan tersendiri.
Kelemahan terbesar film ini adalah
tiap kali menampilkan sisi serius. Meski Ge tampak berusaha sebaik mungkin
menangani elemen dramatis, perjalanan Daniel membuktikan kapasitasnya,
dipaparkan teramat dangkal, sehingga mustahil bersimpati kepadanya. Begitu pula
benih cintanya dengan Tiara, yang dipaksa masuk. Di antara penumpang, Yuki
paling vokal menyuarakan kebencian terhadap tiga pembajak, sampai tiba-tiba,
hatinya berubah secara radikal dengan begitu mudah. Pun di tengah sederet
individu absurd, Daniel dan Tiara selaku “sosok serius” merupakan karakter
paling kurang menarik yang tak punya cukup daya guna menggoyang hati penonton.
September 07, 2019
Ananta Rispo
,
Arief Didu
,
Asri Welas
,
Awwe
,
Babe Cabita
,
Comedy
,
Cukup
,
Ge Pamungkas
,
Indonesian Film
,
Mamat Alkatiri
,
Muhadkly Acho
,
Raymond Handaya
,
REVIEW
,
Romaria Simbolon
,
Roy Marten
,
Yuki Kato
,
Yusril
MILLY & MAMET (2018)
Rasyidharry
Kunci untuk menikmati Milly & Mamet sederhana saja. Jangan
mengharapkan suksesor mumpuni seperti Ada
Apa Dengan Cinta 2 (2016), apalagi romansa legendaris yang tak lekang oleh
zaman macam Ada Apa Dengan Cinta? (2001).
Ini adalah hiburan sekali waktu, di mana alih-alih beradaptasi dengan dunia
AADC, Ernest Prakasa selaku sutradara dan penulis naskah bersama sang istri,
Meira Anastasia, membawa film ini menuju dunia khasnya sendiri. Di situ, romantika
bukanlah dongeng, melainkan penggambaran kehidupan di sekitar kita, hanya saja
ditambah banyak tebaran ranjau komedi.....sangat banyak.
Adegan pembukanya bertempat di
sela-sela film pertama dan kedua, ketika di sebuah reuni, Mamet (Dennis
Adhiswara) bertemu Milly (Sissy Prescillia) dan ketiga sahabatnya: Cinta (Dian
Sastrowardoyo), Karmen (Adinia Wirasti), Maura (Titi Kamal). Sekuen ini
berfungsi dengan baik untuk menunjukkan mengapa Mamet—meski bukan termasuk pria
tampan—mampu mencuri hati Milly lewat kebaikan hati serta kejenakaan yang
memberi kenyamanan. Sebuah momen “kecil”, namun Ernest bisa meniupkan magisnya
romantisme saat dua insan menyadari berseminya cinta lewat peristiwa sederhana.
Beberapa tahun berselang, keduanya
telah menikah dan memiliki seorang bayi. Milly menjadi ibu rumah tangga,
sementara Mamet bekerja di pabrik konveksi milik mertua (Roy Marten), mengubur
impian menjadi chef demi menghidupi keluarga. Tapi kebahagiaan Mamet kurang
utuh karenanya. Sampai Alex (Julie Estelle), kawannya semasa kuliah, datang mengajaknya
membuka restoran bermodalkan suntikan uang sang kekasih, James (Yoshi Sudarso).
Hasrat Mamet meraih mimpi pun membara lagi.
Tercapainya impian Mamet rupanya
bukan akhir permasalahan. Sebaliknya, itulah permulaan masalah baru. Mamet bisa
melakukan hal yang ia cintai, tapi bagaimana dengan sang istri? Dari sinilah
elemen dramatik film ini mencapai titik terbaik. Walau dipresentasikan secara
sederhana, konfliknya cukup efektif mengingatkan kita betapa pernikahan bukan
hubungan satu arah di mana seseorang cuma memikirkan kebahagiannya sendiri.
Semakin sibuk Mamet di restoran,
semakin kesepian pula Milly. Ditambah kerepotan mengurus buah hati, hidupnya
bertambah melelahkan sekaligus membosankan. Tapi begitu Milly mengutarakan niat
bekerja di luar (menggantikan posisi Mamet di pabrik ayahnya), Mamet melarang. “Siapa
yang mengurus anak?”, tanyanya, sebelum melontarkan kalimat paling menohok, “Hal
terbaik yang bisa kamu lakuin sekarang adalah di rumah jaga anak!”. Pada titik
ini Mamet menjadi orang yang tidak ia suka, yang selama ini melucuti
kebahagiaannya: si ayah mertua.
Konflik tersebut menyimpan
relevansi dengan problematika pernikahan sembari menyinggung perihal hak
perempuan, yang sayangnya, hanya berupa paparan permukaan. Konklusinya pun
terlalu mengandalkan faktor eksternal sebagai solusi masalah dua tokoh utama,
serta terkesan melakukan simplifikasi khususnya terkait pertikaian Mamet dengan
sang mertua. Setidaknya, elemen dramanya bekerja cukup baik berkat solidnya
Sissy bermain emosi. Walau Dennis perlu memperbaiki akting dramatiknya, ia
masih piawai melakoni sisi keluguan serta kebaikan hati Mamet. Chemistry keduanya jelas tidak perlu
diragukan. Mereka membuat dua titular
character tetap menonjol meski dikelilingi banyak tokoh pendukung.
Seperti sudah disebutkan, tersebar
begitu banyak ranjau komedi. Faktanya, hampir seluruh karakter pendukung
bertugas melucu kecuali Julie Estelle, Surya Saputra, dan Roy Marten. Bahkan
Yoshi turut mendapat suatu running gag
yang untungnya cukup menggelitik. Alhasil, mudah menebak ketika seseorang
hendak melontarkan banyolan, bahkan sebelum ia buka mulut. Mayoritas humor berada
dalam lingkup permainan kata, saling ejek dengan celetukan-celetukan absurd
khas para komika, atau ketidakmampuan karakternya memahami istilah “rumit”
(mojito, dan lain-lain). Seiring durasi bergulir dan semakin banyak lelucon
setipe dilontarkan, daya bunuhnya makin berkurang. Hasil akhirnya hit-and-miss.
Apalagi, serupa Susah Sinyal (2017), Ernest lagi-lagi
memakai teknik “senapan mesin” bagi penghantaran komedinya, membombardir
penonton lewat humor sesering mungkin, berharap beberapa mendarat di sasaran.
Beruntung, sewaktu tepat sasaran, efeknya tidak main-main. Saya tidak terkejut
ketika Dinda Kanyadewi kembali unjuk gigi memerankan karakter absurd, namun
lain cerita dengan Isyana Sarasvati sebagai sekretaris aneh (dengan hewan
peliharaan tak kalah aneh). Isyana sanggup mengangkangi komedian-komedian yang
jauh lebih senior dalam debut layar lebarnya, bersinar lebih terang, bahkan
dibanding keseluruhan filmnya.
Desember 18, 2018
Comedy
,
Cukup
,
Dennis Adhiswara
,
Dian Sastrowardoyo
,
Dinda Kanya Dewi
,
Ernest Prakasa
,
Indonesian Film
,
Isyana Sarasvati
,
Julie Estelle
,
Meira Anastasia
,
REVIEW
,
Romance
,
Roy Marten
,
Sissy Prescillia
,
Yoshi Sudarso
DO(S)A, MINISERI AKSI KOLABORASI TIGA NEGERI
Rasyidharry
Kita tahu Hollywood tengah memasuki masa keemasan dalam
industri televisi, di mana berbagai serial berkualitas dengan beragam genre
telah diproduksi. Saya dan mungkin banyak dari anda bertanya-tanya, kapan negeri
kita menghasilkan karya serupa? Sebuah serial dengan production value mumpuni yang mengusung tema berbeda alih-alih
sekedar romansa konyol seperti kerap dikesploitasi layar kaca.
Sambut Do(s)a,
miniseri original produksi Tribe, yang merupakan bagian dari KolaboraSEA, yaitu
kolaborasi negara-negara Asia Tenggara yang siap menjawab kehausan kita akan
serial berkualitas negeri sendiri. Untuk Do(s)a
sendiri, negara yangb berkolaborasi adalah Indonesia, Malaysia, dan
Singapura. Ifa Isfansyah (Sang Penari,
Garuda di Dadaku) bertindak selaku sutradara,sementara naskahnya ditangani
oleh Salman Aristo (Laskar Pelangi,
Mencari Hilal, Ayat-Ayat Cinta). Jajaran pemainnya sendiri menggabungkan
talenta dari ketiga negara di atas, yaitu Ashraf Sinclair, Remy Ishak, Datuk M.
Nasir (Malaysia), Roy Marten, Reuben Elishama, Hannah Al Rashid, Maudy
Koesnaedi (Indonesia), Danielle Sya, dan Shenty Feliziana (Singapura).
Menggabungkan elemen action
dan kriminal seputar mafia, Do(s)a
bercerita mengenai tiga bersaudara asal Malaysia, Fuad (Ashraf Sinclair), Farid
(Remy Ishak), dan Fahad (Hisham Hamid) yang berusaha menyelamatkan saudara
mereka, Fara (Shenty Feliziana), yang kabur ke Jakarta guna mengejar seorang
anak jalanan asal Jakarta bernama Arian (Reuben Elishama). Arian sendiri adalah
anak jalanan asal Jakarta yang sebelumnya datang ke Kuala Lumpur untuk meminta
bantuan ayah para bersaudara tersebut, Latif (Datuk M. Nasir), yang merupakan
bos mafia dari Gerbang Utara. Di Jakarta, mereka justru terjebak di tengah
pertikaian antara mafia setempat.
Gelaran aksi bakal mengiringi perjuangan tiga bersaudara itu,
dan demi menghasilkan adu jurus martial
arts yang memukau, hadir Cecep Arif Rahman (The Raid 2: Berandal, Star Wars: The Force Awakens) sebagai
koreografer laga. Bukan saja bertugas mengarahkan adegan laga, Cecep pun turut
ambil bagian memerankan salah satu anggota mafia. Kita tahu bagaimana Ifa
Isfansyah piawai mengarahkan studi karakter seperti ini, begitu pula Salman
Aristo yang terkenal lewat penulisan drama mendalam. Kita pun tahu betul Cecep
Arif Rahman selalu piawai mengkreasi parade aksi seru berbalut jurus-jurus
memukau.
Kolaborasi kelas wahid ini bisa disaksikan secara streaming di aplikasi Tribe yang dapat
diunduh secara gratis lewat Google Play
dengan cara meng-klik link ini.
Jangan khawatir bakal boros kuota, sebab streaming
di Tribe bisa dilakukan tanpa kuota alias GRATIS bagi pengguna Telkomsel
yang memakai paket VideoMAX. Serial dalam negeri dengan tema serupa ditambah
penggarapan berkualitas masih jarang kita temui, jadi pastikan tidak melewatkan
Do(s)a. Supaya lebih meyakinkan,
simak dulu trailer dari Do(s)a the Series
berikut ini.
Untuk info lebih lanjut, bisa kunjungi akun-akun media sosial
Tribe di bawah ini:
Instagram :
instagram.com/tribe_id
Mei 01, 2018
Ashraf Sinclair
,
Cecep Arif Rahman
,
Danielle Sya
,
Datuk M. Nasir
,
Hannah Al Rashid
,
Ifa Isfansyah
,
Maudy Koesnaedi
,
Remy Ishak
,
Reuben Elishama
,
Roy Marten
,
Salman Aristo
,
Shenty Feliziana
,
TV Series
TEN: THE SECRET MISSION (2017)
Rasyidharry
Ten: The Secret Mission merupakan usaha sutradara sekaligus penulis naskah Helfi Kardit (Guardian, BrokenHearts, Arwah Goyang Karawang) meracik film aksi kelas B dengan bumbu sexploitation di mana 10 model majalah Popular jadi tokoh sentral. Tipikal film yang semakin frontal (sensualitas dan kekerasan) semakin menghibur, dan semakin banyak timbunan kebodohan semakin seru. Walau akhirnya kondisi negeri ini tak memungkinkan unsur pertama tertuang sepenuhnya, menghasilkan "sexploitation malu-malu", menyisakan rentetan kebodohan disengaja guna memancing tawa. Sungguh saya berharap semua memang disengaja.
Dikisahkan, Satuan Intelijen Rahasia Negara kesulitan melancarkan operasi pembebasan puteri duta besar Amerika yang diculik sekelompok teroris di sebuah pulau. Bukan itu saja, karena warga setempat turut jadi sandera. Yakin Navy Seal hanya bersedia menyelamatkan puteri duta besar dan membiarkan warga terbunuh (I know it's stupid, let it go), Kolonel John (Jeremy Thomas) mencetuskan ide merekrut 10 model Popular yang secara kebetulan menguasai beragam cabang bela diri. Mengapa harus model? Bukan atlet atau petarung sungguhan? Sederhana. John merasa sepuluh gadis tersebut adalah model berbakat. Walau belakangan kita tahu John punya niat terselubung merayu salah satunya.
10 model terkumpul, John pun mulai memperkenalkan masing-masing dari mereka lewat eksposisi latar tokoh berupa keahlian bela diri serta rahasia kelam yang memaksa mereka tak kuasa menolak tawaran misi. Toh daripada tawaran lebih tepat disebut paksaan mengingat tiap ungkapan penolakan bakal memancing Mayor Cathy (Karenina Anderson) berteriak, memaki, menyebut para gadis tak punya jiwa kemanusiaan (I know it's stupid, let it go). Di sini penonton mulai diajak tertawa lewat deskripsi masa lalu menggelikan tokohnya. Contohnya kutipan kalimat berbunyi, "Kamu adalah atlet panah. Kamu memanah pacarmu sendiri". Dan apa pun gaya bela diri mereka berujung tak berguna ketika nantinya mayoritas aksi sekedar diisi asal pukul, tusuk, dan tembak.
Selanjutnya Ten: The Secret Mission selalu punya amunisi pemancing tawa khususnya melalui barisan kalimat ajaib bernuansa nasionalisme atau kontemplasi kehidupan. Cathy paling sering mendapat tugas menyampaikan. Dengan letupan membara seperti senior sok galak di tengah ospek, Karenina rutin menampilkan dua sisi kontradiktif Cathy. Dia bisa berucap "kita bagai titik di alam raya yang seolah tak punya arti" lalu sedetik kemudian menghardik "you fucking stupid ass bitches". Namun jangan khawatir, para model kita juga sesekali mendapat jatah berpetuah. Misalkan Model A (coba hafalkan nama mereka kalau bisa), yang seusai melempar bambu ke dada lawan sempat berkata, "negara ini merdeka bukan hanya karena bambu runcing, tapi ahli bela diri yang bersenjatakan bambu runcing" (I know it's stupid, let it go).
Ten: The Secret Mission membuktikan betapa kekakuan "objektif" memandang film bermodal ukuran-ukuran teknis tak selalu berlaku. Nyaris segala sisi entah tutur kata maupun peristiwa tersaji buruk pula bodoh, namun kebodohan yang sungguh menyenangkan. Pertanyaan apakah kebodohan itu disengaja atau tidak dijawab oleh Helfi Kardit ketika Model B memilih kulit duren selaku brass knuckle darurat. Bagaikan pernyataan lantang, "kalau Azrax bisa memakai lampu taman, mengapa model seksi tak boleh mempersenjatai diri dengan kulit duren?". Bukan bentuk kamuflase canggih macam James Bond dengan pistol pena. Kulit duren asli (at least di konteks filmnya) yang tidak sengaja jatuh di depan sang model. Bagaimana cara memasang kulit duren di tangan? Go figure. Terpenting adalah itu kulit duren.
Di samping kedahsyatan kulit duren, sejatinya Helfi cukup baik membawakan tempo. Hanya berdurasi 73 menit, filmnya enggan berbasa-basi, bergerak cepat membawa penonton pada latihan keras nan ajaib yang sanggup menyulap model jadi agen rahasia tangguh selama tiga hari. Sempat melambat kala Kolonel John dan Kapten Dalton (Gibran Marten) tergugah jiwa kelaki-lakiannya dan mulai merayu dua model di malam hari, tapi itu tak lama. Berikutnya alur telah melompat ke eksekusi misi yang mengandalkan pemandangan gadis-gadis mengenakan beragam baju seksi (tank top, sport bra, apa pun), berpeluh, berdarah-darah, menghajar kawanan teroris sampai sederet jawara unggulan.
Eksekusi aksinya tak buruk. Paling tidak gerak shaky kamera Nofi Kardit cukup menutupi kemampuan bela diri terbatas jajaran cast-nya. Pun soal melakoni baku hantam, kesepuluh model kita berjuang sekuat tenaga dalam gerak dan ekspresi. Sayang third act-nya berlangsung terlampau panjang, menjadikan berbagai momen highlight khususnya kebrutalan berhiaskan banjir darah menjelang akhir tergerus dampaknya. It could be more fun with shorter yet more impactful finale. Demikian pula keseluruhan film yang berpotensi jauh lebih menghibur andai Helfi Kardit bersedia lebih sering lagi merayakan kebodohan mengasyikkan b-movie. Masih cukup ruang bagi kemunculan ikonik kulit duren. All hail brass-knuckle-made-of-durian-skin!
Juli 29, 2017
Action
,
Gibran Marten
,
Helfi Kardit
,
Indonesian Film
,
Jeremy Thomas
,
Karenina Anderson
,
Kurang
,
Nofi Kardit
,
REVIEW
,
Roy Marten
ULAR TANGGA (2017)
Rasyidharry
"Ular Tangga" punya bekal mencukupi untuk menjadi suguhan horor menarik. Premisnya unik. Keterlibatan Shareefa Daanish pasca lima tahun absen bermain film juga menjadi daya tarik. Fakta di balik layar lain turut pula menyita perhatian, yaitu mengenai Wilson Tirta, produser eksekutif sekaligus pendiri Lingkar Film selaku rumah produksi bagi "Ular Tangga" yang masih berusia 14 tahun, menjadikannya produser film Indonesia termuda. Tidak heran jika gemerlap industri film menarik minat wiraswasta muda ini. Ide cerita Wilson sempat ditawarkan pada Jujur Prananto, namun batal karena proses penulisan naskah Jujur dianggap terlalu lama. Rupanya ini pangkal permasalahannya.
Ketidaksabaran Wilson mendorongnya berpaling pada Mia Amalia ("Luntang Lantung", "Inikah Rasanya Cinta?"). Sedangkan bangku penyutradaraan diisi Arie Azis ("Oops!! Ada Vampir", "Penganten Pocong", "Rumah Hantu Pasar Malam"). Oh Tuhan, mendadak proyek ini terasa mengkhawatirkan. Apakah hasrat mempercepat proses produksi berujung mengesampingkan kualitas? Menengok hasil akhirnya, kecurigaan tersebut jelas beralasan. Bayangkan saja, anda menyaksikan film berjudul "Ular Tangga" lalu mendapati amat minimnya kontribusi permainan itu. Ibarat makan sate ayam dengan porsi daging ayam sangat sedikit. Atau nasi goreng tanpa nasi. Wajar bila sebagai konsumen saya berang, merasa tertipu.
Alkisah, Fina (Vicky Monica) kerap mengalami mimpi buruk yang dicurigainya merupakan pertanda atas kejadian masa depan. Rasa penasaran membuat Fina membaca buku "The Interpretation of Dreams" milik Sigmund Freud sembari berkonsultasi pada seorang dosen (Roy Marten). Saya enggan menyalahkan kebodohan pada film horor mengingat tujuan utamanya adalah menakut-nakuti. Ketidaktepatan ilmu maupun lubang logika bisa dimaklumi. Namun kengawuran "Ular Tangga" sudah kelewatan, menunjukkan kedunguan hasil ketidakpedulian penulisnya. Menyatukan fantasi, mistis, reliji dan sains dalam horor itu lumrah. Namun harus ada poin yang dijadikan pegangan. Seseorang bisa membuat cerita didasari sains lalu melebarkan semaunya berbasis imajinasi ke ranah lain, pun sebaliknya.
Fokus gambar kerap menyoroti buku "The Interpretation of Dreams" tapi jelas teori Freud (hasrat terpendam, bawah sadar, masa lalu) bukan penopang cerita. Bahkan, setelahnya unsur mimpi tak lagi muncul, beralih sepenuhnya ke mistis. Aneh pula kala Roy Marten selaku dosen awalnya berteori soal sisi terpendam manusia lewat kalimat yang bak dikutip mentah-mentah dari Wikipedia sebelum tiba-tiba bicara tentang ilmu lebur sukma, lalu berganti lagi membicarakan agama. Kenapa seorang dosen menggunakan istilah "lebur sukma" ketimbang "astral projection" yang mana lebih scientific? Koreksi jika salah, tapi setahu saya lebur sukma bukan (semata-mata) ajian mengeluarkan roh seseorang dari tubuhnya.
Tapi sudahlah. Terserah. Semua itu tak penting asal "Ular Tangga" sanggup menghibur. Kembali ke cerita, Fina dan rekan-rekan pecinta alamnya tengah bersiap mendaki Gunung Barong walau ia merasakan firasat buruk. Di tengah pendakian, mereka tak menghiraukan larangan Gina (Shareefa Daanish) sang guide melewati sebuah jalur, dan bisa diduga, teror pun menghampiri. Hantu-hantu bermunculan, ditambah misteri tentang ular tangga berbahan kayu yang terkubur di bawah pohon besar. Mari lupakan fakta betapa bodohnya para tokoh melanggar pesan sosok yang paham seluk beluk daerah setempat. Mana ada pecinta alam berpengalaman melakukan itu? Kenapa pula pecinta alam nekat mengambil barang misterius di suatu tempat apapun alasannya? Lagi-lagi saya bermurah hati memaafkan kelalaian tersebut.
Film ini jadi tak termaafkan ketika permainan ular tangga urung dimanfaatkan. Setelah menanti sekitar 35 menit, daripada hybrid petualangan fantasi dan horor, papan ular tangga hanya dijadikan jalan menghilangkan satu per satu karakter. Setiap dadu bergulir, terjadi gempa, kemudian seseorang hilang. Begitu seterusnya, menciptakan pola berikut:
Lani menggelindingkan dadu
"Hah? Lani hilang! Ke mana Lani?!"
"Lani! Lani!"
Mereka mencari Lani.
Dodoy menggelindingkan dadu.
"Hah? Dodoy hilang! Ke mana Dodoy?!"
"Dodoy! Dodoy!"
Mereka mencari Dodoy.
Bagas menggelindingkan dadu.
"Hah? Bagas hilang! Ke mana Bagas?!"
"Bagas! Bagas!"
Rasa takut juga gagal dipancing akibat penampakan hantu medioker serta hanya satu jump scare berhasil mengejutkan selama 94 menit durasi. Kengerian semakin nihil akibat kerap tak sesuainya pemilihan lagu. Paling menggelikan kala nomor pop balada "Memori Indah" milik Achie membungkus momen mendekati akhir yang diniati emosional tetapi berujung memancing tawa. Ending-nya berpotensi memuaskan (tipikal tragic cliffhanger khas horor) kalau bukan karena tambahan satu adegan yang memaksakan twist sembari berusaha menambah porsi Shareefa Daanish. Ya, jika anda tertarik menonton "Ular Tangga" karena keberadaan sang aktris, urungkan niatan tersebut. Shareefa hanya muncul di awal dan akhir dengan signifikansi minim serupa board game-nya. Padahal kalau ada yang bisa menyelamatkan "Ular Tangga", Shareefa Daanish orangnya.
Ticket Sponsored by: Bookmyshow ID & Indonesian Film Critics
Maret 12, 2017
Arie Azis
,
horror
,
Indonesian Film
,
Mia Amalia
,
REVIEW
,
Roy Marten
,
Sangat Jelek
,
Shareefa Daanish
,
Vicky Monica
Langganan:
Postingan
(
Atom
)


















