Tampilkan postingan dengan label Jennifer Connelly. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jennifer Connelly. Tampilkan semua postingan

REVIEW - TOP GUN: MAVERICK

Popularitas Top Gun tidak bisa disangkal. Merupakan film berpendapatan tertinggi sepanjang 1986 (meraup 357 juta dollar, atau sekitar 940 juta dollar jika dikonversi ke nilai sekarang), yang konon memicu lonjakan pendaftaran US Navy sampai 500%. Sebuah blockbuster khas 80an yang ringan, menghibur, cheesy, tapi sejujurnya, tidak luar biasa. Sekuelnya, Top Gun: Maverick yang menyusul 36 tahun berselang, adalah spesies berbeda. 

Menggantikan mendiang Tony Scott di kursi sutradara, Joseph Kosinski beralih dari parade CGI yang menyusun awal karirnya, dari beberapa iklan berbasis CGI hingga film-film macam Tron: Legacy (2010) dan Oblivion (2013), guna melahirkan salah satu sekuel terbaik sepanjang masa, yang melebihi pendahulunya di segala lini. 

Menit-menit awalnya bak reka ulang film pertama. Serupa, bukan cuma di adegan, pula teks intro yang memperkenalkan apa itu program Top Gun. Pete "Maverick" Mitchell (Tom Cruise) pun masih sama. Masih sosok biang masalah, juga masih berstatus kapten. Maverick menghindari peluang naik pangkat agar bisa terus menjadi pilot. Tepatnya pilot uji coba.

Sekuen aerial perdana hadir saat Maverick menguji coba pesawat dengan target mencapai Mach 10 (10 kali kecepatan suara). Di sinilah Kosinski memamerkan sentuhannya. Tentu sekuen tersebut intens dan bombastis. Tapi siapa menduga kalau di beberapa titik ia bakal meminimalkan suara, lalu fokus pada keindahan lanskap langit yang dibelah oleh jejak lesatan jet? Seolah Kosinski mengingatkan bahwa "terbang" merupakan keajaiban bagi umat manusia. 

Pada akhir film pertama, Maverick memutuskan bergabung sebagai instruktur Top Gun, yang ternyata cuma berjalan dua bulan. Mengajar bukan panggilan hidupnya. Tatkala teknologi makin berkembang, dan otomatisasi mulai menggeser pilot manusia, masih adakah tempat bagi Maverick? 

Jawaban datang setelah Top Gun memanggilanya lagi. Kali ini bukan untuk pelatihan biasa, melainkan persiapan menuju misi berbahaya. Begitu berbahaya, reaksi pertama Maverick adalah, "Tidak semua pilot bakal pulang dengan selamat". Langsung tampak perbedaan mendasar alur dalam naskah buatan Ehren Kruger, Eric Warren Singer, dan Christopher McQurrie dibanding Top Gun. Sejak awal, kita dan karakternya mengetahui keberadaan misi.

Masih dipenuhi latihan (termasuk olahraga di pantai, meski voli digantikan american football, dan tak lagi beraroma homoerotic), namun latihan di Maverick terasa lebih esensial. Penonton dibuat memahami detail strategi, pun semakin jauh latihan berlangsung, semakin meningkat kesulitannya, semakin pula kita merasakan betapa berbahaya misi tersebut. Apalagi saat melalui sekuen luar biasa intens, filmnya menegaskan kalau bahaya tidak hanya berasal dari peluru, rudal, atau radar musuh. Alam bisa sama, atau malah lebih mematikan.

Di ranah penokohan, naskahnya mengembangkan karakter Maverick tanpa harus mengubah jati diri. Masih nekat, penuh percaya diri, tapi lebih bisa meredam ego. Tetap ingin bebas, tapi mulai mendambakan tempat untuk pulang, yang diwakili oleh romansanya dan Penny (Jennifer Connelly), yang namanya sempat disinggung sekilas di film pertama (cara cerdik mengubah love interest si protagonis). 

Setelah terbang puluhan tahun, Maverick banyak mendapati kematian sesama pilot, termasuk sahabatnya, Goose (Anthony Edwards). Kematian mereka menyisakan duka di hati para orang tercinta. Tapi siapa yang akan kehilangan Maverick andai ia tiada? Maverick yang selama ini senantiasa "kehilangan", kini berusaha untuk "menemukan". 

Salah satunya menemukan kedamaian. Kematian Goose masih belum mampu ia lupakan. Terlebih, putera sang sahabat, Rooster (Miles Teller), tergabung dalam tim yang dilatihnya. Rooster sendiri menyimpan rasa benci terhadap Maverick. 

Elemen drama di atas dilakoni Cruise dengan amat baik. Saking seringnya menantang maut, banyak orang lupa bahwa Cruise adalah aktor bagus pemilik tiga nominasi Oscar. Sewaktu Maverick dan Iceman (Val Kilmer) terlibat obrolan soal "merelakan", jangkauan akting dramatik Cruise mencapai titik terbaiknya. 

Tapi mari lupakan tetek bengek penceritaan. Semua datang menonton demi dogfight bukan? Saya berani menyebut Top Gun: Maverick memiliki rangkaian dogfight terbaik yang pernah ditampilkan di layar lebar. Lebih megah, lebih kompleks, tapi menariknya, lebih mudah dicerna ketimbang film pertama (siapa melawan siapa, siapa ada di pesawat mana, dll.). 

Semua dogfight memukau, tapi third act-nya berada di tingkatan berbeda. Penuh manuver berbahaya serta aerobatics yang mendefinisikan "you won't believe it until you see it". Hell, even after you saw it, you won't believe that those are achievable. 

Kuncinya terletak pada efek praktikal. CGI dipakai secukupnya kala benar-benar dibutuhkan. Sedangkan sisanya, kamera milik Claudio Miranda selaku sinematografer, menangkap jet asli yang membelah angkasa. Realisme menguat berkat penempatan kamera di kokpit yang dioperasikan langsung oleh cast (mereka sungguh duduk di kursi penumpang dalam pesawat yang mengudara). 

Penceritaannya cenderung klise? Mungkin, tapi rasanya itu bukan perihal yang patut dikeluhkan. Apa perlunya mempermasalahkan keklisean, saat Top Gun: Maverick adalah blockbuster sempurna, dengan jajaran spektakel yang belum pernah ada sebelumnya. Bahkan selipan humornya juga efektif menambah daya hibur. Joseph Kosinski mengembalikan sinema blockbuster ke hakikatnya, yakni sajian yang membuat penonton menyaksikan, kemudian memercayai kemustahilan. 

ALITA: BATTLE ANGEL (2019)

Adaptasi dari manga Battle Angel Alita ini berlatar masa depan distopia, 300 tahun selepas peristiwa “The Fall” yang memporak porandakan hampir seluruh muka Bumi, menjadikannya tanah gersang, menyisakan Zalem, sebuah kota yang melayang di udara. Orang-orang punya semua alasan untuk bermuram durja, tapi jagoan kita, cyborg bernama Alita (Rosa Salazar), adalah gadis ceria dengan tatapan penuh kekaguman dan senyum yang senantiasa terkembang. Walau kerap tersudut, tak butuh waktu lama baginya bangkit dan terus melawan. Kapan terakhir kali blockbuster berlatar distopia memberi kita protagonis semacam itu?

Alita disusun ulang setelah Dr. Dyson Ido (Christoph Waltz) menemukan sistem intinya di tumpukan sampah. Ido merupakan ilmuwan penyedia reparasi gratis bagi para klien. Kebanyakan tokoh Alita: Battle Angel, entah berstatus kriminal, petarung, atau pemburu hadiah, telah mengganti bagian tubuh mereka dengan mesin.

Ido memberi Alita tubuh yang dahulu hendak diberikan kepada sang puteri, namun sayangnya ia tewas sebelum keinginan itu terwujud. Elemen ini menjadi basis kisah hubungan ayah-anak yang menyokong paruh pertama film, sekaligus membawa pesan bahwa walau “membuat” dan melahirkan, orang tua tak berhak menentukan identitas sang anak.

Meski kehilangan memori, Alita yakin jiwa petarung menetap dalam dirinya. Keyakinan itu terbukti kala ia menghajar habis beberapa kriminal berbahaya. Perlahan menyadari jalan hidupnya, Alita pun ingin ambil bagian dalam kompetisi Motorball (seperti gabungan bola basket + sepatu roda + gladiator) yang dikontrol dari belakang oleh Vector (Mahershala Ali) yang juga tengah menyusun rencana bersama Dr. Chiren (Jennifer Connelly), mantan istri Ido. Keinginan itu ditentang keras oleh Ido, sebab ia tidak ingin kehilangan sesosok puteri lagi.  

Bukankah itu hampir selalu terjadi? Didasari cinta luar biasa, ayah ingin melindungi puterinya namun berujung melahirkan pengekangan. Dan Alita, didorong semangat membara, bukanlah individu yang mau pula mampu dikekang. Dia cukup berani melawan, memberontak, berdiri tegak menghadapi semua penghalang, bahkan percaya diri guna vokal bersuara, yang di mata banyak pihak (karena serupa struktur sosial di dunia nyata, gadis muda dianggap bukan apa-apa) mungkin terdengar seperti omong kosong besar.

Gabungan ragam ciri di atas dengan penampilan humanis Rosa Salazar sekaligus motion capture mumpuni, Alita pun jadi salah satu jagoan aksi paling mudah disukai. Bahkan tatkala filmnya menempatkan Alita dalam romansa setengah matang tak meyakinkan dengan Hugo (Keean Johnson), kekuatan karakternya urung tergerus.

Naskah hasil tulisan James Cameron (The Terminator, Avatar, Titanic) bersama Laeta Kalogridis (Shutter Island, Terminator Genisys) agak kacau urusan membangun mitologi dunianya. Acap kali sukar memahami hirarki juga sistem sosialnya, atau siapa berada di pihak siapa, khususnya pada paruh awal yang meluangkan waktu cukup lama memasang pondasi.

Namun sekalinya melemparkan deretan sekuen aksi, Alita: Battle Angel tak pernah gagal tampil memukau. Dipandu CGI solid (meski dengan modal “cuma” $200 juta jangan harapkan kualitas di tingkat karya Cameron bila duduk di kursi penyutradaraan), Robert Rodriguez (Spy Kids, Machete, Sin City) meruntuhkan segala keraguan atas pemilihannya. Sejak mengawali karir lewat El Mariachi (1992), tidak peduli seburuk apa filmnya, Rodriguez selalu piawai membuat jagoannya terlihat keren ketika melakukan aksi-aksi menentang logika yang turut melibatkan kekerasan.

Ditemani tata suara pengguncang studio yang dipersenjatai Dolby Atmos, Rodriguez menyajikan tubuh-tubuh tersayat, terpotong-potong, kepala terpenggal, dan seterusnya. Hanya ketiadaan darah saja—dikarenakan karakter-karakter yang jadi korban mempunyai tubuh mesin—rating R urung disematkan bagi film ini. Tidak ketinggalan sebuah momen mencengangkan yang bagai diambil dari body horror, ketika nasib salah satu tokohnya terungkap jelang akhir.

Rasanya kita perlu coba mencontoh Alita. Berbagai pihak berusaha menghancurkannya baik secara fisik maupun mental. Dia terjatuh, sempat pula menangis. Bukan masalah. Semua itu menunjukkan sisi kemanusiaan. Tapi Alita mengenyahkan kata “menyerah” dari kamusnya, menolak terseret arus ketidakberdayaan, dan selalu berusaha sekeras mungkin mencari jalan keluar. Dia pintar, cerdik, kuat, dan terpenting, memiliki hati yang besar. 

ONLY THE BRAVE (2017)

Pada era di mana banyak penjahat kemanusiaan menggenggam kekuasaan seperti sekarang, segala bentuk heroisme, tanpa peduli oleh siapa atau sekecil apa, patut diceritakan dan dirayakan. Only the Brave, yang menandai peralihan sutradara Joseph Kosinski dari gelaran fiksi ilmiah (Tron: Legacy, Oblivion) menuju paparan kepahlawanan lebih membumi termasuk salah satunya. Mengangkat kisah nyata tentang pemadam kebakaran hutan Granite Mountain Hotshots kala berjuang menaklukkan api di Yarnell pada 2013, film ini adalah penghormatan menggugah yang tak lupa memanusiakan objeknya.

Dipimpin oleh Eric Marsh (Josh Brolin), Granite Mountain Hotshots mengawali karir mereka dari trainee yang diremehkan, sampai akhirnya berkesempatan membuktikan kapasitas dan mendapat status elit (Hotshots). Turut bergabung belakangan adalah Brendan "Donut" McDonough (Miles Teller), mantan pecandu yang berniat memperbaiki diri pasca sang kekasih mengandung anaknya. Para pria pemberani ini memang tak sendiri. Keluarga, dari kekasih, istri, anak, orang tua, setia berdiri di samping memberi dukungan. Ini bukan saja soal memadamkan api, juga tentang orang-orang terkasih.
Itu sebabnya 133 menit durasi tidak cuma diisi aksi memadamkan api   yang terlihat meyakinkan berkat tata lokasi apik plus CGI tepat guna meski hanya punya bujet $38 juta   juga drama intim terkait keluarga, dengan penempatan fokus untuk Donut dan Eric, yang hidup berdua bersama istrinya, Amanda (Jennifer Connelly). Khususnya hubungan Eric-Amanda, naskah karya Ken Nolan (Black Hawk Down, Transformers: The Last Knight) dan Eric Warren Singer (American Hustle) cermat membangun konflik secara natural. Progres bergerak dari harmoni sepasang suami istri menuju perbedaan pandangan pemicu perdebatan yang disusun bertahap melalui rangkaian pembicaraan.

Akting memegang kunci keberhasilan interaksi. Melihat Brolin si pemimpin tangguh di lapangan bertukar dialog dengan Connelly yang menunjukkan kekuatan seorang wanita mandiri layaknya memasuki ruang personal yang mengikat. Demikian pula ketika dua aktor penuh kematangan, Brolin dan Jeff Bridges menghadirkan aliran perbincangan nikmat. Miles Teller dengan kelembutan non-verbal seperti saat memeluk sang buah hati ditambah luapan emosi yang menyesakkan dada di penghujung film berhasil mengimbangi seniornya. Begitu pula Taylor Kitsch sebagai MacKenzie beberapa kali memancing tawa, membuktikan ia punya jangkauan akting lebih luas.
Solidnya departemen akting dan naskah menutupi fakta bahwa Kosinski belum cukup jago menangani kehangatan situasi dalam drama, apalagi ketika terdapat selipan humor. Beberapa pengadeganan canggung hingga transisi kasar yang menyebabkan kurang lembutnya perpindahan tone. Untungnya, mencapai pertengahan lubang-lubang di atas tak lagi muncul. Narasi bergerak lancar menyatukan sensitivitas kisah kasih keluarga dan kepahlawanan sambil sesekali diselingi gelak tawa penyegar suasana. Kita dibuat mengenal betul para tokoh utama, yang mana jadi bekal menjelang klimaks.

Baik untuk penonton yang telah mengetahui konklusi kejadian nyatanya maupun yang belum, third act film ini sungguh mengobrak-abrik emosi. Selain kepedulian pada karakter, akhirnya penyutradaraan Kosinski menemukan taji, perlahan membangun ketegangan ketika misi pemadaman api di Yarnell yang awalnya dipandang mudah mulai mencuatkan satu demi satu rintangan bagi Granite Mountain Hotshots. Puncaknya yakni satu shot pasca kebakaran berlalu, yang berkat sinematografi Claudio Miranda (Life of Pi, Oblivion), mampu mencabik-cabik perasaan. Sebagaimana jasa Granite Mountain Hotshots yang selalu dikenang, shot tersebut takkan mudah hilang dari ingatan. Heartbreaking.