Tampilkan postingan dengan label Josh Brolin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Josh Brolin. Tampilkan semua postingan

REVIEW - DUNE

Suguhan sci-fi Hollywood terbagi dua, yakni blockbuster berbujet raksasa dan proyek indie/arthouse minimalis. Sesekali muncul varian lain, namun jumlahnya tak cukup banyak untuk menghasilkan kubu ketiga. Monoton. Lalu datanglah adaptasi layar lebar kedua bagi novel Dune karya Frank Herbert ini. 

Versi Denis Villeneuve ini sama sekali berbeda dibanding buatan David Lynch (1984), yang lebih dikenal karena konflik di balik layar. Disokong kucuran dana yang cukup untuk memproduksi film MCU (165 juta dollar), Dune memiliki tubuh blockbuster, namun berjiwa arthouse. Mungkin cuma 2001: A Space Odyssey (1968) yang mendekati bentuk Dune, sebagai sci-fi artsy berbiaya tinggi (92 juta dollar jika dikonversi ke nilai sekarang). 

Tapi ini bukan sikap pretensius. Menulis naskahnya bersama Eric Roth (A Star Is Born, Mank) dan Jon Spaihts (Prometheus, Doctor Strange), Denis Villeneuve mengedepankan unsur spiritual pada tuturannya. Seperti para sineas arthouse terbaik, ia punya ketajaman rasa, guna menautkan proses batin manusia dengan semesta. Bahwa keduanya, meski berukuran amat berbeda, saling terhubung. Karenanya, berbagai shot berisi lanskap luas, maupun pesawat luar angkasa raksasa yang membuat manusia tampak kerdil, bukan sebatas pameran keindahan. Efek visualnya luar biasa. Megah sekaligus tampak nyata, namun bakal jadi percuma bila tanpa visi, yang mana dimiliki sang sutradara.

Kaitan terbesar antara alam dan manusia hadir lewat rempah bernama melange. Terdapat di planet gersang bernama Arrakis, melange punya beraneka fungsi, mulai dari memperpanjang umur, memaksimalkan kekuatan pikiran, hingga memungkinkan terjadinya perjalanan dengan kecepatan cahaya. Menguasai melange sama artinya menguasai semesta.

Terlalu panjang dan rumit bila harus menjelaskan detail mitologi Dune, tapi intinya, atas perintah penguasa semesta yang dipanggil "Emperor", kaum Atreides di bawah kepemimpinan Leto Atreides (Oscar Isaac), diberi tugas mengelola melange menggantikan Harkonnen yang dipimpin Baron Vladimir Harkonnen (Stellan Skarsgård). Apabila Harkonnen bertindak semena-mena pada para Fremen (suku asli Arrakis) Leto ingin menjalin kerja sama secara damai. Tentu tidak berjalan mulus, sebab tanpa ia tahu, ada konspirasi di balik penunjukkan Atreides untuk mengurusi melange.

Timothée Chalamet memerankan Paul Atreides, putera hasil hubungan Leto dengan selirnya, Lady Jessica (Rebecca Ferguson). Belakangan, pikiran Paul tengah diganggu oleh kemunculan mimpi mengenai Arrakis dan gadis Fremen misterius (Zendaya). Mimpi yang lebih terasa seperti gambaran masa depan ketimbang bunga tidur biasa. 

Selain aura sendu yang tepat mewakili atmosfer film, rasanya perawakan Chalamet juga jadi alasan ia dipilih. Tubuhnya kecil. Kurus. Bukan sosok yang bakal dipandang sebagai jagoan oleh orang-orang. Melihatnya berdiri di antara bentangan alam masif, menggambarkan betapa tak berdayanya manusia di hadapan semesta. 

Paul sendiri memang tak berdaya. Setidaknya di awal, sebelum ia mampu memaksimalkan potensinya. Bukan hanya potensi fisik hasil latihan bersama Gurney Halleck (Josh Brolin), sebab sang ibu, selaku anggota Bene Gesserit (perkumpulan wanita yang melatih tubuh dan mental agar dapat mendobrak batas-batas manusia), turut mengajari cara memakai "voice". Sebuah kekuatan mengontrol bawah sadar seseorang melalui warna suara. 

Ketika kita pertama melihat Paul menggunakan kekuatannya, Villenueve menyelipkan beberapa shot yang menampilkan hal-hal di dekat Paul. Walau kekuatan itu tidak mempengaruhi kondisi di sekitar, shot-shot itu bukannya tanpa fungsi. Seolah Villeneuve menegaskan bahwa alam memegang peran dalam kemampuan super tersebut. 

Semakin jauh alur bergerak, semakin kita mendapati dampak eksploitasi terhadap alam. Alih-alih mencari harmoni, keserakahan para penguasa yang berhasrat memonopoli melange menghadirkan kehancuran juga pertumpahan darah. Baik alam maupun manusia sama-sama musnah. 

Di situlah muncul kisah mengenai juru selamat. Seorang messiah/mahdi. Orang-orang Fremen menyebutnya "Lisan al Gaib". Bisa ditebak, ada unsur religi di sini (banyak Islamic undertones), di luar perihal politik, tirani, dan lingkungan. Mitologinya memang amat kompleks, sehingga durasi 155 menit dan pemecahan menjadi dua film dapat dijustifikasi. Terkesan rumit di awal, namun berkat penceritaan rapi yang tahu kapan harus mulai menyuplai informasi baru, seiring waktu, labirin mitologinya bakal mudah ditelusuri.

Kelemahan Villeneuve hanya soal mengarahkan perkelahian jarak dekat. Biarpun mempunyai nama-nama seperti Jason Momoa sebagai Duncan Idaho si jago pedang dari Atreides dan Dave Bautista sebagai Giossu Rabban yang merupakan keponakan Baron Harkonnen, deretan aksi adu pedang maupun tangan kosong milik Dune tampil tak bertenaga. Pilihan angle Villeneuve pun cenderung canggung, juga kerap menyulitkan kita untuk mencerna apa yang sedang terjadi. 

Untunglah Dune bukan sci-fi sarat aksi, sehingga kelemahan di atas tidak begitu mengganggu. Bagi sebagian penonton, mungkin minimnya aksi (pun membagi cerita menjadi dua bagian membuat Dune usai sebelum mencapai klimaks), durasi panjang, juga tempo lambatnya, membuat film ini kurang bersahabat. Tapi jika bisa menerima itu, bersama keindahan visual dan iringan musik atmosferik gubahan Hans Zimmer (karya terbaik sang komposer dalam beberapa tahun terakhir), anda akan mendapati suguhan sci-fi, yang mendefinisikan "epik" bukan cuma lewat skala cerita yang kasat mata, pula di ranah perenungan spiritual serta rasa.  

AVENGERS: ENDGAME (2019)

(JANGAN MEMBUKA KOLOM KOMENTAR KALAU BELUM MENONTON. 
IT'S A WILD JUNGLE FULL OF SPOILERS THERE!)
Merasa Infinity War merupakan keberhasilan mengeksekusi kemustahilan? Tunggu sampai anda menyaksikan sekuelnya. Marvel Cinematic Universe (MCU) adalah soal kesabaran dalam perencanaan. Total 21 film selama hampir 11 tahun dihabiskan demi membangun kisah, yang dibayar lunas lewat kulminasi epik bernama Avengers: Endgame. Hampir seluruh guratan emosi maupun pertarungan masif miliknya, berpijak pada pondasi yang disusun sekian lama. Begitu film usai (kali ini tanpa post-credits scene) wajar saat penonton bertepuk tangan melihat jajaran kredit, khususnya enam anggota “asli” Avengers.

Karena seperti telah dikonfirmasi, salah satu tujuan Endgame adalah memberi penghormatan bagi perjalanan yang telah dilalui Tony Stark (Robert Downey Jr.), Steve Rogers (Chris Evans), Thor (Chris Hemsworth), Bruce Banner (Mark Ruffalo), Natasha Romanoff (Scarlett Johansson), dan Clint Barton (Jeremy Renner). Saya takkan membocorkan sedikit pun poin plot, kecuali bahwa bersama nama-nama lain yang tidak menjadi debu, mereka berusaha memulihkan akibat perbuatan Thanos (Josh Brolin).

Melanjutkan atmosfer konklusi Infinity War, film ini dibuka dengan melankoli. Bahkan dibanding judul keluaran Marvel Studios lain, selama 181 menit durasinya, Endgame punya proporsi drama terbesar, tatkala duo penulis naskah, Christopher Markus dan Stephen McFeely (The Winter Soldier, Civil War, Infinity War), memilih banyak menggulirkan studi karakter, khususnya proses coping jagoan-jagoan kita pasca tragedi jentikkan jari Thanos. Beberapa menolak menyerah, beberapa tenggelam dalam amarah, ada pula yang coba meneruskan langkah.

Hal di atas bukan sebatas pernak-pernik. Di sinilah penanaman benih selama satu dekade menuai hasil. Kita mengenal karakternya, terikat pada mereka, sehingga memahami keputusan serta respon emosional yang muncul. Berkatnya, paparan dramatik Endgame pun menyentuh ranah detail, di mana tiap gestur, ekspresi, juga baris kalimat pendek, menyimpan makna kaya rasa, yang seringkali merujuk pada peristiwa film-film sebelumnya. Dan semuanya mustahil diraih tanpa kegemilangan jajaran pemain.

Chris Evans, Scarlett Johansson, Jeremy Renner, Mark Ruffalo, hingga Karen Gillan membuktikan diri telah melebur dengan sosok peranan masing-masing, sementara kepiawaian memadukan talenta komedi dan dramatik dipamerkan oleh Chris Hemsworth dan Paul Rudd (that “running scene” is really heartbreaking). Tapi bintang utamanya tetap sang maskot: Robert Downey Jr. Melalui performa yang layak diganjar nominasi Oscar, secara meyakinkan ia tunjukkan konflik batin seorang pahlawan yang dihantui kegagalan dan kehilangan. Apabila Infinity War menggiring Tony menuju tantangan fisik dalam pertarungan satu lawan satu menghadapi Thanos, maka Endgame memberinya ujian psikis terberat.

Ini memang cerita di mana status “pahlawan” para jagoannya diuji, kala pengorbanan mesti dilakukan dan egoisme bukan pilihan. Ketimbang melawan Thanos, Endgame cenderung menonjolkan pertarungan Avengers melawan musuh lain: diri mereka sendiri. Terdengar kelam, namun tak pernah depresif, mengingat jalinan humor tetap dapat ditemukan, yang penempatannya memperhatikan presisi, sehingga alih-alih mendistraksi, kita justru bakal dibuat tertawa sembari meneteskan air mata atau terpaku dalam cengkeraman ketegangan. Menyenangkan pula menyaksikan tokoh-tokoh yang baru bertemu seperti Nebula (Karen Gillan), Rhodey (Don Cheadle) dan Scott Lang (Paul Rudd) saling bertukar interaksi kasual.

Di samping deretan drama humanis, spektakel utama Endgame tetaplah soal mencari jalan “membatalkan” perbuatan Thanos. Beragam teori membanjiri internet. Beberapa jadi kenyataan, namun banyak kejutan masih tersimpan rapat. Akan sulit mempersiapkan hati menyaksikan kecerdikan Markus dan McFeely menyulap petualangan Avengers menjadi penghormatan bagi mereka, dengan membawa kita mengunjungi kumpulan momen (plus sosok) familiar, sementara karakternya coba berdamai dengan permasalahan silam yang belum usai.

Puncaknya adalah pertempuran epik yang menebus perencanaan jangka panjang Marvel Studios. Semua shared universe, tidak peduli dalam media apa pun, bermimpi mencapai titik ini. Russo Bersaudara mengangkangi pencapaian di Infinity War lewat kesuksesan memproduksi salah satu set piece terbesar dan tergila penuh momen fan service, yang berkat tangkapan kamera sang sinematografer langganan, Trent Opaloch, banyak menampilkan heroic money shot. Alhasil, tiap individu memperoleh kesempatan bersinar meski hanya sejenak, termasuk jajaran jagoan wanita. Walau mengharapkan porsi lebih bagi Captain Marvel (Brie Larson), saya bisa memaklumi mengingat Endgame mengutamakan pemberian spotlight untuk keenam anggota asli Avengers.

Belum cukup mendengar pujian? Tunggu sampai anda mendapati keberhasilan Endgame memberi konklusi yang pantas terhadap seluruh konflik personal menahun yang karakternya hadapi, sembari tak lupa menebar petunjuk terkait masa depan. Mungkin anda tak menganggap Avengers: Endgame sempurna, namun jika pulang tanpa merasakan kepuasan, mungkin film blockbuster memang bukan untuk anda.

SICARIO: DAY OF THE SOLDADO (2018)

Sicario pertama (2015) bicara soal “sosok putih”, agen FBI bernama Kate Macer (Emily Blunt), yang mempelajari realita abu-abu setelah ditampar keras oleh ambiguitas moral di mana hukum tak berlaku. Pada sekuelnya, giliran dua sosok “penampar” Kate lah yang mendapati bahwa ketiadaan hukum mereka pun nampak bersih di hadapan intrik kotor politik internasional. Di satu kesempatan, agen CIA Matt Graver (Josh Brolin) menyuarakan kejengahannya pada sang atasan, Cynthia Foards (Catherine Keener), bahwa langkah yang diambil pemerintah takkan mengubah apa pun. Respon Cyhnthia membuat Matt, si prajurit brutal nihil aturan tampak bak bocah naif.

Ada pula dua muda-mudi terlibat dalam konflik: Isabela Reyes (Isabela Moner), puteri bungsu seorang pimpinan kartel Meksiko yang di sekolahnya bisa bersikap layaknya bos mafia tanpa takut tersentuh hukuman guru, dan Miguel Hernandez (Elijah Rodriguez), remaja Meksiko-Amerika yang ingin menjadi kriminal. Seperti Kate di film pertama, Isabela dan Miguel bagai domba, tapi di sini, domba-domba itu berlagak layaknya serigala, hingga akhirnya nasib mempertemukan mereka dengan kawanan serigala sungguhan yang tengah berperang. Apakah domba-domba ini akan jadi mangsa, kembali ke habitatnya, atau bertransformasi menjadi predator pula? Konklusinya memberi siratan cukup jelas bagi arah lingkaran kehidupan yang bakal mereka tempuh.

Day of the Soldado membahas dua pokok persoalan yang belakangan makin kerap menyulut kontroversi, khususnya di Amerika, yakni serbuan teroris asing serta imigran. Tapi Taylor Sheridan (Sicario, Wind River, Hell or High Water) yang masih menulis naskahnya tak tertarik menjabarkan “Apa yang seharusnya dilakukan?”, melainkan “Apa yang selama ini sudah dilakukan dari di balik layar”. Setidaknya menurut perspektif Sheridan, yang membuka filmnya langsung lewat hantaman mencekat dan menegangkan berupa aksi bom bunuh diri. Sayang, ketegangan di tingkatan setara gagal terulang di sisa durasi. Kementrian Pertahanan mengutus Matt guna menutup jalur para terors yang diselundupkan oleh kartel di Meksiko.

Taktik adu domba diterapkan. Kembali dibantu Alejandro (Benicio del Toro), Matt menculik puteri pimpinan kartel, Isabela, lalu mengaturnya agar tampak seperti perbuatan kartel saingan. Tujuannya agar kedua belah pihak saling menghancurkan tanpa perlu campur tangan pemerintah Amerika, yang nantinya diharapkan memutus mata rantai terorisme. Meski jika ditanya mengenai definisi terorisme, Matt menjawab, “Tugas Menteri Pertahanan untuk menyematkan definisi itu ke siapa”. Di sini Sheridan tengah menyentil tentang Amerika, sang negeri adidaya, mampu pengelompokkan “si baik” dan “si jahat” sesuai kepentingan mereka.

Artinya, ambiguitas pendahulunya masih dipertahankan. Sheridan menegaskan ketiadaan kepastian soal siapa kawan maupun lawan, yang diwakili suatu momen yang ia tulis secara cerdas tatkala Isabela berhasil “diselamatkan” dari kurungan penculik. Tapi tidak semua momen tampil secerdik itu. Ada kalanya rencana Sheridan pintar, ada kalanya tidak masuk akal. Atau mungkin di dalam imajinasinya, itu masuk akal, hanya saja, akibat kebencian Sheridan terhadap eksposisi (diakuinya sendiri), banyak poin terkesan membingungkan. Bahkan lebih membingungkan ketimbang film pertama karena kali ini konspirasi bertambah rumit seiring skala yang turut membesar, juga melibatkan lebih banyak pihak. Kadang kebingungan tersebut mempengaruhi intensitas.  

Untung penyutradaraan Stefano Sollima (Suburra) solid. Mengusung tempo lebih cepat, toh kita tetap bisa menemukan pergerakan kamera yang melayang lambat khususnya dalam establishing shot, yang mengingatkan akan gaya Denis Villeneuve. Masih dipertahankan pula musik atmosferik nan menghantui, walau departemen musik sekarang ditangani Hildur Guðnadóttir, menggantikan mendiang Jóhann Jóhannsson. Tidak mengherankan, sebab keduanya pernah berkolaborasi di Mary Magdalene (2018), dan Guðnadóttir pernah memainkan cello dalam Arrival (2016) yang musiknya digubah Jóhannsson. Sayang, meski tetap sedap dipandang, sinematografi Dariusz Wolski (The Martian, Prometheus) nyatanya tak seindah karya Roger Deakins.

Tidak ada Emily Blunt yang kehadirannya berfungsi sebagai kacamata penonton mengintip kerasnya dunia kriminalitas, namun Day of the Soldado masih punya Josh Brolin dan Benicio del Toro, dua aktor yang mampu menebarkan aura machismo cukup dengan duduk diam atau bertutur secara kasual. Karakter peranan del Toro memperoleh story arc bersifat personal selaku lanjutan film pertama, yang lagi-lagi Cuma berujung sempilan di tengah tanpa dampak emosi. Tidak ada pilihan lain. Apabila Sheridan begitu getol ingin menguatkan elemen drama di sekitar Alejandro, ia membutuhkan filmnya sendiri. Sementara Brolin memantapkan status sebagai “actor of the year”. Pasca Thanos, Cable, lalu Matt, pesan yang muncul jelas: “Jangan macam-maca dengan Josh Brolin!”.

Konklusinya membuka lapang beragam kemungkinan untuk kisah masa depan andai seri Sicario dilanjutkan. Kemungkinan yang rasanya nyaris tidak berujung mengingat kriminalitas dan konspirasi politik merupakan jalur utamanya. Tapi di waktu bersamaan, konklusi tersebut melucuti gambaran kerasnya dunia gelap milik seri Sicario, di mana semestinya tak ada pihak yang aman dalam tempat sekelam nan semematikan ini. Sicario: Day of the Soldado tidak se-memorable pendahulunya, tidak pula mengandung teror yang sama kuatnya, tetapi sebagai sajian aksi/thriller semata, Day of the Soldado memberikan cengkeraman cukup kencang.

DEADPOOL 2 (2018)

Deadpool alias Wade Wilson (Ryan Reynolds) tidak bisa mati, bahkan ketika ledakan membuat seluruh bagian tubuhnya berhamburan seperti tampak pada adegan pembuka. Dia bisa tanpa ragu menerjang markas Yakuza maupun mafia berbahaya mana pun. Pasca film pertama, seolah segalanya menjadi mudah bagi Wade yang kini berprofesi sebagai pembunuh bayaran pengincar kepala para kriminal di seluruh dunia. Rupanya tidak semudah itu. Dia kebal dan “tak tersentuh”, tapi tidak demikian dengan orang-orang di sekitarnya. Berpijak pada gagasan itu, Deadpool 2 mengangkat cerita yang amat mewakili rasa buku komik. Saya tak bisa mengungkapnya, tapi jika anda familiar dengan komik pahlawan super, anda tahu aspek mana dalam hidup mereka yang tersulit, bahkan tidak jarang tragis.

Di balik segala guyonan semau sendiri serta olok-olok terhadap nuansa gelap film DC, Deadpool 2 sejatinya mengusung kisah kelam. Tidak hanya bagi Mr. Pool, juga Russell Collins (Julian Dennison), si mutan muda berkekuatan api, dan Cable (Josh Brolin), mantan prajurit yang datang dari masa depan guna membunuh Russell. Dua wajah berlawanan itu turut ditampakkan oleh performa Ryan Reynolds. Mengenakan topeng Deadpol, ia tampil jenaka, layaknya penampil yang mampu melakukan apa pun, membuat gestur apa saja. Tanpa topeng, sebagai Wade Wilson, meski tetap ada kekonyolan, Reynolds menyuntikkan sisi melankolis tragis dalam diri Wade.
Biasanya dari sini saya akan mengulik satu per satu elemen cerita filmnya, tapi Deadpool 2, dengan kadar kejutan tak kalah dibanding Avengers: Infinity War menyulitkan itu dilakukan. Satu hal yang perlu anda ketahui, bahwa ada banyak kejutan bertebaran, baik berbentuk poin plot, kemunculan dan kematian karakter (so many hilarious death scenes), serta beberapa cameo termasuk kemunculan sekejap mata seorang bintang ternama. Belum termasuk empat mid-credit scenes—dengan tiga adegan terakhir dirangkum jadi satu—yang membuktikan kreativitas gila Ryan Reynolds selaku penulis naskah bersama Rhett Reese dan Paul Wernick.

Karena sulit mengulas alur, mari membahas suguhan aksinya. Memiliki David Leitch di kursi penyutradaraan, meski koreografinya tak sekompleks karya-karya Leitch sebelumnya (John Wick, Atomic Blonde), beberapa porsi laga, khususnya saat mengeksploitasi kegarangan Josh Brolin sebagai Cable, acap kali mengundang decak kagum. Tidak kalah mencuri perhatian yakni Zazie Beetz sebagai Domino si mutan penuh keberuntungan. Beetz adalah talenta langka. Punya fisik atraktif, berkarisma dan tampak tangguh kala melakoni aksi, namun piawai melucu. Apabila suatu hari nanti ada usaha membangkitkan blaxploitation lewat remake judul-judul klasik macam Foxy Brown dan Coffy, Beetz mestinya jadi pilihan utama.
Untuk Deadpool sendiri, Leitch memanfaatkan ketidakmampuan si tokoh meregang nyawa guna memoles aksi kreatif. Dia bisa mencekik musuh dengan lengannya sendiri yang patah, terpotong tubuhnya menjadi dua, sampai hancur berkeping-keping tapi masih sempat mencela Wolverine.  Dia bisa melakukan semua hal kecuali tutup mulut. Dan satu hal yang filmnya tak bisa lakukan adalah berhenti menggila, berhenti melontarkan lelucon-lelucon meta. Deadpool 2 enggan membiarkan satu pun pihak lolos dari caci maki, termasuk Rob Liefeld, sang kreator tokoh Deadpool, Cable, dan  X-Force, yang konon tidak bisa menggambar kaki (silahkan googling “Rob Liefeld’s feet). Kegilaan non-stop adalah keputusan tepat, kecuali pada first act, sekitar 10-15 menit awal ketika penonton—setidaknya saya—masih butuh waktu menyesuaikan diri.

Dari Only Time milik Enya yang syahdu, Bangarang-nya Skrillex yang menjadikan perkelahian Deadpool melawan Cable semakin keren, hingga Ashes milik Celine Dion selaku pengiring intro ala James Bond, jadi bukti betapa kegilaan dan daya kejut Deadpool 2 ikut menular ke soal pemilihan musik. Siapa sangka juga versi akustik mellow dari Take on Me dapat terdengar luar biasa manis? Atau lebih tepatnya, siapa sangka film seperti Deadpool 2 mampu tampil manis, romantis, menyentuh, setidaknya di bagian penutupnya? I can’t believe I’m saying this, but yes, I cried watching Deadpool 2!   

AVENGERS: INFINITY WAR (2018)

Avengers: Infinity War bukanlah film pahlawan super pertama yang mencoba menerjemahkan crossover event dari buku komik ke layar lebar. Marvel Studios sendiri telah berulang kali melakukannya sejak The Avengers sampai Captain America: Civil War. Tapi baru Infinity War yang benar-benar memberi definisi sempurna, menontonnya menghadirkan perasaan serupa membaca crossover event. Fakta bahwa filmnya berjalan lancar merupakan buah kesabaran Kevin Feige dan tim membangun puluhan karakter beserta universe luas selama satu dekade lewat 19 film. Tanpanya, ditambah beberapa kekurangan yang tak bisa dihindari, Infinity War bakal berujung kekacauan besar yang mudah terlupakan. This is one of a kind.

Kalau familiar dengan komik superhero, tentu anda pernah menikmati crossover event seperti Infinity Gauntlet, Civil War, Secret Wars, dan lain-lain. Sedikit penjabaran bagi non-pembaca, sebuah even memiliki seri utama yang menuturkan konflik utama pula. Sebagai pengiring, dirilis tie-ins yang mengetengahkan kisah sampingan maupun detail peristiwa yang menimpa masing-masing tokoh. Bagi pembaca komik yang tak terlalu akut seperti saya, demi menghemat waktu, rasanya pernah melewatkan tie-ins dan langsung menyantap seri utama. Alhasil, garis besar cerita tetap bisa dipahami, namun terasa betul ada detail yang terlewat, emosi yang tak maksimal, atau kejadian yang sekelebat lalu. Inifnity War tampil demikian, sehingga bagi penonton yang asing dengan pengalaman membaca seperti itu, mungkin bakal tersisa ketidakpuasan.
Tapi jangan khawatir. Russo Brothers (The Winter Soldier, Civil War) paham betul bagaimana menampilkan momen-momen yang akan terus dikenang hingga tahun-tahun ke depan, dari kemunculan karakter dan aksi keren yang mampu memancing gemuruh tepuk tangan (ketika saya menonton sekitar 4-5 kali tepuk tangan penonton pecah) sampai perasaan tersentak mendapati jagoan-jagoan kita ditempatkan pada bahaya yang belum pernah mereka alami. Dibantu penataan kamera Trent Opaloch yang sudah berkolaborasi bersama Russo Brothers sejak The Winter Soldier, rentetan gambar ikonik pun diciptakan. Tapi sejak awal, tantangan terbesarnya adalah menyatukan sekian banyak tokoh dengan sekian banyak cerita. Dan duo penulis naskah Christopher Markus dan Stephen McFeely menyanggupi tantangan itu.

Avengers dibagi beberapa kelompok. Tim Iron Man (Robert Downey Jr.) menanti Thanos di Planet Titan, kampung halamannya, Captain America (Chris Evans) bersatu dengan Black Panther (Chadwick Boseman) guna menghadapi invasi keempat Black Orders yang menyebut diri sebagai anak-anak Thanos, Thor (Chris Hemsworth) bersama Rocket (Bradley Cooper) dan Groot (Vin Diesel) berusaha menciptakan senjata untuk melawan si Titan Gila, sedangkan Star-Lord (Chris Pratt) memimpin Guardians melakukan serbuan dadakn. Markus dan McFeely melakukan apa yang mereka bisa, menyatukan segala sub-plot serapi mungkin dibantu penyuntingan Jeffrey Ford dan Matthew Schmidt yang menghasilkan transisi mulus. Saya bersyukur kedua penulis naskah tetap memasukkan komedi yang masih efektif memancing tawa, meski penulisan humor mereka belum setajam Gunn atau Waititi. Sebab dengan tokoh-tokoh seperti Guardians of the Galaxy dan Iron Man, sepenuhnya melucuti komedi adalah bentuk menyia-nyiakan potensi. Sebagaimana aliran alur, perpindahan tone pun berlangsung mulus. Sesuatu yang awalnya bak kemustahilan, seperti halnya kesuksesan Russo Brothers mempertahankan ciri masing-masing franchise, misalnya Guardians dengan musik dan celotehannya.
Satu hal pasti, Thanos (Josh Brolin) menjadi sentral segalanya. Enam tahun pasca kemunculan perdananya, Thanos mulai bergerak mengumpulkan Infinity Stones. Power Stone di Xandar, Space Stone yang diam-diam dibawa Loki (Tom Hiddleston), Time Stone di bawah perlindungan Doctor Strange (Benedict Cumberbatch), Reality Stone di koleksi The Collector (Benicio del Toro), Mind Stone yang menghidupkan Vision (Paul Bettany), dan Soul Stone yang keberadaannya masih jadi misteri. Berbagai teori mengenai letak batu terakhir bertebaran di internet, dan semuanya meleset. Bahkan setelah merilis dua trailer plus setumpuk klip promosi, Infinity War masih sanggup menyimpan kejutan, baik soal alur, bagaimana sebuah adegan aksi dieksekusi, dan tentunya kematian (dan kembalinya) karakter.

Bukan spoiler bila saya menyebut ada karakter yang meregang nyawa. Tanpa itu, sulit menegaskan status Thanos sebagai musuh besar yang kehadirannya sudah dibangun bertahun-tahun. Tapi bukan (cuma) itu alasan Thanos layak masuk jajaran villain terbaik MCU, melainkan keberhasilan menjadikan ia sosok dengan kepribadian. Thanos tidak sepenuhnya jahat. Ambisinya bukan menguasai atau menghancurkan dunia, namun menyeimbangkannya, atau kalau boleh disebut, menyembuhkannya. Thanos bukan monster tanpa perasaan. Ada sensitivitas terselubung yang mampu Josh Brolin salurkan lewat ekspresi. Begitu film berakhir, kehilangan serta kehancuran yang Thanos rasakan sama besarnya dengan para superhero. Dia sosok sedih yang gila. Kegilaan selaku produk kekacauan dunia dan bisa kita temukan di keseharian. Bedanya, orang-orang di dunia nyata dengan pola pikir serupa takkan gamblang mengutarakan pemikirannya, sebab mereka akan dianggap gila dan berbahaya. Terlebih lagi, tidak ada infinity stones dalam genggaman untuk merealisasikan niat itu.
Membicarakan enam infinity stones akan terasa problematik. Muncul ambiguitas terkait seberapa jauh kapasitas tiap-tiap batu. Untungnya, Russo Brothers memastikan setiap Thanos memamerkan kekuatan batunya, sekuen yang dikemas apik ikut mengiringi. Karena soal adegan aksi, tiada satu pun yang tersia-sia berkat koreografi menawan yang makin memikat saat Russo Brothers sering menampilkan para superhero bekerja sama sebagai tim, juga kesan mengancam yang senantiasa menggelayuti. Bahkan The Outriders yang menyerbu Wakanda di klimaks bukan pasukan alien lemah macam Chitauri. Walau sejenak, The Outriders mampu menekan Avengers sampai ke titik batas mereka. Pun kualitas CGI-nya sesuai dengan bujet $300-400 juta yang dikeluarkan. Banyak mengunjungi ragam lokasi luar angkasa, masing-masing planet—khususnya jika anda menyaksikan film ini dalam format IMAX 3D—terlihat meyakinkan.

Bermodalkan lingkup besar yang mencakup berbagai sudut alam semesta, konsekuensi yang dipertaruhkan, juga ending yang akan selalu lekat di ingatan, Infinity War memang terasa seperti pertempuran menuju akhir dunia, kulminasi yang sesuai setelah perjalanan satu dekade, tepatnya separuh dari itu. Ya, biar bagaimana, kesan film ini merupakan paruh pertama dari satu babak epic tetap tertinggal. Apabila merujuk gaya drama tiga babak, maka 19 film sebelumnya adalah first act, Infinity War bertindak sebagai second act, sebelum akhirnya Avengers 4 (Avengers: Endgame sepertinya judul yang pas), menjadi third act sekaligus penutup. Avengers: Infinity War, dengan tetap memperhatikan kelemahan-kelemahannya, telah mengubah peta perfilman superhero. Film-film berikutnya, termasuk rilisan Marvel Studios, akan berada di bawah bayang-bayang film ini. 


Ulasan versi vlog bisa ditonton di sini:

ONLY THE BRAVE (2017)

Pada era di mana banyak penjahat kemanusiaan menggenggam kekuasaan seperti sekarang, segala bentuk heroisme, tanpa peduli oleh siapa atau sekecil apa, patut diceritakan dan dirayakan. Only the Brave, yang menandai peralihan sutradara Joseph Kosinski dari gelaran fiksi ilmiah (Tron: Legacy, Oblivion) menuju paparan kepahlawanan lebih membumi termasuk salah satunya. Mengangkat kisah nyata tentang pemadam kebakaran hutan Granite Mountain Hotshots kala berjuang menaklukkan api di Yarnell pada 2013, film ini adalah penghormatan menggugah yang tak lupa memanusiakan objeknya.

Dipimpin oleh Eric Marsh (Josh Brolin), Granite Mountain Hotshots mengawali karir mereka dari trainee yang diremehkan, sampai akhirnya berkesempatan membuktikan kapasitas dan mendapat status elit (Hotshots). Turut bergabung belakangan adalah Brendan "Donut" McDonough (Miles Teller), mantan pecandu yang berniat memperbaiki diri pasca sang kekasih mengandung anaknya. Para pria pemberani ini memang tak sendiri. Keluarga, dari kekasih, istri, anak, orang tua, setia berdiri di samping memberi dukungan. Ini bukan saja soal memadamkan api, juga tentang orang-orang terkasih.
Itu sebabnya 133 menit durasi tidak cuma diisi aksi memadamkan api   yang terlihat meyakinkan berkat tata lokasi apik plus CGI tepat guna meski hanya punya bujet $38 juta   juga drama intim terkait keluarga, dengan penempatan fokus untuk Donut dan Eric, yang hidup berdua bersama istrinya, Amanda (Jennifer Connelly). Khususnya hubungan Eric-Amanda, naskah karya Ken Nolan (Black Hawk Down, Transformers: The Last Knight) dan Eric Warren Singer (American Hustle) cermat membangun konflik secara natural. Progres bergerak dari harmoni sepasang suami istri menuju perbedaan pandangan pemicu perdebatan yang disusun bertahap melalui rangkaian pembicaraan.

Akting memegang kunci keberhasilan interaksi. Melihat Brolin si pemimpin tangguh di lapangan bertukar dialog dengan Connelly yang menunjukkan kekuatan seorang wanita mandiri layaknya memasuki ruang personal yang mengikat. Demikian pula ketika dua aktor penuh kematangan, Brolin dan Jeff Bridges menghadirkan aliran perbincangan nikmat. Miles Teller dengan kelembutan non-verbal seperti saat memeluk sang buah hati ditambah luapan emosi yang menyesakkan dada di penghujung film berhasil mengimbangi seniornya. Begitu pula Taylor Kitsch sebagai MacKenzie beberapa kali memancing tawa, membuktikan ia punya jangkauan akting lebih luas.
Solidnya departemen akting dan naskah menutupi fakta bahwa Kosinski belum cukup jago menangani kehangatan situasi dalam drama, apalagi ketika terdapat selipan humor. Beberapa pengadeganan canggung hingga transisi kasar yang menyebabkan kurang lembutnya perpindahan tone. Untungnya, mencapai pertengahan lubang-lubang di atas tak lagi muncul. Narasi bergerak lancar menyatukan sensitivitas kisah kasih keluarga dan kepahlawanan sambil sesekali diselingi gelak tawa penyegar suasana. Kita dibuat mengenal betul para tokoh utama, yang mana jadi bekal menjelang klimaks.

Baik untuk penonton yang telah mengetahui konklusi kejadian nyatanya maupun yang belum, third act film ini sungguh mengobrak-abrik emosi. Selain kepedulian pada karakter, akhirnya penyutradaraan Kosinski menemukan taji, perlahan membangun ketegangan ketika misi pemadaman api di Yarnell yang awalnya dipandang mudah mulai mencuatkan satu demi satu rintangan bagi Granite Mountain Hotshots. Puncaknya yakni satu shot pasca kebakaran berlalu, yang berkat sinematografi Claudio Miranda (Life of Pi, Oblivion), mampu mencabik-cabik perasaan. Sebagaimana jasa Granite Mountain Hotshots yang selalu dikenang, shot tersebut takkan mudah hilang dari ingatan. Heartbreaking.